"Nah bapak aja marah kan apa lagi orang tua mereka jika tahu anaknya dipermainkan oleh bapak sendiri mereka pasti marah" Vino menatap Zahra dengan kagum ternyata dia berbeda dengan perempuan di luar sana yang hanya memanfaatkan kekayaannya saja
"terima kasih nasihatnya" baru kali ini Zahra melihat bosnya tersenyum
"Senyum terus ya pak bapak tampan kalo senyum seperti ini" Zahra keceplosan menyebut Vino tampan emang iya sih dia tampan tapi Datar
"Saya emang ganteng dari dulu kok" dengan bangganya Vino mengucapkan begitu dengan Zahra tiba-tiba Raka datang dia ditinggal oleh Vino diruangannya
"Gw nungguin lu lama di ruangan lu eh malah berdua-duaan disini sama kekasih gw" pura-pura marah Raka yang baru saja datang dan duduk di samping Vino sementara Zahra duduk di depan mereka berdua
"Maaf gw lupa, lu mau pesan apa sana gih pesan" perintah vino
"Lu yang bayar ye"
"Ya sana pesan aja" kemudian Raka pun memesan makanannya lalu kami makan bersama-sama
"Eh kok lu samaan sih sama kekasih gw makanannya" Raka cemburu melihat makanan mereka berdua sama
"Kenapa? Lu cemburu" dingin vino sambil makan nasi gorengnya itu
"Iyalah gw cemburu masa makanan lu sama dengan kekasih gw" Raka gak terima jika kekasihnya sama dengan sahabatnya
"Kekasih kapan lu pacarannya coba" vino pun tidak mau kalah dengan sahabatnya itu
"Lagi otw kenapa emangnyau cemburu ya" mengalihkan pembicaraan vino itu
"Ya gak lah karena dia sekretaris gw jadi gw harus tau ada apa hubungannya dengan sahabat gw sendiri" lawan vino yang tidak mau kalah dengan Raka
"Awas ye kalo lu rebut dia dari gw" Zahra hanya tertawa melihat mereka meributkan dirinya itu
"Gak bakal gw gak demen teman makan teman"
"Gw pegang janji lu ya gak beb" Raka berbicara dengan Zahra yang sedang makan
"Lebay lu" sahut Vino
"Sirik aja tetangga" balas Raka
"Gak baik makan sambil berbicara lanjutin dulu makanan kalian berdua" nasihat Zahra
"Tuh dengerin apa kata calon istri gw" ujar Raka dengan tersenyum miris vino pun tidak menanggapinya dia hanya datar kenapa tiba-tiba dia cemburu dengan Zahra padahal dia bukan siapa-siapa Vino apa mungkin jika dia menyukainya masa iya menyukai kekasih sahabat sendiri yang ada mereka ribut lagi
"Lu gak boleh cemburu ingat jangan lukai hati sahabat lu itu" gumam vino yang sedang makan dia melihat Zahra dengan Raka yang begitu akrab sekali sedangkan Vino dia hanya diam tidak mengobrol dengan mereka lagi
Sore hari jam 04.00 Zahra sudah mau pulang kerja sekarang dia sedang membereskan semua pekerjaannya dulu sedangkan Vino yang baru keluar dari ruangannya segera ingin pulang karena malam ini dia ada janji sama sahabatnya itu Zahra pun sama ada janji dengan Raka bosnya pun tidak tau jika Zahra akan datang juga
"Kamu mau pulang Ra" tanya Vino yang baru saja keluar dari ruangannya
"Iya ini saya lagi beres-beres dulu" jawab Zahra yang sedang sibuk merapikan Berkas-berkasnya
"Saya bantu yah biar cepat selesai" kemudian membantu menumpukan berkas-berkasnya yah dia sedang sibuk hari ini
"Kamu pulang sama siapa Ra" vino yang sudah selesai membantu Zahra
"Sendiri pak mungkin naik angkot pak" Zahra pun sudah selesai merapikan Berkas-berkasnya
"Bareng saya saja saya juga mau pulang" dengan tersenyum manis yang memperlihatkan kedua pipi lesungnya
"Apa gak ngerepotin pak" tanya Zahra
"Gak kok ayo" ajak Vino kemudian Zahra pun mengikuti dibelakangnya berjalan menuju mobilnya saat zahra ingin masuk pintu mobil belakang vino berbicara
"Duduk depan Ra saya bukan supir kamu" mau tidak mau Zahra menurutinya Karena tidak ingin berbuat masalah lagi
"Rumah kamu dimana" suasana hening tidak pembicaraan diantara mereka tapi vino mencoba berbicara agar tidak hening lagi suasananya
"Di jalan suka jaya nanti ada pagar warna hitam disitu rumah saya" sampai digerbang Zahra pun pamit untuk turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya
"Makasih pak hati-hati dijalan assalamu'alaikum" ucap salam Zahra
"Wa'alaikumussalam" jawab salam vino dan Zahra pun memasuki rumahnya didalam sudah ada keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Zahra menghampiri keluarganya dan bersalaman
"Kamu udah pulang cepat sekali biasanya kerja kantor itu pulang malam sayang" bundanya yang sedang menonton TV bersama keluarganya
"Hehe iya Bun tadi sudah selesai pekerjaannya jadi dibolehin pulang deh oh iya nanti malam aku diajak temanku jalan-jalan katanya"
"Perempuan atau laki-laki" tanya ayahnya yang sedang minum kopi sambil menonton TV nya
"Laki-laki yah" Zahra menundukkan kepalanya dia takut gak dibolehin oleh ayahnya padahal dia sudah ada janji dengan Raka
"Ayah gak izinin kamu pergi bersama lelaki" ayahnya tidak mengijinkan jika anaknya bersama lelaki lain yang bukan mahramnya
"Tapi yah aku sudah ada janji bos aku juga bawa anaknya kok" bujuk Zahra
"Anaknya? Bunda gak mau yah kalo kamu dekat dengan bos kamu apa lagi dia sudah punya anak pasti dia sudah punya istri jangan jadi perusak rumah tangga orang Ra bunda gak pernah ngajarin kamu seperti itu" nasihat bundanya kepada anaknya
"Gak kok aku sama sahabat bos aku juga kok" rayu Zahra agar diizinkan oleh kedua orang tuanya
"Ok ayah izinin tapi dia harus jemput kamu disini Kalo gak yaudah gak usah pergi sama dia" jawab ayah pasrah menuruti keinginan anaknya
"Makasih ayah" Zahra pun memeluk ayahnya dan pergi ke kamarnya untuk siap-siap nanti malam tiba-tiba saja hp nya berbunyi ada sebuah pesan dari orang yang tidak ia kenal
Aku tidak ingin memilih diantara mereka berdua karena kalo aku memilih salah satu pasti diantara mereka bakal ada yang sakit hati dan persahabatan mereka juga akan hancur aku gak mau semua itu terjadi
-Zahra
0831xxxxxxxx
Assalamu'alaikum cantik
Zahra
Wa'alaikumussalam
Siapa yah?
0831xxxxxxxx
Ini aku Raka yang paling ganteng sedunia
Zahra
Oh ya ada apa pak
0831xxxxxxxx
Rumah kamu dimana biar aku jemput nanti malam hehe😁🤩
Zahra
Rumahku di Jl Suka Jaya nanti ada pagar warna hitam nah itu rumah saya
0831xxxxxxxx
Oh yang itu yaudah makasih cantik sampai ketemu nanti malam dandan yang cantik yah oh iya jangan lupa save nomer ku juga😁
Zahra pun tidak membalasnya lagi baru saja ia ingin ke kamar mandi tapi ada sebuah pesan lagi kemudian ia membukanya
0857xxxxxxxx
Assalamu'alaikum
Zahra
Wa'alaikumussalam siapa yah?
0857xxxxxxxx
Ini saya Vino bos kamu
Save nomer saya yah?
Zahra
Iya
Es batu
Ok
"Kenapa sih dia berdua minta save nomer teleponnya aku gak boleh menyukai salah satu diantara mereka nanti yang ada persahabatan mereka hancur cuma karena cinta" Zahra berbicara sendirian langsung saja menatuh handphonenya di atas meja kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Malam ini Raka menjemput Zahra dirumahnya sampai didepan ruamhnya dia deg-degan karena menurut dia itu harus ketemu camernya (calon mertuanya) kemudian mengetuk pintu rumah Zahra dengan pelan-pelan dia grogi banget kayanya mah
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" keluarlah seorang perempuan agak muda dengan pakaian gamis dan jilbabnya yang panjang itu yang ada dihadapan Raka
"Pantesan Mamahnya aja cantik apa lagi anaknya lebih cantik" gumam Raka
"Hey nak mau cari siapa" bundanya Zahra melambaikan tangannya di hadapan Raka
"Hmm... Saya mau cari Zahra Tante pasti Tante mamahnya Zahra yah" tanya Raka dengan mencium tangan bundanya Zahra tapi bundanya malah menangkupkan tangannya didadanya
"Iya saya bundanya ada apa yah" tanya bundanya Zahra
"Saya mau jemput Zahra Tante sebenarnya kita udah janjian tadi di kantor kok" jawab Raka dengan tersenyum
"Iya saya sudah tau katanya dia sama bosnya juga dan anaknya terus mana bosnya dan anaknya itu" kata bundanya yang celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri
"Kalo udah tau kenapa nanya coba" gumam Raka
"nanti bosnya langsung ke sana Tante nunggunya sama anaknya juga" Raka pun melihat Zahra yang menggunakan gamis dan jilbab nya
"Masya Allah Cantik" Raka kagum dengan pesona Zahra
"Anak bunda emang cantik dari dulu siapa dulu bundanya dong" dengan bangganya bundanya itu
"Ayo katanya mau berangkat" ajak Zahra
"Tante aku izin bawa anak Tante dulu yah nanti dikembalikan kok tenang saja saya kembalikannya dengan aman kok gak sampai lecet" kami pun tertawa bersama
"Aku pamit Bun tadi aku udah salim sama ayah didalam" Zahra mencium tangan bundanya dan masuk ke dalam mobil Raka sampai di cafe kita menunggu Vino dulu disini kemudian vino pun datang dia kaget jika rak juga bersama Zahra dan Zahra pun kaget kedatangan vino dia tidak tau jika bosnya juga ikut bersama kita
"Bunda" panggil anak kecil itu yang dibawa oleh vino langsung memeluk Zahra dia kaget anak kecil itu langsung memeluknya
"Bunda" Zahra kaget mendengar anak kecil itu memanggilnya bunda
"Vani dia itu bukan bunda kamu" kata vino yang mendekati anaknya itu yang sedang memeluk Zahra dan mencoba melepaskannya tapi Vani memberontaknya
"Vani" bentak vino kemudian Vani pun terdiam dan mengeratkan pelukannya itu
"Udah gapapa pak kasihan dia mungkin dia kangen bundanya" lirih Zahra dengan mengusap kepala anak kecil itu
"Bunda kemana aja aku kangen sama bunda" ujar anak kecil itu dengan tangisannya
"Gak kok bunda gak kemana-mana bunda ada disamping kamu kok" Zahra menenangkan anak kecil itu
"Bunda ayo kita pulang kita main bareng-bareng lagi sama ayah" bujuk Vani dengan memegang tangan Zahra
"Rak lu bawa Vani dulu gw mau bicara sama Zahra penting menyangkut masalah Vani gw gak akan mengambil Zahra tenang aja" bisik vino dengan Raka kemudian Vani pun diajak main sama Raka tadinya dia menolak
"Vani sama om dulu yuk bunda sama ayah mau bicara dulu" bujuk Raka lalu Vani pun menggeleng terpaksa jika Zahra harus membujuknya lagi
"Sayang kamu sama om Raka dulu yah bunda mau bicara sama ayah dulu" rayu Zahra dengan mencium anak kecil itu
"Tapi bunda gak akan ninggalin vani lagi kan" tanya Vani dengan mengalirkan air matanya itu
"Gak kok jangan nangis yah bunda sedih liat kamu nangis" Zahra menghapuskan air mata Vani dengan kedua tangannya lalu Vani pun mengangguk dan pergi main bersama Raka
Dan disini kami tinggal berdua yaitu Vino dan Zahra yang masih suasan hening
"Maaf yah tadi Vani sebut kamu bunda" maaf vino
"Ya gapapa kalo boleh tau kenapa Vani sebut saya bunda pak" tanya Zahra
"Karena kamu mirip dengan bundanya Vani" jawab vino
"Memangnya bundanya Vani Kemana" kata Zahra
"Bundanya Vani sudah meninggal bersama Ayahnya"
"Ayahnya? bukannya bapak ayahnya Vani yah"
"Bukanlah saya masih jomblo saya belum pernah menikah sama sekali" vino hanya tertawa mendengar ucapan Zahra
"Maaf pak saya tidak tau" lirih Zahra dengan menundukkan kepalanya
"Gapapa ok saya lanjutkan orang tuanya Vani meninggal karena kecelakaan pesawat bundanya Vani itu Tante saya jadi Vani adalah keponakan saya" jelas vino
"Terus kenapa Vani memanggil bapak ayah" tanya Zahra
"Karena saya sudah menganggap dia anak saya walaupun bukan darah daging saya sendiri tapi saya sayang sama dia waktu itu kekasih saya tidak suka dengan Vani karena menurut dia Vani itu menyusahkan saja dan akhirnya saya putuskan kekasih saya karena dia hanya memanfaatkan harta saya saja tapi ketika Vani bertemu kamu dia senang melihat kamu dan kamu pun baik penyayang anak kecil menurut saya" jawab vino yang sedang menceritakan masa lalunya
Maaf gara-gara aku persahabatan kalian putus
-Zahra
"saya boleh minta tolong sama kamu" vino bingung harus minta tolong dengan siapa lagi karena cuma Zahra satu-satunya yang bisa nolongin dia mengenai Vani
"Minta tolong apa pak Insya Allah saya akan bantu"
"Apa kamu mau menikah dengan saya" pinta vino dengan ragu Zahra pun syok mendengar permintaan vino bosnya itu
"Menikah? Maaf pak kita belum saling kenal baru kemarin kita ketemu pak" ujar Zahra
"Tapi cuma kamu yang bisa nolongin saya gak mungkin saya menikah dnegan yang lain takutnya saya salah pilih lagi saya gak mau buat Vani menangis lagi" lirih Vino
"Maaf pak saya gak bisa" rasanya Zahra gak bisa menikah dengan vino Karena dia gak mau nyakitin salah satu diantara mereka berdua Zahra tidak mau merusak hubungan persahabatan mereka berdua
"Kenapa, apa karena kamu kekasih Raka iya atau kamu menyukai Raka" tebak Vino
"Bukan itu pak kalo saya pilih salah satu diantara kalian berdua pasti sama saja saya menyakiti salah satu diantara kalian"
"Kalo masalah Raka biar saya yang urus Ra" bujuk vino
"Maaf sekali lagi saya gak bisa pak permisi" pamit Zahra kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan tapi dia mendengar vino menyatakan perasaannya lalu didengar oleh Raka yang baru saja menghampiri mereka berdua
"Saya mencintai kamu Ra" vino menyatakan perasaannya Zahra pun berhenti berjalan Raka yang baru menghampiri mereka berdua mendengar ucapan vino yang menyatakan perasaannya
"Saya gak percaya baru kemarin bapak bertemu dengan saya dan kenapa malah menyatakan perasaannya" ujar Zahra yang menengok ke arah belakang
"Itu gak mungkin" gumam Raka yang mengeluarkan air matanya
"Ini atas kehendak Allah Ra saya sudah mulai mencintai kamu Ra saya juga ingin berubah Ra demi kamu" balas Vino
"Jangan berubah karena saya pak tapi karena Allah" lirih Zahra kemudian meninggalkan vino yang terdiam disitu vani yang melihat bundanya pergi langsung menghampiri bundanya tapi telat bundanya telah pergi
"BUNDA" teriak Vani dengan tangisan mengejer dan vino langsung memeluknya
"Gw gak percaya kalo lu juga suka sama Zahra katanya gak suka teman makan teman tapi apa lu malah hianatin gw vin gw benci sama lu" Raka pun meninggalkan vino dengan anaknya itu
"Bunda ayah Hiks... Hiks..." Tangisan Vani semakin kencang
"Sabar nanti kita bujuk bunda ya biar bisa bersama-sama lagi sama kita" lirih Vino dengan memeluk Vani erat vino gak percaya jika akhirnya akan begini dia juga sudah hianatin sahabatnya sendiri dia sudah bilang kalo dia gak akan mengambil milik Raka tapi apa vino malah merebut Zahra darinyaZahra langsung pulang ke rumahnya dengan mengeluarkan air mata orang tuanya pun melihat anaknya baru datang dan Zahra langsung berlari ke kamarnya
"Yah Zahra kenapa" tanya bundanya yang panik takut jika anaknya kenapa-kenapa
"Mana ayah tau kan dari tadi ayah disini mulu sama bunda" sambil terkekeh
"Bunda lagi serius juga ayah malah ketawa bunda mau ke kamar Zahra aja deh" bundanya pun cemberut
"Eits... Jangan beri dia waktu uny sendiri Bun nanti yang ada dia makin syok Bun" nasihat ayahnya dengan menggenggam tangannya
"Ayah bercanda mulu deh" omel bundanya yang ada dihadapan ayahnya
"Bercanda apa sih Bun" ayah Zahra heran dengan bundanya maksudnya apa sih
"Ini loh bisa-bisanya kondisi lagi begini masih aja gombal" bunda Zahra melihat tangannya digenggam oleh ayahnya Zahra
"Hehe maaf Bun" ayahnya hanya cengir menderetkan giginya itu
Esok harinya Zahra masih belum keluar di kamarnya bundanya pun sudah membujuknya untuk makan tapi dia tetap gak mau bundanya tetap mengetuk pintu kamarnya terus-menerus tapi tidak ada jawaban satu pun dari Zahra
"Nak kamu ada masalah apa cerita sama bunda" bundanya menggedor-gedor pintu kamarnya
"Aku gapapa bunda aku lagi malas makan" sahut Zahra yang berada di dalam kamar yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai dada dan terisak-isak
"Memangnya kamu gak kerja sayang" tanya bundanya
"Gak Bun aku mau resign aja" jawab Zahra
"Kenapa mau resign nak apa bos kamu melakukan yang enggak-enggak sama kamu Iyah" kata bundanya
"Bukan bunda" sahut Zahra
"Terus apa? Coba kamu buka pintu dulu baru kamu cerita sama bunda nak" kemudian Zahra pun membukakan pintu kamarnya dan memeluk bundanya
"Hiks...hiks..." Tangisan Zahra yang mengeras sampai orang bawah mendengarkannya
"Ada apa sayang cerita sama bunda" bundanya mengelus kepala anaknya itu dengan penuh sayang"bos aku ngajak aku nikah Bun" bunda pun senang mendengarnya akhirnya anaknya bisa nikah
"Itu bagus dong akhirnya kamu nikah tapi kenapa kamu malah nangis Ra" bundanya pun bingung dengan anaknya seharusnya kan senang kenapa malah nangis gini
"Ihh bukan itu bunda aku gak cinta bunda dengannya baru kemarin kita ketemu dan kenapa malah dia langsung ngajak aku nikah aku gak mau salah pilih bunda"
"Kamu berdoa sama Allah semoga ini yang terbaik menikah dengan bos kamu bos kamu seperti apa sih bikin bunda penasaran aja deh" bundanya pun penasaran kaya gimana sih wajah calon menantunya itu
"Tapi bunda kalo aku ngajak nikah sama dia sama aja aku nyakitin sahabatnya dia juga menyukai aku bunda" ujar Zahra dengan bingung harus pilih yang mana
Disisi lain vino yang sedang berada dirumah membujuk Vani sarapan pagi tapi di tetap gak mau vino pun mengetuk pintu kamar Vani tapi tetap aja dia gak mau makan
"Sayang makan dulu yuk" ajak ayahnya itu yaitu vino yah dia sudah menganggap Vani itu ankanya
"Gak mau aku mau disuapin bunda" sahut Vani yang berada di dalam kamarnya itu
"Vani jangan bikin ayah pusing" bentak ayahnya yang sedang berdiri di depan kama anaknya
"Ayah jahat aku gak bolehin ketemu bunda hiks...hiks..." Tangisan Vani mulai memecah
"Dia itu bukan bunda kamu" vino mengungkapkan sejujurnya tapi tetap saja Vani gak percaya dengan ucapan ayahnya
"Gak itu memang bunda ayah aku melihat foto bunda mirip banget sama yang difoto itu dia itu bunda aku ayah"
"Ok ok kita ke rumah bunda tapi kamu makan dulu yah" vino pun pasrah dengan anaknya dan menurutinya
"Gak mau aku mau disuapin bunda ayah" teriak Vani
"Yasudah kamu siap-siap kita ke rumah bunda sekarang" ujar vino tiba-tiba pintu kamar anaknya pun terbuka
"Yang benar ayah terima kasih aku sayang ayah" Vani membuka pintunya dan memeluk ayahnya akhirnya dia bisa bertemu dengan bundanya
"Kamu siap-siap yah ayah tunggu dibawah" Vani pun mengangguk dan ayahnya menunggu dibawah setelah Vani siap-siap dia turun melihat ayahnya yang sudah menunggu di sofa dengan memainkan handphonenya itu
"Ayo ayah" Vani menghampiri ayahnya kemudian mereka pun berangkat dengan mobilnya
"Vani nanti kalo di rumah bunda jangan bandel yah kasihan bunda kamunya" pesan ayahnya
"Vani gak akan bandel kok ayah" Vani ingat pesan ayahnya itu setelah sampai di depan rumah Zahra kami pun turun dan memasuki rumahnya didepan pintu vino mengetuk pintu rumah Zahra dan keluarlah ayahnya Zahra dia juga bingung kenapa anak dari sahabatnya ke sini dengan membawa anak apa maksudnya itu ada hubungan apa dia dengan putrinya"Assalamu'alaikum om" vino bersalaman dengan ayahnya Zahra dan Vani pun sama bersalaman juga dua mengikuti ayahnya
"Wa'alaikumussalam, ada apa kamu ke sini nak" tanya ayahnya Zahra dengan bingung kenapa dia ke sini dengan membawa anaknya
"Saya mau bertemu Zahra boleh" jawab vino
"Ada hubungan apa kamu dengan Zahra nak" sembari mengangkat kedua alisnya
"Saya dengan Zahra sekedar bos dengan karyawan om"
"Lalu ada apa kamu ke sini" ayahnya melihat seorang anak kecil yang disamping vino sepertinya dia habis nangis juga
"Gini om Vani mau ketemu Zahra boleh"
"Boleh silahkan masuk yuk" ajak ayahnya dan masuk ke dalam rumahnya
"Kita ke atas aja yah Zahra tadi belum keluar kamar dari semalam dia juga gak mau makan" Zahra persis dengan Vani sifatnya sama-sama keras kepala kami pun menaiki tangga dan melihat bundanya sedang mengobrol didepan pintu kamar Zahra yang sedang memeluk bundanya dan menangis Vani pun berteriak memanggil bundanya
"Bunda" Zahra melepaskan pelukan bundanya DNA melihat Vani berada di sini dengan ayahnya
"Bunda" Vani langsung memeluk bundanya dengan erat seperti tidak mau berpisah lagi dengannya
"Bunda?" Kedua orang tua Zahra heran kenapa anak kecil itu menyebut Zahra bundanya ada hubungan apa mereka
"Vani kamu sama bunda dulu yah ayah mau ngobrol sama nenek dan kakek kamu" ujar vino lalu Vani pun mengangguk dan mereka mengobrol di ruang tamu
"Bunda aku kangen sama bunda hiks...hiks..." Vani menangis di pelukan Zahra
"Maafin bunda yah semalam ninggalin kamu soalnya bunda buru-buru" Zahra melepaskan pelukannya dan menghapuskan air mata Vani
"Iya gapapa bunda" Vani tersenyum dengan menderetakan gigi nya dan memperlihatkan lesung pipinya
"Kamu seperti ayah sayang ada lesung pipinya" Zahra memegang kedua lesung pipinya milik Vani dia pun terkekeh
"Iya lah Bun kan aku anak ayah" dengan sombongnya Vani mengakui vino ayahnya
"Kasihan kamu nak kalo kamu tahu aku bukan bunda kamu dan vino juga bukan ayahmu apakah kamu akan membenci kita berdua aku sudah terlanjur sayang sama kamu nak" gumam bunda
"Bunda kenapa melamun" Vani melihat bundanya melamun yang sedang memikirkan nasib anak kecil itu
"Gapapa kok kamu sudah makan belum" tanya Zahra kepada anak kecil itu sembari mengusap kepanha dengan lembut
"Belum bunda" Vani menggelengkan kepalanya
"Kenapa gak mau makan sayang" tanya Zahra
"Aku mau disuapin bunda Bun" jawab Vani dengan menunjukkan kepalanya
"Yasudah kita makan yuk dibawah" lalu Vani mengangguk kami pun menuruni tangga menuju ruang makan sebelum melewati ruang makan dia lewat ruang tamu yang melihat mereka sudah selesai mengobrol
"Nenek kakek ayo kita makan" ajak Vani padahal dia belum kenal dengan keluarga Zahra
"Ayo kita makan" bundanya menyetujui ajakan vani dua sudah tau sebenarnya Vani itu siapa kami pun berjalan ke ruang makan Vani menguruh ayahnya agar duduk disampingnya serta bundanya juga
"Bunda aku mau disuapin bunda" Vani melihat bundanya yang sedang makan juga
"Makan sendiri Vani kasihan bundamu lagu makan tuh" kata vino dan Vani pun menundukkan kepalanya Zahra yang melihat Vani sedih diapun menyuapi anak kecil itu"gapapa kok pak biar saya saja yang suapin" ucap Zahra dengan tersenyum dan menyuapi Vani setelah menyuapi Vani dia pun melanjutkan makanannya kemudian mencuci piringnya Vani mengikuti bundanya pergi ke dalam dapur yang melihat bundanya sedang cuci piring
"Bunda aku boleh bantu gak" ujar Vani yang sudah ada di dapur
"Jangan nak kamu temani ayah aja yah bunda mau cuci piring dulu" tolak Zahra sembari mencuci piring
"Kenapa bunda" tanya Vani dengan bingung yang menolak bantuan Vani
"Gak usah yah kamu kan masih kecil takutnya piringnya pecah loh" Zahra menjelaskan penolakannya itu
"Aku mau nunggu bunda aja disini" Vani duduk di dapur yang ada bangkunya disitu sedangkan Zahra melanjutkan aktivitasnya
"Bunda udah belum aku bosen tau" lirih Vani yang bosen melihat bundanya cuci piring
"Bentar yah sebentar lagi selesai nih" dan akhirnya Zahra selesai mencuci piringnya kami pun berjalan ke ruang tamu yang sudah pada berkumpul Zahra duduk di samping Vino Karena hanya itu yang tempat kosong dan memangku Vani
"Kamu Sama ayah aja dipangkunya kasihan bundanya cape loh"
"Gapapa kok pak" Zahra tersenyum
"Kamu sama ayah aja yah" bujuk vino lalu Vani mengangguk dan berpindah dipangkuan ayahnya kedua orang tua Zahra hanya tersenyum
"Gimana nak apa kamu setuju menikah dengan vino" tanya ayahnya kepada Zahra
"Mau nunggu apa lagi sayang kita menyetujui restu kalian kok" ujar bundanya
"Aku gak ada perasaan apa-apa sama dia Bun" lirihku sambil menundukkan kepalanya
"Bunda kapan pulang aku mau kita berkumpul lagi" tanya Vani dan Zahra pun menengok ke arah vino dia bingung harus jawab apa dengan anak kecil ini masa iya dia harus tinggal bersama dengan bosnya sih kan belum halal
"Zahra apa kamu tega melihat Vani yang membujuk kamu untuk berkumpul bersamanya" bundanya menasehati anaknya
"Tapi Bun aku gak cinta sama dia"
"Kamu bukan gak cinta Ra tapi belum aku akan bikin kamu cinta sama aku Ra kamu mau kan menikah denganku" bujuk vino
"Tapi aku gak mau nyakitin sahabat kamu pak" kata Zahra
"Tenang saja Raka sudah ikhlas kok semalam dia menelpon saya kalo dia sudah ikhlas mungkin kamu bukan jodoh dia" ucap vino"hmm... Iya aku mau" vino langsung bahagia mendengar ucapan Zahra jika dia mau menikah dengannya
"Makasih" vino tersenyum dan Zahra pun tersenyum
"Alhamdulilah ayah senang akhirnya kamu menikah dengan anak sahabat ayah" jelas ayahnya Zahra baru tau jika vino itu anak dari sahabatnya
"Ayah kenal dengan vino" tanya Zahra dengan bingung apa yang dikatakan oleh ayahnya
"Iya kenal lah nak vino itu anak dari sahabatnya ayah" jawab ayahnya Zahra yang berhadapan dengannya
"Nanti malam saya akan membawa orang tua saya ke sini" kata vino
"Untuk apa" Zahra mengangkat kedua alisnya yang bingung dengan vino kenapa malah bawa orang tuanya ke sini
"Untuk melamar kamu" ujar vino dengan tersenyum dan membuat Zahra salah tingkah
"Om akan tunggu kamu dengan orang tua kamu malam ini" balas ayahnya Zahra dengan tersenyum
"Ayah kita jalan-jalan yuk sama bunda" ajak Vani yang masih dipangkuan ayahnya
"Tanya bunda kamu dulu mau gak" sindir Vino dengan menengok ke arah Zahra
"Bunda mau kan jalan-jalan sama kita" Vani menatap bundanya dengan bingung
"Hmm...gimana yah" Zahra bingung takutnya gak dibolehin oleh orang tuanya tapi bundanya langsung menyetujuinya
"Sudah kamu jalan-jalan sana kasihan vani nanti sedih lagi loh" bujuk bundanya Zahra pun menengok ke arah ayahnya yang mengangguk saja
"Ok hmm...gimana kalo kita main ke taman" saran Zahra Vani pun mengangguk kemudian kami pamit jalan-jalan ke taman dekat rumahnya.
Sampai ditaman Vani menyuruh bundanya dan ayahnya juga bermain bersama Zahra duduk diayunan dengan Vani sedangkan Vino yang mengayunkannya sambil melirik Zahra dengan tersenyum hari ini dia bahagia banget tidak biasanya dia bahagia seperti dengan kekasihnya dulu
"Ayah kenapa liatin bunda terus sih" tanya Vani yang heran melihat ayahnya menatap ke arah bundanya terus-menerus
"Bunda kamu cantik" puji vino
"Bunda memang cantik ayah kan anaknya juga cantik ya kan Bun" tanya Vani yang melihat bundanya salah tingkah dan blushing
"Muka kamu kenapa merah Ra padahal kamu gak pake blush on loh" vino melihat Zahra salah tingkah dan membuat pipinya merona
"Eh enggak kok aku eh mau ke sana dulu yah" Zahra yang salah tingkah pun beranjak dari ayunan dan duduk dikursi taman yang kosong sungguh dia malu banget kejadian tadi
"Ayah sih kan bundanya pergi" Vani marahi ayahnya yang membuat bundanya pergi
"Kok ayah sih kan ayah gak apa-apain bunda" vino pun merasa tidak bersalah karena dia tidak melakukan apapun yang membuat bundanya pergi
"Tau ah tetap aja ayah yang salah" bela Vani dengan wajah cemberutnya itu
"Yaudah ayah bujuk bunda dulu yah biar gak ngambek lagi bundanya mau gak" tawaran vino kepada anaknya dia pun mengangguk kemudian vino mengejar Zahra dia melihat Zahra yang sedang duduk di bangku kosong dengan sendirian
"Saya boleh duduk disini" izin vino yang melihat sebelah Zahra kosong Zahra bingung harus jawab apa
"Tenang aja saya duduknya agak jauhan kok" Zahra pun mengangguk vino duduk disamping Zahra yang kosong itu
"Kamu kenapa pergi gitu aja" tanya vino yang bingung melihat Zahra pergi tadi
"Gapapa pengen sendirian aja" jawab Zahra yang masih menundukkan kepalanya
"Yang benar kirain saya kamu ngambek gitu" goda vino yang melihat Zahra menundukkan pandangannya Vani pun datang duduk di tengah-tengah mereka berdua
"Ayah bunda" panggil Vani dan duduk di tengah mereka
"Kalian kenapa sih malah ninggalin aku kalian jahat tau" Vani pura-pura ngambek agar bisa mendapatkan kasih sayang dari mereka"bapak kok tinggalin Vani sih kasihan kan dia kalo hilang gimana coba" omel Zahra
"Maaf hehe tadi ketinggalan" maaf vino dengan menggaruk kepalanya
"Kamu gapapa kan sayang ditinggal ayah tadi" tanya Zahra sambil mengusap kepala Vani dengan lembut
"Gapapa kok bunda" jawab Vani dengan tersenyum dia tertawa melihat ayahnya diomelin bundanya
"Ayah aku mau es krim itu" Vani menunjukkan tukang es krim yang digerobak itu
"Nanti kita beli di cafe aja yah takutnya gak sehat sayang es krim dipinggir jalan" kata vino lalu Vani pun sedih tidak dibolehkan oleh ayahnya membeli es krim itu
"Kata siapa gak sehat malah sehat kok saya aja selalu makan dipinggir jalan kalo kita makan di cafe kasihan kan yang tukang dipinggir jalan sedang kesusahan ekonomi nya" jelas Zahra kemudian vino pun sadar dia orang kaya tapi gak pernah sedikit pun membantu orang kesusahan dia baru sadar semenjak Zahra ada di kehidupannya
"Terima kasih sudah menasehati saya" ucap terima kasih vino dengan tersenyum dia bahagia karena perempuan yang sekarang ia temui itu bisa merubahnya Zahra itu beda dengan perempuan lainnya dia sederhana, cantik, baik, pintar agama, dan berpakaian syar'i
"Ayah ayo beli es krim itu yah" ajak Vani dengan memegang lengannya
"Ok ayahnya belikan yah tapi Vani disini aja yah jagain bunda" pesan vino untuk anaknya
"Iya aku bakal jaga bunda kok yah" kemudian vino pun membeli es krim setelah itu kembali lagi ke tempat tadi dengan membawakan tiga es krim coklat dia memberikan kepada anaknya dan Zahra
"Ini untuk Vani dan ini untuk bunda" vino memberi es krim itu keduanya Zahra pun bingung padahal dia tidka memesannya
"Saya kan gak minta es krim pak" tanya Zahra yang bingung diberikan es krim itu dari vino
"Buat kamu" vino tersenyum
"Makasih pak" Zahra pun membalas senyumannya lalu kami makan es krim bersama di taman ini sekali-kali vino melirik Zahra yang sedang memakan es krim seperti anak kecil
"Saya kagum sama kamu Ra kamu cantik, pintar agama, baik, dan suka anak kecil pantaskah say untuk mendapatkan kamu semenjak saya bersama mu saya kembali ingat tentang agama dulu saya memang pintar agama tapi dengan kesibukan di dunia hingga saya melupakan itu semua terima kasih Ra kamu sudah ingatkan saya" gumam vino ddngan tersenyum memperlihatkan lesung pipinyaبسم الله الرحمن الرحيم
Dengan menyebut nama Allah yang lagi maha penyayang
Hari ini adalah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh Zahra dan Vino yah mereka akan menikah hari ini sekarang Zahra sedang di make upin oleh penata riasnya mamah vino kagum dengan kecantikan Zahra yang begitu bersinar
"Ra kamu pakai cream apa sih sampe mukamu cerah gitu tanpa make up juga" mamahnya vino bingung dengan menantunya yang berbeda dengan kekasih-kekasih vino yang dulu mereka menghabiskan uang untuk perawatan kecantikan dirinya agar vino selalu tertarik kepadanya
"Enggak kok mah aku enggak pake apa-apa" ujar Zahra dengan tersenyum
"Anak saya gak pernah pake apa-apa loh ran, aku tawarin cream aja buat dia eh dia malah gak mau katanya takut kenapa-kenapa sama mukanya yaudah dia gak pake deh palingan juga cuma pake bedak sama Vaseline yang pink itu doang" bunda Zahra menceritakan kegiatan Zahra sehari-harinya mamahnya vino masih bingung dengan ucapan mereka kalo memang gak pakai apa-apa lalu kenapa wajah Zahra seperti bidadari yang selalu cerah
"Tapi kok muka kamu selalu cerah Ra apa sih prinsip nya" balas mamahnya vino yang sudah duduk dihadapan Zahra dengan sedikit keponya itu