Bab 2

Tunggu! Apa dia Vivian?

Elang memperhatikan kembali perempuan tersebut dan menyadari bahwa dia bukan Vivian. Elang memaki dalam gumaman kecil, "Brengsek! Siapa yang berani menempatkan perempuan ini dalam tendaku?"

Kondisi gelap membuat Elang tidak bisa mengenali siapa yang sedang lelap di sampingnya. Untuk menyalakan penerangan, Elang juga merasa enggan. Selain pusing dan mengantuk, Elang justru berpikir sesuatu yang mungkin menguntungkannya.

"Aku bahkan tidak mengingat siapa yang biasa memakai parfum sialan ini, padahal rasanya aku sering mencium baunya. Benar-benar membuat otakku makin sinting!" Pemuda setengah mabuk itu mengeluh dalam dilema.

Bau wangi dari perempuan yang tidur di sampingnya terasa tidak asing, tapi Elang tidak yakin dengan isi kepalanya sekarang. Akhirnya Elang memilih untuk tidak peduli, hal itu terjadi karena dia mulai kesulitan mengendalikan diri dari hasrat yang mulai membakar, dan tentu saja hal itu jauh lebih penting daripada sekedar mengetahui identitas pemilik bau-bauan yang menggelitik hidungnya.

Dengan setengah hati, Elang menyentuh bahu dari tubuh kecil yang ada di sampingnya. "Mbak … please jangan tidur di sini, ini tenda cowok!"

Merasa beberapa kali guncangannya tidak dihiraukan, Elang mempererat pelukannya. Sebenarnya sih bukan tidak dihiraukan, tapi Elang memang tidak serius membangunkan perempuan tersebut, sentuhannya terlalu lembut tanpa membuat guncangan sedikitpun. Tapi, Elang yang sudah kepanasan tidak mau salah apalagi pusing dengan siapa dia tidur malam ini.

"Emang gue pikirin … yang penting anget!" gumam Elang dengan seringai mesum.

Tidak ada yang salah dengan kelakuan Elang, dia sudah benar dengan tidak memasuki tenda orang lain secara sembarangan. Elang masih sedikit punya kewarasan untuk mengingat dimana dia harus tidur malam ini. Terbukti tas dan sleeping bagnya ada di dalam tenda tersebut, malahan sedang dipakai sebagai selimut oleh perempuan yang tidurnya sangat lelap, seperti orang mati.

Elang yang sudah on fire, memeluk lebih erat dan nekat memasukkan tangannya ke dalam jaket perempuan di sampingnya. Dia ingin menyentuh lebih banyak kulit yang terasa lembut di tangannya. Makin menghimpit dan sedikit menindih perempuan yang seenaknya lelap di dalam tendanya. Elang jelas sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekedar kata hangat.

"Bukan salah gue!" serapahnya pada bisikan hati yang melarangnya bertindak lebih jauh. Elang masih sempat berpikir logis tapi jengkel, kenapa masih saja ada kebaikan yang diingatnya lebih dulu sebelum melakukan sesuatu yang seharusnya terlarang?

"Iya … gini udah bener, siapa suruh tidur di tenda orang tanpa permisi!" Elang bermonolog lirih pada bisikan kotor yang memenuhi kepalanya. Membela diri agar tidak merasa bersalah saat melakukan kenakalannya.

Mulut Elang yang sudah gatal mulai menyentuh lembut dan membuai bibir yang rasanya pas saat dihisap. Bibir yang mulai bergerak ringan menolak setiap sapuan lidahnya.

Namun, Elang tidak membiarkan wanitanya menghindar, salah satu tangannya menelusup dan menahan kepala bagian belakang si perempuan, memaksa bibir tersebut tidak lari dan tetap berada dalam kuasanya.

Darah muda Elang yang sudah panas sulit dihentikan, mengalir lebih cepat dari perkiraan. Bahkan tubuhnya kini menekan lebih kuat wanita yang berada dalam dekapannya.

Satu tangan yang sudah menyentuh kulit perut reflek naik ke dada, mengelus dan menggenggam benda lembut yang sudah membuatnya sakit kepala.

"Arrgghh tolo …!" Suara perempuan itu hanya keluar seperti kambing tercekik. Elang membungkam cepat dengan mulutnya yang panas serta gairah yang meledak-ledak.

"Sssssstttt …!" bisik Elang singkat di sela-sela ciumannya, tidak memberi kesempatan sedikitpun pada wanita yang membuatnya panas dingin untuk menjawab. Tangan Elang dengan lincah bermain pada puncak dada yang ikut menegang karena sentuhan intensnya.

"Lepaskan … jangan! Lepas, jangan, lepaskan!" Suara manis yang tenggelam dalam mulut Elang mengerang memohon belas kasihan.

Di antara sadarnya yang mulai lengkap, perempuan bernama Nindya itu berusaha mengenali orang yang ada di atasnya dan sedang mencium dengan intens.

Nindya hanya berpikir pria itu adalah tunangannya. Salah satu dosen muda di kampus yang sama tempatnya mengajar. Nindya meminta tolong pada Daniel untuk mengantar ke acara makrab mahasiswa baru karena tidak enak jika harus berangkat bersama ketua jurusan dan bagian kemahasiswaan. Selain faktor jarak usia, Nindya juga tidak mau satu mobil dengan dua pria beristri.

Nindya masih berusaha melepaskan diri, mendorong lembut bahu pemuda yang menghimpitnya. "Daniel, stop! Mulutmu bau alkohol, mabuk kamu itu!"

Elang menulikan telinganya. Tidak peduli pada kalimat lirih Nindya. Kewarasan Elang bukan hanya diambil alkohol yang baru beberapa waktu lalu diminumnya, tapi dikuasai oleh birahi yang menggelegak di seluruh nadi. Bayangan tubuh Vivian mendadak mengaburkan semua sudut pandangnya.

Elang yang sedang kesurupan hasratnya semakin menjadi-jadi, tangannya memaksa bergerilya dan membuka pakaian bagian bawah Nindya yang sukses ditindihnya secepat mungkin.

"Arrgghh nggak, no no no … jangan, Daniel! Lepaskan!" Suara memelas dan memohon kembali terdengar miris, tapi sayangnya tidak digubris oleh Elang. Dalam pikiran Elang, Vivian tidak mungkin menolaknya. Dia hanya perlu berusaha sedikit lagi untuk mendapatkan semuanya.

Elang dengan semangat memposisikan dirinya di antara paha wanita yang setengah hati menerimanya, Elang benar-benar siap untuk menenggelamkan gairahnya yang tegak menantang.

Karena istilah kentang alias kena tanggung, bukanlah bagian dasar dari seorang Elang.

Nindya mengeluh dalam hati, Daniel jarang sekali mabuk dan berbuat seliar ini padanya. Tapi jika dia menolak dan membuat keributan, bukan mustahil semua orang akan tahu kelakuan mereka. Nindya tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dan juga tunangannya.

Hanya saja, mengapa wangi parfum Daniel di indera penciumannya serasa bukan yang biasanya?

Dalam situasi panas dan intim seperti itu, yang dipikirkan Elang hanya bagaimana caranya dia cepat mencapai puncak kenikmatan dan meredakan ketegangannya.

Jadi, dengan tergesa Elang menghentakkan tubuh bagian bawahnya hingga langsung menyentuh dasar wanitanya, menariknya perlahan lalu mengulang dengan tempo yang lebih cepat.

Suara pekik kecil di bawah Elang ditutupi dengan ciuman panas tanpa henti dan tanpa ampun. Kewarasan Elang benar-benar berada di titik nol sehingga dia tidak sudi mendengarkan keluhan apapun.

"Sayang …!" Desis pelan tidak berdaya kembali menghampiri pendengaran Elang. Terdengar parau seperti sebuah desahan.

Elang bangga saat Nindya bergumam dengan panggilan mesra. Sebenarnya tidak bisa dibilang mesra, suara Nindya lebih ke nada protes dengan nafas tertahan menghadapi hasrat liarnya.

Nafas Elang memburu, peluhnya jatuh menetes pada wajah di bawahnya, lalu erangannya keluar bersama dengan gigitan pelan pada bibir bawah Nindya yang tak berkutik melawan pelukan posesifnya.

"I got it, thanks ya, Vi!" Tanpa merasa bersalah, Elang turun dari tubuh yang sudah membantu mengurangi kram otaknya. Elang lalu mengelap bekas basah bagian bawahnya dengan kaos yang baru saja ditanggalkan.

Dengan pikiran rumit, Elang berusaha mengembalikan setengah otaknya yang tadi menghilang dalam kegilaan. Elang membuka tas dan mengambil pakaian ganti, mengenakannya dengan cepat sambil melirik perempuan yang masih terkapar tak berdaya.

"Siapa kamu?" tanya Nindya gelagapan. Siapa yang dimaksud Vi oleh pasangan bercintanya?

Suara itu tak asing, tapi bukan milik tunangannya, membuat Nindya bergerak cepat menutupi bagian tubuhnya yang masih terbuka.

Elang tercekat mendengar pertanyaan perempuan yang baru ditidurinya. Dia spontan mengamati wajah yang sekarang membuatnya penasaran. Sedikit gentar saat menebak suara perempuan yang hampir setiap hari didengarnya di laboratorium penelitian.

Namun, Elang masih terkesima dengan rasa yang baru saja didapatkan dengan tidak menjawab pertanyaan Nindya dan menjelaskan siapa dirinya. Elang justru melamunkan petualangan ranjangnya bersama pacar-pacarnya.

Sejauh dalam ingatan Elang, dia belum pernah merasakan kedalaman yang sangat menghanyutkan seperti yang baru saja diselaminya.

Semua wanita yang pernah bercinta dengannya memiliki rasa yang hampir sama, hanya menyenangkan saat gairahnya meledak, lalu rasanya hilang tanpa sedikitpun meninggalkan desiran aneh di dadanya.

Beberapa saat kemudian Elang menyadari kesalahannya. Elang kembali ingat kalau Vivian memang hanya ada dalam pikirannya sejak dia masuk tenda. Tapi sialnya pesona Afrodit dalam tubuh Vivian sangat mempengaruhi pikiran Elang yang sedang mabuk, hingga dia menganggap fantasi bercinta dengan Vivian adalah nyata.

"Ini salah paham, Bu Nindya!" ujar Elang pucat dan penuh sesal sesaat setelah menyalakan ponsel dan mengamati wajah cantik di depannya.

Satu tangan Elang reflek menutup wajah, mengintip wajah Nindya di antara jari telunjuk dan tengah. Elang lalu menggeleng dengan berat, tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya pada Nindya. Mulutnya bersuara sesal, berdecak dengan nada putus asa.

Nindya melebarkan mata, menaikkan kedua alis dan menyahut galak,"Ini bukan salah paham namanya, El! Ini murni salah paha!"

Dosen muda yang jadi pembimbing tugas penelitian Elang terus saja melotot tajam sambil memegangi pusat tubuhnya yang nyeri, lengket dan berdarah. Dia mengumpat kasar karena mengira pria yang menyentuhnya adalah sang tunangan. "Brengsek!"

Kalau saja tidak dalam situasi serius, Elang pasti sudah tergelak mendengar kalimat ketus Nindya. Dosennya memang benar, Elang benar-benar sedang salah sasaran. Alih-alih mengeksekusi paha Vivian, dia justru salah paha dengan dosen pembimbingnya, Nindya.

"Maaf," lirih Elang dengan ekspresi bersalah, tiba-tiba saja Elang ingin menangis seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.

PLAK!!!

Satu tamparan keras mendarat pada pipi Elang. "Bajingan kamu!"

PLAK!!!

Satu kali lagi Elang mendapatkan tambahan dari rasa sakit hati perempuan yang menatapnya dengan geram. "Mahasiswa sialan!"

"Sekali lagi maaf, tadi itu benar-benar tidak sengaja!" kata Elang berusaha mengajak Nindya bicara baik-baik.

PLAK!!!

Tapi sekali lagi tangan halus Nindya menyentuh pipi Elang dengan kasar, tidak sudi mendengar permintaan maaf dari pemuda yang memasang wajah seperti kucing kehilangan induknya.

Elang menangkap tangan yang mendarat di pipinya, bukan sakit yang dirasa tapi sejenis dengan harga dirinya yang terinjak saat wanita itu terus saja melayangkan tangan tanpa mau diajak bicara.

“Please …!” pinta Elang sekali lagi dengan sangat memelas. Dia menggenggam tangan Nindya erat, menariknya perlahan dan mengarahkan pada bibirnya.

"Never!" Nindya berusaha menarik tangannya tapi tidak berhasil.

Elang mencium telapak tangan yang baru saja menamparnya dengan penuh kelembutan. “Aku hanya ingin bicara, Nindya!”

Panggilan langsung ke namanya membuat Nindya semakin melebarkan mata tak percaya. “Kamu panggil saya Nindya saja? Nggak pake lagi? Jaga bicaramu, El! Aku bukan pacarmu!”

"Ibu bisa menampar saya lagi kalau memang belum puas," ujar Elang melepaskan tangan Nindya dengan kesal. "Tapi itu tidak menyelesaikan permasalahan!"

Nindya hanya diam dalam sendu, apa yang dilakukannya dengan Elang barusan memang tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang dari dirinya. Virginitas. Entah itu penting atau tidak, tapi Nindya memang menjaganya dengan baik selama ini.

"Sekali lagi saya minta maaf!" Elang tidak tahu bahwa kelakuannya yang hanya satu kali itu akan membawa dampak dan cerita panjang bersama perempuan yang berprofesi sebagai dosen muda di kampusnya. Perempuan yang sedang membimbing tugas penelitiannya agar segera selesai dan bisa diseminarkan.

Nindya melengos menahan air mata, bagaimana jika tunangannya tahu kalau dia salah mengenali orang yang masuk ke dalam tendanya dan bercinta dengan orang tersebut?

***

Bab 3

Elang ikut gusar melihat wajah sendu Nindya. Meski terlihat tenang tapi mata Nindya menyimpan luka saat menatapnya.

"Bu Nindya kok bisa-bisanya tidur di tenda saya?" tanya Elang terkena serangan panik setelah matanya bersirobok dengan dosennya. Dia takut Nindya menangis dan histeris karena merasa dilecehkan oleh mahasiswa yang sedang dibimbingnya.

Dosen muda cantik di depan Elang menaikkan alisnya tinggi, menjawab dengan galak pertanyaan konyol dari Elang yang tidak masuk akal didengar telinganya. "Ketua panitia yang menempatkan saya di sini!"

Well, Elang sekarang merasa jadi orang paling tolol sejagad mapala, kenapa dia tidak bertanya pada ketua jurusan yang tadi mengobrol dengannya?

Karena harusnya beliau datang bersama istrinya yang menjabat sekretaris jurusan teknik kimia. Wanita pasangan kajur yang juga mendapatkan undangan untuk menghadiri malam keakraban penyambutan mahasiswa baru.

"Jadi Bu Nindya datang mewakili istri ketua jurusan? Bu Dewi nggak bisa datang ya?" Elang menelan ludah kasar setelah bertanya.

"Ya, beliau yang memberi tugas ini karena sedang kurang enak badan untuk memenuhi undangan kegiatan lapangan!" jawab Nindya sinis. "Jadi bagaimana sekarang?"

Elang mendadak sakit kepala ditanya seperti itu. Dia berniat menjawab pertanyaan dengan pertanyaan 'bagaimana kalau kita ulang sekali lagi? Tadi itu enak sekali.'

Tapi kalimat mesum itu sama sekali tidak keluar dari bibir tipisnya. Elang hanya memijat pelipisnya dan berharap kewarasannya segera datang secara utuh. "Bisa kita bahas besok saja, Bu Nindya? Kepala saya sedang error."

Nindya melebarkan mata bersiap menyahut sengit, tapi dia juga merasa akan sia-sia jika berbicara dengan Elang yang setengah mabuk, hingga akhirnya Nindya mengangguk kesal.

Elang lega melihat gerakan kepala Nindya meski itu dilakukan dengan terpaksa. Nindya sendiri langsung merapatkan kedua paha yang hanya tertutup kantung tidur milik Elang, karena pemuda yang duduk memegang ponsel di depannya sedikit mengarahkan cahaya ke bagian bawah tubuhnya.

"Mau apa lagi kamu?" sarkas Nindya dengan suara marah tertahan.

"Apa semua baik-baik saja? Sa-kit kah?" tanya Elang cemas. Dia tidak pernah bermain kasar apalagi memaksakan diri pada wanita. Elang memasang ekspresi menyesal sebelum bicara lagi pada wanita yang sekarang menjaga paha dari lirikan nakalnya. "Itu tadi … em ketat sekali!"

PLAK!!!

Elang menutup mulutnya yang lancang. Pujiannya berbuntut tamparan, meski tidak sekeras yang pertama tapi tetap menyakiti harga dirinya sebagai laki-laki. Kalau saja dia tidak dalam posisi salah, mungkin Elang akan membalas dengan kembali menaiki Nindya sekali lagi.

"Maaf, tapi memang rasanya …," gumam Elang tak selesai. Dia hanya menatap Nindya dengan raut yang tidak bisa ditebak.

Nindya membisu. Rasanya memang sedikit sakit karena kurang pelumas saat Elang menerobosnya, tapi Nindya tidak memungkiri pengalaman pertamanya tidak akan membuat trauma. Dia wanita dewasa yang memahami hubungan seperti itu mungkin saja terjadi pada siapa saja.

"Saya tidak tahu kalau Bu Nindya masih perawan!" Suara Elang terdengar lugu dan tanpa merasa bersalah. Tapi ada apresiasi dan kebanggaan yang tersirat dari gaya dan nada yang dihasilkan.

"Setelah tau lalu apa?" Meski berusaha tidak menikmati sentuhan Elang yang liar tadi, tapi sekujur tubuh Nindya bereaksi mengkhianati otaknya yang penuh dengan kata penolakan.

Nindya benci Elang karena bisa membuatnya mengira Daniel yang datang dan mengajaknya bercinta. Nindya benci karena ternyata dia lebih menyukai sentuhan ala Elang daripada tunangannya. Nindya benci menemukan fakta baru kalo dia lebih menyukai Elang yang liar daripada tunangannya yang konservatif.

"Maaf," lirih Elang mengulang kata paling jitu untuk membuat pengakuan bersalah sekaligus memohon pengertian.

"Sudah tidak ada gunanya, simpan maaf itu untuk dirimu sendiri!" potong Nindya cepat.

Satu-satunya hal yang membuat Nindya khawatir adalah jika apa yang dilakukan Elang akan meninggalkan benih yang mungkin akan hidup dalam rahimnya.

"Saya … kebablasan!" Elang masih berusaha memperbaiki keadaan yang tegang dengan berkata lebih jujur.

"Bagaimana jika aku hamil?" tanya Nindya galau. Elang dengan kurang ajar tidak mengenakan pengaman saat menjelajahi kedalaman basahnya.

Elang mengetuk kepalanya dengan ponsel, cengar-cengir pada Nindya lalu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau harus menjawab apa sekarang, pikiranku sedang kacau!"

"Kamu tadi mengeluarkannya di dalam kan?" tanya Nindya setengah berbisik.

"Iya." Elang termangu, dia belum pernah lepas kontrol sebelumnya. Sedikit menyesal karena alkohol membuat otaknya tidak berpikir logis. "Tapi mau gimana lagi? Sudah terlanjur terjadi."

"Bagus! Kamu membuatku takut sekarang," ungkap Nindya dengan setetes air mata yang segera diusapnya.

"Maaf!" Hanya kata itu lagi yang keluar dari bibir Elang. Selanjutnya, dengan cekatan Elang membantu Nindya merapikan pakaian, mendorongnya agar berbaring lalu menyelimutinya rapat.

"What are you doing, El?"

"Sebaiknya Bu Nindya tidur, besok kita bicara lagi! Saya akan carikan solusi untuk hal fatal yang baru saja terjadi. Saya ada di depan tenda jika ibu butuh sesuatu!" jawab Elang dengan nada rendah dan lembut. "Atau ibu mau minum dulu mungkin biar tenang? Saya bisa buatkan susu atau sereal jika ibu mau."

Elang dalam kebimbangan, meski sedikit mabuk tapi dia masih bisa berpikir tentang obat pencegah kehamilan untuk Nindya.

Tapi … haruskah Elang sepicik itu? Pergulatan batinnya tidak menemukan jawaban yang tepat. Elang butuh waktu menjernihkan kepala agar tidak salah saat membuat keputusan.

"Sereal," jawab Nindya singkat. Dia menurunkan selimut sebatas pinggang lalu menghembus nafas berat.

"Baiklah, tunggu sebentar!" Elang keluar meninggalkan Nindya lalu menggelar matras tipis di depan tenda. Selanjutnya menyalakan kompor lapangan yang selalu dibawanya saat berkegiatan di alam terbuka dan mulai membuat dua sereal, untuknya dan Nindya.

Kepala Elang berdenyut pusing, bayangan ada anak kecil memanggil papa tiba-tiba menerornya. Lalu bagaimana nasib kuliahnya nanti?

Nindya duduk termenung dengan kepala tak kalah pusing, tangannya terulur menerima sereal dari Elang. "Kamu mau kemana?"

"Saya tidak kemana-mana, berjaga di luar tenda," jawab Elang lembut.

"Sepertinya aku butuh udara segar! Aku mau duduk di luar juga!"

"Tapi tidak enak dilihat orang kalau ibu juga ikut duduk di luar," tolak Elang halus. Dia tidak mau kepergok Vivian yang ada di tenda sebelah saat berduaan dengan dosen pembimbingnya. Ups … entahlah!

"Di dalam tenda sendirian lebih berbahaya, apalagi kamu tidak jauh dari tempat saya tidur! Otakmu sedang setengah sinting, dan aku takut yang tadi itu kamu ulangi lagi!" gerutu Nindya dengan wajah cemberut.

Elang menahan gerakan Nindya, "Tetap di sini dan segera istirahat, besok arung sungai akan melelahkan. Butuh kondisi sehat untuk rafting selama tiga jam! Apalagi ibu baru saja ehm ehm sama saya dan kehilangan keperawanan!"

"Apa? Jangan ngacau kamu, tidak ada orang kehilangan keperawanan jatuh sakit dan kejang-kejang, Elang! Yang ada jatuh enak, makanya malam pertama diulang setiap hari bagi yang sudah menikah," sindir Nindya penuh sarkasme.

"Kalau memang jatuh enak … apa mungkin yang tadi itu terulang lagi? Apa artinya ibu mengizinkan saya untuk ehm …?" tanya Elang dalam gumaman untuk dirinya sendiri.

"Hah, apa katamu barusan? Kamu bahkan belum menikah tapi sudah mahir melakukan 'hal itu'. Jangan ngimpi bisa terulang lagi, El! Gila apa?"

"Katanya tadi enak? Lagian saya laki-laki normal, Bu! Saya juga udah dewasa, lagian kalau cuma mimpi bisa mengulangi, apa salahnya?" sungut Elang membela diri.

"Jadi kalau saya sampai hamil karena kamu, itu salah siapa?" Nindya mengancam dengan tatapan bengis.

"Salah Bu Nindya sendiri kenapa tidur di tenda saya tanpa suara, saya udah coba bangunkan loh tadi." Elang menutup telinganya, tidak bersedia mendengarkan apa-apa lagi dari mulut Nindya. Dia memilih beringsut keluar tenda, "Saya ada di depan!"

Elang merapatkan resleting tenda yang ditempati Nindya dari luar, duduk diam lalu mulai menyalakan rokok, menghisap dalam gundah. Elang membuat susu lagi setelah serealnya habis untuk mengikis kekalutan.

Pikiran Elang runyam, antara takut harus bertanggung jawab atau justru menghindar agar tidak bertemu lagi dengan dosennya itu. Antara membiarkan Nindya memiliki kemungkinan untuk hamil, atau segera memberikan obat penangkalnya.

Menikah muda itu sama sekali bukan cita-cita Elang, apalagi menjadi ayah di usia 22 tahun!

Satu jam berikutnya, mata Elang mulai sayu, mengantuk karena perut kenyang. Juga karena ketegangannya sudah dilepaskan.

Elang mematikan rokok yang masih tersisa setengah batang, menjauhkan bekas gelas dan kompor mini dari matras lalu merebahkan badan.

Dalam hati dia berharap bisa bangun pagi dan lebih bugar saat membawa mahasiswa baru mengarungi sungai dengan perahu.

Pemuda berwajah kusut itu melipat tubuh agar tidak terlalu merasakan dingin dan menutupi wajah dengan topi rimba agar terlelap lebih cepat. Tak lama, dengkur halus sudah keluar dari mulut Elang.

"Elang! El, ngapain kamu tidur di sini?" Satu suara membangunkan Elang yang baru saja memulai mimpi indahnya.

"Oh, Arga? Ada Bu Nindya di dalam tenda. Ryan sialan itu ngasih tenda kita buat tamu lain karena istri ketua jurusan nggak datang." Elang menjelaskan singkat sambil menguap lebar. Matanya menyipit saat cahaya senter Arga menerpa wajahnya.

"Kenapa Bu Nindya nggak tidur sama tunangannya saja daripada tidur sendiri-sendiri." Arga bicara spontan dan cengengesan.

"Kok kamu tau kalau dia datang sama tunangannya? Gila, mulutmu kalau ngomong jangan sembarangan, mana bau banget lagi!" kata Elang yang tau pasti kalau temannya itu dalam keadaan lebih mabuk darinya.

"Aku yang nyambut kedatangan mereka dan ngasih tenda pak puket ke tunangan dosenmu itu! Nggak mungkin kajur, puket dan tunangan Bu Nindya ada dalam satu tenda, masa iya petinggi mau dikasih satu tenda isi tiga. Terpaksa aku ngalah ngasih tenda kita buat Bu Nindya. Kamunya sibuk sama Vivian terus makanya ketinggalan berita. Dah ah aku mau tidur sama anak-anak kalau gitu! Ayo ikut sekalian daripada membeku di sini!" ajak Arga menatap Elang dengan ekspresi kasihan.

"Udah males jalan, pusing! Lagian kalau ada yang masuk tenda ini gimana? Dikira kita ada di dalam? Salah besar kita nanti. Aku yakin yang ketinggalan berita bukan cuma aku saja!" Elang membuat alasan tepat.

"Em iya juga … eh ya tenda sebelah kanan Vivian kan El? Nggak beraksi? Siapa tau doi butuh kehangatan di malam dingin begini, lumayan satu celup dua celup," goda Arga tertawa ringan. Bau alkohol dari mulut menandakan kalau Arga juga sudah tidak jernih pikirannya, mulai kotor dan mesum.

"Minggir sana! Jangan bikin masalah di sini, garap ntar aja kalau udah mulai kuliah reguler!" usir Elang kesal.

"Baiklah rivalku, aku tidak takut tantangan!" bisik Arga geli. Otaknya sudah berkelana memikirkan paha Vivian yang putih mulus seperti paha Syahreni.

Elang kembali meringkuk memeluk lututnya ketika Arga pergi menjauh menuju tenda panitia. Udara terbuka di malam hari terlalu dingin untuk tidur tanpa memakai sleeping bag. Gigi geraham Elang bahkan sesekali terdengar bergemeretak karena menggigil.

"Sial," gerutu Elang di sela-sela tidurnya yang tak nyenyak. "Mimpi apa aku tadi bisa sampai salah paha? Mana paha perawan, mana tunangan orang. Mati aku!"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED