Bab 2

Satria hanya mendengarkan celotehan adiknya tanpa berniat untuk membalasnya. Paling hanya menanggapinya dengan tertawa atau berdehem saja, dan hal itu membuat Meira kesal.

“Kenapa kamu sudah dua puluh delapan tahun masih seperti anak kecil, Mei?” tegur Satria yang disertai dengan kekehan.

“Kan sama Abang sendiri, kalau di depan teman atau di kantor, aku bisa dewasa, kok,” katanya jumawa.

Satria tertawa lagi.

“Kapan kamu nikah, hm?” tanya Satria.

“Ngapain Abang nanyain kapan aku nikah segala. Seharusnya aku yang tanya, kapan Abang nikah, inget umur Abang itu udah tua!” balas Meira telak.

Satria sedikit meringis mendengar ucapan adiknya yang membahas soal umur.

“Abang laki-laki, Mei. Jadi, gak ada batasan mau nikah kapan juga. Lah, kamu perempuan yang pastinya ada batasan usia sehingga bisa mempengaruhi reproduksi wanita.”

“Sejak kapan Abang jadi teliti begitu? Apa semenjak di sana, Abang suka ikut kelas biologi?” tanya Meira sinis.

Satria kembali tertawa. Bahkan, Ario yang tak sengaja mendengar percakapan antara Satria dan Meira pun ikut tertawa. Bahkan Ario pun mengatakan pada Satria kalau adiknya sering mengajak bertemu kekasihnya di cafe mereka.

“Really?” Satria langsung menoleh ke arah adiknya yang sudah memelototi Ario yang mengadu pada kakaknya.

“Sorry!” Ario pun menutup mulutnya dan menjauh dari kakak adik itu.

“Kamu udah punya pacar, Mei?” tanya Satria.

Meira tidak menjawab.

“Ajak ke sini, biar Abang kenal,” katanya lagi.

“Nanti, pas acara resepsi Bima, Mei akan ajak dia biar bisa kenalan sama Abang dan yang lainnya.”

Satria manggut-manggut saja.

“Oh, iya. Abang di suruh pulang sama Mama. Kasihan mama tuh udah nungguin Abang dari kapan hari.”

Satria kembali tidak menjawab, lebih memilih berdehem menanggapi ucapan adiknya.

Meira lantas memutar tubuhnya menjadi menghadap sang kakak.

“Udah cukup Abang hukum mama seperti itu, Abang gak kasihan sama Mama? Tiap malam Mama curhat terus ke aku, nanyain Abang, aku tuh bingung mau balas apa, karena Abangnya juga begini," cerocos gadis itu panjang lebar.

Satria hanya terdiam. Dia mendengar ucapan Meira, hanya saja hatinya masih belum bisa memaafkan ibunya. Katakanlah dia egois hanya memikirkan dirinya sendiri, butuh sesuatu untuk membuatnya menerima kenyataan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak takdir.

“Entahlah, Mei. Mungkin nanti saat Bima nikah,” katanya tidak yakin.

“Ini sudah lima tahun, Bang. Jahat kalau Abang masih dendam sama mama.”

“Bukankah mama juga masih sakit hati dengan keluarganya setelah empat tahun? Bahkan, Abang bisa menebak sampai saat ini mama masih belum memaafkan keluarganya. Koreksi bila Abang salah.”

Satria yakin kalau Meira tau siapa yang dia maksud.

“Ya, ampun! Itu beda konsepnya, Bang. Mei gak ngerti lagi deh, sama sifat Abang yang kayak gini.”

Keesokan paginya, Satria sudah berada di jalanan protokol menuju ke suatu tempat. Mobilnya baru datang tadi malam setelah selama ini disimpan oleh Bima di rumahnya.

Jalanan pagi ini nampak ramai, Satria menepikan kendaraannya di sebelah taman yang berseberangan dengan bangunan sekolah Paud dan taman kanak-kanak bertaraf internasional. Dia hanya memperhatikan dari dalam mobilnya ketika yang dia tunggu akhirnya muncul.

Sudut bibirnya tertarik ke atas ketika dia melihat seorang bocah laki-laki yang sedang dituntun oleh wanita yang sangat dia kenal. Postur tubuh wanita itu tidak berubah dan malah semakin cantik. Satria malah membangun kembali kenangan mereka.

Sampai akhirnya dia melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat itu. Tidak terlalu sulit mengetahui kehidupan seseorang di zaman sekarang ini. Sudah sejak lama dia memiliki akun khusus yang dia gunakan untuk memantau seseorang di masa lalunya. Rasanya Satria sama sekali tidak ada niatan untuk move on, malah dia sengaja menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kenangan lama.

Satria tiba di rumahnya pagi menjelang siang. Setelah dia memikirkan ucapan Meira kemarin, akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah untuk bertemu ibunya. Ucapan adiknya benar, dia jahat karena telah menghukum ibunya selama ini.

Keadaan rumah terlihat sedikit sibuk hari ini, karena besok adalah hari pernikahan adiknya. Dia tahu kalau acara itu digelar di sebuah hotel berbintang dan sore ini akan digelar acara syukuran di kediaman mereka.

“Satria ... Kau kah itu?”

Satria yang berdiri di tengah ruangan menoleh ke arah datangnya suara itu. Keduanya berjalan bersama saling menghampiri.

“Maaf, Ma,” katanya sembari memeluk ibunya.

Karina memeluk erat tubuh putra sulungnya yang sudah lama dia rindukan. Wanita itu menangis menumpahkan segala emosinya dalam dekapan putranya.

Mereka kembali berbaikan, Karina sangat senang karena Satria mau pulang ke rumahnya setelah sekian lama.

“Senang melihatmu kembali,” ucap Karina sembari menangkup kedua pipi Satria.

Pria itu hanya tersenyum tipis.

“Satria ...”

Ibu dan anak itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Satria lantas menghampiri Adji, ayahnya.

“Selamat datang di rumah,” sambutnya pada putra sulungnya yang baru kembali setelah mengasingkan diri selama lima tahun di negeri orang akibat patah hati. Itu yang sering dia katakan pada istri dan dua anaknya yang lain.

“Bagaimana kabar papa?” tanyanya.

“Tidak ada yang lebih baik dari hari ini.”

Saat ini mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga. Hanya ada Karina, Adji, dan Satria, sedangkan Bima dan Meira sudah berangkat ke kantor.

“Bima masih berangkat ke kantor? Padahal besok dia akan menikah," ucap Satria merasa heran dengan adiknya itu.

“Nanti siang dia akan pulang, Meira juga.” Beritahu Karina.

Satria ber-oh ria.

“Setelah pernikahan Bima, Papa berencana untuk pensiun dini. Papa akan biarkan Bima dan Meira yang mengurus perusahaan," ucap Adji mengungkapkan.

Satria manggut-manggut. Sejak lama dia memang tidak terlalu suka bekerja di balik meja, walaupun ayahnya berharap penuh padanya. Tetap saja Satria lebih suka menjadi pemilik usaha di bidangnya.

“Kapan kamu akan menyusul Bima, Satria?”

Satria meringis mendapat pertanyaan yang menurutnya sangat sensitif itu.

“Entahlah, Pa. Aku masih ingin sendiri,” katanya sembari melirik ke arah sang ibu. Ibunya jelas tahu, dulu dia sangat tak sabaran ingin menikahi Syera. Setelah kejadian itu, dia jadi tidak bersemangat untuk mencari pendamping.

Adji berdecak mendengar ucapan putra sulungnya.

Malamnya usai menggelar acara selamatan di kediamannya, Satria masih bertahan di rumah. Adji menahan Satria untuk tetap di rumah agar besok pagi mereka bisa berangkat bersama untuk mengantar Bima ke rumah mempelai wanita.

Satria sedang menghisap nikotin di balkon seorang diri. Acaranya sudah selesai sekitar satu jam lalu, Bima menghampiri kakaknya.

“Senang akhirnya lo bisa balik ke rumah,” ujar Bima sembari mengembuskan asap nikotin ke udara.

“Demi lo," sahut Satria.

Bima terkekeh. Dia tau kalau kakaknya hanya bercanda dan tidak benar-benar pulang demi dirinya.

“Lo masih stalking dia?” tanya Bima akhirnya.

Satria tidak menjawab.

“_Move on_, Sat.”

Satria hanya bergumam. Dia sudah mencoba melupakan Syera, tetapi dia kesulitan. Wajah gadis itu selalu berputar-putar di kepalanya.

“Gue undang dia. Em, maksud gue lakinya," ucap Bima yang kemudian meralat ucapannya.

“Lo gak takut mama marah?” tanya Satria.

“Gak yakin kalau mereka datang, soalnya waktu mereka nikah gue pun gak datang.”

Satria manggut-manggut.

“Kalau akhirnya mereka datang karena menghargai undangan, bagaimana?”

“Artinya lo beruntung bisa bertemu sama mantan terindah lo lagi!”

“Bangsat!” umpatnya kesal.

Keduanya sama-sama hening, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kemudian Bima mengingat sesuatu, dia memiliki niat untuk mengenalkan kakaknya itu dengan teman calon istrinya.

“Gak perlu, gue masih sanggup nyari cewek dengan muka ganteng gue,” katanya jumawa.

“Sialan!” Kali ini Bima yang mengumpat kesal.

Bab 3

”Al, ini.” Seorang gadis menyerahkan tisu kepada Alia, si mempelai wanita. Saat ini mereka masih berada di kamar hotel menunggu acara akad nikah yang akan dimulai sebentar lagi.

Hari ini adalah akad nikah dan resepsi pernikahan Bima dan Alia yang digelar di sebuah hotel berbintang. Seluruh anggota keluarga dari pihak perempuan sudah berada di hotel sejak kemarin.

“Gimana perut kamu, Al, masih mual?” tanya gadis itu yang mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.

“Sedikit lebih baik, Sab.” Alia mengusap perutnya. Janinnya sudah berusia delapan Minggu dan dia masih merasakan mual parah. Dia berharap satu hari ini baik-baik saja selama acara berlangsung.

Sabrina merendahkan tubuhnya tepat di depan Alia yang sudah berpakaian anggun untuk acara akad.

”Kamu cantik, Al,” pujinya pada temannya itu.

Alia tersenyum malu. “Kamu juga, Sab. Kapan nyusul?”

Keduanya tertawa.

“Aku mesti kuat mental kalau ditanya seperti itu.”

Alia mengusap lengan Sabrina lembut. Dia tahu, kalau tunangan temannya itu belum siap untuk ke jenjang yang lebih serius, karena masih sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Padahal mereka sudah berpacaran selama dua tahun.

“Dia gak bisa dateng dan cuma nitip. Gak apa-apa, kan?” tanya Sabrina.

“Gak apa-apa, yang aku kasihan itu kamu. Punya pacar tapi ke mana-mana selalu sendirian, mending jomblo aja sekalian.”

“Hush!”

Lagi-lagi keduanya tertawa.

Keduanya menoleh ke arah pintu di mana Anna, ibunda Alia baru saja masuk yang di susul oleh adik bungsu Alia.

“Acaranya sudah mau di mulai, hayuk!”

“Bima sama keluarganya sudah datang, Ma?” tanya Alia.

Anna mengangguk.

Sabrina membantu Alia untuk bangkit berdiri. Kemudian mereka pun berjalan saling mengapit di kedua sisi Alia.

Selang satu jam kemudian, Bima dan Alia sudah sah menjadi pasangan suami istri di hadapan para saksi. Satria pun turut hadir diacara akad tersebut dengan mengenakan kemeja berwarna hitam di padukan dengan celana jeans yang berwarna senada.

Sejak awal acara, Meira selalu menempel pada kakak sulungnya itu. Hingga Satria merasa risih sendiri.

“Mana pacar kamu, Mei, katanya mau dikenalin?” tagih Satria ketika ingat kalau adiknya itu akan membawa kekasihnya di acara Bima.

“Nanti pas acara resepsi, Abang jangan ke mana-mana pokoknya!” balas Meira memperingati kakaknya.

Satria tertawa saja mendapat peringatan dari adiknya.

“Sebentar, Abang tunggu di sini ya, aku mau ke sana," kata gadis itu sembari menunjuk ke arah meja tamu lain.

Tanpa menunggu balasan dari Satria, Meira sudah melangkah menjauh dari tempat kakaknya duduk.

Bukannya mengindahkan perkataan adiknya, Satria malah bangkit dari duduknya dan berniat untuk meninggalkan hotel. Dia berencana akan ke cafe, sebentar dan kembali ke hotel saat sore hari nanti. Acara resepsi ini berlangsung hingga pukul delapan malam.

Satria menghampiri Bima yang sedang duduk bersama istrinya.

“Bim, gue ke cafe sebentar ada yang urgent,” katanya berbisik.

“Serius?”

“Beneran, nanti gue balik lagi.”

“Oke kalo begitu.”

Satria pun mengangguk pada Alia, lalu berjalan keluar dari ballroom. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang perempuan, karena banyaknya orang yang berlalu lalang di ruangan yang luas itu.

“Aw!” Gadis itu meringis karena pundaknya bertabrakan.

”Sorry!” katanya sambil lalu tanpa menoleh ke orang yang ditabraknya.

Selang beberapa menit kemudian, Satria sudah berada di cafenya. Suasana di cafe saat ini tidak terlalu ramai dan tidak sepi juga. Suara musik mengalun lembut mengisi ketenangan di dalam ruangan.

“Bukannya adek lo nikah, kok, malah ke sini?” tegur Ario begitu melihat bosnya muncul di depan meja bar.

“Males lah, banyak tamu sesepuh. Nanti malam aja gue balik,” katanya.

”Bilang aja takut ditanya kapan nyusul?” ejek Ario yang disertai cekikikan.

Satria melempar tisu yang sudah diremas-remas ke arah Ario dan tepat mengenai bahunya.

“Lo gak ke sana?” tanya Satria.

“Nanti bareng lo aja.”

Satria mengangkat ibu jarinya ke arah asistennya itu.

***

“Apa maksudnya kamu mengirimkan foto itu?” tanya Sabrina di telepon. Dia baru saja mendapat pesan gambar yang berisi sebuah foto tunangannya bersama perempuan lain.

“Foto yang mana, Sab? Aku tidak merasa mengirimimu foto. Kirim padaku seperti apa fotonya!” titah Rayhan di seberang sana.

Sabrina pun mengirim ulang foto yang dia dapat dari nomor asing ke nomor Rayhan.

“Pantas saja kamu tidak mau pulang karena di sana sedang bermesraan dengan perempuan lain," ucapnya sinis.

“Astaga!”

Napas gadis itu kembang kempis mendengar seruan dari tunangannya.

“Jadi, itu benar?! Kamu jahat, Ray!”

“Sab aku bisa jelaskan! Sab!"

Sabrina mematikan sambungan teleponnya secara sepihak dan tidak mau mendengarkan penjelasan Rayhan yang hanya akan membela diri. Dia memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Dia tak percaya kalau tunangannya bisa berbuat jahat seperti itu padanya. Padahal di sini dia sudah berusaha menjaga hatinya.

Acara resepsi pernikahan sahabatnya masih berlangsung meriah hingga malam, Sabrina pun memutuskan berganti pakaian di kamar hotelnya. Dia berencana untuk pulang saja, karena suasana hatinya yang berubah buruk.

Sehabis mandi, Sabrina membuka travel bag mencoba mengeluarkan dress putih tulang yang sudah dia siapkan dari rumah. Namun, dia tidak menemukannya.

“Ke mana, ya?”

Matanya memindai ke atas ranjang, kalau-kalau saja dia lupa sudah mengeluarkannya atau belum.

Lalu tangannya mengeluarkan segala isi dalam tasnya dan dia tidak menemukan dress yang dia cari. Hingga matanya melirik ke arah lemari dan terkejut begitu melihat sebuah dress berwarna hitam tergantung di sana. Dia tidak tau dress itu milik siapa, karena sejak dia datang ke sini dress itu tidak ada. Akhirnya tanpa berpikir panjang dia mengambil dress itu dan memakainya. Lagi pula hanya itu yang bisa dia pakai sedangkan yang lain hanya pakaian tidur dan sisanya sudah beraroma keringat. Tidak mungkin dia memakainya lagi.

Sabrina selesai mengenakan dress hitam yang tampak mengetat di tubuhnya dan membuatnya sedikit tidak nyaman. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai indah di punggungnya. Setelah itu dia memoles wajahnya dengan make up minimalis yang terlihat sangat santai tetapi terkesan elegan.

“Aku tidak akan lama-lama karena aku akan segera pulang,” katanya pada pantulan dirinya di dalam cermin. ”Lihat pakaianmu! Kau mirip wanita penggoda, Sab!”

Sabrina pun bergegas keluar dari kamar hotelnya, kemudian dia menuju lift untuk turun ke lantai lima di mana acara pernikahan sahabatnya masih berlangsung.

Di dalam lift dia sering kali menarik roknya ke bawah agar tidak terlalu naik dan memamerkan pahanya. Dress-nya benar-benar menyiksanya.

Sabrina tiba di ballroom dan di sana masih banyak tamu yang datang. Sabrina pikir tidak akan ada yang memperhatikan dirinya, sehingga dia nekat saja menemui Alia untuk berpamitan. Namun, di tengah ruangan dia bertemu dengan Indah, ibunda Rayhan, yang datang bersama Reva, kakak Rayhan.

“Sabrina dari tadi mama cariin, dari mana aja?” tanya Indah sembari memegangi tangan Sabrina.

“Saby habis dari kamar, Ma. Mama baru datang? Sudah makan?” tanya Sabrina berbalik.

“Sudah dari tadi, Sab. Kamu sudah makan?” tanya Indah lagi. Wanita itu memang sangat perhatian padanya dan sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

“Sudah, Ma.”

“Ayo, kita ke sana!” ajak Indah ke arah sebuah meja yang berisi tamu undangan. Reva mengekor di belakangnya.

Mereka duduk bersama di sana, sampai akhirnya Indah menghampiri teman-temannya dan meninggalkan Sabrina dengan Reva.

“Kamu mirip wanita PSK saja berpakaian seperti itu, Sab.”

Tepat seperti yang Sabrina duga kalau Reva akan mengatakan hal seperti itu pada dirinya.

”Memalukan! Bagaimana bila Rayhan melihatmu datang ke acara pernikahan sahabatmu dengan pakaian murahan seperti itu. Pasti dia akan murka!” Reva berkata lagi.

Sabrina merasakan gejolak emosi di dadanya yang mulai mendidih. Tapi, dia sadar ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk melawan Reva, wanita yang sejak lama tidak pernah menyukainya.

“Sepertinya ada yang menjebak aku di sini," balas Sabrina masih mencoba bersikap tenang.

Terdengar suara tawa yang keluar dari mulut Reva. Menertawakan dirinya.

“Kamu pikir kamu itu siapa, Sab?! Lagian ada ya, orang yang kurang kerjaan mau ngejebak kamu, heh!” tuding Reva mencemooh.

Sabrina tidak menanggapi hinaan yang terlontar dari bibir Reva. Dia sudah cukup banyak menelan ucapan tajam dari wanita itu mengenai dirinya.

“Mendingan kamu balik ke kamar atau pulang saja, dari pada kamu bikin malu di sini, Sab. Apa kata teman-teman Rayhan kalau mereka lihat kamu kayak cewek bordil begini, yang malu pasti Rayhan!”

Sabrina pun beranjak dari duduknya meninggalkan Reva yang menatapnya tajam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED