Bab 2

Kembali bertemu denganmu membuatku sadar, melepasmu terasa lebih baik demi masa depanku.

Javier bersandar di pilar menatap gerak gerik Tanti sejak ia siuman tadi. Sementara Tanti berusaha duduk dengan tenang dan mengacuhkan keberadaan pria itu. Tanti melirik sekilas kepada Javier yang dengan terang-terangan menatap dirinya dengan tajam dan dingin seperti biasanya, ia merasa risih tentu saja. Seolah-olah dirinya memiliki salah.

Tanti mendengkus jengah tak suka dengan tatapan tajam nan dingin tersebut. Kemudian ia teringat jika bedak gatal Asoka sudah habis. Ia jelas memanfaatkan itu untuk sejenak menyingkir dari ruang ber-atmosfer yang sama dengan pria yang selalu dengan telak mengguncang alam bawah sadarnya dengan gaduhnya.

Tanti lantas mencondongkan tubuh ke arah Tania yang duduk tak jauh darinya seraya meminta izin, “Bun, Tanti ke bawah dulu sebentar, beli bedaknya Asoka ya?”

Tania menatap putrinya dan mengangguk, “Ya, hati-hati. Eh, nggak pesan aja ke apotik nanti dibawakan sekalian sama obatnya Kenzo.”

“Tanti mau cari angin sekalian. Suntuk di sini.” Dari sudut matanya ia melihat Javier tersenyum sinis dengan menaikkan sebelah alisnya yang lebat dan sempurna itu, mendengkus jengah menanggapi ucapan Tanti yang jelas terdengar olehnya.

Javier tahu gadis itu merasa terintimidasi dengan keberadaan dirinya di sini dan itu bagus. Itu memang yang ia inginkan, Javier sudah menentukan. Kinilah saatnya menjalankan misi yang sudah ia inginkan. Selama ini ia sudah menahannya namun situasi keluarga mereka yang saling berbesanan tentu tidak bisa dipungkiri akan lebih sering menghadirkan pertemuan di antara keduanya dikemudian hari.

Tanti bangkit dan mengambil dompetnya, dengan hanya memakai gaun tanpa lengan ia berjalan keluar dan memasuki lift khusus.

Javier beringsut saat melihat Tanti menutup pintu keluar. Ia pun beranjak dari sana dan memisahkan diri dari yang lain.

Tanti segera masuk begitu pintu lift terbuka, saat pintu lift hampir tertutup tampak sebuah telapak tangan menahannya, kemudian masuklah Javier tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu menekan tombol stop saat pintu sudah menutup rapat. Tatapan tajam Javier tertuju sepenuhnya kepada Tanti.

Wajah Tanti memucat ia melangkah mundur sampai membentur dinding lift. Ia ketakutan berada berdua dengan Javier yang bertampang dingin dan tak terbaca seperti itu.

Mengapa pria ini tampak marah, apa salahku? Sepanjang hari ini juga aku udah menghindar.

Tanti memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa dihentikan?” Suaranya terdengar gugup, sial!

Javier melangkah maju dan menempelkan tubuh bagian depannya dengan tubuh Tanti sementara kedua tangannya sudah mengurung Tanti yang reflek mundur dan membentur dinding lift yang terasa dingin. Napas berat Javier tepat mengenai dahi wanita tinggi semampai di depannya ini. Ia tidak tahan juga seharian ini diacuhkan seolah dirinya seperti makhluk tak kasat mata. Javier menangkup rahang Tanti yang memalingkan wajahnya agar menatapnya sedikit mendongakkan agar mata mereka bertemu. Namun wanita itu malah memejamkan matanya seolah tak sudi melihatnya.

Napas Javier semakin berat dan memburu, pandangannya meneliti wajah mungil di depannya ini kemudian berpindah ke bibir mungilnya yang penuh berbalut lipstik berwarna merah lalu leher jenjang yang sedari tadi mengundang kecupan terus semakin ke bawah ia menyipitkan matanya dan menatap semakin tajam dengan bibir tipisnya yang terkatup rapat saat mendapati dua kancing gaun Tanti sudah terbuka dan memperlihatkan celah lembah payudaranya yang ranum.

Tak kuasa menahan hasratnya Javier menunduk, sebelah tangannya menjepit dagu Tanti dengan jempol dan jari telunjuknya menekan agar membuka paksa celah bibir Tanti dan kemudian melumatnya. Tanti yang mendapatkan serangan tak terduga seperti itu tentu saja menegang dalam pelukannya, terlebih sebelah tangan Javier yang lain sudah merayap dan menekan punggung bawahnya untuk semakin merapat pada tubuh bagian depan pria tampan itu. Tanti tanpa sadar menjatuhkan dompetnya dan kedua tangannya reflek terangkat dan meremas kemeja Javier dibagikan dadanya seraya berusaha melepaskan dirinya.

Javier yang merasakan mendapatkan penolakan dari Tanti bukannya melepaskan wanita itu tetapi malah semakin merapatkan diri dan semakin merundukkan kepalanya. Bibir Javier turun dengan hidung mancungnya menyingkap kerah gaun Tanti, mencumbu dada bagian atasnya. Lidah dan bibir Javier dengan lincah dan kuatnya menghisap meninggalkan tanda di sana. Javier merasa hatinya melambung untuk beberapa saat sebelum kedua tangan Tanti merangkum kedua sisi wajahnya menjauhkan kepala Javier dari dada wanita itu serta menamparnya dengan keras.

Tatapan Javier tampak kaget dan marah mendapatkan reaksi seperti itu dari Tanti tanpa sadar kedua tangannya meremas kuat kedua sisi pinggang Tanti. Tanti dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari Javier. Ia ketakutan saat Javier memaksakan diri menciuminya seperti itu dan kemudian meninggalkan tanda di tubuhnya.

“Lepaskan aku ... kamu nggak berhak melakukan ini padaku!” protes Tanti seraya mendorong Javier dengan terengah-engah.

“Oh ya? Lalu dengan gaunmu yang super mini ini. Wanita manja sepertimu pasti sengaja ingin menggoda para pria di dalam sana begitu? Pake sok-sokan bantu Abang berantem lagi hah! Kamu sengaja ya?! Di mana otakmu?!” tegur Javier, seraya mengguncang tubuh Tanti dengan gemas.

Tatapan Javier benar-benar berubah marah dan tampak khawatir saat ini. Benarkah? Setidaknya seperti itu yang terlihat oleh Tanti. Namun untuk apa pria itu melakukan ini semua? Bukankah selama ini Javier membenci dan menjauhinya?

Sementara bagi Javier sendiri saat tadi melihat Tanti memasang badan untuk saudara lelakinya. Ia jelas terkejut, rasanya jantungnya berpindah ke perut. Javier sendiri yakin jika di hatinya masih sepenuhnya membenci gadis ini, namun melihat seorang perempuan menerjang seperti yang dilakukan Tanti tadi tak urung membuatnya geram karena cemas bukan dengan kebencian. Terlebih jantungnya seperti terlompat keluar ketika melihat Tanti terkapar pingsan dalam pelukannya Dirandra, yang tidak mereka sadari sampai ujung gaunnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang mulus dan menjadi tontonan banyak orang. Sebenci-bencinya Javier, melihat seorang wanita tumbang karena hantaman seorang pria tak urung membuat amarah tersulut. Javier tidak tahan lalu merebut Tanti yang berada dalam pelukan Dirandra. Serta merebahkannya di sofa.

“Aku wanita bebas! Baju-baju aku, apa urusannya denganmu? Siapa suruh kamu bantu aku. Mas Diran adalah kakakku jadi wajib dong aku bantu jangankan tubuhku, nyawaku juga akan aku berikan untuknya!” balas Tanti gemas dan jengkel, ia tidak habis pikir dengan sikap Javier. Sebentar dingin, sebentar panas persis kayak dispenser air isi ulang.

Tanti pun sudah tak bisa menahan kejengkelannya terlebih bekas pukulan Edgar menyisakan pening di pelipisnya. Tanti dengan sekuat tenaga mendorong Javier sehingga tubuh Javier sedikit terhuyung ke belakang. Tanti menekan tombol agar lift berjalan kembali, keduanya diam. Tanti sendiri berusaha mengacuhkan keberadaan Javier yang masih setia menatapnya.

“Jangan pernah lagi menyentuhku, bukankah aku hanya seperti duri dalam daging untukmu?” ujar Tanti dengan memunggungi Javier yang menunduk. Matanya sudah berkaca-kaca, ia berusaha dengan sangat kuat menahan agar butiran itu tidak mendobrak keluar dari pelupuk matanya.

Akhirnya pintu lift terbuka, Tanti keluar dengan dagu terangkat dan meninggalkan Javier yang masih berdiri terpaku menatap kepergiannya.

Tanti menghentikan langkahnya sekitar berjarak tiga meter dari pintu lift dan baru menyadari bahwa dompetnya tertinggal. Tanti menarik napas seraya memejamkan matanya menghitung sampai sepuluh sebelum berbalik badan dan memaksa tubuhnya kembali pada lift khusus itu serta berdoa bahwa makhluk Tuhan yang tampan rupawan lagi dingin itu sudah pergi. Namun harapan tinggallah harapan, karena Javier sudah bersandar di dinding sebelah lift seraya mendekap dompet Tanti di dadanya.

Tanti mengayunkan langkah dengan mantab ingin segera mengakhiri pertemuan dengan Javier yang kali ini terasa sangat berbeda. Terlebih mengingat ciuman tadi, seketika keringat dingin mengalir sepanjang tulang punggungnya. Imbasnya pada tubuhnya yang sialnya sangat bahagia merasakan percikan energi itu kembali. Mengingatkan Tanti pada sesuatu yang sangat ia ingin kubur baik-baik hanya untuk dirinya. Sedikit lagi usahanya dan segera segalanya akan baik-baik saja.

“Berikan dompetku,” pinta Tanti dingin, seraya mengulurkan tangan kanannya, telapak tangannya menengadah mendekat ke arah Javier.

Pandangan Javier yang semula menekuri paras wajah Tanti turun ke tangannya dan berhenti pada pergelangan gadis itu. Matanya menyipit tajam, ia tak mungkin salah melihat. Ada keloid memanjang hampir tidak terlihat–seperti bekas sayatan-pada pergelangan bagian dalam Tanti. Javier ingat betul bertahun-tahun yang lalu luka itu tak ada di sana. Kulit putih Tanti yang pembuluh darah hijaunya bahkan tampak samar terlihat saat ini, tentu saja tidak bisa menutupi hal itu dari mata jelinya. Dengan segera tangannya terulur dan mencekal tangan Tanti. Menarik tubuh wanita itu sehingga kembali membentur dada bidangnya.

Kesiap kaget dan pekikan tertahan Tanti seketika membangkitkan sesuatu yang lama tak pernah dirasakan oleh Javier. Desiran nikmat dan berbahaya, tentu saja Javier tidak menyukai hal ini.

“Dari mana kamu dapatkan luka itu?”

Tanti melirik cengkraman Javier pada pergelangan tangannya dan ia baru tersadar jika pria itu ternyata tahu. Padahal selama ini ia sudah dengan sukses menyembunyikan salah satu bukti kesakitannya yang sempat berada pada titik nol dan merasa tak sanggup menahan segala beban hidup dunia fana.

“Bukan urusanmu!” ketus Tanti seraya berusaha melepaskan diri dari cengkraman Javier.

“Lepaskan adikku. Javier,” ujar suara bariton tegas dari balik tubuh Javier.

Javier merenggangkan cengkramannya dan hal itu dimanfaatkan Tanti untuk melepaskan diri dan segera menyambar dompetnya dan pergi dari sana.

Bab 3

Rahasia termanis akan aku bawa pergi bersama meniti masa depanku yang sudah pasti tidak ada kamu di sana. Anggap aku ini pengecut, namun sungguh aku tak sanggup terluka lebih dari ini. Melihat wajah tampanmu yang aku tahu pasti tak pernah mengarah padaku.

Tanti melirik sekilas pada kakak bungsunya yang berdiri menatapnya dengan pandangan datar, mengangguk sebagai tanda terima kasih sebelum akhirnya menjauhkan diri dari biang onar kekacauan hatinya, seraya berlari kecil segera pergi dari sana. Tanti menekan dadanya tempat jantung berada seraya bersyukur dengan kehadiran saudaranya itu. Jika tidak, ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa menjawab pertanyaan Javier yang menuntut seperti itu, seolah ia peduli yang nyatanya sudah pasti tidak. Tanti tahu benar pria itu membencinya dan mungkin mendendam tentang sesuatu yang jelas sekali bukan kesalahannya.

Sekali lagi Tanti memilih diam dan menghindar daripada menjelaskan namun akan dianggap sebagai omong kosong oleh seorang Javier Berto. Tanti ingin segera mengubur semuanya dan tak ingin menggali lagi, cerita usang. Cukup dirinya saja yang tahu dan menyimpan semuanya.

“Mau apa kamu ke sini, sengaja menyusul asikmu?” tanya Javier dengan ketus dan dingin kepada Dany.

“Aku sudah tekankan padamu bukan, jauhi adikku yang sering kau anggap sebagai lebah pengganggu dahulu,” jawab Dany dengan mengacuhkan pertanyaan Javier.

“Kau tidak bisa melarangku untuk mendekati Tanti.”

“Kau gila atau gimana sih?! Bukannya kamu tidak suka dengan adikku? Jangan bilang karena pernikahan Kamini dan Mas Diran menjadikan kamu lebih leluasa mendekati adikku. Aku tahu niatmu kepada Tanti dan setahuku itu semua tidaklah baik. Jauhi dia dan jangan membuatnya terluka.”

“Terluka? Seorang Tanti Ekadanta terluka? Yang benar saja, dia tampak baik-baik saja. Di sini kau tahu,” ujar Javier seraya menunjuk dadanya, “di sini sakitnya tak terperi dan semua adalah sebab perbuatan adikmu.”

“Kau salah jika ingin melampiaskan dendam kepada Tanti. Kau tidak tahu apa yang sudah dirinya lalui selama ini.”

“Dan kau merasa tahu segalanya? Bahkan seingatku kamu tidak pernah ada untuknya,” tukas Javier sengit.

Aura permusuhan terpancar jelas dari keduanya hingga keberadaan mereka yang menghalangi pintu lift tidak berani di tegur oleh seorangpun yang berlalu-lalang di sana.

“Jangan konyol Javier, aku ini kakaknya. Kami satu rumah, jika pun kami melakukan hal lainnya lebih dari sekedar bertatap muka. Apa iya kamu harus tahu?”

Kalimat ambigu dari Dany sontak menimbulkan pikiran negatif Javier. Javier mendengkus jijik kepada Dany.

“Memangnya kalian berbuat apa?” Tak urung pun ia bertanya.

“Apapun yang aku lakukan terhadap adikku, kau tak perlu tahu. Jauhi dia, karena aku sudah memilihkan pendamping untuknya.”

“Kau pikir ini jaman Siti Nurbaya? Pakai perjodohan segala.” Javier semakin menatap jijik dan jengah kepada Dany.

“Jangan lupa, Kamini dan mas Diran juga menikah karena perjodohan.”

“Perlu kamu tahu, apa yang terjadi pada adikku semua karena perbuatan laknat kakak iparmu. Keluarga kalian memang tidak ada yang beres,” ujar Javier yang sudah tersulut amarahnya. Ia tentu saja marah seperti juga kakak sulungnya Edgar mendapati sang adik bungsu yang baru kembali kepelukan mereka mendapatkan perlakukan yang tidak benar dari salah satu anggota keluarga Ekadanta. Namun Javier memilih diam, karena sang kakak sulung telah turun tangan terlebih dahulu.

“Hati-hati dengan ucapanmu, sebelum kamu menyesal nantinya dan menjilat ludahmu sendiri. Aku sangat serius dengan ucapanku bahwa telah memiliki jodoh untuk Tanti, jangan dekati adikku. Aku tahu bibirnya yang membengkak pasti karena ulahmu.” Setelah berkata demikian Dany memilih berbalik badan dan menekan tombol lift untuk kembali ke lantai atas.

Namun sebelum pintu lift tertutup dan Javier yang masih berdiri di luar sana seraya menatapnya tajam ia pun menambahkan, “Oh ya satu lagi. Perlu kamu ketahui sekalipun seekor lebah pengganggu, tanpa kehadiran dirinya semesta tak akan berjalan sebagaimana mestinya.” Seringai khas Dany tersungging sebelum pintu lift menutup.

Javier menatap marah dengan matanya yang merah ke arah pintu lift. Jika saja ia tidak ingat di mana ia berada saat ini. Ingin rasanya ia mematahkan leher Si Bedebah, Dany. Javier kemudian mendengkus dan mencari keberadaan Tanti. Kali ini ia akan mulai rencana balas dendamnya. Tanti tidak boleh bahagia dan Javier akan menggagalkan pernikahan mereka bagaimanapun caranya. Membuat calon suaminya mati misalnya. Itu terdengar lebih baik, semoga Tanti akan meratapi kepergian calon suaminya dengan hati yang hancur berkeping-keping, seperti yang sampai detik ini ia rasakan. Hati Javier membuncah bahagia namun juga terselip sebuah rasa gundah yang ia sendiri amat sangat tidak ia sukai. Sebagai pria normal tentu saja ia menyukai berdekatan dengan wanita secantik Tanti apalagi tadi ia sudah merasakan tubuh empuk dan hangat wanita muda itu. Lalu tekstur bibir dan rongga mulutnya yang seketika membuat aliran darah Javier terpompa dengan derasnya. Desir nikmat dirasakannya saat ini hanya dengan membayangkan bibir itu di bawah kendali dirinya, lagi.

Tanti menarik napas dan menghembuskan perlahan begitu sampai di depan apotek, ia tidak ingin terlihat kacau walaupun ia tahu banyak pasang mata melihat ke arahnya. Seketika ia meraba keningnya yang mulai berdenyut. Sial, tonjokan Edgar mulai terasa kini. Ia pasti terlihat seperti korban KDRT saat ini. Pantas saja mereka melihat ke arahnya seperti itu. Pening mulai menyerangnya dan ia sedikit oleng saat menginjakkan kakinya di undakan terakhir sebelum melangkah memasuki pintu Apotek.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya seorang SPG.

“Mbak bisa tolong carikan bedak gatal,” ucap Tanti yang terdengar lemah saat ini. Kerutan di keningnya semakin dalam, begitu juga dahinya yang sudah menampilkan butir-butir peluh di sana.

SPG itu tidak beranjak dari tempatnya, ia memilih mengkhawatirkan keadaan Tanti. “Mbak duduk aja dulu, saya bantu carikan apa saja yang Anda butuhkan.”

Tanti pun mengikuti saran SPG tersebut dan bersandar dengan lemas. Mengucap terima kasih kepada SPG tersebut dan membayar belanjaan. Tanti tidak membuang waktu lama di sana. Ia risih dengan pandangan orang-orang yang seolah ingin tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Mbak, tidak ingin menghubungi seseorang mungkin?” tawar SPG tadi. Ia mengira Tanti adalah seorang korban KDRT. Wajah Tanti jelas tidak bisa berbohong, sangat terlihat seperti korban penganiayaan.

“Nggak usah Mbak, ini juga saya dari rumah sakit kok. Cuma belikan anak saja, bedaknya habis.”

Tanti segera beranjak dari sana sebelum ditanya macam-macam lagi, sungguh ia ingin segera kembali dan merebahkan diri seraya memeluk Asoka pelipur lara dan rindunya pada seseorang.

Tanti memilih mendesah kecewa saat layar ponselnya tidak juga kunjung menyala, karena sibuknya ia mengurusi ketiga keponakan tampannya membuat dirinya melupakan untuk mengisi daya ponsel. Ia pun bergegas ke gerai mesin ATM terdekat dan segera mengirimkan sejumlah uang kepada eyangnya di Jawa Tengah.

Tepukan di bahunya mengagetan dirinya, sampai ia spontan berbalik seraya mendekap dadanya.

“Mas Ferdi? Kok ada di sini?”

“Salam dulu kek, sama Mas,” ujar pria tampan itu.

Wajah Tanti merona, tersipu malu dan hal itu tak luput dari perhatian Javier yang kalah cepat mendekati gadis tersebut.

Javier mengerutkan keningnya dengan rahangnya yang beradu ketat, amarah kembali tersulut hingga tanpa sadar ia mengepalkan kedua tinju di samping tubuhnya.

“Mas? Yang benar saja. Murahan sekali. Cih!” gumam Javier bersungut-sungut sebelum berbalik pergi. Namun sebelumnya ia mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar sepasang pria dan wanita muda itu sebelum berlalu dari sana.

Javier segera mengetikkan sesuatu seraya mengirim gambar yang sempat ia ambil tadi dan menghubungi orang kepercayaannya.

“Cari tahu siapa pria yang bersama dengan Tanti Ekadanta,” titah Javier begitu sambungan telepon di terima dari seberang sana.

Javier menyeringai licik setelah mengakhiri panggilannya. Jangan harap kamu akan mudah lepas dari aku, Tanti. Langkahi dulu mayatku, sebelum aku menghancurkan hidupmu. Jangan sebut aku Javier Berto.

“Mas apa kabar?” tanya Tanti setelah berdehem mengatasi kegugupannya. Bukan gugup karena melihat rupa rupawan itu namun karena hal lain. Ia tidak ingin dipergoki oleh anggota keluarganya.

“Baik Dek, Mas habis tengok teman. Kamu ingat Ismi?” tanya Ferdi yang kemudian melanjutkan setelah mendapatkan anggukan dari Tanti, “dia dirawat di sini karena kabur dari rumah. Ia tidak mau dijodohkan dengan anak Pak Lurah.”

Tanti yang semula akan membuka suara kembali bungkam begitu Ferdi sudah menjelaskan sebab gadis itu di rawat di sini.

“Kamu tahu sendiri bukan, Ismi itu sudah 25 tahun, sudah waktunya berumah tangga. Apalagi kami tinggal di desa. Sudah pasti akan menjadi pergunjingan orang jika tidak segera menikah, julukan perawan tua sungguh tidaklah keren menurut Mas.”

Tanti terkekeh geli sekaligus waspada dan sedikit khawatir karena usianya yang sudah menginjak 27 tahun pun masih setia menjomlo. Bagaimana nasibnya jika ikut tinggal di sana? Walaupun ia cantik tidak menutup kemungkinan mulut usil akan menggunjingkan dirinya juga nantinya.

“Mas berapa lama tinggal di sini?” tanti memilih mengalihkan pembicaraan.

“Sekitar dua hari, begitu Ismi diperbolehkan pulang. Mas akan bawa dia kembali sebelum orang tuanya membuat laporan orang hilang.”

Wajah Tanti berseri seketika. “Kalau begitu, jika Mas gak repot. Boleh tidak, Tanti titip oleh-oleh buat dedek dan eyang?”

“Tentu saja boleh, dua hari lagi kita ketemu di kafe depan sana bagaimana?” ujar Ferdi seraya menunjuk pada kafe yang dimaksud.

Tanti mengikuti arah petunjuk Ferdi namun dengan cepat ia pun menggeleng dengan tegas. Jelas Tanti tidak ingin mengambil resiko dua hari lagi berarti keluarganya masih akan menghabiskan waktu di rumah sakit ini dan ia jelas tidak ingin mengambil resiko ketahuan oleh mereka.

“Jangan di sini ya Mas. Nanti Tanti kabari.”

“Memangnya apa yang kamu khawatirkan dan apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ferdi curiga.

“Kenzo patah kakinya. Makanya kami semua di sini.”

“Astaga, lalu bagaimana keadaannya?”

“Sudah selesai operasi sih. Sejauh ini berjalan baik.”

“Pantas saja kamu tidak ingin bertemu dekat sini. Baiklah, Mas mengerti. Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan hubungi Mas langsung ya.”

“Mas janji kan? Akan jemput Tanti awal bulan depan?”

“Iya Mas janji. Sebelum ulang tahun Dedek, Mas akan jemput kamu di sini.”

“Loh, kok di sini? Jemput di bandara saja ya Mas. Biar gak repot, ajak dia juga.”

“Mas gak repot kok. Mas mau melakukan perjalanan darat dengan kamu.”

“Janganlah Mas capek nanti. Tanti juga nggak berani bawa kendaraan jika lintas provinsi.”

“Ya sudah, terserah kamu aja deh. Mas ngikut.”

“Kalau begitu Tanti pamit dulu ya Mas. Sebelum Bunda telepon. Ponsel Tanti kehabisan daya, jangan sampai mereka panik.”

“Iyalah, pasti Tante panik nanti. Anak gadis tercantiknya hilang.”

“Mas bisa aja,” ujar Tanti seraya menepuk bahu Ferdi dengan lembut dan segera berlalu.

Ferdi yang ditinggalkan hanya menatap punggung Tanti sampai wanita itu menghilang ke dalam gedung khusus. Ferdi menarungkan alisnya, ia tahu gedung itu dikhususkan untuk pasien VVIP dan pemilik rumah sakit. Tentu saja harga perawatan di sana tidak terbilang murah untuk semalamnya dengan fasilitas seperti hotel bintang lima.

Ferdi mendengkus. Andaikan kamu mau membuka hatimu padaku, Tan. Aku juga mampu memberikan kebahagiaan kepadamu dan bertanggungjawab penuh, tentu saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED