Dalam keadaan setengah sadar, aku merasa ponselku bergetar. Aku juga tidak tahu ini sudah getaran yang keberapa?
“Siapa pagi- pagi buta menelfonku,” sungutku.
“ Hallo!” teriak suara seberang sana.
“ Kakak, ada apa? Kakak tidak sadar telah mengganggu tidur ku,” aku menghempaskan bedcover yang dengan setia melindungiku dari malam dingin, melirik ke arah jam di samping tempat tidur, masih pukul 05.30.
“ Kakak, berapa kali Nia bilang, Nia nggak mau ikut kakak, Nia mau disini saja lanjutkan kuliahnya, Nia mau jadi Dokter titik dan tidak pakai koma” aku menjawab pertanyaan kakak dengan satu tarikan nafas.
“ Oh! Sudahlah kak ,please. Jangan mengungkit hal yang itu-itu saja.”
“ iya”
“Hmm.”
“iyaa”
“ Oh Tuhan iyaaa!!” aku menutup telfon dan membuangnya kesamping tempat tidur.
Bangkit dari tempat tidur, dan bergegas melakukan kegiatan rutin. Yaitu membuat sarapan untuk yayang Raka my baby handsome in the world atau aku sering menyebutnya “MFH” (my future’s husband). Sipp!! Bergegas membuka kulkas dan mengambil semua bahan yang dibutuhkan.
Sekarang, aku akan menceritakan sedikit tentang Raka. Namanya Raka Adrian Halim anak ke 2 dari 4 bersaudara, kakak Raka yang pertama bernama Olivia Adriani Halim, adiknya yang ketiga bernama Aileen Adriani Halim dan yang paling bungsu bernama Davian Adriano Halim. Aileen atau aku sering memanggilnya alien adalah sahabat serta teman satu kelas. Aileen telah banyak berjasa, dia yang selalu memberikan dukungan moral serta semangat ketika aku telah putus asa malahan hampir menyerah merebut hati Raka yang notabene adalah kakak kandungnya sendiri. Dia rela harus dibentak bahkan dimarahi oleh Raka karena selalu menolongku, She is really best best best friend. Jangan salah, bukan hanya Aileen yang membantuku kak Olive bahkan si ganteng kecil Davian selalu mendukungku, namun emang hati Raka yang terbuat dari pahatan es atau memang aku tidak menarik di hadapannya.
Masalah kenapa aku bisa cinta mati kepada Raka, aku akan menceritakan sedikit juga tentang pertemuanku dengan cinta pertamaku Raka. 2 tahun yang lalu ketika aku kelas 1 SMA aku yang lebih memilih hidup mandiri mencari rumah kos yang cukup dekat dengan sekolah ( bukan mandiri juga sih… hehehe, soalnya yang membayar uang kos ini eh ralat rumah kontrakan ini adalah kakakku satu-satunya yang selalu menyayangiku, bahkan dia akan rela melakukan apapun untuk kebahagianku. Semenjak orangtua kami menemui Tuhan hanya kak Kei yang aku punya. Kak Keinan menjadi tulang punggung keluarga, semua biayaku termasuk sekolah kak Keinan yang selalu mengirimnya untukku. Bukan berarti aku tidak tahu diri, aku juga pernah berkerja untuk meringankan beban kak Keinan, namun apa?? Dia marah tidak karuan bahkan mengancamku untuk tinggal bersamanya, enak saja mau tari-tarik tinggal bersamanya, kalau aku ikut dengan kak Kei bagaimana dengan my future’s husband. Aku tidak mungkin meninggalkan dirinya seorang pasti banyak wanita yang akan mengejarnya, kak Kei no..no..no... aku akan memperjuangkan cintaku. HARUS!
Kak Kei juga tahu loh tentang Raka, soalnya aku selalu menceritakan semuanya kepada Kak Kei. Dia juga mendukungku, namun dia juga takut jika cintaku tidak terbalas aku akan kecewa. Maka dari itu setiap aku menceritakan apa saja yang telah aku lakukan untuk menarik perhatian Raka, Kak Kei selalu memberi nasehat “ jangan sampai kecewa, dan jangan terlalu berharap.
“Baik kak Kei, aku akan mengingat selalu nasehatmu. Nah ! rumah yang aku sewakan berdiri indah dan sempurna di depan rumah Raka, jadi SetiaP dia berangkat kerja aku selalu mengintipnya dari jendela, melihat wajahnya saja sudah membuat jantung ini kotar-katir, apalagi kalu dia bersedia menjawab sapaanku OMG aku bisa pingsan.
Cukup sekian ya ceritaku tentang my future’s husband.
“Huaaaa! akhirnya, nasi goreng bumbu cinta udah selesai buat my husband.” aku memasukan semuanya kedalam tas yang telah tersedia.
Tok..tok..tok..
Kuketuk pintu rumah Raika berharap dia yang datang membukanya.
“Selamat pagi, kakak ipar yang cantik dan baiknya nggak ketulung,” sapaku ceria dengan senyum pepsodent andalanku.
Kak olive sedikit mendengus “uhhh! Masuklah, dia belum ke bawah. Langsung aja ke kamarnya, paling masih berendam.”
“he...he...he, diberi izinkan? Soalnya kalau terjadi hal-hal yang tak di inginkan jangan marah, loh!” ingatku.
“Ceile gaya non, sesuatu yang tidak inginkan atau yang paling di inginkan?” goda Olive menyentil kepalaku.
“Berharap sih iya, but, adek kakak noh sok jual mahel jangankan disentuh ditatap aja akunya nggak tuh. Gimana mau produksi punya anak” gumamku menyipit mata.
“Kak, hehe aku grepe-grepe adeknya nggak apa- apa ya?”
“Masuk sana! Berharap aja dia lagi full naked. Bisa buat semangat belajar mumpung mau ujian akhir.”
“KYAAAAAAA” teriaKku sambil menghayal Raka bugi ( kayaknya otakku udah nggak normal, harus di Ruqyah nih biar kembali ke jalan yang benar).
“Kak aku masuk ya?” kataku lagi lalu pergi ke kamar kak Raka dilantai dua.
Mengendap- endap kayak maling kumasuki kamar Kak Raka, wissshhh baunya bikin iler man. Seperti yang di bilang kak Olive kayaknya suamiku lagi mandi. Aku buka lemari pakaiannya dan kupilih kemeja dan celana yang cocok buat dia dan tidak lupa dengan jubah putihnya ( yap suamiku seorang Dokter, keluarga mereka memang berasal dari Dokter, papanya Dokter mama mertua perawat, kak Olive dokter kandungan nah kalu my husband Dokter spesialis cinta ( buatku seorang). Sudah bercandanya, Raka hanyalah dokter muda dan belum mengambil spesialis.
“Oke fix, sekarang tunggu my husband keluar kamar mandi,” Batinku.
“Apa yang loe lakukan dikamar gua?” Teriak Raka di belakangku.
Tanpa rasa takut, aku menjawab pertanyaan Raka “Eh..hmm yy husband. Nih, bajunya udah aku siapin tinggal pakai aja dan ini,” kataku menyodorkan nasi goreng yang telah kusiapkan tadi.
“Ini untuk bekalnya kamu nanti siang, kalau kamu nggak mau makan di luar makan aja buatan aku. Aku jamin enak..ya...ya terima ya.”
“Aku udah capek bangun loh buatin nasi ini untuk kamu, aku aja belum makan hanya demi buatin nasi ini,” lanjutku dengan puppy eyes, berharap dia melumer seperti coklat yang diapanaskan.
“Buat loe aja, lu bilang kan belum makan,” jawabnya dingin.
“Nah, sekarang keluar dari kamar ini,” tambahnya.
“ Tapi terima ya nasi gorengnya,” bujuk ku lagi.
“Nggak...gua bilang nggak ya nggak,” suara Raka naik 2 oktav.
“Please.”
“ NGAAAAK!!” teriaknya.
Aku tetap meletakan nasi goreng di nakas samping tempat tidurnya.
PRANGGGG
Suara itu terdengar cukup keras di dalam kamar.
Nasi goreng buatanku mendarat di pintu kamar Raka karena lemparannya yang kuat, untung tidak mengenai wajah ini. Sepersekian detik aku masih terpaku melihat kearah pintu, untung tidak berserakan karena dilindungi tasnya. Aku yakin nasi goreng yang telah ku tata rapi tidak berbentuk lagi di dalam sana.
“Ada apa sih kak? Pagi udah bikin keributan,” sela Aileen dari balik pintu yang hanya menyodrkan kepalanya.
“ Nia!! Ada apa? Apa yang kamu lakukan?” tanya Aileen sambil membantuku memungut kotak nasi dilantai.
“hmm” aku berusaha tersenyum dan menahan air mata agar tidak jatuh dan membuatku cengeng.
“Kakak ya!” lotot Aileen kerah Raka.
“Keterlaluan sekali, tidak punya hati, tidak punya perasaan, kalau kakak tidak suka bilang jangan lempar ke lantai. Kakak pikir nggak capek apa buatnya,” bentak Aileen.
“Nggak apa-apa Aileen aku yang salah, tadi kak Raka udah bilang nggak mau, aku aja yang ke pedean berharap kak Raka menerimanya, aku yang salah,” aku berusaha menengahi kedua bersaudara itu.
Aileen tidak peduli dengan ucapanku. “Heran deh punya kaka hatinya beton.”
“Nia lebih baik berhenti saja mencintai manusia es ini, di luar sana banyak kok yang cinta sama kamu.” Aileen menatapku iba.
“Tapi hatiku hanya untuk dia, leen,” batinku.
“Aileen kamu berani bentak kakak karena wanita ini. Kamu lebih membela dia yang bukan siapa-siapa dari pada kakak kandung mu sendiri, iya!” Raka balik membentak.
“ Aileen nggak mau dengar kata kakak, kakak udah keterlaluan. Nia sahabat Aileen, kakak tega buat dia sedih”
“Ayo nia kita keluar dari sini.” Ailenn menarik ku keluar.
Apa yang harus aku lakukan agar bisa meluluhkan hatinya yang beku. Tuhan aku hanya berharap satu senyuman hanya satu senyuman yang dia ukir dibibirnya untukku. Tuhan beri aku kekuatan dan kesabaran agar dapat meluluhkan hatinya. Beri aku kesempatan ya Tuhan walau hanya kecil, aku mencintainya dan aku tidak bisa marah akan sikapnya kepadaku.
Aku duduk diatas gedung sekolah menatap pemandangan kota yang sibuk dari sini. Dengan tetesan air mata yang kutahan sebisa mungkin, suap demi suap aku memakan nasi goreng yang telah ku buat. Nasi goreng dalam mulutku telah bercampur dengan air mata yang tidak berhenti menangis memikirkan kejadian pagi tadi.
"Apa yang harus aku lakukan lagi Raka agar kamu menoleh kearahku?" batinku dengan isakkan.
"Apa kesalahanku sampai sebegitunya kamu membenciku" lanjutku.
***
"Hei, dek! Boleh masuk?" Tanya Olive menolehkan sedikit kepala dari balik pintu takut mengganggunya.
"Kakak! silahkan kak, ada keperluan apa?" jawab Raka ramah mempersilahkan ku duduk.
"Sibuk?"
"Tidak terlalu."
Aku mengatur nafas mencoba merangkai kata agar tidak menyinggungnya.
"Kenapa marah-marah tadi pagi dengan Nia?, kasian loh Ka anak orang kamu buat nangis"
"Kenapa? Kakak mau bela dia sama seperti Aileen?" liriknya mengangkat alis mata.
"Kurang apa coba? Nia itu anak yang manis, cantik, oia yang paling penting dia baik."
Raka membuang nafas. "Aku nggak suka aja, dia sangat agresif sebagai wanita"
"Ka! dia seperti itu karena kamu, cintanya kepadamu yang membuat dia berubah. Setahu kakak, Nia itu anaknya pendiam, itu yang Aileen bilang ketika pertama kali dia bertemu Nia. Nah ! karena kamu dia berubah, tahu ngga? Dia rela masuk IPA hanya untuk menjadi Dokter demi kamu."
"Cinta nggak bisa dipaksa kak," jawab Raka.
"Lagipula dia masih kecil, pake cinta segala. 7 tahun kak... 7 tahun beda usia dia dengan Raka." Raka menunjukan angka 4 kearahku.
"Apa nya yang salah, banyak kok pasangan yang saat ini berbeda jauh umur mereka, why not? Sambungku mencoba membela Nia.
"Lagian kamu udah sepantasanya menikah," tambahku.
"Iya tapi bukan dengan dia," Raka memotong perkataanku cepat.
"Dicoba dulu Ka, kaka suka dengan dia. Nanti kalau dia udah bosan ngejar kamu,kamu bakalan nyesel loh," godaku.
"Kakak ada keperluan lain, kalau tidak aku mau makan siang di luar." Raka berdiri dari tempat duduknya.
Aku menggodanya lagi. "Kalau kamu nggak mau kakak kenalkan saja dia dengan teman kakak sesama dokter."
"Terserah" jawab Raka cepat.
***
Aileen mencoba menghampiri Nia di rumahnya, dari pelajaran berakir tidak ku temukan batang hidungnya. Aku juga heran apa yang dilihat Nia kepada kakakku yang sedingin es itu, ya aku akui kak Raka itu ganteng, ganteng banget malah, dengan tinggi 185cm serta bentuk badan yang sangat menggiurkan, aku jamin setiap wanita akan rela memberikan tubuhnya untuk kak Raka. Awas saja Nia termasuk salah satu wanita seperti itu, aku tidak akan rela.
Tanpa salam dan ketukan pintu, aku masuk menerobos rumah Nia dan langsung berlari ke kamarnya. Ya siapa tahu dia melakukan sesuatu yang di luar akal sehatnya, walaupun aku merasa dia tidak punya akal lagi setelah bertemu si dingin kak Raka.
"Oh syukurlah Tuhan," sorak ku berhamburan ke ranjang Nia yang ukuran Queen size.
"Kenapa? kamu pikir aku bakalan lakuin hal gila,hah? Seperti bunuh diri." tuduh Nia menyepitkan mata.
Aku mengangkat bahu merasa bersalah telah memikirkan hal konyol itu.
Nia menyandarkan tubuh mungilnya di besi tempat tidur. "Nggak bakalan kali, kalau bunuh diri! itu sama saja memberi kesempatan emas buat cewek- cewek lain buat dekatin yayangku my baby handsome in the world...BIG.... NOOOOOO" teriaknya memekakkan telingaku.
"Ya kupikir bakalan nyerah ngejar kak Raka yang sok jual mahal dan belagu itu."
"Leen, mungkin nggak ya aku itu kurang tinggi kalinya makanya kak Raka nggak suka," Tanya Nia sekenanya.
"Emang sih kalu berdiri dengan kak Raka kayak melihat anak ama bapak, secara Raka tingginya aduh hanya dia dan tuhan aja yang tahu, nah kamu hanya setinggi biji kecamba." aku mencoba membuat suasana lucu.
BUK
Nia menumpukkan bantal ke wajah cantikku.
"Dasar calon kakak ipar tiri! " teriakku.
"Kalau tahu bakalan nyiksa kayak gini , nggak bakalan ku restuin ama abangku yang super duper ganteng dan sok oke itu. "
"Alien...Alien." dia mendekatiku
"Sekali lagi manggil alien, aku jamin bakalan memihak kak Raka lihat aja ntar, dasar kakak ipar tiri durhaka." aku pura-pura marah.
"Iya...iya sorry deh. Bisa nggak ya tinggiku bisa nambah gitu, buat ngimbangin tingginya suami masa depanku?" Nia mengedipkan mata genit.
"huahaha.” Tawaku meledak memenuhi kamar Nia.
“Dasar kecamba, sekali kecamba nggak bakalan bisa jadi kelapa." Aku tak bisa menahan tawa dengan pertanyaan lugu Nia.
Nia merajuk. "Kan...kan...pake ngeledek, ngak kakak nggak adek sama aja bikin atit hati."
"Nah!!" sambungnya bangkit semangat 45.
"Bagaimana kalau kita ngirim kak Raka keluar angkasa? Disana kan dekat tuh ama matahari, siapa tahu bisa melumer kayak coklat?" lanjutnya tak kalah bego.
"Kamu rela, buk? Hmm… setahu ane dirimu nggak bakalan hidup kalau nggak liat tuh gunung Himalaya."
"Iya juga sih," sungut Nia.
"Atau aku implan payudara gimana? Ya siapa tahu doi lirik dikit, dikit aja juga nggak apa-apa. Apalagi kalu disentuh," lanjut Nia sok polos.
Kayaknya otak sobat gue ini udah nggak bisa ketolong lagi.
"Dasar ABG mesum! Jangan pikir kak Raka bakalan tambah cinta, yang ada dia bakalan tambah benci. Kak Raka itu sukanya yang natural aja." Aku mengingatkan.
"Sudahlah! Bisa nggak ya sehari aja nggak bicara tentang suami masa depanmu itu?"
Nia hanya geleng- geleng kepala.Ffix sahabatku gila.
Kami berdua sama-sama hening. Nia sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan diriku memikirkan sesuatu sambil melihat sekeliling kamar Nia.
"Nia!" aku memecahkan keheningan.
"hmmm" jawabnya singkat.
Sebelum melanjutkan pertanyaan yang ingin ku lontarkan, telfon Nia berdering.
"Yoii my brotha" sahut Nia ceria menyapa seseorang di balik ponsel.
"........."
"udah kakakku sayang"
Oh telfon dari kakak Nia, dia sering bercerita tentang betapa perhatian dan sayangnya Abang Nia kepada dia.
"Iya,nanti kalu udah tamat sebelum masuk kuliah Nia bakalan ngunjungi kakak deh. Jangan! JangaN kakak nggak perlu hampiri Nia kesini. Nia tahu kakak sibuk"
"........."
“Beres kakakku, masih ada kok, Nia nggak boros-boros juga. ok bye...bye"
"kak Keinan?" tanya ku penasaran.
"Ya gitu deh" jawabnya singkat.
"Kayak apa sih wajah kak Kei? Perasaan nggak ada fotonya deh disini."
"Kak Kei nggak kalah jauh juga sih gantengnya ama kak Raka, tapi nggak sejudes abang ente. Kak Kei baik amat malah."
"Sekarang dia dimana? Apa pekerjaannya? Kok jarang nengokin adeknya, udah 2 tahun kamu disini nggak pernah liat tampangnya?"
"Oii...kayak polisi aja nih satu-satu dong tanyanya. Kak Kei lagi dikampung, kalau pekerjaannya mungkin gembong narkoba kali ya." jawab Nia enteng.
"What!!!!" mataku melotot pingin keluar " are you serius?"
"huahah… enak aja, Kak Kei orang nggak gitu juga kali."
"Kurang asem nih bocah,pikirku beneran loh Nia. pantas aja punya rumah kontrakan segini besarnya, biaya dari mana coba? Kak Kei kan di kampung atau jangan- jangan kaka kei raja minyak yah?" tanyaku asal.
"Iya, raja minya, minyak urut kale."
"By the way bus way, apa rencana selanjutnya buat melumerkan hati kak Raka?"
"Kalau aku perkosa kamu rela, ngga?" tanya Nia tanpa ada keraguan.
Sekali lagi Nia hampir berhasil mencopotkan kedua belah mataku yang indah ini, karena argumennya. Oh Tuhan apa yang telah Kau perbuat terhadap sahabat hamba.
BUKKK….
Kali ini aku yang menimpuknya pakai bantal.
Aku menatap tajam Nia."Awas aja macam-macam. Nia!! Aku selalu mendukungmu untuk merebut hati Kakakku. Please, jangan pernah menjatuhkan harga dirimu, jika kamu lelah, menyerahlah. Jujur Nia aku takut kamu akan kecewa."
Hanya terlihat sorot kesedihan dimata Nia, dia hanya menghembuskan nafas berat. Aku tahu betapa cintanya Nia terhadap kak Raka. Namun apa daya, kakakku yang satu itu belum luluh juga. Sudah 2 tahun ku lihat perjuangan sahabatku itu, masih adakah harapan untuk Nia?. Aku juga tidak sanggup melihat apa yang terajdi dengan Nia, jika ku beri tahu kalau Kak Raka itu sudah.
***