Bab 2

Tiga bulan berlalu setelah kejadian di kolam renang itu. Rama sudah kembali beraktivitas seperti semula, bekerja dengan giat bahkan dengan keras. Laki-laki itu pun masih sabar menerima sikap tertutup istrinya namun ia yakin jika suatu saat nanti kesabarannya akan membuahkan hasil. Cinta dan kasih sayangnya akan membuat pintu hati Ashiqa terbuka lebar untuknya.

Sore itu Ashiqa sedang belajar memasak dengan bi Sri, beliau asisten rumah tangga yang terlama di rumah itu sejak ibu Rama baru saja meninggal di usia Rama yang kesepuluh. Jadi bi Sri bisa dikata pengasuh juga buat Rama dan Rama sangat menghormati perempuan paruh baya itu.

“Tuan muda itu sangat suka makan dengan menu yang di panggang atau di bakar, seperti ayam bakar madu ini Nyoya muda.” Bi Sri dengan sabar mengajarkan bagaimana mengolah makanan lezat sesuai selera Rama. Ashiqa sendiri yang minta untuk diajarkan memasak.

“Nyonya muda, Bibi tahu jika posisi Bibi tidak pantas untuk membicarakan ini tapi Bibi Cuma mau kasih tahu Nak, Tuan muda Rama itu orangnya sangat baik. Ia dewasa, mandiri dan penuh kasih sayang. orangnya tidak pernah kasar sama siapa pun juga, tapi sangat tegas dengan kebenaran. Beruntung  Nyonya muda punya suami seperti dia.”

“Dulu dia punya pacar Bi?”

Bi Sri menghentikan memotong sayuran, ia mencoba mengingat-ingat.

“Setahu Bibi gak ada , bahkan saat kuliah di luar negeri pun tuan muda gak punya kekasih, sibuk katanya gak sempat cari pacar.” Bi Sri terkekeh di akhir kata itu dan membuat Ashiqa sadar jika ucapan Rama di malam pertama mereka itu jujur adanya. 

"Pernikahan pertama Tuan juga hanya sebentar saja karena istri Tuan meninggal." Bi Sri menatap Ashiqa dengan tatapan berkaca-kaca.

“Bibi minta tolong sama Nak Ashiqa, jadi istri yang baik untuk tuan muda, kasihan ibunya sudah lama meninggal, ayahnya menikah lagi dan ibu tiri serta saudarinya tidak tulus menyayangi tuan Rama. Sampai ayahnya juga meninggal dunia tuan muda sangat kesepian. Lama dia gak punya siapa-siapa. Makanya Bibi senang sekali ketika tuan muda bilang kan menikah dengan Nyonya muda. Tuan muda sangat bahagia.” Bi Sri menyeka air matanya yang jatuh tanda jika orang tua ini benar-benar sangat menyayangi majikannya.

Ashiqa menatap wajahnya di cermin, sudah tiga bulan ia menjadi istri Rama, ia mulai menyukai sikap Rama yang selalu manis dan sopan. Leluconnya yang lucu namun Ashiqa menahan tawanya untuk Rama. Ashiqa merasa sudah cukup membangun tembok tebal di hatinya, ia memang beruntung memiliki suami yang baik hati seperti Rama. Ashiqa lalu berdiri membuka lemari dan mengambil sepotong lingerie berwarna merah muda. Meski Ashiqa malu tapi ia harus menyerahkan hak Rama yang sudah lama ia tunda.

Rama baru saja mandi dan berganti pakaian, matanya melirik ke arah Ashiqa yang terlihat sangat cantik malam ini. parfum istrinya menguar di udara dan membuat Rama mabuk kepayang. Ia mengelus dada ia harus bersabar, ia tidak akan meminta kepada Ashiqa jika istrinya itu tidak datang sendiri kepadanya.

“Ashiqa … apa kau ingin berbuat ulah lagi pada jantungku?” tanya Rama pada Ashiqa yang sedang menata bantal di tempat tidur mereka. Baju kimono yang agak transparan bisa memberitahukan kepada Rama jika tubuh di dalamnya itu sedang terbalut lingerie yang seksi.

“Maksudmu?” tanya Ashiqa yang tidak mengerti pertanyaan Rama barusan.

“Apa kau sedang ingin mengujiku lagi Ashiqa ? dengan ini…” Rama menyentuh ujung kimono Ashiqa. Yang ditanya hanya tertunduk dan terdiam, wajahnya sudah bersemu dadu.

“A-aku tidak mengujimu lagi Rama, ku rasa… engh… a-aku… malam ini waktunya untuk…” Ashiqa tidak melanjutkan kata-katanya ia kehabisan stok kata untuk suaminya.

Rama tersenyum, ia paham sikap Ashiqa yang malu-malu tapi mau.

“Alhamdulillaaaaaah… akhirnya aku saaaaahhhh jadi suamiiii…!” pekik Rama girang, Ashiqa spontan menutup mulut Rama.

“Berisik banget sih!” mata Ashiqa melotot melihat tingkah Rama yang norak menurutnya.

“Duhai pencipta maskara yang melentikkan bulu mata istriku, terima kasih karena semakin mempercantik istriku  bahkan disaat melotot seperti ini pun ia masih terlihat cantik dan menggemaskan.” Rama menurunkan tangan Ashiqa dan menatapnya dengan dalam.

Sebelum Ashiqa membuka mulutnya lagi segera Rama membungkamnya dengan ciuman mesra. Tembok pertahanan Ashiqa sudah runtuh dan saatnya ia masuk ke dalam kehidupan Ashiqa lebih jauh lagi walaupun malam ini Rama gemas sekali dengan malu-malu tapi mau istrinya itu.

Ashiqa mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, rambutnya yang tebal dan panjang di bawah bahunya kadang menyulitkannya untuk segera mengeringkannya. 

Rama yang baru saja selesai berpakaian usai mandi mendekati Ashiqa dan mengambil alih pengering rambut itu. Ashiqa menatap suaminya lewat pantulan cermin dan menahan senyumnya yang terkulum.

 “Kamu baru sadar yaa kalau suami kamu ini memang mirip Evan Sanders?” tanpa melihat ke arah cermin Rama tahu kalau Ashiqa sedang meliriknya. Mata Ashiqa mendelik lalu membuang mukanya, ada semburat memerah di pipinya.

 “Issshh … narsis amat siih jadi orang, Evan Sanders itu lebih manis tau.”

Rama tersenyum kecil, meski dia sudah merobohkan dinding kegadisan eeh dinding hati istrinya ternyata Ashiqa menyimpan jauh hatinya lebih dalam  yang harus dijangkau lebih keras lagi oleh Rama. 

Hairdryer itu bergerak kesana-kemari dan Rama melakukan itu dengan telaten dan hati-hati. Hampir semua hal dari istrinya dia kagumi. Rambut indahnya, kulit yang putih dan keceriaanya  meski Ashiqa lebih mungil namun hal itu yang membuat Ashiqa menjadi imut dan menggemaskan.

“Sayang, aku ingin memberimu sesuatu.” Ucap Rama serius selang beberapa menit dia mengeringkan rambut istrinya. 

Dia mematikan pengering rambut itu dan meletakkannya di meja. Ashiqa menatap suaminya yang berjalan menuju lemari besar dan mengambil sesuatu dari sana. Tampak sebuah kotak beludru berwarna biru malam di pegang hati-hati oleh Rama.

“Ini milik mendiang ibuku, sangat istimewa dan aku ingin memberikan ini kepadamu, wanita istimewaku.” Dengan hati-hati Rama membuka kotak itu dan terlihat seuntai kalung berlian yang senada dengan warna kotaknya. Rama mengalungkan itu dan Ashiqa memandanginya di cermin dengan sorot kagum.

 “Cantik sekali pasti ibumu sangat cantik memakai ini.” jemari Ashiqa mengelus kalung yang menghiasi lehernya itu, sangat mewah dan tidak bisa dipakai di sembarang waktu.

“Cantik, membuat istriku semakin cantik.” Rama menunduk hingga dagunya menyentuh bahu Ashiqa, tanpa sadar Ashiqa menoleh dan hidung mereka nyaris bertabrakan. Rama melihat ke arah bibir Ashiqa, mata Ashiqa tahu kemana tatapan Rama, jantungnya berlomba.

Kali ini pasti jantung Ashiqa yang bermasalah. Spontan Ashiqa menutup matanya rapat-rapat, percintaannya semalam masih membekas kuat dan dia ingat bagaimana Rama menciumnya.  Rama tersenyum ekspresi Ashiqa yang takut dicium mendadak membuatnya merasa geli.

“Kamu berharap aku cium Sayang?” tanya Rama jahil pada istrinya. Wajah Ashiqa kembali merona merah, dia membuka mata kirinya lalu diikuti mata kanannya. Kemudian berpaling dan menjauh dari suaminya yang membuatnya malu.

“Iiihhh  … siapa juga yang mau dicium, kamu aja tuh yang suka nyosor duluan.”

“Jadi aku harus bilang dulu kalau mau cium kamu?” tanya Rama masih dengan kejahilannya.

“Iya … eeh… gak… duuuh … apa siih? … udah aah, nanti kamu terlambat ke kantor. Aku sudah siapkan pakaian kamu, aku mau turun siapkan sarapan.”

Ashiqa salah tingkah dibuat Rama, sungguh dia ingin segera menghilang dari kamar ini segera, cliiinng … hilang begitu saja tanpa buka pintu dulu.  

Ashiqa bergegas menuju pintu namun tiba-tiba langkahnya tertahan, Rama memegang lengannya dan membuatnya berbalik lalu sekejap ia tenggelam di pelukan Rama.

“Tahu tidak kalau hari ini hari Minggu ?  kantorku libur Sayang. kita jalan-jalan yuk.”

“Ha-hari Minggu yaa … maaf aku lupa.” Sempurna sudah rasa malu Ashiqa saat ini, tapi dia suka berada di dalam pelukan Rama hingga membuatnya nyaman.

“Shiqa, kamu sudah percaya kan kalo aku itu bukan Datuk Maringgih yang menawan Siti Nurbaya ? Kamu salah paham Sayang. Aku hanya seorang pria yang jatuh cinta pada seorang gadis dan aku beruntung bisa memiliki gadis itu.”

Ashiqa terdiam, raut wajahnya berubah jadi mendung ada kesedihan yang sedang dia sembunyikan sekuat tenaga. 

Entah siapa yang punya keberuntungan itu, suaminya atau dirinya yang dipersunting seorang pria baik hati. Rama mengecup puncak kepala Ashiqa sebelum istrinya melepaskan dirinya dari pelukannya dan meninggalkan kamar. Ada rasa aneh samar yang dirasakan oleh Rama, ada kabut di mata Ashiqa yang terbaca olehnya.

Bab 3

Pusat perbelanjaan terlihat sangat ramai, sejak tiba hingga dua jam mereka ada di mall itu Rama tak sedikit pun melepaskan genggamannya dari tangan Ashiqa. 

Bukan karena Rama takut Ashiqa khilaf dengan sale-sale yang menggoda kaum hawa tetapi baru kali ini dia berjalan dengan wanita di keramaian, Rama tak ingin Ashiqa terlepas jauh darinya.

“Ram, udah doong  … jangan dipegangin mulu, kayak orang pacaran aja deeh.” Protes Ashiqa yang merasa tak leluasa melihat barang-barang karena Rama.

“Ooh jadi gini yang namanya pacaran ? habis ini kita nonton yuuk Sayang … kan kita lagi pacaran!” seru Rama setengah teriak dan sukses membuat orang-orang di sekitarnya melihat ke arah mereka.

“Yaa… Allah … Raaama … norak banget sih kamu? Iiisshhh … ,” dengan bergegas Ashiqa menggeret suaminya menjauh ke tempat yang agak sepi. 

Ashiqa memasang wajah cemberutnya dia tahu Rama sedang menjahilinya lagi. Laki-laki itu suka sekali membuat Ashiqa marah-marah.

 “Kamu suka banget bikin aku malu yaa?” tanya Ashiqa dengan setengah berbisik namun disertai dengan geraman kesal.  Mood belanjanya bisa berantakan kalau begini.

Rama terkekeh tertawa ia menikmati wajah Ashiqa yang terlihat lucu jika sedang kesal seperti itu.

“Aku belum pernah pacaran atau ngedate jadi aku mau pacaran sekarang sama istriku.”

“Tapi gak usah norak begitu juga kali suamiku?” Ashiqa dengan gemas menekankan kata ‘suamiku' yang semakin membuat Rama tertawa lepas.

“Baiklah … sepertinya kamu pernah pacaran sebelumnya yaa?”

Deeeg … pertanyaan itu seperti anak panah yang melesat ke jantung Ashiqa. Sesaat Ashiqa membeku, raut kekesalan di wajahnya memudar. Dia berbalik dan menenteng belanjaannya Ashiqa tidak akan mau menjawab pertanyaan yang membuka lembaran masa lalunya.

 “Aku lapar … aku mau makan di food court kesukaanku.”

Rama memandangi punggung istrinya, sekelebat tanda tanya mengisi kepalanya, sikap Ashiqa berubah saat dia melontarkan pertanyaan iseng itu.

Ashiqa menyantap mie ayam favoritnya dengan perlahan. Pertanyaan suaminya sungguh mampu mengubah suasana hatinya. Ingatannya kembali kepada Arkhana, laki-laki yang dia perjuangkan selama ini namun kalah oleh pesona Rama di mata orang tuanya. 

Arkhana yang hanya seorang pemuda sederhana, piatu pula yang telah mengisi hati Ashiqa selama dua tahun. Pailit yang tengah ditanggung perusahaan ayahnya membuat ayah Ashiqa berkenalan dengan Rama, laki-laki itu pun setuju membantu perusahaan ayah Ashiqa dan keluar dari kesulitannya. Tetapi Rama  akhirnya meminang Ashiqa dan bagi Ashiqa pernikahan ini tak lebih dari balas jasa atas kebaikan Rama.

Ashiqa sudah selesai menyantap makanannya begitu pula Rama yang sudah menghabiskan seporsi nasi ayam bakarnya. Mereka meninggalkan food court itu tiba-tiba Ashiqa menyadari jika dompetnya tidak ada, dia mencari di dalam tas belanjaannya.

 “Rama, sepertinya dompetku terjatuh atau tertinggal di food court.” Wajah Ashiqa mulai cemas.

“Baiklah, ayo kita kembali kesana.”ajak Rama dengan lembut namun seseorang datang menghampiri mereka sambil menyodorkan dompet Ashiqa.

“Sepertinya ini milik Nyonya yang tertinggal di meja makan sana.”

 “Aah .. iya … ini milik saya terima kasih …,” Ashiqa mendongak untuk melihat siapa yang memulangkan dompetnya itu dan … wajah yang  dilihatnya seketika membuat seakan waktu terhenti.

'Arkhana'  … sebut Ashiqa di dalam hati.

Ashiqa menatap punggung Arkhana yang berbalik menjauhinya, dia masih sempat melihat sang mantan menghampiri seorang gadis manis yang berada di kursi roda lalu mendorongnya menjauh. 

Ashiqa tidak mengenali gadis yang mempunyai senyum semanis wajahnya yang menatap Arkhana lekat-lekat. Ashiqa masih menatapnya hingga Arkhana menghilang di antara pengunjung mall yang ramai.

 “Rama, ayo kita pulang, aku capek.” Pinta Ashiqa tanpa menunggu jawaban dari Rama. 

Rama hanya mengiyakan dan mengambil tas-tas belanjaan Ashiqa dari genggaman istrinya. Tak diberitahu pun Rama pasti tahu jika Ashiqa sedang dalam suasana hati yang tidak bagus. Raut wajah Ashiqa dan keterkejutan laki-laki yang memulangkan dompet istrinya tergambar jelas jika mereka saling kenal namun enggan menyapa.

“Baiklah, ayo Sayang.” Rama hendak memegang tangan Ashiqa namun perempuan itu sengaja menghindarinya hingga yang ditangkap Rama hanya udara kosong. Rama tersenyum tipis, dia akan mencari cara untuk memperbaiki mood istrinya itu.

Rama hanya mengantarkan istrinya pulang ke rumah kemudian laki-laki itu pergi lagi dengan alasan pekerjaan, Ashiqa tak ambil pusing toh dia saat ini butuh sendiri. 

Bahkan kepada bi Sri dia hanya bicara seadanya dan benar-benar tak ingin diganggu. Ashiqa memilih berdiam diri di kamar dan memutar ulang rekaman ingatannya tentang dirinya dan Arkhana. Sementara di luar sana Rama yang sedang duduk di mobilnya memandangi ponsel pintarnya dengan bimbang.

 “Ok Google … cara romantis untuk menyenangkan hati istri!” perintah Rama dengan mantap, spontan sopir Rama tertawa kecil kemudian deheman peringatan Rama seketika membungkam tawa sopir pribadinya yang sudah menemaninya sejak remaja.

Ashiqa menyusut air matanya yang lagi-lagi tak dapat dibendungnya mengingat masa lalunya dengan Arkhana.  Yaa … Ashiqa belum bisa move on kata orang jaman sekarang. Semuanya masih tersimpan dalam hati Ashiqa meski dia telah melewatkan satu malam dengan penuh cinta bersama suaminya Rama.

Masih jelas ingatan Ashiqa di malam itu …

“Larilah denganku Ashy, ku mohon kita pergi saja lari dari semua ini dan aku berjanji sebagai laki-laki, aku akan membahagiakanmu.” Arkhana menggenggam erat tangan Ashiqa. Arkhana tahu jika sampai kapanpun dia tidak akan mendapat restu dari ayah kekasihnya itu.

 “A-apa … tidak ada cara lain Arkha ? aku putri tunggal orang tuaku, aku tidak tega meninggalkan ibu dan ayahku.” Ashiqa sungguh berat untuk memilih, hatinya tak ingin kehilangan Arkhana namun tak mungkin pula dia meninggalkan orang tuanya.

 “Kau takut hidup miskin Ashy ? iya kan ? kamu takut gak akan bisa lagi hidup mewah ? di mana cinta yang selalu kau katakan itu Ashy?” Arkhana mulai putus asa, kemiskinan dirinya benar-benar jurang pemisah antara dia dan Ashiqa.

 “Tidak, tidak seperti itu Arkha, aku gak takut hidup biasa saja, atau bahkan hidup susah denganmu, tapi aku tidak ingin orang tuaku merasa kehilangan diriku dengan cara kawin lari. Ku mohon beri aku waktu membujuk mereka.” Pinta Ashiqa dengan memelas, air matanya sudah membanjiri wajah cantik Ashiqa.

“Sampai kapan pun aku tidak akan merestui kalian!” seru pak Mahendra dengan suaranya yang lantang, dengan sekali kode beberapa orang anak buahnya segera melepaskan Ashiqa menjauh dari Arkhana. Dua laki-laki berbadan besar memegangi Arkhana dan dua lainnya hampir saja menyeret Ashiqa yang memberontak tak ingin menjauh dari kekasih hatinya.

 “Beri saya kesempatan Tuan … saya mohon, saya sangat mencintai putri Tuan, saya tidak akan menyia-nyiakannya, saya akan membahagiakannya Tuan!” Arkhana benar-benar sangat memohon hingga berlutut di depan ayah Ashiqa.

“Membahagiakan putriku kau bilang ? kau tahu bahkan harga alas kaki putriku seharga dengan enam bulan gajimu sebagai sopir taxi ! kau mau kasih makan apa putriku hah ? mie instant?” bentak Pak Mahendra dengan suara yang menyeramkan bagi Ashiqa.

“Ayaaah … tolong … jangan begitu …,” tangis Ashiqa pun pecah, hatinya tak terima ayahnya menghina Arkhana.

“Ayo pulang sekarang, ayah semakin yakin jika menerima lamaran dari Ramadhan seorang CEO itu keputusan yang tepat.” Pak Mahendra memandangi putrinya dan Arkhana tanpa belas kasih sedikit pun.

“Tuan … tolong beri saya kesempatan Tuaaan …!” teriakan Arkhana yang penuh putus asa tak membuat pak Mahendra tersentuh.

 “Beri pelajaran manusia tak tahu diri itu dan buang sampah tak berguna itu ke tempatnya!” perintah ayah Ashiqa dengan kejam dan dingin.

“Jangan Ayaaah … jangan sakiti Arkhana Ayaaah … ku mohooon … tidaaaak … jangaaaaan …!” jeritan Ashiqa terdengar memilukan di antara bunyi erangan dan pukulan-pukulan yang diterima Arkhana.

“Dengar sumpahku Ashiqa …! Suatu saat nanti aku akan datang kembali padamu dengan derajat dan kekayaan yang lebih dari ayahmu itu!” Arkhana bersumpah dengan lantang sebelum tumbang karena pukulan keras di kepalanya.

Tok … tok … tok …tok …

Ketukan di pintu kamarnya menyadarkan lamunan Ashiqa, dengan bergegas dia mengusap air matanya, menarik nafas panjang dan menenangkan diri.

“Nyonya muda, saya Wisnu asisten Tuan Rama ingin menyampaikan pesanan ini kepada Nyonya muda.” Suara seorang pria terdengar dari balik pintu, Ashiqa membuka pintu itu perlahan. Tampak seorang pria muda berkacamata, berjas rapi  tengah membawa sebuah kotak berukuran besar diikat pita biru.

 “Maaf, ini apa yaa?” tanya Ashiqa kebingungan, diterimanya kotak itu dengan ragu.

 “Tuan Rama meminta saya untuk menunggu Nyonya sampai siap. Tuan mengajak Nyonya muda makan malam di suatu tempat. Harap memakai apa yang telah Tuan Rama pilihkan. Silahkan Nyonya dan tujuh tepat kita akan berangkat.” Jawab Wisnu dengan penuh kesopanan.

“Tapi suami saya di mana sekarang?”

“Tuan Rama akan menunggu di tempat yang sudah tuan muda siapkan. Saya permisi dulu, jika ada apa-apa saya ada di bawah Nyonya.” Wisnu pun mengangguk tanda mengundurkan diri lalu menghilang di ujung selasar ruangan. Ashiqa menatap kotak itu dengan penasaran.

Kurang pukul tujuh malam, Ashiqa memandangi dirinya di cermin. Dia mengenakan long  dress dengan warna biru navy serta mantel dengan warna yang senada. Dress, mantel, tas tangan hingga sepatu yang serasi dikirimkan Rama untuk dikenakannya malam ini. Ashiqa akhirnya memilih menggunakan kalung berlian pemberian suaminya itu karena dia menghargai jika Rama ingin sesuatu yang istimewa untuknya. Perempuan muda itu tersenyum, pilihan suaminya semua tepat ukurannya.

Wisnu membukakan pintu mobil untuk Ashiqa, bahkan asisten pribadi Rama itu gugup melihat kecantikan Ashiqa. Mobil bergerak membelah jalan membawa Ashiqa ke suatu tempat yang asing, bukan berupa restoran atau tempat yang lazim untuk makan malam. Sungguh Ashiqa terkejut dengan apa yang dilihatnya. 

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED