Bab 2

Salma duduk di tepi ranjang dengan tangan gemetar, mencoba menenangkan napas yang sejak tadi memburu. Di dalam perutnya, bayi yang belum lahir itu seperti ikut merasakan guncangan batin ibunya, menendang pelan seolah berkata, "Aku di sini, Bu." Tapi malam itu, Salma merasa sendirian lebih dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Rayden telah pergi. Bukan secara fisik-ia masih tinggal di rumah ini, masih memakai kamar yang sama, masih menyuap makanan di meja makan mereka setiap pagi. Tapi jiwanya sudah tidak ada lagi di tempat yang sama. Sejak pengakuan singkat dan terbata-bata itu, ia tidak pernah benar-benar meminta maaf. Ia hanya berkata akan "mengakhiri semuanya" dengan Clarissa. Tapi tak ada yang benar-benar selesai, bukan, jika hati sudah terbelah?

Salma menoleh saat mendengar suara pintu terbuka pelan. Amara berdiri di sana dengan mata yang mengantuk, boneka kelinci lusuh di pelukannya.

"Mama, kenapa Mama nangis?" suara lembut itu menusuk seperti belati. Salma buru-buru menyeka pipinya dan tersenyum, meski senyum itu retak di tepiannya.

"Enggak sayang, Mama cuma kangen pelukan Amara," jawabnya sambil membuka tangan. Amara berjalan mendekat dan memeluk perut Salma, lalu meletakkan kepala kecilnya di sana. "Adik juga pengen dipeluk?" katanya polos.

Salma mengangguk dan menggigit bibir. "Iya, sayang. Adik juga pengen pelukan kakaknya."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Salma menikmati pelukan hangat dari anak kecil itu, mencoba memahat rasa itu dalam hatinya sebagai alasan untuk tetap bertahan. Tapi malam itu, ketika Amara sudah kembali tertidur, Salma tahu-ia harus mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar dari rasa sakitnya sendiri.

Esok paginya, Rayden bertingkah seolah tak ada yang terjadi. Ia bersikap biasa saja, bahkan sedikit lebih ramah, seperti seorang pria yang menyadari kesalahannya dan mencoba kembali menambal yang sudah robek. Tapi Salma bisa melihat kebohongan dalam setiap gerakannya. Bahkan cara Rayden mencium kening Amara sebelum berangkat kerja terasa dingin-tidak lagi tulus, hanya formalitas yang dipaksakan.

Saat Rayden keluar rumah, Salma mengambil ponsel suaminya yang tertinggal di atas meja makan. Ini bukan hal yang biasa ia lakukan, tapi hari itu, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak lagi bisa menunggu kejujuran datang dengan sendirinya.

Dengan jari gemetar, ia membuka galeri. Jantungnya seperti berhenti saat melihat folder tersembunyi bernama "Clara." Ia membukanya.

Foto-foto mereka. Tertawa. Makan malam di restoran mahal. Senyum Clarissa yang manja. Rayden yang memandangnya dengan tatapan yang pernah hanya milik Salma. Salah satu foto membuat matanya membelalak-mereka berdua di kamar hotel. Rayden setengah telanjang dada, Clarissa mengenakan kemeja yang jelas bukan miliknya.

Salma ingin melempar ponsel itu ke lantai. Ingin berteriak. Ingin menjerit sampai seluruh dunia tahu betapa hancurnya ia saat itu. Tapi ia hanya bisa terduduk di lantai dapur, menggenggam perutnya, menangis tanpa suara.

Hari itu menjadi titik balik.

Ia tidak lagi ingin menunggu Rayden berubah. Ia tidak ingin lagi berharap pada cinta yang sudah rusak. Ia tahu, kalau ia terus bertahan hanya demi anak-anaknya, ia sedang menukar kebahagiaan mereka dengan luka yang akan tumbuh diam-diam dalam setiap senyuman palsu.

Malamnya, Salma duduk berhadapan dengan Rayden di meja makan. Amara sudah tidur. Rumah sunyi.

"Aku lihat foto kalian," katanya pelan, tanpa amarah. "Aku lihat semuanya."

Rayden menutup matanya. "Salma..."

"Enggak usah jelaskan. Aku cuma mau kamu tahu, aku sudah lelah berharap kamu akan berubah."

Rayden terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Salma mengangkat tangan. "Kamu bisa tetap di rumah ini kalau kamu mau. Tapi mulai besok, aku enggak akan lagi berpura-pura. Enggak ada lagi 'kita'. Aku akan urus anak-anak, dan kamu bisa jalani hidupmu sendiri, termasuk Clarissa."

"Salma... aku enggak-" Rayden mulai berkata, tapi suaranya tak selesai. Ia tahu, tak ada kata yang bisa membenarkan pengkhianatan.

Salma berdiri dan menatapnya dengan mata yang tenang, meski hatinya bergetar. "Terima kasih karena sudah memperlihatkan siapa kamu sebenarnya, Rayden."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Salma tidur dengan tenang-meski air mata terus membasahi bantalnya.

Bab 3

Pagi itu, udara dingin menyusup lewat celah-celah jendela kamar. Tapi bukan itu yang membuat Salma menggigil. Di dalam dirinya, ada kehampaan yang tak bisa lagi dihangatkan oleh apapun, bahkan oleh pelukan anaknya sendiri. Meski ia tersenyum saat menyuapi Amara sarapan, hatinya nyaris mati rasa.

Rayden masih ada di rumah. Duduk di sofa ruang tamu, menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar menontonnya. Sejak malam itu, mereka seperti dua orang asing yang terjebak dalam satu atap. Tak ada bentakan. Tak ada drama. Hanya diam. Hening yang mengerikan. Dan justru karena itulah, luka terasa semakin dalam.

"Amara hari ini ada kegiatan mewarnai di sekolah," ujar Salma sambil memakaikan sepatu kecil pada putrinya.

Rayden hanya mengangguk, matanya tetap tertuju ke layar. Ia belum berani bicara lebih dari tiga kalimat kepada Salma sejak malam pengakuan itu. Bukan karena tak punya kata-kata, tapi karena semua yang ingin ia katakan hanya akan terdengar palsu sekarang.

Ketika Salma dan Amara akhirnya keluar rumah, Clarissa mengetik pesan:

"Pagi, sayang. I miss you."

Rayden menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan layar ponsel. Ia bahkan tak punya keberanian untuk menjawab.

Sementara itu, Salma mengendarai mobilnya dalam diam. Amara di kursi belakang, menyanyi pelan lagu anak-anak. Tapi Salma tak benar-benar mendengarkan. Di pikirannya, ia mengulang semua yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Ia ingat bagaimana dulu ia rela meninggalkan pekerjaannya demi membesarkan Amara. Ia ingat malam-malam ketika Rayden pulang larut karena lembur, dan ia menunggunya dengan setia. Ia percaya. Sepenuhnya. Dan sekarang, kepercayaan itu telah dipatahkan tanpa peringatan.

Setelah mengantar Amara, Salma tidak langsung pulang. Ia berhenti di sebuah taman kecil yang sepi. Duduk di bangku kayu, ia menatap langit mendung dengan mata yang sudah kering.

Ada suara pelan di dalam hatinya yang mulai berbisik, "Kenapa kamu masih di sini, Salma? Untuk apa bertahan?"

Namun di saat yang sama, ada suara lain-lembut, tapi keras kepala-yang menjawab, "Karena aku belum selesai. Aku belum kalah."

Salma menghela napas panjang. Mungkin dulu ia adalah perempuan yang lembut, penuh pengertian, dan selalu memaafkan. Tapi kini, sesuatu dalam dirinya berubah. Ia tidak ingin hanya menjadi korban. Ia ingin berdiri. Menatap balik mereka yang telah menyakitinya. Dan membalas.

Sore itu, ketika Rayden pulang, Salma sudah menunggu di ruang tamu. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam panjang, wajahnya rapi dengan make-up tipis. Terlihat seperti wanita karier yang siap kembali menjemput kehidupannya yang dulu tertunda.

Rayden mengerutkan dahi. "Kamu mau ke mana?"

Salma berdiri. "Aku sudah mendaftar kerja lagi. Interview-nya minggu depan."

Rayden terdiam. Salma menatapnya tajam. "Aku akan bangkit, Rayden. Aku enggak akan bergantung lagi pada kamu. Aku akan punya penghasilan sendiri. Aku akan punya hidupku sendiri."

"Salma, kamu lagi hamil. Kamu harus istirahat..."

Salma tertawa pelan. "Lucu ya, kamu khawatir sekarang? Waktu kamu sibuk tidur dengan wanita lain, kamu enggak khawatir soal kandungan ini."

Rayden menunduk. Kali ini, tak bisa berkata apa-apa.

Salma melangkah ke depan, berdiri hanya beberapa langkah dari suaminya. "Kalau kamu masih mau tinggal di sini, silakan. Tapi kamu harus tahu... aku tidak akan menunggu kamu lagi. Aku bukan perempuan yang sama. Dan kalau kamu pikir aku akan memohon agar kamu tetap di sini, kamu salah besar."

Rayden mengangkat kepala, menatap Salma dengan mata yang tampak asing. Seolah ia baru sadar bahwa istrinya kini bukan lagi sosok yang lemah dan pasrah. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat... dan lebih dingin.

"Kamu berubah," gumam Rayden.

"Aku terpaksa," jawab Salma, "karena kamu memaksaku."

Di sisi lain kota, Clarissa duduk di sebuah kafe mahal, memandangi jam tangannya dengan gelisah. Sudah lebih dari dua jam, dan Rayden belum juga muncul.

Ia menyalakan ponsel. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.

Wajahnya menegang. Ia mulai mengetik pesan panjang, tapi kemudian menghapusnya.

Clarissa tidak terbiasa diabaikan. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau, terutama pria seperti Rayden-beristri, lelah, dan mudah dimanipulasi oleh sedikit perhatian dan tubuh yang ditawarkan tanpa syarat.

Tapi sekarang, Rayden mulai menjauh. Dan Clarissa benci tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Kalau kamu pikir kamu bisa kabur dari aku begitu saja, kamu salah besar, Rayden," gumamnya sambil menggenggam gelas kopinya dengan tangan dingin.

Malam itu, Salma berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri. Di balik perut buncit dan mata yang letih, ia melihat seseorang yang mulai kembali menemukan dirinya. Seorang ibu. Seorang wanita. Seorang pejuang.

Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia membisikkan kata-kata kepada bayinya dengan suara penuh keyakinan:

"Tenang, Nak... Mama akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja. Dengan atau tanpa ayahmu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED