Hujan turun dengan begitu deras, mencambuk bumi seolah melampiaskan amarah langit. Setiap tetesnya adalah penanda kepergianku dari rumah itu-rumah yang sejak awal tak pernah bisa kusebut "rumah." Bangunan megah yang seharusnya menjadi tempatku bernaung, kini terasa seperti penjara yang baru saja kubebaskan diriku darinya. Kupeluk erat koper kecil di tanganku, isinya hanyalah beberapa helai pakaian dan dompet berisi uang tunai yang tak seberapa. Langkahku gemetar, bukan karena dinginnya angin malam yang menusuk tulang, melainkan karena dada ini terlalu penuh oleh luka yang belum sempat mengering, namun terus-menerus ditambah sayatan baru.
Aku tak tahu harus ke mana. Otakku terasa kosong, hanya ada gema dari kata-kata Dito yang menghantamku: "Pergi saja. Aku tak akan menahanmu. Lagipula, hatiku bukan untukmu. Tidak akan pernah." Kata-kata itu berputar-putar, menghujam, mengoyak sisa-sisa harga diriku. Tidak ada tujuan yang jelas, tidak ada rencana cadangan. Aku hanya ingin pergi, sejauh mungkin dari bayang-bayang pernikahan yang menyakitkan ini.
Aku mencoba menghubungi teman-teman lamaku, namun teleponku hanya berdering hampa atau langsung dialihkan ke kotak suara. Sejak aku menikah dengan Dito, mereka menjauh. Mungkin karena enggan terlibat dengan drama keluarga Mahendra yang terkenal angkuh, atau mungkin karena mereka tahu aku sudah tidak sama lagi. Keluargaku sendiri? Ah, mereka. Bagi mereka, aku adalah kegagalan. Kegagalan dalam menjaga pernikahan "prestisius" ini, pernikahan yang seharusnya menjadi simbol kesuksesan dan gengsi. Mereka tidak peduli pada batinku yang hancur, pada jiwaku yang terkoyak. Bagiku, yang mereka jaga hanya satu: nama baik dan gengsi keluarga. Sebuah topeng yang tebal, menutupi kehampaan di baliknya.
Dengan tangan gemetar, kupesan taksi online ke sebuah hotel murah di pinggiran kota. Aku tak peduli seberapa sederhana tempat itu, asalkan aku bisa tidur tanpa ancaman, tanpa tatapan menghina, tanpa rasa sakit yang mencekik. Namun takdir, rupanya, punya cara yang lebih kejam-atau mungkin, lebih tepat, untuk mempertemukan aku dengan sesuatu yang tak pernah kuduga.
Belum sampai lima belas menit perjalanan, mobil yang kutumpangi tiba-tiba tersentak dan berhenti di tengah guyuran hujan lebat. Kami berada di sebuah jalan yang sepi, di depan sebuah gedung perkantoran megah yang tampak kosong dan gelap, hanya beberapa lampu di lantai atas yang masih menyala.
"Maaf, Nona," suara sopir taksi terdengar cemas. "Mobilnya mogok. Sepertinya mesinnya bermasalah. Saya tidak bisa melanjutkan."
Jantungku mencelos. Mogok? Sekarang? Di tengah malam yang dingin dan hujan yang tak berkesudahan ini? Aku mencoba menahan kepanikan yang merayap. "Lalu... bagaimana?"
"Nona turun dulu saja, saya coba cari bantuan," ujarnya, tanpa menatapku. Ia terlihat sibuk mencoba menyalakan kembali mesin yang tak kunyung berhasil.
Tak ada pilihan lain. Aku pun turun dari mobil, koper kecilku terasa berat di tangan. Dinginnya air hujan langsung menerpa wajah dan pakaianku, membuatku menggigil hebat. Mataku menyapu sekitar, mencari tempat berteduh. Satu-satunya tempat yang tampak adalah teras gedung perkantoran di depanku. Dengan sisa-sisa tenaga, aku berlari ke arah teras itu, berharap menemukan sedikit perlindungan. Air hujan membasahi seluruh tubuhku, rambutku lepek menempel di wajah, dan pandanganku sedikit buram oleh tetesan air.
Saat itulah aku melihatnya.
Di balik pintu kaca besar gedung itu, di dalam lobi yang temaram, berdiri sesosok pria. Ia tidak bergerak, hanya memandangku tanpa ekspresi. Siluetnya terlihat jelas di balik kaca. Aku terpaku sejenak, tatapannya begitu intens, namun sekaligus begitu dingin. Wajahnya tajam, bersih, dan sangat kaku. Matanya nyaris tanpa emosi, seolah melihat dunia dari balik dinding es yang tak bisa ditembus. Dia seperti patung sempurna yang terukir dari pualam.
Aku mengangkat tanganku sedikit, mencoba meminta izin. "Maaf... bisa saya numpang berteduh sebentar?" Suaraku nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menderu, dan getaran di tubuhku membuat setiap kata yang keluar terasa begitu lemah.
Dia tidak menjawab. Tidak ada anggukan, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada kerutan di dahinya. Hanya kebisuan yang dingin. Lalu, perlahan, pintu kaca itu terbuka. Bukan dengan suara gemerincing kunci atau putaran engsel, melainkan dengan mekanisme otomatis yang halus. Dia melangkah mundur beberapa langkah, memberi isyarat padaku untuk masuk, lalu berjalan menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Aku pun mengikutinya masuk, menutup pintu kaca itu di belakangku, seolah masuk ke dalam dunia lain yang sunyi.
Ruangan itu adalah lobi sebuah kantor pribadi, yang terasa asing sekaligus mencengangkan. Mewah, itu pasti. Dinding-dinding marmer mengilap, lampu-lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut, dan sebuah meja resepsionis yang kosong, terbuat dari onyx hitam yang memantulkan bayangan. Namun, kemewahan itu terasa sepi. Tidak ada suara musik, tidak ada obrolan karyawan, hanya detak jam dinding yang terdengar jelas dan suara deru hujan di luar jendela-jendela besar yang membentang dari lantai ke langit-langit. Udara di dalam lobi terasa hangat, sebuah kontras yang mencolok dengan dinginnya di luar, namun keheningan itu justru membuatku merasa semakin kecil dan kikuk.
Aku berdiri di sana, di tengah ruangan yang sunyi, dengan pakaian basah dan tubuh yang masih menggigil. Rasa malu menyelimutiku. Aku, istri dari Dito Mahendra, kini berdiri tak berdaya di lobi kantor orang asing, dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
"Tunggu di sini."
Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari pria itu, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya dalam dan tenang, namun terdengar seperti perintah mutlak, bukan sebuah ajakan. Ia tidak melihat ke arahku, hanya menunjuk ke arah sofa kulit besar di sudut ruangan, lalu berbalik dan berjalan menuju salah satu pintu di ujung lobi. Aku hanya bisa mengangguk pelan, terlalu lelah untuk memprotes, terlalu malu untuk bertanya.
Beberapa menit berlalu. Setiap detik terasa begitu panjang dalam kesunyian itu. Aku mulai merasakan hawa dingin menusuk kulit, menyadari betapa basah kuyupnya diriku. Tepat ketika aku berpikir untuk menyerah dan duduk di sofa, pria itu kembali. Di tangannya, ia membawa handuk kering yang tebal dan secangkir teh hangat. Aroma teh melati langsung menyapa hidungku, sebuah kehangatan yang mendadak terasa begitu memikat.
Aku menerima handuk itu, jemariku gemetar saat bersentuhan dengan kain lembut. Sebuah rasa malu yang tak tertahankan menjalari diriku. "Aku tidak minta simpati," ucapku, suaraku nyaris berbisik, berusaha menutupi betapa putus asanya aku saat ini.
"Bagus," balasnya datar. "Karena aku tidak memberikannya."
Aku mengangkat kepalaku, menatapnya. Baru saat itulah aku benar-benar memperhatikan detail wajahnya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Matanya, meski dingin, memiliki intensitas yang menarik. Aku merasa seperti pernah melihatnya. Di mana? Lalu, seperti kilat, sebuah nama muncul di benakku. Arya Pratama.
Nama itu mulai berputar di kepalanku, seiring dengan fragmen-fragmen ingatan yang mulai menyatu. Arya Pratama. Ya, dia! Salah satu eksekutif muda paling ditakuti di dunia bisnis. Pemimpin dari sebuah perusahaan teknologi raksasa yang berkembang pesat. Pria yang dikenal tak pernah tersenyum, yang reputasinya dingin dan kaku sudah menjadi legenda di kalangan pebisnis. Dia juga dikenal tak pernah terlibat skandal apa pun... karena ia terlalu dingin untuk urusan personal. Dia adalah sosok yang jarang muncul di media, namun setiap kemunculannya selalu menciptakan gebrakan. Berdiri di hadapannya seperti ini, dalam keadaan yang begitu mengenaskan, membuatku merasa semakin kecil.
"Apa kau tersesat?" tanyanya, suaranya kembali memecah keheningan. Tidak ada nada menghakimi, hanya pertanyaan lugas.
Aku menarik napas dalam, membasuh wajahku dengan handuk. "Tidak," jawabku jujur, merasa tak ada gunanya berbohong pada pria setenang ini. "Aku sedang... kabur."
Alisnya sedikit terangkat, nyaris tak terlihat. "Dari siapa?"
Jantungku berdebar. Mengatakannya terasa begitu berat, namun entah mengapa, di hadapan pria asing ini, aku merasa bisa jujur. "Suamiku."
Ia tak tampak terkejut. Hanya mengangguk kecil, seolah itu adalah jawaban yang sudah sering ia dengar, seolah drama rumah tangga adalah hal yang lumrah baginya.
"Lalu kenapa kemari?" tanyanya lagi, tatapannya menyapu sekeliling ruangan, lalu kembali padaku.
Aku menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Aku bahkan tidak tahu tempat ini milik siapa. Aku hanya... ingin selamat malam ini. Aku hanya ingin tempat untuk berteduh."
Ia menatapku dalam diam, tatapan dingin itu kini terasa sedikit lebih dalam, seolah dia mencoba membaca pikiranku, atau mungkin, sekadar mengamati reaksi emosiku. Detik berikutnya ia bicara, dengan nada yang masih datar, namun entah mengapa, mengguncang jiwaku.
"Kau bisa menginap di ruang staf," ucapnya, menunjuk ke arah lorong di samping meja resepsionis. "Aman, tapi jangan berharap kasur empuk. Dan jangan coba-coba menyentuh barang di ruangan ini."
Sebuah tawaran. Sebuah uluran tangan dari orang asing yang dingin, yang tidak memberiku simpati, tapi memberiku perlindungan. Aku mengangguk, rasa lega membanjiri diriku. "Aku tak butuh kenyamanan," kataku, suaraku kembali bergetar. "Aku hanya... tak ingin pulang."
Ia menatapku lama, seolah kata "pulang" itu menyimpan makna tersendiri baginya. Lalu, dengan suara yang sedikit lebih pelan dari sebelumnya, seolah sebuah bisikan refleksi dari jiwanya sendiri, ia berkata, "Kadang yang kita sebut 'pulang' justru tempat paling berbahaya."
Kata-katanya menamparku. Aku tak tahu apa yang dia maksud, atau apa yang dia alami, namun kalimat itu beresonansi dalam hatiku. 'Pulang', bagiku, adalah neraka yang selama ini kusebut 'rumah'.
Malam itu, aku tidur di sofa panjang di ruang staf, sebuah ruangan sederhana dengan beberapa meja kerja dan rak buku. Aroma maskulin yang samar, perpaduan kopi dan kertas, menyelimutiku. Selimut tipis yang ia berikan terasa hangat, dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bisa tidur tanpa takut. Tanpa suara makian yang menyayat hati, tanpa tatapan jijik dari orang yang seharusnya menjadi pelindungku. Hanya ada keheningan, dan sesekali, suara deru hujan di luar jendela yang perlahan mereda. Aku merasa aman, sebuah sensasi yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku tidak menyadari, di balik keheningan malam itu, di balik dinding es tatapan Arya Pratama, ada sebuah jaring takdir yang sedang dirajut. Malam itu adalah awal segalanya.
Ketika aku terbangun keesokan paginya, setelah tidur yang paling nyenyak dalam enam bulan terakhir, sinar matahari pagi sudah menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi debu-debu yang menari di udara. Aku meregangkan tubuh, merasakan nyeri di punggung, namun jauh lebih ringan daripada beban di hatiku. Rasa tenang ini terasa begitu asing, begitu mendamba.
Aku keluar dari ruang staf, menuju lobi yang masih sepi. Meja resepsionis masih kosong. Aku bertanya-tanya, apakah Arya Pratama sudah pergi? Atau dia memang bekerja di jam-jam aneh seperti ini? Aku melangkah ke arah pintu kaca, berniat untuk mencari tahu keberadaan mobil taksi yang mogok kemarin, atau setidaknya mencari tumpangan baru.
Namun, saat aku baru saja akan membuka pintu, seseorang menghadangku. Bukan Arya Pratama. Melainkan seorang wanita muda berambut cepak, mengenakan setelan blazer rapi, dengan raut wajah yang serius. Dia memegang sebuah amplop berwarna krem di tangannya.
"Selamat pagi, Nona," sapanya dengan suara tenang dan profesional. "Saya Clara, asisten Tuan Arya Pratama."
Aku mengerutkan kening. "Selamat pagi. Maaf, saya ingin..."
"Tuan Arya Pratama berpesan," potongnya, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan kalimat. Ia menyerahkan amplop itu padaku. "Beliau meminta Anda untuk tetap di sini selama tiga hari ke depan."
Aku terdiam. Tiga hari? Kenapa?
"Dan," lanjutnya, matanya menatapku lurus, "beliau tertarik... dengan masalah Anda."
Jantungku berdebar kencang. Arya Pratama tertarik dengan masalahku? Seorang pria yang terkenal dingin dan acuh tak acuh pada urusan personal, tiba-tiba menunjukkan ketertarikan pada hidupku yang berantakan? Apa artinya ini?
Belum sempat aku bertanya, ponsel Clara berdering. Dia meminta izin sebentar, lalu menjawab telepon dengan nada bicara yang rendah. Samar-samar kudengar beberapa kata: "Tuan Mahendra... skandal perselingkuhan... berita nasional."
Otakku langsung teringat pada Dito. Skandal? Perselingkuhan? Dengan Luna? Perasaanku campur aduk. Di satu sisi, ada rasa puas yang samar, seperti karma yang bekerja. Di sisi lain, ada kecemasan. Apa artinya ini bagiku? Apakah ini akan mempermudah jalanku untuk pergi, atau justru memperumitnya?
Aku membuka amplop di tanganku. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Sebuah kunci kartu, dan sebuah catatan singkat dengan tulisan tangan yang rapi, namun terasa dingin: "Ruangan 703. Akses penuh. Jangan bicara jika tidak ditanya. Jangan buat masalah. Arya Pratama."
Dan di balik catatan itu, sebuah halaman koran yang sudah dicetak. Judul besar berwarna merah mencolok, seolah berteriak ke seluruh penjuru negeri:
CEO MUDA DITO MAHENDRA TERSANDUNG SKANDAL PERSELINGKUHAN, FOTO MESRA DENGAN LUNA SIREGAR BOCOR KE PUBLIK
Di bawahnya, ada foto-foto yang jelas, tidak ada yang bisa membantah. Dito dan Luna, berpelukan mesra di tempat-tempat umum, di restoran, bahkan di depan pintu apartemen. Tanggal dan waktu jelas tertera. Bukti tak terbantahkan.
Aku menatap berita itu, lalu menatap Clara yang masih sibuk dengan teleponnya. Sebuah pertanyaan muncul di benakku: apakah Arya Pratama tahu ini akan terjadi? Apakah ini semua adalah bagian dari rencana seseorang? Dan yang terpenting, kenapa dia membantuku? Apa maunya?
Keheningan di lobi itu terasa semakin berat, diisi oleh gemuruh pertanyaan dalam benakku. Aku tahu, hidupku baru saja berubah haluan. Dan pria dingin bernama Arya Pratama, yang bahkan tak memberiku simpati, kini menawariku perlindungan, dan entah apa lagi, di tengah badai yang baru saja menerpa mantan suamiku.
Aku menatap pesan singkat itu di koran yang kudapatkan dari Clara: "Sudah kubilang, jangan remehkan luka seorang istri." Tanda tangan di bawahnya-sebuah inisial 'A' yang tajam dan dingin-terasa seperti kode yang lebih dalam dari sekadar inisial nama Arya. Bukan cuma tentang simpatinya, yang ia sendiri akui tidak ia berikan, melainkan seolah... ia tahu. Ia mengawasi. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebetulan, sebuah perhitungan cermat di balik setiap tindakannya. Perasaan itu membuatku merinding, namun sekaligus membangkitkan secercah rasa ingin tahu yang aneh. Siapa sebenarnya Arya Pratama ini? Dan mengapa ia begitu tertarik dengan masalahku?
Langkah kakiku terasa ragu saat aku keluar dari ruang staf. Kantor itu masih sunyi, terlalu sunyi untuk jam sepuluh pagi di sebuah gedung perkantoran. Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela tinggi, menerangi debu-debu yang menari di udara, membuat suasana terasa semakin sureal. Aku merasa seperti masuk ke dalam labirin yang asing, jauh dari keramaian kota, jauh dari kebisingan duniaku yang lama. Kemewahan yang terpancar dari setiap sudut ruangan ini terasa dingin, kaku, seolah semua orang yang bekerja di sini pun tak berani datang lebih dulu dari pemiliknya. Sebuah aura kekuasaan yang tak terlihat, namun terasa begitu kuat.
Aku menemukan Arya Pratama sudah menungguku di ruang konferensi. Ruangan itu didominasi oleh sebuah meja panjang dari marmer hitam yang mengilap, dikelilingi kursi-kursi kulit berwarna gelap. Dia duduk santai di salah satu kursi di ujung meja, kemeja hitamnya kontras dengan kulit putihnya, dan ekspresi dingin yang tak bisa kutebak tercetak jelas di wajahnya. Di hadapannya, segelas kopi mengepulkan asap tipis dan tumpukan dokumen tebal. Dia terlihat begitu tenang, begitu terkendali, seolah kekacauan yang terjadi di luar sana, termasuk berita tentang Dito, sama sekali tidak mempengaruhinya.
"Kau terlihat lebih tenang pagi ini," katanya tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada dokumen di hadapannya. Suaranya datar, tanpa emosi, namun ada sedikit nada pengamatan di sana.
Aku berdiri kaku di ambang pintu, koper kecilku masih di sisiku. Tubuhku terasa tegang, siap untuk bereaksi. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibirku, adalah pertanyaan yang paling mengganggu pikiranku sejak aku melihat berita di koran tadi. "Kau menyebarkan foto itu?"
Dia mengangkat kepalanya, menoleh perlahan ke arahku. Matanya tajam, namun tidak ada kemarahan atau penyesalan di sana. Hanya kehampaan yang dingin. "Aku hanya membuka pintu," jawabnya, suaranya tenang, seolah dia sedang menjelaskan fakta ilmiah yang tak terbantahkan. "Media yang memutuskan untuk masuk."
Penjelasan itu membuatku terdiam. Sebuah metafora yang cerdas, sekaligus menakutkan. Itu berarti dia punya kendali. Dia adalah orang di balik layar. "Kenapa?" tanyaku pelan, berusaha menguatkan suaraku. "Apa untungnya bagimu menghancurkan suamiku?" Kata 'suamiku' terasa begitu asing di lidahku, seperti gelar yang sudah tidak lagi relevan.
Senyum samar muncul di bibirnya, nyaris sinis. Itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kepuasan yang dingin. "Aku tidak peduli pada suamimu," katanya, tatapannya kini mengunciku. "Aku hanya peduli pada peluang."
Peluang? Kata itu membuatku merasa seperti sebuah objek, sebuah bidak dalam permainan catur yang rumit. Harga diriku yang sudah terkoyak, kini terasa semakin diinjak-injak. "Aku bukan peluang," balasku tegas, berusaha menunjukkan bahwa aku bukan boneka yang bisa ia mainkan.
Dia berdiri perlahan, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapanku. Matanya menatapku lurus, tajam menembus, seolah mencoba menguliti setiap lapisan pertahananku. "Tapi kau bisa jadi alat."
Darahku berdesir dingin. Kata 'alat' itu menusukku. Setelah semua pengkhianatan yang kualami, setelah merasa tak berdaya selama berbulan-bulan, kini aku dihadapkan pada kemungkinan untuk dimanfaatkan oleh orang asing yang dingin. Sebuah alat? Aku bukan alat siapa pun.
"Aku butuh seseorang yang bersih citranya," lanjutnya, melangkah pelan mengitari meja. Setiap langkahnya terasa terukur, penuh perhitungan. "Dikenal publik sebagai 'korban'. Seseorang yang punya alasan kuat untuk melawan suaminya." Dia berhenti di depanku, jarak kami tidak lebih dari dua langkah. "Aku sedang menghadapi konsolidasi besar. Ada beberapa perusahaan yang harus kukuasai, beberapa lawan yang harus kusingkirkan. Dan Dito... adalah salah satu batu sandungan kecil yang harus disingkirkan dari jalan itu."
Aku menggelengkan kepala, mencoba memahami logika dingin di balik kata-katanya. "Kau ingin memanfaatkan aku untuk membalas dendam bisnis?" Terdengar begitu kejam, begitu tidak manusiawi.
"Aku ingin menawarkan kesepakatan," potongnya cepat, tidak ada jeda dalam suaranya. "Kau tinggal di sini. Kuberi nama baru, perlindungan, bahkan kontrak kerja dan akses sosial yang luas." Matanya menyapu tubuhku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Sebagai imbalan, kau bermain dalam drama ini bersamaku."
Drama? Aku menatapnya ngeri. "Aku bukan aktris. Aku cuma istri yang dikhianati." Suaraku sedikit bergetar, ada keputusasaan yang meluap. Aku hanya ingin kedamaian, bukan lagi drama baru.
"Justru itu," balasnya, ada sedikit nada tipis, nyaris tak terdengar, yang bisa jadi adalah sebuah kekaguman dingin. "Tak ada yang lebih meyakinkan daripada kebenaran yang menyakitkan."
Kata-katanya membuatku terdiam. Ada benarnya. Jika ini semua adalah kebenaran, mengapa aku harus bersembunyi? Tapi... bermain drama? Menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang mengerikan ini? Aku mundur selangkah, naluriku berteriak untuk menjauh. "Dan jika aku menolak?"
"Pintu di belakangmu selalu terbuka." Ia menunjuk ke luar tanpa emosi, tangannya bergerak anggun. "Tapi jangan kembali jika kau sudah pergi." Sebuah ancaman yang terselubung, sebuah pernyataan final yang tak bisa dibantah. Sekali aku menolak bantuannya, tidak akan ada kesempatan kedua.
Aku terdiam, memandang ke arah pintu yang ditunjuknya. Di luar sana, hujan sudah reda, namun badai yang lebih besar sedang menungguku. Dito. Dia akan menunggu dengan kemarahan yang membara, dengan fitnah yang siap dilontarkan, dengan segala cara untuk mempermalukanku dan mempertahankan kekuasaannya. Dia tidak akan membiarkanku pergi begitu saja tanpa perlawanan. Aku tahu itu.
Di sini, di dalam gedung yang dingin namun terasa aman ini, Arya Pratama menawarkan perang. Tapi kali ini, aku bisa berdiri. Aku bisa melawan. Aku tidak akan menjadi bayangan yang diam, tidak akan menjadi korban yang pasrah. Pertanyaan itu kembali bergaung di benakku: Apa aku siap masuk ke dunia yang lebih kejam daripada rumah tangga palsuku? Apakah aku siap menjadi pion dalam permainan kekuasaan yang mungkin akan menghancurkanku sepenuhnya?
Arya melangkah mendekat lagi, satu langkah demi satu langkah, mengurangi jarak di antara kami. Suaranya, ketika ia bicara lagi, terdengar lebih dingin, namun ada intensitas yang membuatku terpaku. "Ini bukan tentang membalas dendam," katanya, seolah membaca keraguan di mataku. "Bukan juga tentang cinta. Ini tentang mengambil kembali harga diri yang dirampas."
Harga diri. Kata itu seperti mantra yang menghantamku. Harga diri yang telah Dito renggut. Harga diri yang kubiarkan tercabik-cabik selama enam bulan. Harga diri yang keluargaku abaikan demi gengsi. Ya, ini bukan tentang cinta. Cinta sudah lama mati dalam pernikahanku. Ini bukan tentang membalas dendam dalam artian yang kekanak-kanakan. Ini tentang keadilan. Tentang mendapatkan kembali apa yang telah diambil dariku.
Dan untuk pertama kalinya... aku tergoda.
Tergoda untuk berhenti jadi korban yang lemah, yang hanya bisa menangis dalam diam.
Tergoda untuk berhenti jadi bayangan yang tak berarti.
Dan mulai jadi pemain. Pemain dalam permainan yang akan mengubah hidupku, terlepas dari seberapa berbahaya itu. Aku ingin merasakan kekuatan lagi. Aku ingin merasakan kendali atas hidupku sendiri.
Sebuah senyum tipis, pahit, namun penuh tekad, terukir di bibirku. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku, suaraku terdengar lebih mantap dari yang kuduga. Itu bukan pertanyaan menyerah, melainkan sebuah pertanyaan untuk memahami aturan main.
Arya menatapku. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan simpati, bukan emosi, namun seolah sebuah pengakuan. "Detailnya akan kusiapkan," katanya. "Untuk saat ini, kau hanya perlu tahu satu hal: kau harus percaya padaku. Dan kau tidak boleh melakukan apa pun tanpa persetujuanku."
Aku mengangguk. Sebuah kesepakatan diam-diam telah terjalin. Kesepakatan yang didasari bukan oleh kepercayaan mutlak, melainkan oleh kebutuhan yang mendesak dan janji harga diri yang terenggut.
Tiba-tiba, sebuah nada dering memecah keheningan. Ponselku. Aku meraihnya dari saku. Jantungku mencelos saat melihat nama di layar: Luna.
Dan itu bukan panggilan suara biasa. Ini adalah video call.
Tangan gemetar mengangkat ponsel, menekan tombol hijau. Sebuah koneksi terjalin, dan wajah Luna muncul di layar, dengan senyum miring yang khas, seolah dia sedang memegang kartu truf terakhir. Matanya memancarkan rasa superioritas, sebuah cerminan dari ego Dito.
"Aku dengar kau kabur, Sayang," suaranya melengking, penuh sindiran. "Berita cepat menyebar, ya? Tapi seharusnya kau tahu..." Senyumnya semakin lebar, dan aku bisa melihat kemarahan yang tersembunyi di balik tatapan matanya. "Dito bukan milik siapa-siapa. Dia milik aku. Dan kalau kau berani main api, aku pastikan kau terbakar lebih dulu."
Jeda. Luna masih tersenyum. Dan kemudian, dia menutup panggilan itu, meninggalkan aku terpaku di tempat, dengan wajahnya yang mengejek masih terbayang di benakku.
Arya Pratama, yang sedari tadi hanya diam mengamati, kini melangkah lebih dekat. Matanya menatap ponselku, lalu beralih padaku. Ada sesuatu yang tak bisa kubaca di sorot matanya yang dingin itu.
"Dia sudah tahu," gumamku, lebih kepada diriku sendiri.
"Tentu saja," balas Arya, suaranya tenang, seolah ini sudah diperkirakan. "Dia akan tahu. Ini baru permulaan."
Permulaan. Kata itu bergema di telingaku. Permulaan dari sebuah perang yang belum pernah kubayangkan akan kumasuki. Dan Arya Pratama, pria dingin yang tak memberiku simpati, adalah jenderal di balik layar. Aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Dan di antara kemarahan Luna dan perhitungan Arya, aku harus menemukan diriku sendiri, dan berjuang untuk harga diriku.