Edward mengajak Vanes ke sebuah bar, dan mereka hanya duduk, minum beberapa botol bir tanpa melakukan hal lain.
“Hey, kita berdua di sini, seperti pemuda tolol yang hanya bisa menyaksikan tarian erotis dari penari bugil di depan panggung. Ed, apa kau tak ingin bercinta dengan mereka?!” tanya Vanes setengah berteriak karena lagu-lagu yang diputar di dalam klub malam benar-benar kencang.
Edward hanya mengangkat kedua alisnya dan menggeleng.
“Aku bilang, apa kau tak ingin bercinta dengan salah satu penari bugil di depan sana?!”
Sebetulnya Edward sudah dengar tapi malas menjawab. Bercinta dengan penari bugil? Membayangkannya saja tak pernah, membuat Edward bergidik lebih dulu. Terlalu beresiko!
“Kau saja yang bercinta dengan mereka!” jawab Edward.
“Kurasa ... sebentar lagi kau benar-benar jadi tak normal!”
“Apa pedulimu?!”
“Jika kau tak normal, aku tak bersedia menjadi pasanganmu!”
“Bangsat!”
“Hey, Ed, lihat itu!” Vanes menunjuk ke arah pintu masuk klub, seorang gadis yang wajahnya tak asing muncul di sana, dan itu gadis pelayan yang ada di toko kue tadi. Grace.
“Dia itu siapa?” tanya Edward yang sudah tak ingat wajah Grace.
“Gadis cantik bertubuh sintal di toko kue tadi, memangnya kau tak tertarik?”
Kali ini Vanes duduk mendekat ke arah Edward, tenggorokannya sakit karena harus berteriak-teriak.
Tatapan Edward mengikuti gerakan Grace, gadis itu bergerak cepat di antara kerumunan orang-orang yang menyesaki tempat itu. Dilihatnya Grace duduk di depan bar. Satu tangannya terangkat memanggil bartender.
“Aku mau menghampirinya.”
“Ha?”
“Kenapa?”
“Kau mau mengajaknya begitu?”
“Kata siapa?” tanya Edward lagi, kali ini pertanyaannya membuat Vanes jengkel setengah mati.
“Terserah!”
Edward sudah berdiri di belakang Grace, ditatapnya Grace dari belakang. Grace memesan segelas vodka, dia masih belum menyadari kehadiran Edward di sampingnya.
Sebetulnya Vanes agak heran. Kenapa Edward mau menghampiri Grace, yang dia tahu, pemuda itu dengan segala keangkuhan dan rasa dingin yang ada pada dirinya, tak akan pernah mau menghampiri perempuan terlebih dahulu.
Edward cuek dan dingin, entah berapa puluh wanita berusaha dijodohkan padanya, atau yang berusaha mendekatinya, semuanya mental begitu saja.
“Satu gelas cognac,” ujar Edward memesan pada bartender.
Grace mengenali suara itu, dan ketika dia menoleh ke samping, benar saja, itu pemuda yang tadi di toko kue, yang wajahnya memerah setelah menggenggam tangannya.
“Kau?”
“Gadis toko kue,” ujar Edward datar.
“Ke mana kawan-kawanmu?” Grace memanjangkan lehernya. Kedua matanya sibuk mencari-cari seseorang, dia tak peduli dengan Edward yang ada di sampingnya, sebetulnya ada seseorang yang dicarinya, dan dia tak menemukannya. “Hey, mana kawan-kawanmu?” ulang Grace menanyakan pertanyaan yang sama.
“Kenapa kau harus mencari seseorang yang tak ada? Ikut aku. Kau jangan terlalu banyak minum, mukamu sudah merah seperti babi,” ujar Edward. Wajah Grace memang sudah sangat merah karena mabuk.
“Ey, mana temanmu, yang berwajah melankolis tadi,” ceracau Grace.
“Dia sibuk bercinta,” jawab Edward sekenanya.
“Ah, lalu kenapa kau tak melakukannya juga,” balas Grace. Kali ini dia benar-benar sudah mabuk, jalannya limbung ke kanan dan ke kiri, kedua matanya pun sayup. “Eh, maaf.”
Edward membawa Grace ke meja di mana Vanes masih menunggunya di sana.
“Gadis ini mabuk. Jika aku membiarkan dia di sini sendiri, dia akan menjadi santapan para lelaki. Aku akan mengantarkannya pulang.”
“Lalu aku?”
“Van, kau bisa pulang naik taksi dulu, kan?”
“Buat apa naik taksi, aku bisa meminta supir menjemputku. Kau pergilah, antar gadis toko kue kembali ke rumahnya, atau jika kau mungkin berminat, kau bisa menikmatinya seorang diri,” goda Vanes.
“Tidak, aku tak berminat. Aku balik duluan.”
*
Tentu saja Edward tak membawa Grace ke rumahnya di mana kedua orangtuanya juga ikut tinggal.
Jika Edward membawa Grace ke sana, mereka pasti akan mengira jika Edward baru saja menculik seorang gadis mabuk.
Edward menurunkan posisi jok mobil, agar posisi kepala dan tubuh Grace bisa lebih nyaman. Gadis itu mabuk dan pingsan. Ternyata berat orang pingsan itu benar-benar berbeda saat terbangun, baginya, dia seperti mengangkat karung beras seberat 100 kg.
Sesampainya di apartemen mewah miliknya, Grace masih belum juga sadar, dengan terpaksa dan bersusah payah Edward harus membopongnya, membawanya ikut serta masuk ke dalam lift.
Benar-benar menyusahkan! Seandainya saja dia diperbolehkan untuk menyeretnya, dengan senang hati dia akan menyeret tubuh Grace!
Susah payah Edward mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamar miliknya, ternyata Grace benar-benar menyulitkan.
“Kau benar-benar menyulitkanku, tapi aku tak tega meninggalkanmu sendirian di sarang singa seperti tadi. Oh Tuhan, apakah para dewa sedang menghukumku, sehingga aku harus diberi cobaan seperti ini?”
Setibanya di kamar, Edward langsung merebahkan tubuh Grace di atas ranjang besar miliknya. Untungnya Grace tak muntah. Jika mabuk kemudian muntah, dia akan membiarkan Grace tidur di koridor apartemen sampai besok pagi.
“Engh ...,” Grace bersuara, membuat Edward yang sedang melepas kancing kemejanya langsung menoleh. Tapi dia belum bangun, hanya membuat suara lalu memutar tubuhnya ke arah samping tempat tidur, dan—
“Eh!” Edward langsung berlari ke arah tepi ranjang dan menahan tubuh Grace agar tak terjatuh ke bawah. “Sial, sial! Kenapa kau benar-benar merepotkanku.”
Pakaian kerja yang dikenakan Grace semuanya basah oleh keringat. Edward tak suka dengan bau keringat, tapi apa yang bisa dilakukannya, tak mungkin dia harus melucuti satu per satu pakaian Grace, sedangkan gadis itu pasti tak membawa baju ganti, dan dia pun tak memiliki baju perempuan, lalu bagaimana?
“Eh....” Lagi-lagi Grace mengeluarkan suara.
“Gadis toko kue, apa kau sudah sadar?” Edward berjongkok di tepi tempat tidur, dan menatap wajah Grace lebih dekat. Wajah gadis di hadapannya serupa pahatan, lekuk wajahnya begitu tegas, wajah tirus, bibir tipis, hidungnya mancung, dan kedua mata yang memiliki bulu lentik. Terlalu sempurna bagi Edward untuk menjadi penjaga toko kue. Setidaknya, bagi Edward gadis ini bisa menjadi lebih dari sekadar pekerjaannya saat ini, apakah dia tak bisa mendapatkan pekerjaan lain?
Grace sendiri mulai sadar, meski samar, dia bisa melihat sosok laki-laki sedang menatap wajahnya. “Kau?”
“Kenapa?”
“Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa bersamaku?”
“Kau mabuk lalu pingsan,” jawab Edward singkat.
Kepala Grace masih terasa berat dan pusing, padahal seingatnya dia hanya minum tiga gelas vodka, tidak lebih.
“Lalu kau, apa yang kau lakukan bersamaku?” tanya Grace dengan wajah kusut. Pengaruh alkohol masih sedikit menyisakan pening di kepalanya.
“Aku ingin menjualmu, makanya aku membawamu kemari,” ujar Edward dengan enteng.
“Menjualku? Kau seorang mucikari?” kata Grace lalu tertawa
“Apakah itu lucu? Kau tak takut jika aku menjual tubuhmu kepada seorang laki-laki tua yang memiliki bau ketiak?”
“Jika bisa mendapatkan uang banyak, kenapa tidak?”
Edward menepuk jidatnya. Baru kali ini dia bertemu gadis aneh. Gadis di depannya ini malah membetulkan posisinya, duduk dengan santai, kemudian dengan tenangnya dia membuka jaket, dan kaos polo shirt putih yang dikenakannya, hingga hanya tersisa bra berwarna hitam yang memerlihatkan jelas bentuk payudaranya yang padat dan berisi.
“Pakai kembali kaosmu,” pinta Edward.
“Bajuku keringatan, lagi pula ... aku masih memakai bra. Bukan telanjang bulat,” jawab Grace santai tanpa dosa.
Bentuk dada yang padat berisi, perut yang rata, dan pinggang yang ramping. Grace memang seksi, tapi Edward memandangnya tanpa gairah, raut wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun. “Ya sudah, kau mau telanjang bulat sekalipun, aku tak akan menyentuhmu, silakan saja.”
“Kau mau ke mana?” tanya Grace ketika melihat Edward berdiri dan berjalan memunggunginya.
“Mau mandi,” jawab Edward tanpa menoleh sedikit pun.
*
Edward baru saja selesai berendam di dalam bath tube dengan air hangat, tiba-tiba saja kupingnya menangkap suara-suara yang sudah tak asing baginya. Ya, suara desahan, rintihan, dan erangan, entah datang darimana.
“Hey, apa yang kau tonton?!”
“Oh, aku hanya menonton adegan porno di sebuah situs, kenapa?”
Tanpa merasa berdosa, dengan polosnya Grace menunjukkan tampilan layar di handphonenya, di mana terdapat adegan ranjang antara dua laki-laki dan satu perempuan. Lagi-lagi Edward tak memberikan reaksi yang berarti. Grace sendiri tak menaruh pikiran buruk terhadap pemuda tampan yang hanya terbalut kimono tanpa mengenakan apa pun di dalamnya.
Edward menggelengkan kepalanya. Jangan-jangan yang dia bawa ke apartemennya ini adalah seorang gadis setengah waras, pikirnya.
Edward mengibas rambutnya yang masih setengah basah, wajahnya terlihat segar, ketampanannya naik peringkat beberapa persen dari sebelumnya, dia terlihat memesona. Ya, mungkin saja karena baru mandi.
“Kau tak mau mandi?”
“Aku tak punya pakaian, kecuali kau ijinkan aku memakai pakaianmu,” jawab Grace cuek, masih asyik menonton film porno di handphonenya.
“Tak bisakah, kau mengganti dengan film lain?”
“Kenapa? Apa kau terangsang?”
“Apa?”
Edward tersenyum geli, ingin rasanya dia menjedotkan kepala Grace di tembok. Mungkin saja saat ini dia kehilangan akal sehatnya, makanya kata-katanya sedikit ngawur.
“Kau terangsang mendengar suara-suara itu?”
“Tidak sama sekali,” jawab Edward.
“Sebaiknya aku mandi,” ujar Grace. Dia beringsut dari tempat tidur dan berjalan ke arah Edward, tiba-tiba kakinya tersandung sofa yang ada di dekat tempat tidur, dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Awas!” Dengan sigap Edward menahan tubuh Grace, tapi sepertinya dia salah memegang, yang dipegangnya bukan bahu, karena bahu tak selembut juga sekenyal yang dirasakannya sekarang.
“Kau ... meremas dadaku,” kata Grace tanpa berusaha melepaskan tangan Edward. Bentuknya benar-benar pas dalam genggaman tangan kekar milik Edward.
“Maaf, aku hanya berusaha menolongmu. Sekarang mandilah, aku akan meminjamkan pakaianku. Kau bisa mengenakan piyama tidur milikku, atau kau mau tidur mengenakan bra dan celana dalam, itu terserah kau. Sekarang yang terpenting, kau harus segera mandi. Kurasa celana dalammu sudah terlalu basah karena tontonan yang kau tonton tadi, dinginkan kepalamu, sekarang!”
Grace melenggang genit menuju kamar mandi, sebelum menutup kamar mandi, dia mengatakan sesuatu, “Jangan memanggilku gadis toko kue, namaku Grace!”
Edward berjalan menuju balkon, dia telah mengganti pakaian dan menggenakan jaket tebal, kemudian membuka pintu, lalu duduk di bangku yang ada di teras. Saat itu sudah pukul dua pagi, tetapi jalanan di Kota Detroit tak pernah sepi.
Edward meraih sebungkus rokok, menyalakannya, dan mengepulkan asap rokok ke arah atas membentuk bulatan-bulatan kecil.
Grace sudah setengah jam berada di kamar mandi dan masih belum juga selesai. Entah apa yang dikerjakannya saat itu.
“Hai, aku sudah selesai,” ujar Grace yang telah berpakaian. Dia mengenakan piyama tidur milik Edward, sedikit kebesaran, daripada tak ada sama sekali.
“Apa yang kau lakukan sampai hampir satu jam di kamar mandi?”
“Berendam, sambil membayangkan adegan-adegan tadi,” jawab Grace tanpa dosa, membuat Edward bergidik geli.
“Kau ingin melakukan adegan tadi?”
“Entahlah. Aku masih perawan. Aku belum pernah melakukannya, bahkan aku tak tahu rasanya seperti apa,” jawab Grace cuek, kemudian bersandar di pagar balkon.
Ya, itu benar, gadis tengil, genit, dan sedikit tolol di hadapan Edward itu memang masih perawan.
“Apa? Eh ... kau masih perawan?” Kali ini Edward tertawa geli, lalu terbahak-bahak, menganggap jika kata-kata Grace adalah sebuah lelucon.
“Kau tak percaya, ya?”
“Tentu saja tidak, apa buktinya? Kelakuanmu saja seperti ini, terlalu berani, mana mungkin aku percaya kau masih perawan atau tidak.”
“Ayo kita lakukan,” ajak Grace merasa ditantang.
Sebenarnya dia kesal karena Edward menertawakan kejujurannya.
“Maksudmu?”
“Bercinta.”
“Kenapa?”
“Supaya kau percaya, aku masih perawan atau tidak.”
“Jadi ... kau ... benar-benar masih perawan? Berapa usiamu?”
“Aku baru 21 tahun, ada yang aneh?”
“Hahaha ..., sangat aneh, biasanya gadis seusiamu sangat langka yang masih perawan,” tawa Edward menggelegar mendengar Grace dengan tingkah laku anehnya menyebut dirinya masih perawan, apakah dia salah dengar?
“Kau ... masih perjaka?” Hal yang sensitif ditanyakan Grace. Edward berdiri, berjalan mendekati Grace dan mencengkram lengan kecil milik Grace, “Kau ini kenapa, aku kan hanya bertanya, tak perlu—“
Alis tebal milik Edward bertaut menjadi satu, kedua matanya menatap tajam, memerhatikan tubuh Grace dari atas sampai bawah, “Memangnya perjaka atau tidak, apa urusanmu?”
Bagaimana jika Grace tahu, pemuda tampan dan bertubuh ideal yang diidam-idamkan semua wanita, yang sekarang berdiri di hadapannya, ternyata masih seorang perjaka, apa reaksinya?
Edward bukan tipe laki-laki mesum seperti Mark atau kedua temannya yang lain, dia tak mau sembarangan tidur dengan wanita yang tidak disukainya.
“Kau ini aneh, sesaat kau bisa sangat manis, tiba-tiba kau bisa berubah menjadi sangat arogan, apa kau ini seorang pemuda labil yang memiliki gangguan jiwa?”
Edward benar-benar merasa jengkel dengan semua kalimat-kalimat konyol berkesan tolol yang keluar dari mulut Grace, Edward memutar tubuh Grace dan memiting kedua tangannya, mengunci pergerakan Grace sehingga Grace tak bisa bergerak.
"Aku masih waras,” jawabnya. Satu tangan Edward mengunci kedua tangan Grace, satunya lagi menyibak rambut panjang Grace, memperlihatkan leher jenjang, putih, dan mulus milik Grace. Ya, leher itu benar-benar mulus tak ada cacat sedikit pun, membuat Edward menelan ludah berkali-kali.
Grace merasakan bibir Edward yang mengecup tengkuk lehernya dengan lembut, dia merasa geli, tapi menikmatinya.
Grace memejamkan matanya ketika Edward menggigit cuping telinganya dengan lembut, jantungnya berdegup kencang. Grace ingin merasakan lebih bukan hanya sekadar kecupan, maupun gigitan menggoda yang membuat darahnya mendidih dibakar gairah. “Eh?”
“Kenapa kau merem melek seperti itu?”
“Cuma seperti itu?” tanya Grace sedikit kesal, benar-benar tanggung dibuatnya. Pemuda menyebalkan di hadapannya ini benar-benar menjengkelkan, Edward tersenyum puas melihat Grace yang seolah berharap lebih darinya.
“Lalu kau mau apa? Aku bukan pria mesum seperti dalam pikiranmu,” kata Edward sinis.
“Ehmmm, kau tak normal ya?”
Edward mengangkat wajah Grace, mendekatkan wajahnya ke depan muka Grace dan berbisik, “Aku bisa memperkosamu berulang-ulang, jika kau mengatakan kalimat itu sekali lagi. Aku masih NORMAL!”
"Hey bangun!" teriak Edward tepat di telinga Grace.
Gadis itu tertidur nyenyak di atas tempat tidur besar milik Edward, mengorok pula.
Edward lebih memilih tidur di atas sofa, semalaman dia tak tahan dengan dengkuran Grace yang mengganggu telinganya, sehingga memutuskan pindah ke sofa dan menjauh dari Grace.
Grace mengucek kedua matanya, kesadarannya belum pulih benar. "Begitu caramu membangunkan seorang tamu?"
Edward melotot, rahangnya mengeras, ditatapnya Grace dengan tajam dan berkata, "Heh, jadi kau mau tidur sampai kapan? Aku punya banyak urusan, aku antar kau pulang!"
"Ck, apa kau tak pernah bisa berbicara dengan lembut? Kurasa, di rumahmu semuanya tuli, ya?"
"Gadis tolol, cepat sebelum aku naik darah, pakai kembali bajumu. Tadi aku sudah menyuruh laundry apartemen untuk mencucinya untukmu."
Sebegitu perhatiannya Edward. Selama ini dia tak pernah peduli dengan yang namanya perempuan. Apalagi sampai rela menawarkan diri mengantar pulang, dan peduli dengan pakaian kotor grace sampai memaksa petugas laundry apartemen untuk mendahulukan mencuci beberapa potong pakaian milik Grace.
*
"Kau tinggal di tempat seperti ini?" tanya Edward ketika mobilnya berbelok ke arah lingkungan kumuh.
Semua bangunan tampak tak terawat, belum lagi beberapa gelandangan yang tidur di sembarang tempat beralaskan kardus menambah pemandangan yang tak layak dipandang.
"Iya, aku bukan orang kaya seperti kalian yang mampu berpindah-pindah apartemen jika merasa bosan di satu tempat. Tapi aku yakin suatu saat aku akan punya banyak uang."
Grace membuang pandangannya dan menatap sebuah papan nama yang sangat besar terpampang jelas 'RETRO CLUB HOUSE' sebuah bar ternama di Detroit.
"Aku mau melamar di sana." Grace menunjuk papan nama klub malam tersebut.
Edward meringis mendengar perkataan Grace, dia bilang dia ingin kerja di sana, untuk mendapatkan uang banyak?
"Hey, apa kau masih waras?" tanya Edward.
"Tentu saja, kenapa?"
"Kau tak punya cita-cita lain? Kau tahu kerasnya kehidupan malam. Mereka bersaing mendapatkan tamu, bahkan menggunakan cara licik, dan kau tak memiliki pengalaman sama sekali. Kau tak takut harus melayani om-om bertubuh besar dan sangar, yang kasar terhadap perempuan?"
"Buat apa aku takut?"
"Ah sudahlah, berbicara denganmu, sama saja berbicara dengan tembok."
Edward melirik dan memperhatikan wajah Grace dari samping. Jika memang benar dikatakan dia masih perawan, sungguh disayangkan jika dia harus bekerja di tempat seperti itu nantinya. Edward mengangkat satu tangan—hendak mengusap wajah Grace—kemudian diurungkan.
Tak lama kemudian keduanya tiba di sebuah pemukiman warga. Pemukiman itu terlihat berantakan. Orang-orang berkulit hitam terlihat asyik menari-nari di tepi jalan menggunakan jaket tebal, musim dingin tak terlalu berpengaruh, salju pun sudah mulai berkurang di bulan Januari, di sisi jalan lainnya, beberapa pemuda terlihat asyik mengisap ganja seolah tak peduli kalau mereka sedang diperhatikan.
"Itu rumahku, kau cukup mengantarku sampai di sini," ujar Grace seraya menunjuk sebuah rumah susun tua yang kelihatan kurang terurus, catnya sudah memudar, bahkan mengelupas, temboknya menghitam membentuk garis lurus dari atas hingga ke bawah, bekas rembesan air hujan.
"Aku laki-laki, aku yang membawamu, maka aku yang akan mengantarmu sampai di depan pintu!" jawab Edward setengah membentak.
"Hey, kau tak bisa ya, jika berbicara tanpa menarik urat?"
"Berisik, cepat tunjukkan tempatmu!"
*
Seusai mengerjakan pekerjaan kantor yang berhubungan dengan bisnis milik orangtua-orangtua mereka, keempat pemuda itu memilih sebuah tempat untuk makan siang.
"Kau ingin memesan apa, Ed?" tanya Mark sambil menatap buku menu yang ada di tangannya. Sepertinya, Edward tak mendengar kata-kata Mark sama sekali. Mark kelihatan bingung, melihat Edward yang tersenyum-senyum sendiri.
"Dia senang, karena semalam dia bersama Grace di apartemen," ujar Vanes.
Edward langsung menoleh, kedua bola matanya mendelik, dia langsung berdiri dan menghampiri Vanes, kemudian membungkam mulut Vanes dengan kedua tangannya.
"Ka-kau jangan membuat gosip!"
"Tunggu, siapa Grace?" tanya Mark tak paham. Sepertinya dia dan Kevin melewatkan sebuah berita besar tentang semalam.
Bukan hanya para perempuan yang senang bergosip, laki-laki pun suka. Apalagi ketika bergosip tentang Edward, pemuda dingin, arogan, yang tak pernah bisa bersikap lembut kepada perempuan, bahkan tak segan memukul perempuan yang berusaha menyentuhnya.
Vanes melepas tangan Edward dari mulutnya dan melanjutkan kata-katanya tadi, "Gadis di toko kue yang semalam, gadis itu mabuk dan Edward membawanya ke apartemen."
"Wow, kau sudah begitu dengannya?" tanya Mark penasaran.
"Kau kira aku gila, meniduri perempuan yang sedang mabuk, sama saja mencuri kesempatan darinya!" jawab Edward jengkel.
"Ya, aku lupa sepertinya kau harus segera ke psikiater dan memeriksa kejiwaanmu. Siapa tahu kau sudah mulai tak normal. Seumur dirimu masih perjaka, itu sangat aneh," ejek Mark kemudian meraih sekaleng bir di atas meja dan meminumnya.
"Benar, bahkan Cathy saja tak bisa memaksamu untuk berkencan dengan anak dari relasi bisnisnya, kau ingat Adel? Gadis yang kau tinggal di restoran sendirian? Akhirnya hubungan bisnis itu gagal karena tingkah lakumu," sambung Vanes.
Mereka masih ingat kejadian tahun lalu, ketika Cathy—ibu dari Edward—memintanya untuk bertunangan, kemudian menyuruh Edward menemani Adel makan malam. Sesampainya di restoran, dengan seenak jidat Edward memesan semua menu kemudian meninggalkan Adel dan menyuruh gadis itu membayar semua tagihan.
"Aku tak bisa memaksa diri berkencan dengan orang yang tak kusukai," jawab Edward santai sambil mengisap sebatang rokok.
"Memangnya ada gadis yang kausukai?" tanya Kevin tiba-tiba yang sejak tadi hanya diam mendengarkan segala perdebatan yang tak berguna di antara ketiga orang itu.
"Hmmm ... entah," jawab Edward singkat.
"Mungkin, jika Valerie kembali ke Jepang, aku bisa mengencani Grace," ujar Kevin sekali lagi tanpa dosa, dan dia bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Edward, apalagi dia merasa Edward menatapnya dengan sinis.
"Silakan, dia juga masih perawan."
"JACKPOT!" teriak ketiga kawannya; Mark, Kevin, dan Vanes. Serigala-serigala tanpa bulu itu begitu senang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Edward. Mendengar kalimat itu, wajah dan kuping Edward memerah, dan menatap sinis ketiga kawannya. Kesal!
*
Grace berlari ke arah pintu, sejak tadi kupingnya merasa terganggu dengan bel rumah yang tak henti-hentinya berbunyi. Kedua orangtuanya pun sedang tak ada di rumah, hanya ada dia, Sean, dan Howard, kedua adik laki-lakinya yang brengsek.
"Kalian sibuk mengisap ganja, apa tak mendengar kalau bel pintu dari tadi berbunyi?!" bentak Grace yang tak diacuhkan sama sekali.
Grace tak peduli, dia mengintip dari lubang kunci, terlihat dua pria berbadan kekar dan berwajah sangar sedang berdiri di depan pintu, mereka memakai setelan jas, dan kacamata hitam. Tanpa ragu, Grace membukakan pintu.
"Tuan Frey ada?"
"Kalian siapa, dan mau apa mencari ayahku?"
"Kami ingin meminta pertanggungjawabannya."
"Huh? Memangnya dia melakukan apa?"
"Mana dia?" tanya laki-laki satunya yang bertubuh lebih tinggi, tanpa sopan santun dia melangkah masuk dan menyingkirkan Grace, "Katakan pada ayahmu, Nathan mencarinya."
"Eh, eh, kalian mau apa, masuk ke rumah orang seenaknya. Memangnya ayahku ada salah apa? Siapa itu Nathan?"
Lelaki satunya mengacak-acak seisi rumah, membuka laci, mengeluarkan isinya dan membuangnya ke lantai. "Nathan pemilik kasino dekat bar terkenal itu, suruh dia bayar hutangnya!"
"Hutang? Hutang apa?"
Seribu pertanyaan menggelayut di benak Grace, ayahnya berhutang? Jika memang berhutang, lalu uangnya untuk apa? Dia masih memiliki tabungan yang ditaruhnya di bawah kasur, memang tak banyak, tapi setidaknya bisa membuat dua laki-laki menyeramkan itu pergi dari rumahnya, begitu ayahnya pulang, dia akan menanyakan, kenapa harus berhutang.
"Ayahmu kalah judi, dan dia harus membayarnya."
"Tuhan, berapa besar hutangnya pada kalian?!"
"Sepuluh ribu dollar, apa kau punya uang sebanyak itu? Jika ya, lebih baik kauserahkan, setelah itu, kau tak perlu lagi melihat kami datang ke mari," jawab laki-laki yang bertubuh lebih tinggi tadi.
Sepuluh ribu dollar, Grace merasakan pening secara tiba-tiba, darimana mendapatkan uang sebanyak itu? Tabungannya hanya ada lima ratus dollar, tak akan mungkin cukup membayar kedua preman suruh orang bernama Nathan.
Grace yang saat itu mengenakan celana pendek dan kaos ketat, menjadi pusat perhatian mata-mata nakal kedua pria di hadapannya. Lelaki satunya mendekati Grace, "Thomas, mungkin hutangnya bisa lunas, jika—"
"Wohhoo, pikiran kalian kotor, aku sudah tahu maksud kalian. Aku lebih memilih membayar hutang tersebut, ketimbang harus menjadi jaminan. Jangan pernah berharap kalian bisa mendapatkan apa yang ada di otak kalian, sekarang pergi atau aku tak segan membunuh kalian berdua!"
"Lagi pula kau lumayan juga," kata lelaki yang bernama Thomas, dia berjalan mendekati Grace dan menyolek wajah Grace, membuat Grace bergidik ngeri dan jijik.
Merasa terancam, Grace tanpa segan melayangkan sebuah pukulan telak ke arah wajah Thomas, yang membuat Thomas bergerak mundur, dan mengusap wajahnya.
"Itu baru satu pukulan, kalau kalian masih di sini, aku berani jamin, kalian akan pulang tinggal nama."
"Dasar pelacur cilik!"
Tamparan yang cukup keras dari Thomas mengenai wajah Grace, membuat tepi bibir Grace terluka.
"Heh, apa pun sebutanmu untukku, aku tak peduli. Tapi kau dan si jelek satunya, seenaknya masuk dan mengacak-acak rumah orang. Sekarang kalian pergi atau aku akan berteriak sekuat tenaga supaya satu rumah susun menghajar kalian sampai mati!" bentak Grace, sorot mata Grace berubah, raut mukanya pun tak seperti biasanya, dia benar-benar sudah kehabisan sabar.
"Cih! Kalian yang berhutang, kalian yang lebih galak!"
Grace hanya diam ketika salah satu laki-laki itu meludahi wajah Grace.