***
“Makanan di sini pasti nggak enak ya, Pa?” tanya Kirei. Dia mencoba tersenyum sekuat hati melihat Ryo yang sangat kurus. “Aku pasti buatin sushi buat Papa, jadi Papa harus tetap makan ya! Aku janji kalau sushi buatanku nanti pasti bisa mengalahkan sushi buatan mama,” tambahnya.
Ryo akhirnya menangis, selama ini dia memang tidak pernah terlihat menyedihkan di depan istri dan kedua anaknya, Ryo Nakomoto adalah sosok pria sejati, ayah sempurna, dan suami yang setia. Namun, kali ini dia tidak bisa berpura-pura untuk tegar di depan anak bungsunya karena hatinya diliputi rasa berdosa karena sudah merusak impian Kirei. “Sayangku, maafkan Papa. Kamu menderita karena kebodohan Papa,” ucapnya lirih.
“Papa menangis pertama kali untuk apa?” tanya Kirei.
Ryo menatap anak bungsuinya dengan sendu. “Papa memang ayah yang buruk dan suami yang tidak berguna. Papa dengan mudahnya menghancurkan masa depan kalian. Maafkan Papa… “
Kirei menggelengkan kepalanya. “Jangan bicara seperti itu, Pa. bagi kami, papa adalah pria yang terbaik. Pria satu-satunya yang tulus sayang sama kami. Papa jangan merasa seperti itu karena kami bangga mempunyai Papa,” balasnya mencoba untuk tersenyum.
“Sayangku… masalah pernikahanmu dengan Sky, nanti papa bicarakan lagi sama kedua orang tua dia ya! Kamu jangan khawatir karena kamu dan Sky pasti akan menikah,” ucap Ryo.
“Tidak, Pa. Aku tidak terlalu mengharapkan lagi. Mereka ingin mengakhirinya, maka aku pun harus menyudahinya. Mungkin memang kami berdua tidak ditakdirkan untuk bersama,” balas Kirei.
“Tidak, Nak. Papa pasti akan bicara sama Sky. Papa tahu kalau Sky adalah mimpimu yang paling ingin kamu wujudkan, dia adalah kebahagiaanmu. Papa ingat kalau kamu selalu mengatakan kalau Sky adalah puncak bahagia kamu. Papa akan mengembalikan mimpi dan bahagiamu itu, Papa yakin kalau Sky masih mencintaimu,” ujar Ryo berusaha meyakinkan Kirei.
Kirei menggelengkan kepalanya. “Tidak, Papa. Mimpiku sudah hancur karena dia sendiri yang menghancurkannya. Sky memang pernah jadi mimpi indah, tapi saat ini dia menjelma jadi mimpi buruk. Aku ingin menghapus tentangnya agar mimpi buruk itu tidak datang mencekik hidupku saat ini. Mimpiku saat ini sudah berubah, yaitu Papa kembali pada pelukan kami. Aku hanya ingin kita berempat kumpul bersama, dan kita menetap saja di Kyoto, Papa ingin pulang dan mengajak kami ke sana, kan?”
Air mata Ryo mengalir dengan deras. Pria paruh baya itu memang selalu merindukan kampung halamannya di Kyoto, Jepang. Tiga tahun terakhir ini, Ryo selalu merayu kedua anaknya untuk menetap di sana. Ryo ingin menghabiskan masa tua di negara asalnya dan menghabiskan sisa waktu dengan tenang bersama keluarga tercintanya. Ryo merasa situasi di Indonesia sudah tidak kondusif, perusahaan yang tidak sehat, rekan kerja yang licik, bahkan orang-orang yang dia percaya pun tega mengkhianatinya hanya karena masalah harta. Namun, semuanya terlambat karena dia telat menyadarinya. Saat ini dia terjebak dalam permauinan manusia yang tamak dan juga serakah.
“Papa tidak perlu cemas ya! Aku yakin kalau Papa pasti bisa bebas karena aku tahu siapa Papa,” ucap Kirei.
Senyum mengembang di kedua sudut bibir Ryo. Luka di hatinya terasa teduh melihat putri kesayangannya, Kirei memang gadis yang ceria dan juga selalu mencairkan suasana di mana pun gadis itu berada. Kirei selalu saja membuat siapapun jartuh hati pada sosoknya.
“Kakakmu ke mana? Papa meirnduan dia, kakakmu janji akan jenguk Papa sama kamu,” ucap Ryo.
Hening.
Kirei diam seribu bahasa.
***
“Kamu harus menikah dengan Luna. Mami ingin sekali mendapatkan menantu seperti dia,” ucap Andien.
“Luna Claudya?” tanya Sky.
“Iya. Dia adalah satu-satunya pewaris dari kekayaan MTI Crops, kekayaan kita akan menambah kalau kamu menikah dengannya,” balas Andien dengan semangat.
Sky menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mami. Aku tidak mungkin menikah dengan Luna.”
“Kenapa tidak mungkin? Luna sudah mempunyai calon?”
“Aku tidak tahu, tapi tidak etis jika aku menikahi mantan pacarnya River.”
“Mereka kan sudah putus lama, lagian Luna mana mau sama pria cacat dan buta seperti River. River bukan pria yang sebanding, hanya kamu lah satu-satunya pria yang pantas jadi suami Luna,” jawab Andien
“River itu masih saudaraku, Mami. Dia kakakku, aku tidak mau mengambil wanita yang dia cintai,” ucap Sky dengan tegas.
“Sky! Kalian hanya saudara tiri! Kamu juga tidak ada pertalian darah dengan River, dan juga apa yang bisa River lakukan dengan kondisinya yang cacat? Bahkan dia didepak dari perusahaan karena dia sudah tidak berguna lagi! Saat ini harapan keluarga kita hanya ada di pundakmu, dan kamu satu-satunya pewaris yang akan mendapatkan semua kekayaan Mountbatten, kamu lah yang lebih pantas.”
“Aku bukan anak kandungnya daddy, Mi. River adalah anak kandung daddy, jadi dia yang berhak menjadi pewarisnya.”
“Dia itu lumpuh dan buta, jadi dia gagal menjadi ahli waris dari dady-mu! Mami pasti memperjuangkanmu karena kamu yang pantas, kita tidak perlu lagi mengasihi si lumpuh itu karena selama ini kita selalu mengalah dan seperti pengemis di matanya. Saat ini, semesta mendukung kita karena dulu kita menderita karena keangkuhan anak itu yang tidak mau menerima kita dan tidak pernah menganggap kita ada,” ucap Andien.
Sky tahu bagaimana sakitnya perasaan maminya dulu. Saat pertama kali, dia dan maminya menginjakan kaki di rumah keluarga Mountbatten, dia dan Andien selalu dianggap hina. Bahkan Sky ingat dulu kalau River tidak pernah mau bicara padanya dan mamanya, pria itu tidak pernah mengakui keberadaan dirinya dan juga Andien. Tangisan pilu Andien dulu melahirkan dendam di hati Sky. Saat ini adalah pembalasan yang tepat untuk mengambil semua dari tangan River.
‘Harta dan wanita yang kamu cintai pasti bisa menjadi milikku,’ batin Sky dalam hati. Sky mengedarkan pandangan ke luar jendela kamarnya, mendadak dia ingat senyuman Kirei, cinta pertamanya yang selalu ada untuknya dulu. Sky merindukan gadis itu, mungkinkah saat ini dia bisa melihat Kirei?
“Lusa kita akan berkunjung ke kediaman keluarga Luna,” ucap Andien.
Kening Sky mengernyit. “Ada perlu apa kita datang berkunjung ke rumah dia?”
“Mami juga tidak tahu alasan pastinya kenapa orang tua Luna mengndang kita untuk makan malam, tapi Mami menduga kalau orang tua Luna tertarik padamu karena meminta Mami untuk mengajakmu. Itu artinya sinyal kalau mereka ingin mengenalkan kamu pada Luna! Bukankah ini sangat bagus untuk rencana kita?”
“Secepat itu kah?”
“Lebih cepat lebih baik, Sky. Kita tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan kekuasaan dan harta mendiang daddy-mu. Dukungan keluarga Luna akan membantu kita untuk mewujdudkan rencana kita.”
“Mami ingin aku dan Luna menikah?”
“Kalian memang harus menikah! Mami hanya merestui Luna yang jadi menantu Mami!” balas Andien dengan tegas.
Sky terdiam, dia tidak berencana menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat ini karena hatinya belum siap.
“Kamu keberatan menikah dengan Luna?” tanya Andien dengan curiga. “Jangan bilang sama Mami kalau kamu ternyata mencintai Kirei?”
Sky membisu.
***
***
“Pak Hary tidak bisa bantu papa untuk bebas?” tanya Kirei.
Hary menghela napas berat, dan langsung menggelengkan kepalanya. “Maaf, Kirei. Saya tidak bisa membantu lagi, dan saya juga bukan kuasa hukum dari Tuan Nakomoto lagi.”
Kirei tersenyum tipis, dia tahu semenjak papanya masuk penjara, Hary Tobing bukan jadi kuasa hukum dari papanya lagi. Pria itu seolah lepas tangan dan tidak mau tahu lagi dengan urusan papanya. Padahal dulu bisa dibilang Hary adalah orang yang sangat loyal pada keluarga besarnya. “Bapak masih menganggap kami keluarga, kan?”
“Maaf, Kirei. Saya memang menganggap kalian itu seperti saudara, tapi situasinya berbeda kali ini. saya tidak mau mengorbankan karier saya hanya karena membela seorang penipu, saya tidak mau mengorbankan nama baik saya selama jadi lawyer.”
“Tapi papa saya difitnah, Pak. Ada orang yang sengaja menjebak papa saya agar perusahaan jatuh ke orang lain. Papa saya bukan seorang penjahat,” tukas Kirei dengan suara yang bergetar.
“Maaf. Tapi semua bukti terlalu kuat dan saya tidak mau ambil resiko, saya yakin tidak ada pengacara yang mau membantu Tuan Nakomoto meski dibayar mahal karena kasus ini jadi isu yang hangat saat ini,” balas Hary.
“Jadi Pak Hary benar-benar menolaknya?”
Hary langsung mengangguk. “Maaf, saya memang tidak bisa,” balasnya. “Saya pamit duluan karena ada klien yang ingin bertemu, saya doakan semoga Tuan Nakomoto bisa menerima dengan lapang atas kasusnya saat ini,” tambahnya sambil beranjak dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.
Kirei menatap kepergian Hary dengan perasaan yang kecewa luar biasa, padahal hanya Hary lah, satu-satunya harapan untuk bisa membebaskan papanya dari jerat hukum. Di saat semua orang meninggalkan keluarganya yang sedang terpuruk, Kirei pikir hanya Hary lah yang tulus, nyatanya sama saja. Hary dan yang lainnya langsung mencampakan keluarganya. “Kalian sama saja! Bajingan,” lirihnya tanpa sadar. Kirei mengatur napasnya agar bisa menormalkan hatinya, dia tidak boleh larut dalam kesedihan, dia tidak ingin pasrah dengan keadaan karena hanya dirinya lah satu-satunya harapan untuk keluarganya. Kirei ingin mengembalikan semuanya, dia ingin papanya bebas dari penjara, dan Cleopatra-kakak satu-satunya bisa sadar dari komanya, dan dia ingin melihat senyum mengembang di kedua sudut mamanya. “Aku janji akan mengembalikan keadaan seperti semula lagi, aku tidak akan membuat luka menghampiri kalian. Tunggu aku ya! Aku pasti akan berjuang demi keluarga kita,” lirihnya.
Kirei langsung berlari ke toilet café karena dia ingin bersembunyi, wanita itu ingin menangis seorang diri, dia tidak ingin siapapun melihat tangisannya. Kirei langsung masuk ke toilet, dia langsung menangis. Tak berselang lama samar-samar ada suara seseorang yang sangat familiar. Kirei langsung menempelkan daun telinganya di dingding kamar toilet dan benar saja suara itu adalah suara Andien, mantan calon mertuanya! Kenapa Andien menyebut namanya?
***
“Bagus, Pak Hary. Saya senang karena Bapak tidak sudi membantu keluarga pembohong itu. Pak Nakomoto memang terlibat skandal penipuan, penggelapan pajak yang membuat negara kita rugi, kalau Pak Hary membantunya ya reputasi Bapak sebagai lawyer top akan dinilai buruk oleh masyarakat,” ucap Andien diujung telepon. “Pak Hary, saya begini bukan karena Sky dulu sama Kirei ya! Saya hanya ingin menyelamatkan Bapak saja. buktinya keluarga kami selamat dan Sky tidak jadi menikah dengan Kirei. Saya bersyukur karena saat ini Sky dan Luna akan menikah, nanti saya undang Bapak ya!”
“Luna? Luna Claudya anaknya Pak Menteri?” tanya Hary.
“Iya, betul. Luna Claudya, anaknya Pak Dewa yang juga seorang pemilik MIT TV. Luna dan Kirei beda kelas, dan yang lebih layak jadi istrinya Sky ya hanya Luna saja,” jawab Andien.
“Wah, kalau Sky dan Luna menikah, pasti akan membuat publik heboh, dan juga perusahaan Ibu akan menjadi lebih kuat. Saya tidak sabar mendapatkan undangan pernikahan mereka.”
“Tenang saja, Pak. Saya pasti mengundang Pak Hary karena sudah mau membantu saya, dan saya tadi lihat kalau Kirei duduk melamun dengan raut wajah yang kalut. Saya senang karena dia mendapatkan karmanya. Terima kasih atas bantuannya,” balas Andien.
“Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu Ibu dan keluarga,” jawab Hary.
Panggilan telepon keduanya akhiri. Andien langsung membuka pintu toilet dan pergi dengan wajah yang sumringah.
Sedangkan di bilik kamar toilet lainnya ada seseorang yang menitikan air matanya dengan deras, dia tidak menyangka jika pertemuan tadi adalah pertemuan yang direncakan oleh Andien. Kirei menepuk-nepuk dadanya yang sangat sakit. Dulu Andien sudah dia anggap seperti ibu kandungnya, bahkan biaya pergi ke Paris saat itu dia tanggung, dan saat itu Andien terus saja memujinya sebagai wanita idela bagi Sky. Tapi, kenapa seuanya berubah? Kenapa semua orang seakan membunuh bahagianya?
“Kata kalian kalau kepedihan yang kami ini adalah karma?” tanya Kirei dengan suara terisak. “Aku akan membuktikan bahwa karma akan berbalik menuju kalian, aku tidak akan membiarkan kalian menari-nari di atas luka kami. Aku tidak akan membiarkan kalian tertawa bahagia lebih lama. Lihat saja!”
***
“Mereka sudah bergerak dengan cepat, dan juga Nyonya Andien sudah mendapatkan banyak dukungan agar Sky naik jadi presiden direktur yang sah,” ucap Thomas.
“Dia tidak akan jadi presdir jika belum menikah dan mempunyai anak laki-laki,” balas River.
“Tapi Tuan. Ini… “ Thomas menjeda ucapannya, kali ini dia bingung menjelaskan semuanya pada atasannya itu.
“Katakan semuanya apa yang ingin kamu katakan! Jangan merasa sungkan, aku tidak masalah,” ucap River.
Thomas menghela napas panjang, dia tahu pasti apa yang nanti akan dia katakan membuat tuannya itu terluka lagi. “Tuan… saya… “
“Kamu tahu kalau aku benci dengan orang yang bertele-tele?” tanya River.
Thomas mengangguk. “Nyonya Andien sudah mendapatkan dukungan penuh dari MIT Group, dan keduanya akan bekerja sama untuk membangun bisnis kerajaan yang baru.”
“MIT Group? Pak Hutama Cakrawala?”
“Iya, Tuan. Pak Hutama langsung memberi pinjaman modal pada Tuan Sky karena putri mereka akan menikah dengannya,” balas Thomas, volume suaranya merendah, dia tidak tega mengatakan kalimat yang baginya itu pasti luka untuk River.
River terdiam beberapa detik, dia menghela napas panjang. “Luna yang akan menikah dengan Sky?”
“Iya, Tuan. Kedua pihak keluarga sudah bertemu, dan pertemuan minggu depan akan membahas tentang lamaran dan juga hari pernikahan keduanya.”
“Luna menyetujuinya?”
“Iya, Nona Luna menyetujuinya, bahkan kemarin malam Nona Luna dan Tuan Sky sudah mengadakan pertemuan dengan pergi kencan,” balas Thomas.
“Berarti kita harus selangkah lebih cepat dari rencana mereka. Aku harus menikah lebih cepat agar posisiku sebagai presdir tidak tergeser oleh Sky,” tukas River. “Dia harus mempunyai anak laki-laki untuk jadi presdir, sedangkan aku hanya butuh menikah saja. Jadi, posisi itu memang ditakdirkan untukku!” tambahnya dengan suara berat. “Thomas, aku ingin segera bicara dengan wanita itu, dan kuharap dia setuju dengan kerja sama yang akan kutawarkan untuknya. Atur pertemuan rahasiaku dengannya, dan juga dengan Paman Albert!”
“Baik, Tuan.”
“Biarkan aku sendiri sampai besok pagi, jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku!” perintah River.
“Baik, Tuan,” jawab Thomas. Pria itu langsung pergi meninggalkan River yang masih duduk di atas kursi roda. Thomas menatap sejenak tuannya yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu. Hatinya perih karena kemalangan terus saja dirasakan oleh River. Thomas sudah berjanji pada dirinya. Jika dia akan mengabdi dan mengorbankan segalanya untuk menjaga River.
Sedangkan River masih termenung di atas kursi rodanya. Dia mengembuskan napasnya dalam-dalam. Kenangan bersama cinta pertamanya itu langsung terekam di pikirannya. Kenapa malam uini dia sangat terluka dalam?
***