"Heh cowo sinting! Rapihin baju lo dulu, tadi gue udah bilang kan? Gausah mempersalahkan hidup orang nanti lo!" omel Sabiru pada Elang yang berada dilapangan untuk upacara bendera.
Elang Albimanyu, pemuda yang tidak suka kerapihan dalam berpakaian, membuat Sabiru terheran-heran, bahkan bingung karna setiap seninnya mengulang kesalahan yang sama. Baju yang tidak dimasukkan, memakai topi dengan benar, memakai dasi tidak rapih, padahal dirumah setau Sabiru, Elang mempunyai adek perempuan dan kakak perempuan, apa tidak dinasehati atau bagaimana?
Elang mendengar hal itu memindah tempat jadi dibelakang, seolah-olah malas mendengar ocehan dari Sabiru. Sabiru melihat gerak-geriknya seperti itu pun kemudian menghampirinya, "lang, lo kenapa si? Setiap hari senin kelakuan lo sama!"
"Lo itu osis, Lang.. Seharusnya lo bisa menjadi patokan buat murid-murid yang lain." lanjutnya.
Pemuda itu memutarkan bola matanya malas, "gua ga peduli." jawabnya dengan dingin.
"Ga peduli gimana? Sehar-"
"ANAK-ANAK HARI INI ADA UPACARA TOLONG SEGERA DILAPANGAN UNTUK MELAKSANAKAN UPACARA BENDERA HARI INI! JIKA KETAHUAN MASIH ADA YANG DIKELAS KARENA BERALASAN TIDAK JELAS AKAN DIHUKUM, MAKA ITU SETIAP KELAS AKAN DI CEK SATU-SATU." tegas ibu kepala sekolah membuat Sabiru menoleh kearah sumber suara, sampai membuat para murid langsung berdatangan. Elang menatap datar pada sumber suara, baginya pelaksanaan hari ini adalah sebuah amanat yang sia-sia pada akhirnya.
"Awas aja lo." peringat Sabiru pada Elang.
Setelah itu, Sabiru pergi untuk menata barisan dengan Bian, kemudian setelah selesai Sabiru dengan Bian pun kembali pada barisan kelasnya karna Sabiru dan Bian adalah sekelas.
Sabiru menoleh kearah barisan sebelahnya, karna itu barisan kelas Elang, namun ia memperhatikan setiap barisan yang berpasangan, ada satu yang tidak berpasangan, membuat Sabiru menghelakan nafasnya kasar.
"Dia kemana si!?" desis Sabiru. Ia memegang handpone untuk mengirim pesan pada Elang, lagian ia benar-benar greget pada pemuda satu ini, dikenal sebagai OSIS namun tidak dengan kelakuannya.
"Kenapa kamu Sa?" tanya gadis dengan ramput kepang dua. Gadis cupu, dan juga lugu, nama lengkapnya adalah Asri Kasih yang merupakan teman sekelasnya yang sangat manis jika tersenyum tak kalah dengannya.
Sabiru menoleh kearahnya, kemudian ia meletakkan handpone didalam satu atas baju OSIS-Nya, "sri, lo liat eh maksudnya aku.. Kamu liat Elang ga?"
"Elang? Elang yang seharusnya berpasangan dengan cowo yang dari tadi sendirian?" tujuk Asri membuat Sabiru melotot tak percaya. "Dari tadi sendirian? Ar-artinya.. Elang ga ikut upacara hari ini?"
Dengan lugunya, Asri menggelengkan kepalanya cepat. "Ga atuh, kan Asri udah bilang, dari tadi cowo itu sendirian."
"Cari mati dia." monolog didengar oleh Asri yang membuat Asri merinding mendengar hal itu.
"Mat-mati?" ucapnya berbata-bata menatap Sabiru yang menundukkan kepalanya, wajahnya sedikit kesal.
"Ha? Kamu salah dengar kali. Bukannya mati, tap-"
"BAIK ANAK-ANAK MUNGKIN ITU SAJA YANG BISA SAYA SAMPAIKAN UNTUK AMANAT PAGI INI. MOHON MAAF JIKA ADA TUTUR KATA YANG KURANG BERKENAN, MOHON MAAF KARENA JUGA NAMANYA MANUSIA BIASA HAHA!"
Bian diam-diam mendengar semuanya, karena barisannya di depan Sabiru. "Cari hukuman dia."
"Gua harap, Elang ga pernah suka sama Sabi dan akan terus benci sama dia. Gua ga suka kalo Sabi deket sama Elang,"
🍃
"Kamu ngapain Lang disini! Main ngerorok segala begitu, emang kamu bagus begitu ha!? Sok-sok'an kamu! Kamu itu osis, Elang!"
Elang hanya menoleh sejenak, lalu menatap di depan dengan mengisap rokok yang berada dijarinya itu.
"Lang! Dengerin bapak, kamu itu masih sekolah. Kamu ngapain begitu? Kamu mau merusak diri?" tanya guru bk padanya. Guru yang dikenal asik, gaul, suka becanda, guru favorite.
Elang kekeh, "mau rusak atau mati sekali pun ga ada yang peduli sama gua, ngapain bapak susah-susah ngatur-ngatur gua?"
"Karna bapak peduli sama kamu, Lang."
Elang menggelengkan kepalanya cepat. "Gausah sok peduli sama gua, gua ga suka. Pergi aja pak, kalo ujung-ujungnya mau nasehati saya mending gausah."
"Tap-"
"ELANG!" teriak Sabiru memotong membicaran Ibnu-guru bk.
Sabiru menghampirinya, ia melihat ada guru yang tengah duduk disampingnya pun mencium punggung tangannya, kemudian tersenyum.
"Ada apa datang kemari, Sa? Lari-lari."
Sabiru menyengir. "Iya, ada keperluan sama Elang pak, soalnya dia ga ikut upacara tadi." adunya.
Mendengar itu, Ibnu langsung menoleh dan mendapatkan deham dari Elang. "Kamu ngapain lakuin hal itu, Lang?"
"Buang-buang waktu aja disana,"
"LANG!" tegas Sabiru sambil melotot kearahnya. Murid apa seperti itu, apa lagi bicara tepatnya disebelah gurunya sendiri.
Murid edan.
Ibnu menatap jam tangannya, kemudian menatap Sabiru. Setelahnya, ia berdiri. Tangannya berada dibahu kiri Sabiru. "Tolong, ya, Sa."
Sabiru menganggukkan kepalanya paham. "Siap pak! Tenang aja masalah Elang." ujarnya sambil tersenyum.
Setelah Ibnu pergi karena ada urusan, Sabiru duduk disampingnya kakinya menguncang-uncang. Elang menatap Sabiru, kemudian berkata padanya, "bisa diem ga?"
Sabiru menggelengkan kepalanya. "Bisa, kalo lo masuk kelas sekarang."
"Ga." jawabnya, padat, singkat, dan juga jelas.
Sabiru memutarkan bola matanya malas, ia menghelakan nafasnya kasar. "Lo tuh ya, beda banget sama Bian."
"Memang, jangan samain."
Sabiru menatap Elang, "lo ada masalah apasi, Lang sama Bian?"
Elang mengangkat satu alis kirinya. "Gausah kepo, lo itu masi bocah. Gausah ikut campur masalah orang dewasa! Mau sok jagoan lo!?"
Sabiru berdesak kesal. "GAUSAH NGATAIN GUE! IHHHHH COWO EDAN LO."
Bibir pemuda itu melengkung keatasnya, melihat tingkah Sabiru yang kekanak-kanakkan jika kesal. Entah mengapa, ia senang jika meledek gadis itu hingga ia tersenyum namun sejenak.
Dia unik,
"Lang, lo bener-bener nyeselin ya! Gimana nanti kalo istri lo hadapin sikap nyeselin begini!"
Elang tersenyum smirk, "jauh amat mikirnya. Kalo ga sanggup cerai aja, selesai. Cari yang baru. Ngapain susah-susah?"
"Cowo edan lo. Main cari yang baru aja lo, lo ga tau perasaan wanita ya!?" Sabiru benar-benar tak percaya apa yang diucapkan oleh Elang, cowo edan!
"Wanita aja ga ngeriin gue, jadi lo gausah sok peduli sama gue, gausah cariin gue, hidup ini gue yang jalanin, lo gausah ikut campur!"
***
🥀🥀
"Sabiii!"
Gadis itu yang merasa terpanggil pun menjadi terhenti alangkahnya, kemudian tanpa berpikir panjang, ia menoleh.
Bibir cowo itupun melengkung keatas, terukir sebuah senyuman, membuat gadis yang bernama Sabiru itu ikut tersenyum.
Senyuman dibibir cowo itu tak lepas, sesampainya ia menyusul gadis itu. Tepatnya di sampingnya sambil merangkul gadis itu pun satu alisnya terangkat.
"Hm? Mau ke mana?" tanya lembut pada Sabiru.
"Nyusul Elang, kenapa emangnya?" tanya balik Sabiru.
Senyuman yang tadi terukir dibibir menjadi memasang datar wajahnya itu. "Ngapain cari dia? Ga penting banget," katanya.
Sabiru tersenyum smirk, "caelah pak ketos, cemburu?" Sabiru kekeh serayu menatap wajah ketua osis-Bian.
Bian memutarkan bola matanya malas, seolah-olah memang benar ia cemburu pada Elang yang selalu dicari-cari oleh Sabiru. Tetapi, kenapa perasaan ini muncul lagi? Pikir Bian.
"Dih apa banget gua cemburu." pituturnya.
Sabiru menganggukkan kepalanya. "Baiklah-baiklah. Gue lanjut aja cari, ya?" godanya. Ia langsung melangkah, namun dicegah oleh Bian, lengan Sabiru dipegang olehnya, membuat Sabiru menoleh kearahnya.
"Ga heran kalo gerak-gerik Bian beda sama gua, sama anak-anak yang lain." monolog cowo yang tengah melihat moment yang sangat tak percaya olehnya. Namun, ia senang ketika melihatnya.
"Heh! Ngapain lo?" tanya gadis yang berada dibelakangnya serayu menepuk bahu cowo itu membuat sontak kaget, kemudian menoleh kearah gadis itu.
Cowo itu memutarkan bola matanya malas. "Ngapain lo dateng-dateng, bikin gua kaget aja, lo." ketusnya sambil menatap ke depan.
"Lo yang ngapain, lihat apa si lo? Ga her-"
"Dia abang gue kan, iyakan!?" tanya gadis itu serayu kaget melihat cowo yang tengah memegang lengan gadis yang bernama Sabiru itu sambil menatapnya, meskipun tatapanya masih datar.
"Ya lo lihatnya gimana dodol!" jawabnya malas.
"Ya bener, dia abang gue! Abang Ian!"
"Lepas Ian," perintah Sabiru menatap lengannya.
Bian menggelengkan kepalanya. "Gua gamau lepasin tangan lo, kalo lo mau nyusul Elang, gua ga setuju."
"Kenapa gitu? Ada hal yang mau gue tanyain sama Elang, Bian." bantah Sabiru. Gadis itu tidak mau berurusan dengan Elang, namun, ada hal yang ia bicarakan padanya.
"Gua bisa sampein. Jadi lo gausah ke sana. Lo mau nanya apa, bilang!"
"Gue harus ke sana, Bian. Lepasinn!" Sabiru berusaha memberontak dan melepaskan tangannya itu, namun sia-sia, Bian memegang lengannya dengan kuat.
"Dia bener abang gue bukan si, Ta? Kok jadi begitu?"
Attaya menganggukkan kepalanya. "Dia abang lo, tapi lo ngerasa aneh juga gasi, hubungan Sabiru sama Bian itu kaya ada sesuatu?"
"Perasaan lo kali. Setahu gue, hubungan mereka ya, sebatas ketos dan wakilnya aja, ga lebih. Kalopun ada sesuatu ya, paling temenanlah." Gadis itu berusaha menyakinkan Attaya untuk berpikir positif pada abangnya itu, meskipun dirinyapun tidak percaya bahkan abangnya itu juga deket dengan seorang cewe, padahal setiap ditanya ia tidak mau dekat dengan cewe manapun, namun kali ini? Tidak!
Gadis yang bernama Violet Anasta itu menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke arah depannya. "Tapi, menurut gue, lo ada benernya jug, soalnya abang gue ga pernah sedeket itu sama cewe, apa lagi sama Sabiru." pendapat Violet dianggukkan oleh Attaya.
"Kita buat mereka deket gimana?"
"Maksudnya?"
"Gua gamau apa-apain lo, Sabi. Udah, gua anter lo ke kelas aja, gimana?" tawar Bian padanya. Modus dikit ga ngaruhlah, ya. Pikir Bian.
Tanpa menunggu jawaban dari Sabiru, Bian langsung menariknya begitu saja, membuat Sabiru pasrah saja.
Setelah ini, gue harus bisa ngomong sama Elang, dia kenapa? Dia ga pernah abaikan gue gitu aja, apa, dia ada masalah sama Bian? Batin Sabiru sambil memandang wajah Bian.
****
Sebelum matapelajaran dimulai. Elang melihat Sabiru bersama Bian, ada rasa aneh bagi Elang, ia sangat gelisah melihat kejadian tadi, sambil dipikirkan.
Elang menghelakan nafasnya sejenak, lalu membuangkan lewat mulutnya. Teman sebangkunya yang tadinya mencatat baru sebagian yang sudah dicatat dipapan tulis, menjadi menoleh kearah Elang. "Ada masalah apa si, bro? Jangan stres mikirin hal yang ga penting," tegurnya.
"Gua ga mikirin apa-apa, Jak." jawabnya.
Jaksa Akarsa itu nama lengkapnya. Kerap dipanggil Jaksa, cowo cool, asik jika kenal dengannya, sensitif jika punya masalah dengannya. Ia merupakan teman Elang sendari kecil yang sudah Elang anggap menjadi keluarga.
"Bohong banget lo, ga pro kalo lo mau bohongin gua, gua tau banget lo. Lo ada masalah sama bocah ingusan itu?" tanya Jaksa.
"Gausah panggil dia kaya gitu, Jak. Dia ga salah apa-apa," kata Elang padanya.
"Ga salah gimana maksud lo? Dia itu selalu ngatur-ngatur lo, Elang! Kaya emak lo aja dia, sementara bunda lo? Ga! Dia bukan siapa-siapa lo, Lang. Jangan sampai lo suka sama cewe modelan kaya dia, udah kaya anak tk, suaranya cementeng, brisik, ngatur-ngatur. Aduh, pokoknya ga baik buat lo."
Elang tersenyum tipis mendengar semua hal itu menjadi ingat ketika Sabiru memarahinya. "Dia ga kaya gitu. Dia baik, tapi, dia punya caranya sendiri, Jak." belanya.
"Jangan anggap dia peduli sama lo, Elang. Gua peringatin sama lo, gausah deket-deket sama dia, lo pikir gua ga denger semua membicarakan lo sama Bian tadi? Gua denger, Lang. Mulai sekarang, lo gausah deket-deket sama dia, kaya ga ada cewe lain aja. Kalo ga suka sama cewe, gausah suka sama dia sekalian." omel Jaksa. Bagaimanapun, ia tak mau jika yang dia anggap saudara terluka gara-gara masalah cewe, apa lagi dia sudah banyak masalah keluarganya.
"Lo paham kan apa yang gua bilang?"
"Hm,"
****
"Gimana pelajaran hari ini, Sab?"
Seperti biasa, cowo satu ini memang sudah biasa mempertanyakan pertanyaan itu pada Sabiru.
"Menarik, karena mapel jam pertama tadi, itu, mapel yang gue suka." jawab Sabiru senang.
Bian menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sudah tau semua tentang Sabiru, mulai dari matapelajaran yang gadis itu sukai, makanannya, dan semua hal yang Sabiru suka.
"Mau pesen nasgor?" tawar Bian pada Sabiru. Dan Sabiru menganggukkan kepalanya setuju.
"Lo mau makan apa hari ini, Ian?" tanya Sabiru padanya.
"Samain aja deh. Gapapa kan?"
"Ya gapapa lah, Ian. Dan lo yang mau, aneh banget deh lo." Sabiru menggelengkan kepalanya heran sambil tersenyum.
"Jadi, masalah yang kemarin lo mau gimana, Bian? Lo mau terima Elang sebagai saudara lo. Tapi ..." jeda Sabiru.
Bian menghelaka nafasnya kasar sekaligus malas membahas ini yang bertentangan Elang. "Gua males mbahas ini, Sabi." ungkapnya.
"Tapi Bian ..." Melihat Bian menggelengkan kepalanya membuat Sabiru tidak melanjutkan ucapan itu lagi. Sabiru mengerti, tapi ia juga ingin meluruskannya.
"Woi!" teriak Attaya membuat dua orang itu menoleh secara bersamaan. Attaya melihat itupun tersenyum kekeh dan berakhir berlarian untuk menyusulnya.
Bian berdecak sebal. "Ganggu aja lo,"
Attaya yang sudah sampai di sana pun, menyengir. "Maaf, tapi emang gua ganggu lo Bir?"
Sabiru menggelangkan kepalanya. "Ga tuh, santai aja kenapa, kak, duduk," pintanya dan Attaya pun menurut sambil menggoda Bian.
"Males banget," gerutu Bian.
"Tuh, calon pacar lo aja baik sama gua, lah lo? Boro-boro." bisik Attaya.
Mendengar bisikkan itupun Bian melotot. Sahabat macam apa seperti Attaya?
"Cepet, katanya lo mau bilang sesuatu sama dia."
"Hm, Sabi."
"Ya?"
"Gua mau bilang sesuatu, boleh?" izin Bian. Attaya melihat itu tak bisa menahan senyumannya itu.
Sabiru yang sudah mempunyai feelingpun menjadi tak enak, ia bingung harus mengatakan apa padanya. "Hm, ya, silakan."
Duh lampu ijo, ayo gass Bian! Batin Attaya terasa ingin teriak.
"The point aja, ya? Gua sebenarnya ...
Ayooo gausah lamaa, gua greget cok, batin Attaya.
"... Sebenarnya ... Suk-suka sama lo!" ungkapnya pada Sabiru membuat lega.
Tuhkan, bener. Batin Sabiru.
Asikkkk, Bian udah confess, nanti tinggal gua! Batin Attaya.
"Hm, Bir. Lo terima apa ga? Ga mungkin ga kan? Gua tau banget lo, jadi, lo terima?"
Sabiru menundukkan kepalanya. Ia terasa bingung dengan semua ini, ia ingin menerimanya sebab, ia memang suka, tetapi ... Ada hal yang membuatnya ingin menolaknya.
Sendari tadi, Elang yang mendengar semua itu karena tempat duduk dikantin lumayan dekat. Bahkan, terasa hatinya benar-benar sakit. Sabiru terima pastinya. Tapi kenapa perasaan gua jadi begini?
"Elang!"
"Sampai dia kembali ke gue lagi. Kalopun tetep gabisa, gue ga terima oranglain lagi. Cukup, dia yang terakhir." -Sabiru Anantasya.
"Hidup itu butuh seseorang, jangan selalu bilang kalo lo itu bisa. Jadi, mau gua temenin sampe mana?" -Bian Gibraka.
"Sampai semesta menjawab semua itu. Keluarga gua udah nyakitin gua, sampai gua kehilangan semua semangat gua. Tapi kali ini, gua selalu punya semangat hidup." -Elang Albimanyu.
🌹🌹🌹
"Ngapain lo cari gua? Pergi lo," usir Elang terus terang.
Sabiru menggelengkan kepalanya. "Gue gamau. Gue mau bicara sama lo, Lang." katanya pelan.
Elang memutarkan bola matanya malas memandang gadis di depannya. "Jangan sekarang, gua lagi males ngomong sama lo. Lebih baik lo balik, tuh, pacar lo cariin." tunjuk Elang pada Bian yang masih diam duduk di sana.
Sabiru memandang apa yang Elang tunjuk, Sabiru menghelakan nafasnya. "Jangan aneh lo, Lang. Lo tuh berdua kenapa si? Gue cuma nanya itu aja, apa sulit buat lo jawab? Gue memang bukan siapa-siapa lo, tapi tolong lo jangan selalu ribut sama Bian. Emang Bian salah apa sama lo?"
"Bagus kalo tau itu. Lo bukan siapa-siapa gua, jadi lo gausah sok perhatian! Mending lo urusin tuh, pacar lo."
Sabiru masih diam berdiri di sana membuat Elang tidak habis pikir dengan gadid di depannya itu, sungguh kepala batu.
"Gue, mau tetap di sini. Gue butuh menjelasan dari lo, Elang! Kapan lo mau berubah Lang? Dari dulu sampai sekarang, lo tetap gini-gini aja. Gue kek gini karena gue peduli sama lo!" sentak Sabiru membuat Elang terdiam diri di sana.
Elang menatap sinis padanya, "gua, ga butuh rasa peduli lo sama gua! Mending lo urusin tuh." katanya. Elang pun pergi setelah mengatakan hal itu pada gadis yang berada dihadapannya.
Sabiru menatap punggung Elang hingga hilang dari hadapannya. Sabiru menghelakan nafas kasar.
"Gausah sok ngatur lo." kata Jaksa pada Sabiru sebelum menunggu respon dari gadis itu. Jaksa menyusul Elang karena sudah benar-benar tidak mood.
"Gue salah ya, peduli sama dia? Padahal gue mau bantu.." monolognya serayu membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan menghampiri Bian yang tengah duduk di sana.
"Gausah peduli sama orang yang ga penting, Sabi. Mending lo urusin hidup lo aja dulu, gausah yang lain." nasehat Bian padanya.
"Gue bukannya mau sok ikut campur masalahnya. Tapi, rasanya gue pengen bantu aja dia, emang gue salah? Lagipun ... Sesama manusia juga harus saling menolong, ga salah dong?"
Attaya menganggukkan kepalanya. "Iya, gua tau. Tapi, gimanapun lo jangan berurusan sama dia, Bir."
"Hah!? Kenapa?" tanya Sabiru menaikkan kedua alisnya.
"Bukan waktu yang tepat buat lo tau semua ini, Bir. Tugas lo, cuma satu, yaitu jangan deket-deket sama Elang, ngerti?"
Sabiru menatap wajah kedua remaja di depannya itu secara bergantian. Hm, ada yang aneh dari mereka berdua. Ga semestinya mereka begitu sama gue, gue harus cari tau.
"Ngerti, lo, Bir?" ulang Attaya serayu menatap Sabiru. Attaya sedikit ragu karena tidak bisa mempercayai Sabiru sepenuhnya, karena, ia tau betul bagaimana Sabiru.
"Hm,"
"Bagus, gua mau pesen dulu makanannya. Gua belum pesen." pamit Attaya serayu bangkit dari tempat duduknya itu sambil menyengir.
Gua sengaja biar mereka ada waktu berdua. Semangat bestie gua! Batin Attaya.
Setelah Attaya pergi situasi menjadi hening, Bian yang masih kesal Elang selalu berdekatan dengan Sabiru, sementara Sabiru tidak peka dengan Bian.
"Kenapa?"
Bian menggelengkan kepalanya. "Gua gapapa. Mau sampai kapan?"
"Apanya?"
"Sampai kapan kamu akan menghindar dengan perasaan aku ini? Masih mau anggap aku sebagai mantanmu? Masa lalumu?" ralat Bian.
Sabiru memijat pelipisnya itu. Terasa pusing ketika membahas topik seperti ini. "Jadi, aku-kamu nih?" kekehnya.
"Bian, aku pernah anggap kamu sebagai seseorang yang semesta berikan padaku, itu orang yang akan membuatku bahagia. Nyatanya, memang benar hal itu. Aku lebih banyak bahagia ketika sama kamu, Bian. Tetapi, ada fakta yang membuat bingung, kamu itu sebenarnya siapa?"
"Aku Bian. Bian Gibraka, si ganteng yang diturunkan buat membahagiakan si princess ini." ujarnya sambil tersenyum.
Sabiru tersenyum kecil, "ini-nih. 11-12 an lah mirip sama dia."
"Jadi sampai kapan?"
"Sampai dia kembali ke gue lagi. Kalopun tetep gabisa, gue ga terima oranglain lagi. Cukup, dia yang terakhir."
"Yakin bisa?"
"Bisa. Gue harus bisa, sekalipun gue gagal move on, gue harus bisa!" seruan Sabiru.
"Hidup itu butuh seseorang, jangan selalu bilang kalo lo itu bisa. Jadi, mau gua temenin sampe mana?"
🌹🌹🌹
"Gua udah bilang sama lo, Elang. Gausah deket-deket sama dia! Gua harus ingetin lo gimana lagi, hah!?" desis Jaksa. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cowo itu, keras kepala.
"Gua uda usaha, Jak."
"Baru usaha? Kemarin-kemarin lo ngapain aja, Lang? Siapin mental lo gitu?" Jaksa menatap sinis padanya.
"Gua semakin yakin sama lo, Lang. Lo suka sama dia, yakan? Jauhin dia aja susah! Sebenarnya lo kenapa akhir-akhir ini, Lang! Semuanya lo ga bisa fokus."
Elang menaikan kedua bahunya. "Gua juga ga bisa berpikir sekarang, entah gua juga gatau kenapa. Tapi, gua ga suka sama dia."
"Tapi, gua terasa selalu butuh dia. Semenjak kejadian hari senin itu. Gua ga pernah dimarahin sama orang sekalipun masalah kecil, Jak. Lo tau? Sabiru marahin gua di jalan, sampai dilihatin banyak orang, gua ga ada rasa malu sekalipun."
Jaksa tersenyum remeh, "Dia hanya peduli. Gausah diambil hatinya! Lo itu sadar, Lang, dia cuma peduli sama lo, bukan suka sama lo! Lo udah cukup menderita, gua kek gini juga peduli sama lo, karena gua sayang sama lo sebagai sahabat! Tapi lo, lo selalu meremehkan setiap apa yang gua bilang sama lo."
"Mau sampai kapan lo terus-terusan deket sama Sabiru? Lang, Bian suka sama Sabiru. Mereka deket, sementara lo? Lo itu ga pernah kek gini sama cewe manapun!" sambungnya.
"Sampai semesta menjawab semua itu. Keluarga gua udah nyakitin gua, sampai gua kehilangan semua semangat gua. Tapi kali ini, gua selalu punya semangat hidup." jawab Elang.
"Sabiru."
"Cari penyakit mulu lo! Jangan bego sekarang, Elang! Mikirin keputusan lo itu aja lo setahun keknya belum dijawab, malahan lo kena debu cinta-cintaan. Gini, nih. Gua males suka sama cewe!" Jaksa mengacak-acakkan ramputnya menjadi tidak rapih.
"Gua akan berusaha, Jak. Memang gua ga kenal sepenuhnya sama Sabiru, dan gua akan jauhin Sabiru."
***
Hallo, salam dari cewenya jaehyun🙏🏻
Vote cerita ini biar jaehyun bangga dapet cewe sepertikuuu😎😎
-OooOo-
"Seorang princess itu ga pantas untuk menangis. Apa lagi nangisnya di depan aku, aku terasa gagal jagain kamu, princess."-Bian Gibraka.
🌿🌿🌿
"Atta!!!" teriak Violet saat dirinya ingin menghampirinya, padahal jaraknya juga tidak jauh.
Attaya mendengar teriakkan itu memutarkan bola matanya malas. Ia menghelakan nafasnya kasar. "Ngapain lo teriak-teriak? Hobi banget bikin telinga gua rasanya mau pecah." ketusnya.
Violet menyengir hingga gigitnya terlihat. "Sori bro, jadi, gue mau mempertanyakan gimana Sabiru sama abang gue?"
"Gua gabisa jawab iya atau ngganya, Vi."
"Kenapa?" tanya Violet penasaran, apa lagi wajah Attaya terasa kecewa dengan apa yang dirinya katakan.
"Bian udah confes, tapi ... Seolah-olah Sabiru menghindar. Gua ga tau pasti kenapa, tapi ... Sabiru keknya ada urusan sama Elang, dan lebih deket sama Elang, Vi. Pas confes, Elang di sana soalnya. Lo sendiri kenapa ga ke kantin tadi pagi?" jelas Attaya pada Violet kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Gue jadi mau ke sana, tapi gue ada urusan sama temen gue. Emang ada urusan apa Sabiru sama kak Elang? Setahu gue, Sabiru ga akan gitu sama cowo, ah ini, malahan deket. Aneh banget," protes Violet.
"Hm, jadi, rencana selanjutnya apa, Ta?"
Mendengar itu Attaya langsung tersenyum smirk, cowo itu sudah memikirkan ide-ide untuk membuat Sabiru dengan Bian berdekatan.
-OooOo-
"Jak,"
Jaksa yang merasa terpanggil itu, menjadi menoleh dan menatap satu pusat pada nara sumber. Ada dua cowo yang menghampirinya ditaman belakang sekolah.
Jaksa menghelakan nafasnya perlahan. "Kenapa?" tanya Jaksa pelan seolah-olah dirinya malas untuk berbicara pada mereka.
"Elang di mana, Jak?" Cowo yang memakai seragam yang sama itu, namun, memiliki aura semangat hidup jika bersama keempat sahabatnya. Ia lah orang yang paling bobrok diantara keempat anak.
Namanya, Mahesa Alfara. Panggil saja dia, Mahesa, cowo seribu kekeceriaan. Memiliki alis tebal, anggap aja dia anak bontot dari ketiga sahabatnya Elang.
Cowo yang bersebelahan dengan Mahesa ikut menganggukkan kepalanya, kemudian menatap sekeliling taman, tidak ada batang hidung Elang.
"Gua gatau." jawab Jaksa malas. "Kalian berdua ngapain ke sini?"
"Ya kali sahabatnya lagi ada masalah kita pergi ke mana-mana." celetuk Alka serayu melirik kearah Mahesa.
Alksantara Wiratama. Cowo yang paling deket dengan Mahesa sampai dianggap gay karena terlalu dekat dengan Mahesa. Cowo paling pengertian diantara mereka yang egois.
Mahesa menganggukkan kepalanya. "Diem-dieman nih ceritanya? Kaya pacaran aja lo berdua." ucap Mahesa diakhiri tawanya yang renyah.
"Bocat lo pada. Gua lagi frustasi gini malahan dibuat bercanda, kaya lo pada ga ada kerjaan apa selain ganggu gua? Kalian ga berani ganggu Elang?" ralat Jaksa.
Kedua cowo itu menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Ada masalah apa lagi, si, Jak?" Alka yang peka langsung bertanya serayu duduk di samping Jaksa. Mahesa yang melihat Alka duduk, ia pun ikut duduk membuat Jaksa geram ia harus bergeser.
"Eh, Elang emang punya cewe?" Mahesa memandang kedua sahabatnya itu secara bergantian.
Jaksa menatap datar pada Mahesa serayu memijat pelipisnya. "Ngapain nanya gitu lo?"
"Tapi serius Elang punya cewe, Jak?" Alka mengulang pertanyaan Mahesa membuat Jaksa mengepalkan tangan kirinya.
"Ga."
"Yakin? Lah, Sabiru itu siapanya?" Mahesa benar-benar terbawa penasaran dengan Sabiru. Terakhir dia melihat gadis itu, bersama Elang, karna, jarang sekali Elang berinteraksi dengan seorang cewe. Namun, tidak ada rasa risih ataupun ilfil kepada Sabiru.
"Jangan asal menyimpulkan, Mahesa. Gua ga akan pernah setuju kalo cewenya Elang itu Sabiru. Kaya, ga ada cewe lain aja di dunia ini." ketus Jaksa.
Alka menatap ke arah depan serayu menghirup udara segar. "Sesuatu hal yang ga bisa dipaksain oleh perasaan, kita bisa apa, Jak?"
Jaksa langsung menoleh kearah Alka. "Lo belain bocah ingusan itu, hah!? Jangan anggap dia baik, Ka! Dia tuh bukan siapa-siapanya, Elang. Dia ga ada hak buat ngatur-ngatur Elang, sementaranya nyokapnya? Dia aja ga ada perhatian sekecil apapun sama Elang!"
Alka tersenyum tipis mendengar itu. "Seburuk itu ya, cewe itu dihidup lo? Padahal mungkin ... Cewe itu peduli demi masa depannya. Apa, Elang marah ketika Sabiru marahin dia? Bahkan sampai lancang buat bertanya banyak hal? Itu yang membuat lo benci sama dia, Jak?"
Jaksa diem sejenak, kepalanya menunduk. Sementara Mahesa sibuk dengan dunianya, Mahesa sibuk bermain handpone, karena, baginya, Ia tidak ingin membuat masalah baru ketika Jaksa dan Alka berdebat.
"Hadeh-hadeh. Masalah kecil aja lo besar-besarin, Jak. Ini masalahnya Elang, biar Elang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia bukan anak kecil lagi, pasti kalo ada masalah dia cerita, kita bantu kalo memang kita bisa."
"Tapi kali ini gua gabisa biarin dia nyelesain masalahnya sendiri, Ka." kata Jaka serayu menyalakan handponenya.
"Kenapa, lo takut dia mati, ha? Dia belum mau mati, Jak. Takdir juga ga akan tau, Jak. Masalah itu setiap orang pasti ada, lantas kalo punya sahabat kenapa ga cerita?"
Jujur, bukannya Jaksa tak ingin bercerita dengan kedua sahabatnya itu. Takut membebani saja, cukup hanya Jaksa dan Elang saja yang merasakan.
"Masalahnya ini juga berkaitan sama Bian, Ka. Bian Gibraka."
Detik itu juga, Mahesa yang tengah mengetik jadi berhenti melakukan aktivisnya. Sementara, Alka langsung melirik kearahnya.
"Bi-Bian? Sabiru kenal sama Bian, Jak?" ulang Mahesa memastikan.
Jaksa menganggukkan kepalanya. Ia memasang wajah melas, "Iya. Mereka kenal, bahkan ga cuma saling kenal, tapi deket."
Hati Alka terasa sakit mendengar itu. Pantas saja Jaksa tidak suka dengan Sabiru, bukan masalah Sabiru dekat dengan Elang saja, malainkan dekat dengan Bian, Bian Gibraka.
-OooO-
Kini sudah waktunya pulang di SMK 07 Bangsa. Semua murid bergembira ketika bel pulang berbunyi, rata-rata anak sekolah kalo di sekolah ingin cepat-cepat pulang karena bosan.
Sabiru berada diparkiran bersama dengan Bian, ia memang selalu ditawarkan untuk pulang bersama dengan Bian. Meskipun gadis itu menolak, tetap saja, Bian selalu memaksanya dengan alasan, ia takut gadis itu kenapa-kenapa.
Hal itu membut Sabiru terbuka dengan Bian, ga hanya dia asik, melainkan dia tidak suka menebarkan pesona untuk cewe-cewe di SMK 07 Bangsa.
"Ian, aku mau nanya, boleh?" izin Sabiru sambil kekeh sendiri dengan pertanyaan itu.
Bian yang sudah naik di atas motor itu langsung menatap kearah Sabiru untuk mendengarkannya. "Boleh, mau nanya apa, hm?"
"Kenapa kamu tuh ga mau tebar pesona kaya sahabatmu itu, kak Attaya?" tanya Sabiru. Ia juga rasanya penasaran, dirinya tuh bingung harus apa. Kata anak-anak SMK 07 Bangsa, Bian itu kulkas berjalan. Tetapi, jika bersama Sabiru tidak! Banyak ngomongnya si.
"Dan, kenapa kamu selalu masang muka galak di depan anak-anak yang lain?" lanjutnya.
Bian kekeh mendengar itu. "Yang pertama, aku bukan tipe cowo playboy, Bi. Attaya emang cowo playboy, jadi jangan heran sama tuh cowo. Aku tuh, tipe cowo yang ga mau nyakitin cewe, kalipun kalo aku suka sama cewe, artinya aku harus hargai dia." ucapnya menjeda.
"Yang kedua, kenapa aku selalu masang muka galak? Emang iya, ya? Ya, jawabannya ada yang pertama tadi, aku bukan cowo caper yang ingin jadi pusat perhatian. Mending bikin mereka ilfil sama aku."
Sabiru menggelengkan kepalanya merasa tak puas jika hanya itu jawabannya. Sebenarnya banyak yang Sabiru ingin tanyakan pada Bian, namun, ia merasa tidak enak jika bertanya-tanya terus-menerus.
"Seilfil-ilfilnya orang, kalo udah tau sifat kamu kek gini, mereka ga akan ilfil, Ian."
"Kenapa?"
"Karena kamu termasuk kategori cowo idaman. Ga friendly, setia, perhatian, gampang buat jadi pendengar. Ga modal jadi cowonya dong, tapi bermodal." jawab Sabiru.
Bian mampu tersenyum. Kali ini, dan hari ini, semesta lagi berbaik hati padanya, sebab, cewe itu mampu membuat Bian Gibraka tersenyum. "Ohh ... Kalo cowo idaman kamu gimana? Apakah aku udah termasuk jadi kategori idamanmu, Bi?"
"Bi," panggilnya membuat alis Sabiru terangkat sebelah.
"Hm?"
"Jangan pernah menangis, ya? Seorang princess itu ga pantas untuk menangis. Apa lagi nangisnya di depan aku, aku terasa gagal jagain kamu, princess."
-OooO-
"Makasih udah anter aku pulang dengan selamat." ungkap Sabiru sambil tersenyum.
Bian mengantarkan Sabiru pulang, kini Sabiru sudah di depan gangnya, tadinya Bian ingin mengantarkan sampai rumah, namun Sabiru menolak.
Bian menganggukkan kepalanya. "Iya, princess. Jangan bilang makasih lagi, ya? Ini memang tugas aku buat jagain kamu, Bi."
"Iya-iya. Tapi, kalo ga bilang makasih, jadinya aku ga enak, terasanya kaya ... Ga hargai, dan kaya ga tau terima kasih sama orang."
"Kali ini beda, Bi. Aku bukan oranglain, melaikan sosok orang yang ingin terus membuat Sabiru Anantasya bahagia. Apakah, hari ini kamu bahagia, Bi?"
Sabiru tanpa ragu-ragu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku bahagia hari ini, Bian. Ini karena kamu."
Bian tersenyum mendengar jawaban darinya. "Aku juga bahagia kalo kamu bahagia, Bi. Terus bahagia, sampai lupa apa yang namanya menangis." pesannya.
"Hidup tanpa kesedihan bukan hidup namanya, Bian."
"Justru itu, Bi. Aku malahan pengen kamu bahagia, selalu." jawab Bian tak ingin dibantah.
Sabiru menghelakan nafasnya pasrah. "Iya-iya. Ini udah sore, kamu pulang sana."
"Kamu ngusir aku, nih?" goda Bian dramatis.
Lagi-lagi Sabiru menganggukkan kepalanya dengan polosnya. "Anggap aja begitu. Ini udah sore, Bian. Besok juga kita ketemu lagi, yakan?"
"Oke-oke. Tapi inget satu hal. Jangan lupa senyum besok!" perintah Bian padanya.
"Iya, yauda, sana." Sabiru tersenyum menatap Bian.
Bian menganggukkan kepalanya. Kini, Bian sudah pergi jauh dari sini. Sabiru lagi-lagi menatap dengan sebuah senyuman.
Bian, aku bahagia untuk hari ini. Semoga, semesta juga berbaik hati untukmu besok.
Sabirupun membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju rumahnya. Tiba-tiba, handponenya pun berbunyi membuat handponenya menyala dan ada sebuah notifikasi.
Nomor siapa ini?
+62 ******** : kalo udah punya cowo, gausah centil sama cowo lain. Jadi cewe kok murahan banget, si.
+62 ******** : gua peringatin ya sama lo, gausah deket-deket sama Elang. Sekalipun lo deket dan membuat Elang terluka, lo akan jadi sasaran gue, Sabiru Anantasya.
***