Awan diam, menatap mata wanita di hadapannya yang sedang mengandung. Beberapa waktu lalu baru ia menatap foto maternity-nya, kini wanita itu ada di hadapan dirinya. "Apa kabar, Mas?" Aira mendahului bertanya.
"Ba... baik, aku baik Aira." Jawab Awan sedikit terbata.
"Ayah!" Teriak Kesya sambil berlari kecil menghampiri.
"Kesya," sapa Awan lalu meraih jemari mungilnya.
"Ayah ke mana? Kesya bangun tidur Ayah nggak ada di dalam," gerutu bocah itu.
"Ayah di sini," jawab Awan sambil merapikan kunciran rambut putrinya. Aira menyapa, suara lembutnya bahkan mampu membuat jantung Awan berdebar.
"Halo, kamu siapa namanya?" Aira bertanya. Kesya menoleh menatap Aira lalu berganti ke Ayahnya. Awan tersenyum, mengizinkan Kesya menjawab.
"Kesya," jawab pelan bocah itu.
"Hai, Kesya, saya Tante Aira." Ia tersenyum menatap Kesya. Kedua matanya menatap Awan, meminta penjelasan. Namun Awan diam.
"Aira," suara berat lain terdengar. Ia menoleh, dan melihat Galang yang berwajah tak bersahabat saat melihat Awan.
"Hey," tangan Aira menyambut uluran tangan suaminya.
"Galang," sapa Awan. Suami Aira itu hanya mengangguk.
"Ayo, Sayang, kita pulang, udah selesai di cuci mobilnya," ucap Galang tanpa menggubris sapaan Awan. Aira mengangguk, ia lalu pamit dengan singkat lalu berjalan menggandeng lengan Galang. Saat mereka sudah berjalan cukup jauh ke arah mobil mewah mereka. Awan menoleh karena Kesya menarik-narik tangannya.
"Apa, Sayang?" tanya Awan menatap putrinya yang mendongak.
"Tantenya cantik, temen Ayah?" Kesya menunggu jawaban Awan, ia tersenyum mengangguk.
"Ayo kita ke dalam, udah mau tutup, kita pulang ya, Key." Key merupakan panggilan sayang Awan untuk putrinya. Kesya mengangguk. Mereka berjalan bersama, berpapasan dengan mobil sedan mewah Galang yang melewati ia dan Kesya.
"Ayah, apa Ibu Kesya cantik kayak Tante yang tadi? Kesya kok nggak inget wajah Ibu, ya?"
Awan begitu tertohok mendengar kata-kata Kesya. Ia hanya bisa mengusap kepala putrinya itu sembari bertanya hal lain. Mengalihkan pembicaraan. Keduanya berjalan cepat ke ruang kerja Awan, tawa Kesya membuatnya ikut terbawa, walau di dalam hati dan pikirannya, ia terus terbayang raut wajah Aira tadi yang ia akui semakin cantik dan mempesona.
***
Kamar bernuansa warna cokelat itu menjadi saksi malam-malam yang sudah di lewati anak dan Ayah itu. Alasan Kesya ingin tinggal di rumah lain karena ia, tidur bersama Awan di satu kamar itu. Ia ingin memiliki kamar seperti seorang anak kecil pada umumnya. Berhias gambar princes, atau kuda poni. Awan mengusap punggung Kesya yang sudah tertidur pulas menghadap ke arahnya, sudah rutinitas Awan yang melakukan usapan itu. Ia beranjak perlahan, berjalan ke arah lemari baju Kesya kemudian mengambil seragam sekolah putrinya yang akan ia kenakan esok hari.
Awan diam, menatap Kesya dengan begitu sendu. Merasa kasihan dengan putrinya yang hidup tanpa sosok seorang Ibu. Ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya sambil menghadap Kesya dan memeluk tubuh putrinya itu.
Tak pernah ia memikirkan jika jalan hidupnya akan seperti itu, menjadi seorang duda dua kali dengan satu orang putri, tinggal di rumah orang tuanya dan membuka usaha bengkel yang ia rintis dari awal sejak empat tahun lalu. Ya, walau membuahkan hasil yang cukup untuk menghidupi ia dan putrinya, tapi banyak hal lain yang ia tak bisa penuhi untuk Kesya.
Kepalanya terus berfikir tentang kerja sambilan lainnya, ia mantan seorang marketing handal perusahaan mobil, masih bisa jika ia ingin bekerja menjadi tenaga marketing freelance, yang penting tak memakan waktu sehingga mengorbankan Kesya.
Pagi menjelang.
Suasana meja makan seperti biasa, Kakek dan Nenek Kesya sayang dengan cucunya itu bagaimana pun juga bocah itu darah daging putrnya. Kedua adik Awan sudah bekerja, adik yang lelaki bahkan hanya sesekali menginap di rumah itu, karena ia sudah memiliki rumah sendiri yang ia cicil dari gaji perbulannya. Adik perempuannya bekerja di instansi pemerintah, lolos jalur murni karena memang pintar dan lulusan Hukum.
"Mas Awan, kemarin gue ketemu Kak Aira sama suami dan anaknya, lagi hamil juga sekarang dia, kembar katanya," ucap Adik perempuannya. Awan menoleh, menatap Adiknya itu.
"Kamu ngobrol sama dia?" Kini Awan yang tampak terkejut.
"He-em, Kak Aira yang nyapa aku duluan, aku juga di kenalin ke suami sama anaknya yang cowok, Jevan namanya. Ganteng banget. Mereka lagi belanja perlengkapan bayi di mall itu, gue pas kebeneran makan siang di sana sama orang kantor."
"Oh ...." hanya itu reaksi Awan.
"Aira udah mau tiga anaknya, ya? Hmmh... Bunda kangen sama Aira," mendadak wajah Bunda menjadi sendu. "Perempuan baik akan selalu dapat kehidupan yang baik," lanjutnya.
"Kak Aira makin cantik, Bun, suaminya juga kelihatan cinta dan sayang banget sama dia. Lucunya, Kak Aira malah tanya kabar Mas Awan. Kayak ngerasa biasa aja, nggak ada cerita kusut di masa lalu." Kini mata Adiknya itu melirik sinis ke Awan. Pria itu hanya diam sambil menyuapi putrinya makan.
"Aira yang hatinya lapang, dia nggak akan bisa benci sama orang lama-lama, pintar dan juga ramah. Beda sama Am--" mulut Bunda terkunci karena Ayah menepuk-nepuk bahu istrinya.
"Udah, Aira udah bahagia. Kita ikut senang untuk hal itu," sahut Ayah.
"Aira, maksudnya Nenek sama Kakek, Tante Aira yang kemarin di bengkel itu ya, Ayah? Tante yang nyapa Key dan wajahnya cantik itu, 'kan?"
Sontak semuanya menatap ke Kesya. "Kalian ketemu?!" Mata Bunda membulat sempurna. Awan mengangguk.
"Mereka cuci mobil di bengkel, ketemu Galang juga, cuma Galang gak bersikap baik, maksudnya... balas sapaan Awan juga enggak, diem aja. Malah sorot kebencian kelihatan banget di matanya." Tukas Awan.
"Wajar lah, dia saksi mata semua kelakuan lo sama, dia." Sambung Adik lelaki Awan. Maksud 'Dia' di sini adalah Amanda, si wanita ular itu, mantan istri kedua Awan yang juga dulu selingkuhannya.
"Udah, nggak usah bahas yang lalu-lalu, ngapain. Sekarang bahas masa depan aja. Awan, Ayah mau kenalin kamu sama anak temen Ayah, temen lama. Kemarin sempet ketemu waktu reuni pensiunan kantor, kamu nggak masalah kan, kalau harus coba dekat dengan anaknya?"
Awan menatap lekat Ayahnya. Lalu mengangguk tanpa berusaha bertanya apapun. Awan memang menjadi lebih pendiam dan manut jika kedua orang tuanya memintanya ini dan itu. Dosa dan kesalahannya sudah terlalu menggunung kepada kedua orang tuanya, ia tak mau semakin memperkeruh keadaan juga.
"Kalau gitu, siang nanti ikut Ayah ke tempat mereka, karena, teman Ayah ini, udah bingung harus dengan cara apa lagi untuk cari jalan keluar permasalahannya." Ayah menatap lekat Awan, lalu berganti ke istri dan dua anak lainnya.
"Awan mau Ayah nikahkan sama anak teman Ayah itu, secepatnya." Kalimat Ayah membuat semua terkejut. Tak terkecuali Awan yang kaget bukan main, tapi ia hanya bisa diam.
"Kesya, nanti kenalan sama calon Ibu Kesya ya," ucap kakeknya lagi. Kesya yang bingung menatap Awan.
"Nanti Ayah jelasin, ayo, kita berangkat, sekolah Key masuk satu jam lagi, takut macet." Awan memberikan teh manis ke putrinya, lalu membersihkan bibirnya dengan tisu karena belepotan selai cokelat roti bakar yang di makan Kesya.
"Nenek, Kakek? Ibu Kesya mau pulang? Udah nggak pergi lagi?" kepolosan bocah itu membuat semuanya tersenyum, lalu Bunda mengangguk.
"Jam sepuluh nanti, Ayah ke bengkel, kita bareng-bareng ke rumahnya, ya, Awan?" Pria tua iti beranjak, mengambil topi sekolah TK cucunya lalu memakaikan ke atas kepalanya.
"Nanti Key bisa jadi anak baik kan, kalau ikut Kakek sama Ayah, Key nanti pulang sekolah lebih awal ya?" Pria itu mencium kening cucunya. Lalu Kesya menghampiri satu persatu semua orang di rumah itu untuk menyalim tangan sebelum berangkat sekolah.
Awan menyambar kunci mobil lalu berjalan ke garasi menuju ke mobilnya.
"Ayah yakin?" tanya Adik laki-laki Awan ke ayahnya.
"Gadis ini anak baik, baru lulus kuliah, tinggal wisuda dua bulan lagi." Jawab Ayah.
"Nanti Mas Awan tinggal di sini sama istrinya?" Kini Adik perempuan Awan yang bertanya.
"Awan tinggal di rumah gadis itu, karena teman Ayah, orang tua gadis itu mau tinggal di luar kota, menetap di sana. Daerah pegunungan, mereka mau saat mereka pergi, anak gadisnya sudah ada yang meminang, dan ya, Ayah yakin ini jodohnya Awan selamanya. Feeling Ayah kuat soal ini, mudah-mudahan, ya."
Semuanya mengangguk. Padahal, mereka tak tahu, jika Awan mendengarkan percakapan itu dari pintu garasi samping yang tembus ke meja makan. Ia memejamkan mata. Jujur, semenjak ia bertemu dengan Aira, ia berharap bisa berhubungan baik dengan mantan istri luar biasanya itu, tapi harapan itu sepertinya pupus.
Bersambung,
Just info ; Di kisah Awan ini, kenapa saya nggak mau bahas kehidupan blangsak Awan dan Manda, karena memang dari awal tokoh Manda udah resek, jadi di sini, mau fokus ke si Awan dan seseorang ini. Tapi ... Awan masih begitu menyesal udah lepas Aira, gitu pokoknya ya. Untuk Manda si medusa, nanti akan muncul tapi nanti di tengah-tengah 😁.
Yuk, kita ikutin kelanjutannya.
Lav you readers ❤
_____________
Rumah bertipe 54 dengan posisi rumah di huk, membuat tampak luas. Perempuan itu tinggal di komplek perumahan biasa, awalnya, Awan berpikir jika perempuan ini anak seorang kaya raya, sehingga ia cukup minder untuk bertemu. Ia juga berpikir kalau ayahnya seolah menjual dirinya pada keluarga itu. Piciknya pikiran Awan, ya wajar, karena ia tak berpikir untuk jatuh cinta apalagi menikah lagi.
Nama Aira masih terus terngiyang di kepalanya. Mereka bertiga turun dari mobil - Ayah, Awan dan Kesya - kedatangan mereka sudah di sambut tuan rumah dengan wajah sumringah. Kedua pria tua itu saling berpelukan, istrinya berjabat tangan dengan Ayah Awan lalu berganti ke dirinya dan terakhir Kesya yang menggandeng tangan Awan erat.
"Mari... mari, masuk, Pak Bima." Sambutan ramah begitu terasa. Kelimanya duduk di ruang tamu dengan nuansa modern. Kesya duduk di antara Kakek dan Ayahnya. Ia menarik-narik tangan Awan. Pria itu mendekatkan telinga ke bibir anaknya.
"Rumahnya bagus, Ayah, bersih banget." Kesya nyengir setelah berbisik.
"Husss," bisik Awan lalu tersenyum ke putrinya.
"Awan, kamu sudah tau tujuan kamu ke sini apa?" tanya Askoro, teman Ayahnya itu.
"Tau, Pak," jawab Awan sopan.
"Sebentar saya panggilan putri saya, ya," ucap Sri, istri Askoro.
"Jadi, saya mau menjodohkan kalian, selain karena saya kenal baik dengan Bima, Ayah kamu ini, juga karena kami yakin kalau kamu bisa ngemong putri kami. Putri kami bukannya manja, tapi pola pikirnya suka nekat, dan spontan. Nggak berpikir resiko ke depannya. Juga, karena kami berdua, saya dan istri mau menetap di daerah lain. Kedua anak saya lainnya sudah menikah dan menetap di negara dan kota lain. Saya berharap, Awan nggak tersinggung atau keberatan dengan perjodohan ini." Askoro tersenyum, jelas tampak harapan besar dari sorot matanya.
"Tapi, Pak, saya duda anak satu. Ini putri saya, Kesya, apa keluarga Bapak nggak mempermasalahkan?" Awan kini membahas tentang statusnya. Askoro tertawa. Ia justru merasa senang, berarti Awan pria dewasa. Itu saja sudah cukup baginya.
Lalu muncul Sri dan wanita cantik berambut potongan bob seleher, dengan warna ungu. Awan terkejut, bahkan Kesya memekik.
"Halo...," sapanya. Awan menoleh ke Kesya yang tertawa. Tampak lucu melihat penampilan perempuan itu.
"Ini putri saya, maafkan penampilannya, dia agak nyentrik memang. Habis bikin video untuk channelnya di youtube," ucap Sri. Perempuan itu tersenyum, ia melirik ke Awan. Awan menatap tanpa ekspresi.
"Rambutnya ungu... lucu." Kesya tak bisa menahan tawa, bukannya marah atau tersinggung, perempuan itu ikut tertawa dan memanggil Kesya supaya menghampiri. Kesya mengangguk, ia beranjak dan berkenalan dengan perempuan itu.
"Eh kamu namanya siapa?" tanyanya.
"Kesya, Tante," jawab Kesya.
"Kesya, namanya lucu. Aku Gladisya. Panggil aja Gladis." Senyuman Gladis membuat Kesya ikut tersenyum.
"Rambut Tante asli, ini? Warna ungu?" tunjuk Kesya. Gladis menggelengkan kepala.
"Ini rambut palsu," ucap Gladis seraya tersenyum.
"Udah... udah, kenapa jadi obrolin rambut palsu," tukas Sri. Awan hanya diam dan cenderung tak kau merespon sikap baik Gladis ke putrinya. Ia sesekali malah menunduk, seolah tak mau tau dan memasrahkan semua kepada Bima - Ayahnya.
"Kalau bulan depan gimana? Terlalu lama tidak?" tanya Bima. Kedua orang tua Gladis saling menatap.
"Kami justru mau dua minggu lagi, Pak Bima. Bukan apa-apa, kami tidak mau jika--"
"Gladis setuju. Dua minggu lagi, iya kan, Ibu, Ayah?" Senyum Gladis atau biasa dipanggil Gladis tampak merekah, seperti bahagia jika ia akan menikah dengan Awan. Senyuman kedua orang tuanya merekah sempurna, akhirnya, semua sepakat dan memutusnya 14 hari lagi Awan dan Gladis akan menikah.
"Bagaimana, kalau kita makan siang bersama, kebetulan saya sudah masak tadi, Awan, mungkin bisa berkenalan dengan Gladis, dan Kesya juga." Ide itu meluncur dari bibir Sri, Awan hanya mengangguk pelan, sedangkan Gladis berbicara dengan Kesya.
Para orang tua sudah bercengkrama di ruang makan, ruang tamu itu tersisa tiga orang itu.
"Saya Awan," ucap Awan seraya mengulurkan tangan.
"Gladisya. Maaf Mas, jadi terlibat di keinginan orang tua saya. Jujur saya nggak tau mau bilang apa, cuma ... saya pribadi mohon maafff... sekali dengan Mas Awan, ini semua karena, karena..."
"Ayah, Key, mau pipisss..." kalimat Gladis terpotong dengan suara pelan Kesya.
"Kesya, sama Tante, yuk, pipisnya, lets go," ajak Gladis.
"Dis," panggil Awan. Gladis menoleh.
"Kesya udah bisa sendiri, antar sampai depan pintu kamar mandi aja kalau nggak repotin." Awan beranjak menatap Gladis tak enak hati.
"Iya, Mas, nggak apa-apa, kok, yuk, Kesya." Gladis mengajak ke arah toilet yang ada di dekat tangga, Awan berjalan ke arah meja makan sambil melihat interior rumah itu. Kedua orang tua Gladis meminta Awan bergabung, pria itu mengangguk sopan, ia menarik kursi dan duduk di sebelah Ayahnya.
***
Mereka pulang pukul 2 siang, obrolan melebar karena nanti keluarga Gladisya yang akan mengurus surat nikah ke KUA, Awan akan melengkapi dokumennya malam hari, esok pagi ia akan antar ke rumah itu lagi.
Bukan pernikahan mewah, pernikahan di laksanakan di restaurant yang di sewa, hanya tetangga, dan kerabat dekat saja yang diundang. Awan tampak fokus menyetir, padahal di kepalanya terus terbayang apakah pernikahan ini berhasil. Jika dari fisik, memang Gladis layaknya mahasiswi baru lulus kuliah, usianya juga berbeda jauh dengan Awan yang sudah 35 tahun sedangkan Gladis masih 22 tahun.
"Kamu kenapa nggak berusaha nolak perjodohan ini, Wan?" Kini Bima bersuara. Awan hanya tersenyum tipis.
"Apa Awan ada pilihan lain, Yah? Ayah kan tau, Awan sekarang pasrahin apapun, Awan udah ada Kesya, takut hukum karma atas kesalahan yang pernah Awan lakukan. Kesya perempuan, Awan takut nanti di masa depan, karena kelakuan bejat Ayahnya, Kesya kena imbas. Awan nggak bisa. Jadi urusan kayak gini, Awan serahin ke keluarga aja." Kalimat Awan membuat Bima tertawa. Ia melirik ke jok belakang, tampak Kesya tertidur.
"Laki-laki kok, nyerah, Wan, nggak mau ada usaha buat cari jodoh lagi sendiri," ledek Bima.
"Bukan gitu, Yah, Awan cuma nggak siap kalau gagal lagi dengan pilihan Awan, lebih ke kapok mungkin. Lagian, jujur, Awan nyesel sakitin Aira, lihat Aira sekarang semakin..." Lidahnya kelu, ia diam tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aira cerita lama kamu, kita semua akui dia wanita luar biasa, dan kamu laki-laki gobloknya luar biasa, ya kan. Tapi untuk apa ingat Aira terus, kalian sudah harus bahagia dengan pilihan masing-masing. Makanya Ayah setuju waktu Askoro mau kamu jadi calon menantunya."
"Cinta juga akan datang sendiri, Wan, nanti. Dari pada kamu pacaran lagi nanti makah berzina lagi. Ayah dan Bundamu sudah tua. Jangan biarkan kami terus merasa gagal didik kamu sebagai anak yang ternyata baik di permukaan aja, tapi dalamnya buruk."
Kalimat panjang yang menohok. Awan memang bodoh, wajar ia kini memilih diam dan menuruti kemauan orang tuanya tanpa protes.
Ponsel Awan berbunyi, pesan masuk muncul. Ia menepikan mobil saat memasuki pintu gerbang komplek perumahannya untuk membaca pesan singkat itu.
"Mas, ini Gladis. Simpan nomor ini ya." Hanya itu isi pesannya. Lalu Awan menyimpan nomor ponsel perempuan itu dengan nama : Calon Istri.
Air muka Awan datar, ia tak merasa senang atau sebal, sewajarnya aja ia akan berekspresi.
"Awan," panggil Bima.
"Iya, Yah," toleh Awan saat kembali melajukan mobilnya.
"Jangan cerai lagi, ya, hadapi apapun nanti masalah rumah tangga kalian. Gladisya anak baik, lupain Aira, Ayah mohon." Tatapan keduanya bertemu. Awan mengangguk dengan cepat supaya hati Ayahnya lega.
Ia justru sebenarnya takut, apa nanti bisa cinta atau tidak dengan Gladisya. Keraguannya mendadak muncul. Semoga saja, ia mampu menjalani pernikahan ketiganya itu dengan baik.
Bersambung,