Bab 2

Pagi itu, Iris menemani ayahnya ke klinik terdekat. Sambil menunggu proses cuci darah selesai, Iris menghabiskan waktu membaca buku.

Biasanya, proses pengobatan tersebut akan memakan waktu sekitar tiga jam lebih. Iris harus merogoh sakunya untuk cuci darah ayahnya sekitar lima ratus sampai tujuh ratus dolar, dan itu harus dilakukan tiga sampai empat kali seminggu. Kondisi ayahnya sangat buruk sementara mereka tidak memiliki asuransi kesehatan.

Penghasilan Iris semalam digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak murah. Dia bahkan harus membayar sewa apartemen yang sudah menunggak tiga bulan dan selalu ditagih setiap minggu. Pemiliknya sudah mulai mengeluarkan ancaman, Iris pun terpaksa membayar empat bulan sekaligus, total uang yang harus ia keluarkan lebih dari tiga ribu dolar.

Dirinya juga memberikan sejumlah uang sekolah untuk Jan yang jumlahnya tidak sedikit. Dalam sehari, Iris telah menghabiskan tujuh ribu dolar, belum termasuk biaya pengobatan.

Begitulah nasibnya. Tidak peduli berapa banyak uang yang dia hasilkan, ayah dan saudara laki-lakinya selalu membutuhkan uang. Dia tidak bisa berhenti dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur begitu saja. Siapa yang akan menghasilkan uang demikian banyak di antara mereka bertiga?

Meski menyakitkan, Iris mampu bertahan setiap kali melihat ayahnya dan Jan.

Dalam renungan malamnya, Iris terkadang hanya bisa merintih karena beban itu terasa menghimpit. Tanggung jawab yang ia pikul begitu besar.

Wanita itu masih bisa dengan jelas mengingat, hari di mana ia menghabiskan malam pertama dan melepas kesuciannya. Iris tidak punya pilihan lain dan harus menjual keperawanannya demi dua ribu dollar!

Rasa sakit karena dipaksa untuk melayani pria seusia ayahnya, membuat Iris merasa jijik dengan dirinya sendiri saat itu.

Ini bukan hidup yang dia inginkan. Iris yang memiliki suara emas selalu berharap bisa memulai karir di dunia musik dan tidak menjual tubuhnya. Tetapi pada usia lima belas tahun, ayahnya tidak lagi dapat bekerja, dan ibu mereka meninggal.

Mereka perlu makan dan membayar sewa atau menjadi tunawisma akan menjadi akhir dari perjalanan hidup mereka. Tidak ada jalan untuk kembali ke negara mereka di Slowakia, karena tidak ada lagi yang tersisa di tempat itu!

Iris berhenti membaca dan mengambil napas dalam-dalam dengan hati yang berdenyut nyeri. Tujuh tahun menjalani profesi yang membuatnya tersiksa, Iris mulai ingin terlepas dari semua beban tersebut.

Adakah jalan keluar untuknya?

***

"Iris Barcova!" panggil Juarez.

Wanita yang baru saja tiba sore itu langsung datang dan masuk ke kantornya. Direktur utama hotel tempat dia bekerja mengundangnya untuk duduk.

"Ada keluhan dari Marten Hernandez, pelangganmu tadi malam!" ucap Juarez dengan tatapan mata tajam.

Iris tersentak dan firasatnya mulai tidak enak. Namun gadis itu memilih untuk tetap diam, tidak menanggapi apa pun, setidaknya hingga Juarez selesai bicara. Pria yang masih memiliki aksen Meksiko yang kental itu benar-benar terlihat kejam dan licik.

Bekas jerawat di wajahnya membuat Iris terkadang menganggap Juarez sebagai monster.

"Dia mengeluh dan menolak untuk membayar kamar serta biaya pemesananmu. Alasannya, Marten mengatakan sudah membayarmu sepuluh ribu dolar, TUNAI!" Kata-kata terakhir diucapkan dengan keras dan tegas.

"Tapi kata Marten...."

"Tuan Hernandez! Kamu tidak pantas menyebut nama orang dengan cara yang tidak sopan! Ingat siapa dirimu, Iris! Gadis imigran miskin yang mengais uang dari manusia seperti dia!" potong Juarez dengan keras.

Iris menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya dengan menahan kesal.

"Mr. Hernandez menjanjikan saya tips sebesar itu! Belum termasuk biaya pemesanan dan juga pembayaran kamar!" ulang Iris kali ini dengan keras dan sinis.

Plak!

Sebuah tamparan melayang di wajahnya. Iris terdorong ke samping dengan wajah tertegun. Ada sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Dengar, Pelacur Kecil! Kamu pikir dirimu begitu berharga? Jangan terlalu merasa diri sok cantik dan menilai diri terlalu tinggi!" Juarez mendesis mengintimidasi. "Kamu tidak lebih dari seorang gadis imigran yang miskin dan bodoh!"

Iris menegakkan dirinya lagi. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit bergelombang terlihat berantakan.

"Bayar semua tagihan dan aku ingin selesai sekarang juga! Jika kamu tidak menyelesaikannya, aku akan melaporkanmu ke petugas imigrasi!" mengancam Juarez, tidak lagi ditoleransi. "Gadis tanpa status jelas pasti menjadi sasaran empuk para sipir penjara yang haus akan kehangatan!”

Jentikan tangannya mengusir Iris dengan kasar. Tanpa berusaha menghapus darahnya, Iris keluar dengan mata panas. Rasa asin terasa di mulutnya dan dia berlari ke kamar mandi terdekat.

Iris menangis lirih, sementara menahan sedu sedan sekuat yang dia bisa dalam toilet. Betapa hinaan demi hinaan terus menderanya hingga tersudut. Kesialan itu seperti tidak pernah habis. Tidak ada lagi ruang tersisa baginya untuk bernapas lega.

Mengapa hidupnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi lebih baik? Dirinya bahkan kini seperti sedang menuju ke jurang kehancuran!

'Adalah lebih baik mati daripada menjalani hidup seperti saat ini!' pikir Iris dengan batin rapuh.

Setelah membasuh wajahnya dan berkumur, Iris bergegas ke kamar manajer klub, Peter. Langkahnya panjang dan tergesa-gesa. Begitu dipersilahkan masuk, Iris mendorong pintu dengan cepat.

"Iris?!" seru Peter kaget. Ada memar di wajah gadis tersebut.

"Berapa yang harus dibayar Marten?" Iris bertanya dengan suara gemetar. Pria yang baru berusia tiga puluh lima tahun itu menghela napas berat.

"Sudah kubilang berkali-kali! Jangan libatkan dirimu dengan Martin Hernandez! Orang itu licik! Dia dulu selalu mendapatkan gadis gratis yang ingin menjadi aktris baru! Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?!" seru Peter kesal.

Iris menahan air mata yang menutupi retinanya. Tapi begitu dia berkedip, satu per satu butiran bening itu terjatuh.

"Aku terancam ditendang dari apartemen, Peter! Adikku butuh uang kuliah, sedangkan ayahku juga harus cuci darah! Katakan padaku, Peter! Dari mana aku harus mendapatkan uang, kalau bukan dari menjual diriku?! " Iris bertanya, sementara menahan isak tangis.

Peter mengutuk dengan menyesal dan menyerahkan tagihan padanya.

"Aku sudah membayar seribu lima ratus dolar. Hanya itu yang kumiliki, selebihnya kau harus mencari sendiri, Iris.”

Iris meraih dan melihat nominalnya. Matanya melebar dan wajah Iris menjadi pucat.

"Lima ribu dolar?!" Iris menjerit.

"Marten tidak membayar minumannya dan dia menginap dua malam di hotel."

"Tapi kenapa aku harus membayar semua tagihannya? Termasuk malam kedua?"

"Iris, itu kelicikan Marten. Dia akan menyeretmu ke neraka terdalam untuk membalas kekalahannya."

"Tapi aku tidak menyakitinya, Peter! Aku melayani pria menjijikkan itu dan kami setuju dengan harganya!"

"Maaf. Aku tidak bisa membantumu kali ini."

Peter mengangkat tangannya dengan lesu. Iris terduduk lemas. Hanya ada seratus dolar yang tersisa dalam dompetnya. Bagaimana dia mendapatkan sisa dari tagihan itu dalam waktu lima jam?

"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Pete. Dari mana aku dapat uang sebanyak itu?" Iris mengeluh dengan mata nanar.

Suaranya terdengar putus asa dan tak berdaya. Peter mengatupkan kedua tangannya dengan wajah gusar.

"Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi kali ini aku benar-benar tidak punya solusi untuk situasimu, Iris. Kamu tahu seperti apa Juarez." Manajer klub tidak bisa membantunya sama sekali. Juarez telah mengancam Peter untuk tidak ikut campur terlalu jauh atas masalah Iris.

Wanita itu bangkit dan menyeka air matanya sembarangan. Tanpa pamit, dia berjalan melewati Peter dan pergi.

***

Iris memasuki ruang pembayaran hotel dan setelah meminta waktu untuk melunasi, tapi dia harus menelan kekecewaan lagi.

Manajer hotel meminta pembayaran segera dan tidak ada penundaan.

"Beri aku apa pun yang kamu miliki. Sisanya harus sore ini, seperti perintah tuan Juarez!" cetus pria itu dengan suara dingin.

Iris menyerahkan semua uangnya dan dengan langkah goyah, meninggalkan ruangan.

Dengan kepanikan dan kegelisahan yang memenuhi benaknya, Iris duduk di dalam ruang ganti, di mana mereka berpakaian untuk mempersiapkan diri. Kemalangan demi kemalangan terus ia hadapi hari ini.

Bekerja selama bertahun-tahun Iris tidak pernah bisa menabung. Semua dihabiskan untuk merawat ayahnya dan sekolah Jan. Iris tidak tahu lagi apakah dia masih bisa terus bekerja dengan Juarez.

Pria itu seperti rentenir. Memaksa perempuan imigran miskin, seperti dirinya, dengan bayaran yang mencekik. Iris tidak memiliki identitas, kecuali paspor yang telah kadaluarsa. Setelah tiga tahun mereka tiba di negara itu, ayahnya mengalami kecelakaan dan tidak punya uang untuk mengurus apa pun dalam kondisi cacat.

Denda yang harus mereka bayar sangat mahal, belum lagi proses yang berbelit.

"Iris, Juarez memanggilmu!" Lori berseru dengan wajah cemas. Iris, yang baru saja duduk dan belum selesai berdandan, akhirnya mengangguk. Tanpa menanggapi pertanyaan Lori yang bertubi-tubi, Iris berlalu dengan langkah gontai.

Dia tahu Juarez akan mengintimidasinya lagi tentang pembayaran itu. Dia belum bisa melunasi sampai detik ini.

"Masuk!" perintah Juarez yang tampak siap untuk pergi.

Wanita itu masuk dengan wajah menghadap ke bawah, sementara rahangnya terkatup.

"Kamu belum lunasi seperti yang aku pesan! Mana uang yang kau dapatkan semalam?! Sudah kau gunakan untuk bersenang-senang?!" Juarez mencelanya tanpa simpati.

Pria tua itu mendekat padanya. Iris bisa mencium bau rokok yang menyengat dari mulutnya.

"Layani lima tamu malam ini! Asumsikan pelayanan itu untuk membayar hutangmu! Jangan membantah atau lari! Aku akan menuntut dan melaporkanmu pada polisi karena penipuan! Mengerti?!" bentak Juarez dengan wajah licik.

Iris setuju tanpa bisa melawan. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan aliran deras penyesalannya. Puas dengan intimidasi yang ia lakukan, pria itu meninggalkan Iris dengan menenteng tas kerjanya.

Peter yang hadir di ruangan itu hanya menatap Iris dalam diam.

Setelah Juarez pergi, Iris terguncang dan tersedak oleh isak tangis yang tertahan. Dia harus melayani lima tamu, gratis!

Penderitaan ini menenggelamkan jiwa Iris ke dalam lubang yang pekat. Dia tenggelam dalam keserakahan manusia seperti Juarez.

Tubuhnya seperti diselimuti nafsu berdebu menjijikkan, yang tidak bisa dibersihkan dan akan terus melekat. Jika saja ia bisa memilih, mungkin kematian mendadak akan jauh lebih menguntungkan daripada kehidupannya saat ini.

Malam itu, di ranjang yang sama, Iris menangis dalam diam. Para pria bergiliran menikmati tubuhnya. Terkadang dia menggigit bibirnya sekuat yang dia bisa untuk menahan rasa sakit dan kelelahan.

Air matanya terus mengalir sepanjang malam tanpa henti. Kapan semua ini berhenti?

Bab 3

Setelah menghabiskan malam yang melelahkan tanpa mendapatkan uang sepeser pun, Iris pun jatuh sakit.

Peter datang berkunjung dan menyelipkannya uang dua ratus dolar untuknya. Iris terdiam dengan tubuh lelah dan demam. Dalam kamar kecil dan sempit di apartemennya, Iris menarik selimut hingga batas leher. Tubuhnya gemetar, menggigil kedinginan.

Demam itu begitu menyiksa tubuhnya yang mungil. Mustahil bagi Iris untuk tidak jatuh sakit. Wanita tersebut menghabiskan lebih dari empat jam nonstop, melayani para tamu tadi malam.

Terkadang muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya, tetapi ketika erangan ayahnya terdengar dari kamar sebelah, Iris menangis dan keinginan itu pun menghilang.

Apa yang salah dengan hidupnya dan seberapa besar dosa yang ia miliki, sehingga harus menerima cobaan yang begitu berat? Mengapa hidup memperlakukannya begitu kejam dan tidak ada jeda untuknya bernapas lega?

Jan muncul dengan secangkir teh panas di tangan.

"Kamu membutuhkan ini." Jan mengulurkan cangkir padanya. Iris tersenyum tipis dan dengan gemetar mencoba untuk bangun.

Jan tercengang saat tangan Iris tersentuh olehnya.

"Kamu demam, Iris! Sebaiknya kita ke dokter. Aku akan mengantarmu!" cetus Jan cemas.

"Aku sudah minum obat, Jan. Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir," kata Iris, berusaha menghindari permintaan adiknya tersebut.

"Aku tahu risiko pekerjaanmu, Iris. Tolong, temui dokter dan pastikan kamu baik-baik saja," pinta Jan dengan suara gemetar.

Iris tersentak dengan kekhawatiran yang Jan ungkapkan. Dia tahu bahwa beberapa temannya telah meninggal karena tertular HIV. Terkadang Iris takut suatu saat dia akan berada di titik itu, meskipun dia selalu menerapkan seks aman sepanjang waktu. Iris berusaha terlihat tenang dan membelai lengan adiknya sambil tersenyum.

"Oke, aku akan menemui dokter. Tapi aku akan pergi sendiri. Ayah butuh suntikan insulin dalam satu jam, dan aku ingin kamu melakukannya untukku, oke?" kata Iris. Jan tersenyum lega dan mengangguk.

"Sepertinya aku harus mulai bekerja lebih keras. Mungkin putus kuliah dan bekerja penuh waktu di toko itu akan lebih baik untuk situasi kita saat ini.”

"Apa? Tidak, Jan!" kata Iris buru-buru, "Kamu harus tetap kuliah, karena aku tidak punya masa depan lagi!"

Jan membuang muka sementara menahan air mata.

"Aku tidak ingin kamu terjebak dalam profesi itu, Iris. Tidak sanggup melihatmu terjebak dalam kehidupan mengerikan seperti yang sedang kamu jalani.”

Tangan Iris meraih wajah Jan untuk berbalik ke arahnya dengan lembut.

"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Kita harus mewujudkan cita-citamu dan bertahan sedikit lebih lama, agar semua tercapai. Ini akan menjadi akhir yang bahagia untuk kita, Jan. Percaya padaku kali ini, oke?"

Jan baru berusia sembilan belas tahun dan cukup membantu dirinya sendiri. Tapi bukan itu yang diinginkan Iris! Adik laki-lakinya adalah seorang pemuda yang sangat manis dan baik. Iris sangat bangga pada Jan, yang akan menjadi sarjana ekonomi dalam satu tahun ke depan.

Setelah mendapat gelar, Iris berharap Jan mendapatkan pekerjaan yang terhormat dan tidak menjadi pengedar narkoba atau anggota geng seperti anak muda yang ada di lingkungan mereka.

"Sukses selalu disertai dengan rasa sakit. Biarkan itu menjadi bagianku, karena kesuksesanmu adalah yang utama. Demi keluarga kecil ini dan juga untuk masa depan kita bertiga.”

Jan memeluk Iris dengan erat. Kakaknya mengelus punggung kurus pemuda itu. Iris tahu bahwa Jan telah belajar dan bekerja keras selama ini. Terkadang dia melihat adiknya bekerja hingga larut malam. Jan selalu berusaha menyelesaikan tugas kuliahnya tepat waktu, agar bisa lulus secepatnya.

"Bersabarlah, Jan. Semuanya akan berakhir baik, aku janji," bisik Iris.

Jan mengangguk dengan mata merah, menahan haru juga tangis.

**

Setelah berganti pakaian, Iris menuju ke klinik layanan masyarakat gratis terdekat. Antrian sore itu cukup panjang, dan Iris dengan sabar menunggu sementara tubuhnya semakin menggigil.

Duduk di ruang tunggu selama lebih dari dua jam dan sempat jatuh tertidur, Iris akhirnya mendengar namanya dipanggil. Dengan tergagap dia memperbaiki rambutnya dan memasuki ruangan.

Dokter muda itu menatap Iris dengan tercengang, hingga lupa menyapa pasiennya yang baru saja masuk. Pria tampan dengan lesung pipit menawan itu begitu mengagumi perempuan jelita yang hadir di hadapannya.

"Dokter Rene?" Asistennya mengingatkannya untuk fokus.

"Oh ya! Selamat siang, eh, malam. Silakan duduk di sana," jawab dokter itu, tampak jengah karena konsentrasinya teralihkan.

Iris mengangguk dan naik ke tempat tidur kecil tempat pasien biasa berbaring. Dia melirik nama di dada dokter.

Rene Marschall.

Iris menduga, karena logatnya yang cukup kental, dokter itu berasal dari Prancis.

"Apa yang kamu rasakan?" tanya Rene sambil memakai stetoskopnya.

"Demam tinggi dan nyeri di sekujur tubuh, Dok,” jawab Iris pelan.

Rene memeriksa dengan cermat. Setelah selesai, dia meminta Iris untuk mengancingkan kembali blusnya.

Sambil duduk dan menulis catatan di lembar medis, dokter muda itu mengajukan beberapa pertanyaan sesuai standar pemeriksaan biasa.

"Dok, saya adalah ….” Iris menghentikan kalimatnya dengan ragu, " Sa-saya ... saya adalah seorang pelacur." Akhirnya, Iris berhasil melontarkan kalimat itu dengan terbata-bata.

Tangan Rene berhenti menulis. Wajahnya terangkat dan menatap Iris dengan pandangan yang sangat sulit untuk dijelaskan.

"Mungkinkah saya mengidap penyakit dalam atau kelamin?" Iris bertanya sambil menahan air mata. Helaan napas terdengar dari mulut Rene.

"Tidak semudah itu untuk menarik kesimpulan. Seharusnya ada pemeriksaan lebih lanjut di area itu ... kau tahu maksudku, kan?" Rene menjawab. Iris mengangguk gugup.

"Selain itu tes darah juga akan menentukan kelengkapan diagnosa. Kebetulan saya dokter spesialis penyakit dalam. Kalau tidak keberatan, perawat bisa ambil contoh darahmu dulu, barulah nanti saya dan rekan dokter spesialis lainnya akan selidiki dan analisa lebih lanjut. Bagaimana menurutmu?"

"Mungkin tidak hari ini, Dok. Saya tidak punya cukup uang sekarang," balas Iris.

"Saya bisa menempatkanmu dalam program dukungan untuk wanita, Miss Barcova. Selain itu, ini adalah klinik gratis dan Anda tidak perlu membayar apa pun," ucap Rene dengan nada lembut. Iris mengangguk ragu.

"Perawat saya akan menindaklanjuti nanti. Semuanya akan ditangani dengan upaya terbaik kami, kamu jangan khawatir lagi, oke?" lanjut Rene dengan senyum simpatik.

Dengan jantung berdebar, Iris mengiyakan. Hatinya terlalu kalut, dan dia tidak tahu harus berpikir apa.

Setelah mengambil darah dan juga mengisi formulir, Iris pun kembali ke rumah. Perasaannya sedikit lega. Setidaknya dia telah melakukan langkah pertama pada saat ini untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Setelah Iris pergi, Rene melirik dengan rasa ingin tahu pada formulir yang telah diisi wanita itu sebelumnya.

Matanya mengamati dengan cermat semua informasi. Ternyata wanita itu telah bekerja sebagai PSK selama tujuh tahun.

Dia menyesal bahwa wanita muda seperti itu harus menjalani kehidupan yang pahit. Iris Barcova, Rene mengeja nama itu tanpa suara.

Mata dan raut wajah wanita itu begitu terukir di benaknya. Dia menangkap kejujuran yang diucapkan dengan ekspresi putus asa dalam diri Iris.

Pengakuan Iris sangat menyentuhnya. Alih-alih menilai dengan sebelah mata, Rene justru merasakan simpati yang kian mendalam terhadap wanita tersebut.

Terlalu banyak wanita menarik yang hadir dalam hidupnya. Namun mata bening dengan bulu mata lentik tanpa maskara, dan wajah polos tanpa riasan justru menjadi kesederhanaan yang membuatnya terpikat.

Rene selalu mengagumi sosok wanita dengan garis wajah klasik Eropa.

"Dok, pasien berikutnya?" tanya asisten Rene untuk ketiga kalinya.

"Ah, oke! Maaf," Rene tergagap. "Silahkan panggil pasien berikutnya." Lamunannya tentang Iris mengalihkan perhatiannya pada saat ini.

"Masih memikirkan wanita itu tadi? Ratusan wanita cantik masih banyak berkeliaran, Dok!" cela asistennya dengan ekspresi mencemooh. Nada suaranya sangat merendahkan.

"Apa yang membuat wanita itu tidak pantas mendapatkan perhatianku?" tanya Rene sambil menuliskan catatan di jurnalnya. Asisten Rene gugup dan menyadari bahwa dia telah membuat kalimat yang salah.

"Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud....”

"Menghinanya, apakah itu maksudmu? Mary, masyarakat di sekitar kita saat ini rata-rata memberikan sudut pandang penuh penghakiman, persis seperti yang baru saja kau lakukan. Semua orang begitu kejam, menuduh tanpa menoleransi penyebabnya!" ucap Rene dengan nada tajam.

"Dia tidak ada bedanya seperti manusia yang lain dan bukan sampah masyarakat. Jika kamu ingin menyebut seseorang sampah, koruptor, penyebar kebencian dan teroris, itu jauh lebih pantas daripada gadis tadi." Kata-kata Rene sekarang lebih lembut dari sebelumnya.

Mary menundukkan kepalanya karena malu. Mulutnya terlalu lancang, dan hatinya sudah menjatuhkan prasangka.

"Maaf, Dok. Saya salah,” sesalnya.

Rene menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Asistennya menghindar dengan sikap salah tingkah dan segera memanggil pasien berikut.

***

Iris tidur dengan kepala berat dan dada sesak. Demamnya perlahan naik lagi.

Jan mengintip kakaknya yang sesekali mengigau. Iris tidak membiarkan dirinya mengompres. Dalam batin tertekan oleh pekerjaan dan jadwal kuliah, Jan terpaksa harus pergi sementara Iris masih dalam kondisi sakit.

"Semakin cepat kamu mandiri, semakin baik. Buat kami bangga dan kamu harus menjadi manusia yang memiliki pangkat dan martabat di masyarakat kita!" Itu yang selalu Iris katakan pada Jan.

Dia tidak pernah keberatan melakukan hal terbaik untuk memenuhi harapan dan cita-cita tersebut. Iris adalah segalanya bagi Jan.

Jan berjanji akan lulus dalam setahun dan berharap akan segera mengambil alih beban keluarganya.

Jan ingin Iris bahagia, bahkan mungkin menikah dengan pria dan memiliki keluarga. Meski profesinya kini menjadi aib, jiwa gelap seperti Iris juga butuh cinta yang tulus untuk memberinya kebahagiaan tersebut

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED