Bab 2

Satu, dua, tiga, empat, lima dan enam. Radin menghitung tubuh-tubuh yang terkapar di ruangan seluas setengah lapangan voli. Tubuh enam orang preman bayaran yang semuanya tak mampu lagi berdiri karena terlalu banyak mendapatkan luka akibat amukan Radin. Mereka meringis, mengeluh kesakitan. Bahkan salah seorang preman menjerit-jerit sambil memegang pahanya yang tertancap pisaunya sendiri saat mencoba menyerang Radin dari belakang. Berisik.

Ruangan yang pada awalnya adalah sebuah ruang kerja dengan interior bergaya industrial tersebut kini berantakan. Tembok batanya yang tidak diplester, ternoda darah enam orang pria yang dikalahkan oleh Radin. Meja kerja bergaya minimalis dan berwarna putih, teronggok di salah satu sudut dengan posisi terbalik dan dihiasi percikan darah yang tampak alami.

Beberapa gawai berserakan di lantai, berbaur dengan pot-pot yang entah berada di mana tanaman yang sebelumnya mengisinya. Kursi-kursi rusak tergeletak di mana-mana, seperti dihambur layaknya kertas yang ringan. Dua buah kabinet besar rubuh, isinya berserakan hingga menutupi sebagian besar permukaan lantai yang berwarna krem.

Lampu gantung yang sebelumnya berjumlah enam buah, kini tersisa dua buah yang masih menyala di tempatnya. Selebihnya sudah lenyap, mungkin bohlamnya sudah pecah. Sebuah gambar bergaya ekspresionisme yang sebelumnya menghiasi dinding, kini bolong menembus kepala salah seorang preman. Tampak lucu, namun Radin sama sekali tidak tertawa.

Tersisa satu orang lagi, seorang yang paling payah di antara para pengecut yang mengeroyok Radin. Seorang pemuda yang mengira bisa menindas siapa saja dengan uang yang dimilikinya. Pria yang mungkin lebih muda lima tahunan daripada Radin itu gemetar ketakutan, terpojok di salah satu sudut. Celananya basah dan mengeluarkan aroma yang memuakkan. Pengecut, rupanya.

Radin terkekeh. Dengan kakinya, dia membalik sebuah kursi, lalu duduk dengan santai. Sedetik kemudian ia menyadari bahwa preman yang pahanya tertancap pisau, ternyata berada dalam jangkauannya. Radin menarik pisau itu dengan santai, tak menghiraukan jeritan preman yang semakin menjadi. Sambil mengamati pisau yang berlumuran darah itu, Radin mengajak bicara pemuda yang sudah membuatnya mengamuk selama seperempat jam.

"Maaf, sebelumnya aku tidak dapat menahan diri. Jadi, aku akan menganggap kita impas. Kalian sudah menculikku dan membawaku ke mari dan sebagai balasannya, aku memporak-porandakan tempat ini. Kukira, tidak perlu ada orang lain yang mengetahui hal ini."

Radin tersenyum simpatik. Tubuhnya membungkuk hingga wajahnya mendekati pemuda yang sedang ketakutan tersebut. Ia mengedipkan sebelah matanya, isyarat agar si pemuda menyetujui permintaannya.

"Tidak perlu ada orang yang mengetahui insiden ini. Kita akan memegang rahasia masing-masing. Kecuali jika kau ingin bernasib seperti tempatmu ini," lanjut Radin. Senyumannya membuat sepasang matanya menyipit sehingga sekilas tampak lucu.

Tentu saja, pemuda yang diajak bicara oleh Radin, tidak berani tertawa. Ia mengangguk cepat. Dia memang sebaiknya tidak mengatakan apa-apa mengenai rencananya yang gagal jika masih ingin hidup.

"Janji?" tanya Radin sambil menunjukkan kelingking kirinya. Ia menggerakkan jari tangan terkecil itu ke atas, pertanda agar pemuda yang ia beri pelajaran tersebut menyambutnya. Kejahilannya sebagai pihak yang berada di atas angin seperti tak ada habisnya.

Dengan ragu, pemuda tersebut menautkan kelingkingnya dengan kelingking Radin. Radin menggerakkan tautan kelingking tersebut ke atas dan ke bawah, menunjukkan bahwa ia masih suka mengusili pemuda tersebut.

Kemudian Radin tersenyum puas dan berdiri. Ia merapikan jasnya yang acak-acakan, lalu melenggang meninggalkan orang-orang yang sebelumnya telah berbuat jahat padanya.

Sebelum keluar dari ruang kerja yang sudah hancur berantakan tersebut, Radin melirik preman yang sebelumnya menyerangnya dengan pisau. Ia bersimpuh di dekat preman tersebut, lalu dengan dingin mengembalikan kembali pisau tersebut ke paha preman payah itu.

Akibatnya, preman tersebut kembali menjerit. Jeritannya bahkan lebih keras daripada sebelumnya. Pemuda yang sebelumnya diajak bicara oleh Radin, bergidik ngeri. Sekali lagi, ia membasahi celananya hingga semakin berbau pesing.

"Kukembalikan padamu," kata Radin pada preman tersebut singkat, lalu bangkit dan beranjak pergi.

Setelah melalui pintu, Radin tiba di sebuah koridor. Ia mendongak, melihat CCTV yang menyorot, lalu melambai dengan tengil. Menantang siapa pun yang berada di ruang monitor untuk mendatanginya.

Setelah itu, Radin berjalan menuju lift. Sambil bersiul, ia menekan tombol menuju ke lantai bawah.

Saat pintu lift terbuka, Radin tercengang melihat segerombol pria bertubuh kekar dengan posisi tangan berada di balik jas masing-masing. Mereka sedang bersiap mengeluarkan senjata untuk menyerang.

Namun, saat para pria kekar itu melihat Radin, mereka buru-buru menurunkan tangan dan menjadi lebih santai.

Seorang pria yang berada di bagian belakang lift hingga tersembunyi di balik para pria kekar tersebut, bergegas menghampiri Radin dengan gembira.

"Ah, Bos! Maafkan kami karena terlambat. Kami hendak menyelamatkan Bos. Tapi, sepertinya Bos tidak memerlukan bantuan," seru pria yang ternyata adalah Reza itu.

"Tentu saja tidak perlu. Aku sudah membereskannya sendiri," sahut Radin cuek. Ia sama sekali tidak gusar atau marah karena lambatnya bala bantuan untuknya. Sebaliknya, ia beranjak memasuki lift dengan langkah cepat.

"Sekarang, ayo kita kembali. Aku ingin tidur cepat malam ini. Kuharap tidak ada gangguan lagi sampai aku bisa bertemu dengan Rania besok pagi," kata Radin dengan nada tak sabar.

"Ah, ya. Janda yang sangat cantik itu," sahut Reza saat mengingat karyawan yang baru diterima sore tadi tersebut.

Radin menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Reza dengan tajam. Untunglah sang sekretaris yang tampan segera menyadari kesalahannya.

"Maaf, Bos. Saya hanya terlalu gembira karena Bos selamat dan akan mendapatkan wanita yang sangat cantik. Saya tidak bermaksud melecehkan wanita pilihan Bos," ucap Reza cepat. Meredam kemarahan yang bisa tersulut hanya karena ucapan yang kurang berkenan di hati bosnya.

Radin mengibaskan tangan, pertanda membiarkan kesalahan Reza kali ini. Ia menengok ke belakang, memandang pintu ruang kerja yang baru saja menjadi arena pertempuran antara dirinya dengan pemuda hijau yang telah mencoba mengusiknya. Setelah menimbang-nimbang, ia membuat keputusan baru.

"Ngomong-ngomong, aku jadi tidak ingin menepati janjiku pada anak ingusan itu. Kalian bereskan saja mereka," ujar Radin. Setelah itu, ia melenggang memasuki lift dengan diikuti oleh Reza.

Saat Radin dan Reza membalikkan badan dan menghadap pintu lift, para anak buah Radin telah bergegas menuju ke ruangan yang ditinggalkan oleh Radin sebelumnya. Tangan mereka kembali terselip di balik jas dalam posisi siaga dan siap bertindak.

"Kirim karangan bunga duka cita ke rumah anak ingusan itu," perintah Radin dengan tenang.

"Baik, Bos," jawab Reza singkat. Ia tidak akan mengatakan apa pun yang dapat memancing kemarahan Radin, kecuali kepatuhan.

Pintu lift menutup. Radin pun meninggalkan arena pertarungan yang akan berubah menjadi arena pembantaian itu.

Bab 3

Peristiwa penculikan Radin sore itu membuat Rania nyaris tak bisa tidur. Ia merasa takut, karena ternyata kehidupan Radin tampaknya dikelilingi bahaya yang tak terduga.

Tak terbayangkan apa jadinya jika Rania mengikuti pria itu ke mana-mana. Bisa jadi, dia juga terdampak bahaya yang mengintai Radin. Haruskan ia mengundurkan diri agar tidak perlu berurusan dengan bahaya yang mengincar atasannya?

Lagipula, penunjukan diri Rania sebagai asisten pribadi yang baru terkesan dipaksakan. Rania merasa dirinya untuk pantas curiga. Ada apa gerangan?

Reza juga belum memberi kabar, apakah Rania jadi masuk kerja mulai besok atau tidak. Rania memang sudah menerima fasilitas berupa berbagai gawai penunjang pekerjaannya. Namun jika nasib Radin saja belum diketahui, siapa yang akan Rania layani besok? Apakah ia harus menunggu saja di kantor hingga menerima kabar mengenai keberadaan Radin?

Rania bangun dari tidurnya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Rona, putrinya yang berusia tujuh tahun. Gadis kecil itu sempat menggeliat, namun tetap tertidur. Rania menunggu hingga Rona menjadi tenang kembali, lalu turun dari tempat tidur.

Rania keluar dari kamar kontrakannya untuk mengambil air minum di dapur. Setelah dahaganya lenyap, ia beranjak ke ruang tamu untuk memeriksa ponsel yang diberikan oleh Reza sebelumnya. Ternyata, Reza sudah mengirimkan jadwal Radin untuk esok harinya. Ada juga jadwal mingguan dan bulanan dan beberapa catatan dan salinan dokumen yang diperlukan.

Rania tercengang. Apakah Radin sudah ditemukan? Jika memang sudah ditemukan, apakah wajar jika langsung masuk kantor setelah menjadi korban kejahatan?

Rania bergidik. Atasannya itu mungkin saja seorang maniak kerja. Atau, seorang psikotik? Sehingga, dengan santainya kembali bekerja setelah mengalami peristiwa yang seharusnya traumatis? Ah, pikiran Rania malah semakin bertumpuk.

***

Fasilitas yang diberikan oleh tempat kerja Rania yang baru membuat Rania memikirkan ulang keinginan untuk mengundurkan diri. Pagi-pagi sekali, ia dijemput menggunakan mobil perusahaan. Rona pun diantar ke sekolah terlebih dahulu sebelum mobil melaju ke apartemen Radin. Rania jadi tidak perlu menggunakan sepeda motornya sama sekali.

Tiba di gedung apartemen, Rania langsung naik ke lantai di mana Radin tinggal. Saat pintu lift terbuka, Rania ternyata langsung tiba di kediaman Radin. Rania melihat tiga orang pekerja hilir mudik di sana. Seorang wanita tampak membersihkan seluruh apartemen, seorang lagi mengerjakan laundry dan seorang lagi tengah memasak sekaligus menata meja makan.

"Pak Radin sedang latihan di gym, Bu. Tidak lama lagi selesai. Kamar Pak Radin ada di sebelah sana," ujar wanita yang membersihkan apartemen sambil menunjuk ke sebelah kanan, tempat kamar utama berada.

Rania tersentak. Yang benar saja, jadi atasannya itu sudah ditemukan? Lalu langsung bekerja, padahal dia baru saja diculik? Bagaimana dengan pengamanan oleh aparat kepolisian? Rania tidak melihat tanda-tanda hadirnya aparat berwenang di apartemen. Apakah insiden kemarin hanyalah peristiwa kecil di tengah keseharian Radin? Siapa dia sebenarnya selain menjadi seorang CEO perusahaan ritel nasional?

Rania menggeleng-geleng, terlalu bingung usai menerka-nerka kehidupan atasan barunya. Wanita pekerja di hadapannya tampak kebingungan melihat sikapnya, sehingga Rania tak ingin membuatnya berpikiran aneh-aneh tentang diri Rania.

Rania mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan menuju ke kamar Radin yang sudah dibersihkan dan dirapikan. Ia membuka lemari, lalu memilih setelan jas dan kemeja serta tak lupa, dasi dan kaus kaki. Pakaian-pakaian itu diletakkan di atas ranjang besar di sana.

Rania juga memilih sepasang sepatu kulit berwarna cokelat yang baunya khas. Hari ini Radin tidak memiliki acara formal di luar kantor sehingga pakaian yang Rania pilihkan lebih santai dan berwarna.

Meskipun sudah bercerai dengan Rinto, Rania bersyukur karena pengalamannya mendampingi Rinto dalam mengurus konglomerasi warisan ayah Rinto, telah membuatnya memahami sebagian besar tugasnya. Rania bahkan menyesal karena selama membantu Rinto, ia tidak pernah menuntut untuk dibayar atau diberikan bagi hasil dalam bentuk apa pun.

Rinto memang memberikannya hadiah-hadiah mahal seperti kalung emas berlian, pakaian-pakaian terbaik dan kesempatan berlibur ke berbagai negara.

Namun sekarang, setelah Rania meninggalkan rumah mantan suaminya, ia hanya memiliki sedikit uang untuk menyewa kontrakan satu kamar dan sebuah sepeda motor sebagai alat transportasi. Selebihnya dirampas oleh mantan mertua yang sejak awal tidak menyetujui masuknya Rania dalam kehidupan Rinto.

Parahnya, Rinto mendiamkan tindakan orang tuanya tersebut. Rinto sama sekali tidak membelanya saat Rania terusir.

Barangkali, pria itu memang sudah lama menunggu agar Rania menyingkir dari kehidupannya. Apalagi, sebelum menceraikan Rania, tersiar kabar bahwa istri kedua Rinto telah melahirkan seorang anak laki-laki yang menjadi dambaan keluarga Rinto. Sehingga Rona mungkin tidak diperlukan lagi untuk mewarisi kekayaan keluarga Rinto.

Rania menarik napas dalam, menenangkan dirinya. Bayangan masa lalu yang pahit harus ia usir jauh-jauh. Ia mulai menyetujui pendapat Reza bahwa sebelumnya, dirinya terlalu merendah, menganggap remeh kemampuannya. Tinggal terlalu lama di dalam lingkungan yang tidak menghargainya rupanya telah membuat Rania tidak bisa menilai kelebihan dan kekuatan dirinya sendiri.

"Ehm. Saya mau mandi dan berpakaian. Kamu mau menunggu di luar atau tetap di sini dan melihat saya telanjang?"

Rania terperanjat mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nada usil itu. Saat berbalik, ia terperangah melihat Radin-pria yang baru saja diculik kemarin sore-telah berdiri di ambang pintu. Mengenakan kaus dan celana yang basah oleh keringat, Radin tampak sama berantakannya dengan kemarin sore dengan rambut yang awut-awutan.

Namun, bukan hanya penampilan Radin yang membuat Rania terperangah. Bukan, Radin bukanlah tipe CEO dingin sombong judes yang umum ditemukan dalam cerita-cerita romansa. Sebaliknya, dia tampak ramah dan agak konyol dengan cengiran lebar di bibirnya. Sama sekali tidak menakutkan. Juga tidak berwibawa.

Sesungguhnya, apa yang membuat Rania terpana adalah munculnya sekelebat bayangan masa lalu saat matanya tidak sengaja menatap mata Radin. Seraut wajah hadir di benak Rania yang masih terkejut, namun ia tidak bisa mengingat nama dari pemilik wajah itu.

Rania merasa tidak pernah mengenal pemilik wajah yang diingatnya itu. Apakah Rania hanya melihat wajah itu di suatu tempat, lalu melupakannya begitu saja? Namun kini, saat tatapannya bertemu dengan tatapan sang atasan, wajah tersebut tiba-tiba muncul lagi. Barangkali seperti itu.

Hal lain yang membuat Rania semakin bertanya-tanya adalah, mengapa matanya memanas dan berkaca-kaca? Apa yang membuatnya tiba-tiba bersedih saat mengingat wajah asing itu? Jika wajah tersebut memang asing baginya, mengapa hatinya menjadi perih tanpa sebab?

Rania sadar, ia tidak boleh tampak aneh pada hari pertamanya bekerja. Meskipun atasannya tampaknya memiliki sifat yang tidak lazim, tidak berarti Rania harus ikut-ikutan unik. Rania buru-buru mengusap matanya, lalu berjalan ke luar kamar.

"Maaf, Pak. Saya keluar dulu," katanya saat melewati Radin yang memberikan jalan.

Radin hanya mengerutkan keningnya sambil menatap kepergian Rania. Ia mengembuskan napas keras, lalu menutup pintu kamar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED