Bab 2

"Al kamu ngga capek kah jalan kaki mulu tiap mau ke kampus,"

Entah kalimat ke berapa kali dilontarkan gadis di sebelah ku. "Apa? Udahlah kayak ngga biasa aja lewat sini. Sudah mau dua tahun kita begini Mbak,"ucapku heran. "Sok ngga tau gitu nah Al. Lagian kalo ngga gini sepi,"ucap Ayesha ku angguki pelan.

"Lagian yang kerajinan itu kamu Cong. Tugas kelompok di jadikan tugas mandiri,"ucapku. "Kalo temen ku kayak kamu semua. Mau dibagi tugas ngga ada ceritanya juga begini weh,"ucap Ayesha hanya ku angguki saja. "Eh Sya. Pak Aufa yang mana orangnya,"ucapku.

"Pak Aufa? Astagfirullah Almira dodol. Mau satu semester kamu ngga tau dosen matkul kita??? Selama ini kamu kemana aja,"ucap Ayesha. "Loh iya kah,"tanyaku. "Ish makanya kalo lagi zoom jangan tidur mulu. Itu loh bapak mata kuliah pilot plant. Yang dijuluki anak-anak Cha Eun-woo nya jurusan,"ucap Ayesha nyaris membuat ku tersedak.

"Cha Eun-woo matamu. Perbandingan yang terlalu tinggi. Beneran dosen kah,"ucapku memahami kebodohan hakiki yang ku lakukan. Bisanya Almira dosen chat ku read aja sampai banyak . "Tumben bahas dosen. Katanya nanti ngga berkah ilmu nya,"ucap Ayesha. "Ih parah. Kemarin tuh ada no ngga dikenal. Aku di kasih tau nilai ku perlu perbaikan.

Makanya aku ke kampus. Ku kira kating makanya santai aja lah. Apalagi dari namanya itu kan cowok jadi ngga mungkin ku balas. Soalnya ngga lama Kak Regal chat Nah namanya Aufa Falah,"ucapku. "Ya Allah kali ini ku akui kamu dodong banget sih Al. Bisanya ish parah.

Kamu ngga suka sama mata kuliah ngga juga sebodo amat ngga tau dosen nya, ngga tau isinya? Tau Pak Aufa sendiri yang chat semalam ku suruh kamu belajar betul betul Al,"ucap Ayesha panik. Padahal aku masih stay oke. "Ya udah baca baca aja. Ku bilang kan. Aku ngga suka gamtek tapi mending itu daripada pilot plant. Ribet weh,"ucapku. "Hah aku ngga ikut ikut Al. Pokoknya tunggu di pintu,"ucap Ayesha.

"Jangan begitu nah Sya. Berbaik hati lah pada teman mu ini,"ucapku menatapnya lekat. "Masalahnya itu fatal Al. Ngga tau lagi kek mana. Sudah cuma di read, baru kamu juga bodo amat lagi sama beliau. Padahal cara nilainya gampang tau Al,"ucap Ayesha gemas sendiri.

"Namanya ngga suka. Mana ku pelajari. Tiap ada mata kuliah nya aja ku tinggal tidur. Waktu tugasnya aku nyalin kau. Ya hehe pasrah,"ucapku. "Anak siapa sih ini,"ucap Ayesha memukul lengan ku keras. Bukan suatu hal yang baru ketika ada dua mahasiswi saling memukul di sepanjang jalan sampai kampus.

"Yang mana meja Pak Aufa,"tanyaku begitu sampai di jurusan. "Masuk aja. Ini loh sepi, kalo ada tulisan namanya berarti beliau sudah itu,"ucap Ayesha berlalu. Begitu yakin dengan kalimat Ayesha, akhirnya ku langkahkan kaki memasuki ruang dosen.

"Wallahu Alam bi showab,"ucapku refleks begitu melihat dosen dalam kondisi lengkap. Ku tundukkan kepala sembari berusaha mencari meja sosok yang ku cari. "Mahasiswa yang di pintu ada kepentingan apa?,"ucap Melinda membuatku segera mendongak. Duh duh harus kah ketemu dosen yang sangat disiplin ini heee.

"Cari meja Pak Aufa Bu,"ucapku pelan. "Mahasiswa semester berapa ngga tau meja dosen,"ucap Melinda sesuai dugaan ku. "Semester 5 Bu,"ucapku meringis. "SEMESTER 5 NGGA TAU MEJA DOSEN!!!?? CARI NAMANYA PAK AUFA. MINTA TANDA TANGANNYA SAMPAI PENUH DI KERTAS INI. SAYA TUNGGU SEBELUM SHOLAT ASHAR,"ucap Melinda seperti sengatan di syaraf ku.

"Baik Bu,"ucapku mengambil kertas karton dengan wajah masam. Kertas karton ges, kertas karton. Tau kan sebesar apa besarnya. Mataku tetap fokus mencari hingga akhirnya dapat ku temukan namanya barulah ku hela nafas lega sejenak. "Permisi Pak,"ucap ku. "Almira Adya Kartika?,"tanya Aufa ku angguki.

"Silahkan,"ucap Aufa mempersilahkan ku duduk. "Almira. Saya ngga tau entah kebencian atau hal apa yang membuat nilai Anda di mata kuliah saya begitu timpang. Saya lihat IPK Anda dari semester 1 tidak ada masalah. Mungkin mata kuliah saya kurang menarik, saya tidak mempermasalahkan itu. Tapi jelas dengan nilai yang bahkan tidak masuk untuk nilai D apa yang bisa saya lakukan,"ucap Aufa membuatku mendongak.

"D ngga sampai,"ucapku refleks malah mengulangi kalimatnya. "Iya Almira ada yang ingin dikatakan,"tanya Aufa. "Tidak ada Pak,"ucapku sudah pasrah. Bisanya sampai sebodoh ini. "Saya sudah konsultasi kan dengan beberapa dosen dan semua dosen tidak punya masalah bahkan memuji Anda. Anda bisa memberi penjelasan,"tanya Aufa.

"Saya aja ngga suka mata kuliahnya. Eh maksud saya susah memahami materi Pak,"ucapku merutuki bibir yang susah di ajak kompromi. "Susah di bagian mana Almira? Saya melihat semua nilai tugas Anda baik-baik saja,"ucap Aufa membuatku makin semakin dirudung bayangan DO.

"Almira,"panggil Aufa membuatku tercengang. "Untuk tugas saya meminta bantuan Ayesha Pak. Tapi saat bertemu dengan soalnya saya ngga paham sama sekali,"ucapku. Bagaimana mau paham sedangkan materi nya saja ngga pernah ku baca. "Lalu bagaimana Almira solusi nya? Nilai nya harus saya setorkan nilai minggu depan,"ucap Aufa.

"Sa saya izin meminta tugas sebagai perbaikan apa boleh Pak,"tanyaku setengah mati. "Tugas? Baik saya beri tugas. Kumpulkan ke rumah saya besok. Karena saya besok tidak ada jadwal di kampus. Kali ini saya harap Anda kerjakan dengan baik. Karena saya hanya sekali menerima perbaikan untuk nilai,"ucap Aufa ku angguki pelan.

"Izin Pak alamat bapak,"tanyaku pelan. "Saya sudah shareloc sewaktu dirumah mungkin chat nya tertimbun di ponsel Anda jadi tidak sadar,"ucap Aufa seperti tamparan keras. Weh kenapa juga bisanya aku begitu bodo amat dengan mata kuliah sampai bisa separah ini sih.

Sementara dirinya menyiapkan tugas, pikiran ku masih kesana kemari bersama dengan kertas yang ku bawa. "Gimana lagi yang di kertas karton,"ucap ku menggeleng lelah. Hah mata kuliah apa itu pilot plant. Bisa bisa salah paham lagi gara-gara minta tanda tangan. "Masih ada yang ingin di tanyakan dek,"tanya Aufa. "Izin Pak.

Bu Melinda menugaskan saya meminta tanda tangan bapak di kertas karton sampai penuh Pak,"ucapku. "Saya? Bu Melinda,"panggil Aufa membuatku makin ingin pasrah saja. Sungguh gerbang keluar makin tampak di mata ku. "Iya Pak Aufa,"ucap Melinda. "Anda ada menugaskan mahasiswi kah hari ini,"tanya Aufa.

"Mahasiswa? Oh iya mahasiswi semester 5. Ngga tau dimana meja dan siapa nama dosen terkait,"ucap Melinda seperti sengatan mengenai kesadaran ku. "Anda ngga tau nama saya Dek? Jadi selama ini zoom Anda kemana Dek,"tanya Aufa membuat seluruh tanganku gemeteran.

"Maaf Pak. Saya hanya takut salah,"ucapku jelas berbohong. "Saya ngga tau Anda punya masalah apa dengan mata kuliah baik dengan saya. Besok jangan lupa. Saya tunggu di rumah. Mana kertasnya,"ucap Aufa meminta kertas yang dimaksud. "Di kertas ini?,"tanya Aufa tampak kaget. "Iya Pak,"ucapku hanya bisa menjawab iya, baik, siap dan tidak saja.

"Mungkin saya ngga sepenting pacar kamu. Tapi tetap saja mata kuliah itu sudah jadi konsekuensi Dek,"ucap Aufa membuatku sedikit tergelak. "Pacar? Boro-boro pacar, baru mau deket udah di geprek sapu sama Ibu,"ucapku tanpa sadar. "Begitu Almira. Lalu apa yang menganggu mu?,"ucap Aufa membuatku mendongak.

"Tidak Pak tidak ada,"ucapku merutuki kenapa penyakit kebiasaan refleks begitu ngga bisa hilang. "Bibir agak tau diri sedikit coba,"ucapku menepuk bibir ku sendiri. Ku dengar kekehan pelan membuatku ingin menghilang saja. "Sudah. Jangan lupa tugasnya dan lagi jangan di coret sana-sini lagi Almira.

Saya tidak bisa mengoreksi dengan benar,"ucap Aufa membuatku mengernyitkan kening. "Coretan?,"ucap ku heran merasa ngga pernah melakukan. "Seperti ini? Apa bisa saya koreksi Almira,"ucap Aufa mengangkat kertas yang entahlah. Mata kuliah Pilot plant tapi bisa nya ada segala printilan yang ngga perlu. Ketumpahan minyak gara-gara untuk alas gorengan lagi.

"Baik Pak,"ucapku menerima kertas karton yang telah ditandatangani berlalu keluar sebelum menghadap ke Melinda. "Permisi Bu,"ucapku pelan. "Sudah dapat namanya Pak Aufa dek,"tanya Melinda. "Siap sudah Bu,"ucapku. "Pak Aufa dosen praktikum atau apa,"tanya Melinda.

"Dosen mata kuliah,"ucapku siap dengan semua semprotan ayat-ayat cinta nya. "DOSEN MATA KULIAH NGGA TAU NAMANYA DEK!!!??? KAMU KEMANA TIAP KULIAH,"tanya Melinda hanya ku jawab dengan anggukan kepala tertunduk. "Secuek itu dengan kuliah bisa dibenarkan?,"tanya Melinda menurunkan nada nya. "Siap salah Bu,"ucapku.

"Sudah minta maaf dengan Pak Aufa,"tanya Melinda. "Sudah Bu,"ucap ku. "Sudah. Sekarang silahkan keluar,"ucap Melinda ku angguki. "Kertas nya Bu?,"tanyaku. "Kamu bawa saja,"ucap Melinda membuatku mengangguk pasrah saja. Ngga di cek juga trus ngapain aku disuruh begini.

"Pucetnya muka mu Al,"ucap Ayesha menarik ku duduk di depan jurusan. "Gimana ngga pucet. Nilai ku aja ngga sampai untuk D. Baru masuk kena omel gara-gara ngga tau meja nya. Kau juga Sha astaga baik banget. Ngga papa Al masuk aja. Jam segini sepi. Begitu masuk kena semprot Bu Melinda. Baru ini nih.

Gara-gara ngga tau aku disuruh minta tanda tangan di sini. Belum lagi besok aku disuruh kumpul di rumahnya. WHAA,"ucapku tanpa jeda sebelum menelungkupkan kepala di meja. "Baru kamu tau itu bibir ku ngga bisa diajak kompromi. Refleks jawab terus,"ucapku sebal sendiri. "Ish ngerinya. Kok bisa sampai E Al??? Kamu ikut aku terus kan,"ucap Ayesha.

"Kamu ngga lupa gimana tulisan ku kalo ulangan kan,"ucapku membuat Ayesha bungkam. "Wey ngapain kalian ini kok kayak habis tarung aja,"ucap Revan, teman sekelas ku juga. "Nah mumpung kamu disini Van. Pilot plant kan mata kuliah kesukaan mu. Bantuin Almira nah. Dipanggil Pak Aufa dia nilai nya jelek,"ucap Ayesha.

"Tumben kamu punya masalah mata kuliah Al,"ucap Revan seolah tak percaya. "Kalo ngga suka ngga akan ku pelajari Van. Jangankan buka materi, zoom aja tidur terus,"ucapku yakin. "Parah sih. Ya sudah kirim aja ntar malem ku kirim jawaban nya,"ucap Revan. "Baiknya teman ku ya Allah. Semoga nilainya Revan A ya Allah dan mudah diterima kerja,"ucapku.

"Udah udah Al. Yang ini ap kok kamu punya banyak tanda tangan Pak Aufa,"ucap Revan menatapku penuh tanya. "Van cukup. Cukup aku yang maki maki dia karena terlalu bodo amat sampai ngga tau nama dosen sama wajahnya. Chatnya aja di ghosting coba,"ucap Ayesha.

"Gila sih berarti bukan cuma Kafa aja yang di ghosting,"ucap Revan menaik turunkan alisnya. "Apalagi Kafa. Udah eh malah ngga jelas,"ucapku. "Iya he kasihannya Kafa di ghosting terus. Padahal tuh serius nya ngga di ragukan lagi,"ucap Ayesha.

"Eh eh. Yang paling memabukkan apa,"tanyaku. "Soju? Amer? Bir?,"tanya Ayesha. "Vodka? Wisky? Absinthe? Apa hubungannya? Kafa kan anak baik-baik ngga mungkin lah,"ucap Revan. "Kalian mantan bartender kah? Bisanya tau seluk beluknya. Khamr atau hal yang paling memabukkan itu bagiku bukan semua itu. Tapi jadi budak cinta. Aku manusia normal wey punya suka.

Tapi semua itu sekarang ku sadari cuma kebodohan. Malah ngga bisa fokus. Jadi aku ngga mau lah jadi beleng-beleng disamping takut di marahi mama ku,"ucapku. "Oalah. Tapi kan wajar kalo kamu suka Al,"ucap Revan. "Wajar sih wajar tapi efeknya cuma bisa dodol tau lah.

Aku pernah waktu SMA peringkat ku bisa turun dari 1 angkatan jadi 20 angkatan hanya karena waktu itu aku suka sama temen ku sampai buat ngga fokus. Dari situ aku mulai paham arti nya,"ucapku. "Kalo kamu mau nikah kek mana kalo ngga suka dulu,"ucap Ayesha. "Woi lah ngga nikah juga. 3 semester masih membayang weh,"ucap Revan.

"Makanya itu. Ibu ku aja loh bisa nikah tanpa suka. Tanpa taaruf gara-gara bapak langsung nikahi sekalian lamar gimana coba? Jodoh udah ada yang ngatur bro. Yang penting kita urus dulu kek mana masa depan kita,"ucapku. "Pantes Kafa semakin kelepek kelepek ya. Begini ternyata bentuknya Almira Adya Kartika,"ucap Revan membuatku memutar bola mata malas.

"Kalian ini. Aku cuma temen belajar nya aja,"ucapku jujur. "Heh kamu kan bodo amat. Makanya mikir dua sudut pandang. Siapa yang ngga baper tiap hari dibawain kotak makan. Belum itu di perhatikan terus,"ucap Ayesha. "Loh salah kah? Ya sudah semester depan aku bawa kan buat yang lain juga. Pake tumpeng lah kalo bisa,"ucapku sebal. Ada aja yang diperhatikan itu nah.

Bab 3

Malam mulai menunjukkan pesona nya. Begitupun dengan makhluk di dalamnya. "Sudah kah Al,"tanya Ayesha membawa sepiring bakwan. "Sedikit lagi,"ucapku masih fokus. "Ini nah bakwan,"ucap Ayesha. "Weeh makasih zheyenk pasti ikuti saran ku kemarin kan,"ucapku.

"Percaya diri banget Bu. Lagian manusia mana yang pake tepung kanji buat masak bakwan heh. Masak sayur apa kamu ini,"tanya Ayesha melihat lauk dan sayur yang sudah ku masak. "Versi mau nikah ngga nih?,"tanya Ayesha. "Kamu nih kenapa sih doain aku nikah terus heh? Kamu tau lah doa yang aneh begitu biasanya terkabul ke dirimu sendiri loh,"ucapku.

"Hah kalo bisa mau request aku. Cukup yang paham agama aja lah. Baru cover nya yang kayak Cha Eun-woo. Suaranya sebening Jong kook jadi panggil aku tiap pagi kalem gitu. Bangunin pagi, Sya bangun yuk. Whaaa,"ucap Ayesha. "Dasar K Popers. Sampai aku jadi presiden ngga ada yang begitu weh. Sudahi halu mu.

Mari bantu aku nulis. Meskipun di dunia jodoh mu masih abu abu. Tapi kalo kamu bantuin aku nulis. Pasti pangeran mu di surga minimal kayak korean mu itu. Nanti kau bisa dapat kenikmatan surga Firdaus Sya,"ucapku tersenyum penuh keyakinan.

"Itu mah alamat dilamar malaikat Malik. Udahlah Al kerjakan aja. Ku temani sambil nonton Vicenzo,"ucap Ayesha merebahkan diri di atas ranjang ku. "Gantinya aku temani kamu ke kampus,"ucap Ayesha membuatku mengingat sesuatu. "Oh iya coy untung kau ingati saudara beriman. Aku besok disuruh ke rumah bapak,"ucapku.

Byur

"Woi kertas ku tuh nah,"ucapku melihat kertas ku basah. "Asli ngerinya kau. Terlalu malas kah sudah bapak itu ya makanya suruh ke rumah biar beres,"ucap Ayesha. "Itu sudah. Aku sebagai anak yang ya udahlah selesai beres kan jadi seneng kalo sehari beres,"ucapku menyiapkan kertas baru.

"Paling ngga B+ bagus lah masih di pajang wak,"ucap Ayesha. "Aish tetep jelek. Barangkali mati listrik di rumah Pak Aufa, terus dikasih nilai A kan ngga tau,"ucap ku. "Itu baru halu. Semoga cepet kelar dan ngga dipersusah ya beb. Berdasar cerita kakak tingkat kan kau tau sendiri kalo dosen suruh ke rumah dosen sudah ngga mau ada urusan makanya harus selesai hari itu juga.

Revisinya juga harus hari itu juga,"ucap Ayesha. Dasar dua makhluk ambis, bahkan nilai B+ seolah nilai E saja. "Makanya besok jangan biarkan tidur habis subuh,"ucapku. "Gampang. Untung kembarannya Lisa Blackpink pinter,"ucap Ayesha entah bagaimana caranya berpikir.

Mungkin seisi otaknya sudah dibubuhi seluruh aktris korea bergamis dan berjilbab tersenyum atau artis korea berpeci. Melihatnya yang terus fokus membuatku tak tahan mengusilinya. Perlahan ku arahkan tanganku menuju tengkuknya.

"WHAAA,"ucap Ayesha panik bukan main membuatnya melompat dan bergerak absurd. Sontak tawa ku pecah melihatnya tertawa kencang. "Eh asem kertas ku baru aja ku tulis di kasih basah. Ngga tidur tidur aku ini,"ucapku sebal sendiri melihat kertas ku ketumpahan air dari gelas yang baru saja ku pakai minum.

"Kualat. Sudahi mainmu Al. Sini nah masih bisa ditolong. Selesaikan yang lain,"ucap Ayesha mengipasi kertas tugas ku. "Hah sampai cuma B ngga terima aku ini,"ucapku sebal. "Halu kau Al. Lagian kalo mau nilai A. Jangan rajin pas di perbaikan beb,"ucap Ayesha. "Lagian nyasar kali tuh mata kuliah,"ucapku tak terima.

"Sudahlah ndak usah ngelak, kau memang sudah rencana bodo amat dengan mata kuliah pilot plant. Jadi silahkan kerjakan tugasnya Puang. Mataku sisa 5 Watt ini. Daeng Lee Seung Gi sudah melambai ini,"ucap Ayesha tak bisa ku tolak kecuali yang terakhir. "Sudahi itu halu mu Sha. Masih ada yang Indo kenapa ngga itu aja,"ucapku.

"Jangan. Kalo Indo malah baper bikin dosa. Kalo gini asal ceplos kalo terkabul alhamdulillah kalo ngga ya udah. Ngga baper juga,"ucap Ayesha hanya bisa ku angguki. Biarlah otaknya memikirkan jalan pikirnya sendiri.

-^-

Udara dingin khas pegunungan berpadu rapi dengan kabut tebal membuatku mengeratkan jaket yang ku pakai. Bibirku tak bisa berhenti mencibir makhluk yang mengaku akte nya Korea. Minta tolong ingatkan jangan biarkan tidur habis sholat Subuh malah kamar ku di semprot parfum malaikat Subuh.

Jangankan tidur lagi berpikir masuk kamar aja ogah jadinya. Makhluk itu entah kapan bisa berpikir sedikit lebih cerdas. "Almira weh. Ngelamunin aku memang ya wajar Al. Cuma ya jangan pas di jalan dong,"ucap Ayesha terus mengoceh panggilan yang tersambung lewat headset. "Wle. Kamu dapat darimana parfum itu maemun. Awas kamu kambuh lagi gila mu,"ucapku.

"Parfum apa beb? Aku paling paham masalah parfum. Ntar ku rekomendasi kan. Kan katanya suruh bilangin. Kalo aku cuma bilangin percuma. Ntar ku tinggal nemplok lagi ke kasur. Ingat memang aku. Gara-gara kamu susah di bangunin, akhirnya kita berdua telat nge lab baru dihukum,"

"Ngga usah sok iya gitu nah. Parfum malaikat Subuh yang kamu pake semprot kamar ku tadi Subuh,"ucapku gereget.

"Ouh wangi ya beb,"

"Eom wanginya Masya Allahu Akbar. Entah berapa kali aku sujud syukur Al. Har

"Mbak,"panggil Mas ojek online memotong kalimat ku. Baru saja mau ku tanyakan, ku lihat sekeliling ku menahan tawa sembari tersenyum kecil-kecil. Kenapa juga tadi aku terlalu menjiwai sampai ngga sadar waktu motor berhenti di lampu merah. "Kalo ngamuk sama temennya nanti aja Mbak,"ucap Mas ojek online membuatku ingin mati saja.

'Asem jadi lulusan masyarakat kalo gini ceritanya,'ucapku merutuk dalam hati. "Makasih Mas,"ucapku udah kepalang malu saat motor kembali dijalankan. "Silahkan dilanjutkan lagi Mbak. Nanti kalo ada lampu merah lagi saya kasih tau,"ucapnya ingin ku tampol saja. Gara-gara mata kuliah satu ini akhirnya jadi begini.

"Al kenapa? Kamu ngga papa kan? Al weh? Aku sawan ini jadinya. Almiraaa,"

"Diam kamu Sha,"ucapku sebal tanpa mematikan panggilan hanya terdengar nyanyian entah bahasa planet mana lagi yang dia nyanyikan. Mengabaikan suara nya, mataku mulai menyusuri kawasan yang sepertinya mulai dekat dengan rumah Pak Aufa. Mari kita basmi pilot plant yang menyesakkan baru habis itu bisa ku layangkan jari ku mengemas koper.

-^-

"Mukanya lucu,"

"Kakak kok cantik,"

"Ih baju nya kayak di pasar malam waktu itu lah,"

"Tasnya warna kesukaan ku,"

"Kakinya ngga keliatan. Ehh cuma dua,"

"Kakak mau ngaji pake jilbab?,"

Punya anak main sembarang. Aku dengan niat tulus meskipun 3/4 nya paksaan dan seretan Ayesha datang begitu manis dan rapi. Jangan lupa tugasnya yang ku tulis dengan tulisan yang ngga pernah terlihat di semua tugas yang pernah ku kumpul seumur hidupku demi menyelamatkan dari nilai E.

Ctak

Lunga awakku sing kudu lunga

"Kakaknya suka koploan ternyata,"

Aku hanya bisa menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya. Ku matikan musik yang terputar, sembari merapikan lagi headset yang mereka tadi tarik. Ngga tau dia damage nya lagu Cidro 2 kalo Woro Widowati yang cover.

"Permisi ya Dek. Saya mahasiswi Pak Aufa. Bapak tadi minta saya datang dulu ke rumah,"ucapku lemah lembut sembari melepas masker. "Bapak siapa? Bapak loh kerja nanti sore datang. Dah lah koploan aja,"ucap anak kecil berbaju merah jambu yang tadi menarik headset ku.

"Ngga gitu Dek. Mungkin salah sasaran ya. Saya mau ada urusan dengan bapaknya,"ucapku berusaha tetap tenang. "Apa sih kak kok ngga jelas? Ibun liat nah Kakak gaje,"ucap anak berkuncir 2 berlari masuk membuatku sedikit lega. "Kampungan,"ucap anak kecil yang duduk di atas sofa ku rasa dia kelas 3.

Ayolah sekecil kalian, kalo aku ngatain tamu pas ngga ada orang tua itu sudah kayak gali kubur. Jangankan ngatain, lupa salam masuk rumah sudah di geprek sapu. Like A Squidword said : Sepertinya tatakrama belum ditemukan di sini.

"Oh Mbak nya datang toh,"ucap seorang wanita yang ku rasa eh masa iya ini istri Pak Aufa. Lain deh kali aja kerja istrinya ngga mungkin dia. "Iya Bu. Saya mahasiswi nya tadi diminta datang dulu,"ucapku. "Alah ngga usah sungkan. Ayo masuk Mbak. Barangnya taruh di atas meja aja. Ayo ikut Ibu Mbak,"ucap wanita berjilbab itu malah membawaku berlalu masuk.

"Mbak dapur Ibu lagi berantakan ini,"ucapnya membuatku segera bergabung membereskan. "Ngga papa Bu. Mau masak apa Bu,"ucapku melihat kompor yang tengah menyala. "Oalah tumis biasa Mbak. Sudah ngga usah Mbak,"ucapnya ku abaikan. Lagian siapa suruh bawa aku kesini coba. Ngga lama aku selesai dari sini bukan cuma dapat nilai A untuk matkul kurang akhlaq.

Tapi bakat masak dua wajan bersamaan. Satunya berisi sayur sop sedangkan satunya tumis kangkung biasa. Nanti begitu pulang bisa ku jadikan kebanggaan tersendiri di mata Ayesha. Auh mengingat nama dan ulah nya seharian ini cukup membuatku sebal saja.

Ku lihat sayur yang sudah mulai layu membuatku memcetuskan masa ini paling sakral bagiku. Bisa saja sebenarnya kalo aku menjadi finalis Master Chef jika masa ini bisa terlampau baik. "Udah Nduk,"tanyanya membuatku setengah mati gugup. Dengan keyakinan masih ada makhluk seperti ku.

Akhirnya ku tabur garam sesuai hati nurani. "Bu,"ucapku pelan membawa satu sendok tumis yang ku taruh di mangkuk. "Walah Nduk. Ginjal Ibu nangis ini,"ucapnya membuatku tidak lagi kaget. Bukan sekali ku dengar komentar begini. Atau ngga heh darah tinggi ini. "Maaf Bu. Saya ngerusak acara malah,"ucapku. Maksud hati mau kayak di tellywood, tampak wajah bersalah tapi wajahku terlalu kurang akhlaq memang.

Malah jadi seolah cengengesan. "Ya Allah giliran sedih jadi kayak cengengesan. Giliran seneng kayak habis ketimpa beton,"ucapku refleks sebal sendiri. "Ngga usah sedih Mbak. Tinggal tambah air, beres,"ucapnya sembari mencubit kecil pipi ku. "Ibu mau masak apalagi biar saya bantu,"tanyaku.

"Udah Mbak. Udah dimasak semua kok. Mbak kalo di kost suka masak ya,"tanya nya. "Nggak Bu. Saya malah jarang masak kalo di kost. Temen kost saya ngga ada yang tahan kalo saya masak. Soalnya suka buka pabrik garam setiap masak Bu. Hehe,"ucapku tersenyum kecil. "Mbak mbak. Nanti kasih tau Ibunya ya. Bu cari kan aku mantu ya,"ucapnya tergelak.

"Mantu lagi kan. Saya yang ngga masuk kriteria mantu Bu,"ucapku menahan senyum. Tidak perlu ku jelaskan satu persatu cukup waktu yang nanti menjelaskan. "Kata siapa ngga masuk kriteria mantu,"ucapnya. "Kata Ibu saya. Pasti setiap hari bilang : 'Anak gadis itu harus banyak di dapur, bukan pergi jadi asisten tukang bapak mu'. Gitu Bu,"ucapku lagi-lagi membuatnya tergelak.

"Ibun. Mbak Nania tumpahkan jus di kertas Kakak,"

"Mbak bisa liat dulu kah? Ibu ngga tahan mau BAB,"

Kertas? Kakak? Kata ini dipakai untuk siapa? Apa ada kata Kakak lagi di rumah ini? "Punya anak ngga di urus ya begini. Lagian banyak betul juga anaknya coba diurus yang bener gitu. Mana lagi istrinya sih. Punya anak banyak coba di urus. GUSTI ALLAH!!!???,"ucapku segera membawa keluar kertas untuk dijemur. Aku kerjakan dengan sepenuh hati loh.

"Almira kenapa diluar?,"

"Nggak usah tanya deh. Cukup ya becanda nya. Kamu ngga tau ini tulisan paling rapi sepanjang sejarah aku ngumpul tug,"ucapku baru menyadari sesuatu. "Kenapa kertasnya basah?,"tanya Aufa. "Mas Aufa. Mbak Nania ngga sengaja tumpahkan jus di atas kertas Kakak itu,"ucap gadis berkuncir dua.

"Mas? Sejak kapan anak manggil Mas ke bapak,"ucapku lirih. "Memangnya kamu taruh kertasnya dimana Almira? Dan kamu kemana saja kenapa kok bisa sampai ketumpahan jus,"ucap Aufa bukannya mendukung ku. "Saya taruh di meja Pak. Tadi saya ketemu ibu-ibu, trus di ajak masuk. Suruh tinggalin kertas diluar,"ucapku tak mau kalah.

"Ih masa salahin Ibun. Kakak itu yang salah taruh kertas sembarangan,"ucap gadis berbaju merah.

"Loh saya ngga salahkan. Saya hanya mengatakan tadi pagi bagaimana bisa saya taruh kertas disana,"ucapku.

"Alah Kakak memang dari awal suka cari masalah loh,"

"Cukup. Kalian masuk. Saya ada urusan dengannya. Silahkan duduk,"ucap Aufa memutus perdebatan. "Dasar suka cari muka,"ucap gadis berbaju merah sebelum berlalu masuk. "Nania kamu harusnya minta maaf Dek,"ucap Aufa membuatku ingin menjitak langsung gadis itu.

"Ngga penting,"ucapnya berlalu masuk. "Ada makhluk bentukan kek gitu. Amit amit punya anak begitu. Iih,"ucapku refleks. "Iya Almira?,"ucap Aufa. "Ngga papa Pak,"ucapku menahan diri. Mood ku benar-benar hancur hanya karena perjuangan biar nilai ku ngga jatuh. "Almira dengan begini saya ngga bisa membaca nya sama sekali. Tulislah lagi saya tunggu,"ucap Aufa dengan enteng nya.

"Asem. Semalaman aku ngerjain disuruh nulis ulang lagi,"ucapku refleks entah racauan apa yang terkuak. "Ada masalah Almira?,"tanya Aufa. "Ngga ada Pak,"ucapku tersenyum kecil. "Saya masuk sebentar. Kerjakan no 1-5 saja kalo gitu,"ucap Aufa hanya ku angguki. Biar cuma sampai no 5 tetep aja sakitnya tuh nah. Aku sudah ngerjain sampai keriting malah disuruh nulis ulang.

"Loh Ibu tadi kasihan nunggu diluar dikerjain keponakan mu terus. Mending sama Ibun kan,"ucap wanita tadi membuatku hanya diam dalam gerakan ku.

"Iya Bun. Tapi Almira itu mahasiswi ku yang mau ngurus tugasnya. Kan kasihan kalo tugasnya ngulang,"

"Mahasiswi? Iya tau Ibu kalo dia mahasiswi mu. Apa salahnya mengajak calon mantu Ibu masak?,"ucap wanita tadi. "Salah orang kayaknya Bu. Saya mau perbaikan nilai. Saya bukan calon mantu Ibu,"ucapku refleks menjawab. Pantes tadi disuruh masak.

"Bun. Yang mau Aufa kenalkan bukan Almira. Namanya Citra. Dia ngga bisa datang hari ini karena masih ada urusan di kampus. Aufa lupa kasih tau,"ucap Aufa tak begitu ku respon. Lagian yang bener aja, mahasiswa dengan dosen. Kisah klasik penulis.

"Mbak ternyata salah. Mbak Almira mau nugas,"ucap gadis berbaju merah. "Ih lagian Mbaknya ngga ngomong kalo mau nugas. Kan kita kiranya calon istri Mas Aufa,"ucap Nania. "Sudah ya. Terus kalian bilang bapak yang mana,"ucap ku. "Lagian lucu sih. Masa panggil Mas Aufa pake Pak,"ucap gadis berkuncir dua.

"Sejak kapan juga Mas Aufa mau cari yang pake jilbab? Mbak ini juga pendek. Nanti ngga cocok kalo naik pelaminan. Terlalu pendek untuk Kak Aufa. Tapi kalo masak cocok lah,"ucap Nania. 'Yang mau jadi istri Mas Kebanggaan mu juga siapa?,'ucapku dalam hati menahan sebal. "Dek udah. Biarkan Almira ngerjain tugasnya dulu,"ucap Aufa menengahi.

"Oalah maaf ya Mbak,"ucap wanita paruh baya tadi hanya ku angguki pelan. "Ngga papa Bu. Kan aku jadi bisa belajar masak tadi,"ucapku tersenyum lebar. "Mas ngga bisa sama yang ini aja kah? Ibu sudah terlanjur cocok sama Almira,"ucap nya mulai melantur kemana mana. "Bun. Almira nanti ngga selesai selesai tugasnya. Kan Ibu sudah bilang iya sama Citra dan baru pertama kali juga dengan Almira,"ucap Aufa.

"Hah iya iya,"ucapnya berlalu masuk hanya ku gelengkan. Gara-gara salah server aku yang ngga mendapat keuntungan apa-apa ini. Harusnya aku yang protes, sekarang bahkan aku harus menulis lagi. Aku ngga mendapat keuntungan apa-apa ini. Ck merepotkan. Lagian udah tua kenapa ngga nikah nikah sih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED