Sachi masih membeku di bawah kungkungan pria setengah abad yang siap menerkamnya. Pria dengan wajah manis yang tak lain adalah suaminya, Adnan. Seorang staff disebuah perusahaan ternama di Surabaya yang menikahinya tujuh tahun lalu.
"Mas, berhenti. Aku sudah tidak kuat," rintih Sachi sambil menggigil. Tubuhnya sudah kedinginan sejak pulang kerja tadi. bahkan kini ia merasa badannya demam dengan suhu lebih dari tiga puluh delapan derajat.
Namun, Adnan seakan tidak peduli. Ia masih saja mencium bibir Sachi dengan penuh nafsu. Meraba dada istrinya dengan penuh gelora dan menusuk-nusuk kewanitaan Sachi dengan jari lainnya.
Sakit. Hanya itu yang dirasakan Sachi atas perlakuan Adnan.
Masih dengan memaksa, Adnan bangkit dan mendekat ke wajah Sachi. Adnan memaksa memasukkan miliknya ke mulut Sachi. Wanita itu hanya bisa pasrah. Ia pun mengulum aset Adnan dan mengurutnya. Tapi tetap saja aset itu tak mau tegak berdiri. Bahkan Sachi sampai lelah mengulumnya.
Adnan nampak frustasi, ia melepaskan batangnya dari mulut Sachi. Dan mulai mengurutnya sendiri. Bersiap berjongkok di hadapan paha Sachi yang sudah dibukanya lebar.
Adnan menusukkan aset miliknya secara paksa. Sachi tampak meringis menahan kesakitan. Karena bukannya masuk dengan tenang. Melainkan Adnan memaksa dengan asetnya yang tidak mengeras.
Sachi begitu kesakitan dengan perlakuan Adnan. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Sachi sudah tidak bisa menghitungnya. Dan Sachi tidak pernah bisa lepas begitu saja. Walaupun ia menolaknya, takkan pernah bisa. Adnan akan tetap memaksanya.
Adnan membiarkan Sachi menahan kesakitannya. Tidak hanya bagian kewanitaannya tapi badannya juga rapuh. Tubuh mungilnya menggigil tak karuan. Sachi merasakan tubuhnya semakin panas dan dingin menjadi satu. Sachi hanya bisa menarik selimutnya lebih ke atas. Bahkan untuk memakai bajunya kembali Sachi tidak sanggup berdiri. Sedangkan Adnan, entah dimana dia sekarang.
Setelah merasa frustasi karena miliknya tak pernah bisa melesak masuk dengan mulus ke lubang surga dunia milik Sachi, lelaki tua itu meninggalkannya begitu saja. Sachi bahkan tak pernah ingin tahu dimana keberadaan lelaki yang katanya suaminya itu.
Tujuh Tahun lalu.
Disebuah masjid besar di kawasan Gayungsari. Tampak sepasang laki-laki dan perempuan sedang mengembangkan senyumnya. keduanya baru saja melangsungkan akad nikah.
Quinne Sachi, putri tunggal dari Bapak Darma Susilo dan ibu Neina Rahayu. seorang pengusaha makanan di wilayah Surabaya Selatan. saat ini usia sachi masih dua puluh enam tahun. Saat pernikahnnya berlanngsung Sachi berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar swasta. Wajah sachi terus menyungggingkan senyum dengan gembira dan bahagianya karena ia telah menikah dengan seorang Adnan Haryokusum. Seorang karyawan biasa di perusahaan ekpor import di wilayah Surabaya Pusat.
Bukan rahasia umum, Sachi gadis yang berwajah cantik dengan bibir tipis dan bermata sendu dengann perangai lincah dan cerdas menikah dengan perjaka tua berusia empat puluh enam tahun. Hampir semua tamu menyayangkan kedua pasangan tersebut.
Namun, kembali siapa yang menyangka dengan jodoh dan taqdir. Bisa saja itu adalah taqdir mereka berdo'a.
Selama ini Adnan Haryokusumo terkenal sebagai pria baik, sabar dan tekun.
Bisa jadi karena pribadi Adnan yang demikian membuat Sachi jatuh cinta padanya. Pria yang seumuran dengan ayah dan ibunya.
Resepsipun diadakan didalam salah satu gedung masjid nasional itu dengan meriahnya. Mangingat orang tua Sachi yang seorang penguasah , tentu saja banyak rekan bisnis Mama dan Papanya yang hadir, Begitupun dari pihak Adnan, banyak teman-teman kantor yang sudah menunggu momen pria itu melepas masa lajangnya.
Selepas resepsi, Sachi dan Adnan menempati sebuah rumah yang sudah disediakan keluarga Sachi dikawasan Margorejo. Meskipun tidak tergolong dalam perumahan elit, Namun lokasinya sangat nyaman dan strategis. Membuat Sachi betah di rumahnya.
( Duh, enak banget jadi Adnan. Begitu menikah semua tersedia )
Malam Pertama
Sampai di rumah barunya, Adnan menyeret kopernya. Dilihatnya Sachi dengan tidak sabar. Matanya terus mengawasi gerak gerik istrinya itu.
Sachi melihat koper bawaan Adnan. "Mas letakkan kopernya di kamar dulu. Nanti biar aku yang menatanya." kata Sachi sambil duduk di sofa merenggangkan tangan dan kakinya yang sedari tadi terasa kaku setelah seharian melakukan ritual pernikahan mereka.
Adnan mengikuti jejak istrinya, duduk di sofa mnenyelonjorkan kakinya ke atas meja. Iapun merasakan capek sama dengan Sachi.
"Capek ya, sayang." kata Adnan dengan mesra.
"Banget, Mas." jawab Sachi dengan manjanya.
Adnan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sachi. Memeluk sachi dengan lembut.
"Mas, pijitin yuuk Dek." ucap Adnan dengan machonya.
Sachi menoleh ke arah Adnan, memberikan seulas senyumnya kepada lelaki yang baru tadi mengucapkan ijab qobul dihadapan Papanya.
"Beneran?" Sachi meyakinkan Adnan.
"Beneran. Masa bo'ong siih." Adnan meyakinkan istrinya itu.
"Sini..." Adnan memindahkan kaki Sachi ke pangkuannya.
Adnan mulai menekan kaki Sachi dengan lembut, Sachi menikmati pijatan suaminya itu. Tak lama akhirnya Sachi tertidur.
Saat sachi tersadar, tubuh Adnan sudah menindihnya. Pria itu menyatukan bibirnya ke bibir Sachi. Menjilatinya tanpa sisa seakan bibir Sachi adalah sebuah ice cone yang lembut.
Saat Adnan tersadar Sachi sudah membuka matanya, pria itu tersenyum menatap ke arahnya.
"Sudah bangun, sayang?" bisiknya.
"Sudah. Kok aku di kamar Mas? padahal kan tadi kita di ruang tamu." Sachi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang mereka tempati sekarang.
"Aku yang memindahkanmu. Kamu tampak lelah sekali." kata lelaki itu lembut.
"Dan aku sudah tidak tahan melihatmu yang cantik ini." bisiknya lagi kepada Sachi.
Sachi hanya tersenyum menatap lelaki yang menindihnya itu.
Tanpa ragu dan malu, Sachi langsung menarik tengkuk prianya. Menyentuhkan kembali bibirnya ke bibir Adnan. Mendapat perlakuan yang seperti itu, Adnan langsung membalas dan menyerang bibir Sachi, Lidahnya kembali menjilati setiap inchi bagian terdalam dari mulut sachi.
Puas dengan bibir, Adnan melancarkan aksinya ke kening, pelipis, mata, hidung dan pipi Sachi. Pria itu lanjut menjelajah bagian telinga, leher dan bahu Sachi. Bermacam jejak ia tinggalkan dengan manis. dan Sachi hanya melenguh dengan manjanya menikmati sentuhan bibir Adnan.
Adnan berpindah ke area dada Sachi, tujuannya adalah dua gundukan menantang milik sachi. Gundukan berukuran 39 B itu diremasnya dengan lembut. Diusapnya pucuk kemerahannya dengan gairah. Bibirnya berpindah ke area tersebut, mengulum, menyedot dan menjilatinya bergantian tanpa hentinya. Diperlakukan begitu tubuh sachi bergetar tak karuan. Perasaan aneh bergejelok di dadanya.Sachi hanya melenguh pelan.
Tanpa sadar cairan bening keluar dari area kewanitaannya. Tapi sachi tak mempedulikannya ia teru menikmati sentuhan Adnan. Adnan mulai melepas pakaian dan Bra Sachi. Melihat gundukan yang tanpa ditutupi apapun membuat Adnan kembali bermain di dada Sachi. Sachi kembali melenguh, mendesah dengan sedikit kencang.
Adnan menurunkan rok dan celana dalam Sachi yang tampak basah oleh banyak cairan.
"Kamu sudah basah sayang." bisik Adnan tapi sachi tak mempedulikan omongan Adnan yang tangannya sibuk meneliti kewanitaannya.
Adnan terus mengusap milik Sachi, sesekali ia menusukkan jari tengahnya ke pusat lubang. Diperlakukan begitu sachi kembali mendesah.
Adnan pun berjongkok menghadap ke selangkangan Sachi, pandangannya menuju ke pusat tubuh sachi. Ia benamkan wajahnya ke pusat kenikmatan wanitanya dibukanya dengan lebar kaki Sachi. Dijilatinya area sensitif itu tanpa rasa ragu. Adnan tak melepas satu inchipun milik wanitanya. Sachi kembali mendesah kenikmatan menikmati perlakuan Adnan padanya.
Tubuh Sachi kembali bergetar tangannya menggenggam erat seprai yang awalnya rapi menjadi tidak berbentuk. Dari bibirnya terus mengeluarkan desahan yang membuat Adnan semakin tidak ingin menuntaskan malam panjangnya dengan cepat.
Adnan melepaskan menuntaskan rasa penasarannya di pusat tubuh Sachi, sesaat kemudian ia membawa miliknya yang sudah menegang maksimal mendekati pusat kewanitaan Sachi.
Adnan melesakkan asetnya menembus lubang yang sudah membuka maksimal. Aset Adnan berhenti di tepi lubang Sachi, ada kesulitan dari aset miliknya menembus pertahanan wanita tersebut.
Adnan memaksa menusukkan miliknya, Sachi menjerit tak karuan merasakan sakit saat pemaksaan yang tak dikehendakinya masuk.
Bersamaan dengan pemaksaan tersebut. Semburat bercak merah keluar. menandakan belum pernah ada pria manapun yang menyentuh Sachi. Adnan seakan puas denngan pencapaiannya. Ada senyum dibibirnya. Senyum yang hanya bisa diartikan Adnan sendiri.
**
Bersambung
Masih di tujuh tahun lalu
Bersamaan dengan pemaksaan tersebut, semburat bercak merah keluar menandakan belum pernah ada pria manapun yang menyentuh Sachi. Adnan seakan puas dengan pencapaiannya. Ada senyum dibibirnya. Yang hanya bisa diartikan Adnan sendiri.
Sedangkan Sachi merasakan kesakitan yang luar biasa di pangkal pahanya. Linangan air mata keluar dari kedua sudut netranya dengan mulus. Erangan kesakitan dari bibirnya tak pernah dipedulikan lelaki yang sudah menindihnya dengan rakus.
Lelaki itu melesakkan miliknya yang keras dengan kasarnya. Membuat Sachi menjerit lebih keras. Namun kembali jeritannya tak dipedulikan Adnan. Ia malah asyik menggenjot tubuh wanitanya menikmati lubang surga duniawi milik Sachi yang terasa sempit dan membuatnya miliknya berdenyut-denyut serasa dipijat.
Lelaki itu memompa miliknya semakin cepat, ia benar-benar tidak mempedulikan jeritan kesakitan Sachi yang memelas. Bagi Adnan jeritan Sachi ditelinganya terdengar sangat seksi. Bahkan membuat gairahnya semakin panas.
Dalam hitungan detik, Adnan menghentikan gerakan memompanya. Lelaki itu berhasil menyemburkan cairan pejunya ke rahim Sachi dengan hangat. Bersamaan dengan erangan keras yang keluar dari mulut lelaki itu. Aset miliknya yang masih terkunci di dalam milik Sachi mulai mengkerut perlahan dan keluar dengan sendirinya dari lubang persembunyiannya.
Lelaki itu sudah menuntaskan hasratnya dengan perasaan puas. Bertubi-tubi dihujaninya kening Sachi dengan ciuman. Namun Sachi terdiam. Tak ada reaksi yang membuat menjadi sangat luar biasa.
Selesai menghadiahi Sachi dengan ciuman, Adnan langsung merebahnkan tubuhnya disamping Sachi. Dipeluknya tubuh istrinya itu dengan erat dari belakang.
Sachi
Gadis yang baru saja melepaskan keperawanannya itu, masih meneteskan air mata. Sesekali ia sesenggukan pelan. Tak ingin lelaki disebelahnya itu memergokinya.
Sakit.
Saat ini itu yang ia rasakan. Tidak hanya diarea kewanitaannya. Bahkan hatinya kini juga ikut merasa sakit. Dadanya sesak menahan sesengukannya.
Sachi, sebagai seorang wanita. ia pernah memimpikan indahnya malam pertama. Bahkan ia menjaga miliknya yang paling berharga hanya untuk suaminya kelak. Suami yang ingin ia bahagiakan dan membahagiakan dia.
Malam ini, saat ia ingin menjadi wanita yang paling bahagia. kenyataannya, ia tak menemukan sesuatu yang diimpikannya itu. Bahkan Sachi tidak menemukan keindahan disana.
Sachi masih merasakan perihnya pergolakan batinnya.
Ada rasa penasaran menyeruak didadanya. Apa sedemikian sakit dan perihnya making love di malam pertama. Apa semua wanita merasakan seperti yang ia rasakan.
Kalo iya, kenapa mereka masih menginginkan dan mengulangnya.
Akhirnya karena kelelahan menangis, Sachi tertidur. Dan tak pernah ada penolakan saat Adnan semakin mengencangkan pelukannya.
Kecewa.
Iya pakai banget. Itu yang Sachi rasakan.
kembali ke kondisi sachi saat ini.
Tubuhnya masih menggigil. Perlahan ia mencari dimana Adnan membuang pakaiannya. Setelah menemukan pakaiannya segera Sachi mengenakannya dan membersihkan diri di kamar mandi. Sachi berjalan perlahan menuju dapur.
Sachi meraih sebuah gelas dan menuangkan air putih dari dispenser. Dicarinya toples obat yang juga ia simpan di lemari dekat dapur.
Setelah menemukan pil parachetamol, Sachi segera membuka bungkusnya dan menelannya dengan susah payah. Setelah menuntaskan ritual meminum obat Sachi kembali ke kamar.
Sejenak ia melongok ke ruang tengah siapa tahu suaminya itu ada di sana. Ternyata ruangan itu gelap. Pertanda tak ada siapapun disana.
Sachi kembali ke kamarnya. Ia berusaha tidak peduli dengan suaminya itu, tapi tetap saja sisi hatinya yang lain tak bisa melakukannya.
***
Pukul empat pagi, Sachi sudah bangun. Setelah mandi ia segera menunaikan sholat subuh. Sachi segera ke dapur memasak untuk sarapannya dan Adnan.
Kebiasaan ini adalah rutinitasnya selama tujuh tahun ini. Tak ada yang spesial setiap pagi. Aktifitasnya hanya berkisar tentang dapur.
Hari ini, Sachi sudah menyiapkan beberapa sayuran di lemari esnya.Diambilnya wortel dan kembang kol. Dengan serius dan fokus sachi mulai memotong sayurannya. Karena sebelum masuk lemari es, Sachi sudah mencucinya terlebih dahulu.
Satu tungku sachi gunakan untuk memasak sayur sup kesukaan Adnan, sedangkan tungku sebelahnya ia gunakan untuk menggoreng lauk. Hari ini Sachi sudah menyiapkan perkedel kentang dan ayam goreng. Sachi menikmati aroma harum dari setiap menu yang ia masak.
Berkali-kali senyumnya mengembang mencium aroma masakannnya. Seolah aroma itu mampu menghapuskan kesakitannya semalam.
Bisa jadi, Sachi melampiaskan kesakitannya dengan kesibukanny dan senyum yang selalu ia suguhkan kepada setiap orang yang ia temui. Siapapun itu. Tak peduli ia orang yang baru ia kenal. Sehingga Sachi banyak dikenal sebagai pribadi yang ramah dan smart.
Kembali ke dapur sachi.
Asap mengepul dari panci Sachi, aroma harum memenuhi dapurnya. Menciptakan sensasi lapar bagi siapapun yang membaunya. Sachi menaburkan garam di masakannya dan mencicipinya. Setelah dirasa rasanya sudah sesuai dan pas dengan lidahnya Sachi segera mematikan kompornya. Tungku sebelahnya sudah mati beberapa saat lalu, kegiatan menggorengnya lebih cepat selesai.
Sachi menata menunya di meja makan. Sederhana memang. karena hanya itu yang bisa Sachi beli untuk belanja. Iapun harus berhemat dalam belanja. Kehidupannya tidak seperti waktu diriya gadis dulu. Dimana orang tuanya memanjakannya. Sachi tak pernah kekurangan apapun. Semua bisa ia dapat dengan mudah.
Sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya yang sekarang. Gaji suaminya yang tidak seberapa, harus mampu ia atur dengan rapi. Terkadang ia harus menambahkan dengan uang gajinya yang hampir sebanding dengan suaminya. Namun tak bisa dipungkiri, penghasilannya lebih banyak daripada suami.
Masih pukul lima, semua menu sarapan Sachi sudah terhidang. Sachi kembali ke kamarnya. Diciumnya badannya ada bau msakan. Sachipun kembali ke kamar mandi membasuh kembali tubuhnya dengan air sekalian di kasih sabun biar wangi.
Selesai mandi ulang, Sachi segera menutupi tubuhnya dengan kemeja putih. Dipaduka dengan rok panjang dibawah lutut warna abu-abu dipadukan dengan balzer warna senada. Menandakan bahwa Sachi adalah seorang pendidik.
Sachi duduk sebentar di depan meja riasnya. Dipoleskannya make up natural di wajahnya. terakhir dipoleskannya lipstik pink favoritenya. Membuat wajahnya semakin bersinar.
Setelah merasa cukup rapi dengan penampilannya, Sachi segera ke meja makan. Diliriknya arloji sudah pukul enam kurang lima belas menit, tanpa ragu sachi segera mencari lunch boxnya. Mengisinya dengan menu sarapannya, ia akan sarapan nanti di sekolah. Karena kalau dipaksa makan di rumah yang ia terlambat. Dan Sachi bukanlah sosok yang suka terlambat.
Setelah selesai memindahkan porsi sarapannya ke dalam lunch box dan memasukkan ke dalam tas khusus lunch box. Sachi langsung berangkat, ia membiarkan makananya tetap di meja karena nanti pasti Adnan memakannya. Walaupun Sachi tak tahu dimana suaminya itu sekarang.
Sachi mengeluarkan toyota agya dan mengemudikannya dengan sedang. Lalu lintas masih sangat lengang, karena memang masih sangat pagi. Membuat Sachi menikmati perjalanananya kali ini.
Sampai di gerbang sekolah Pak Satpam menyambutnya dengan senyum khasnya dan ucapan selamat pagi dengan ramahnya.Sachi membalas sapaan Pak Satpam denganr santun. Karena ia tahu usianya lebih muda dari pak Satpam.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Sachi segera masuk ke ruangannya. Sebuah ruangan bertuliskan Kepala sekolah dibagian depan pintunya. Yaa, Sachi di usianya yang semuda itu sudah diangkat menjadi kepala sekolah. Setahun lalu, Sachi lolos tes dengan nilai tertinggi menggantikan posisi kepala sekolah sebelumnya yang purna tugas.
Sebuah karier yang cemerlang di usia yang begitu muda.
Sachi hanya meletakkan tasnya di ruangannya. Kemudian ia keluar menjajari guru-gurunya yang lain menyambut siswanya yang datang satu per satu.
Senyumnya terus ia suguhkan menyambut setiap siswa yang datang. Sesekali ia bercanda dengan beberapa guru di sebelahnya. Dengan para siswanya ia menyapa dan sekedar menanyakan kabar atau kondisi siswanya. Sebagai bentuk kepeduliannya, walaupun ia sudah tidak pernah mengajar lagi di kelas tapi Sachi juga berusaha tetap memantau siswa siswinya.
Karena bagi Sachi mereka adalah aset. Aset bangsa dan orang tuanya. Dan orang tua memilihkan sekolah ditempat Sachi bekerja maka ia juga ikut andil bertanggungjawab terhadap keberhasilan para asetnya itu. Apalagi di pendidikan dasar. Pendidikan yang menjadi rangkaian pondasi dasar setiap anak setelah pendidikan anak usia dini tentunya.
**
Bersambung