Bab 2

Akhinya tugas mereka sudah selesai, Alva dan Nartha membereskan barang-barang di atas meja. Lalu berpisah ke ruangan berbeda untuk memberikan hasil pekerjaannya ke Dosen.

Alva mengetuk pintu ruangan Dosen kemudian masuk ke dalam setelah mendengar suara di dalam. Mendudukan tubuhnya di kursi hadapan Dosen yang masih terlihat muda. Tersenyum dengan berkata, "Ini Pak, tugas saya. Bisa dilihat dulu," dengan sopan dan anggun, Alva memberikan kertas beberapa lembar yang tercoret kata perkata.

Laki-laki yang menjabat Dosen itu meraihnya, memeriksa dengan teliti lembar per lembar. Alva menatap raut Dosen dengan perasaan was-was ketika melihat raut wajahnya yang berkerut serta terlihat sedang berpikir panjang.

Menghela napas pelan setelah membaca setengah dari tugas Alva yang sudah beberapa kali direvisi, memperlihatkan senyum tipis yang menandakan harus direvisi lagi.

"Masih banyak yang salah ya Pak?" tanya Alva lemas, rasanya ingin menghilangkan kepala yang tidak bisa diajak kompromi.

"Kamu harus memperlajari apa maksud dari yang kamu kerjakan, masih banyak yang salah. Apa kamu tahu apa yang kamu bahas dari proposal yang kamu buat sendiri?"

"Tahu kok Pak. " Lalu Alva menjelaskan singkat maksud dari isinya. Dengan singkat dan sangat lancar.

"Kamu tahu tapi bagaimana naskahnya sangat kacau?" heran sang Dosen tidak percaya.

"Bapak Gabriel Franz yang terhormat, bisakah Anda menjelaskan di mana letak kesalahannya?"

Gabriel Franz, Dosen yang jika dilihat sekilas masih terlihat muda dengan rambut rapi tetapi raut wajah yang datar. Berbeda dengan kenyataan yang sering melempar senyum hangatnya. Seperti sekarang, ia menarik bibirnya terangkat mrmberikan senyum yang entah sudah keberapa kali.

Seperti keinginan Alva, Gabriel memberitahukan apa yang salah dengan detail disertai alasanya. Wanita muda itu menatap sang Dosen kagum dengan cengiran malunya. Setelah selesai Gabriel menatap Alva dengan tatapan yang intes membuat Alva gugup. "Sa-saya akan segera memperbaikinya," katanya sembari mengambil beberapa kertas yang disampul menjadi satu.

Dosen itu masih menatap Alva tanpa merespons, segera saja Alva tersadar lalu pamit keluar untuk kembali merapikan pekerjaannya. Gabriel mengizinkan dengan anggukan kepala, membiarkan Alva pergi.

Menutup pintu pelan ketika sudah keluar dari ruangan yang mencengram, wanita muda itu menyandarkan tubuhnya ke pintu dengan bernapas lega. Menghela napas dalam dalam mencari oksigen. Rasa malu karena proposal dan juga rasa gugup karena sang Dosen yang membuatnya merasakan hal lain.

Alva menggelengkan kepala cepat dengan menggumamkan "Tidak, tidak boleh!" Kedua netra mata berwana coklat cerah menatap sekeliling waspada jikalau ada mahasiswa atau mahasisiwi menatapnya aneh saat ini. Segera kaki pendeknya berjalan meninggalkan ruangan Dosen.

Menghubungi sang sahabat yang tidak ada kabar, ia terus mengirim telepon dan pesan menanyakan keberadaan dia dimana sekarang. Tapi, hanya ceklis dua abu diaplikasi hijau berkirim pesan itu. "Ke mana dia lagi? Susah bener ditanya. Apa dia belum selesai ya? Aku ke caffe aja deh." Monolognya dengan kembali menatap benda pipih untuk memberitahu tujuan agar nanti jika sudah selesai Narthalie bisa menghampirinya.

Saat mengirim pesan kepada sahabatnya tiba-tiba ada seseorang yang menubruknya, Alva menghentikan aktivitas dengan benda pipih itu kini perhatiannya teralihkan ke anak kecil yang tadi siang membuat mood sahabatnya buruk.

Ia berjongkok sembari mengururkan tangannya untuk membantu sang anak yang terjatuh. Tetapi respons si anak bukan menerima, anak kecil itu menggulurkan tangan mugil berisi ke leher Alva untuk di gendong.

"Bunda, Bunda mau ke mana?" Alva yang terkejut dengan suara si kecil tersadar dari shock lamunannya. Lagi-lagi membuang napas lelah, ia tidak mengerti dengan anak kecil di gendongannya memanggilnya 'Bunda'.

"Cil mau ke mana? Bapak kamu mana?" Bertanya dengan sabar karena ia sungguh ingin merilekskan pikirannya untuk bisa memperbaiki latihan proposal untuk skripsi semester depan.

Si kecil tidak menjawab melainkan bertanya kembali, "Bunda mau ke mana? Gar ikut." Wanita muda ini terkekeh pelan mendengar suara manja anak kecil yang ditemui tadi pagi. Tidak tahu ke mana orang tua dan begitu acuh anaknya pergi sendirian.

Alva pun menuruti keinginan si kecil yang masih di gendongannya dengan menenggelamkan wajahnya ke leher putih Alva dengan nyaman. "Kamu haus atau mau makan?" Melemparkan pertanyaan dengan kaki pendek berjalan keluar dari area kampus.

"Es krim," Si kecil gembul menyahut dengan pilihan yang Alva tidak sebutkan membuat wanita muda menghentikan langkahnya dan mencubit pipi chabby si kecil disertai senyuman manisnya.

"Es krim gak ada pilihan yang aku sebut tapi berhubung aku juga mau jadi ayo kita beli," ujar Alva senang sembari berlari kecil membuat anak kecil berumur tiga tahun itu tertawa lepas.

"Sampai," ucap Alva dengan mendudukkan Gar di kursi, "Kamu tunggu di sini! Aku mau beli es krim, mau rasa apa?"

"Coklat," sahut cepat Gar senang. "Baik, ternyata selera kita sama, tos." Alva menyetujui dengan tangan kanan terangkat mengajak si kecil bertos.

Gar senang diperlakukan begitu. Wajahnya berseri memperlihatkan ia bahagia tidak seperti pagi tadi yang terlihat dingin. Alva pun senang tidak merasakan lelah waktu bersama Gar padahal dirinya harus menyelesaikan proposal tapi sekarang seolah melupakan masalah masa depannya untuk lulus. Ia malah asyik tertawa dan bercanda bareng si gembul.

Terlalu asyik Alva sampai lupa memberi kabar sahabatnya tidak jadi ke caffe melainkan kini berada di toko es krim yang tidak jauh dari caffe, sebelahan dengan caffe yang biasa dirinya dan sang sahabat kunjungi.

...

Narthalie yang sudah selesai diintrogasi Dosen killer yang tidak jauh dengan Dosen Alva tetapi Dosen Narthalie lebih parah karena sudah tua. Sedari tadi benda canggih itu terus berbunyi saat ia presentasi untungnya Dosen tua itu tidak mempermasalahkan tetapi dari rautnya terlihat jelas terganggu.

Tadi, dia memberanikan diri izin untuk mematikan benda itu agar tidak menggangu agar diskusi ini segera selesai. Setelah selesai Narthalie juga melakukan hal yang Alva lakukan ketika keluar dari ruangan tetapi bedanya Narthalie mengumpat untuk sahabatnya karena hampir saja presentasinya diambang kegagal.

Ia melangkahkan kakinya cepat menuju tempat yang sudah diberikan, beberapa kali menumbruk orang lain yang berjalan berlawanan arah, karena buru-buru dengan perasaan kesal. Narthalie tidak peduli hanya mengatakan maaf tanpa repot melihat siapa korban dari kekesalannya.

Tetapi dirinya berdiri menatap sekitar caffe tidak menemukan orang yang dicari, melihat ke dalam dengan mengintip di jendela yang tidak menggunakan penutup hardeng membuat Narthalie dengan mudah mencari tetapi tetap 'tak menemukannya.

Ia menghela napas kesal dan menatap sekitarnya ketika mendengar tawa yang familiar ia memfokuskan netral hitam ke meja yang terlihat wanita dengan anak kecil yang sedang asyik tertawa.

"Itu kan?" Narthalie berguman.

Setelah memastikan tidak salah orang Narthalie berlari ke tempat yang tidak jauh berdiri untuk membalas kekesalannya.

"Kamu ya, bisa-bisanya ketawa setelah apa yang kamu lakuin hampir buat aku gak bakal lulus tahun ini." Narthalie tanpa basa-basi mengeluarkan amarah dengan memukul kepala orang itu.

"Sakit tahu," si sang empu mengadu kesakitan. Menghentikan tangan Narthalie yang akan memukul kepalanya lagi.

"Kamu sih, untung cuma natap gak ngomong-ngomong mana tadi aku lupa lagi presntasi proposal di tengah." Masih mengeluarkan unek-uneknya dan tanpa disadari mengambil es krim milih si kecil. Membuat si kecil memukul tangan besar Narthalie dengan tatapan tajam.

Bab 3

Narthalie terkejut dengan pukulan pelan yang tiba-tiba, dari seseorang. Ia mengalihkan netra hitam legam menatap sang empu yang sudah menghalangi dirinya akan minum. Ketika tahu siapa orang itu, ia mengalihkan kedua netra kembali ke arah sahabat yang menunjukan senyum manis andalan.

"Kenapa nih bocah ada di sini?" semprot Narthalie tanpa basa basi lagi. Menunjukan ketidak sukaan atas kehadiran si kecil, peganggu.

"Jangan marahin Bunda!" pekik Gar melihat intraksi kedua wanita muda itu yang sepertinya akan ribut lagi.

Alva menahan tangan Narthalie yang akan memukul kepalanya lagi, ia beranjak dan duduk di samping Gar yang kosong karena kursi di meja yang Alva pilih banyak.

"Iya, Tante Nartha gak bakal marahin Bunda kok." Alva menenangkan dengan membawa tubuh gembal ke dalam pelukkannya.

Gar memeluk Alva balik dengan posesif. Narthalie yang melihat itu merasa heran. Dipikirannya seketika muncul beberapa pertanyaan. Kenapa anak kecil ini begitu sayang Alva? Ke mana pula orang tua dari anak ini? Sejak kapan mereka begitu dekat padahal baru bertemu kurang lebih dua puluh empat jam?

"Dia anak kamu Va?" Pertanyaan dari Narthalie bukan sekedar pertanyaan melainkan sebuah tuduhan bagi Alva yang mendengarkannya.

"Gila kali kamu, mana mungkin dia anak aku?" Bantah Alva langsung tidak terima.

"Lalu? Menurut kamu masuk akal dia yang baru ketemu tiga jam itu bisa deket banget sama kamu dan panggil kamu juga 'Bunda'?" Narthalie memberitahukan keganjalan yang dirasanya.

"Y-ya, aku gak tahu," sahut Alva acuh tetapi berbeda dengan otaknya yang membernarkan apa kata sahabatnya. Seketika hening seakan jawaban Alva ditelan tidak menimbulkan percekcokan antara sahabat tersebut.

"Dia tidur?" Narthalie kembali bertanya setelah beberapa menit lalu tidak ada pembincaraan yang mengalir lagi. Pertanyaan itu hanya dijawab anggukan oleh Alva, setelah memastikan kebenarannya.

Mereka diam seolah tidak berpenghuni, Alva tiba-tiba memikirkan perkataan Narthalie yang ada benarnya. Begitu pun Narthalie yang masih penasaran dengan pertanyaan dirinya sendiri. Pikiran mereka terisi dengan segala hal yang topiknya sama.

Suara panggilan telpon dari benda mati tipis milik Narthalie membuat kedua wanita itu tersadar ke dunia nyata. Narthalie segera menerima telpon yang terlihat tulisannya 'Mom' tanpa banyak bertanya ia menyahuti setelah panggilan itu tersambung. "Ya, Mom? Kenapa?"

"Bentar, aku sekarang ke sana," lalu Narthalie mematikan panggilan singkat itu. "Va, aku duluan pulang ya, kamu di sini aja nunggu tuh bocil bangun." Narthalie memusatkan perhatiannya untuk berpamitan.

"Ada urusan dadakan? Kata Mom apa emang?" tanya Alva penasaran.

"Gak tahu, disuruh ke rumah cepet. Aku duluannya, dadah see you." Mengakhiri pembicaraan mereka, kemudian Narthalie beranjak setelah cepaka-cepiki.

Saat Narthalie buru-buru berjalan menuju halte untuk menunggu mobil grab yang ia sudah pesan tiba-tiba dirinya menumbruk seseorang yang membuat dahinya cenat-cenut saking kerasnya. Ia mendongkak dengan mengusap dahinya ketika tahu siapa yang menumbruknya, raut Narthalie berubah drastis. Jengkel dan kesal.

"Anda sedang mencari anaknya ya?" tuding Narthalie karena ia teringat dengan bocil itu yang sekarang bersama Alva. "Dia tidur sama sahabat saya di toko es krim," beritahunya.

Ketika ia akan melanjutkan langkahnya, ia terhenti lalu berbalik, "Jangan sering biarin anak kecil berkeliaran sendiri." Selanjutnya Narthalie benar-benar pergi dari tempat kejadian menuju ke tujuan awal.

Pria muda berkepala dua lebih itu menggelengkan kepala mendengarnya. "Dasar sok tahu, padahal mau dijelasin gak mau denger." Lalu ikut pergi ke tujuan awalnya. Meninggalkan bekas kejadian yang unik di pinggir jalan.

"Dia kapan bangunnya sih? Mana aku gak tahu orang tuanya lagi kan susah mau kasih tahu nih bocil sama aku." gerutu Alva dengan tangan yang mengganggu Gar tidur.

"Ah ya, bukannya pria itu Papah ya?" seru Alva mengingat seseorang, "Tapi sama aja aku gak tahu nomornya dan juga namanya aja aku gak tahu." Raut Alva berubah murung seketika.

"Bangunin jangan, bangunin jangan, bangunin jangan. Duh udah hampir sore lagi." Alva bingung. Ia sedang sibuk dengan membangunkan atau tidak tetapi suara seseorang yang familiar terdengar di gendang telinganya.

"Eh Bapak, mau pesen es krim juga?" tanya Alva sopan lalu menatap sekeliling meja yang masih kosong. "Di sini masih ada kami, tapi bentar lagi pulang kok kalau Bapak mau duduk di sini, silahkan," lanjut Alva bersuara. Ketika orang yang diajak bicara akan membantah Alva kembali bersuara. "Duduk aja Pak gapapa kok."

"Saya mau mengambil anak saya." Pria yang dipanggil Bapak oleh Alva bersuara tidak mengikuti permintaannya. Ia berucap yang ingin sedari tadi diucapkan tetapi Alva memotongnya. Seakan tersambar petir, Alva mematung sembari mencerna lagi perkataan Dosennya yang mengatakan 'anak saya'.

Jadi Garth anaknya Pak Gabriel? Omaygat Va kenapa gak kamu perhatiin wajah mereka emang sedikit mirip. Terus laki-laki yang tadi pagi Gar panggil Papa itu siapa? Maksudnya Bapak Gar ada dua? Atau mereka gay? Pikiran-pikiran yang dijawab dirinya sendiri itu membuatnya tidak menyadari Garth sudah berada digendongan Dosennya.

"Terima kasih sudah menjaga anak saya." Lamunan Alva buyar dengan suara ucapan terima kasih dari Dosennya sendiri yang ternyata tidak singel itu. "saya permisi kalau begitu." Pamitnya dengan menunduk sebagai tanda hormat.

Gabriel benar-benar pergi setelah pamit tanpa menambahkan suara lagi untuk dilontarkan kepada Alva. Begitupun Alva yang tidak begitu jelas mendengarkan karena fokusnya tidak ada. Seketika saat sadar dari pikiran-pikiran ia tersentak akan hilangnya sang dosen.

Dilihatnya sekitar dan terlihat punggung tegap seseorang yang menggengdong anak kecil semakin kecil dan hilang tidak terlihat lagi ditelan belokan. Ia menghela napas dalam dan kasar bersamaan.

Sungguh tidak menyangka ayah yang sebenarnya anak kecil bernama Garth adalah pak dosen, Gabriel Franz. Pasti teman-temannya yang mendambakan Gabriel tidak menyangka bahwa sudah memiliki anak yang berumur sekitar tiga tahun lebih.

"Apa mereka masih menyukai Pak Gabriel kalau tahu udah beristri dan punya anak satu?" monolongnya.

"Tapi kok gak ada yang tahu kalau Pak Gabriel udah nikah? Atau aku yang gak tahu ya?" Masih memikirkan alasan yang 'tak kunjung tahu jawabannya. "Ihh, kok aku jadi kepo sih? Udah ah mau pulang," Alva beranjak kemudian membayar es krim yang tadi dimakan dan pergi meninggalkan penghuni toko es krim menuju kediamannya.

Gabriel menatap sang putra kecilnya yang masih tidur lelap di kursi samping kemudi. Mereka akan pulang karena sudah sore dan pekerjaan sudah selesai. Tapi saat mengingat belum mengisi perut mereka, ia berhenti di restoran sofood kesukaan Garth.

Melangkahkan kakinya untuk memesan dengan meninggalkan sang anak yang tidak terusik itu sembari mengunci pintu mobil agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Tidak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit pesanannya sudah selesai dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman yang megah.

Rumahnya memang tidak jauh dari kampus tempat ia mengajar di sana. Sampai di rumah membangunkan sang anak untuk mengisi perutnya. Lalu makan bersama dan melanjutkan dengan memandikan serta menunggu terlelap kembali.

Ketika sudah selesai mengurus si kecil, ia juga melakukan hal yang tidak beda. Membersihkan tubuhnya dan mengecek email dari kantor dan butik yang baru di rilis tiga bulan lalu. Selesai semuanya, ia ikut berbabaring di ranjang sang anak dengan tersenyum hangat kepada sang anak yang lebih dulu terlelap ke dunia mimpi, disusul dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED