Bab 2

Suasana pagi hari di Panti Asuhan Lentera Hati terasa begitu riuh. Beberapa anak sibuk bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, sementara yang sudah dewasa sedang mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Di sisi lain, suasana di rumah Ibu Panti jauh lebih gaduh. Tangisan anak kecil bercampur dengan suara omelan seorang wanita menciptakan keramaian yang memusingkan di pagi hari.

"Iya, Cio... sebentar. Ini Bunda lagi siap-siap!"

Drucia Luna, wanita cantik berusia 23 tahun itu, nyaris kehilangan kesabarannya menghadapi putra semata wayangnya yang sangat rewel. Ibunya sedang memasak, dan ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Jadi tidak ada yang mengurus anaknya saat ini.

"BUNDA LAMA!" teriak bocah itu diiringi dengan tangisan yang semakin kencang.

Luna menarik napas, berusaha meredam emosinya. Dari arah dapur, Juli-ibu pantinya, berlari kecil menghampiri mereka.

"Ayo, mandi sama Nenek, ya," bujuk Juli lembut sambil membungkuk untuk menggendong Cio.

Namun, bocah itu dengan cepat menepis tangan Juli. "Nggak mau! Maunya sama Bunda!" teriaknya.

Luna mendesis kesal. Tak sabar lagi menghadapi tingkah putranya yang setiap pagi selalu begini. "Bunda panggilin Om Paket, ya, kalau masih nangis. Biarin aja, biar jadi anaknya Om Paket," ancamnya.

Ini adalah kelemahan anaknya. Bocah itu punya trauma kecil terhadap pengantar paket, karena sebelumnya pernah digoda akan dimasukkan ke dalam keranjang karung yang dibawanya.

"Enggak, Bunda! Cio Nggak mau!" teriaknya kencang.

"Udah, kamu berangkat sana. Nanti terlambat. Biar Ibu yang urus Cio," ujar Juli dengan lembut.

Luna mendengus kesal, lalu dengan gerakan cepat ia mengambil tas dan kantong besar berisi beberapa kotak jajanan yang akan dijualnya di kampus.

"Sialan kamu, Mas Ardan. Dari sekianya banyaknya sifat baik, kenapa harus gen tantrum yang kamu turunin ke anak aku? Lama-lama aku bisa darah tinggi kalau kayak gini terus," gerutunya kesal.

Luna masih teringat cerita Ibu mertuanya tentang Ardan kecil yang dikenal sering tantrum hingga membuat semua orang di rumah kerepotan. Siapa sangka sifat itu kini diwarisi oleh Cio, putra mereka.

"Untung punya Ibu sabar," gerutunya lagi sambil melangkah ke halaman depan dan menaiki motor matic kesayangannya.

*****

Setibanya di kampus, Luna memarkir motornya di tempat biasa. Namun, hari ini suasana terasa berbeda. Kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Ia sempat melihat sekumpulan mahasiswa berkumpul di depan papan pengumuman.

"Ada apa sih?" gumam Luna penasaran sambil berjalan mendekat.

"Dosen baru, Lun. Ngajar di kelas kamu," jawab salah satu temannya.

"Pak Edi jadi resign?" tanya Luna.

"Iya, diganti sama Dosen itu."

Luna yang penasaran segera membaca pengumuman itu. Ia tertegun, matanya membesar saat melihat nama yang tertulis di sana. Dr. Ardan Willy Kusuma, Dosen baru yang menggantikan salah satu Dosen di jurusannya.

"Wah, nggak mungkin..." bisik Luna tak percaya. "Dia pengusaha, nggak mungkin tiba-tiba ganti profesi jadi Dosen," gumamnya lagi. "Enggak, ini pasti namanya aja yang sama. Lagian dia tinggalnya di Jakarta, nggak mungkin kalau tiba-tiba pindah ke Bandung."

Tak mau pusing-pusing memikirkan itu lagi, Luna segera masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangku barisan tengah dengan hati yang masih gelisah. Meski belum terbukti bahwa Dosen itu benar-benar mantan suaminya, namun jantungnya sudah berdebar kencang.

"Please... semoga bukan dia," gumamnya dalam hati. Berharap bahwa apa yang ia khawatirkan tidak akan menjadi kenyataan.

Setelah semua mahasiswa masuk dan duduk di tempatnya, suasana kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada pintu, menunggu kedatangan Dosen baru yang akan menggantikan Pak Edi di kelasnya.

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang pria dewasa dengan tubuh tinggi gagah dan wajah yang tampan sempurna, masuk dengan langkah yang penuh percaya diri. Meskipun terlihat sudah matang, pesona yang dimilikinya tak pudar. Membuat para mahasiswi langsung terpesona melihatnya.

"Selamat pagi, semuanya," suara Ardan mengalun tenang namun penuh wibawa. "Saya Dr. Ardan Willy Kusuma, dan saya yang akan menggantikan Pak Edi di mata kuliah ini."

Berbeda dengan teman-temannya tampak antusias, Luna justru terjebak dalam kegelisahan yang tak bisa ia hindari. Ia membeku di tempat, menatap Ardan dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Ardan belum menyadari kehadiran Luna di sana. Ia lanjut memperkenalkan dirinya di depan para Mahasiswa. Semua menyambutnya dengan antusias, bahkan beberapa dari mereka ada yang langsung bertanya.

"Sebelumnya ngajar di mana, Pak?" tanya seorang mahasiswa.

"Saya belum pernah mengajar. Saya hanya pengusaha yang ditawarkan untuk menjadi Dosen di kampus ini," jawab Ardan dengan tenang.

"Wah, mantap nih. Diajar langsung sama yang udah berpengalaman," sahut mahasiswa lain dengan antusias.

Ardan hanya tersenyum tipis, merasa senang dengan sambutan mereka.

"Umur berapa, Pak?" tanya mahasiswa yang duduk di bangku belakang.

Ardan kembali tersenyum, menjawab dengan santai, "38."

"Wah... pasti mudanya ganteng banget ya, Pak," sahut mahasiswi lain dengan ceria.

Lagi-lagi Ardan hanya tersenyum tipis, tak merasa terganggu dengan godaan mereka. Ia sudah terbiasa mendapatkan perhatian karena ia memang memiliki ketampanan yang luar biasa.

"Anaknya berapa, Pak?" tanya seorang mahasiswa lagi. Kali ini menyentuh ranah privasinya, jadi Ardan memilih untuk tidak menjawabnya.

Ardan segera melangkah menuju meja dosen untuk duduk. Namun, saat hendak duduk, matanya secara tak sengaja menangkap sosok wanita cantik yang duduk di bangku tengah.

Ardan terdiam sejenak. Tubuhnya membeku dan jantungnya berdegup kencang. Matanya terpaku pada Luna yang kini menundukkan kepala, seolah menghindari pandangannya.

Beberapa mahasiswa yang menyadari perubahan sikap Ardan langsung menoleh ke arah Luna. Namun, lamunan Ardan terputus ketika salah satu mahasiswa melontarkan godaan.

"Itu namanya Luna, Pak. Cantik emang, banyak yang suka. Tapi sayangnya dia janda satu anak," ucapan pria bertubuh gendut itu mengundang gelak tawa teman-temannya. Sementara Luna hanya bisa menarik napas panjang, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

"Enggak. Siapa juga yang tertarik? Istri saya lebih cantik," balas Ardan dengan nada ketus. Tampaknya ia masih menyimpan dendam pada Luna, terbukti dari tatapannya yang kini berubah tajam.

"Cieee..." goda beberapa mahasiswa. Luna yang sudah muak segera bangkit dari tempat duduknya dan pura-pura izin ke toilet.

"Maaf, Pak. Saya izin ke toilet sebentar," ujar Luna.

Tanpa menunggu jawaban dari Ardan, Luna langsung berjalan keluar dari kelas. Tindakannya itu membuat beberapa teman-temannya bergumam dengan suara pelan, menganggap Luna tidak sopan karena semena-mena terhadap Dosen baru.

"Yang akan presentasi, silakan bersiap-siap. Saya keluar sebentar," ujar Ardan, kemudian melangkah keluar kelas, mengikuti Luna yang sudah berjalan menuruni tangga.

Bab 3

"Mau ke mana kamu?"

Langkah Luna terhenti seketika. Suara yang begitu familiar menggema di tangga yang sepi. Dengan ragu, ia menoleh ke belakang.

Jantungnya berdebar kencang saat mendapati Ardan berdiri di belakangnya dengan sorot mata yang begitu tajam.

"Kamu mau kabur dari kelas saya?" tanya Ardan dengan nada dingin.

Luna menghela napas, berusaha untuk tetap tenang. "Mau cari udara di luar," jawabnya.

"Memangnya saya ngizinin?"

Luna menghela napas berat, memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap Ardan dengan wajah tegas. "Kamu nggak nyaman kalau ada aku di kelas, kan? Yaudah, biar aku yang ngalah. Kamu balik aja. Mahasiswa yang lain udah pada nunggu."

Ardan tetap berdiri dengan tatapan datar. "Kembali ke kelas," perintahnya dengan tegas.

Luna menggeleng tegas. "Kamu aja. Aku mau ke kantin. Terserah kamu mau absen aku alpa atau apapun itu," tolaknya.

Tanpa menunggu jawaban, Luna melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Namun, suara dingin Ardan kembali menghentikan langkahnya.

"Setelah lima tahun, saya pikir kamu sudah hancur, ternyata masih belum. Entah apa alasannya, Tuhan masih memberi nyawa ke tubuh pengkhianat."

Kata-kata itu menusuk seperti belati. Luna mencengkeram pegangan tangga dengan erat, mencoba meredam gemuruh di hatinya. Dadanya terasa sesak, dan rahangnya mengeras menahan air mata yang nyaris tumpah.

Tanpa menoleh, Luna mempercepat langkahnya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan pria itu. Rencana untuk ke kantin berubah seketika. Ia memilih taman, tempat yang lebih sepi untuk menyendiri.

Sesampainya di taman, Luna langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang. Kepalanya tertunduk, dan jari-jarinya meremas ujung kursi dengan erat, menahan emosi yang meluap-luap.

"Hiks... hiks..."

Isakan tangis akhirnya pecah. Ucapan Ardan terlalu tajam, menusuk hingga menghancurkan pertahanan hatinya.

Selama beberapa tahun ini, tak ada yang membuatnya menangis selain drama korea sad ending. Namun kini, luka yang ia pikir sudah sembuh kembali dibuka oleh pria yang sama.

"Cio, Bunda sumpahin wajah kamu nanti persis sama Ayah kamu kalau udah besar, Nak. Nggak apa-apa sekarang Bunda dibilang pengkhianat. Suatu saat, Bunda bakal buktiin kalau semua tuduhan itu salah."

Kalimat itu sudah sering Luna ucapkan sejak putranya lahir ke dunia. Ia selalu berharap Cio memiliki wajah yang sama persis dengan ayahnya, agar suatu hari ia tidak perlu repot-repot menyangkal segala tuduhan yang pernah dilontarkan padanya.

Di tengah kegalauannya, suara ponsel yang berdering dari saku celananya memecah lamunan.

Luna mengambil ponsel itu dengan gerakan malas. Namun, begitu melihat nama pengirim pesan yang tertera di layar, senyum tipis langsung terukir di wajahnya.

Dokter Dylan:

[Nanti biar aku aja yang jemput Cio ke sekolah. Aku udah janji mau ngajak dia makan pizza.]

Luna tersenyum tipis. Jika part terburuk dalam hidupnya adalah bertemu dengan Ardan dan Wulan. Maka part terbaik dalam hidupnya adalah kehadiran Cio dan Dylan.

Meskipun hubungan mereka belum memiliki ikatan resmi, Dylan selalu berhasil memberikan kenyamanan di tengah kehidupan Luna yang penuh lika-liku. Mereka saling menyukai satu sama lain, namun belum ada yang berani mengungkapkan.

*****

Setelah jam perkuliahan berakhir, Luna pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengambil box kue yang tadi ia titipkan di salah satu penjual.

Sudah lama Luna melakukan ini. Menitipkan kue yang ia buat di kantin. Ia bekerja sama dengan ibu-ibu di kantin yang sangat baik hati. Beruntungnya, banyak mahasiswa yang menyukai kue buatannya. Keuntungannya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membiayai hidup anaknya.

"Lun, minggu depan bisa, kan, buat pesenan 300 pcs? Ini ada pesanan dari tetangga Ibu buat hajatan," ujar wanita paruh baya itu. Namanya Yanti, dia sangat baik pada Luna.

Luna mengangguk sambil tersenyum manis. "Bisa banget, Bu. Tapi mungkin agak lama selesainya, soalnya Ibu saya mau pergi keluar kota, jadi nggak ada yang jagain anak saya."

"Iya, nggak papa, Lun. Yang penting jadi," jawab Bu Yanti sambil tersenyum hangat.

"Yaudah, saya pulang dulu ya, Bu."

Luna berbalik dan melangkah meninggalkan kantin. Namun, ia terkejut saat melihat Ardan yang berdiri di depan kantin dengan wajah datar dan kedua tangan yang diselipkan ke dalam saku. Tak ada orang di sana, karena kantin sedang sepi.

"Syukurlah kalau kamu hidup susah. Itu karma buat kamu karena sudah mengkhianati saya," ujar Ardan dengan nada sinis.

Luna hanya menghela napas, tak ingin membuang waktu untuk menanggapi ucapan Ardan yang begitu menyakitkan. Dengan cepat, ia melanjutkan langkahnya, melewati Ardan begitu saja.

"Hidup susah katanya? Dia nggak tahu aja kalau omsetku perbulan bisa tembus puluhan juta. Belum lagi uang dari adik-adikku yang selalu ngasih jatah buat Cio," gerutunya kesal.

Selain menitipkan makanan di kantin, Luna juga membuka lapak di depan panti setiap sore. Kebetulan letak pantinya yang berada di depan jalan raya, jadi sering dikunjungi oleh pembeli.

Adik-adik lelakinya yang sudah beranjak dewasa juga sudah bekerja semua. Mereka tidak ingin Luna mengorbankan hidupnya lagi demi mereka, jadi mereka berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan juga kebutuhan anak Luna.

"Apa kamu nggak pernah baca kutipan Mimi Novic? Keindahan karma adalah Anda tidak perlu menyaksikannya bekerja. Lakukan saja apa yang benar, dan dia akan melakukan sisanya." Sepertinya Ardan belum puas mengganggu Luna. Ia terus mengikuti langkah Luna dengan cepat dan kembali melontarkan kata-kata yang menyinggung soal karma.

Luna yang sudah lelah akhirnya berhenti dan menatap pria itu dengan sorot tajam. "Apa kamu nggak punya kerjaan lain? Kamu udah tua loh, Mas. Kamu nggak malu ngomong kayak gini? Kayak anak kecil banget, sumpah," ucapnya kesal.

Ardan terdiam sejenak. Namun, ia tetap menatap Luna dengan tatapan penuh dendam. Luna mendengus kesal, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya tanpa peduli lagi.

Tiba di parkiran, Ardan masih mengikutinya. Namun kali ini, Ardan sedikit menjaga jarak, karena banyak mahasiswa yang sedang berada di sana.

"Saya belum puas membalas semua pengkhianatan kamu. Tunggu saja, penderitaan kamu akan semakin bertambah," ucap Ardan, suaranya masih penuh kebencian.

Luna mengabaikannya, ia tidak ingin ada yang curiga, terutama teman-temannya. Dengan cepat, Luna berjalan menuju motornya dan segera menaikinya. Meski hatinya masih kesal, ia berusaha untuk tidak terprovokasi.

Ketika sudah di jalan raya, Luna merasa ada yang mengganjal. Ia menyadari ada mobil yang terus mengikutinya dari belakang. Curiga jika itu adalah Ardan, Luna langsung membelokkan motornya dengan cepat, membuat mobil itu langsung mengerem mendadak.

Luna tersenyum miring, merasa puas dengan reaksinya. Ia kemudian berhenti dan memarkir motornya di depan sebuah toko. Dalam hatinya, ia yakin pria itu pasti akan berbalik arah dan menghampirinya.

Dan benar saja, tak berselang lama, mobil itu langsung berbalik arah dan menghampirinya.

"Aku curiga sama kamu deh, Mas. Dari tadi ngikutin aku mulu. Kamu masih suka sama aku?" tuduh Luna blak-blakan saat Ardan baru saja membuka kaca mobilnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED