Bab 2. Baru sadar
Arki membuka matanya perlahan. Ia bangun di pagi hari dengan kepala yang masih terasa berat. Arki mengingat-ingat kejadian semalam saat dirinya mabuk akibat Ella, wanita yang sudah resmi jadi tunangannya. Ella dengan tega memutuskan pertunangannya sepihak setelah tahu jika perusahannya sedang memburuk, membuat dirinya marah dan memutuskan menghabiskan banyak minuman keras.
Arki juga mulai mengingat jika dirinya begini akibat semalam telah melakukan adegan tak senonoh dengan seorang gadis. Tapi Arki tak melihat wajahnya dengan jelas karena dirinya sedang mabuk.
Arki mengambil baju dan hendak memakainya, Tiba-tiba sebuah kalung jatuh dari tumpukan bajunya yang di lantai.
"Kalung? Mungkinkah punya gadis itu?" Arki memeriksa dengan jelas bentuk kalung ini. Terlihat simpel dan juga tak terlalu mahal, pasti yang memakainya bukan wanita berkelas. Batin Arki.
Setelah memakai seluruh pakaiannya, Arki memasukan kalung itu ke dalam saku celananya dan melangkah keluar kamar untuk mengecek kamera CCTV. Saat di ruang keamanan, Arki melihat seorang gadis seumuran adiknya. Namun, ia sedikit pendek. Gadis itu pasti yang menolongnya dan membawa masuk ke dalam kamar hotel yang dipesannya.
"Coba besarkan gambar ini," ucap Arki menunjuk gambar seorang gadis.
"Kirimkan gambar itu ke nomor saya! Saya ingin tahu siapa pemilik kalung ini!" perintah Arki pada petugas keamanan hotel.
Setelah mengantongi wajah Bella, Arki bergegas untuk pulang. Mamanya pasti sudah menunggu di rumah karena semalam ia tak pulang.
****
"Bel, tunggu!" Nayla menarik tangan Bella yang hendak keluar kelas tanpa mengajaknya.
"Kenapa, Nay? Aku mau ke perpus!" ucap Bella dingin.
"Nggak! Kali ini kamu harus maafin aku dulu, aku tuh nggak mau kamu diemin gini. Kamu marah kan sama aku?" Nayla menatap Bella sendu, selama ini bahkan mereka tak pernah bertengkar seperti ini.
"Hay, Cusu! Belikan aku snack dan minuman dingin di kantin! Nggak pake lama dan nggak pake nolak!" Rafael memberikan uang kepada Bella dan Nayla merebutnya dari Rafael.
"Kamu ini, Raf! Nggak tahu tata krama atau gimana? Kita ini lagi ngomong, kamu gangguin saja! Kamu mending sama pacarmu yang habis kamu anniversary khan tadi malam!" sungut Nayla pada Rafael dan mengembalikan uang itu padanya.
"Udah gue putusin!"
Nayla dan Bella melongo mendengar ucapan Rafael barusan.
"Gila lo, kenapa lo bikin party kalau ujung-ujungnya lo putusin juga? Dasar playboy cap kucing. Emang!" geram Nayla. Rafael memang lelaki yang suka memperlakukan dan memainkan perasaan wanita, bahkan ia sering berganti pacar jika ia bosan.
"Dia minta party, ya udah gue jabanin. Ngemeng-ngemeng, kemarin lo nggak dateng ya, Bel?" tanya Rafael membuat Bella salah tingkah.
"E_eh dateng kok, cuma nggak masuk. Aku langsung pulang!"
Nayla melirik Bella dengan tatapan sesalnya, pasti Bella langsung pulang karena ia tak menemukan dirinya saat di sana.
"Maaf ya, Bel! Aku nyesel udah masuk duluan dan nggak nungguin kamu! Pokoknya janji, setelah ini aku nggak bakalan ninggalin kamu lagi!" Bella tersenyum dan Nayla memeluk erat sahabatnya ini.
"Aduh, malah pake drama telenovela! Cepet sono beliin AA snack sama minuman dingin. Tenggorokan sudah kering kerontang bagai gurun Sahara yang sedang tertimpa teriknya matahari," ucap Rafael menirukan gaya tubuh yang hendak mati.
"Lebay lo, kenapa nggak beli sendiri sih? Atau nggak, nyuruh pacar, mantan, atau geng alaymu itu napa? Eh, tapi Mana geng lo yang sok kecakepan itu? Biasanya pada nempel sama lo kayak perangko?" cerocos Nayla.
"Aku malas jika harus meminta pada gadis-gadis yang aneh di luar sana, pasti mereka akan minta balasan dengan jadi pacarku. Aku sedang dalam mode jomblo, dan para gengku sedang pada sibuk dengan pacarnya di kantin. Kalau sama Kusu, kan nggak ada yang marah! Ya kan," ucap Rafael merangkul Bella dan menaik turunkan alisnya.
"Tumben mau jomblo, biasanya hobi banget gonta ganti pacar!" protes Nayla. Bella melepaskan rangkulan Rafael dan melangkah pergi ke luar kelas. Nayla dan Rafael melihat sikap aneh Bella, saling menatap dan menyelidik penuh curiga.
"Kenapa sahabat lo, Nay? Tumben amat diem bae? Lagi dapet?" tanya Rafael.
"Nggak tahu, dia dari tadi pagi begitu. Kayaknya dia marah sama aku, karena aku tinggal masuk saat pesta di malam anniversarymu itu."
"Oh, kalau begitu kamu saja yang belikan!" Rafael memberikan uang limapuluh ribuan pada Nayla.
"Ogah!"
Nayla ikut pergi menyusul Bella yang meninggalkannya tadi bersama Rafael.
***
"Nay!" teriak Radit memanggil Nayla yang tampak buru-buru. Radit menyusul langkah Nayla berjalan mundur di depannya.
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Buru-buru amat?" tanya Radit.
Radit adalah sahabat Nayla dari semenjak SMP. Tapi Bella bukan sahabat dari SMP yang sama. Namun, di awal masuk sekolah menengah atas ini kedekatan mereka terjalin, membuat ketiga sahabat ini kompak dan saling support dalam hal apapun. Radit beda kelas dengan Nayla dan Bella, maka dari itu dia sering ketinggalan info jika sedang mode ngambek seperti ini.
"Aku mau nyusul Bella, dia marah sama aku!" ucap Nayla.
"Marah? Kenapa?"
"Udah jangan banyak tanya, ayo kalau mau ikut!"
Radit dan Nayla mencari Bella ke perpus karena tadi dia bilang akan ke sana.
Namun, setelah dicari ternyata Bella tak ada.
"Kemana tuh, Bella? Tumben di cari susah amat kaya cari jarum di tumpukan jerami!" keluh Radit.
"Mungkin dia benar-benar marah sama aku!" Nayla duduk di pinggiran kelas dengan wajah yang ditekuk membuat Radit iba melihatnya.
"Kita ke kantin aja yuk! Siapa tahu, dia ada di sana. Sekalian kita beli minum, kamu pasti capek habis mondar mandir cariin Bella," ucap Radit.
"Baiklah!"
Nayla dan Radit memesan es teh di kantin dan memutuskan duduk berdua di sana. Banyak anak-anak yang lalu lalang membeli makanan di sini, tapi Bella tak kelihatan. Sehingga membuat Nayla kembali murung.
"Mungkin Bella butuh waktu, kamu sabar aja dulu! Kita bicarakan bersama nanti sepulang sekolah, atau nanti sepulang sekolah kita mampir ke rumahnya!" Saran Radit membuat senyum terbit di wajah Nayla.
"Pinter lo, Dit! Kenapa gue nggak kepikiran? Thanks ya udah mau bantu," ucap Nayla dengan gembira.
Radit menyunggingkan senyum di wajahnya, sebetulnya ia juga sama khawatirnya jika tidak bertemu Bella sehari saja. ia menyusun rencana dengan Nayla sepulang sekolah nanti, untuk membicarakan masalah yang terjadi pada Nayla dan Bella.
Bel sekolah berdering dan semua murid kembali masuk. Nayla melihat Bella yang sudah berada di kelasnya, ia melirik sekilas pada Nayla dan kembali fokus ke bukunya.
Jam sekolah terasa lama bagi Bella, dia merasa hari ini tak bersemangat sekolah. Setelah semua siswa keluar, Nayla menghadang jalan untuk Bella keluar kelas. Radit yang sudah merencanakan bersama Bella, memilih menutup pintu kelas dan menguncinya dari dalam.
"Kalian kenapa? Aku mau pulang!" ucap Bella membuang mukanya. Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan teman-temannya.
"Kamu yang kenapa! Bel, kita ini sahabatan udah lama, bahkan kamu tak pernah sedikitpun marah kayak gini. Kamu marah sama aku kan?" Nayla memegang kedua pundak Bella dan menatapnya dalam.
Bella memejamkan matanya dan menunduk, rasa bersalah pada teman-temannya kian melanda.
"Jawab, Bel! Apa kamu sudah nggak mau temenan sama kita lagi?" Air mata Nayla keluar, Radit yang melihat Nayla dan Bella sama-sama menangis tak tega melihat perselisihan kedua sahabatnya ini.
"Bel, kita ini keluarga. Jika ada suatu hal yang menyakitimu, katakan! Jangan dipendam sendiri. Siapa tahu kami bisa bantu!" ucap Radit mencoba mendinginkan suasana.
"Maafkan aku Nay, Dit! Untuk saat ini aku belum bisa cerita. Dan ini sama sekali nggak ada hubungannya sama kalian berdua, ini masalah privasiku."
"Kamu merahasiakan sesuatu dari kami?" imbuh Nayla.
"Nay!" ucap Radit mencoba membaca situasi.
"Ya sudah! Kami minta maaf jika sudah membuatmu terbebani dengan pertanyaan kami. Apapun masalahmu, semoga kamu bisa menghadapinya. Kami akan selalu ada buat kamu, dan kami siap menunggu kamu mau menceritakan semuanya!" ucap Radit tenang.
Radit memang lelaki yang sangat ramah, sabar dan juga pandai menyelesaikan masalah. Maka dari itu, ia berteman dengan Nayla dan Bella karena dia siswi yang berbeda dari yang lain. Mereka tak suka berhias di sekolah apalagi mengikuti pergaulan bebas seperti teman-teman yang lain.
Bella menatap kedua sahabatnya ini dengan haru, ia memeluk Nayla dan terisak bersama. "Maafin aku ya Nay!"
"Aku juga minta maaf udah ninggalin kamu di party! Tapi aku janji setelah ini, nggak akan pergi ninggalin lagi jika pergi bareng sama kamu," ucap Nayla.
"Sudah pelukannya? Mau sekalian peluk aku nggak nih kalian berdua?" ucap Radit.
"Huh, modus!" teriak Nayla dan Bella bersamaan.
Radit melihat kedua sahabatnya ini bergandengan dengan tersenyum. Mereka semua telah berbaikan, Nayla mengajak Bella untuk pulang bersama dengan mobil yang dipakai Radit.
Dari tiga bersahabat ini, Raditlah yang paling kaya. Orang tua Radit seorang pejabat negara, dan Radit anak tunggal. Hal itu yang menjadikan Radit bebas memakai fasilitas apa saja yang ia inginkan.
Saat hendak memasuki rumah, Bella merasa ada yang aneh di belakangnya. Sepertinya, ada seseorang yang mengikutinya. Ia menengok kebelakang, tapi tak ada siapapun di sana.
"Siapa?" tanya Bella menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi tak ada orang juga. Ia akhirnya memilih masuk ke dalam rumah dengan cepat.
Jam menunjukan pukul tiga siang. Setelah pulang sekolah, ia berniat menghubungi kedua orang tuanya untuk menanyakan kapan mereka akan pulang.
"Assalamualaikum, Bu!"
"Waalaikumsalam, Bell. Kenapa telpon?"
"Ibu sama Bapak jadi pulang hari ini?"
"Kayaknya nggak, Bel. Nenekmu malah di rawat di rumah sakit. Ini Ibu sedang menemaninya, kamu nggak papa kan Ibu tinggal lama?"
"Hm, nggak papa, Bu! Semoga nenek cepat sembuh ya!"
"Aamiin. Kamu jaga diri baik-baik, jangan keluar malam-malam ya! Nggak baik buat masa depanmu!" ucap ibu mewanti-wanti Bella.
"Iya, Bu! Ya sudah, Bella mau istirahat dulu. Wassalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Setelah panggilan terputus, Bella membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.
Saat baru akan terpejam, Bella mendengar suara pintu rumahnya diketuk berulang ulang. Ia yang belum terlalu pulas, memilih melihat siapa tamu yang datang. Disingkapnya gorden di kamarnya, dan mengintip siapa tamu yang ada di luar itu. Bella menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia??
Bab 3. Datang
Antara ingin membuka pintu atau tidak, hati Bella mulai ragu. 'Kenapa pria itu bisa ada di sini? Dan dari mana dia tahu alamat rumahku?' batin Bella.
Keringat dingin mulai ke luar, kini ia begitu takut melihat kedatangan Arki. Pintu terus di ketuk, dan Bella tak berniat membukanya. Di rumah ini dia sendiri, dia takut akan ada hal buruk yang menimpanya lagi.
Sekian lama dibiarkan, suara ketukan sudah tak terdengar. Mungkin mereka lelah dan akhirnya menyerah bertamu ke rumahnya. Bella kembali mengintip dari celah gorden dan melihat Arki yang sudah tak ada di sana.
Lega rasanya, Bella kini kembali membaringkan tubuhnya setelah dibuat tegang oleh kedatangan Arki yang tiba-tiba.
Setelah sholat isya, Bella kembali merebahkan tubuhnya mengambil buku kisi-kisi ujian dan mulai kembali belajar.
Ting!
Pesan masuk dari nomor Radit. Bella menghentikan aktivitas belajarnya dan membuka isi pesan dari sahabatnya ini.
"Lagi apa?" tanya Radit.
"Tiduran, kenapa?"
"Udah nggak sedih?"
"Siapa?"
"Kamu lah, masa saya! Aku udah siap ko dengerin cerita kamu!"
"Oh!"
"Kok oh doang? Gimana?"
"Apanya?"
"Kamunya, gimana? Udah baikan moodnya?"
"Lumayan."
"Jalan yuk!"
"Sama Nayla?"
"Maunya?"
"Saya lagi pengin sendiri!" jawab Bella.
"Nggak takut sendiri terus, nanti di temenin hantu!"
"Ih, Radit! Nggak lucu, aku lagi sendirian ini di rumah. Jahat banget kamu!" balas Bella dengan emoticon menangis.
"Cup cup, mau aku temenin?"
"An*jirr! Udah sono belajar, bentar lagi ujian. Kita harus lulus dengan nilai terbaik!"
"Jangan terlalu dipaksakan kalau sudah lelah, yang ada malah otaknya blank. Ini kamu pasti lagi belajar, kan?"
"Iya, aku takut mengecewakan orang tuaku."
"Cukup jadi anak baik dan menurut, orangtua pasti sudah senang! Yang penting, enjoy dan tak menyiksa diri sendiri. Oh Ya, udah chat sama Nayla?"
"Belum, kenapa emang?"
"Dia sedih gegara kamu cuekin tadi di sekolah, dia baru chat aku minta tanyakan sama kamu. Kamu masih marah nggak? Begitu!"
"Aku nggak marah, santai saja. Justru aku yang harus minta maaf karena membuat kalian khawatir!"
"Oke, no problem! Dah malam, tidur yok!" balas Radit.
"Ngajak aku tidur?"
"Mau? Aku ajakin tidur?"
"Hiz, ya udah. Good night!"
"Night."
Senang rasanya jika sahabat selalu mengkhawatirkan dirinya. Terlebih sikap dan perhatian Radit membuat ia sedikit menaruh perasaan lebih dari sekedar sahabat. Namun, ia tak bisa menyatakan perasaanya karena selama ini Radit nyaman dengan status persahabatan mereka.
Bella juga harus bersiap melupakan kejadian kemarin agar dia bisa semangat menjalani hidupnya ke depan. Bayangan wajah Arki yang selalu mengganggu konsentrasinya, harus ia tepis dan buang jauh-jauh karena mereka tak mungkin akan bertemu lagi.
***
Pagi yang diguyur hujan, tak membuat semangat Bella pergi ke sekolah kendor. Ia mengambil sepatu sekolahnya dan memakai mantel untuk berjalan kaki. Jarak sekolah sebenarnya lumayan jauh, namun demi menghemat ongkos ia putuskan berjalan kaki dengan menggunakan payung dan memakai mantel.
Baru ia sampai di depan gang, sebuah mobil berhenti di depannya. Seorang lelaki yang tampak berumur, keluar dari mobil itu dengan menggunakan payung.
"Pagi, Non. Mari masuk, kita harus ke sekolah pagi ini agar tak terlambat!" ajak Lelaki tadi membukakan pintu dan Bella diam tak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Maaf, Pak! Saya nggak kenal Bapak, kenapa Bapak mau memberikan tumpangan pada saya?" ucap Bella ragu.
"Saya supir pribadi teman Nona yang sengaja disuruh menjemput Nona ke sekolah. Sudah siang, nanti terlambat! Mari saya antar!" Pak supir membukakan pintu kembali dan Bella akhirnya mau masuk ke dalam mobil ini.
Walau dengan banyak tanda tanya di dalam benaknya, tentang siapa teman yang pak Supir maksud. Namun, lancang rasanya jika terlalu banyak bertanya sedangkan sopir tadi nampaknya enggan memberitahu.
Mobil sampai di depan gerbang, karena ia tadi berangkat agak pagi jadi Bella sekarang sampai sekolah di saat belum banyak siswa yang hadir di sekolahnya.
"Terimakasih, Pak! Sampaikan juga terima kasih saya pada teman yang tadi Bapak maksud." Supir menundukan setengah badannya sambil tersenyum ramah dan masuk kembali ke mobil.
Karena waktu masuk kelas masih lama, Bella memilih untuk mengunjungi perpustakaan terlebih dahulu. Ia harus mencari beberapa referensi untuk bahan pelatihan menghadapi ujian nanti.
Saat hendak mengambil buku di rak dua, ternyata tangannya tak sampai. Ia mencoba menjangkahnya dengan berjinjit.
Berusaha menggapainya tapi tak bisa, badannya kurang tinggi untuk bisa meraihnya. Namun, tiba-tiba seseorang di belakangnya membantu mengambilkan buku itu untuknya.
Bella membalikkan tubuhnya dan melihat siapa orangnya dan ternyata Radit yang telah membantunya.
"Nggak sampai lagi tuh badan? Padahal ini nggak terlalu tinggi loh?" ejeknya dengan tersenyum ramah.
"Udah tahu, pake acara bully aku lagi! Terima kasih, udah bantuin cewe kerdil yang sialnya tak bisa menjangkau sesuatu yang lebih tinggi," keluhnya sebal.
"Ya ampun, pake acara ngambek segala. Nih, bukunya!" Bella menerima buku itu dengan kasar dan mengambil tempat duduk yang nyaman untuknya membaca.
"Tumben kamu berangkat pagi amat, Bel?"
"Nggak usah sok polos, lo kan yang menyuruh supir buat jemput gue di rumah?" tanya Bella datar.
"Aku? Jemput lo? Kurang kerjaan banget, mungkin pacar lo kali! Eh, tapi gue lupa dink. Kamu kan nggak punya pacar, hahaha," tawa Radit.
Pluk!
Bella memukul kepala Radit dengan buku yang dipegangnya.
"Sakit tau!" protes Radit sambil mengelus kepalanya yang sengaja Bella pukul.
"Makannya jadi orang jangan suka usil. Jadi kalau bukan kamu, siapa dong? Nayla nggak mungkin, secara dia aja naik ojek online." Bella tampak berpikir keras, ia yang tadinya hendak membaca buku berubah menjadi membaca pikiran dirinya sendiri.
"Ya udah si, nggak usah mikir. Siapapun orang yang udah anter lo ke sekolah, pasti itu orang baik. Secara, lo kan bukan perempuan famous macam artis. Ya nggak?" ucap Radit.
Bella mengangkat kedua bahunya dan kembali membuka buku yang ia ambil tadi.
Tak terasa hari berganti hari. Dua bulan lamanya pasca kejadian buruk itu, Bella sudah mulai melupakannya.
Walau banyak keanehan yang terjadi di dalam keluarganya, tapi Bella bersyukur kini ayahnya sudah tak begitu berat menanggung biaya sekolahnya seorang diri karena Ibu Nita sudah diterima kerja di salah satu rumah di kawasan elit di pusat kota. Setiap hari ibunya dijemput untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan akan pulang di saat semua pekerjaan rumah selesai. Yang anehnya, rumah yang ia gunakan untuk mencari uang itu tak ada penghuninya alias kosong.
Hanya ada beberapa petugas keamanan dan juga juru kebun yang bertugas menjaga rumah itu. Saat ditanya, pasti mereka hanya bilang yang punya adalah pemilik perusahaan otomotif ternama. Gaji yang di atas rata-rata, membuat Bu Nita merasa bersyukur memiliki pekerjaan di tempat ini. Pekerjaan yang ringan dan juga waktu yang kapan saja ia bisa atur, membuat Bu Nita merasa betah kerja di sana.
Bella merasa kepalanya pagi ini begitu pusing. Ia mencoba turun dari ranjang namun ia merasa tak kuat.
"Bel, bangun sudah siang. Ibu mau berangkat kerja ini!" ucap Bu Nita di luar kamar.
"Iya, Bu!" sahut Bella dari dalam.
Bella mencoba duduk, tapi ia merasa perutnya sekarang seperti diaduk-aduk. Ia merasa mual, ia lari keluar kamar memasuki wc dengan cepat.
Wuek! Wuek!
Bella terus mengeluarkan isi perutnya yang masih kosong. Hanya cairan yang terasa pahit di lidah bella yang berhasil ia keluarkan. Bu Nita yang hendak pergi bekerja mengurungkan niatnya saat melihat Bella muntah-muntah di pagi hari.
"Ya Allah, kenapa Bell? Kamu habis makan apa tadi malam? Sampai mual begini pagi-pagi," ucap Bu Nita panik.
"Nggak tahu, Bu! Kepala Bella pusing, perut Bella sakit." Bu Nita mengecek kening Bella dengan tangannya.
"Kita ke dokter ya! Ibu nggak mau kamu sakit," ajak Bu Nita.
"Nggak usah, Bu! Lagian, Ibu mau kerja. Dan Bella harus berangkat sekolah, hari ini ada try out."
"Kalau kamu sakit begini bagaimana bisa fokus belajar? Kita ke dokter dulu ya!"
"Nanti Bella kesiangan, Bu! Bella nggak papa, ini paling hanya masuk angin karena tadi malam Bella begadang belajar!"
"Oh ya sudah, yakin nggak apa Ibu tinggal?"
"Nggak, Bu!"
"Ya sudah, Ibu berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dengan langkah berat, Bella mengambil handuk untuknya mandi. Walau dia merasa tak enak badan, ia memaksakan diri buat berangkat sekolah karena ujian sekolah tinggal beberapa hari lagi.
Di Sekolah, ia mulai mengerjakan soal-soal tryout dengan jeli. Namun beberapa kali pandangannya mulai kabur, hingga saat ulangan selesai kepalanya kembali pusing.
"Bel, ke kantin yuk!" ajak Nayla.
"Nggak, Nay! Kepalaku pusing banget!" tolak Bella sambil memijat kepalanya.
"Lo sakit?" ucap Nayla menatap Bella dengan cemas. Ia memeriksa kening sahabatnya itu.
"Ke UKS aja yuk! Kamu sakit ini," ucap Nayla.
"Aku cuma pusing, bukan demam."
"Tapi muka lo pucet banget."
"Ya, soalnya dari pagi tadi aku nggak makan, liat nasi nggak enak banget. Saat di isi, keluar semua. Jadi gue belum sarapan sampai sekarang," papar Bella.
"What? Aneh amat nggak doyan nasi, kaya orang ngidam aja lo. Kalau begitu, aku belikan roti ya di kantin." Bella mengangguk dan Nayla pergi ke kantin untuk membelikannya roti.
Bella teringat kata-kata Nayla barusan, mungkinkah ia hamil? Namun, ia baru melakukannya satu kali. Apa mungkin bisa hamil? Banyak kata mungkinkah yang berputar di otak Bella, ia takut hal ini benar akan terjadi padanya. Bella akan mampir apotik nanti untuk membeli alat tes kehamilan.
Setelah jadwal ulangan hari ini berakhir, Bella ingin bergegas pulang. Ia ingin segera ke apotek untuk membeli tespek, rasa penasaran akan kesehatannya kian membesar. "Bel, belajar bareng di rumah gue ya!" ajak Nayla.
"Maaf nggak bisa, hari ini aku nggak enak badan. Kamu mau pulang bareng Radit lagi kan?"
"Iya, dia baru nyatain cinta sama aku," ucapannya senang.
"Kok nggak cerita? Kapan?"
"Kemarin waktu di kantin. Gila! Gue seneng banget," ucap Nayla dengan mata berbinar-binar.
Bella menyunggingkan senyumnya, tadinya ia mengira jika Radit perhatian selama ini padanya karena dia menyukai dirinya. Ternyata itu salah, Radit menyimpan perasaan itu hanya untuk Nayla ternyata.
"Selamat ya! Aku ikut senang! Kalau begitu, aku mau pulang! Selamat berpacaran, awas jangan kelewatan!" cibir Bella sambil beranjak dari tempat duduknya.
Bella berpapasan dengan Radit di pintu kelasnya, ia melirik ke arah Nayla yang sedang bahagia karena Radit menjemputnya di kelas untuk pulang sekolah. Bella tak menyapa Radit membuat ia bingung dengan sikap aneh Bella padanya.
"Kenapa Bella?" tanya Radit saat Bella sudah tak kelihatan dari kelas ini.
"Lagi nggak enak badan dari semalam," jawab Nayla.
"Oh, ya udah. Yuk pulang!" ajak Radit mengulurkan tangannya pada Nayla. Ia tersenyum melihat perlakuan manis pacar barunya ini. Ia tak menyangka Radit akan menyatakan cintanya di detik-detik akhir ia berada di sekolah ini. Saat ditanya kenapa baru sekarang menyatakan cinta, jawabnya sungguh bikin hati meleleh.
"Aku ingin serius, setelah ini aku akan bekerja dan mengumpulkan uang untuk kita menikah!"
Tentu saja Nayla tersentuh, Radit yang pandai dan juga sangat ramah bisa mencintai dirinya yang hanya anak seorang pegawai biasa.
***
Bella berjalan ke apotik tak jauh dari sekolahnya, ia membeli dua tespek sekaligus agar ia lebih yakin dengan hasilnya. Setelah membelinya, ia segera pulang. Ia sudah tak sabar ingin melihat, apa ia hamil atau tidak.
Bella meletakkan tasnya di dalam kamar mandi dan mengeluarkan alat tes kehamilan ini. Walau ia belum pernah menggunakannya, tapi ia pernah membaca artikel bagaimana cara menggunakan barang ini.
Alat dimasukkan ke dalam urinnya, dengan jantung yang berdetak tak karuan ia mencoba menenangkannya.
Dua garis merah tampak dengan jelas di sana. Bella mengingat-ingat kapan terakhir ia datang bulan, dan akhirnya benda ini menjawab semua pertanyaan yang berputar tadi pagi.
Bella syok melihatnya 'Ini pasti salah' gumam Bella. Ia akan kembali mengeceknya besok pagi agar lebih akurat. Lalu ia memasukan kembali tespek yang telah ia pakai itu ke dalam tasnya dan keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai.
'Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa hamil sebelum menikah? Dan aku, tidak tahu siapa ayah dari anakku. Bagaimana kalau ayah dan Ibu tahu aku hamil, pasti mereka sangat kecewa'
Banyak hal yang dikhawatirkan Bella hingga ia tak bisa lagi menahan air matanya, ia terpukul. Ia sungguh tak berdaya, bahkan lelaki yang menghamilinya sama sekali ia tidak mengenalnya. Ujian hanya tinggal menunggu satu minggu, tapi kini ia tengah berbadan dua. Hancur sudah harapan dan cita-cita Bella untuk menjadi desainer. 'Ayah, Ibu, maafkan Bella'
Bella terus menangisi kemalangan yang menimpanya. Bagaimana ia akan mengatakan pada Ayah Ibunya nanti, bagaimana reaksi mereka setelah ini.
Ketakutan demi ketakutan menghantui perasaannya, hingga ia terlelap tidur di atas kasurnya dengan menangisi berbagai kemungkinan yang akan terjadi besok.