Bab 2

Adam keluar perlahan dari kamar 509 menuju kamar 506, tempat Sabrina berada. Dia bergegas karena sangat takut akan kemarahan Sabrina. Tidak mungkin dia akan membiarkan dirinya gagal di malam pertama dalam menjalankan misi penting, bukan?

Pria bercambang tipis itu mengetuk pintu dan mendapati Sabrina membuka pintu dengan cepat. Sangat cepat. Pertanda bahwa dia sudah menunggu kehadiran Adam sedari tadi.

"Lama sekali kamu, Adam! Ngapain aja?" bentak Sabrina dengan wajah sangat marah. Kemarahannya sungguh tak cocok dengan muka bulatnya yang manis dan dirias tipis. Rambutnya panjangnya yang tergerai bergelombang membuat penampilannya semakin terlihat anggun. Sangat anggun seandainya dia tak sedang berapi-api. "Aku dari tadi nungguin kamu! Lamaaaa banget! Ngapain aja, sih? Kamu main sama dia sampai teler, ya?"

"Sabrina, stop! Dia istriku. Walaupun semua ini sandiwara, aku harus memperlakukan dia seperti layaknya istri sungguhan. Kalau nggak, papa akan membatalkan semua pengalihan harta beliau padaku!" sanggah Adam berusaha menenangkan.

"Tapi aku juga istri kamu, Adam!" protes Sabrina. "Aku istri pertama kamu!"

Benar. Sabrina setuju dengan semua sandiwara Adam dengan suatu syarat. Sabrina tak mau jadi istri kedua. Walaupun pernikahan mereka rahasia, dia tetap ingin menjadi istri pertama.

Bila Adam sanggup memenuhi syarat tersebut, Sabrina akan tetap mau bersama Adam walaupun hubungan akan mereka jalani dari balik kelambu hitam. Sabrina tak akan mendapatkan pengakuan dari publik bahwa dia istri Adam. Hal itu sudah cukup berat bagi seorang wanita.

Namun, karena ayah Adam sedang sakit, Sabrina memilih bersabar dan mempercayai Adam bahwa dia akan menceraikan Maya setelah ayahnya meninggal. Setelahnya, Adam akan memperkenalkan dirinya ke publik. Walaupun harus bersabar, dia akan menjadi istri Adam yang sesungguhnya.

Adam memeluk Sabrina dengan erat. Keduanya hanya memakai gaun tidur yang tidak cukup tebal untuk menyembunyikan pesona di baliknya. Adam dengan cepat merasakan hasratnya timbul untuk sang kekasih yang sangat dia cintai.

"Ayo! Kita lanjutkan diskusinya di ranjang, Sayangku!" rayunya agar Sabrina tidak terus marah.

"Ogah! Kamu pasti sudah nggak ada tenaga!" tolak Sabrina, berpaling dari Adam dan menuju ke ranjang tanpa menunjukkan keinginan sedikit pun. "Kamu pasti udah main sama dia sampai kering!"

Sabrina melipat kedua tangan di dada, aksi yang tanpa dia sadari membuat pesonanya semakin elok. Tentu saja Adam semakin tergoda untuk menyentuhnya.

"Sayang, aku masih bisa melakukannya denganmu! Mau bukti?" tanya Adam dengan suara parau. Dia lalu menarik pergelangan tangan Sabrina dan merenggut bibir wanita itu. Suasana semakin lama semakin pekat oleh hasrat. Lebih dari yang terjadi di kamar 509 tadi.

Sabrina yang tadinya marah pun, telah lupa dengan masalahnya barusan. Adam begitu piawai membuat Sabrina mabuk kepayang dalam sentuhannya. Dia telah menghafal dengan baik semua titik manis yang ada di tubuh sang istri.

Permainan pun semakin lama semakin panas. Adam menunjukkan kepada Sabrina bahwa dia tidak menghabiskan tenaganya untuk melewatkan malam pertama dengan Maya.

Sabrina pun terpuaskan secara lahir. Namun, tentu saja hal ini membuat moodnya sangat berubah. Seperti saat ini, dia sudah tak marah lagi pada Adam. Wanita cantik bermata bulat itu bersandar manja di bahu Adam sambil memainkan tangannya di tubuh sang suami. Adam sangat menyukai Sabrina yang sedang jinak seperti ini. Mereka berdua pun melanjutkan permainan sampai pagi.

Mungkin orang mengira untuk berbuat curang seperti Adam, memang dibutuhkan tenaga yang besar. Namun, Adam adalah seorang pebisnis andal. Dalam hal seperti ini pun, dia memiliki cara agar tenaganya tak habis dengan cepat, akan tetapi bisa menyenangkan pasangan dengan sangat baik.

Fajar pun menyingsing. Sabrina sudah tak sanggup lagi mengikuti permainan Adam. Mereka berkali-kali ketiduran dan terbangun untuk melakukan kembali. Sangat menyenangkan bagi keduanya. Namun, kali ini Sabrina benar-benar lelah. Terbukti, saat Adam membangunkan dengan lembut, dia tak bereaksi positif.

"Sudah, Adam! Masih ada besok malam, 'kan?" keluh Sabrina, tak kuat mengangkat mata yang berat.

"Kalau begitu, aku balik ke kamar Maya, ya? Takut dia bangun dan nemuin aku nggak ada di kamar," pamitnya.

Sabrina tak menjawab. Dia hanya mengangguk tanpa suara. Dia terus memejamkan mata hingga Adam keluar dari kamarnya.

Mata Sabrina memang terpejam, seolah tidur. Namun, sejak Adam pamit ke tempat Maya, kantuk Sabrina mendadak hilang. Matanya yang masih pura-pura terpejam, kini menitikkan air mata. Dia kira, dia akan sanggup menjalani ini semua dengan tabah. Berjuang untuk cinta mereka yang telah belasan tahun bersemi sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah.

Tak adanya restu dari orang tua, membuat jalan cinta yang mereka berdua jalani penuh duri dan luka. Sabrina sudah berusaha untuk lari dari cinta Adam, tapi selalu gagal. Dia sadar, cintanya hanya untuk Adam. Jiwa dan raganya hanya untuk pria yang sudah memiliki tunangan sejak kecil.

Terkadang, Sabrina sangat ingin menjadi Maya yang bisa memiliki Adam tanpa harus bersusah payah. Namun, tentu saja itu tak mungkin.

Tak jarang, bila berpapasan dengan Maya, Sabrina ingin mencelakai wanita itu agar tak menghalangi cintanya dengan Adam. Namun, hati Sabrina tak sanggup melakukannya. Dia bukan wanita jahat yang akan mengorbankan nyawa dan keselamatan orang lain hanya untuk kebahagiaannya sendiri.

Sempat dia meminta Adam untuk lari saja dengannya. Namun, dia tak sanggup melihat Adam hidup miskin dan menderita. Bagaimanapun juga, sejak kecil, Adam telah disuapi dengan sendok perak tanpa harus berusaha keras. Apalagi, mengingat harta tersebut akan dialihkan kepada Maya, Sabrina sangat mengerti mengapa Adam tak akan rela.

Sungguh menyesakkan dada. Menjadi istri pertama, tapi rasa istri simpanan. Sabrina berdoa, semoga ini adalah perjuangan cinta mereka yang terakhir. Semoga, setelah ini, hanya akan ada kebahagiaan yang menyongsong mereka.

***

Adam kembali ke kamar 506 dengan mengendap-endap agar istrinya tak bangun. Dia menyelinap masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata.

Namun, tentu saja hal itu sulit bagi Adam. Dalam benaknya, banyak sekali masalah yang membuatnya cemas. Hari ini saja dia sudah hampir gagal menjalankan sandiwara. Bagaimana dia akan bisa melewati malam-malam berikutnya?

Menjalani kewajiban sebagai suami dalam satu malam sekaligus sangatlah berat. Dia harus menyiasati hal ini dengan baik.

Kepala Adam memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat dia lakukan untuk dapat menjalani hari-harinya nanti. Bagaimanapun juga, untuk mempertahankan cinta Sabrina di tengah semua sandiwara ini, dia harus menjadi seorang suami yang adil. Tak adil pun tak mengapa, asalkan Sabrina dan Maya tak ada yang marah.

Lalu, tercetuslah ide cemerlang di kepala Adam. Sepertinya, dia akan bisa menjalani semuanya dengan cukup mudah tanpa harus mencurigakan dan tak perlu merasa kelelahan berlebihan. Yang terpenting, Adam merasa akan bisa melakukannya tanpa harus membuat kedua istrinya serumah … dan semua ini akan tetap rahasia ….

Bab 3

Tak ada pria securang Adam. Dia berbulan madu bersama dua istri secara rahasia. Dia memang sudah merencanakan hal ini dengan cukup baik sebelumnya.

Adam akan menghabiskan waktu selama sepekan di hotel agar dia bisa membagi waktu untuk Maya dan Sabrina secara bersamaan tanpa harus ketahuan Maya maupun keluarganya. Sementara itu, dia menyiapkan rencana ke depan yang lebih mulus agar semua tujuannya tercapai. Harta dan cinta.

Adam tahu, wanita tak bersalah yang akan dia korbankan adalah Maya. Namun, dia berencana akan memberikan alimoni yang sangat besar untuk Maya agar dia bisa hidup dengan nyaman dan bisa mencari suami baru yang dia sukai.

Adam yakin Maya akan setuju karena alasan wanita yang terlihat polos itu mau dijodohkan dengannya juga pasti karena uang. Apalagi memangnya? Bukankah seharusnya setiap orang akan memilih jalannya sendiri? Bukan perjodohan seperti zaman Siti Nurbaya. Kecuali ada faktor pendukung lain, misalnya uang, dan itulah yang ada di kepala Adam saat ini.

Malam ini adalah malam keempat untuk ketiga pengantin baru tersebut tinggal di hotel yang sama, walaupun berbeda kamar. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah Adam menghabiskan waktu bersama Maya, dia akan mengunjungi Sabrina segera.

Hanya saja, di siang hari, waktu Adam hanya bisa dihabiskan untuk Maya. Saat Adam dan Maya makan romantis di restoran, Sabrina hanya bisa makan sendiri di kamar bila dia tak ingin berpapasan dan melihat secara langsung kemesraan suami rahasianya dengan wanita lain.

Bila Adam dan Maya menghabiskan waktu siang untuk berenang dan jalan-jalan di pantai, Sabrina harus berjuang keras agar tidak cemburu tatkala mereka berada di tempat yang sama pada saat yang bersamaan. Hal ini tentu saja sangat menyiksa batin Sabrina.

Tak jarang Sabrina menangis meratapi nasibnya. Mengapa dia harus menjalani kehidupan yang konyol semacam ini? Walaupun uang dan fasilitas yang dia dapatkan tak berbeda dari Maya, tetapi dia merasa tak cukup. Walaupun cinta dan hati Adam hanya untuknya, tapi Sabrina menginginkan pengakuan publik.

Sabrina membanting pintu kamar keras-keras. Dia merebahkan diri ke kasur sambil menangis. Apakah sebaiknya dia menyerah saja? Mengapa begitu berat rasanya untuk bertahan?

Karena tak tahan dengan kesunyian kamar, Sabrina pergi ke luar untuk jalan-jalan. Saat sudah gelap seperti ini, bisa dipastikan kalau Adam dan Maya sudah masuk ke dalam kamar. Tak mungkin mereka akan berpapasan lagi.

Sabrina pikir, tidak melihat Adam dan Maya bermesraan akan membuatnya baik-baik saja. Namun, ternyata tak seperti itu. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan-bayangan bahwa Adam sedang memadu kasih dengan Maya. Tangan yang sama dengan tangan yang menyentuhnya pasti juga menyentuh Maya. Semua yang ada pada diri Adam tak hanya miliknya, tetapi juga milik Maya.

Sungguh berat berbagi suami. Bila bukan karena cinta, tak mungkin Sabrina akan bertahan.

Sabrina akhirnya memutuskan untuk berenang agar dia lupa dengan segalanya. Saat dia berjalan di tepi kolam renang hotel, tiba-tiba dia menabrak badan seseorang yang cukup keras.

Bruk!!

Sabrina jatuh di atas tubuh seorang pria jangkung berbadan kekar. Lebih tinggi dan lebih atletis daripada Adam. Matanya yang berwarna hijau menatap dengan tajam. Rambut pirangnya mengingatkan Sabrina bahwa dia mengenal pria itu.

"Leo?"

"Bree?"

Saat Sabrina menyadari betapa tak pantas pose mereka saat ini, dia segera berdiri dan mengenakan handuknya dengan lebih rapat. Malu-malu, dia menunduk dan meminta maaf pada makhluk tampan di hadapannya.

"Maaf ... aku seharusnya berhati-hati," ucap Sabrina. Dia tidak menatap wajah Leo karena pertemuan terakhir mereka yang buruk.

"Tak apa! Kamu tidak berat, Bree!" jawab Leo santai. "Bagaimana kabar kamu?"

Sabrina menjawab pertanyaan Leo dengan formal. Mereka kemudian mengobrol di bangku panjang di tepi kolam.

Leo adalah mantan kekasih Sabrina saat dia berusaha lari dari Adam. Namun, mereka berpisah karena Sabrina tidak bisa melupakan Adam. Kenangan bersama Leo tak bisa dia ingat dengan perasaan wajar. Dia sangat malu.

Bagaimana tidak? Sabrina tak sengaja menyerukan nama Adam saat Leo menyentuhnya. Segera setelah itu, mereka berdua memilih untuk tidak meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Sabrina pun memutuskan untuk kembali pada Adam walaupun dia harus menjadi kekasih simpanan bagi Adam.

"Kamu masih bersama ... Mmmm ... siapa? Adam?" tanya Leo berbasa basi.

Sabrina hanya mengangguk pelan. Namun, suasana hatinya yang sedang tak baik saat ini membuat wajah cantiknya terlalu jujur. Sedih dan muram.

"Bree, kamu baik-baik saja?" tanya Leo prihatin.

"Bagaimana kalau kita party? Melupakan kesedihan?" Leo berusaha menawarkan perhatian seorang sahabat kepada Sabrina. "Tenang, aku yang traktir!"

Sabrina tertawa melihat gaya bicara Leo yang sok. "Kamu sekarang sudah banyak uang?" tanya Sabrina dengan nada bercanda pula.

"Lumayan! Aku bekerja sebagai seorang pengawal sekarang. Bayarannya cukup tinggi," jawab Leo dengan senyum manis yang membuat wajah maskulinnya terlihat kekanak-kanakan.

"Okay! Aku akan senang menerima uang hasil kerja keras kamu dengan senang hati," jawab Sabrina pada akhirnya.

Kemudian, Sabrina mengikuti Leo ke rooftop bar dan bersenang-senang di sana. Dia melihat jam tangan di pergelangan kiri yang menunjukkan pukul 23:00. Satu jam lagi, Adam akan ke kamarnya. Masih ada waktu cukup untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri. Dia tak ingin Adam mencium bau rokok dari tubuhnya.

Dia pun berpamitan ke Leo. Pria itu menawarkan diri untuk mengantarkan Sabrina ke kamarnya. Sabrina marasa tak enak untuk menolak kebaikan Leo. Keduanya pun berjalan ke kamar sambil mengobrol santai.

Saat akan berpisah, Leo yang masih berada di bawah pengaruh alkohol, tiba-tiba menarik tubuh Sabrina dan mengklaim bibir ranumnya tanpa permisi. Sabrina berusaha menolak, tetapi tak bisa. Kemudian lama kelamaan, dia justru larut dalam kepiawaian Leo yang Sabrina akui sangat hebat.

Leo pun memisahkan diri setelah merasa cukup puas. "Aku ada di kamar 703. Ini nomor ponselku. Datanglah bila kamu mau. Teleponlah bila kamu membutuhkan aku. Aku akan selalu ada untuk kamu, Bree!"

Sabrina tertegun menatap Leo. Dia tak menyangka kejadiannya akan berkembang sejauh ini. "Apa maksudmu?"

"Bercanda! Hahaha," jawab Leo yang kini tertawa terpingkal-pingkal. "Aku sedang liburan. Jadi, aku akan bisa menemanimu selama liburan saja. Pekan depan aku akan bekerja dengan klien baru. Jadi, aku tak bisa menemanimu lagi."

Sabrina ikut tertawa. "Dasar! Kamu bikin aku kaget saja!"

Leo pun segera kembali ke kamarnya lewat tangga. Sedangkan Sabrina yang perasaannya masih kacau dan berdebar kencang karena ciuman Leo, segera masuk ke kamar. Sebaiknya, dia segera membersihkan diri. Tak mungkin dia menyambut Adam dengan aroma tubuh pria lain menempel di tubuhnya.

Sabrina menampar-nampar mukanya. Malam ini yang dia lakukan adalah kesalahan. Mana mungkin dia berciuman dengan pria lain? Sementara kini dirinya sudah bersuami? Bukankah ini berarti pengkhianatan kepada Adam?

Saat Sabrina hendak masuk ke kamar mandi, tiba-tiba bel kamarnya berbunyi. Hati Sabrina mencelos. Adam datang lebih awal dari biasanya. Dia harus membuka pintu segera bila tak ingin dicurigai.

Begitu pintu terbuka, tampaklah wajah masam Adam yang kini bersedekap dan menatapnya dengan tajam. "Dari mana saja kamu?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED