Sepasang kaki jejang yang dibalut high heels dengan anggun melangkah menuju salon di mana Fulfi bekerja. Fulfi sudah menatapnya dari jauh sebelum dia turun dari mobil. Wanita beranak satu itu tampak begitu bersemangat untuk membukakan pintu mobil.
"Hai, Karin!" Fulfi langsung menyapa sahabatnya yang sesama model juga.
"Siapa, ya? Oh, manusia udik? Kerja di sini kamu?" tanya Karin dengan nada sombong.
Dahi Fulfi mengernyit, merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Kok, seperti tidak mengenalku? batin wanita itu. Setelah melihat penampilannya sendiri, Fulfi baru tersadar. Inilah penampilan yang paling dibenci oleh model.
“Masa kamu nggak inget sama aku? Aku Fulfi, Karin!" jelas Fulfi, masih sangat heran.
"Sorry, aku nggak selevel dengan wanita rendahan seperti kamu. Kamu hamil di luar nikah, sekarang jadi miskin dan udik seperti ini. Jangan harap kamu sok kenal denganku!" tegas Karin dengan santainya sambil melenggang menuju ke resepsionis.
Kamu sungguh berubah. Kamu seperti bukan sahabatku yang dulu. Fulfi membatin. Lantas, dia mencoba mengabaikan dan kembali menyapu lantai.
"Mbak, aku ingin creambath, ngecat rambut, dan pokoknya rambutku harus ditata dengan rapi dan bagus. Pokoknya penata rambut yang paling recommended siapa di sini? Aku mau dia!" pinta Karin, seperti seorang selebriti yang sudah terkenal seantero negeri.
"Fulfi, kamu tangani mbak Karin, ya," kata resepsionis itu memanggil Fulfi.
"Loh, kok, dia? Bisa apa dia? Masa dia yang paling bagus di sini? Orang udik seperti dia bisa membuatku alergi," komentar Karin yang cukup pedas terlontar dari mulutnya.
Dia benar-benar sudah berbeda, aku bersyukur keluar dari dunia modelling. Aku baru tahu mereka suka merendahkan orang lain. Fulfi terus menggerutu di dalam hatinya.
“Mbak Karin bisa lihat hasil karya Fulfi tertempel di beberapa pigura. Jika aku berikan penata rambut yang lain, apakah Mbak Karin tidak akan kecewa?" tanya resepsionis itu, berusaha meyakinkan.
Bisa-bisanya orang seperti dia menjadi terbaik di salon besar seperti ini. Kenapa dia selalu unggul di segala bidang? Aku semakin geram dengan anak ini, batin Karin sambil melirik Fulfi dan melihat pigura yang tertempel di dinding.
"Jika kamu tidak mau aku yang menangani, aku akan panggil penata rambut yang lain." Fulfi mencoba menjadi orang yang paling sabar.
"Tidak! Tidak! Baiklah, kamu saja yang tangani! Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera ke peragaan busana," sahut Karin yang menghentikan langkah Fulfi.
Dasar, Labil! Fulfi sedikit kesal.
"Silakan duduk, Mbak Karin!" Fulfi mencoba untuk profesional.
Setiap gerakan yang dilakukan Fulfi selalu membuat Karin kesal. Sebab, Fulfi begitu cekatan dan dia selalu mengerjakan sesuatu dengan serius.
"Kok gitu, sih? Aku nggak suka pake rol rambut itu. Ganti!" Karin memerintah dengan meninggikan nadanya. Fulfi hanya terdiam dan selalu menuruti apa pun yang model cantik itu katakan.
“Jangan terlalu lurus, aku suka yang curly!" Karin berkomentar lagi. Setelah Fulfi menuruti kemauanya, lagi-lagi Karin protes.
"Kamu gimana, sih? Kok, kayak gini? Kurang lurus, jangan kayak mi!" omel Karin, sengaja membuat Fulfi geram.
"Mbak Karin, bukankah Anda orang yang sangat sibuk? Apakah jadwal Anda begitu luang sampai bisa mengulur banyak waktu di sini?" Fulfi mencoba menahan emosinya.
Dasar! Semakin berani saja dia!
Fulfi menyisir rambut Karin dengan begitu kasar lantaran sudah telanjur geram. "Aw, sakit! Kamu ini nggak becus kerjanya, ya!" Karin mulai berteriak.
Seisi ruangan itu melihat Karin yang cukup berlebihan memperlihatkan rasa sakitnya.
"Aduh! Maaf, ya, Mbak Karin. Aku nggak sengaja, kok, tadi. Aku perbaiki pelan-pelan, ya?" tawar Fulfi dengan nada bicara yang lembut dan sangat dibuat-buat.
Anak ini benar-benar kurang ajar! Karina mulai menggerutu.
Bak pekerja professional, Fulfi sangat piawai dalam menata rambut. Dia mampu mengubah gaya rambut Karin menjadi begitu anggun.
Sebenarnya, Karin tidak meragukan kemampuan Fulfi. Namun, hal itu hanya tersampaikan dalam hati. Sebab, dia tidak akan pernah sudi mengakui bahwa Fulfi memang hebat. Setelah selesai, wanita itu membayar biaya salon ke kasir dan segera pergi dari tempat itu.
"Fi, kamu kenal Mbak Karin? Sepertinya, aku mendengar kamu kenal dekat dengannya?" tanya Dira, karyawan lain yang bekerja di salon itu.
"Mungkin kamu salah dengar dan sepertinya aku salah orang." Fulfi mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi karena dia malas untuk kembali mengingat masa lalu.
Tiba waktunya Fulfi kembali ke rumah. “Hai, Mbak Galdin! Aku pulang,” sapanya. Wanita itu terlihat begitu lemas saat sampai di rumah.
“Sepertinya, kamu lelah sekali, Fi," ujar Galdin yang sedang menimang Adi.
"Iya, Mbak. Sini, sayangku!" pinta Fulfi sambil mengambil alih anaknya dari Galdin.
"Sayang, pekerjaanmu lancar, ‘kan?" tanya Galdin.
"Iya, Mbak. Hanya ada satu pelanggan yang menyebalkan. Mbak Galdin tahu Karin, ‘kan?" Fulfi bertanya balik setelah menjelaskan sedikit alasannya.
“Iya, aku tahu. Bukannya dia sahabatmu, ya?" Galdin menyiapkan hidangan di meja makan.
"Ah, jangan sebut dia sahabat! Tadi Karin datang menghinaku, bahkan tidak mau mengenalku. Yang paling menyebalkan, dia sempat mengerjaiku. Aku baru tahu sifat yang sebenarnya, setelah aku keluar dari dunia modelling. Sekarang aku jadi bersyukur karena keluar dari dunia modelling. Iya, ‘kan, sayangku?" Fulfi tersenyum kepada anaknya.
"Sudah kuduga, dia hanya baik di depan saja. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang kamu sudah hidup lebih baik. Siapa tahu pekerjaanmu ini bisa jadi batu loncatan untuk kamu kembali sukses," tutur Galdin, setelah selesai menyiapkan piring.
"Iya juga, sih, Mbak. Sekarang aku juga, seperti punya keluarga. Tidak hidup sendiri lagi. Aku juga punya Adi, mungkin Tuhan ingin memberiku teman jadi dia memberikan aku anak ini," ucap Fulfi mensyukuri keadaannya saat ini.
"Aku selalu bangga dengan kamu, Fi. Kamu itu wanita yang kuat. Ya, sudah. Ayo, cepat makan! Keburu dingin," ajak Galdin.
"Iya, Mbak. Aku taruh Adi di boks dulu, ya."
Akhirnya, Fulfi dan Galdin mulai menyantap makanan yang ada di meja sambil bercengkerama. Ada saja hal yang mereka bahas di sela-sela kegiatan makan.
***
Keesokan harinya, Fulfi kembali bekerja di salon. Seperti biasa, dia akan selalu bersemangat demi memenuhi kebutuhan sang anak.
“Fi, nanti jam sepuluh kamu temenin aku, ya, jadi penata rambut peragaan busana di Mal H. Ini event lumayan besar. Kamu bisa menata rambut para model papan atas di sana!" ajak Heny.
"Benarkah, Bu?" Fulfi terlihat sangat bahagia.
Puji Tuhan, aku bisa menambah pengalamanku di sana, gumam Fulfi dalam hati.
"Iya, nanti kamu akan berangkat bareng Janet," ucap Heny.
"Siapa Janet, Bu?" tanya Fulfi penasaran.
Tiba-tiba, datanglah seorang wanita cantik berambut curly. Wanita itu mengenakan gaun selutut lengkap dengan blazer dan high heels yang meninggalkan kesan anggun.
"Hai! Kamu Fulfi, ‘kan? Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Bu Heny. Kenalin, aku Janet.” Sang pemilik nama memperkenalkan diri seraya cipika-cipiki dengan Fulfi.
"Hai, Kak! Aduh, kamu cantik banget, Kak!" Fulfi mencoba akrab wanita yang baru saja datang itu.
"Udah tahu, kan, Janet itu siapa? Kalian nanti akan kerja sama untuk menjadi penata rambut di sana. Net, bantu Fulfi mengganti penampilannya!" suruh Heny.
"Kak, emangnya harus ganti baju?" Fulfi bertanya-tanya. Dia masih sedikit bingung.
“Nggak mungkin kamu pake baju kaya gini ke event besar. Di sana kita menangani model papan atas. Jadi, kamu juga harus dandan profesional. Oh, ya. Kita dapet gaji tiga kali lipat dari biasanya," jelas Janet sambil mendorong pelan tubuh Fulfi ke ruang ganti.
"Serius, Kak?" tanya Fulfi yang masih saja tidak percaya dengan penjelasan Janet.
"Sudah, jangan banyak tanya! Kamu perlu di-make over," imbuh Janet.
Dalam waktu lima belas menit, Fulfi berubah penampilan. Dia sudah memakai riasan di wajahnya. Pun rambutnya sudah di-blow, membuat wanita single itu terlihat lebih cerah. Apalagi ketika dipadukan dengan gaun selutut dan blazer merah. Sungguh, sangat cocok dengan kulit Fulfi yang putih.
Semua karyawan terkagum-kagum melihat penampilan Fulfi saat itu. Ketika dia melihat pantulan dirinya di sebuah cermin, sontak air mata menetes di pipinya.
"Loh, kenapa nangis?" tanya kak Janet.
"Aku mengingat masa laluku yang suram ketika aku berdandan seperti ini," jawab Fulfi sambil mengusap air matanya.
Janet cukup penasaran. Dia pun bertanya, "Kenapa?”
“Aku pernah menjadi model dan aku pernah diperkosa. Setiap aku berdandan seperti ini, aku merasa takut." Fulfi berusaha menahan air matanya yang siap menetes lagi. Wanita itu tak menolak kala Janet mendekapnya erat dan berusaha menenangkan.
"Fi, sorry. Aku nggak tahu kenapa kamu bisa mengalami hal setragis itu, tapi yang perlu kamu tahu … kamu itu cantik, pintar, dan kuat. Apapun yang kamu alami, kamu akan tetap menjadi Fulfi. Kamu harus percaya diri dengan dirimu sendiri. Kamu kembali menjadi cantik bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi kamu menjadi Fulfi yang baru.” Lupakan kejadian masa lalu dan hadapi masa depan! Ada semua temen-temen di sini. Mereka mendukung kamu karena kamu hebat. Senyum, ya, Fi dan jangan nangis lagi!" jelas Janet, mencoba menghibur Fulfi.
"Makasih banyak, ya, Kak. Aku akan mencoba untuk semangat dan lebih kuat lagi!" Fulfi yakin terhadap dirinya.
"Ayo, Girls, kita berangkat! Kalian udah siap, ‘kan?" tanya Heny yang sedang menenteng tas hitamnya.
"Sudah, Bu." Fulfi dan Janet menjawab bersamaan.
Heny, Fulfi, dan Janet berangkat ke tempat event peragaan busana diselenggarakan. Sekarang Fulfi tampak lebih ceria dan percaya diri.
Tiga puluh menit kemudian. Mereka sampai di ruang rias event peragaan busana. Betapa terkejutnya Fulfi ketika yang ditemui adalah model binaan agensinya dahulu. Mereka semua menatap wanita itu dengan raut wajah yang tak bersahabat.
"Oh, kamu wanita murahan itu? Masih berani muncul di sini?" tanya Dita, salah seorang model yang duduk di sebelah pintu ruang rias.
"Emang nggak tahu malu. Udah hamil, nggak ada bapaknya pula. Oh, iya. Bukan nggak ada bapaknya, tapi nggak jelas siapa bapaknya!" ejek Desi, model yang lainnya.
Seisi ruangan itu tertawa mendengar ucapan Desi. Mata Fulfi kian memerah. Dia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Fi, ingat kata-kataku tadi. Kamu masih punya aku dan teman-teman di salon. Kamu cantik, kamu hebat, dan kamu pintar. Kalau kamu pingin hidup baru, jangan hidup dengan masa lalu! Kamu harus bertahan!" Janet berbisik di telinga Fulfi. Sang empu merasakan ada semangat yang datang di dalam dirinya karena mendengar perkataan Janet.
Aku bisa melalui semua ini. Aku harus bisa menghadapinya, batin Fulfi menguatkan.
Heny memperkenalkan Fulfi dan Janet kepada seluruh model di ruangan itu. “Perhatian semuanya, perkenalkan ini Janet dan Fulfi. Mereka akan menjadi penata rambut kalian untuk peragaan busana pada hari ini. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan professional," jelas Heny.
"Dia penata rambut? Nggak salah?" Tanya Sari dengan nada remeh. Dia merupakan salah satu model di sana juga.
"Kalian boleh berkomentar setelah melihat hasilnya. Oke, semuanya mulai rias! Sekitar jam dua belas kalian harus sudah siap!" tambah Heny.
Tiba-tiba kepala agensi mendatangi Fulfi. "Hei, Fi! Loh, kok, kamu ada di sini?" tanyanya terkejut melihat Fulfi menata rambut.
“Dia partnerku, Kak Arif. Dia penata rambut di salon kita. Hasil karyanya bagus-bagus, loh." Janet mencoba menjelaskan sambil menata rambut seorang model.
"Kamu ternyata hebat juga. Nggak cuma sebagai model. Coba aja kamu nggak hamil waktu itu, mungkin kamu sudah jadi Top Model sekarang,” ujar Arif.
"Kak, aku nggak mau melihat ke belakang lagi. Aku lebih bahagia sekarang. Mungkin jadi Top Model bukanlah rezekiku," sahut Fulfi sambil menangani seorang model.
“Loh, kamu sudah lahiran?" tanya Arif melihat perut Fulfi sudah kembali langsing.
“Sudah, Kak," jawab Fulfi singkat.
"Apa kamu mau hari ini memperagakan satu gaun Charles? Kebetulan sekali aku kekurangan satu model," tawar Arif.
Ya, Tuhan. Apa aku masih berani catwalk seperti dulu? batin Fulfi kala kembali mengingat traumanya.
“Fi, kesempatan bagus. Kamu bisa mulai lagi karirmu di dunia modelling. Kamu masih bisa, kok, jadi penata rambut. Gajinya lumayan, kamu bisa dapet tambahan dua juta,” bisik Janet memberikan dukungan pada Fulfi.
"Tapi, Kak …." Fulfi masih ingin menolak.
"Kalau Bu Heny, pasti mendukungmu. Percaya padaku. Pergilah! Ikut kak Arif!" tambah Janet yang tak jemu membujuk Fulfi.
"Baiklah, Kak," jawab Fulfi pasrah.
"Oke, ya? Sip, kalau gitu. Ayo, ikut aku ganti baju! Nanti kamu akan aku gaji sama seperti model yang lain. Karena aku sudah tahu kemampuanmu." Arif mengantar Fulfi pergi ke ruang ganti khusus para model. Semua mata melihat wanita itu.
“Kenapa dia ada di sini?" tanya Dita
"Hei, Dit! Ini aku yang minta! Kita kekurangan model, soalnya si Riska nggak bisa datang," jelas Arif.
"Janganlah, Kak! Masa iya ada model yang punya reputasi buruk. Nanti memalukan agensi kita." Dita masih menatap Fulfi dengan sinis.
"Emang kamu bisa cari pengganti dalam waktu lima belas menit? Kalau bisa, aku beri kamu satu juta sekarang juga!" tantang Arif.
"His, Kak Arif, tuh!" Dita mulai kesal.
Kali ini kamu aku biarkan lolos! Aku tidak akan membiarkan kamu kembali lagi! geram Dita dalam hati.
Tak jarang, kisah kelam masa lalu kembali terlintas di pikiran Fulfi. Hatinya berkata, dia masih sangat trauma karena dunia modelling sungguh mengingatkannya tentang malam itu.
Kuatkan hatiku, Tuhan. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Aku harus memberikan yang terbaik! batin Fulfi yang tak berhenti berdoa.
Setelah Fulfi selesai berganti busana, kini saatnya dia dirias. Janet dan Heny sangat kagum dengan kecantikannya yang begitu alami. Wanita beranak satu itu mengenakan gaun yang sangat cocok dengan bulu-bulu putih yang menghiasi lekuk tubuh rampingnya.
Setelah selesai di-make up, tibalah saatnya untuk menata rambut dan Janet yang menangani.
“Apa kamu tidak sadar, kamu sangat cantik? Aura modelmu masih ada. Kenapa kamu di salon dandan jelek sekali? Mulai besok, dandan seperti ini, ya. Kamu sudah berubah jadi Fulfi yang baru. Jangan berpikir ke belakang lagi!” Lagi-lagi Janet memberi dukungan kepada Fulfi di tengah-tengah menata rambut.
“Yes, sudah siap!" seru Janet setelah menyelesaikan tatanan rambut Fulfi.
"Iya, Kak. Makasih banyak, tapi aku masih takut karena trauma, Kak," ungkap Fulfi sambil menggigit bibir bawahnya.
"Anggap tidak ada penonton dan orang yang melihat hari ini. Tidak usah mendengar siapa pun. Kamu harus hadapi traumamu dengan keberanian. Aku yakin kamu bisa! Oh, ya. Aku dan Ibu akan menontonmu di depan,” tutur Janet. Raut wajah yang ditampilkan tampak begitu senang.
"Kamu memang sangat cantik, Fulfi. Aku mendukungmu!" puji Heny.
"Terima kasih banyak, Kak Janet dan Bu Heny. Aku bahagia bisa mengenal kalian." Fulfi sangat terharu.
"Sudah sana, bersiap!" imbuh Janet lima menit kemudian.
"Inilah karya Charles yang terakhir, Gaun Angsa Putih!” panggil MC dalam acara itu.
Fulfi mulai naik ke panggung. Wanita itu masih takut dengan trauma yang tak berhenti menghantui. Namun, dia tidak pernah habis mengucapkan doa di dalam hati.
Kemudian, Fulfi mulai melangkah perlahan dengan penuh percaya diri serta senyuman tersungging di bibirnya. Dia berjalan beriringan dengan irama musik rancak yang kian membuat suasana riuh dengan tepuk tangan.
“Wow ! Siapa dia?" tanya salah seorang desainer yang duduk di pinggir panggung
Karin yang hadir sebagai penonton di acara itu langsung menjawab pertanyaan orang di sebelahnya. "Dia itu Fulfi, model yang hamil di luar nikah itu." Karin mulai memprovokasi.
Hemm … jangan harap kamu bisa sukses lagi Fulfi! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Karin membatin seraya memandang sang desainer.
"Iyakah? Jujur, aku nggak peduli dengan masa lalunya. Besok aku akan panggil dia menjadi modelku!" Desainer itu pun membalas ucapan Karin.
"Kok gitu, sih? Jangan! Nanti karyamu bisa tercoreng, loh, kalau ada dia." Karin masih berusaha agar desainer itu berubah pikiran.
"Kamu siapanya, sih? Aku nggak butuh komentar kamu!" ketus orang itu.
Apa-apaan,sih, ini? Kok, malah dia dapet job? Ah, kesel! Karin menggerutu kesal dalam hati.
Di atas panggung itu, Fulfi meneteskan air mata. Namun, dia harus profesional dengan tetap mempertahankan senyumanya.
Fulfi, kamu harus kuat, tinggal sedikit lagi! Fulfi mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri.
“Bu, Fulfi memang berbakat jadi model. Dia begitu keren di atas panggung," ujar Janet seraya turut bertepuk tangan.
“Aku sangat salut dengan anak itu. Dia mampu bangkit dari kesulitannya dan semangatnya sangat luar biasa!" timpal Heny.
Fulfi selesai berjalan di catwalk. Lantas, dia melangkah menuju ke belakang panggung. Betapa terkejutnya wanita itu kala melihat suasana panggung yang berubah menjadi sangat horor. Semua mata para model melayangkan tatapan tajam ke arahnya, seakan tidak terima. Saat itu, Heny, Janet, beserta staf rias sedang tidak ada di tempat.
Tiba-tiba, tiga orang dari mereka dengan kasar menarik Fulfi masuk ke ruang ganti. Mereka melucutkan pakaian wanita itu secara paksa dan menghakiminya.
"Jangan harap kamu bisa kembali menjadi model lagi!" Salah seorang dari mereka menjambak rambut Fulfi.
“Aw, sakit! Maafkan aku, aku hanya model pengganti. Tidak mungkin kembali lagi." Fulfi mengerang kesakitan. Suaranya seakan angin lalu bagi mereka. Wanita itu seolah tak berdaya, hinggi kini tubuhnya tak tertutup sehelai kain pun.
"Ini aku beri kamu cenderamata, biar kamu nggak bisa kembali menjadi model lagi!" Dita, sang model itu mengambil penggaris besi, lantas mengempaskannya ke punggung Fulfi dengan sangat tidak manusiawi.
"Aw, sakit! Ampun! Jangan! Tolong! Sangat sakit! Berhenti!" Fulfi kian mengerang. Dia meronta-meronta untuk dilepaskan. Sampai akhirnya, mereka berhenti dan meninggalkan wanita itu sendiri di ruang ganti yang sengaja dikunci.
Fulfi merasakan sakit di punggung lantaran bagian tubuhnya itu tampak terluka cukup parah. Darah segar mengalir dari balik punggungnya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya, hingga tak lama kemudian Fulfi tak sadarkan diri.
***
Janet dan Heny kebingungan karena ruang rias sudah sepi. "Bu, Fulfi ke mana, ya?" tanya Janet.
"Aneh. Dia, kan, tinggal terima gaji. Nggak mungkin dia pulang duluan, ‘kan?" Janet bertanya lagi.
“Iya, ya, Net. Coba kita ke kantor security buat melihat CCTV. Mungkin Pak Security bisa bantu," usul Heny memberikan ide.
"Ya udah, Bu. Coba kita ke sana!”
Janet dan Bu Heny pergi ke kantor security. Mereka mencoba melihat CCTV dan mencari keberadaan Fulfi. Tiba-tiba, security merasa ada hal yang ganjal karena terdapat satu kamera yang tidak muncul di CCTV dan hanya terlihat gelap.
"Bu, saya curiga dengan satu kamera ini. Kok, warnanya hitam? Sepertinya, ada yang sengaja menutupinya. Saya ingat ini kamera di ruang ganti. Coba kita cek ke sana!" ajak pria itu.
Ketiganya bergegas menuju ke ruang ganti. Mereka cukup terkejut melihat Fulfi tergolek lemas tanpa busana dan terluka parah. Benar saja dugaan satpam itu, kamera CCTV sengaja ditutup dengan lakban. Janet pun langsung mencari kain untuk menutupi tubuh wanita itu, lalu memeluknya.
"Fi, bangun! Fi, jangan membuatku takut!" Janet terus memeluk Fulfi yang masih tidak sadarkan diri.
"Pak, tolong! Panggilkan ambulans sekarang juga!" mohon Heny. Dia sangat panik.
Sepuluh menit kemudian, ambulans datang. Petugas medis mengangkat tubuh Fulfi dengan tandu dan mereka semua berangkat ke rumah sakit.
"Fi, siapa orang yang tega melakukan hal ini kepadamu? Tolong, cepatlah sadar!” Janet tak sanggup menahan air mata. Dia menangis di samping Fulfi yang kini berada di dalam ambulans.
“Fi, bertahan, ya, Fi!" Heny memohon.
Heny menelpon keluarga Fulfi melalui ponselnya. Galdin terkejut mendengar hal itu. Mereka sekeluarga segera menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Fulfi segera ditangani oleh dokter di IGD. Lukanya dibersihkan dan dibalut perban. Punggung Fulfi penuh dengan luka memar dan goresan-goresan yang cukup dalam.
Keluarga Fulfi sudah sampai di rumah sakit. Mereka semua ikut menunggu pasien di depan ruang IGD. Setengah jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan IGD.
"Dokter, bagaimana dengan adik saya, Dok?" tanya Galdin. Air mukanya tampak begitu panik.
"Adik Anda baik-baik saja. Sekarang sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat, tapi sampai detik ini adik Anda belum sadar juga. Saya sudah melihat, tidak ada benturan sama sekali di kepalanya. Saya rasa dia hanya syok saja,” jelas sang dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Galdin.
Beberapa menit kemudian, Fulfi dipindahkan ke ruang rawat. Janet, Heny, beserta keluarga Fulfi menunggunya sadar.
Setelah menunggu begitu lama. Dua jam berikutnya, Fulfi mulai mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat sekelilingnya banyak orang yang menunggu. Netranya masih berat untuk dibuka sempurna, bahkan kepala wanita itu masih terasa sangat pusing. Ditambah lagi rasa sakit dan perih di bagian punggungnya.
"Kak, aku di mana?" tanya Fulfi kepada Janet.
"Kamu di rumah sakit, Fi,” Janet menjawab.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Masih sakit, ya? Bilang sama Mbak kalau masih sakit,” pinta Galdin. Dia begitu khawatir dengan keadaan Fulfi.
"Nggak apa-apa, kok, Mbak. Bentar lagi juga Fulfi sembuh,” tutur Fulfi menenangkan semua yang ada di ruangan itu, meskipun dia harus menutupi rasa sakitnya yang kian menyerang.
"Mbak, aku ingin mencium Adi!" Galdin mengabulkan permintaan Fulfi.
"Maaf, ya, Mbak. Punggungku masih sakit, sepertinya aku masih sulit menggendong Adi,” jelas Fulfi kepada Galdin.
"Sudah, jangan berbicara lagi. Istirahatlah! Adi akan selalu aman bersamaku," kata Galdin seraya menimang Adi.
"Apakah dia anakmu, Fi?" tanya Heny.
"Iya, Bu. Dia anakku. Namanya Adi." Fulfi mencoba memperkenalkan anaknya.
“Anakmu lucu sekali." Janet berkomentar.
"Iya, Kak. Makasih,” sahut Fulfi yang masih menahan rasa sakit.
"Sayang, siapa yang tega melakukan semua ini kepadamu?" tanya Galdin sembari membelai rambut Fulfi.
"Salah satu dari ketiga orang itu yang kuingat namanya Dita. Jika aku punya uang, aku ingin sekali menuntut orang-orang itu, Mbak. Aku juga ingin tahu siapa yang menyebabkan aku diperkosa waktu itu. Aku curiga salah satunya dari mereka. Agensi itu sangat mengerikan buatku, Mbak,” jelas Fulfi sambil meneteskan air mata, lalu mengusapnya lagi.
"Maafkan aku, Fi. Maaf. Au yang memaksamu untuk naik ke atas panggung, Fi. Mungkin kalau kamu nggak naik, kejadiannya pasti nggak akan seperti ini. Aku sudah melaporkan hal ini ke polisi. Aku akan bantu menyelidiki siapa saja yang terlibat karena mereka menutup CCTV waktu itu pakai lakban. Jadi, nggak ada barang bukti." Janet sangat merasa bersalah.
Fulfi meraih tangan Janet yang duduk di sampingnya. "Nggak apa-apa, Kak. Ini bukan salahmu, Kak. Aku suka dunia modelling sejak kecil. Aku begini karena dunia itu memiliki persaingan yang sangat ketat. Sekarang yang kupikirkan hanya mencari uang untuk kelanjutan hidupku dan anakku.
Aku sangat berterima kasih karena Kak Janet mau mendukungku. Makasih banyak, Kak atas bantuannya. Ajarkan aku menata rambut yang lebih bagus lagi. Aku nggak akan kembali ke dunia modelling untuk sementara waktu. Lagian aku terluka parah. Aku ingin menjadi penata rambut saja." Fulfi meneteskan air matanya.
“Ya, Tuhan. Fi, aku mau jadi sahabatmu. Aku nggak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku belum sehebat yang kamu pikir untuk menata rambut, tapi kita bisa berusaha bersama." Janet memeluk Fulfi dan mereka hanyut dalam tangis.
Fulfi memperoleh cuti selama satu minggu karena luka goresan yang belum kering. Mantan model itu mencoba melatih tubuhnya untuk berdiri tegap karena luka itu membuatnya kesakitan saat mengangkat bahu dan juga berjalan.
Galdin sedang pulang ke rumah untuk mengambilkan baju ganti milik Fulfi. Kemudian, Janet dan Heny pamit pulang. Kemungkinan, dua hari lagi mereka akan menjenguk Fulfi kembali.
Malam itu, suasana di rumah sakit sangat sepi dan cukup hening. Galdin belum juga kembali ke rumah sakit. Fulfi merasa sangat bosan, lantas wanita itu menyalakan televisi untuk mengobati rasa bosannya.
Selang lima belas menit, terdengar suara langkah kaki menuju kamar Fulfi. Wanita itu merasa sangat senang karena mungkin saja Galdin yang datang. Namun, tidak disangka-sangka. Ternyata yang datang bukanlah Galdin.