Bab 2

Seminggu setelah hubunganku berakhir, aku pun memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur, mulai mencari kesibukan yang mungkin nantinya akan membuat beban pikiranku teralihkan. Semenjak kejadian tempo hari, aku tak pernah lagi mengambil job pemotretan. Aku ingin menenangkan diri, menikmati kesendirian yang mungkin terdengar bodoh. 

Benar kata Mira, seharusnya aku memperlihatkan pada Arka bahwa aku tetap bisa berdiri dengan sehat meski dia tak lagi menjadi kekasihku. Harusnya aku terlihat biasa saja, agar dia merasa bahwa diriku ternyata tak terpuruk setelah ditinggalkan olehnya. Namun, semuanya hanya angan semata, semuanya hanya sekadar kata-kata yang tidak bisa direalisasikan. Semakin aku berusaha melupakan semua kenangan tentang dirinya, semakin sering pula bayangannya muncul di hadapanku. 

Apa yang salah denganku? Mengapa otak dan hatiku menolak untuk melupakannya? Semua usaha yang sudah kulakukan sepertinya hanya sia-sia, membuang barang pemberiannya, menghapus semua foto yang ada di galeri, dan membakar foto cetak yang terpampang di dinding kamar. Hanya satu yang tak kulakukan, memblokir nomornya. Aku masih berharap suatu saat nanti, dia menghubungiku dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan padaku.  Pemutusan secara dadakan ini, jelas membuatku sangat terpuruk. 

Aku sadar, selain orang tuaku yang tidak setuju, Tuhan pun sepertinya demikian. Tuhan mungkin saja tidak ingin melihatku menjalani hubungan yang tidak diridhoi. Pacaran dengan yang seiman saja dilarang, apalagi yang tak sejalur. Aku memaksakan senyuman yang terasa sangat berat. Air mataku lagi-lagi mengalir. 

Tuhan, apakah tak ada jalan untuk bersama dengannya? Apakah kami memang tak ditakdirkan untuk bersama? Jika memang dia bukan takdir dan jodohku, tolong tegarkan hatiku. Tunjukkan jalan, agar aku bisa segera melupakan semua kenangan tentangnya. Walaupun berat, aku akan mencoba semua hal agar hatiku rela melepaskan lelaki yang tiga tahun terakhir ini memberiku kebahagiaan, meski pada akhirnya dia pula menggoreskan luka yang teramat dalam.

Suara ketukan pintu dan bel bergantian mengganggu pendengaranku. Segera kuhapus air mata yang masih membanjiri pipi tirus yang entah sejak kapan tak terurus. Kulangkahkan kaki menuju interkom, melihat siapa orang di luar sana yang berani mengganggu acara menyendiri yang sudah kulakukan seminggu ini.

“Pulang aja, Mir,” usirku di balik interkom.

“Aku nggak bakal pulang sebelum masuk dan melihat kondisimu.”

Aku tertawa. Ralat. Tepatnya memaksakan tawa. “Aku baik-baik saja, tak ada yang salah denganku,” elakku dengan suara yang sengaja kukecilkan. 

“Jangan pura-pura tegar, Na. Kamu bukanlah wonder woman yang bisa menahan semuanya sendiri.”

Lagi-lagi air mataku mengalir, benar kata Mira. Aku sebenarnya butuh sandaran dan teman untuk mengeluarkan semua keluh kesahku saat ini.

***

“Jangan berpikir bahwa kau sendiri, ada aku. Apa kau tak menganggapku sahabat?” Gadis itu memelukku, mengelus pundakku yang masih bergetar akibat tangisan yang semakin histeris. 

“Aku masih sayang sama dia, Mir. Apa salahku sehingga dia dengan mudahnya mengatakan perpisahan? Apa aku tak berharga buatnya? Apa tiga tahun ini tak bernilai di matanya?” Aku memukul pelan pelipisku dengan kedua tangan. “Aku benar-benar bodoh,” lanjutku dengan nada menyesal.

“Kamu nggak bodoh. Dia yang bodoh, sudah nyia-nyiain kamu yang dengan tulus mencintai dan menerima semua kekurangannya.” Mira kembali mengelus punggungku. “Jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Na. Kamu sangat berharga buatku dan jangan beranggapan bahwa tak ada orang yang menyayangimu dengan tulus.”

“Dia capek sama perlakuan orang tuaku, Mir. Aku pun akan melakukan hal yang sama, jika berada di posisinya.” Aku menghela napas frustrasi lalu menunduk. “Sampai sekarang aku masih menyalahkan kedua orang tuaku,” cicitku.

“Jangan salahin mereka. Orang tuamu hanya sebagai jembatan agar hubungan kalian berakhir. Tuhan sudah merencanakan semuanya, Na.”

Lagi-lagi kenyataan itu membuatku tersenyum kecut. Mengapa Tuhan mempertemukan kami jika akhirnya akan seperti ini? Apa semuanya adalah ujian untukku? Akan tetapi, bagaimana aku harus melewati semua ini? 

“Tuhanku atau tuhannya?”

“Ayana, jangan mengada-ngada.”

Suara Mira meninggi, membuatku mematung dan tak berani membantah. Gadis itu mengembuskan napas panjang lalu memasang cengiran.

“Mau jalan nggak, Na,” ajak Mira membuatku mengerutkan alis. 

“Malas banget. Aku benar-benar nggak mood jalan-jalan,” tolakku dengan nada lemah.

“Ish, kalau putus itu jangan dihayati atau dinikmati, yang ada malah makin galau dan nyesek.”

“Iya, iya. Kamu kan, ahli dalam masalah percintaan. Putus sudah biasa, tinggal cari yang lain.”

Mira tertawa mendengar penuturanku. Sahabatku ini memang sangat hobi mengoleksi kekasih. Katanya, sebelum menetapkan hidup pada satu laki-laki, ada baiknya untuk mengenal banyak laki-laki terlebih dahulu. Sahabatku ini tidak mau membuang masa mudanya hanya untuk satu laki-laki saja, dan saat itu aku tahu bahwa ia sedang menyindirku karena aku yang sangat setia pada Arka. 

Jika ditanya apa aku menyesal telah menjalin hubungan yang cukup lama dengan pria itu, jawabanku sudah pasti tidak. Setidaknya aku mendapat sebuah pelajaran dari hubungan kami, bahwa sesuatu yang berbeda memanglah tak baik, apalagi perbedaan kami menyangkut pada keyakinan. Perbedaan sikap, pandangan, atau pun asa mungkin masih bisa ditolerir. Namun, bagaimana dengan keyakinan? Aku tak mungkin menghianati Tuhan dan keluargaku, begitu pula dengan dirinya.

Sejujurnya aku ingin berterima kasih pada Arka, sebab dia telah mengenalkan arti cinta sesungguhnya. Dia telah mengajarkanku pada indahnya perbedaan. Dan dia rela melepasku untuk jalan yang lebih baik. 

“Ayana, cepetan.” Mira menarik tanganku, membuyarkan lamunan yang sejak tadi kugeluti. 

Aku menarik oksigen dan membuang karbon dioksida. Inhale … exhale. Mengikuti kemauannya mungkin akan membuatku sedikit lebih fresh. Daripada terus menerus berbaring dan mengingat kenangan kami yang sepertinya akan membuatku lebih stres lagi. 

“Baiklah, aku ganti baju dulu.”

“Gitu, dong. Sekali-kali keluar. Jangan ngerem mulu.” Cengirannya sukses membuatku memanyunkan bibir.

Bab 3

“Ngapain sih, ke sini?” keluhku.

“Tempat refreshing selain taman bermain tuh, ya, nge-mall, Na. Cuci mata dan pikiran.”

Ya, aku tak pernah menampik bahwa belanja adalah kegiatan yang dulu paling kusukai, tetapi entah mengapa hari ini benar-benar moodku begitu buruk. Biasanya mataku akan melotot saat barang yang telah kuidamkan terpampang dengan tulisan flash sale. Meski diskonnya hanya beberapa persen saja, jiwa dan ragaku sudah melambung saking bahagianya. Namun sekarang, melihat barang dengan potongan harga bombastis pun tak menarik minatku.

Aku menaikkan alis, saat Mira membalikkan badan dan menatapku dengan mata yang memicing. Kemudian ia memegang pundakku dan mengguncangnya. 

“Woi, jangan lemah gitu, kayak orang kelaparan aja.” Ia menepuk-nepuk pundak dan lenganku bergantian. “Hayo, badan ditegakkan.”

“Aku memang laper, Mir,” gumamku. 

Dalam seminggu ini, pola makanku tak teratur. Junk food adalah makanan yang selalu kupesan, itu pun hanya sekali dalam sehari. Aku memiliki sikap buruk saat sedang galau, melimpahkan rasa frustrasi ke makanan tinggi kolesterol dan makanan tak sehat. Padahal, Mbak Laras selalu mewanti-wanti makanan yang masuk ke lambungku, agar bentuk tubuh dan kesehatanku tak terganggu. 

“Mau makan apa?”

“Ayam goreng.”

“Cuss, Ke ep si.”

Mira merangkulku, sekali-kali ia menepuk punggungku sambil mengeluarkan celetukan absurd, tetapi mampu membuatku tertawa. Meski gadis ini memiliki tingkat emosional di luar nalar, aku tetap bertahan. Sebab, hanya dirinyalah yang selalu ada di sampingku dalam keadaan suka maupun duka. Saat orang lain mendekatiku karena berharap sesuatu, Mira justru mendekatiku karena aku terjerat dalam suatu masalah. Oleh karena itulah, sampai sekarang aku selalu menempel padanya.

Langkah Mira terhenti, membuatku ikut mematung dengan wajah kebingungan.

“Ada apa?” tanyaku berbisik.

“Arah jam dua,” katanya lalu melanjutkan langkah yang cukup pelan.

Aku melirik ke arah yang ia maksud. Hatiku mencelos, dan senyuman yang tadinya mengembang seketika pupus. Perasaanku campur aduk, tetapi aku berusaha untuk tidak menghampirinya. Biarkan begini dulu, biarkan aku memperhatikannya dari kejauhan.

“Gila tuh, si Arka. Baru seminggu putus udah gandeng cewek lain.” Aku tahu Mira sedang mengomporiku.

“Jangan main nuduh dulu, Mir. Siapa tahu aja cewek itu sepupunya.” Aku masih berusaha berpikir positif, meski hatiku juga mulai terbakar api cemburu.

“Yaelah, buka mata, Na. Dia gandengan tangan.” Tak berselang lama, Mira kembali memukul tanganku dengan cepat. “Noh, noh. Lihat. Dia main rangkul-rangkulan. Idih sepupu macam apa yang kayak gitu. Sepupu ketemu gede, iya.” Lagi-lagi perkataannya bak bensin yang disiram pada api yang menyala. 

Awalnya aku ingin tetap sabar sambil memperhatikan dari kejauhan, tetapi rasa kesal ini tiba-tiba membuat jantungku memompa dengan cepat. Adrenalinku terpacu dan sepertinya aku akan menyesal jika tidak menghampiri mereka.

“Yana, mau ke mana?” Mira berusaha menarik tanganku, tetapi aku menghempaskannya dengan ganas.

“Gue mau nyapa mereka.”

“Ciah, oke. Labrak sekalian. Aku berharap kabar baik,” bisiknya lalu memilih mundur dan tak mengikutiku. Aku tahu dia tak mau ikut campur.

Dengan langkah yang terkesan cepat, aku memasuki salah satu toko pakaian dengan merek terkenal yang kutahu harga sehelai baju saja sudah sangat fantastis.

“Eh, Arka. Kamu juga di sini rupanya?” sapaku dengan senyuman lima jari yang kupaksa untuk tetap stay memgembang.

Arka menoleh dan tampak terkejut melihatku. Ia segera melepas rangkulannya pada gadis yang berada di sebelahnya.

“Ayana. Kok … ka-kamu di sini?” tanyanya terbata.

Dari raut wajahnya saja sudah bisa kusimpulkan bahwa dia sedang canggung dan kikuk. Ada yang dia sembunyikan dariku. Lebih tiga tahun bersama membuatku tahu arti dari bahasa tubuhnya.

“Mau cari baju juga,” elakku berbohong.

“Tumben kamu cari baju di sini?”

Jelas dia bertanya, sebab aku tak pernah ke tempat seperti ini. Aku tak pernah mau membeli baju dengan harga fantastis yang hanya menjual merek saja. Menurutku ada banyak baju yang lebih murah dengan kualitas yang sama, meski mereknya pasti jauh berbeda. Namun, kita tahu bahwa sebuah brand terbilang mahal, bukan dilihat dari kualitas saja, tetapi seberapa terkenal brand tersebut. 

“Sekali-kali menghambur duit tidak masalah, bukan? pungkasku sambil tertawa canggung. “Ini pacar kamu, ya?” Aku memandang ke arah gadis muda dengan pakaian yang sedikit terbuka. 

“Di-dia ...”

“Saya tunangan Mas Arka. Gita.” Gadis yang bernama Gita memotong kalimat Arka.

Aku membuang pandangan ke sembarang arah, lalu mencari Mira yang ternyata juga memperhatikanku dari kejauhan. 

“Oh, ini calon kamu. Kamu kok, nggak pernah bilang kalo udah tunangan.”

“Mbak ini siapa, ya? Teman kantor Mas Arka atau mantannya?” Gita bertanya ketus.

Pertanyaan itu sontak membuat Arka menarik Gita agar mendekat padanya. 

“Jangan kasar seperti itu. Dia seorang teman,” bisiknya sekali-kali melirikku. “Maaf, Na.”

“Kamu keseringan goda cewek lain kali, jadi dia kayak kesal gitu?” Mira tiba-tiba sudah mendekat. “Oh ya, kenalin kami cuma teman Arka. Jangan kesal gitu, nanti cepat tua.” 

Mira kemudian menarikku, tetapi sebelum kami benar-benar keluar dari toko tersebut, sahabatku tiba-tiba berbalik menatap kedua insan itu.

“Jangan lupa undang kami kalo kalian jadi nikah, ya, Ka. Untuk mbaknya, tunangannya di jaga, takut kecantol sama janda pirang.” 

Kalimat Mira sukses membuatku tertawa tanpa suara. Rasa kecewa yang tadinya kurasakan terkikis oleh candaan sahabatku ini. Mengapa akhir-akhir ini sebutan janda pirang naik daun? Ya, tidak kupungkiri bahwa banyak wanita yang berstatus janda kerap mewarnai rambut mereka. Entah itu adalah pelampiasan kekecewaan atau hanya sekadar gaya-gayaan semata. 

“Tuh cowok brengsek banget. Ternyata dia mutusin kamu bukan karena menyerah dengan hubungan kalian, tetapi karena ada cewek lain. Heran banget sih. Dasar cowok bangsat, cowok laknat, mati aja sono!” Mira ngedumel saat kami sudah meninggalkan kedua insan yang sepertinya tak senang melihat kami.

“Lah, yang harusnya ngomong kayak gitu aku, Mir. Kok kamu yang kayak cacing kepanasan, gitu?”

“Aku mewakilkan, Na.”

Aku tiba-tiba terdiam, tak tahu mau mengatakan apa lagi. Mulutku seketika tak mampu untuk terbuka. Perutku yang tadi berdendang ria, kini tak lagi merasa lapar. Niat awal ingin refreshing, berakhir kembali overthinking. 

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Arka? Mengapa ia memilih gadis lain? Apa ia mencari yang lain karena merasa sia-sia jika bersama denganku? Seharusnya ia mencari gadis lain setelah hubungan kami telah lama berakhir. Bahkan ini baru seminggu dan dia sudah menggandeng serta merangkul orang lain.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED