Bab 2

--Happy Reading--

Jadilah sebuah lilin, meskipun kecil dia mampu memberikan penerangan dan kehangatan. Jadilah sebuah tali, meskipun rapuh dia mampu menyambungkan dan menyatukan. Betapa pun besarnya cinta dan kebaikan seorang anak kepada orang tuanya, tidak mampu membalas jasa dari kedua orang tuanya yang telah melindunginya sepanjang masa. Maka dari itulah, contoh lilin dan tali bisa memberikan kita sebagai anak untuk sebuah pelajaran yang berharga.

***

Detik berjalan, aku terpejam dengan pikiran menerawang. Aku masih gamang dengan pernyataan ayah yang ingin aku menggantikan posisi kak Asma.

“Anna, Putriku!” panggil ibuku lirih, berdiri di ambang pintu kamarku.

Aku dan ayah menoleh ke arah suara ibu hampir bersamaan. Aku segera bangkit dari tempat dudukku.

“Ibu!” air mataku berjatuhan membasahi pipi. Entah perasaan apa yang sedang aku hadapi kali ini. Apakah rasa bahagia telah terbayar akan rinduku bertemu ibu, atau rasa sedih atas permintaan ayah yang baru saja aku dengar?

Aku mencium punggung tangan ibu dengan takzim, lalu berhambur masuk ke dalam dekapan ibu yang begitu kurindukan. Isak tangisku semakin menjadi dalam dekapan sang ibu. “Aku merindukanmu, Bu.”

“Ibu juga merindukanmu, Sayang.” Ibu membelai rambutku yang panjang sebahu.

“Ayo, duduk di sini, Bu!” ajakku setelah mengurai pelukkan, lalu mengusap air mata ibuku dengan lembut. Ibu pun melakukan hal yang sama kepadaku, mengusap air mataku dengan kedua tangan-nya yang lembut.

Ibu menggandeng lenganku, berjalan mendekat kepada ayah. Ibu duduk berjarak di bibir ranjang dengan ayah dan memintaku duduk di tengah-tengan mereka.

Ayah dan Ibuku menatap wajahku dengan mengiba. Hanya aku lah harapan satu-satunya untuk mereka, setelah apa yang dilakukan oleh Kak Asma yang kabur semalam, untuk menghidari pernikahan-nya. Hanya karena pria yang akan menikah dengan-nya mengalami kelumpuhan dan kebutaan secara tiba-tiba, sehingga kak Asma menolak menjadi istri dari pria yang menurut-nya itu cacat.

“Ayah berharap, kamu bisa mengerti, Anna.”

“Ibu dan Ayah, tidak ada pilihan lain, selain kamu, Sayang.”

Ingin rasanya aku pergi dan menghilang dari rumah, andai saja itu bisa aku lakukan. Tapi, aku tidak bisa melihat ibu dan ayah bersedih dan menanggung malu, jika sampai aku pun seperti kak Asma yang melarikan diri dan tidak bertanggung jawab.

Aku benar-benar merutuki perbuatan kakakku itu. Gara-gara dirinyalah, aku yang menjadi korban di sini. Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik aku tidak pulang ke rumah dan menghabiskan liburan semesterku di kost saja.

“Bantu Ayah, Nak! Hanya kamu harapan Ayah satu-satunya, yang bisa menyelamatkan nyawa Ayah dari tangan para rentenir itu.” Ayah memohon dengan sangat.

“Ya, Anna. Ibu percaya, kamu ini anak yang baik dan patuh.” Dinda ikut bicara. “Demi keluarga kecil kita, Sayang.” Ibu begitu memohon dengan sangat dan menggenggam jemariku dengan erat.

Hanya air mata yang membasahi wajahku, sebagai jawaban atas hatiku yang mau tidak mau menerima keputusan tersebut. Perasaanku begitu hancur, ketika membayangkan esok hari aku akan menjadi istri pengganti kakakku sendiri. Bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana dengan impianku? Bagaimana dengan cita-citaku yang telah aku rencanakan jauh-jauh hari sebelum aku masuk kuliah.

Ayah terpaksa meminjam banyak uang terhadap rentenir untuk biaya kuliah kak Asma dan aku di kota. Hasil gaji yang didapat dari pekerjaan ayah yang seorang kepala buruh di perkebunan teh, masih belum cukup untuk biaya kuliah kami berdua. Ayah terlalu sungkan untuk meminjam uang dengan nominal yang besar kepada juragan Zein.

Selepas kak Asma lulus kuliah, kak Asma belum juga mendapatkan pekerjaan. Kak Asma pun terpaksa tinggal di rumah untuk sementara waktu, sambil berusaha mengirimkan surat lamaran pekerjaan lewat online ke berbagai perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang diambil kak Asma.

Uang yang ayah pinjam dari rentenir, bunganya semakin menggunung. Ayah kebingungan harus dengan cara apa lagi dia melunasi hutang-hutangnya itu. Dia begitu pusing memikirkan hutang-hutang yang bunganya tidak habis-habis.

Suatu hari, pemilik perkebunan teh tempat ayah bekerja mengeluhkan cucu semata wayangnya yang tidak kunjung menikah kepada ayah yang sedang bertugas menemaninya berkeliling perkebunan. Ayah pun diminta oleh pemilik perkebunan teh yang biasa dipanggil juragan Zein itu, untuk membantunya mencarikan jodoh cucunya tersebut.

Juragan Zein berjanji, akan memberikan imbalan yang cukup besar untuk ayah, jika ayah bisa mencarikan jodoh untuk cucu kesayangannya yang masih betah melajang di kota.

Akhirnya, ayah pun mendapatkan ide untuk menjodohkan putri sulungnya dengan cucu juragan Zein. Selain ayah akan mendapatkan imbalan sejumlah uang yang tentu bisa melunasi hutang-hutangnya kepada rentenir, ayah pun memiliki kesempatan memiliki menantu kaya raya pewaris tunggal juragan Zein.

***

Hari di mana aku akan menjadi istri pengganti untuk Kak Asma.

Wajah berseri yang terukir dari sudut bibir Diana, Ibuku, begitu nampak bahagia kala melihat aku yang sudah mengenakan busana pengantin dengan adat sunda, sesuai dengan desa tempatku tinggal.

Aku hanya membeku, mengikuti arahan dari MUA yang merias wajahku dan menata rambutku dengan sanggul yang dihiasi melati dan mahkota khas jawa barat.

“Tersenyumlah, Sayang!” ucap ibuku lirih, seraya membingkai wajahku yang terus ditekuk.

“Seharusnya, Kak Asma lah yang saat ini berada di sini, Bu. Bukan diriku.” Air mataku mengiringi kepedihan hatiku yang gusar dan bimbang.

Ibuku menggeleng lemah, dengan sedikit tertunduk dia merasa bersalah terhadapku. Air mata ibu pun kembali meluncur di kedua pipinya, seolah ucapanku itu sebuah pukulan keras yang menghantam seonggok daging yang bersarang di dadanya.

“Demi Ibu dan Ayah, aku ikhlas,” tuturku kembali dengan bibir bergetar dan senyum yang sedikit aku paksakan.

Aku tidak ingin melihat ibu dan ayahku bersedih. Biarlah, rasa pedih ini aku tahan sendiri. Kebahagiaan ayah dan ibuku adalah hal yang utama.

“Terima kasih, Sayang,” ucap ibuku dengan air mata yang masih berderai. “Maafkan Ibu dan Ayah, sudah memaksamu untuk menggantikan pernikahan Kakakmu,” sesalnya lirih, dengan tersenyum pilu dan bibirnya yang bergetar.

Aku tersenyum miris mendengar ucapan ibu. Air mataku tidak kuasa untuk kutahan agar tidak menetes.

“Ayo, sayang! Keluarga mempelai pria sudah tiba,” ajak Ibuku menggandeng lenganku, setelah mengusap air mataku dengan lembut.

Aku hanya mengikuti saja langkah kaki ibuku dengan wajah tertunduk pasrah.

Para tamu undangan yang akan menyaksikan prosesi Ijab Qabul pun telah memenuhi ruangan yang tersedia. Keluarga mempelai pria pun sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Terlihat bapak penghulu yang duduk di samping Ayah dan di depannya terlihat mempelai pria yang menggunakan kursi roda dengan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang buta.

Jantungku berdegup dengan sangat cepat, kala kakiku melangkah semakin dekat menuju tempat akan segera dilangsungkannya Ijab Qabul tersebut.

“Bismillahirohmanirohim,” gumamku, untuk memulai langkah kakiku yang akan segera menjadi seorang istri dalam hitungan menit.

Aku mencoba menahan mati-matian air mataku agar tidak menetes. Aku ingin tetap tegar berdiri, meskipun duniaku kini telah runtuh, seiring pernikahan paksa yang harus aku jalani. Pernikahan tanpa cinta dan tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Bagaimana cinta, kenal saja nggak pernah. Begitulah kira-kira.

Bisik-bisik para tamu undangan disaat melihat calon pengantin wanita yang ternyata digantikan olehku mulai santer terdengar di telingaku. Sungguh ironi nasibku, yang terpaksa menjadi istri pengganti dari kakakku sendiri.

“Kenapa calon pengantinnya jadi si Anna, Adiknya? Kemana si Asma?”

“Dengar-dengar si Asma kabur, jadi mempelai wanitanya terpaksa digantikan oleh Adiknya, si Anna.”

“Ya, kasihan banget si Anna. Padahal, di surat undangannya ditulis nama Asmara Ahmad calon pengantin wanitanya.”

“Mungkin, si Asma tidak mau menikah dengan pria lumpuh dan buta seperti itu.”

“Bisa jadi.”

“Aku yakin, cucu Juragan Zein itu terlihat tampan meski buta dan lumpuh. Sayang, kaca mata hitam itu menutupi sebagian wajahnya.”

“Ya, benar. Lihat saja perawakannya yang tegap, gagah dan keren itu.”

“Kulitnya juga putih dan bersinar.”

“Hidungnya mancung dan bibirnya itu loh, sexy.”

“Tapi, kalau lumpuh dan buta begitu, untuk apa?”

“Ya, aku pun tidak sudi menjadi istrinya.”

“Malang benar, nasib si Anna.”

“Nasib si Anna, memang selalu siall.”

"Kasihan, si Anna."

Luruh juga air mataku yang sedari tadi aku tahan mati-matian. Namun, hanya sesaat air mataku yang ke luar, lalu dengan perlahan aku mengusapnya, melewati para tamu yang mencibir dan mengabaikan ucapan-ucapan mereka yang menyentil, sesaat membuat dadaku begitu sesak. Aku tetap tegar dan berdiri, menyusuri langkah demi langkah hingga sampai di samping calon suamiku.

***

Aku duduk di samping pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, dengan tubuh bergetar. Peluh dingin membasahi dahi dan tengkukku dengan deras-nya. Aku meremat kedua jemari tanganku yang terasa dingin. Aku tahan air mata yang sudah membendung di pelupuk mata, mencoba menahan perih di hati, ketika ayahku mulai melapalkan Ijab Qabul untuk pernikahan kami.

Pria yang baru disebutkan namanya oleh ayahku itu, seakan menoleh ke arahku sekilas. Seolah-olah, pria itu bisa melihat wajahku dari balik kaca mata hitam-nya yang besar, hingga menutupi sebagian wajah-nya. Hanya hidung-nya yang mancung dan bibir-nya yang tipis kemerahan terlihat jelas di mataku. Entah apa yang kurasa, tiba-tiba darahku berdesir kala melihat pria itu menyunggingkan bibirnya ke arahku.

"Annaya Ahmad? Bukan Asmara Ahmad?"

Deg!

Jantungku tersentak, kala laki-laki di sampingku menyebut nama aku dan kak Asma dengan lengkap.

Aku bergeming, seolah tertangkap basah menjadi pengantin pengganti wanita untuk laki-laki itu. Namun, ada yang aneh dengan sikap-nya. Aku merasa, jika calon suamiku itu sedang memindai wajahku.

“Katanya, Pria ini buta. Tapi, kenapa perasaanku mengatakan lain?” tanyaku dalam hati.

--To be Continue--

Bab 3

--Happy Reading--

Setiap gadis memimpikan pernikahan yang indah dengan pujaan hatinya. Namun, tidak semua impian itu bisa berjalan dengan sempurna sesuai apa yang kita inginkan. Meskipun demikian, percayalah bahwa tujuan sebuah pernikahan pada dasarnya baik, untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

***

Ayah mengulurkan tangannya ke arah pria yang akan menjadi suamiku sesaat lagi, lalu menjabat tangannya dengan erat.

Sebenarnya ayah mengenal cucu juragan Zein, saat remaja dulu. Namun, selepas lulus Sekolah Menengah Atas, cucu juragan Zein melanjutkan pendidikannya di luar negeri, yaitu Singapore. Setelah itu, ayah sangat jarang melihatnya. Karena, cucu juragan Zein bekerja di kota.

Suara lantang mulai terdengar dari bibir ayah, disaat melapalkan Ijab Qabul untuk kami, sepasang mempelai pengantin. Diawali dengan kata Bismillah, ayah menyerahkan tanggung jawab aku sebagai anaknya kepada calon menantunya di hadapan bapak penghulu, para saksi dan para tamu.

Pernikahan yang sacral ini, sudah barang tentu disaksikan oleh Allah dan didoakan oleh para malaikat. Jadi, bagaimana pun jalannya, aku harus tetap tegar dan menerima semua prosesnya.

Dengan satu tarikan napas yang terdengar tegas dan lantang dari bibir calon suamiku, dia melapalkan Ijab Qabulnya dengan menjabat erat tangan ayahku. “SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ANNAYA AHMAD BINTI SABDA AHMAD DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI.”

“Bagaimana para saksi?” tanya pak penghulu yang menoleh ke kanan dan ke kiri.

“SAH!”

“SAH!”

“SAH….!”

Suara sahut menyahut memenuhi acara Ijab Qabulku dengan pria yang kini sudah resmi menjadi suamiku.

“Alhamdulilah… Barrakalloh,” ucap bapak penghulu seraya mengadahkan tangannya, kemudian melapalkan doa-doa kebaikan untuk kami sebagai sepasang pengantin baru.

“Alhamdulilah…!” ucap para saksi dan tamu undangan yang hadir dengan serentak.

Semua yang hadir mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh bapak penghulu, termasuk aku yang ikut mengaminkan di dalam hati. Entah kenapa, meski aku pun kurang paham dengan isi doa yang menggunakan bahasa Arab, tetap saja aku mengaminkannya saja. Aku yakin, doa itu untuk kebaikan rumah tangga yang akan aku jalani bersama mas Adam.

Air mataku jebol dari pertahanan, tidak mampu kubendung lagi. Ada rasa campur aduk dalam hatiku yang bergejolak, antara percaya dan tidak percaya jika aku kini resmi menyandang seorang gadis yang sudah bersuami.

Nampak jelas dari kedua bola mataku, suamiku yang bernama lengkap Adam Kusuma Wardana menoleh ke arahku sekilas, sepertinya dia peka dengan kondisiku yang sedang menangis.

“Ayo, di salami tangan suaminya, Nak Anna! Sekarang, kalian sudah SAH menjadi suami istri di mata agama. Urusan di KUA, itu masalah gampang. Hanya tinggal mengganti nama mempelai perempuannya saja,” tutur bapak penghulu dengan senyum merekah, usai memberikan selamat atas pernikahan kami.

Aku mengangguk pasrah, masih dengan suara terisak. Aku lakukan apa yang diperintah oleh bapak penghulu, mengulurkan tanganku untuk meraih tangan kanan suamiku yang berukuran besar dan lebar itu.

Ada perasaan canggung dan berdebar di dalam diri, saat mencium punggung tangan seorang pria yang baru aku kenal ini. Rasanya aneh dan sulit untuk aku selami, ada gelenyar dalam dada yang entah itu apa namanya. Aku sadar, ini bukanlah rasa jatuh cinta yang seperti dialami banyak pasangan pengantin lainnya di luar sana, melainkan rasa takut yang menggerogoti jiwa ini untuk menjadi seorang istri yang belum siap sepenuhnya.

Deg….

Jantungku berdegup cepat, kala keningku merasakan dingin yang meresap ke dalam pori-pori kulitku, lewat sentuhan bibir suamiku yang mengecupnya dengan lembut.

Aku mendongak, lalu menjaukan diri untuk menjaga jarak. Rasa risih yang sedang menguasai raga ini kian mendera, aku tidak bisa menutupi wajahku yang mungkin saja sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Heeem…”

Aku mendengar ada gumaman dari bibir suamiku itu, seolah dia menyadari apa yang aku lakukan.

PROK….

Suara tepuk tangan begitu riuh terdengar. Mungkin saja, mereka begitu senang atau terharu melihat aksi kami seperti pasangan pengantin baru yang romantis di mata mereka. Atau bisa jadi, tepuk tangan mereka sebagai cemoohan, karena aku mau menikah dengan pria buta dan lumpuh untuk menggantikan kak Asma.

“Pakai ini, Nak!” Ibu menyodorkan selembar tisu ke arahku, saat menyadari air mataku yang kian mengalir deras membasahi wajah. Aku mengambil tisu itu dari tangan ibu, lalu mengusap air mataku dengan perlahan.

Setelah itu, ibuku membawa sebuah kotak berwarna kuning keemasan yang kemudian dibukanya di hadapan semua orang. Terlihat dengan jelas, sepasang cincin emas yang berkilau indah bermatakan berlian yang bersinar.

Aku pun mengangguk pelan, lalu meraih cincin yang berukuran lebih besar untuk disematkan di jari manis tangan mas Adam sebelah kanan. “Sematkan di jari suamimu, Sayang!” titah ibu dengan tersenyum mengembang. Entah mengapa, seonggok daging di dalam dadaku begitu terasa sakit, kala mendengar permintaan ibu.

Mas Adam hanya bergeming, saat aku memasukkan cincin pernikahan tersebut ke dalam jemari manisnya. Namun, perasaanku berkata, Mas Adam sedang memperhatikanku dari balik kaca mata hitamnya.

Tidak ingin berprasangka yang tidak-tidak, segera aku tepis pikiran-pikiran ganjal itu.

Ibu pun melakukan hal yang sama kepada mas Adam, untuk menyematkan cincin yang satunya lagi ke jari manisku.

Mas Adam pun mengangguk, meraih cincin yang satunya lagi untuk disematkan ke jari manis ini, sambil meraba jemari tangan kananku yang aku sodorkan di depan-nya. Meskipun sedikit kebesaran, namun masih pantas melingkar di jemari manisku.

Walaupun tinggi badanku dengan kak Asma hampir sama, namun bentuk tubuhku lebih kecil dan ramping dibandingkan dengan kak Asma. Jadi, ukuran jemari tanganku pun lebih kecil dari ukuran jemari tangan kak Asma.

Suara tepuk tangan dari para tamu yang hadir kembali terdengar, kala kami selesai saling menyematkan cincin pernikahan. Terlihat senyum merekah dari bibir mas Adam, dengan menghadap ke arah para tamu. Aku pun ikut tersenyum, meski terasa kaku. Aku tidak ingin menunjukkan rasa getir di dalam dadaku kepada semua tamu yang hadir.

Berhubung aku adalah istri pengganti dari kak Asma, jadi pernikahanku hanya dilakukan secara siri. Karena, semua dokumen yang terdaftar di KUA atas nama Kak Asma bukan atas namaku.

Dokumen kelengkapan atas namaku, akan menyusul setelah acara ini selesai dan akan segera diurus oleh pihak dari keluarga suamiku secepatnya ke kantor KUA.

***

Juragan Zein sempat shock sebelumnya, saat mengetahui fakta yang terjadi atas penjelasan dari ayahku. Beliau tidak menyangka, jika calon istri cucunya itu digantikan oleh aku yang merupakan adik dari kak Asma. Juragan Zein pun tidak ingin malu di depan para tamu undangan, mau tidak mau akhirnya menerima saja penjelasan ayah, meskipun beliau menganggapku masih terlalu muda untuk menikah dengan cucunya yang sudah mendekati angka kepala tiga itu.

Siapa yang tidak mengenal juragan Zein Wardana? Pesohor terkaya di desaku dengan ribuan hektar perkebunan teh, tempat ayah dan ibuku bekerja.

Sebagian penduduk di desaku itu menjadi buruh teh, untuk keberlangsungan hidup mereka. Meskipun upah yang diterima setiap buruh berbeda-beda, sesuai hasil panen yang diperoleh. Namun, juragan Zein selalu berlaku adil kepada setiap buruh yang bekerja di perkebunan-nya itu.

Semua buruh diperlakukan sama oleh juragan Zein, mendapatkan upah yang layak, mendapatkan jatah makan satu kali di jam istirahat siang dan diberikan jatah libur satu hari di akhir pekan.

***

Acara sungkeman pun kami lakukan, sesuai dengan adat di desa kami yang turun temurun.

Aku dan mas Adam meminta doa restu di hadapan para orang tua kami yang sedang duduk di kursi, dengan diawali olehku, lalu disusul oleh mas Adam yang aku arahkan. Karena kedua kaki mas Adam lumpuh, jadi dia tidak bisa duduk bersimpuh sepertiku. Maka mas Adam tetap melakukan sungkeman dengan duduk di kursi roda-nya.

Ayah dan Ibu memeluk tubuhku bergantian dengan sangat erat. Suara mereka terdengar parau dengan isak tangis yang memilukan.

“Terima kasih, Nak! Ayah selalu berharap kamu akan hidup bahagia,” ucapnya lirih di dalam dekapanku.

“Ibu selalu mendoakan kebaikan untukmu, sayang,” ucapnya tulus dengan derai air mata.

Aku terhanyut dalam luapan emosi yang sedari tadi menguasai diri, menumpahkannya lewat tangisan yang tiada henti di dalam dekapan ibu dan ayah.

“Sudahlah, Sayang! Hapus air matamu ini.” Ibu menghapus air mataku dengan jemari tangan-nya yang lembut.

Setelah itu, ibu dan ayah juga memberikan untaian doa kebaikan untuk suamiku yang kini telah resmi menjadi menantu-nya, dengan memeluk tubuhnya erat dan menganggap suamiku bagian dari keluarga-nya mulai saat ini.

Aku pun meminta restu kepada kakek suamiku, yang berarti menjadi kakekku juga mulai hari ini.

Juragan Zein mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala kami, lalu mengucapkan selamat atas pernikahan kami dalam dekapannya. “Selamat menempuh hidup baru untuk kalian, Cucu-cucuku. Kakek selalu mendoakan kalian, agar memiliki keluarga kecil yang bahagia.”

Ada perasaan yang sulit untuk aku jabarkan, kala sebuah ucapan yang terlontar dari seorang pria paruh baya yang usianya diperkirakan sudah menginjak angka tujuh puluh tahunan itu. Namun, aku tetap mengaminkan doa tersebut di dalam hati.

Aku mengangguk pelan, meski tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya antara aku dan mas Adam. Sedangkan mas Adam terlihat menyunggingkan senyuman tipis dan bergumam pelan.

Aku bergeming, dengan senyum yang sedikit aku paksakan. Aku tidak tahu, apakah doa para orang tua itu akan benar-benar terwujud atau pupus di tengah jalan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Setelah acara sungkeman selesai, kami pun segera di tuntun ke atas pelaminan yang sudah didekor sedemikian indahnya, untuk melakukan serangkaian acara adat sunda yang lainnya. Kami mengikuti saja apa yang diperintahkan, tanpa membantahnya.

Tidak ada pembicaraan diantara kami berdua, hingga serangkaian adat itu pun berakhir. Hanya seorang wanita paruh baya yang menuntun kami untuk melakukan sesuai arahannya.

Para tamu pun memberikan ucapan selamat kepada kami dengan suka cita. Ada yang terlihat tulus, bahagia, senang dan ada pun yang terlihat seolah mengejekku dengan senyuman dan kata-kata bernada sindiran.

Aku terima saja dengan lapang dada. Memang kenyataannya, jika aku hanyalah istri pengganti untuk kesialan kak Asma.

"Selamat ya, Anna! Semoga nasibmu beruntung."

"Aku turut bahagia, Anna! Semoga cepat memiliki momongan yang normal."

Ucapan mereka begitu menusuk ke dalam dadaku, aku tahu apa yang dimaksud oleh mereka.

Salah satu sahabat di desaku ternyata hadir dalam pernikahanku ini, aku benar-benar tertunduk malu dibuatnya.

“Selamat atas pernikahannya ya, Anna. Aku sangat terkejut, kenapa jadi kamu yang menikah?”

Aku pun tidak mengira jika dia datang di acara pernikahan ini. Mungkin saja karena kak Asma mengenal sahabatku yang sering aku ajak ke rumah, saat masih duduk di bangku SMA dulu, sehingga kak Asma mengundangnya.

Aku dan sahabatku Rini saling berpelukkan dengan begitu erat untuk beberapa detik, lalu Rini terlihat tersenyum mengembang. Sementara aku hanya bisa tersenyum getir atas apa yang sudah terjadi dalam hidupku hari ini.

Setelah itu, Rini pun beralih kepada mas Adam untuk memberikan selamat seperti kepadaku.

“Selamat atas pernikahannya ya, Kak. Siap-siap jagain sahabatku yang manja dan cengeng ini,” ucap Rini dengan santai, menjabat tangan mas Adam. Dia pun menoleh ke arahku dengan tersenyum jahil.

Aku membelalakan mata, lalu menggelengkan kepala pelan, mendengar kata-kata Rini. Ingin rasanya membungkam mulut sahabatku yang bocor itu. Dia membuatku jadi salah tingkah berada di samping mas Adam, meskipun dia tidak bisa melihat.

Mas Adam tersenyum mengembang, kala mendengar ucapan Rini. Lalu menoleh ke arahku, seolah dia melihat gelagatku yang sedang salah tingkah oleh ucapan Rini dengan senyuman yang begitu menawan.

Deg..

Hanya dengan senyuman laki-laki yang kini menjadi suamiku itu, membuat dadaku ini bergemuruh hebat. Ada apa dengan jantung dan hatiku? Mengapa seperti genderang mau perang?

--To be Continue—

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED