Suara dentingan pintu lift terbuka membuatku urung bertanya. Nanti saja pikirku langsung tanya ke kak Elle. Saking bingungnya aku tidak memperhatikan ujung karpet yang tidak menempel ke lantai. Aku hampir terjerembab kalau saja kak Drian tidak menangkap pinggangku.
"Hati-hati, Lex ..."
Reflek dia menarik perutku sehingga punggungku menabrak dadanya dan aku tersentak. Dadaku berdebar hebat, gila!
Aku sontak melepaskan diri. "S-sorry Kak ..."
Kami berjalan dalam diam sepanjang lorong. Kamar kami terletak paling ujung. Suara karpet meredam langkah kami berdua.
Aku sampai di kamarku dan menoleh sekilas padanya. "Night, Kak ..."
Kak Drian menahan pintu sebelum aku menutupnya.
"Kenapa, Kak?"
Dia menunduk memandang kakiku yang tanpa alas lalu membungkuk. Aku mematung saat dia menempelkan plester dikedua tumit kakiku.
"Jangan kena air dulu. Besok pagi rendam pake air hangat ya ...". Dia lalu bangkit dan mengelus pipiku pelan.
"Night Sis inlaw ..."
Suara pintu tertutup membuatku menghembuskan napas yang sedari tadi ku tahan. Aku masih terpaku dengan apa yang dia lakukan. Sebelumnya dia tidak pernah seperti itu. Aku berjalan dan menjatuhkan tubuhku di sofa kecil.
Apa itu tadi? Apa karena sekarang aku jadi adik iparnya lalu dia berubah jadi perhatian gitu?
Selama kami sering pergi bersama, kak Drian tidak pernah memberi perhatian khusus. Malah kak Brian yang terkesan lebih dekat denganku. Tapi aku sama sekali tidak pernah berdebar seperti tadi.
Aku meraba dadaku, merasakan dentuman jantungku yang tidak biasa. Pasti aku terpengaruh dengan penampilan kak Drian yang berbeda dari hari biasanya. Aku seperti melihat sosok lain. Atau karena dia sekarang jadi iparku sehingga dia merasa aku resmi jadi adiknya sendiri?
Ah entahlah ...
Aku bangkit menuju kamar mandi dan melepas bajuku. Semua pikiran aneh aku buang jauh-jauh. Hari ini aku cukup letih dan aku ingin segera merasakan lembutnya kasur hotel ini.
Setelah mandi aku segera menenggelamkan diriku di ranjang kingsize yang akan aku nikmati sendirian. Dan tak lama pun aku terlelap.
***
Aku bangun dengan perut kacau. Rasanya mual, seolah ada gumpalan tak mengenakkan di tenggorokanku. Aku memukul pelan dada, mengingat bahwa aku hanya sedikit makan saat di acara pesta semalam, aku hampir tidak bisa juah dari kedua mempelai, dan sekarang lambungku meronta minta di isi. Aku memeriksa handphone, sudah pukul setengah delapan pagi, aku bergegas mencuci muka dan mengganti bajuku. Mandinya nanti sajalah ...
Aku menghubungi Mama dan Mama berkata jika mereka sudah turun untuk sarapan pagi. Langkahku gontai berjalan ke arah kamar kak Elle. Aku sudah mengangkat tanganku tapi aku ragu untuk mengetuk pintunya.
Walau aku baru lulus SMA tapi aku tahu apa yang orang lakukan di malam pengantin dan aku tidak ingin jadi pengganggu. Mereka pasti kelelahan setelah pesta kemarin.
Suara pintu tertutup di seberang kamar membuatku menoleh dan aku terkejut melihat kak Drian keluar dari kamar itu.
"Loh? Kok kak An keluar dari situ? Bukannya ...." Aku linglung menunjuk ke kamar kak Elle.
"Aku habis pinjam baju Brian. Mau turun breakfast, Lex?" Wajahnya terlihat santai saat menjawab.
Aku hanya mengangguk. Dan kemudian mengikutinya berjalan ke arah lift. Dia bilang kak Elle masih ngantuk jadi dia turun duluan. Aku tidak bertanya lagi dan langsung bergabung dengan keluargaku.
Aku mendengar beberapa sepupu kak Driann menggodanya dengan bertanya tentang malam pertama dan kenapa istrinya tidak ikut turun.
"Brian kemana, Dri?" tanya tante Lili.
Aku baru sadar tidak melihat pria itu juga sedari tadi.
"Masih tidur kali Mom ...." kak Drian menjawab sambil lalu dan memandangku sekilas. Aku mengerjap dan tersenyum simpul lalu mengalihkan pandanganku. Kenapa aku jadi ngeliatin dia? Aku mengetuk pelan kepalaku dan beranjak mengambil makanan.
Kira-kira satu jam kemudian barulah kami melihat kak Elle turun dengan kak Brian. Kok mereka bisa bareng ya?
Kak Elle duduk di sampingku alih-alih dengan suaminya. Tapi tidak ada yang protes dengan hal itu jadi aku pikir mungkin hanya pikiranku yang berlebihan. Pengantin baru tidaklah harus terlihat selalu bersama. Aku belum mengerti pikiran orang dewasa.
Aku menuntaskan teh susuku saat mendengar Mama mengatakan tentang honeymoon, membuatku teringat untuk bertanya. "Kak ... kok aku ikut ke Jepang sih? Ngapain? Kakak kan honeymoon masa aku ikut?"
"Ya gapapa dong, Dek ... kan kamu lagi libur juga. Sekalian kita jalan-jalan." sahutnya sambil mengunyah.
"Tapi kan kak Elle honeymoon. Aku tau apa itu honeymoon. Tar aku ganggu ...."
"Eh, eh, eh … ternyata kecil-kecil udah tau ya ...." decak kak Brian bergabung dengan kami.
Dan aku tidak menyadari kalau kak Drian sudah duduk terlebih dahulu di depanku.
"Brian juga ikut kok, Dek ...." sahut kak Elle lagi sambil mengambil creamer dan gula untuk kopinya.
"Tapi aneh aja gitu ... masa ikut orang lagi bulan madu?" dengusku.
"Lebih aneh lagi kalau cuma kamu yang ikut sendirian, Dek ...." timpal kak Drian sambil melirik ke arah kakakku.
Kak Brian terbahak mendengar ucapannya dan mereka bertiga kembali larut dalam rencana honeymoon yang membuatku tidak tertarik untuk bergabung. Aku hanya diam entah harus merasa semangat atau tidak.
Aku mau sih ke Jepang, belum pernah aku kesana. Tapi apa iya harus bareng sama orang honeymoon?
Ah, sudahlah. Katanya tiket pesawat kami sudah di beli dan tiga hari lagi berangkat. Berarti memang sejak awal mereka berniat mengajakku, aku hanya berharap tidak akan jadi kambing congek saja.
***
Dugaanku sepertinya tidak terbukti. Akhirnya aku bisa jalan-jalan ke Jepang. Dan tidak buruk juga walau aku pergi dengan pasangan yang sedang berbulan madu. Bisa dibilang aku enjoy dengan liburan ini.
Tapi anehnya, kakakku dan suaminya terlihat bersikap biasa saja. Seperti kalau kami sedang pergi berempat di Jakarta. Apa mereka berusaha bersikap biasa karena tidak enak bila harus bermesraan didepanku dan kak Brian? Padahal aku tidak keberatan kok! Malah gemes, jangankan pelukan, lihat mereka gandengan tangan aja ga pernah!
Tapi urusan mereka lah! Aku pun tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang mereka lakukan jika sedang berdua saja kan?
Sudah empat hari kami di Jepang, dan hampir setiap hari kami jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat wisata. Hari ini kami pindah ke Tokyo setelah tiga hari kemarin menginap di Kyoto. Aku sangat bersemangat, tidak sabar ingin menelusuri Harajuku street dan merasakan sensasi Shibuya cross seperti yang sering aku lihat di Utube. Pasti menyenangkan!
Pukul sebelas siang kami sampai di hotel tempat kami menginap. Seperti biasa kami memesan tiga kamar. Aku sendirian, kak Elle dan kan Drian, lalu kak Brian sendiri.
Hari ini kami akan bermain di Universal Studio Japan. Ada Horror Night festival jelang haloween dan kakakku yang pecinta horor amat sangat excited. Aku mau tidak mau ikut karena tidak mungkin aku hanya diam di hotel seorang diri. Walau di sepanjang arena yang kami masuki aku lebih banyak memejamkan mata dipandu kak Brian. Aku benci hal yang berbau horor! Dan tidak ingin liburan ini meninggalkan kenangan menyeramkan.
Ada satu arena bermain dimana kami naik kereta kecil lalu menyusuri lorong gelap. Karena aku tidak mau duduk di depan aku terpaksa duduk dengan kak Drian sedangkan kak Elle dengan kak Brian duduk didepan dengan antusias.
Bulu kudukku merinding saat kereta itu mulai berjalan, kursinya berderit seolah dibuat sengaja demikian demi menambah kesan usang. Suara-suara aneh yang aku yakin akan membuatku tidak akan bisa tidur malam ini terus terdengar. Tanpa sadar aku merapatkan tubuhku ke arah kak Drian.
"Kenapa, Dek? Takut?" tanyanya sambil berbisik, wajahnya mulai hilang saat kami memasuki lorong gelap.
Dan aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Aku memejamkan mata dan menutup telingaku saat mahluk-mahluk seram versi jepang mulai terlihat. Aku meringkuk berusaha menunduk sepanjang perjalanan kereta yang terasa lama. Aku mendengar suara teriakan dan tertawa kakakku. Aku tidak suka seperti ini dan jadi menyesal karena ikut. Seharusnya aku lebih memilih menunggu diluar daripada ketakutan seperti ini.
Entah sudah berapa menit akhirnya kami sampai di ujung wahana dan aku baru sadar kalau sedari tadi kak Drian memelukku.
"Kenapa Dek muka kamu pucet gitu?" tanya kakakku.
Aku bangkit berdiri dan kan Drian terus memapahku. Kakakku malah cuek jalan terus didepan sambil bergurau dengan kak Brian. Ga cemburu apa dia liat suaminya meluk cewek lain?
"Udah aman, Dek ..." sahut suara berat itu dan aku mendongak melihatnya menatapku sambil tersenyum. Aku menjaga jarak walau aku masih meresakan tangannya menempel ke punggungku.
"Thanks Kak ... sumpah aku takut banget tadi ...." Ada rasa lega saat sudah ada ditempat terbuka.
Dia terkekeh pelan mendengar jawabanku. Aku mengedarkan pandangan mencari kak Elle.
"Kak Elle sama kak Bri kemana?"
Dia hanya mengangkat bahu lalu menyerahkan sebotol air mineral dingin yang langsung ku teguk setengahnya.
"Masih mau keliling?" tanyanya.
Aku menggeleng "Cari tempat duduk dulu yuk,Kak ... pusing kepalaku."
Kak Drian menarik tanganku melewati kerumunan disana. Aku rasa aku bisa tersesat dengan ramainya pengunjung wisata itu malam hari.
Kami duduk sambil memperhatikan hiruk pikuk keramaian orang tanpa terlihat tanda-tanda kakakku.
Notifikasi ponselku berbunyi.
Kak Elle
(Dek ... kakak masih mau keliling. Kalau kamu cape kamu balik duluan aja sama Drian ya ....)
Hah? Aku melongo menatap isi pesan itu. Kakakku itu aneh bin ajaib. Kalau udah seru aja lupa ama adek ama suami sendiri! Huh ....
Aku menunjukan isi pesan itu ke kak Drian dan dia bangkit berdiri.
"Aku juga udah capek. Biarin aja deh dua mahluk horor itu keliling."
Aku hanya tertawa mendengarnya dan mengikutinya jalan. Kak Drian kembali menggandeng tanganku. Takut terpisah katanya dan aku membiarkannya. Walau rasanya sedikit aneh karena kami tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin dia juga lebih menjagaku karena sekarang aku adik iparnya kan?
Setelah diluar kak Drian mencegat taksi lewat dan mengatakan nama hotel kami pada supirnya. Walau kami semua tidak bisa bahasa Jepang tapi wajib hapal nama hotep dan jalannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan aku merasa ngantuk karena lelah seharian jalan-jalan.
Mataku terasa berat dan aku sudah terlelap saat taksi baru meluncur sepuluh menit.
Aku merasa kepalaku ditarik ke samping dan aku bersandar pada sesuatu yang nyaman. Entah berapa lama kami dijalan hingga aku merasakan saat tubuhku terangkat. Mataku terasa berat hingga aku tidak sanggup membukanya. Hembusan napas hangat terasa dipipiku seolah membuai lelapku.
Aku mengerang pelan saat tubuhku menempel di ranjang empuk dan aku tidak sudi membuka mata. Usapan ringan terasa di pipiku. Aku merasa sepatuku sedang dibuka. Dan aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku kembali terlelap.
***
Aku menarik napas berusaha memasok udara yang hilang seketika di paru-paru saat aku terbangun pagi ini. Mataku membelalak tidak percaya saat membuka selimut.
Aku hanya memakai bra dan celana dalam!
Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?
-tbc-
Aku terbangun sambil melilitkan selimut ke tubuh dan melihat sekelilingku tapi tidak melihat siapapun dan di kamar siapa ini? Ini bukan kamarku, walau aku yakin ada di hotel yang sama tapi bukan juga di kamar kak Elle.
Aku berusaha mengingat kejadian semalam. Aku pulang bersama kak Drian, tapi aku tidak tahu saat sampai di hotel dan kenapa aku bisa setengah telanjang begini? Masa iya kak Drian ... Tidak! Tidak!
Aku bergidik ngeri.
Ketukan di pintu membuatku tersentak.
"Dek?I ni Kakak ... buka ...."
Aku bernapas lega mendengar suara kakakku. Aku langsung membukanya dan kak Elle langsung masuk. Dia seperti mencari sesuatu kemudian menatapku heran.
"Ngapain kamu ngelibetin selimut gitu?"
"Aku ... aku belum pake baju. Aku baru bangun. Aku dikamar siapa, Kak? Kok aku ga pake baju?"
Kak Elle sontak menarik selimut sehingga aku terhuyung. Matanya berkilat sesaat lalu berdehem.
"Semalam kamu tidur kata Drian, dia ga enak mau masuk kamar kamu, kunci kamarku juga kubawa, Brian juga. Jadi dia buka kamer lagi deh. Terus mm ... semalem Kakak mau gantiin baju kamu tapi susah. Jadi Kakak biarin deh kamu tidur begitu."
Aku manggut-manggut merasa lega. Aku pikir kak Drian .... Ah, ga mungkin!
"Udah mandi sana ... kita mau sarapan terus jalan."
Aku mengangguk dan mencari pakaianku lalu kembali ke kamarku. Saat mandi aku bingung melihat seperti ada memar merah kecil di bahu kiriku. Kapan aku terbentur? Tapi rasanya tidak sakit. Aku menyentuhnya perlahan dan melanjutkan mandiku tanpa memusingkannya.
Aku bergabung dengan mereka bertiga dan merasakan hal yang aneh dengan diamnya kakakku dan datarnya wajah kak Drian saat mereka ngobrol. Sepertinya mereka sedang bertengkar. Aku tidak mau ikut campur dan menyibukkan diriku melahap sarapan.
Kami melanjutkan sisa liburan itu dengan perasaan yang sedikit aneh menurutku. Terutama dengan pasangan baru itu. Mereka berdua menolak untuk di foto bersama. Malah banyakan kak Elle foto berdua dengan kak Brian. Ah biar aja, bukan urusanku!
Hari terakhir kami di Jepang kami hanya full membeli oleh-oleh untuk keluarga kami. Aku pun banyak tidur di pesawat saat perjalanan kembali ke Jakarta.
Tengah malam kami sampai. Supir Papa menjemput kami. Kami mengantar kak Brian pulang dulu baru kerumahku. Rasanya sedikit aneh melihat kan Drian ikut pulang kerumah kami.
Saat tiba pukul tiga pagi, sepertinya Mama dan Papa sudah tidur. Aku pun masih merasa mengantuk. Aku langsung mandi tanpa membongkar koperku terlebih dahulu. Rasanya letih padahal aku banyak tidur.
Saat keluar kamar mandi sudah ada secangkir teh lemon hangat dimeja nakas samping ranjangku. Pasti kak Elle yang siapkan supaya aku tidur nyenyak pagi ini. Aku tersenyum sambil meminum perlahan teh hangat itu. Ternyata kakakku masih tetap memperhatikan aku.
***
Aku berjalan ke arah ruang makan. Sudah pukul sembilan pagi dan aku yakin semua orang sudah berangkat. Aku melihat kakak iparku sedang duduk di kursi yang menghadap ke taman belakang. Dia pasti tidak mendengar aku datang.
"Pagi, Dek ..."
Aku terkejut. Ku kira dia tidak tahu. "Pagi, Kak ..." sapaku, "yang lain kemana?"
"Udah berangkat semua. Kamu mau sarapan apa? Kakak buatin."
Aku tertegun saat menuangkan susu ke gelas.
"Tadi pagi Kakak yang buatin sarapan untuk semua orang. Punya kamu belum dibuat karena kamu belum turun."
Aku menghampirinya sambil nyengir jahil. "Ciyeee, mantu idaman nih ceritanya?"
Dia tersenyum simpul dan aku berdehem menghilangkan keterpesonaan sesaatku pada senyumnya.
"Omelet? Bacon sandwich? Garlic bread with egg benedict?"
Liurku menetes mendengar sarapan luar biasa itu disebut. Aku menelan salivaku. "Mmm ... boleh semuanya?" bisikku tertahan dan dia tertawa.
Percaya atau tidak selama setengah jam kak Drian sibuk membuat sarapan untukku dan selama setengah jam itu pula aku hanya menatapnya bergerak kesana kemari. Aku tidak berhenti tersenyum dan terpana melihat kepiawaiannya mengolah semua bahan yang aku saja belum tentu bisa membuatnya.
Lalu tak lama ketiga hidangan itu tersaji di hadapanku membuat mulutku menganga. Semuanya terlihat lezat. Aku menatapnya malu-malu dan dia mengangguk mempersilahkan aku makan.
Mataku terpejam saat menikmati makanan yang dia buat. Semuanya enaaak!
Dia terus tersenyum saat aku dengan lahap memakan masakannya. Dan anehnya dia hanya menatapku sambil sesekali meminum kopinya.
Suara dering ponsel membuatnya menoleh.
"Halo ..."
"_______"
"Udah, ada nih lagi sarapan."
Pasti kak Elle yang telepon.
"________"
"Iya ... tar siang."
"_________"
"Iya ... iya, tenang aja...."
Dia menutup panggilannya dan menatapku.
"Kak Elle ya?"
Dia mengangguk. "Mau kemana kamu hari ini, Dek?"
"Mmm ... mau kerumah Krista kasih oleh-oleh. Terus jalan-jalan paling."
"Kakak anter ya ... tadi kak Elle bilang mobil kamu dipake dia karena mobilnya dibawa ke bengkel."
Aku hanya mengangguk. Kami kembali diam dan dia memainkan ponselnya. Aku menghabiskan seluruh sarapanku, rasanya perutku super penuh. Aku hendak mengangkat piring tapi kak Drian ikut berdiri.
"Kakak aja, Dek ..."
"Ih, jangan donk. Gapapa kak aku aja. Udah dibuatin sarapan sama kak An masa ...."
"Gapapa," ia menghentikan tanganku, "kamu pasti masih capek. Istirahat lagi aja. Satu setengah jam lagi kita jalan ya?"
Dia mengambil bekas makanku dan aku hanya bisa melongo saat dia mengusap puncak kepalaku. Aku mengangguk ragu sambil berjalan pelan keluar ruang makan.
Aneh banget sih tuh orang .... Lagi berusaha ambil hati aku kali ya? Aku hanya mengangkat bahu sambil menaiki tangga menuju kamarku.
***
Malam setelah sampai dirumah, aku melambai pada sahabatku Krista yang sudah mengantarku pulang. Aku lalu berjalan ke arah pintu rumah. Melepas slip on shoesku dan menentengnya di tangan. Namun sebelum aku mengetuk, pintu itu terbuka duluan dari arah dalam.
"Loh ... Kak An?" Aku terkejut.
"Malem banget pulangnya, Dek?"
Dia berusaha tersenyum walau wajahnya terlihat lelah. Sepertinya dia juga belum lama pulang karena masih memakai kemeja kerjanya.
"Iya. Abis nonton tadi. Kakak baru balik juga?"
Dia mengangguk dan bergeser saat aku masuk pintu dan berjalan ke arah dapur setelah menyimpan sepatuku di lemari. Aku berjalan ke arah kulkas, tenggorokanku terasa haus tapi mataku menangkap dua gelas jus dingin di meja dapur. Aku menoleh ke kanan dan kiri berpikir apakah ada orang disini tapi aku tidak melihat siapa-siapa.
"Aku bikin jus buat kamu, Dek ..." Dia menyodorkan satu gelas ke arahku yang aku terima dengan ragu.
Ini kebetulan apa gimana?
Aku meminum jus itu, mataku mencari keberadaan kakakku.
"Elle udah tidur dari tadi." Dia berkata seolah mengerti pikiranku.
Aku masih meminum jusku perlahan saat dia meletakan gelas kosongnya.
"Aku naik duluan ya ..." sahutnya sambil mengusap mulutnya dengan tissu.
Aku hanya mengangguk dan menatapnya menjauh. Dia kok jadi perhatian gitu? Aneh ....
Aku naik ke atas setelah jusku habis. Kamarku terletak di ujung, bersebelahan dengan kamar pengantin baru itu. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Entah mengapa mataku tidak biasanya melirik ke celah kecil itu dan tanpa sengaja aku melihatnya tengah membuka kemeja.
Langkahku terhenti, pikiran anehku seolah memerintahkan begitu. Aku seolah penasaran dengan tubuh kakak iparku itu. Apakah ini gejolak jiwa muda? Aku belum pernah melihat tubuh pria dewasa selain teman-teman sekolahku dulu.
Astaga! Kenapa aku jadi seperti seorang pengintip begini?
Aku setengah berlari dengan mata terpejam dan langsung menutup pintu kamarku. Jantungku berdetak kencang, dan aku merasa pipiku panas.
Kehadiran kak Drian jelas berpengaruh dirumah kami dan aku menyadari betul perubahan itu.
Jantungku melompat saat aku mendengar ketukan di pintuku. Aku menelan salivaku menghilangkan rasa gugup.
"Y-ya ... siapa?"
"Dek ...."
Suara berat itu. Astaga! Mau apa dia malam-malam mengetuk pintu kamarku? Apa dia tahu tadi aku ngeliatin dia?
Aku membuka perlahan dan terbelalak melihatnya topless. Tanganku panas dingin.
"A-ada a-apa, Kak?" Suaraku seperti orang tercekik. Aku harap dia tidak menyadarinya.
Tangannya terangkat, sebuah benda yang aku kenal disodorkan padaku. Gelangku?
"Jatuh didepan kamar Kakak tadi ...."
Dengan gugup aku mengambilnya. "Thanks ..." bisikku.
Dia mengusap pipiku seperti di dulu.
"Night, Lex ...."
Suaranya serak saat mengatakan itu dan dia berbalik kembali ke kamarnya. Aku mendengar suara kak Elle bicara lalu mendengar pintu mereka tertutup.
Aku tertegun dan menutup pelan pintu kamarku. Dahiku menempel ke daun pintu. Aku sedikit terkejut dengan sisi lain kak Drian. Dan sikapnya menimbulkan getaran aneh di hatiku. Seperti ada sesuatu meletup-letup saat dia menyentuhku, andai tubuhku memiliki thermometer pasti angka suhunya berubah-ubah.
Kenapa ya?
Aku terbatuk mengusir rasa gugup. Lexy, stop berpikir jika dia itu lawan jenismu, dia kakak iparmu, Lex! Kakak iparmu!
Aku berjalan ke arah meja rias, meletakkan tasku di pinggir meja kemudian menatap wajahku yang terpantul di cermin, pipiku merona, aku menyentuhnya, hangat. Mulutku menggembung saat aku menghembuskan napas pelan, aku enggan menyadari jika Kak Drian terlihat semakin tampan setiap harinya.
-tbc-