Pada detik terakhir, sepasang lengan yang kokoh melingkari Bram dalam sekejap dan melindungi anak kecil itu dari bahaya. Remaja yang mengendarai motor mencoba mengubah arah dan menyerempet pria itu dari belakang, lalu melaju kencang ke persimpangan jalan.
Beberapa saat kemudian, lingkungan menjadi sunyi. Setelah memastikan situasi sudah aman, pria itu melepaskan Bram secara perlahan. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan suara pelan.
Baru pada saat itulah Bram melihat wajah pria itu dengan jelas. Pria itu terlihat sangat tampan. Beberapa saat yang lalu, Bram dalam bahaya. Namun, sekarang dia baik-baik saja semua berkat orang asing yang baik hati ini.
Oleh karena itu, Bram tersenyum penuh terima kasih dan menjawab dengan lembut, "Aku baik-baik saja, Om. Terima kasih sudah menolongku."
Pria itu menganggukkan kepala dan berkata dengan nada serius, "Kamu tidak boleh berlarian seperti ini. Di sini sering terjadi kecelakaan. Kembalilah ke ibumu dan jangan jauh-jauh darinya."
"Baik, Om." Bram, yang hampir saja mengalami kecelakaan, masih merasa sangat ketakutan. Dia buru-buru berlari menghampiri ibunya.
Melihat Bram menuruti perintahnya, pria itu merasa puas. Lalu, dia beranjak pergi menuju jalan yang ramai dan menghilang di tengah kerumunan.
Karena asyik mengobrol di telepon, Erina tidak sadar bahwa putranya hampir mengalami kecelakaan. Begitu mengakhiri panggilan, dia mendapati putranya berada di sampingnya. Karena mengira putranya sudah puas bermain dan ingin beristirahat, dia menepuk kepalanya dengan penuh kasih sayang sambil berkata, "Ayo kita check in di hotel dulu."
"Oke, Bu."
Setelah menerima kunci kamar dari resepsionis, Erina mendaftarkan putranya ke tempat penitipan anak. Dia masuk ke kamar, lalu meletakkan barang bawaannya dan memastikan semuanya sudah lengkap. Sebelum pergi bekerja, dia menyerahkan Bram ke pengasuh. Setelah mencium putranya dan berpamitan, dia pergi dengan tergesa-gesa.
Di dalam ruang rapat gedung Grup Fulgensius, Leonar dan Dian duduk bersama dengan didampingi pengacara mereka. Mereka sedang bernegosiasi dengan calon pembeli yang berniat untuk membeli perusahaan tersebut.
Di meja resepsionis, Erina menunjukkan KTP-nya pada sang resepsionis dan berkata, "Aku adalah putri sulung Keluarga Mandala. Aku datang ke sini untuk menemui ayahku. Di mana dia sekarang?"
Setelah memastikan identitasnya, sang resepsionis mengatakan yang sebenarnya, "Pak Leonar dan Bu Dian ada di ruang rapat di lantai paling atas. Mereka sedang rapat dengan calon pembeli."
Setelah mendengar jawaban sang resepsionis, mata Erina berkedip penuh dendam. Setelah mengantongi KTP-nya, dia langsung berjalan menuju lift.
Kembali ke ruang rapat, Leonar dan calon pembeli akhirnya mencapai kesepakatan. Para pengacara mereka telah memeriksa ulang surat-surat hukum dan tidak menemukan masalah. Sekarang yang perlu dilakukan hanyalah mengesahkan transaksi ini.
"Pak Jason, aku senang akhirnya kita bisa mencapai kesepakatan. Yakinlah, mulai sekarang hubungan bisnis kita akan semakin kuat. Tanpa basa-basi lagi, mari kita tanda tangani kontraknya." Leonar tidak sabar menjual Grup Fulgensius supaya dia bisa menerima uangnya dan memulai perusahaan baru dengan istrinya.
"Baik, Pak Leonar. Aku berharap bisa menambahkan Grup Fulgensius ke dalam perusahaanku. Selamat untuk kita berdua."
Begitu Jason Rustan menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka.
"Tunggu! Kesepakatan ini tidak boleh diteruskan!" teriak Erina dengan galak sambil melangkah masuk ke dalam ruangan dan memelototi pasangan yang terkejut itu.
Ketika mendengar dari balik pintu bahwa mereka akan menandatangani kontrak, Erina merasa beruntung telah tiba tepat waktu.
Di seberang meja panjang, Leonar dan Dian tiba-tiba menjadi geram. "Erina? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Leonar dengan tak percaya sambil bangkit berdiri.
Keluarga Mandala tidak pernah mendengar kabar dari Erina setelah dia diusir dari rumah mereka. Leonar mengira Erina merasa begitu malu dan bunuh diri. Dia tidak menyangka wanita ini muncul kembali di gedung perusahaan pada saat yang genting.
Sementara itu, Dian juga berdiri mengikuti suaminya. Lalu, dia menggertakkan gigi dan menuding putri tirinya. "Kamu pikir apa yang kamu lakukan?"
"Bukankah sudah jelas? Aku datang ke sini untuk menghentikan kalian menjual Grup Fulgensius," jawab Erina dengan tegas sambil memelototi ayah kandung dan ibu tirinya.
Dengan perasaan terdesak, Erina menoleh ke orang-orang di seberang mereka yang sedang terkejut. Karena berasumsi orang-orang ini adalah calon pembeli, dia menyapa mereka, "Halo, perkenalkan saya adalah Erina Mandala. Saya datang ke sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak saya. Kakek saya mewariskan perusahaan ini pada ibu saya, dan beliau menyatakan bahwa saya akan menjadi penerus Grup Fulgensius. Ada dokumen tertulis tentang hal ini yang telah disahkan oleh pengacaranya. Oleh karena itu, ayah dan ibu tiri saya tidak berhak menjual perusahaan ini. Sekarang, yang bertanggung jawab atas Grup Fulgensius adalah saya."
Jason dan rombongannya sangat terkejut saat mendengar pernyataan Erina. Mereka segera berkasak-kusuk satu sama lain.
Karena khawatir akan kemungkinan terburuk, Leonar dan Dian menjadi cemas. Miliaran rupiah hampir terlepas dari tangan mereka.
"Omong kosong! Sejak kematian ibumu, perusahaan ini menjadi milikku dan aku berhak mengambil keputusan yang terbaik untuk bisnis," seru Leonar dengan sengit sambil menatap Erina dengan jijik.
"Benar," sahut Dian. Karena tidak bisa menahan diri, dia bergegas maju untuk mengonfrontasi Erina. "Dasar sialan, aku akan menghajar dan menendangmu keluar dari sini!"
Dengan darah mendidih, dia mengangkat tangannya untuk menampar Erina dan tangan lainnya bersiap mendorongnya keluar dari ruangan.
Akan tetapi, Erina tidak akan menyerah tanpa melawan. Dia menahan tangan Dian dengan mudah dan mempertahankan posisinya untuk menyatakan perlawanannya, dia tidak akan keluar.
"Beraninya kamu melawanku?" Setelah gagal mendorong Erina, dia menggertakkan gigi karena frustrasi. "Kamu ini cari mati. Aku akan menghabisimu hari ini!" Setelah Dian selesai berbicara, dia menjadi lebih impulsif untuk memukul Erina.
Menjaga ketenangannya, Erina terus bertahan dari serangan Dian dengan segenap kekuatannya.
Melihat istrinya tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun pada Erina, Leonar bergegas membantu istrinya.
Karena dikeroyok, Erina tidak sanggup bertahan lagi. Saat telapak tangan Dian hampir mendarat di wajahnya, sebuah dentuman kencang menghentikan pertarungan.
Dengan raut wajah kecewa, Jason menggebrak meja dan bangkit berdiri. Sambil menatap Leonar, dia berkata dengan nada kecewa, "Pak Leonar, karena ada masalah internal di perusahaanmu, kita akan melanjutkan transaksi ini setelah kamu menyelesaikan masalah itu."
Saking kagetnya, Leonar dan Dian tidak bisa berkata apa-apa. Mereka berhenti mengeroyok Erina dan menjatuhkan tangan mereka.
Menyadari bahwa mereka baru saja bersikap sembrono di hadapan calon pembeli, Leonar dan Dian menjadi gugup. Hanya butuh selangkah lagi untuk menyelesaikan transaksi ini, yaitu sepasang tanda tangan di atas dokumen. Saat hendak meminta maaf dan membujuk Jason untuk tetap tinggal, suara pria itu menggema di ruang rapat.
"Ayo pergi. Urusan kita di sini sudah selesai," ucap Jason sambil berjalan menuju pintu dan memberi isyarat pada orang-orangnya untuk mengikutinya.
"Baik," jawab pengacaranya sambil buru-buru mengikutinya keluar dari ruangan. Dalam hitungan detik, mereka semua menghilang.
"P-Pak Jason, kita masih bisa ... melanjutkan ...." Leonar ingin menghentikan Jason, tetapi pada akhirnya dia gagal.
Ruang rapat itu menjadi sunyi dan tidak ada orang luar lagi. Erina merapikan blusnya, lalu berdehem dan menatap ayahnya sambil berkata, "Aku ingin mengambil kembali Grup Fulgensius."
Dian membantah, "Tidak mungkin! Selama ini, ayahmu dan aku telah mengelola Grup Fulgensius. Perusahaan ini milik kami. Kami tidak akan pernah memberikannya padamu."
Tanpa terpengaruh, Erina mengabaikan pernyataannya dan menunggu jawaban ayahnya.
Melihat keteguhan di wajah Erina, Leonar menghela napas dan mendecakkan lidah. Setelah merasa ragu sejenak, dia membeberkan syaratnya.
"Grup Fulgensius memang milik ibumu. Dia bilang kamu akan mewarisi perusahaan dan mengelolanya, tapi hanya setelah kamu menikah. Karena aku tidak melihat cincin kawin tersemat di jarimu, kamu tetap tidak berhak untuk menuntut warisanmu. Sebelum kamu menikah, Grup Fulgensius tetap milikku," jelas Leonar dengan tegas.
Butuh beberapa detik bagi Erina untuk memahami kata-kata ayahnya. Dia tercengang. Jadi, dia baru bisa mengambil alih perusahaan setelah menikah? Erina belum pernah mendengar tentang syarat ini sebelumnya.
Pada saat ibunya menceritakan tentang warisan ini padanya, Erina masih kecil. Ibunya hanya menyebutkan bahwa dia bisa menjalankan Grup Fulgensius begitu dia sudah dewasa. Ada dokumen yang menyatakan hal ini, tetapi sepertinya ibunya tidak menceritakan semua detailnya.
Erina tidak menyangka akan ada syarat yang mengejutkan ini. Hal ini bahkan sama sekali tidak tebersit di benaknya. Erina memeras otak untuk mencari jalan keluar dan tiba-tiba dia menemukannya. Satu-satunya hal yang menghentikannya untuk mengambil apa yang menjadi haknya adalah karena dia belum menikah, kan?
Erina menganggukkan kepala secara perlahan, lalu menatap mata ayahnya dan bertanya, "Jika aku menikah, apa aku bisa mengambil Grup Fulgensius kembali?"
Pertanyaan seperti ini membuat Leonar tiba-tiba menyadari krisis yang akan menimpanya dan tidak berani menjawabnya. Dia tidak boleh kehilangan semuanya dan dia tidak rela semua itu direnggut oleh putri yang telah diasingkannya.
Seorang pengacara Grup Fulgensius yang duduk di dekatnya menimpali, "Ya. Kondisi khusus ini memang tercantum dalam dokumen yang ditandatangani oleh ibu Anda bertahun-tahun yang lalu. Surat-surat itu sudah diaktakan, yang artinya keinginan dan pernyataan beliau harus dilakukan di bawah hukum. Selama Anda memenuhi persyaratan yang tertulis dalam surat wasiat ibu Anda, Anda dapat menjalani prosedur untuk memperoleh warisan beliau." Pengacara dengan baik hati menjawab pertanyaan Erina dengan jujur dan mengungkapkan semua yang perlu diketahuinya.
Mendengar penjelasan dari pengacara, Erina merasa lega, sedangkan Leonar dan Dian merasa begitu marah sehingga wajah keduanya berubah muram.
Mengangguk pada pengacara, Erina merasa lebih baik mengenai situasi yang dialaminya dan berkata, "Kalau begitu, aku akan menikah sesegera mungkin dan mengambil alih Grup Fulgensius."
Setelah gangguan yang ditimbulkannya pada rapat barusan, kini tidak ada jalan untuk kembali. Erina telah memperjelas niatnya dan hanya perlu untuk segera menindaklanjutinya. Grup Fulgensius akan segera berada di bawah namanya.
"Dengan senang hati saya akan membantu Anda dalam menangani kasus ini dan menjalani formalitas terkait hal itu." Pengacara itu mengangguk.
Erina tersenyum menanggapinya.
Melihat percakapan singkat antara Erina dan pengacara, Leonar dan Dian merasa semakin geram. Mereka yang bertanggung jawab atas perusahaan ini, bukan Erina!
"Hmph. Kamu tidak akan berhasil. Siapa yang akan menikahi atau menginginkan seorang wanita yang sudah melahirkan anak dari pria lain?" ucap Dian mengejek. Dia tidak percaya Erina akan bisa menemukan seorang suami untuk dirinya.
Mendengar perkataan istrinya, Leonar tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Menoleh ke arah putrinya, dia berkata dengan nada serius, "Aku memberimu waktu satu hari. Jika kamu belum juga menikah besok siang, kamu akan kehilangan hakmu untuk mewarisi perusahaan. Saat itu terjadi, aku yang ada di baris berikutnya sebagai pewaris perusahaan. Grup Fulgensius akan menjadi milikku dan perusahaan ini tidak ada lagi hubungannya denganmu."
Leonar merasa sangat yakin bahwa Erina tidak akan mampu memenuhinya dalam batas waktu yang begitu singkat dan tidak akan ada pria yang bersedia menikahi wanita yang sudah memiliki seorang anak di luar nikah. Dengan demikian, Grup Fulgensius akan menjadi miliknya untuk selamanya.
Mengetahui tentang batas waktunya, Erina menyadari bahwa hampir tidak mungkin untuk menikah hanya dalam sehari. Seketika dia menunjukkan ketidaksetujuannya dan mulai berdebat dengan Leonar dan Dian.
Akan tetapi, tidak peduli seberapa keras dia berusaha berargumen, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mengubah pikiran kedua orang itu. Pada akhirnya, dia dengan enggan menerima persyaratan itu.
Setelah meninggalkan ruang rapat, Erina duduk di tempat istirahat dan kembali memikirkan semuanya dengan cermat.
Hal terpenting saat ini adalah menemukan calon suami untuk dirinya. Seharusnya tidak sesulit itu karena dia tidak memiliki terlalu banyak persyaratan bagi pasangannya. Selama pria itu berkarakter baik dan siap untuk menikah, itu sudah cukup. Lagi pula, dia sendiri sudah memiliki seorang putra, meski belum tahu siapa ayahnya.
Namun, jika rencananya gagal dan batas waktu telah habis, apa yang harus dilakukannya?
Merasa khawatir dan juga cemas, Erina terus memikirkan cara untuk mewujudkan keajaiban. Kepalanya menjadi sakit dan dia kehabisan ide. Untuk menenangkan dirinya, Erina berencana untuk bersantai sejenak di kafe di sebelah gedung perusahaan.
Begitu sampai di kedai kafe tua itu, Erina memesan secangkir latte panas. Dengan minuman di tangannya, dia memindai seluruh ruangan untuk mencari sebuah kursi kosong. Akan tetapi, yang membuatnya kecewa, semua meja sudah terisi.
Tidak memiliki pilihan lain, Erina memutuskan untuk menghampiri sebuah meja yang ditempati oleh seorang pria yang tengah duduk sendirian.
Sangat normal bagi orang asing untuk berbagi meja di kafe, jadi dia berjalan mendekat dengan senyum ramah di wajah.
Ketika dia berada di sebelah kursi kosong di meja itu, dia melihat langsung ke arah pria yang sedang sibuk mengetik di laptopnya. Melambaikan tangannya, dia menyapa pria itu dengan sopan. "Halo, permisi."
Erina ingin menunggu tanggapan pria itu sebelum menanyakan apakah mereka bisa berbagi meja.
Namun, ketika pria itu mendengar suara Erina, dia menatap Erina dengan ekspresi dingin di wajahnya.
Kemudian dia dengan ringan membuka bibir tipisnya dan mengucapkan sepatah kata, "Duduk." Erina tercengang dengan tanggapan pria itu.
'Duduk? Apakah pria ini sudah tahu bahwa aku di sini untuk berbagi meja dengannya?'
Erina menduga itu masuk akal, jadi dia mengabaikan perilaku aneh pria itu dan dengan senang hati duduk di kursi yang masih kosong.
Saat Erina duduk dan meletakkan minumannya di atas meja, pria itu tiba-tiba menutup laptopnya dan menatapnya.
"Karena kita sedang kencan buta, izinkan aku memperkenalkan diri padamu terlebih dahulu. Namaku Rohan Larius dan usiaku dua puluh delapan tahun. Aku bekerja sebagai seorang programmer untuk sebuah perusahaan TI terkenal. Aku sudah memiliki sebuah rumah, mobil dan juga sejumlah tabungan. Kamu terlihat begitu menarik dan menawan. Secara keseluruhan, aku sangat menyukai penampilanmu. Aku bersedia menikahimu dan ... alasan utamaku menyetujui kencan buta ini adalah karena keluargaku terus mendesakku untuk segera berumah tangga. Jika kamu bersedia, kita bisa menikah secepatnya." Setelah meringkas informasi pribadi dan menjelaskan maksudnya, Rohan tetap tanpa ekspresi dan menunggu jawaban dari Erina.
Setelah mendengar ucapannya, mata Erina membelalak kaget.
'Orang ini ternyata sedang kencan buta? Dia bahkan menganggapku sebagai pasangan kencan butanya?'
Seperti sebuah hadiah yang dikirim dari surga, dia bertemu dengan seorang pria yang berkeinginan untuk segera menikah.
Itu adalah sebuah skenario yang sempurna bagi mereka berdua. Keduanya masih lajang dan memiliki pemikiran serta kebutuhan yang sama. Kini kesempatan itu hadir dan rencana Erina untuk bisa menikah sebelum tengah hari besok bisa terwujud.
Erina menatap Rohan dan mulai mengamati penampilan pria itu sambil menyesap latte-nya.
Pria ini memiliki garis wajah yang tampan dan fitur wajah yang sempurna. Selain itu, pakaian profesional dan aura percaya diri membuatnya tampak memegang posisi yang dihormati di tempat kerjanya. Meski sikapnya dingin, dia terlihat cukup menawan. Erina kembali menatap wajahnya. Kali ini, dia menyadari bahwa mata dan bibir pria ini mirip dengan putranya, Bram. Tidak dapat disangkal bahwa pria ini benar-benar tampan.
Setelah beberapa detik mempelajari penampilannya, Erina mendapat kesan yang baik tentangnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk mempertimbangkan bahwa pria ini tampaknya adalah pria yang cocok untuk dinikahi. Memikirkan hal ini, dia memutuskan untuk memperkenalkan dirinya.
Setelah melakukan persiapan mental, dia duduk tegak dan berkata dengan suara yang menyenangkan, "Halo, namaku Erina Mandala dan saat ini aku berumur dua puluh lima tahun. Sebelumnya aku bekerja sebagai seorang penerjemah daring dan mahir berbicara dalam tiga bahasa asing. Saat ini aku tidak memiliki pekerjaan, tapi aku akan segera bekerja setelah aku menangani masalah keluarga yang tengah aku hadapi. Kesanku terhadapmu ... cukup baik. Aku bisa mempertimbangkan untuk menikah denganmu, tapi aku sudah memiliki seorang anak."
Erina tidak berniat menyembunyikan apa pun darinya, jadi dia berkata dengan jujur, "Aku hamil tiga tahun yang lalu. Aku bisa memahami jika kamu tidak bisa ...."
Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, Rohan mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Aku sama sekali tidak keberatan," jawab Rohan dengan tenang. "Aku menerima masa lalumu dan anakmu."