Pusing kepalaku memikirkan tawaran menggiurkan dari Aida kala itu. Sangat menggiurkan sekali malah. Aida itu bodinya memang aduhai betul. Tingginya sekitar sebahuku dengan rambut pendek seleher memamerkan keindahan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya tidak terlalu montok dan dadanya terlihat sangat sekal dengan bokong yang juga pas dipandangan apalagi digenggaman.
Tawaran untuk menghamilinya jelas membuat semua imej yang selama ini mengisi pikiranku berubah menjadi bayangan dirinya yang sedang telanjang bulat sedang mendesah-desah menerima genjotanku. Wah… Indah sekali bayangannya. Air liurku beberapa kali kuseka dengan punggung tanganku.
Aku bukannya orang yang suci-suci amat. Sudah lama kutinggalkan dunia semacam ini. Kalau bisa dibilang setelah berkeluarga dan punya anak, ini adalah masa-masa tobatku. Tobat dari segala macam kubangan seperti ini. Masa aku harus nyebur lagi karena satu tawaran dari perempuan bernama Aida. Aida yang bahenol. Putih dan menggairahkan…
Kan? Bayangan perempuan itu lagi yang nangkring di otakku. Bayangan ia yang sedang berbaring dengan pasrah, kaki terbuka lebar mempersilahkanku masuk dan menghamilinya.
Apa semudah itu menghamilinya? Dengan istriku memang sangat mudah. Terlalu mudah malah. Bayangin aja, saat di pelaminan dulu ia dalam keadaan menstruasi sehingga aku uring-uringan di malam pertama gak bisa nyoblos. Sekalinya sudah bisa eh, dianya langsung tekdung anak pertamaku. Apa mungkin bisa semudah itu dengan Aida nantinya, kalau aku setuju dan mengambil tawarannya?
Kenapa lakinya tidak pernah berhasil menghamilinya? Mereka berdua sudah pernah konsultasi ke dokter dan dua-duanya tidak ada masalah sebenarnya. Lalu mulai ada masalah ketika Agus mendapat promosi di pekerjaannya dan mulai mengalami kenaikan berat badan juga karena kenaikan taraf ekonomi. Agus jadi doyan makan. Hubungan intim mereka mungkin jadi sedikit terganggu.
Okelah Aida tidak hamil-hamil juga olehku, tapi kan itungannya kami berdua sudah selingkuh ya? Gimana kalau dia baper? Gimana kalau dia macam-macam dan ember? Bodo amat dengan keluarganya. Lah gimana keluargaku? Aku sudah cukup nyaman dengan keadaanku sekarang ini. Keluarga yang bahagia dan aman serta tentram. Masa aku harus mempertaruhkannya karena satu perempuan itu saja? Lagipula aku tidak merasa kurang dengan istriku, ia bisa melayaniku dengan baik dalam segala bidang. Dari mengurus rumah, anak sampai ranjang semuanya baik, tak ada yang kurang. Lalu kenapa aku merusaknya dengan perempuan lain?
“Bang Aseng… Jadi, bang?” tanya Aida lagi ketika aku berjumpa dengannya sore itu. Padahal aku sudah menghindar dari melewati rumahnya. Tapi perempuan ini gigih amat sampe bela-belain nyari aku dan Salwa yang sedang berjalan-jalan di gang sebelah sore ini. Di depan sebuah tanah kosong luas yang hanya ditanami pohon-pohon pisang kami bertemu. Aku tak mungkin menghindar.
“Eh… Aida… Gimana ya?” jawabku bingung. Padahal aku sudah memutuskan untuk menolaknya. Tapi begitu ketemu orangnya, casing-nya yang bagus begini malah menggoyahkan iminku. Apalagi imanku memang cukup lemah. Wajah cantik menawannya malah membuat si Aseng junior-ku cenut-cenut pengen test drive. Tanpa bisa kutolak Salwa sudah berpindah tangan kepadanya.
“Mau-lah, bang Aseng…” pintanya kembali dengan muka memelas. Duh aku jadi membayangkan wajahnya gimana kalau sedang digenjot keenakan?
“Aku gak sampe ati, Da…” jawabku coba-coba. “Aku kenal sama lakikmu… Itu kan namanya udah selingkuh… Gak bisa-lah aku, Da…” tolakku sehalus mungkin.
“Tolonglah, bang… Aku udah pengen kali punya anak loh, bang…” rengeknya. Tubuhnya sampai menunduk-nunduk dan kemudian menciumi rambut Salwa.
“Tapi gak kek gini caranya, Aida… Apa nanti kata orang kalau ketauan? Rusak kita semua…” tolakku terus.
“Si Agus udah gak akan mungkin bisa, bang Aseng… Kami udah nanya ke orang tua (orang pintar, dukun)… Katanya dia udah diobatin orang yang gak senang dia jadi superpaisor… Dibuat orang itu gak bisa punya anak dia, bang…” jelas Aida tentang permasalahannya.
“Hah? Didukunin orang lakikmu?” kagetku.
“Iya, bang…” jawabnya. Ada sedikit titik air mata di sudut matanya.
“Kesitu dulu kita…” ajakku ke tengah lahan kosong kebun pisang itu. Di tengahnya ada gubuk kecil yang kerap dipakai bermain judi di malam hari. Aida duduk memangku Salwa dan aku duduk tak jauh darinya. Kalau di sini aku bisa ngobrol dengan aman dengannya tak terganggu orang yang lalu lalang dan memperhatikan interaksi kami.
“Cemana ceritanya? Kok bisa kelen ke dukun nanya gitu? Bukannya ke dokter?” tanyaku tentu kepo.
“Udah capek kami ke dokter, bang… Yang sekali konsultasi dua ratus ribu sampek lima ratus ribu pun pernah…” jawabnya. “Kami coba-coba-lah ke orang tua… Taunya betul, bang… Si Agus dibuat orang biar gak bisa punya anak… Didoainlah kami sama orang tua itu… Tapi gak sembuh juga… Kami cari orang tua lain… kek gitu juga, bang…” jelasnya panjang lebar.
Agus didukunin orang? Memang aura pria itu tidak sehat. Seperti ada sesuatu yang terus mengikutinya. Aku sudah lama menyadarinya sekitar 6-7 bulan ini kala kami bertemu di saat gotong-royong lingkungan. Tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah guna-guna atau sejenisnya. Biasanya kalau sudah begini, bisa menjalar kemana-mana.
“Waktu ke orang tua itu… apa katanya?” tanyaku untuk memastikan.
“Biasalah, bang… Udah sembuh katanya… Udah dibuang katanya… Buktinya gak berhasil juga…” jelasnya lebih rileks sekarang. Ia mengelus-elus lengan Salwa.
“Jadi sebetulnya kalian aslinya gak ada masalah kan ya?” tanyaku lagi berharap dia tau apa maksud pertanyaanku yang satu ini.
“Sekarang iya… Sekarang jadi loyo Agus, bang… Sebentar aja dah keluar… Mana dikit… Encer lagi…” katanya tanpa malu. Ini aib suaminya. Masa diumbar ke lelaki lain. Setelah itu ia baru sadar dan menunduk dengan menutup mulutnya dengan tangan. Ini malah menjelek-jelekkan lakinya sendiri.
“Yaah… Begitulah…” kataku dan melirik pada dadanya yang disandari kepala Salwa. Kalau kulihat-lihat, sebenarnya mudah saja menyingkirkan guna-guna yang melekat pada mereka berdua ini. Kenapa kukatakan pada mereka berdua? Karena dukun itu menyerang dengan guna-guna ini sepaket dan berdasarkan keadaan saja. Sepaket artinya pada suami dan juga istrinya. Itu berarti ada pada Agus dan Aida. Sesuatu yang mengikuti Agus juga ada di diri Aida walau lemah. Mengenai keadaan, ya guna-guna ini hanya bekerja saat mereka sedang bersenggama saja. Jadi sesering apapun mereka melakukan seks dalam pernikahan mereka, guna-guna yang menggunakan kekuatan jahat ini menghalangi mereka untuk menghasilkan keturunan. Mungkin ini yang kurang dipahami oleh dukun yang berusaha menyembuhkan mereka. Pikiran picik mereka kurang menyadari kalau lawan mereka berpikiran lebih panjang dan penuh perhitungan. Alhasil guna-guna ini sulit disembuhkan dengan tuntas. Dipikirnya guna-guna itu sudah dibuang dan tak tau kalau bisa balik lagi begitu mereka berdua melakukan hubungan suami-istri. Kasarnya; jin, media guna-guna ini memakan semua sperma milik Agus!
“Jadi… Gimana, bang? Aku udah gak tau lagi harus bagaimana? Aku gak mau anak dari laki-laki laen-loh… Cuma dari abang Aseng aja…” katanya lagi mengulang tawaran menggiurkannya itu.
“Apa lakik-mu tau?” tanyaku paok-paok bodoh. Bego malah.
“Ya enggak-lah, bang! Cari mati namanya itu…” jawabnya manyun sampai bibirnya maju. Pengen rasanya menggigit bibirnya itu. “Ish…” pekiknya kecil menghindar karena aku hampir mencubit bibirnya itu karena gemes. Mencubit dengan lima jari. Mencomot mungkin kali tepatnya ya?
“Abang getek (genit)… Maen cubit-cubit…” rajuknya dan memeluk erat Salwa.
“Yah… dicubit dikit aja gak boleh… Gimana mau masuk?” kataku. Ups! Mampus muncungku. Udah betulan getek pulak.
“Betul, bang? Kalok betul kukasih-pun semua, bang…” berseri-seri mukanya mendengar kalimatku sebelumnya. Ia memegangi dada kirinya. Sedikit meremas.
“Gak, Da… Maen-maennya aku…” tolakku kaget. Kenapa ia menanggapinya begitu. Udah kepengen betul-lah betina satu ini.
“Betol loh aku, bang… Gak maen-maen aku, bang… Tengok-lah ini…” tanpa ragu dinaikkannya sebelah kaos yang dipakainya dan menunjukkan sebelah dadanya yang masih terbungkus bra warna biru langit.
Glek!
Bulat nian itu sebelah dada! Putih, padat dan kelihatannya empuk sekali. Tidak-tidak! Cepat-cepat aku membuang pandanganku beralih dari sebelah dada Aida ke rumpun pisang kepok yang pohonnya tinggi-tinggi dan berdaun lebar.
Indah sekali tetapi. “Tengoklah ini, bang…” lirih bisik Aida lagi. Aarrhh… Puting itu! Puting indah berwarna coklat muda dan mencuat keras. Walau hanya sekilas pandang, tetapi ternyata Aida berani mengeluarkan sebelah payudaranya dari cup branya. Waaah… Bahaya nih!
“Salwa pun mau, bang…” tambahnya lagi. Dengan sangat kurang ajarnya, Aida menjejalkan payudaranya pada mulut Salwa. Itu anak bayi yang mangap-mangap aja gak tau papanya lagi panas dingin dikasih tontonan begini. Maen sedot aja Salwa padahal pasti gak akan ada susu yang keluar dari sana. “Geli, bang… Lidah Salwa kasar… Lidah papanya pasti lebih enak, nih…” goda Aida terus. Mati aku! Aseng junior udah menggeliat dari tadi dan selangkanganku terasa hangat.
“Da… Aida! Jangan gitulah… Gak tahan aku, Da…” kataku dengan suara serak dan menggeleng-geleng tak tahan beneran ini.
“Bang Aseng… Liat ini, bang… Enak, bang…” desahnya sambil meremas payudaranya yang sedang diunyel-unyel Salwa yang berharap mendapat ASI dari sana. Kurang, Aida juga mengeluarkan sebelah payudaranya, kaosnya sudah bergulung dibawah lehernya. Sepasang payudaranya sudah menjadi tontonan segar sore yang terasa sangat gerah bagiku dan Aseng junior. Tanganku sudah gatal ingin menjamah dan meremas-remas dua buah gunung indah itu.
Nyamuk-nyamuk di kebun pisang bak menjadi malaikat penolong bagiku. Karena gigitannya sukses membuat Salwa menangis karena tangan dan kakinya bentol merah digigit nyamuk. “Duh Salwa… Cayank… Gigit nyamuk, ya?” sadar Aida melihat tangisan Salwa karena gigitan nyamuk membuat tangan dan kaki mungilnya gatal.
Masih dengan nafas memburu, kusambar Salwa dari dekapan Aida dan beranjak menjauh. Pulang.
“Bang Aseng… tadi kenak, loh…” kata Aida mengingatkanku kalau saat aku mengambil Salwa darinya, kedua tanganku sempat, tanpa sengaja menyenggol kedua benda indah kenyal yang tumbuh menggantung indah di dadanya itu. Sebelum aku sempat balik kanan, ia meremas kedua dadanya dan aku kabur dari kebun pisang laknat itu. Setan-setan kurang ajar di sana jejingkrakan girang melihat kejadian barusan.
Sampe rumah aku kena semprot omelan istriku karena tangan dan kaki Salwa bentol-bentol digigit nyamuk kebanyakan maen di kebun. Aish! Kalaulah istriku tau sama siapa aku di kebun tadi?
Bersambung
Nyot! Nyot!
Dua benda kenyal itu sukses membuat jantungku ser-seran. Teror Aida terus berlanjut. Ia memanfaatkan kebiasaanya dalam meminta Salwa untuk kugendong. Orang-orang satu gang sini bahkan sepertinya sudah maklum sekali kebiasaannya itu dan menganggapnya biasa karena juga ia tidak sendiri di kerumunan kecil ibu-ibu yang kumpul minum jamu dari pedagang jamu keliling ketika aku dengan agenda rutinku membawa Salwa keliling gang.
Kembali lagi ke ‘Nyot! Nyot!’ tadi. Saat mengoper Salwa ke Aida, ia bahkan dengan sengaja menyentuhkan kedua gundukan payudaranya pada lenganku. Kejadian itu terjadi begitu cepat karena kondisinya cukup rapat agar aman saat proses pemindah-tanganan itu berlangsung. Betina satu itu tersenyum lebar dan aku asli salah tingkah.
Salah tingkah merasakan kenyal nan empyuk itu tertekan lenganku walau sekejap saja. Seakan memberi sinyal ‘Ini loh yang akan abang dapatkan kalau menerima tawaranku, bahkan lebih hebat lagi berkali-kali lipat’.
Aku sudah melihat isi dalam bra yang ia kenakan, tau betapa bulat sepasang gunung itu, tau warna puting susunya bahkan tau dimana posisi tai lalat yang ada di bawah payudara kanannya yang berjumlah dua biji berdekatan. Detail aku hapal semua!
“Makanya, Da… Buat anak cepat… Taunya gendong Salwa terus, huh…” ledek salah satu ibu yang lumayan rumpi di gang ini.
“Maunya loh, kak… Tau belom dikasih-kasih nih…” jawabnya melirikku sebentar. Sindiran halus. Aslinya belom dikasih anak samaa Tuhan, tetapi sebenarnya belom dikasih enak samaku.
“Iya cuma goyang-goyang aja masak ga bisa, sih?” sambar ibu lain yang cukup vulgar. Kalau sesama ibu-ibu semua, mungkin omongan mereka lebih parah dari ini. Mereka pada tertawa mendengar guyonan ini. Termasuk nenek penjual jamu ini.
“Ih… Udah jungkir-balik aku, buk… Gak dikasih juga… Padahal dah pengen kali aku punya anak kek si Salwa ini…” jawabnya lagi sambil tubuhnya bergoyang-goyang membuai Salwa membelakangiku. Yang kulirik malah goyangannya. Mampus!
“Nih, nduk jamu-mu… Wes cepet mbayek…” kata sang nenek penjual jamu bersepeda mengangsurkan sebuah gelas berisi cairan entah jamu apa.
Aida buru-buru mengembalikan Salwa padaku. Ia agak menunduk sedikit dan hasilnya aku dapat menyaksikan sedikit belahan dadanya dari kerah rendah berkancing terbuka baju daster bahan batik yang dikenakannya. Yang sudah kulihat jelas kemaren. Me-refresh memoriku akan keindahan kedua gunungan itu. Dan satu finishing touch. Ahh… Tangannya yang tiba-tiba dengan nakal mengelus Aseng junior-ku yang terstimulasi pemandangan barusan. Semuanya berlangsung dengan cepat.
Seolah itu semua terjadi dengan alami dan ia tidak menunjukkan perubahan air muka dan ekspresi sedikitpun, ia menerima gelas jamu itu lalu meminumnya. Lanjut obrolan para emak-emak lagi. Aku cepat-cepat melipir menjauh untuk menenangkan si Aseng junior yang berontak.
—
“Pah… Titip Salwa bentar ya… Mama mau beli telor di grosir depan…” kata istriku sudah memegang kunci kontak motor. Anak sulungku senangnya cuma makan nasi pake telor. Bisa diceplok atau dadar, pokoknya telor.
“Ya… Ti-ati…” jawabku singkat. Rio langsung nangkring di jok depan, ikut mamanya belanja telor. Pastinya minta jajanan lagi. Salwa hanya bengong ngeliatin mamanya nyetarter motor dan dadah-dadah padanya. Salwa dalam posisi duduk di baby walker beroda dan aku mengawasinya sambil mainan game HP di teras rumah yang berhadapan dengan halaman luas kami. Selayaknya di pinggiran kota begini, rumah jarang berpagar seperti yang kuterapkan pada rumah tinggalku ini.
Lagi asik-asik maen HP terdengar suara perempuan itu lagi dan begitu kutoleh, ia sudah berjongkok di depan Salwa. Entah dari mana ia datangnya. “Salwaaa… Ketemu lagi…” katanya tetap dengan nada cerianya. Ia membuat wajah-wajah lucu untuk sekedar membuat Salwa memperhatikannya.
Tapi bukan wajah lucunya yang membuatku melotot menatapnya, melainkan posisi jongkoknya itu loh. Ampun, mak!
Sekali-kali ia melirik padaku dan mengangkat alis kirinya memberi kode. Dari posisi jongkoknya aku bisa melihat semua isi dalam bagian rok daster itu. Paha putih mulusnya yang padat mengangkang hingga aku bisa melihat permukaan celana dalam berwarna krem-nya yang tebal tembem abis. Bahannya cukup tipis hingga sinar matahari sore cukup menerangi pemandangan indah yang spektakuler. Ingin kubernyanyi…”Disana… tempat lahir beta…” dengan suara nge-bass dan nyeruduk nyungsep di situ kalau gak ingat-ingat.
Sambil terus bercengkrama dengan Salwa, Aida beberapa kali dengan sengaja menggaruk pahanya hingga ujung rok dasternya semakin bergulung naik. Makin mendidih kepalaku melihat atraksi itu. Aku makin gak konsen mengendalikan game racing di HP-ku ini. Mataku berpindah-pindah chanel dari layar HP ke CD Aida. Halah!
“Bang Aseng? Pin BBM-nya berapa?” tanya Aida mengerti kegelisahanku. (Kejadian ini sudah lama, beberapa tahun yang lalu ya. Jadi masih pada maenan BBM) Ia merogoh ke dalam dadanya dan memegang sebuah HP. Tiba-tiba aku berharap aku bertukar tubuh dengan HP dengan banyak tombol itu.
“Aa…” aku terbengong untuk beberapa saat. Lama aku mencerna maksudnya karena masih fokus pada segitiga; sempak, belahan dada dan HP!
“Pin-nya, bang? Biar gampang kita komunikasinya… Liatin apa sih?” ulang Aida masih terus memamerkan aset yang ditawarkannya dari bukaan kerah daster. Ia tersenyum simpul pada hasil jeratannya. Kenapa si Agus kimak itu gak bisa ngebuntingin betina satu ini sampek aku yang jadi kena getahnya. Kimak-kimak!
Kusebutkan pin BBM-ku dan langsung dapat ping darinya. Kusimpan kontak Aida dan kuberi nama ‘Aida tetangga’. Selesai urusan dengan HP dan pemandangan itu kembali tersaji dengan kurang ajarnya di depan mataku. Ia apit-buka kakinya sambil terus bermain dengan Salwa. BAJINGAAAN!
Terjadi kerutan di bahan katun lembut CD itu saat kakinya mengatup yang merupakan belahan isi sempak itu dan mengetat kembali kala ia membuka kakinya lebar. Kalau HP jaman itu sudah canggih teknologi kameranya seperti sekarang pasti sudah ku-zoom perbesar maksimal, andzink!
Aida tersenyum-senyum kembali penuh kemenangan atas berhasilnya ia menggodaku dengan aset-asetnya. Ia sama sekali tak melihatku saat mengerjaiku. Seolah ia hanya fokus bermain dengan Salwa dan tak sengaja melakukan ini semua. Diciumnya berulang-ulang pipi dan bibir Salwa. Dan siksaan berikutnya datang menghempas berikutnya.
Tangan kirinya yang berada di sisi luar dari gang yang ada di kanannya menelusup masuk. Masuk ke dalam CD-nya dan melakukan garukan erotis. BUJANK! PUKIMAK!
Tonjolan jari-jemarinya nampak bergerak-gerak perlahan menggaruk belahan isi surga dunia itu. Dari posisinya bergantian jari telunjuk dan jari tengahnya bergerak ritmis melakukan garukan. Aida tampak menggigit bibir bawahnya sambil terus bercanda dengan Salwa.
Aku ternganga tentunya. Pemandangan ini terlalu erotis untuk mataku yang tiba-tiba kering. Gawat! Jangan sampe mata minusku kambuh lagi gara-gara ini. Dulu sewaktu SMP aku sempat berkaca mata minus dan sembuh ketika SMA.
“Ahhss…” desahnya lalu mengeluarkan jarinya dari CD. Ujung kedua jarinya melata perlahan seumpama slow motion dari paha, perut, dada, leher dan berakhir di depan hidungnya. Dihirupnya aroma bekas garukannya tadi. “Uhmm…” dengan penuh perasaan, lalu dimasukkan kedalam mulut. Dicecap dengan lidah. Seksi sekali. Semuanya dalam keadaan mata terpejam. Lalu ia membuka matanya yang berbinar-binar bahagia.
Ingin rasanya aku melompat dan menerkamnya. Melakukan apa yang ada di kepalaku saat itu juga. Hanya aktifitas di jalanan gang yang membuatku tetap waras dan urung melakukannya. Mataku belum segelap itu.
Aida lalu mengangkat Salwa dari duduknya di baby walker. Kedua tangannya masuk di kedua ketiak Salwa dan keempat pasang jarinya menahan kepala bagian belakang bayiku agar tidak terdongak ke belakang. Ah… Aida makin pintar menggendong bayi sekarang. Kayaknya sudah cukup pantas untuk memiliki bayi sendi…ri. Apa? Kuenyahkan fikiran itu. Setidaknya kucoba.
Tanpa dinyana, ternyata perempuan itu sudah ada di depanku. Diserahkannya Salwa padaku. Ada yang basah-basah. “Salwa ngompol, tuh… Gantiin celananya… Hihihi…” gelak Aida lucu. Pantesan ia menggendong Salwa begitu, tidak menempel ke tubuhnya seperti biasa. Rupanya bayiku pipis.
“Humph…” aroma ini? Dua jari kiri Aida menempel di bawah hidungku. Sontak aroma-aroma sedap semerbak menyeruak masuk ke rongga hidungku dan langsung disambar oleh kelenjar pembau yang ada di belakang mataku. Hinggap dan diproses oleh otakku sebagai bau vagina segar!
“Hihihiii… Enak, bang Aseng… Gatel tadi… Pengen digaruk… Bang Aseng gak pengen ngegaruk?” godaan setan ini semakin luar biasa binal. Ia mengemut dua jarinya itu dan membuat gestur binal-binal kucing gimana gitu. Aku geleng-geleng kepala.
Jakunku naik-turun berulang kali karena aku meneguk ludah berkali-kali karena aku kehausan sekarang. Haus oleh yang enak-enak sekarang. Mama Salwa pulang akan langsung digas pol ini nanti sebagai pelampiasan. Aku langsung permisi masuk ke dalam untuk mengganti celana Salwa yang basah. Aida melirik-lirik ke bawah pada Aseng juniorku yang sudah membuat sebuah piramid horizontal di celanaku.
Sore-sore itu, istriku terheran-heran karena gak biasanya aku minta jatah. Biasanya juga malam atau pagi hari sebelum Subuh. Karena kedua anak kami masih terjaga, harus main quickie aja. Gaya debog pisang istilah istriku. Istriku tidur menyamping sambil menyusui Salwa, hanya menaikkan rok dasternya, lepas celana dalam, buat basah sebentar dan coblos. Di ruang tamu depan terdengar acara TV yang sedang ditonton Rio yang duduk anteng dengan jajanannya sementara kami di dalam kamar sedang ngos-ngosan.
“Papa kenapa? Tumben sore-sore minta mensek (Istilah kami kalau bersenggama. Plesetan dari main seks) Ngebayangin siapa?” tanyanya belum bersih-bersih. Istriku hanya menurunkan kembali rok dasternya menutupi kakinya. Sebuah handuk kecil kami gunakan untuk sekedar mengelap sisa pergumulan kami. Ia sudah memakai kontrasepsi spiral tak lama setelah nifasnya selesai.
“Yaa ngebayangin kamu-lah, ma… Siapa pulak yang papa bayangin?” ngelesku gak berani menatap wajahnya. Aku memperhatikan Salwa yang masih menyusu pada mamanya. Nyot-nyot dikenyot-Nyot!
“Napa? Mau nyusu juga? Mau jadi saudara sepersusuan Salwa?” guyon istriku menyadari aku memperhatikan dadanya yang sedang dikenyoti Salwa. Aku malah teringat kala Salwa mencoba menyusu pada payudara Aida yang tak ber-ASI. Mengingat itu Aseng junior menggeliat bangun lagi. Hal itu disadari istriku. Ia sudah paham tabiatku. Aku meremas-remas pelan payudara yang tidak disedot Salwa. Padat dan penuh dengan ASI. Makanan bergizi bagi bayiku.
“Udah, pa… Masuk aja lagi… Minggu depan mama mulai halangan lagi, loh… Puas-puasin aja sekarang…” kata istriku menarik kembali rok dasternya ke atas hingga menampilkan kembali bagian bawah tubuhnya yang masih polos. Masih ada bekas permainanku sebelumnya disana. Pastinya akan melancarkan jalan masukku. Aku posisikan diriku kembali di depan istriku yang masih berbaring menyamping menyusui Salwa. Bayi kami sepertinya tak keberatan tempat tidur yang kami bagi bersama ini berguncang-guncang karena ulahku.
Kupuas-puaskan menikmati istriku sore ini. Lahan yang halal dan sah untuk kugarap sesuka kemauanku. Istriku juga lumayan menikmatinya walau sedikit menahan suara desahan karena ada Salwa disampingnya yang sudah tertidur. Total 4 kali ngecrot aku sore itu. Sebelum azan Maghrib aku dan istriku sudah mandi wajib.
Skip-skip
Lelah karena aktifitas seharian, istriku dan kedua anakku sudah masuk kamar jam setengah sembilan. Aku masih di depan TV gonta-ganti channel mencari acara yang menarik. Ada pilihan film di stasiun TV swasta yang sudah diputar 3724 kali dan acara variety show yang lumayan monoton dengan penonton bayaran yang cantik-cantik.
Ping!
Salah satu kontakku mengirimi Ping. Malas-malasan kuliat siapa? Jam 22.12 WIB. ‘Aida tetangga’ yang mengirim pesan ping. Belom tidur dia?
Mulai komunikasi kami lewat BBM.
Aseng: blm tidor da?
Aida: blom bg aseng lge kepanasan ni.
Aseng: napa? rusak kipas angin klen
Aida: gatel bg pengen digaruk
Aseng: apa yg digarux
Gak lama ia mengirim gambar yang merupakan penampakan dada utuh Aida tanpa penutup sehelaipun. FAKK! Tanpa sadar tanganku merayap mencari jalinan kerjasama dengan Aseng junior.
Aseng: apa tu? krg jelas
Tak lama masuk gambar satu lagi foto celana dalam yang mungil banget berwarna pink yang dikenakannya. Sontak aku mengelus-elus Aseng junior yang mendadak manja pengen disayang.
Aseng: lucu itunya. Lg?
Tanpa ba-bi-bu masuk foto ketiga yang lebih bombastis. Tepian celana dalam pink mungil itu ditarik kesamping dan menampakkan isinya yang kurindukan. Vaginanya mungil juga, belahannya agak merekah lembab. Ada titik genangan cairan bening di sekitarnya, kemungkinan keringat. Rambut hanya tumbuh di atas gundukan pubic seperti kumis Hitler. Makin kencang kubelai Aseng junior yang tercekik sampai ia megap. Urat-urat kebiruan muncul disekujur tubuh Aseng junior.
Dan seolah melengkapi keindahan malam itu, masuk foto berikutnya. Dibukanya belahan vagina Aida hingga kelihatanlah semua keindahan masterpiece itu. Aku bisa meresapi gerinjal lekukan daging yang merupakan labia minora yang bermahkotakan klitoris mungil di atasnya. Cairan basah yang menggawangi lubang mungil yang mengintip terpaksa karena dibuka paksa oleh tangan pemiliknya. Lubang anusnya sedikit gelap dengan kerutan-kerutan halus di sekitarnya. Kulit halus dan putih selangkangannya serupa latar yang paling tepat untuk semua ini. Ini sempurna. Aku bahkan tidak pernah sedeg-degan seperti ini melihat kelamin wanita walau tak secara langsung, hanya lewat media.
Aida: gantian pls
Kukirimkan dua foto dengan interval setengah menit. Foto pertama sewaktu aku mencekik Aseng junior hingga urat-urat kasarnya bertonjolan. Foto kedua merupakan muntahan putih Aseng junior yang melumuri sekujur tubuhnya.
Aseng: crot utk yg k5
Lama Aida tidak membalas chat dariku. Ada sekitar dua menit, yang kuhabiskan dengan memelototi ulang foto-foto berharga pribadi milik tetanggaku itu. Aseng junior tak kunjung lemas karena ia tetap tegak mengacung dielusanku.
Aida: udh 5x? lemez dong
Aseng: mlm ini br 1x td sore 4x
Aida: kuat y ngayalin Aida y?
Aseng: Aida g tgg jwb
Aida: kan ad kakk smpe 4x lg hhh
Aseng: imut
Aida: apnya imut?
Aseng: cdny wkwk
Aida: gd y
Aseng: gak ada ato apa
Aida: GEDE
Aseng: woi capslock!
Aida: kmari bg kutunggu
Bersambung