"Bund, kirain udah ke sebelah?" ucapnya berjalan mendekat.
"Bund, kamu nangis? Kenapa?" tanyanya dengan raut panik ketika jaraknya tinggal dua langkah lagi denganku yang duduk di tepi kasur.
"Oh, enggk kok Mas, tadi mau ambil baju malah kelilipan." jawabku menahan sesak di dada. Aku gegas berdiri sebelum ia semakin curiga.
"Aku ke samping ya, Mas. Mungkin gak masuk sampe sore soalnya agak sibuk hari ini. Nanti tolong jemput anak-anak pulang sekolah ya, Mas!"
"Bunda bener gak papa?"
"Iya, gak papa!" aku segera berlalu keluar kamar dengan air mata kembali berjatuhan tanpa permisi. Sesak dalam dada kian menjadi kala mendapati perhatiannya tak berkurang sedikitpun padaku.
Aku terus menuju pintu samping yang langsung terhubung dengan kios tempatku menjahit. Belum ada siapapun yang datang karena jam kerja belum di mulai. Segera aku membuka rolling door dan memeriksa apa saja yang harus aku kerjakan hari ini.
Usai menyiapkan segalanya, aku terduduk di depan mesin jahit. Pikiranku kacau, memikirkan nasib rumah tanggaku. Senyum anak-anakku, kehangatan yang telah kami lalui selama 14 tahun. Akankah berakhir begitu saja?
Aku memejamkan mata dan menarik nafas kuat-kuat, menghirup oksigen yang berasa semakin menipis masuk ke dalam paru-paru.
"Astaghfirullah, astaghfirullah!" gumamku menetralkan gejolak dalam dada.
Dering ponsel dalam saku gamisku mengalihkan rasa sakit yang mendera, aku segera merogohnya dan terpampang nama adik iparku, Erna yang menelepon.
"Halo, assalamualaikum, Na!" ucapku setelah menggeser tombol hijau.
"Walaikumsalam, Mbak! Sibuk kah?" tanyanya di seberang sana.
"Enggak, Na, ada apa?"
"Ini, ibu mau bicara Mbak!" tak lama terdengar suara wanita sepuh yang menjadi pengganti ibu kandungku yang telah lama tiada.
"Assalamualaikum, Nduk! Kamu sehat?" tanyanya.
"Walaikumsalam, Buk. Alhamdulillah sehat, Ibuk sehat, kan?"
"Sehat, Nduk. Cucu-cucu sholeh Ibuk sekolah ini?"
"Iya, Buk! Tadi berangkat diantar Ayahnya." kembali hatiku getir mengingat suamiku.
"Oh, Wahyu ingat pulang rupannya!" kelakar Ibu yang terasa aneh di telingaku. Tak biasanya Ibu begini, bercanda tapi terasa garing.
"Nduk, nanti siang Ibu sama Erna mau ke rumah! Kangen sama kamu dan cucu sholeh Ibuk!" ucapnya.
Alahuakbar, pertolongan Allah datang tepat pada waktunya. Di saat rumah tanggaku dalam bahaya rupanya Allah kirimkan malaikat tak bersayap untuk menjaga dan melindungi kami tanpa aku minta.
"Beneran, Buk! Alhamdulillah! Arini senang Ibuk mau datang! Apa perlu kami jemput, Buk!" tanyaku antusias. Binar harapan kembali bersinar untuk masa depan rumah tanggaku.
"Gak usah, nanti diantar calon suami Erna pake mobil!"
"Alhamdulillah kalau gitu, jam berapa Ibu berangkat?"
"Nanti bakda Zuhur saja. Ini Ibuk mau masak makanan kesukaan kalian dulu, petis cumi asin."
"Ya Allah, gak perlu repot-repotlah, Buk! Ibuk datang saja Arini sudah sangat senang!" ucapku sungkan. Ibu memang selalu begitu, setiap kali datang tak pernah dengan tangan kosong.
"Gak repot, Nduk. Yo wes, Ibuk tak siap masak dulu sampai ketemu nanti sore ya, Nduk! Ra usah bilang si Wahyu kalau Ibuk mau datang!" pesannya.
"Loh, kenapa, Buk?" tanyaku heran. Dalam hati aku berkata apakah Ibuk sudah ada firasat dengan kelakuan bejat anaknya?
"Wes, pokoke ra usah bilang, yo!"
"Enggeh, Buk! Arini tunggu di rumah nggeh!"
"Yowes, ki Erna!" suara Ibuk masih terdengar.
"Hallo, Mbak!"
"Ya, Na!"
"Rencananya kita mau nginap seminggu di sana, boleh, kan?"
"Ya, boleh dong! Dengan senang hati, nanti kita bisa jalan-jalan bareng lagi!" sambutku antusias, semakin lama Ibuk dan Erna di sini maka semakin sempit pergerakan dua pezina itu untuk berbuat dosa di rumahku.
"Yowes, aku mau ke pasar dulu, mau beliin oleh-oleh ponakan sholehku! Wes ya, Mbak! Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Aku menarik nafas lega, harapan kembali muncul. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Aku tersenyum membayangkan rencana Salwa gagal total untuk terus menggoda suamiku. Tapi entah bagaimana nanti, aku rasa hal ini tak akan terjadi jika suamiku juga bisa mengendalikan syahwatnya. Apapun itu perselingkuhan tetaplah kesalahan kedua belah pihak. Atau bisa jadi, akupun ikut andil dalam perselingkuhan mereka.
Aku tersenyun miris, sungguh tidak ada yang sempurna dalam rumah tangga. Jika suaminya baik, mertua dan iparnya yang julid. Lah ini, mertua, ipar baik, justru suami yang salah jalan. Semoga suamiku kembali ke jalan yang seharusnya. Amin!
Dengan semangat aku mengerjakan pekerjaan hari ini. Senyum terkembang di bibirku, sungguh pertolongan selalu datang di saat yang tepat. Jika habis Zuhur ibu berangkat, itu artinya sekitar pukul lima sudah sampai di sini. Rumah Ibu di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan, butuh waktu sekitar empat jam untuk sampai di rumahku yang di pinggiran kota Lampung Tengah ini.
Satu persatu karyawanku datang dan segera mengerjakan bagian mereka massing-masing. Hari ini pesanan seragam keluarga untuk bu Nani, tetangga desa yang akan menggelar hajatan sudah tinggal finishing saja.
"Mbak Ika, itu si Rohimah ada gak ya?" tanyaku pada salah seorang karyawanku.
"Ada, Bu! Tadi saya lihat sudah selesai beberesnya." jawab mbak Ika yang rumahnya berjarak enam rumah dari rumahku. Janda anak dua itu belum lama menjadi tulang punggung, sebab suaminya baru tiga bulan meninggal.
"Ajak kesini, dong! Hari ini yang punya bu Nani mau diambil sebelum Ashar! Butuh tukang setrika tambahan, kasihan kalau Dewi sendiri." ucapku sembari terus bermain sama mesin obras.
"Yaudah, biar saya yang panggil, Bu. Mudah-mudahan mau."
"Pake motor biar cepet, kalau anaknya gak ada yang jaga suruh bawa aja, biar main sini gak papa!"
"Oke siap, Bu!"
Mbak Ika gegas beranjak dari depan mesin jahitnya dan segera menuju rumah Rohimah yang berada paling ujung gang sebelah. Kios ini lumayan besar dan terbagi menjadi tiga ruangan. Ruangan paling depan berukuran 3 x 3 untuk pengukuran dan pembuatan pola. Ruangan tengah yang paling luas berukuran 6x6 untuk menjahit dan obras. Dan ruang belakang yang berukuran 3x6 dibagi dua, sebelah untuk setrika dan sebelah lagi untuk dapur kecil biasa untuk makan siang para karyawan dan persediaan air minum.
Alhamdulillah dengan kegigihan kami, kini sudah ada empat mesin jahit kualitas pabrik dan dua mesin obras yang tak kalah bagus meski tak beli baru. Jika sedang di kejar deadline, aku biasa menambah karyawan untuk setrika. Bersyukur bisa membuka lowongan pekerjaan untuk ibu-ibu yang dituntut menghasilkan tanpa harus meninggalkan anak-anaknya.
Aku juga tak keberatan jika anak-anak karyawanku ikut serta, sebab anak adalah penyemangat tersendiri buat kami para ibu yang berjuang untuk membantu perekonomian keluarga. Tak jarang anak-anak mereka bermain bersama anak-anakku di halaman depan rumah atau di samping kios ini, jadi tak membuat mereka lepas dari pengawasan kami meski kami juga tetap sibuk dengan mesin jahit.
Tak lama mbak Ika datang bersama Rohimah dan satu orang lagi.
"Bu, ini Sari, anaknya pak Sarto yang di gang sebelah katanya mau ikut kerja di sini, boleh?" ucap mbak Ika. Aku menatap gadis bernama Sari yang di bawa mbak Ika.
"Kamu bisa jahit?" tanyaku pada Sari.
"Bisa, Bu! Kebetulan saya pernah kerja di Garment B yang di kabupaten itu, tapi semenjak pandemi karyawan banyak di kurangi, termasuk saya!" jawabnya.
"Oh, ya sudah kalau gitu. Mah, kamu langsung bantu Dewi setrika ya! Dan kamu bantu saya obras ini!" perintahku pada Rohimah dan Sari. Rohimah segera masuk ke dalam dan Sari langsung mengambil posisi di sebalahku.
Aku amati dengan seksama, tangannya cukup lihai mengoperasikan mesin obras ini walau hanya aku beri intruksi seadanya.
Kami bekerja dengan semangat hari ini, harapanku semoga sebelum ibu sampai semua pekerjaanku sudah beres. Aku lupakan sejenak permasalahanku di rumah, karena aku tak mau fokusku bekerja terganggu karena konflik pribadi yang nantinya akan berimbas pada pekerjaan. Walau baru usaha rumahan tapi kami tetap harus profesional demi kepuasan pelanggan.
💐💐💐
Kumandang azan Zuhur telah terdengar saling bersahut-sahutan dari beberapa masjid di sekitar rumah. Kami merilexskan tubuh sejenak dan bergantian menjalankan ibadah, kecuali Dewi yang bukan seorang muslim. Dewi memilih membuatkan kami makanan atau minuman sembari menunggu kami shalat zuhur.
Usai shalat, kami menikmati jam istirahat dengan makan bersama. Setiap jam makan tak lupa aku membelikan mereka nasi bungkus supaya mereka tak usah lagi pulang atau membawa bekal.
"Bun, Ayah berangkat nuker mobil dulu ya?" ucap mas Wahyu sembari melongokkan badannya dari pintu penghubung.
"Oh, iya Mas!" jawabku sembari berdiri menghampirinya.
"Kamu kirim kontak Salwa ya, biar nanti sekalian Mas jemput." ucapnya pura-pura.
Kres,
Ada yang teriris di hati ini, Mas kamu memang pandai bersandiwara hingga aku tak curiga sama sekali bahkan ekspresi wajahnya datar-datar saja, ini yang membuatku terkecoh selama ini. Sikap dan kelembutannya tak berubah sama sekali.
"Iya, Mas nanti aku kirim, ya!" jawabku menahan sesak.
Setelah mencium keningku ia berlalu meninggalkanku yang masih bergeming. Sakit! Sakit hati ini, kenapa kamu selingkuh, Mas? Apa kurangku? Apa salahku? Hatiku meracau, mataku mulai berkabut, lagi. Sungguh aku tak habis pikir kenapa harus Salwa? Lantas apa yang Salwa inginkan darimu?
Soal harta, mbak Murni jauh diatas kami. Meskipun ia janda tapi kehidupannya terbilang sukses. Rumah, mobil bahkan sudah memiliki banyak aset tanah dimana-mana. Aku rasa uang bukanlah hal sulit baginya.
Aku segera menguasai diri, aku tak ingin konflik batinku dibaca oleh para karyawanku. Aku pamit pada mereka sebentar dengan alasan melihat anak-anakku.
Berlalu melalui pintu penghubung, berjalan pelan dengan pikiran kacau.
"Iya, Sayang! Nanti kita puas-puasin dulu! Mau berapa ronde kamu!"
Degh,
Suara mas Wahyu tertangkap oleh telingaku, ia sedang merencanakan memadu kasih dengan pasangan haramnya. Menjijikkan, semalam ia tidur denganku dan kini ia akan tidur dengan wanita lain.
Air mata yang sedari tadi aku tahan tumpah sudah, seluruh persendianku lemas bagai tak bertulang. Aku luruh ke lantai dengan hati yang hancur berkeping-keping. Menangisi kebodohanku sendiri, apa yang harus aku lakukan?
Air mata kembali tumpah, rongga dada seakan tak mendapatkan oksigen, sesak! Hingga terdengar suara mesin truk yang semakin menjauh dari pendengaran dan semua menjadi gelap.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aku mengerjapkan mata berkali-kali, aroma minyak kayu putih menusuk indera penciumanku. Aku kembali sadar sudah berada di kamar.
"Bunda kenapa?" tanya si kakak terlihat khawatir. Ada juga si adek yang masih sesenggukan di samping si kakak.
"Bunda gak papa, Sayang! Kok nangis?" aku merengkuh kedua jagoanku ini. Aku tak boleh terlihat lemah di depan mereka.
Tak lama masuklah mbak Ika dengan membawa air putih dalam gelas.
"Ibuk sudah sadar? Alhamdulillah!"
"Saya kenapa, Mbak?"
"Tadi Ibuk pingsan di dekat pintu ruang tamu. Terus kak Ardhan teriak panggil kami, yaudah kami angkat Ibuk bawa ke sini!" Jelasnya, sembari menyodorkan gelas berisi air putih.
"Terimakasih ya, Mbak! Terimakasih anak sholeh Bunda!" ucapku mencium pucuk kepala kedua anakku.
Aku meneguk air putih hingga tandas dan mengembalikan gelas kosongnya pada mbak Ika.
"Bunda kenapa?" tanya si adek.
"Bunda gak papa, mungkin kecapekan aja!" jawabku sebisa mungkin terlihat baik-baik saja di hadapan anak-anak hebat ini.
"Kalau gitu, Ibuk istirahat saja dulu. Pekerjaan biar saya dan teman-teman yang selesaikan. Tinggal sedikit lagi kok, pasti beres!" ujar mbak Ika.
"Terimakasih banyak ya, Mbak!"
"Sama-sama, Buk! Nanti kalau perlu apa-apa bilang saja sama kami!" pesannya sebelum beranjak keluar dari kamar.
"Bunda jangan sakit lagi! Kakak takut!" ucap si kakak yang terus mendekapku erat.
"Iya, habis ini insya Allah kerjaan Bunda udah tinggal sedikit jadi gak capek lagi! Oh iya, nanti nenek sama tante Erna mau datang loh!" Mereka mendongak menatapku dengan binar di kedua netranya.
"Beneran, Ma?" tanya si adek antusias, dan aku mengangguk pasti.
"Horeee! Nenek datang!" sorak si adek.
"Nanti juga, kak Salwa datang loh!" ucapku menahan sesak. Raut wajah si kakak berubah sendu, tidak terlihat raut senang.
"Kenapa harus datang sih, Bun!" gumamnya.
"Emang kenapa, Kak?" tanyaku pelan.
"Kakak gak suka, kak Salwa sering-sering datang! Waktu itu Kakak lihat kak Salwa minta dipangku Ayah! Mana pake celana pendek sama pake kaos dalam aja lagi!"
Degh,
Rupanya anak sulungku melihat sendiri kelakuan mereka yang tak tahu tempat. Bagai ditusuk ribuan jarum, hatiku berdenyut nyeri.
"Kapan? Kok Kakak gak kasih tahu Bunda?"
"Waktu, Bunda lagi antarin baju sama mbak Ika." Jawabnya polos.
"Adek juga pernah lihat, Ayah bobok siang di kamar kak Salwa, gak pake baju!" tambah si adek polos.
Ya Allah, harus bagaimana aku? Anak-anakku melihat kelakuan Ayahnya yang tak bermoral itu. Sesak sekali hati ini. Bersusah payah aku menjaga pandangan mereka dari hal-hal yang tak pantas dilihat, tapi sang Ayah justru merusaknya hanya demi syahwatnya sendiri.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah! Jadi Kakak sama Adek pernah lihat Ayah sama kak Salwa berdua?" tanyaku mencoba mengorek informasi lebih dalam dari kedua jagoanku ini. Mereka mengangguk bersama dengan yakin.
"Waktu itu malem-malem kakak haus pengen ambil minum. Pas keluar kamar, denger suara Ayah lagi ngobrol sama cewek. Pas Kakak lihat ternyata lagi sama kak Salwa di sofa depan tv. Ayah lagi n*n*n di d*d* kak Salwa!" jelas si Kakak.
Ya Allah, ya Rabb! mata anakku ternoda oleh hal yang tak sepantasnya dia lihat. Bagai palu godam menghantam jiwaku, air mata luruh begitu saja. Sekuat apapun aku menahannya nyatanya tetap tak kuasa.
Aku merengkuh kedua anak sholeh ini dalam pelukanku, kudekap erat menyalurkan segala rasa pada mereka. Ini sudah keterlaluan, itu artinya mereka telah lama bermain api di belakangku.
"Bund! Kakak malu melihat Ayah begitu. Gak cuma sekali tapi sering kali begitu. Bahkan kadang tangan kak Salwa masuk ke celana Ayah, atau tangan Ayah masuk kedalam baju kak Salwa!"
Dekapanku semakin erat, anak sulungku sudah besar, dia sudah tahu apa yang ia lihat. Selama ini dia diam aku pikir memang karena pertumbuhannya yang semakin besar hingga sifat kekanak-kanakan itu perlahan hilang, tapi nyatanya ia diam justru memendam kebusukan sang Ayah yang selama ini mereka banggakan.
"Kenapa Kakak gak cerita sama Bunda?" tanyaku disela isakan.
"Kakak gak mau Bunda sedih!" Air mata kian deras mengucur mendengar jawaban dari anak sulungku. Aku menarik nafas dalam menghempaskan sesak yang kian menghimpit.
"Kakak, anak sholehnya Bunda. Mulai sekarang apapun yang Kakak lihat tolong beri tahu Bunda! Atau jika memang Kakak melihat Ayah begitu lagi sama kak Salwa, Kakak boleh tegur Ayah. Kakak paham maksud Bunda, Nak?" si kakak mengangguk dalam pelukanku.
"Doakan Ayah, supaya sadar dari khilafnya! Ingat doa anak-anak sholeh itu diijabah sama Allah. Gak boleh benci apalagi dendam sama Ayah ataupun kak Salwa biarlah urusan itu jadi urusan orang dewasa. Tugas Kakak sama Adek adalah mendoakan supaya Bunda dan Ayah baik-baik saja, mengerti?" Kedua anak sholeh itu mengangguk.
"Dan ingat, kalian ini laki-laki sama seperti Ayah, tapi apa yang dilakukan Ayah dan kalian melihatnya, enggak boleh di praktekin sama orang apalagi anak cewek!" tekanku lagi, biar bagaimanapun ada ketakutan tersendiri jika sampai kedua anakku mempraktekkan apa yang mereka lihat.
Mas Wahyu dan Salwa sudah benar-benar kelewatan. Aku tak bisa tinggal diam, terserah mereka mau berbuat apa di luar sana tapi jika sampai melakukannya di dalam rumahku dan sampai anak-anakku melihatnya, aku akan buat perhitungan.
Tak lama terdengar kumandang azan Ashar, kami gegas mengambil wudhu dan melakukan shalat Ashar berjamaah dengan si Kakak sebagai imamnya. Alhamdulillah, di usianya yang menginjak 12 tahun, ia sudah hafal 20 juz Quran dan sudah fasih mengaji dengan suara merdu.
Suatu kebanggaan bagiku yang hafalannya saja tak sebanyak hafalan anakku. Dengan semangat belajar yang tinggi, dia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya usai lulus SD di sebuah pondok ternama di kota besar. Dan Insya Allah, untuk biaya sudah mencukupi.
Usai melaksanakan shalat Ashar, aku meminta kedua anakku untuk melupakan apa yang pernah mereka lihat dari Ayahnya.
"Anggap saja, kalian gak pernah melihat apapun dari Ayah dan kak Salwa, oke! Biar bagaimanapun, Ayah sudah berjuang mengais rezeki supaya Kakak sama Adek hidup layak, bisa sekolah, dan yang pasti Ayah sangat menyayangi kalian berdua." Kedua jagoanku mengangguk, aku yakin si Kakak pasti paham apa yang aku maksud, tapi entah si Adek paham atau tidak sebab usianya memang baru 8 tahun dan sangat dekat dengan Ayahnya.
💐💐💐
Waktu terus berjalan, mentari terik kini berganti dengan semburat jingga. Aku melirik jam yang menempel di dinding, waktu menunjukkan pukul setengah enam lebih lima menit, tak lama terlihat sebuah mobil honda Jazz putih masuk ke halaman rumah.
"Assalamualaikum!" teriak seorang wanita sembari membuka pintu mobil.
"Walaikumsalam!" jawabku sembari berjalan dari dalam.
"Nenek!" sorak kedua jagoanku yang kemudian berlari menghambur ke pelukan sang Nenek.
"Duh, cucu-cucu Nenek sudah makin besar! Anak-anak sholeh, anak pinter!" ucap ibu mertuaku sembari mencium keduanya bergantian.
"Buk!" Aku mencium takzim dan memeluk tubuh rentanya.
"Kamu sehat, kan, Nduk?" tanyanya mengusap punggungku.
"Alhamdulillah, Buk!" Aku melepas pelukan dengan ibuk dan berganti memeluk adik iparku yang sudah seperti adik kandung sendiri.
"Mbak, Arini makin cantik aja! Kangen deh!" ucapnya memelukku.
"Gak usah lebay deh, orang tiap hari wa'an!" cibirku.
"Kan ketemunya udah lama banget, Mbak!" elaknya. Terakhir kami berkunjung ke rumah ibuk waktu lamaran Erna, enam bulan lalu, dan baru ini ketemu lagi. Padahal hanya butuh waktu empat jam saja untuk sampai di sana, tapi karena pandemi yang mengaharuskan kami untuk di rumah saja, akhirnya baru ini bisa berkumpul lagi.
"Keponakan sholehnya Tante!" Erna beralih memeluk dua jagoanku. Cucu ibu memang baru mereka berdua, sebab mas Wahyu hanya dua bersaudara dengan Erna.
"Mbak, sehat?" sapa Irwan, calon suami Erna sembari menangkupkan tangan di dada.
"Alhamdulillah, kamu sendiri?"
"Sehat, Mbak! Oh iya, saya gak bisa lama-lama Mbak, soalnya saya sudah di tunggu di kecamatan sebelah, ada pelatihan mulai besok dan saya belum registrasi!" ucapnya menjelaskan. Pria tampan yang bekerja di dinas sosial ini nampak canggung saat mengutarakan niat hatinya.
"Loh, gak masuk dulu?"
"Kapan-kapan deh, Mbak! Besok aja kalau jemput Ibuk sekalian!"
Setelah membantu membawa masuk barang ibu dan Erna, Irwan gegas melajukan mobilnya meninggalkan rumahku.
Keceriaan terpancar jelas dari raut kedua jagoanku yang sedang membuka hadiah dari Erna. Sementara aku dan ibu duduk di meja makan sembari minum teh.
"Wahyu kemana, Rin?" tanya ibu setelah hampir satu jam berada di rumah.
"Lagi ke terminal, Buk. Jemput Salwa!" jawabku sembari tersenyum getir.
Tak ada raut terkejut dari wajah ibu, beliau nampak menghela nafas besar sembari menyesap tehnya.
"Masih belum kapok rupanya!" gumamnya yang membuatku mengernyit heran.
"Maksud, Ibu?" Ibu menarik tanganku dan menggenggamnya erat. Mata tua beliau menatap dalam manik mataku.
"Entah kamu tahu atau tidak! Tapi, Wahyu dan keponakan kamu itu terlibat hubungan terlarang!" Mata tua nan sayu itu kini nampak berkabut.
"Erna beberapa kali memergoki mereka tengah memadu kasih di hotel. Dan pernah Erna menghajar sendiri Abangnya itu hingga babak belur. Tapi rupanya, Wahyu tak jera juga!" jawaban ibuk membuat mataku melebar.
Aku jadi teringat kala beberapa bulan lalu, mas Wahyu pulang dengan wajah penuh lebam membiru setelah hampir sepuluh hari ia tak pulang. Alasannya ia menolong seorang kakek yang tengah di begal, namun justru ia yang kena hajar. Aku percaya saja, karena memang daerah kami rawan akan tindak kejahatan itu.
"Jadi, kalian sudah tahu dari lama?" tanyaku lirih.
"Maafkan Ibuk, Arini! Ibuk hanya berpikir, Wahyu hanya khilaf waktu itu dan akan kembali sadar setelah Erna menghajarnya." Ibuk menghela nafas besar.
"Dan kedatangan kami ini ada hubungannya dengan rencana kedatangan wanita murahan itu!"
"Maksudnya?"
"Aku sudah sadap wa bang Wahyu, Mbak! Jadi aku tahu kalau si jalang itu akan datang!" sambar Erna kemudian ikut bergabung denganku dan Ibuk.
"Maafkan aku, Mbak! Aku mengambil keputusan ini sendiri. Karena aku gak mau ada yang nyakitin hati mbak Arini, bang Wahyu sekalipun." jelas Erna, membuat mataku kembali berkaca-kaca.
"Menangislah, Nak! Habiskan air matamu sekarang! Supaya nanti ketika para pengkhianat itu datang, kamu sudah tak lagi menangis. Jangan terlihat lemah di hadapan mereka, supaya mereka tidak berani menginjak-injak harga dirimu." ucapan ibuk berhasil membuat air mataku yang sedari tadi aku tahan tumpah ruah dalam dekapannya.
Cukup lama aku terisak dalam pelukan ibu mertuaku. Hingga aku merasa sudah cukup, kini waktunya aku bangkit melawan ke-dzaliman suami dan keponakanku sendiri.
"Bersiaplah, memberi pelajaran berharga untuk para pengkhianat, Mbak!" ucap Erna menguatkanku. Disertai senyuman kasih sayang ibu mertuaku, yang itu artinya beliau ada di pihakku.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, namun mas Wahyu belum juga sampai. Aku tahu mereka sedang menghabiskan lahar syahwat dalam kubangan dosa, sebelum bersandiwara di hadapanku. Sekuat tenaga aku menata hati, menghalau sesak yang kian mendera.
Hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit, terlihat sorot lampu masuk ke halaman di barengi deru mobil.
"Assalamualaikum!" suara salam mas Wahyu terdengar. Aku dan Erna saling tatap dan ia mengangguk pasti. Ibuk telah lebih dulu masuk kamar, bersama dua cucunya.
"Walaikumsalam!" jawabku tulus, biar bagaimanapun menjawab salam harus dengan ketulusan supaya membawa berkah untuk penghuni rumah.
Aku membuka pintu lebar-lebar dan nampaklah suamiku dan keponakanku di sampingnya. Aku sedikit terperanjat melihat penampilan Salwa yang kian berani. Mengenakan kaos ketat yang mencetak dada mon**knya dan rok jeans ketat yang hanya sejengkal saja.
Salwa meraih tanganku dan menciumnya takzim. Aku bergeming dan terus menatapnya hingga ia salah tingkah. Aroma shampo menguar dari rambut panjangnya yang baru setengah kering.
Aku memiringkan tubuhku supaya suami dan keponakanku bisa masuk kedalam ruamah. Dengan langkah pasti mereka masuk dengan suamiku membawakan koper milik Salwa. Namun, langkah mereka terhenti begitu saja di pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah.
"Er-na!" Gumam suamiku yang masih dapat kutangkap dengan jelas. Setelah menutup pintu, aku masuk melewati mereka yang masih diam mematung, raut wajah keduanya berubah pucat, bagai melihat hantu yang mengerikan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺