Bab 2

Beruntung anak buah Max cepat melihat aksi nekat Hera atau keadaannya akan jauh lebih buruk dari saat ini. Hera menyanyat pergelangan tangannya, lalu dia dilarikan ke rumah sakit dan keadaannya saat ini telah jauh membaik. Hera pikir dirinya akan mati kali ini, tapi ternyata tidak juga.

Max yang baru saja tiba di rumah sakit terlihat menunjukkam tatapan tajamnya pada Hera yang saat ini duduk bersandar di ranjangnya. Max benar-benar membenci tipe wanita seperti ini, tapi sayangnya Hera adalah harta karunnya, jadi ia harus tetap menjaganya bahkan jika dia membuat masalah seperti ini.

"Tagihan rumah sakitmu akan masuk ke dalam utang ibumu. Kau tahu itu, kan?" ucap Max.

"Memangnya aku meminta untuk dibawa ke rumah sakit? Tidak!" Hera menekankan kalimatnya.

Max mendekat, lalu mencengkeram dagu Hera dengan keras. Max tahu kalau Hera kesakitan, tapi ia tidak peduli dengan hal itu, malah bagus jika dia kesakitan. "Kau hanya akan mati jika aku menginginkannya. Hidupmu ada di tanganku sekarang dan akan lebih mudah jika kau menjadi gadis penurut. Apa kau mengerti?" ucap Max.

Hera mencoba melepaskan cengkeraman tangan Max, tapi tidak berhasil. Pria itu malah semakin kuat mencengkeramnya dan baru berhenti setelah ponselnya berdering. Hera benar-benar tidak mengerti kenapa ia pantas untuk semua ini?

Max menjauh dari Hera saat menjawab telepon dan ia terkejut lagi, bahkan jauh lebih terkejut dari sebelumnya. Max sempat menoleh pada Hera dan menatapnya selama beberapa saat, lalu pergi dengan langkah terburu-buru.

Max masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi dengan kecepatan tinggi karena ia baru menerima kabar kalau Mina, ibu Hera meninggal karena jatuh dari sebuah atap gedung kosong. Mina dibunuh atau bunuh diri, Max masih belum mengetahuinya. Orang yang terlilit utang begitu besar bisa saja memilih untuk mengakhiri hidupnya, tapi bagaimana mungkin Mina melakukan itu saat Hera ada bersamanya? Mina memang bukanlah ibu yang sempurna, tapi Max cukup yakin kalau dia menyanyangi Hera. Bagaimana Mina bisa meninggalkan Hera begitu saja?

Saat tiba di lokasi tempat Mina meninggal, Max sudah melihat kalau polisi sudah ada di sana juga ada salah satu anak buahnya yang kini mendekat padanya. Mina memang diawasi agar tidak melarikan diri, tapi pengawasan itu tidak berlaku selama 24 jam karena anak buahnya juga harus pergi mengawasi orang yang masih berutang padanya, jadi anak buah Max tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Mina.

"Saya mulai merasa ada yang tidak beres saat menyadari kalau sinyal ponsel Mina ada di sekitar lokasi ini, jadi saya datang dan sudah ada banyak orang di sekitar ini, lalu saya melihat mayat Mina. Mina pasti bunuh diri untuk menghindari utangnya," ucap pria yang berdiri di sebelah Max.

"Bunuh diri?" gumam Max yang pandangannya fokus pada mayat Mina.

Max kini mendekati kepala kepolisian yang bertugas malam ini.

Max mengenal banyak orang-orang penting dalam kepolisian demi kelancaran bisnisnya, termasuk yang bertugas malam ini. "Apa yang terjadi padanya? Apa dia sungguh bunuh diri?" tanya Max.

"Aku sedang menyelidikinya, tapi kemungkinan besar memang bunuh diri. Apa dia salah satu orangmu?" tanya polisi bernama Dion itu.

"Lebih tepatnya orang yang berutang padaku. Dia bahkan belum membayar utang, tapi malah sudah mati seperti ini."

"Bukankah ada sistem jaminan?"

Max menoleh pada Dion dan menarik salah satu sudut bibirnya. "Kau sepertinya tahu banyak sekarang. Hati-hati dengan semua itu, jangan sampai kita bertemu dalam kondisi yang buruk." Max memberikan ancaman dengan nada yang halus, lalu pergi dari tempat itu.

Dion hanya tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, ada seseorang yang memakai hoodie berwarna merah sedang memandangi mayat Mina dari jarak yang cukup jauh, lalu setelahnya pergi dengan langkah yang tenang sembari memasang gelang titanium hitam miliknya yang tadi sempat terlepas.

***

"Ibumu baru saja meninggal dan kemungkinan besar karena bunuh diri." Max menyampaikan kabar itu pada Hera dengan santai sembari menunjukkan foto terakhir Mina yang dikirim oleh anak buahnya.

Hera terdiam dan memandangi foto itu. Air mata seketika jatuh di pipi Hera, sedangkan Max hanya memandangi Hera yang terlihat mematung setelah diberikan kabar kematian ibunya. Melihat reaksi Hera membuat Max kembali mengingat dirinya di masa lalu saat memerima kabar kematian ibunya, bedanya adalah ia tidak merasakan sedih saat itu karena telah lama berpisah dari ibunya dan ditambah sikap kasar ibunya, membuat Max tidak merasakan kesedihan itu. Mengherankan bagi Max, kenapa Hera harus menangisi ibu yang telah membuatnya menjadi seorang jaminan?

"Ibuku tidak mungkin bunuh diri. Bagaimana mungkin Ibuku meninggalkanku?" Hera akhirnya bicara, lalu ia menoleh pada Max.

"Pasti kau yang membunuh Ibuku agar kau bisa mendapatkan uang lebih banyak. Pasti kau yang melakukannya!" bentak Hera yang membuat Max tertawa mendengarnya.

Max kembali mencengkeram dagu Hera dan membuat Hera hanya menatap ke arahnya. "Kau perlu tahu kalau aku bisa melakukan apapun padamu bahkan jika ibumu masih hidup. Aku tidak perlu membunuhnya dan menambah pekerjaanku untuk mengurus mayatnya. Apa kau pikir, membunuh, lalu mengurus mayat manusia tidak perlu uang? Jasa pembunuh bayaran tidak semurah yang kau pikirkan," ucap Max dengan penuh penekanan.

Hera yang menangis, kini menepis tangan Max, lalu turun dari ranjang dan berlari keluar sembari memanggil nama ibunya. "Gadis itu benar-benar bodoh. Dia bahkan tidak tahu ada di mana mayat ibunya," gumam Max, kemudian pergi mengikuti Hera.

***

Karena Hera adalah jaminan yang bisa berubah menjadi harta karunnya, maka Max harus mengawasi Hera selama proses pemakaman Mina. Tidak selalu Max yang mengawasi karena ia memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jadi ia memberikan perintah pada anak buahnya untuk memgawasi Hera dan ia akan kembali sesekali.

Di rumah duka, Hera tampak terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk. Wajah Hera terlihat pucat, tapi air mata telah berhenti mengalir dari mata indahnya. Walau ibunya telah melakukan banyak kesalahan, tapi Hera masih ingin ibunya tetap ada di sini karena hanya ibunya adalah satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Kini, ia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.

Di sisi lain, seorang pria masuk ke dalam rumah duka dan tampak melirik beberapa pria berbadan kekar yang ada di tempat ini dan wajah mereka terlihat asing. Pria ini bertubuh tinggi dengan rambut cokelat kehitaman, serta memakai gelang titanium hitam yang seolah melengkapi penampilannya. Pria ini datang dengan pakaian serba hitam dan terlihat memang datang untuk melayat, tapi bukan itu tujuan utamanya. Ia datang karena ingin melihat Hera yang sudah tidak terlihat sejak beberapa hari terakhir.

Pria ini tersenyum karena akhirnya bisa melihat wajah Hera lagi, karena hidupnya terasa begitu tersiksa jika tidak melihat Hera. Ia ingin menyapa Hera, tapi seorang pria dengan setelan jas rapi sudah lebih dulu mendatangi Hera, lalu menariknya dengan paksa agar ikut bersama dengannya.

Max membawa Hera ke sebuah ruangan dimana ada banyak makanan di sana, lalu memaksanya untuk duduk. Max telah menerima kabar kalau Hera tidak mau makan atau minum apapun sejak semalam, sedangkan sekarang sudah hampir malam. Wajah dan tubuh Hera adalah aset terbesarnya, jadi mana mungkin Max akan diam saja ketika Hera menyiksa dirinya?

"Cepat makan!" ucap Max.

"Aku tidak akan menerima apapun darimu! Lebih baik aku mati karena kelaparan dan kehausan dari pada harus makan makanan dari lintah darat sepertimu!" Hera begitu tegas dan ingin pergi, tapi Max kembali mendorongnya ada ia duduk di lantai, lalu pria itu berjongkok di sebelahnya.

Max menghela napas untuk mencoba bersabar menghadapi sikap Hera yang selalu menguji kesabarannya. "Kau tahu dengan jelas kalau kau tidak akan bisa melakukannya. Selain itu, aku baru mendengar kalau ibumu mungkin dibunuh oleh seseorang karena ada pentunjuk yang mengarah ke sana. Apa kau tidak penasaran siapa yang membunuhnya?" ucap Max yang membuat Hera terkejut mendengarnya.

Bab 3

Sebenarnya, Max tidak menerima kabar apapun tentang kematian Mina dan sebenarnya ia juga tidak peduli dengan hal itu. Mina dibunuh atau bunuh diri, apakah itu penting untuknya? Tentu saja tidak, karena sudah ada Hera di tangannya. Max berbohong karena merasa itu adalah salah satu cara untuk membuat Hera mau makan. Max tidak bisa melihat harta karunnya menjadi rusak di depan matanya. Jika Hera tidak terikat utang ibunya, maka Max tidak akan peduli dia mau mati atau tidak.

"Siapa yang membunuh Ibuku? Tolong katakan padaku." Hera yang dalam keadaan kacau kini tampak memohon pada Max.

Max diam-diam tersenyum karena tidak menduga kalau Hera akan percaya dengan begitu mudahnya. Biar Max tebak, Hera pasti sedang begitu putus asa saat ini dan keinginannya hanya satu, yaitu mengetahui siapa pembunuh ibunya. Max hanya berpikir, kenapa Hera begitu yakin kalau ibunya dibunuh bukannya bunuh diri?

"Kau tahu pasti kalau aku tidak akan memberikan sesuatu tanpa sebuah imbalan, tapi tenang saja karena aku tidak akan meminta uang, kau cukup makan saja. Setelah kau makan, maka kita baru bisa bicara. Apa kau mengerti?" Max menatap Hera, lalu melirik makanan yang ada di atas meja sebagai isyarat agar Hera mau makan.

Hera yang dalam keadaan kalut dan seolah mendapatkan dukungan tentang keyakinan kalau ibunya dibunuh, kini langsung makan karena ingin segera mendengar apa yang Max ketahui tentang kematian ibunya.

"Gadis bodoh!" Max bicara dalam hati, lalu setelahnya keluar dari ruangan itu. Max nyaris menabrak seorang pria saat keluar, yaitu pria yang memakai gelang titanium hitam, tapi ia tidak terlalu mempedulikannya.

Max menyalakan rokok begitu sampai di luar, lalu ponselnya berdering karena telepon dari Dion. Entah untuk apa pria itu meneleponnya, pikir Max. Namun, Max tetap menjawab telepon dari Dion.

"Ada ada?" tanya Max.

"Aku tidak tahu ini penting atau tidak untukmu, tapi ada sesuatu tentang kematian Mina yang perlu aku sampaikan padamu. Beberapa hari terakhir, ada orang yang tertangkap CCTV sering berada di depan sekitar tempat tinggal Mina, wajahnya tidak terlihat karena dia memakai penutup hoodie, tapi aku yakin dia adalah orang yang sama. Saat hari kematian Mina, orang yang memakai hoodie juga terlihat mengikuti Mina setelah dia keluar minimarket. Apakah aku harus mengatakan ini pada anggota keluarganya?" Dion bertanya seolah meminta persetujuan karena Mina berhubungan dengan Max. Ini adalah peraturannya, Dion wajib meminta persetujuan sebelum mempublikasikan apapun yang menyangkut Max.

"Apa artinya itu? Apakah itu berarti Mina tidak bunuh diri, tapi orang itu yang telah membunuhnya?" Max bertanya, lalu kembali menghisap rokoknya.

"Itu bisa saja terjadi, tapi belum ada bukti kuat untuk membuktikan asumsi itu dan identitas orang itu belum diketahui. Kualitas CCTV dikawasan itu tidak begitu bagus, jadi sulit untuk mengenalinya."

Max tidak menduga hal ini, baru saja ia mengatakan pada Hera kalau ada petunjuk bahwa ibunya kemungkinan dibunuh, lalu sekarang datang kabar seperti ini dari Dion. Menarik, pikir Max, ia harus memanfaatkan hal ini.

"Selidiki siapa orang itu dan apa hubungannya dengan Mina, tapi jangan publikasikan hal itu. Kabarkan perkembangannya hanya padaku dan kirimkan rekaman CCTV itu. Apa kau mengerti?"

"Ya, aku mengerti," ucap Dion, lalu pembicaraan itu pun selesai.

Setelah bicara dengan Dion, Max kembali masuk ke dalam ruangan tempat Hera makan tanpa menyadari kalau pria yang memakai gelang titanium itu diam-diam mendengar ucapannya tadi. Saat sampai di ruangan itu, Max melihat Hera yang makan dengan buru-buru sampai membuatnya batuk-batuk.

"Makan dengan perlahan. Aku bisa rugi jika kau mati karena tersedak," ucap Max yang berdiri di sebelah Hera.

Hera mengusap mulutnya, lalu berdiri di depan Max dan berkata, "Aku sudah selesai makan, jadi cepat katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku?"

"Aku dengar, akhir-akhir ini ada orang yang memakai hoodie sering berada di sekitar tempat tinggalmu dan di hari kematian ibumu, seseorang yang serupa mengikutinya." Tidak hanya bicara, tapi Max juga menunjukkan rekaman CCTV yang baru saja dikirimkan oleh Dion. Hanya saja, Max menunjukkan rekaman itu dalam waktu singkat.

"Bukankah orang itu mencurigakan? Bagaimana jika dia ternyata membunuh ibumu?" ucap Max setelahnya.

"Aku bahkan belum melihatnya dengan jelas."

"Aku adalah Max dan Max tidak sebaik itu sampai memberikan sesuatu padamu secara cuma-cuma. Kasus ini ada di tanganku sekarang dan kau bisa mendapatkan informasi terbaru setelah melakukan kewajibanmu sebagai seorang jaminan. Pikirkan 100 juta Won milikku, bukankah kau harus mengembalikannya?"

Hera sadar dirinya telah melakukan kesalahan, yaitu terlalu percaya pada Max. Kewajiban sebagai seorang jaminan, apa artinya itu?

"Tenang saja karena aku tidak akan membunuhmu. Pergunakan tubuhmu, tangkap pria kaya, lalu bawa ke ranjangmu, dan bawakan uang untukku. Bukankah itu mudah? Aku akan membantumu mencari pria berhoodir itu jika kau bisa menghasilkan uang lebih dari utang ibumu. Sebenarnya, itu bukan total keseluruhan utang ibumu karena belum termasuk bunga. Jumlah total beserta bunga dan tagihan rumah sakitmu adalah 140 juta Won (Rp. 1,638 Miliar). Bunganya terus membengkak karena ibumu terus lari saat ditagih dan sekarang dia bahkan pergi ke alam lain."

"Kau benar-benar suka mencekik orang lain dengan bunga yang tinggi," balas Hera.

Max tertawa dan setelahnya berkata, "Aku harus mencekik atau aku yang akan tercekik. Seperti itulah cara manusia bertahan hidup. Kau harus menjadi berkuasa, kejam, dan menakutkan agar bisa mengimbangi dunia yang kejam."

"Aku tidak akan pernah menjadi monster sepertimu dan aku tidak akan melakukan apapun yang kau katakan!"

"Cobalah untuk melakukannya. Kau tidak akan bisa lari jika aku tidak menginginkannya." Max menarik salah satu sudut bibirnya, lalu pergi meninggalkan Hera yang masih terdiam di tempatnya.

Hera menangis, lalu tubuhnya merosot ke lantai. Hera tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Segalanya berubah dalam waktu yang singkat, ia ingin menyerah saja seperti sebelumnya, tapi bagaimana dengan ibunya? Bagaimana jika ibunya sungguh tidak bunuh diri? Siapa yang akan memberikan keadilan untuk ibunya?

***

Setelah pemakaman ibunya selesai, Hera harus kembali ke rumah Max. Tidak ada kesempatan melarikan diri karena anak buah Max yang selalu berada tepat di belakangnya. Hera bahkan tidak tahu seperti apa perkembangan kasus ibunya karena ia seolah telah menjadi tahanan di rumah mewah Max.

Hera kembali terkunci di kamar yang sama, terjebak dalam situasi yang sangat tidak ia inginkan. Lalu, anak buah Max masuk ke kamarnya dan mengatakan kalau Max ingin bicara dengannya di tempat khusus. Hera semakin takut sekarang, tapi tetap tidak ada yang bisa ia lakukan.

Hera dibawa masuk ke sebuah kamar dan di sana sudah ada Max. Pria itu hanya memakai bathrobe berwarna navy, duduk di sofa tunggal sembari merokok dan menikmatk minumannya. Lalu, Hera ditinggalkan di sana hanya bersama Max saja.

"Apa lagi sekarang?" tanya Hera.

"Duduklah dulu," ucap Max dengan santai sembari menunjuk sofa di dekatnya.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Hera tetap bertanya dan tidak melakukan apa yang Max minta.

Max hanya tersenyum tipis, lalu berdiri dan mengambil gelas berisi wine yang ada di atas meja. Minuman itu kini disodorkan tepat di depan wajah Hera.

"Ini wine mahal, jadi cobalah," ucap Max.

"Apa yang sebenarnya ..." kalimat Hera terhenti karena Max yang tiba-tiba mendorongnya hingga terduduk di ranjang, lalu memaksanya meminum wine itu. Max benar-benar memastikan kalau wine itu masuk ke tenggorokan Hera.

"Kau memang suka diberi perlakuan kasar," ujar Max setelah merasa cukup bagi Hera untuk meminum wine itu.

Hera sampai terbatuk-batuk karena perbuatan Max dan masih tidak mengerti kenapa pria itu memaksanya minum. Apakah ada sesuatu dalam minuman itu?

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" bentak Hera yang saat ini sudah kembali berdiri di hadapan Max.

Max meletakan gelas di atas meja, kemudian mengunci pintu dan kuncinya ia masukan ke dalam saku bathrobe yang ia gunakan. Max kini kembali mendekat pada Hera yang terlihat ketakutan. "Aku harus melihat kemampuanmu dulu sebelum kau resmi bekerja di tempatku. Aku mungkin perlu mengajarimu juga agar tidak mengecewakan pelangganku." Dan Max bicara sembari melepas ikatan bathrobe.

"Apa katamu?" Hera bergerak menjauh, tapi Max dengan cepat meraih tangannya dan memaksanya untuk berbaring di ranjang, lalu pria itu naik ke atasnya. Dari bawah sana, Hera bisa melihat area privasi Max yang terlihat mulai menegang. Hera menjadi semakin takut sekarang.

"Lepaskan aku!" bentak Hera sembari mendorong Max agar menjauh darinya. Namun, sialnya, Hera malah semakin berada dalam kondisi yang sulit karena Max membuatnya berada dalam posisi telungkup dengan kedua tangannya ada di atas kepala dan dicengkeram kuat oleh Max.

"Aku mohon, lepaskan aku." Hera memohon, tapi Max seakan telah menjadi tuli.

Max mencium pipi Hera, lalu turun ke lehernya dan memberikan beberapa tanda di sana. Salah satu tangan Max kini bergerak turun untuk meraih ujung dari baju Hera, lalu ia naikkan baju itu dengan paksa hingga memperlihatkan punggung putih Hera. Max memainkan jarinya di sana, lalu melepas pengait pakaian dalam Hera sembari mengecup punggungnya.

Hera berusaha berontak dan menolak sentuhan Max, tapi ia justru merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Hera mulai merasakan panas disekujur tubuhnya dan ia mulai menikmati sentuhan Max bahkan menginginkan lebih dari ini. Hera menggelengkan kepalanya untuk tetap mempertahankan akal sehatnya, tapi sensasi aneh itu semakin terasa.

"Obatnya bereaksi dengan cepat, kan?" Max bicara sembari menjilati daun telinga Hera.

Mendengar kata obat membuat Hera yakin kalau Max pasti telah memasukan sesuatu ke dalam minumannya sampai membuatnya seperti ini. Hera ingin bicara, tapi Max sudah lebih dulu melumat bibirnya setelah mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan pria itu. Hera bahkan merasa dirinya seolah tidak mampu menolak lagi sekarang. Pikirannya kacau dan tubuhnya terus menyambut baik sentuhan Max.

Hera seolah terjebak dalam fantasi indah yang menyesatkannya, sehingga tidak bisa menolak ketika Max melepas seluruh pakaiannya sehingga tidak ada sehelai belang pun yang melekat di tubuhnya. Hera hanya bisa terbaring tidak berdaya dan menerima semua permainan jari Max di area paling sensitifnya. Rasanya sakit, tapi juga nikmat di saat yang bersamaan sampai membuat tubuh Hera bergerak tidak karuan dengan dibarengi oleh desahan yang tidak henti-hentinya keluar dari bibir manisnya.

"Kau bahkan baru merasakan jariku dan kau sudah seberisik ini. Lihatlah betapa basahnya dirimu." Max tersenyum pada Hera sembari terus memainkan jarinya.

Max kini kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Hera dan hasratnya benar-benar memuncak sekarang. Max tidak menduga kalau Hera akan menjadi semenarik dan sepanas ini saat di ranjang. Max menjadi semakin tidak tahan untuk memulai inti permainan.

Max melepaskan bathrobenya dan ia buang asal ke lantai. Max membuka kaki Hera dengan lebar dan dirinya berada di tengah-tengahnya. "Apa kau siap untuk memulai permainan yang sesungguhnya?" Max menatap Hera sembari membelai wajahnya dengan begitu lembut. Sial, Max benci melihat Hera menjadi semakin menarik di matanya.

"Aku mohon, bebaskan aku. Aku sangat tersiksa." Hera yang berada dalam pengaruh obat kini bicara berbanding terbalik dengan dirinya yang sebelumnya.

Max tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hera, kemudian berkata, "Tenanglah, Sayang, Daddy akan membebaskanmu dari semua siksaan ini dengan penuh kenikmatan." Di saat bersamaan, Max mulai menyatukan dirinya dan Hera dengan perlahan.

Hera menancapkan kukunya di punggung Max karena ini adalah hubungan pertama kali untuknya, jadi rasanya cukup sakit, tapi juga nikmat di waktu yang bersamaan. Hera sudah lupa bagaimana caranya menolak, ia hanya bisa menerima dan terus menginginkan lebih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED