"Permisi, Tuan. Maaf jika saya mengganggu, ada sesuatu yang mendesak."
Aditya yang tadi tengah memejamkan matanya kini menatap Romi yang menunduk hormat di depannya itu. Belum juga satu menit berlalu semenjak mereka berbicara, ada masalah apa lagi kali ini?
"Hem, ada apa?" tanya Aditya.
Semalam dia tak tidur karena ulah gila Qila, dan sekarang mau tidur pun susah sekali rasanya. Bagaimana bisa gadis sekecil itu menjatuhkannya dari kasur empuk selebar itu bahkan sampai tiga kali!
Sungguh ingin rasanya dia membuang gadis itu. Namun, mendapatkannya saja susah masa mau dilepas begitu saja?
"Nona tidak mau bersekolah dan tidak mau membuka pintu kamar Anda," ujar Romi sedikit ragu.
Bukan ragu karena tuannya akan marah. Melainkan dia ragu memikirkan cara agar jet pribadi ini tidak dipaksa berputar balik karena Aditya memang terkadang sedikit gila.
Lebih ngeri lagi kalau dia diminta terjun detik ini. Romi benar-benar ingin menggali kuburan untuk bersembunyi sementara rasanya.
"Apa?" sahut Aditya tenang.
Namun, dia lagi-lagi ingin membuang gadis itu ke laut bebas. Tapi jelas tak mungkin dilakukannya, jika dia melakukan hal gila maka usahanya selama 10 tahun benar-benar akan sia-sia saja.
"Maaf Tuan, saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan para pelayan di rumah," tegas Romi agar Tuan-nya ini mengerti.
"Hng, kau boleh pergi. Biar aku yang mengurusnya," balas Aditya.
Setelah itu Romi membungkuk lantas pergi meninggalkan Aditya di ruangan khusus miliknya. Aditya menghela napas frustasi memikirkan kelakuan calon istri kecilnya yang makin hari makin minta digaplok saja.
Dia memikirkan cara agar bisa membuat gadis itu tunduk padanya. Namun, yang terlintas di otaknya hanya satu, yakni mengancam gadis itu sama seperti biasanya. Tapi, sepertinya cara itu sedikit membosankan.
"Aish, dasar Qila, dia pandai menggoda hingga selalu menawan di mata," gumam Aditya pelan lalu dia terkekeh sebentar dan menatap gundukan awan.
Aditya mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia sebenarnya malas memakai ponsel ini. Tapi ponselnya yang satu lagi sudah dihancurkan oleh Qila. Qila-nya itu memang selalu menyenangkan dan hobi menghancurkan.
["Halo,"] sapa Qila.
"Lagi apa?" tanya Aditya klasik. Pertanyaan itu lebih mirip orang yang sedang dalam masa pdkt.
["Aish Tuan, bukannya anda sudah tahu apa yang sedang saya lakukan sekarang?"] kekeh Qila.
Sesaat setelah Qila selesai mengatakannya Aditya membuka cctv yang berada di kamarnya. Di sana tampak Qila yang sedang telentang di atas ranjang mewah milik Aditya.
"Kamu masih mau di situ sampai kapan? Sekolah, kamu masih anak-anak jangan banyak bertingkah, Syaqila," tutur Aditya lembut.
["Tuan lupa ya? Kalo saya masih anak-anak tuan nggak mungkin mau jadiin saya nyonya besar di sini. Yah kecuali tuan muda memang punya bakat jadi pedofil sih,"] jawab Qila lempeng.
"Syaqila!" Aditya mulai jengkel. Pasalnya dia bukan pedofil. Usia mereka hanya selisih tujuh tahun. Jadi dari sisi mana dia dianggap pedofil?
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Aditya pun berteriak sambil memijat pelipisnya pelan. Padahal bila dilihat dari cctv sekarang Qila sedang tak melakukan apa-apa. Lantas mengapa gadis kecil itu tak kunjung menjawab ucapannya tadi?
Meskipun memberikan jawaban, tapi pada akhirnya Qila malah membuat Aditya kian emosi saja. Namun, tetap saja terlihat dengan jelas bahwa dia memang benar-benar ingin obrolan ini segera berakhir.
Aditya mengatakan beberapa kalimat dan dia tak berbohong saat mengatakannya. Dia sekarang masih bisa maklum pada sikap Qila yang memang sangat kekanakan itu.
"Hum."
Dari jawabannya saja Aditya sudah tahu bahwa Qila memang benar-benar dalam mode malas sekarang.
Belum sempat Aditya mengucapkan sepatah kata Qila sudah nyerobot lebih dulu. Bukan menuruti ucapannya tapi Qila malah pamit untuk tidur lagi. Dan tak butuh waktu lama, gadis itu benar-benar menutup telepon setelahnya. Aditya lagi-lagi hanya bisa mengumpat kesal.
Dia lebih memilih diam untuk kali ini. Biarkan saja calon istrinya yang cantik itu berbuat semaunya. Karena untuk sekarang Aditya harus mencegah agar mamanya tak menjodoh-jodohkan dirinya lagi, dan juga karena dia ingin bersama Qila untuk waktu yang tak ada batasnya.
Hem iyah, menghalangi mamanya memang jauh lebih penting. Namun, bersama dengan Qila adalah prioritas utama.
Ya setidaknya hal itu berlaku untuk sekarang.
***
["Syaqila?!"]
Suara di seberang terdengar jengkel. Namun, Qila tetap mengabaikan hal itu. Dia sedang dalam mode malas berdebat.
["Qila saya ngomong sama kamu ya!"]
"Yang bilang tuan ngomong sama setan siapa?"
["Syaqila, mumpung saya masih sabar sekarang, kamu pergi sekolah."] Dan kali ini suara Aditya terdengar sedikit lebih lembut.
Namun, tentu saja Qila tak langsung menuruti perkataan Aditya itu. Lagipula dia bukan bonekanya Aditya yang mau saja disuruh-suruh macam ini.
"Mm," gumam Qila pelan tapi membuat Aditya jengkel mendengarnya. "Saya lagi pengen tidur, Tuan Muda. Dan, saya lagi males dengerin ocehan tuan. Jadi teleponnya saya tutup dulu," imbuh Qila kian memperkeruh suasana saja.
Setelahnya Qila benar-benar menutup telepon itu. Bukan hanya itu dia bahkan mematikan ponselnya, lagipula dia punya dua ponsel. Jadi kalau yang satu dimatiin yang dia tinggal main pakai ponsel lain.
"Gitu aja kok repot," cibir Qila lantas menguap dan bersiap tidur lagi.
Memang healing terbaik adalah tidur!
***
Aditya menghembuskan napas lelah. Dalam hati dia merutuk para sopir jet yang tidak berguna itu. Bagaimana bisa mereka menurunkan dirinya tepat di halaman rumah mamanya?
Dengan langkah kaki yang malas Aditya beranjak dari sofa panjang yang tadi digunakannya untuk mengistirahatkan diri setelah perdebatan dengan calon Istrinya tadi. Kedua kakinya mengayun pelan menuju pintu rumah yang terlihat begitu megah. Aditya beberapa saat masih memandangi pintu itu.
Sebenarnya pintunya bisa saja langsung terbuka sesaat setelah dia menginjakkan kaki di rumah ini. Namun, tadi dia sengaja menggunakan mode silent agar mamanya tak menyapa dirinya kelewat heboh. Karena hal itu sangat menyebalkan.
Aditya mengatakan sepatah kata. Lalu pintu itu terbuka dan menampakkan wajah wanita paruh baya yang melahirkannya.
"Sayang."
Laki-laki berusia 23 tahun itu hanya bisa mendengus pelan melihat kelakuan mamanya. Padahal di telepon tadi malam mamanya itu merengek dan berkata bahwa tak mau bicara lagi dengannya. Lalu sekarang ini apa?
"Ma, aku baru sampai. Capek," jawab Aditya pelan.
Dia tak tau berapa lama berada di atas awan. Dan entah kenapa badannya rasanya sangat remuk. Padahal dari rumahnya sampai ke rumah mamanya dia hanya tertidur. Ah tadi dia terbangun untuk menelepon calon istri kecilnya yang juga sedang dalam mode manja itu.
"Ih nggak bisa. Sekarang kamu harus mandi, makan dan setelahnya kita berangkat ke rumah temen mama. Di sana lagi ada pesta minum teh dan mama diundang. Ada cewek-cewek cantik loh, Dit!" seru sang Mama.
Mamanya mengerling. Aditya sih bodo amat. Dia berjalan meninggalkan sang Mama yang terus mengikutinya dan berusaha membujuk agar dia mau ikut serta dalam acara yang sebenarnya kurang kerjaan.
Hanya minum teh biasa sambil pamer harta. Cih, untuk apa dia datang di acara seperti itu? Ya kalau datangnya sama Qila jelas itu beda cerita.
"Aku capek, Ma," ujar Aditya lagi.
Lalu dia menutup pintu kamarnya dan membiarkan mamanya yang sibuk bermonolog di depan sana. Lagipula dia tak perduli seberapa banyak wanita yang akan hadir dalam acara itu. Karena bagi Aditya hadirnya Qila dalam hidupnya saja sudah lebih dari cukup.
"Aku nggak butuh wanita lain, Ma," lirih Aditya yang bersungguh-sungguh atas ucapannya itu.
-Bersambung....
Tak terasa seminggu sudah berlalu semenjak Aditya pergi dan yang dilakukan Qila hanya rebahan dan terus rebahan. Selama seminggu ini pula kamar Aditya menjadi tempat paling nyaman karena tak ada orang yang mengaku bahwa dia calon suaminya. Ah sungguh menyebalkan memang.
Qila menguap lebar lantas dia berguling-guling sambil merenggangkan otot-ototnya. Matanya terpejam membayangkan dunia tempatnya berada sekarang adalah dunia novel dimana dia adalah pemeran utama yang bisa melakukan apa saja.
Qila terlalu sibuk menghalu ria. Bahkan dia lupa kapan terakhir mandi, baginya yang terpenting adalah masih wangi. Ngomong-ngomong, kapan ya terakhir kali dia mandi?
Minggu lalu?
Atau kemarin?
Ah entahlah. Bahkan ponselnya yang baterainya sudah habis saja dia malas untuk mengecasnya. Dia ini, tubuhnya rapuh layaknya bayi. Jadi tak berdaya saat melakukan pekerjaan berat semacam itu.
Untuk urusan makan dia hanya perlu menekan satu tombol. Lalu semuanya beres deh. Bukankah hidup itu jangan dibuat susah?
Besok hari Rabu, menurut pendengaran Qila yang sangat baik ini, meskipun hasil menguping pembicaraan pelayan, dia tahu kalau si tuan muda akan pulang. Rasa-rasanya hari bebas Qila akan terenggut sudah semuanya.
Huft ...! Apalagi yang lebih menyebalkan dari bertemu dengan orang yang terus memaksa dan mengekangmu? Oh jangan lupakan bahwa dia juga menandai dirimu sebagai calon istrinya!
"Aish! Padahal aku lagi males ngomong formal. Apalagi kalau suruh manggil tuan muda, tuan muda. Enakan juga manggil om daripada gitu!"
"Bukankah lebih baik kalau kamu memanggil saya dengan sebutan 'Mas'?" Qila hanya bisa mendengus.
Terkejut? Jelas tidak!
Dia sudah tak terkejut lagi jika si tuan muda datang lebih cepat dari berita yang dibawa para pelayan sialan itu. Qila pun bangkit dari ranjang king size itu. Dengan segala rasa malas dia mulai duduk.
"Tuan ngapain pulang? Wah kurang lama sih, padahal saya kira Tuan betah sekali di California. Bukankah di sana ada banyak wanita cantik? Lalu kenapa tuan pulang? Duh, harusnya jangan pulang loh, Tuan. Saya di sini benar-benar sudah nyaman tanpa Anda." Qila nyerocos begitu saja padahal tadi katanya malas ngapa-ngapain kan ya.
Senyuman manis Qila tunjukkan. Dan si Tuan Muda itu tersenyum juga, sst diam saja. Jika Qila berbicara begitu artinya gadis itu sedang merindukannya bukan?
Nah, mungkin saja kalimat itu yang ingin Aditya dengar, tapi sayang dia sama sekali tak merindukan laki-laki itu tuh.
Qila hendak mengatakan sesuatu lagi tapi dia tercengang saat tiba-tiba Aditya memeluknya kelewat erat. Eh, loh? Ini, Tuan Muda mau macam-macam lagi ya?!
***
Satu hal yang Aditya syukuri, meski dia tahu Qila kesal tapi gadis itu tak mengusirnya meski dia memeluk erat begini.
Aditya tak banyak bicara. Dia memeluk sang gadis erat tanpa memikirkan hal lainnya, selagi Qila tak mendorongnya pasti tak apa, 'kan?
Tuan muda yang mengaku tunangan Qila itu menyusupkan kepalanya disela-sela rambut sang gadis. Sebisa mungkin laki-laki itu berusaha mengenyahkan aroma yang mirip terasi.
Haha, Entah apa yang dilakukan Qila selama seminggu ini hingga aroma rambutnya benar-benar busuk sekali. Untungnya Aditya sudah terbiasa berada dalam situasi seperti ini. Iya, dia sudah sangat tangguh untuk menghadapi sifat malas dan abnormal milik calon istri kecilnya.
Aditya semakin mengeratkan pelukannya, dia merasa nyaman. Baginya Qila adalah tempatnya pulang. Siapapun yang berani menjauhkannya dari Qila maka dia akan, mati. Siapapun itu, termasuk ibunya sendiri.
Haha, dia hanya bercanda tak usah dipikirkan begitu lah.
"Tuan saya lagi males ngapa-ngapain. Jadi bisa tolong lepasin?" Qila mengoceh seperti biasa.
"Memangnya saya mau ngapain kamu? Saya juga lagi males bangun. Bisa saya tidur aja sambil meluk kamu?" balas Aditya santai.
Melihat Qila tak punya niat untuk membalas, dia membaringkan sang gadis lalu memeluk pinggang mungil itu dengan begitu erat. Saking eratnya seolah saat ini Aditya beranggapan kalau dia melepaskan pelukannya Qila akan pergi dari hidupnya.
"Tuan?" panggil tunangannya itu.
"Qila saya sudah bilang tadi bukan? Panggil saya Mas," jawab Aditya dengan mata yang masih terpejam.
Dia tersenyum saat Qila hanya diam saja dan tak berniat membalasnya. Gadis itu justru tertidur dalam dekapannya, beruang mungilnya memang sering berhibernasi, ya?
Aditya tersenyum makin lebar saat dia sadar bahwa Qila kali ini tak menolaknya. Qila-nya makin hari makin manis sekali.
Kalau terus seperti ini bagaimana dia mampu melepasnya hem?
***
Qila bangun pagi-pagi sekali. Dia semalam tertidur pulas. Aneh memang. Entah bagaimana bisa dia merasa senyaman itu semalam. Seolah dia akan baik-baik saja. Padahal....
... haish, sudahlah mengingatnya membuat kepala Qila ingin meledak rasanya.
"Pagi, Sayang."
Suara bariton Aditya membuat Qila yang baru memoleskan lip tint menjadi berantakan. Sangat-sangat berantakan. Kesal, Qila pun mengumpat lalu menoleh menatap Aditya yang masih sibuk mengumpulkan segenap nyawanya yang menurut gadis itu tak berguna sama sekali.
"Tuan, tolong ya saya sedang tidak mau berdebat." Qila tersenyum sambil menatap pantulan dirinya di cermin itu. Dia memang masih berada di kamar Aditya. Tapi segala benda yang ada disini lebih mengarah ke miliknya. Lagipula kamarnya terlalu sempit untuk menampung benda-benda ini.
"Kamu mau sekolah? Yakin kamu akan baik-baik saja tanpa dampingan saya?"
"Saya sudah besar, Tuan. Juga, saya bukan bayi lagi, ke sekolah sendiri bukan perkara sulit loh!" balas Qila sewot.
"Tapi saya mau membawa kamu kemanapun."
"Tuan, perlu saya ingatkan berapa kali, saya bukan bayi dan saya juga bukan boneka Anda!" Qila berteriak mengutarakan rasa geramnya.
"Hem saya ingat. Tapi kamu cocok kalau mau jadi barbie."
"Saya mau jadi manusia aja."
"Gimana kalau kamu jadi nyonya Aditya saja?" Aditya tertawa saat Qila memelototinya. Lucu sekali pagi-pagi dia sudah disambut wajah manis yang mengisi pikirannya selama 10 tahun terakhir.
"Tuan mending bangun. Sudah waktunya bekerja," suruh Qila.
"Untuk apa saya bekerja? Uang saya sudah banyak." Aditya dengan santai menyombongkan dirinya.
"Sombong sekali. Memang om-om tak tau diri," gumam Qila. Dalam hati tentunya karena dia tak berniat mengatakan itu secara gamblang.
Qila berjalan menuju pintu. Dia baru saja memegang kenop tapi tangan Aditya sudah melingkar di perutnya. Lagi-lagi begini, Qila berdecak kala Aditya mengecup pelan pipinya lantas pergi meninggalkannya.
Saat ini Qila memang menggerutu. Tapi diam-diam dia tersenyum. Hidupnya yang sekarang jauh lebih baik daripada hidupnya yang dulu.
Lalu kenapa mulutnya malas untuk bersyukur?
***
Gadis berusia 16 tahun dengan rambut terurai itu tiba di sekolah. Sejak tadi dia terus memelototi seseorang yang duduk di kursi kemudi itu. Qila benar-benar tak habis pikir dengan tuan muda sablengnya itu! Kelakuannya makin hari makin membuat Qila pusing saja. Bukan hanya pusing tapi dia juga dibuat kewalahan karena tingkah bar-barnya itu!
Kini Qila mendengus lagi.
Bagaimana bisa dia mengantarkan Qila sekolah bahkan tak mengijinkan supir yang membawa mobilnya? Padahal Tuan Muda itu baru sampai dari California.
Hei bukan maksud Qila cemas. Dia hanya ... eum apa ya? Haish, entahlah lah dia tak paham juga.
"Qila, kamu bisa telat kalau terus di situ."
Senyuman yang sungguh menawan. Ekhem! Qila kali ini mengakui senyum itu memang menawan. Bahkan sangat-sangat dan ah ... sialan! Senyumannya benar-benar menawan sekali. Aditya memang menyebalkan!
Laki-laki semacam ini kudu disingkirkan!
Qila terkejut saat sesuatu menempel di bibirnya meski hanya sesaat, karena setelahnya dia memejamkan mata. Menikmati sesuatu yang lembut itu. Rasanya menakjubkan. Ini, pertama kalinya Qila melakukannya. Dan dia memang menikmati setiap detik dari kejadian itu.
Namun, ternyata hanya begitu saja. Setelahnya Aditya mencium kening Qila. Gadis itu tertegun lagi. Matanya menatap mata kecoklatan milik Aditya.
Tadi dia memang tak menolak. Namun, setelah menyadari apa yang dilakukannya Qila buru-buru keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pasti Aditya merasa menang karena dia tak menolak lagi.
Di dalam mobil Aditya tertawa. Bukankah tingkah Qila-nya selalu semenawan itu? Aditya selalu dibuat makin cinta setiap detiknya. Laki-laki blasteran itu selalu dibuat candu oleh tawa itu. Dia seolah-olah tak bisa hidup jika gadis itu lenyap dari pandangannya. Qila segalanya bagi Aditya. Dulu, sekarang, dan selalu.
"Ah Qila, kamu membuatku terbang di angkasa."
Lagi-lagi Aditya tertawa lantas meninggalkan halaman SMA Alesta. Sekolah menengah atas dimana SPP perbulannya sebesar 57 juta. Dan kebetulan sekali, Qila siswa baru yang dengan santainya meliburkan diri selama seminggu.
-Bersambung....