Bab 2

"pak Karyo, kita gak jadi ke Mall, kita ke Rumah Sakit Sehat Bersama ya." Ujar Oma ketika selesai berbincang dengan Mama.

Diserahkan kembali gawai yang dipakainya tadi setelah dimatikan sambungan telpon dengan Rina Asmara, anaknya.

"Kenapa kita ke rumah sakit, Oma? Siapa yang sakit? Mama sakit?" Romi serta merta memberondong Omanya dengan rentetan pertanyaan yang membuat Oma kebingungan untuk menjawabnya.

"Lha ... Rumah sakit Sehat Bersamakan sudah lewat, Pak? Ujar Romi sambil menunjuk ke arah luar.

Meskipun pikirannya tak tenang karena tidak mendapat jawaban dari Oma nya atas pertanyaannya. Namun dia masih ingat jalan menuju Rumah Sakit Sehat Bersama.

"Baik, Nyonya. Iya, Den. Nanti di depan kita putar balik karena arah rumah sakit Sehat Bersama ada di pertigaan jalan yang sudah kita lewati tadi, lalu belok ke kiri." Pak Karyo menjawab perintah Nyonya besar dan pertanyaan Romi sekaligus.

Pak Karyo melambatkan laju mobil yang dikendarainya ketika dari jarak 75 meter dia melihat ada rambu lalu lintas bergambar huruf U terbalik yang menandakan bahwa pengendara boleh melakukan putar balik arah disana.

Tak sampai 5 menit mereka sampai di pelataran parkir rumah sakit Sehat Bersama. Gedung putih yang menjulang dengan aksen hijau daun pada setiap kusen jendelanya dan hamparan bunga warna warni di sepanjang pinggiran tembok pembatas merupakan ciri khas rumah sakit swasta paling terkenal di kota ini.

Selain itu para tenaga medisnya yang sigap dan ramah tidak hanya pada para pasien tapi juga pada keluarga pasien merupakan poin positif dari rumah sakit ini, sehingga rumah sakit ini selama lima tahun berturut turut mendapat predikat Rumah Sakit Terbaik.

Begitu mobil yang mereka tumpangi mendekati ruang UGD, Oma Netry memberi perintah yang tak dapat ditolak.

"Romi ikut Pak Karyo, yaa!"

"Tapi Oma?

"Ssst ... Dengarkan Oma! Romi cari makan dulu sama Pak Karyo. Beli 4 bungkus, untuk kita dan Mama. Setelah dapat nanti Romi telpon Mama atau Oma, agar kami bisa kasih info posisi kami." Titah Oma, fix tak bisa diganggu gugat.

Mobil kembali meluncur keluar area rumah sakit Sehat Bersama, sementara Oma Netry berjalan menuju koridor sambil mengeluarkan telepon genggamnya dari tas tenteng yang ada di lengan kirinya.

"Assalamu'alaikum! Rina, kamu dimana?"

"Masih di ICU, Mah."

"Baik, Mamah kesana." Oma Netry gegas berjalan menuju meja resepsionis. Terlihat ada 2 orang perawat yang sedang bertugas jaga di sana.

"Permisi, Sus. Ruang ICU dimana, ya?" Tanya Oma Netry pada ke dua perawat jaga yang terlihat dari name tag nya bernama Dewi dan Arum.

"Ruang ICU ada di bangunan sayap kiri, Bu. Ibu lurus saja setelah sampai di ruang fisioterapi belok kiri. Ruang ICU ada di sebelah kanan Apotek." Jelas suster Dewi tersenyum dengan lesung pipit menghiasi kedua pipinya sehingga menambah manis parasnya.

"Terima kasih, Sus." Oma Netry gegas berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan Suster Dewi.

"Iya, Bu. Sama sama." Balas suster Dewi dan Arum hampir bersamaan.

Setibanya di ruangan yang dituju, Oma Netry bingung, tak tahu harus berbuat apa, karena keadaan di luar kamar terasa sangat lengang tak terlihat ada orang yang sedang menunggu pasien, begitu juga tak terlihat Rina anaknya baik di luar maupun di dalam ruangan tersebut.

Gegas dikeluarkannya kembali telepon pintar dari tas tentengnya untuk segera menghubungi Rina, namun lagi lagi tak ada respon darinya.

Hingga akhirnya Oma Netry memutuskan untuk duduk menunggu di kursi yang disediakan bagi pengunjung yang ingin bergantian mengunjungi pasien.

Oma Netry duduk sambil mengetik dan mengirim chat ke nomer WA Rina.

[Mamah sudah sampai di depan ruang ICU]

[Tapi kamu kok gak ada?]

[Kamu dimana?]

Chat yang dikirim Oma Netry ceklist dua namun masih abu abu, pertanda Rina belum membacanya.

"Mamah!" Seru sebuah suara serta merta memeluk tubuh Oma Netry yang sedang duduk di depan ruangan yang dimaksud Rina anaknya.

Meskipun Rina adalah anak menantunya namun Oma Netry sangat menyayanginya dan sudah menganggap sebagai anaknya sendiri, terlebih saat anak semata wayangnya pergi meninggalkan dunia ini bersama suami tercintanya.

Sejak saat itu Oma Netry tinggal bersama Rina, anak menantu rasa anak kandung dan cucu kandung kesayangannya, Romeo Putra Damara.

"Rina! Kamu dari mana saja? Mamah khawatir, Nak! Gimana ceritanya? Itu siapa?" Oma Netry melontarkan pertanyaan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya tanpa jeda.

"Rina dari musholah, Mah. Rina gak tahu, Rina bingung, Mah." Rina medudukan dirinya disebelah Mamah Netry.

"Rina bingung mo mulai cerita dari mana, Mah. Rina takut, Mah. Rina enggak mau masuk penjara. Mamah harus bantu Rina, Mah." Suara Rina terdengar parau akibat terlalu banyak menangis.

"Coba cerita sama Mamah, gimana kronologi kejadiannya?" Tanya Oma Netry penuh kesabaran.

Diusapnya punggung anaknya memberi dukungan sebagai penguat bahwa ada Mamah yang akan selalu siap membantu Rina menghadapi masalah ini.

Rina masih bergeming, sementara Oma Netry tetap sabar memberi kesempatan pada anak semata wayangnya mengumpulkan keberanian untuk menceritakan kejadian naas yang telah menimpanya.

"Tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya sekarang apakah kamu sudah siap untuk menceritakannya pada Mamah atau belum?" Ucap Oma Netry bijak.

"Semakin lama kamu memendam masalah itu maka akan semakin lama pula jalan keluar yang akan dicapai." Lanjutnya.

"Coba kamu tarik nafas melalui hidung kemudian hembuskan pelan pelan melalui mulut." Ucap Oma yang langsung dituruti oleh Rina.

"Ulangi terus beberapa kali, sampai terasa plong di dada." Perintah Oma Netry.

Terlihat Rina melakukan saran dari oma Netry. Dia menarik napas melalui hidung lalu mengeluarkan secara perlahan melalui mulut. Terus hal itu dilakukan berulang ulang sebagaimana saran mamahnya.

"Kalau sudah plong, ceritalah! Mamah tunggu tapi jangan terlalu lama, keburu Romi datang. Apakah kamu mau Romi tahu? Kamu ingin Romi ikut mendengar masalah ini?"

Spontan Rina menggeleng gelengkan kepalanya, begitu disinggung nama Romi, anaknya. Seolah baru tersadar bahwa dia tidak melihat keberadaan Romi diantara mereka dari tadi.

"Memang Romi sedang ada dimana, Mah?" Tanyanya begitu tak dilihat Romi ada diantara mereka.

"Romi sengaja Mamah suruh pergi sama Pak Karyo beli nasi untuk makan siang kita. Oleh sebab itu mumpung dia gak ada ayo cerita lah." Desak Oma Netry kemudian.

"Ii ... Iya, Mah. Bismillah." Rina masih mencoba meredakan gemuruh di dadanya saat mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi pada dirinya.

Dia tak henti hentinya merutuki keteledorannya sehingga mengakibatkan kecelakaan pada seseorang yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang ICU yang ada di depannya.

Bab 3

"Rina salah, Mah. Rina akui Rina teledor, karena Rina nyetir mobil sambil terima telpon." Kembali air mata tanpa permisi mulai menetes tak mampu Rina bendung.

Setiap dia mengingat kejadian itu dia hanya bisa menangis. Tangis penyesalan yang amat mendalam.

"Kok bisa? Memangnya kamu bawa mobil mau kemana? Bukankah kamu ada meeting sama klien yang mau booking resto untuk acara pernikahan? Makanya Mamah yang ke sekolah Romi untuk ambil raport?" Oma Netry tak habis pikir dengan cerita yang didengarnya barusan.

"Iya, Mah. Meetingnya sudah selesai. Terus enggak lama setelah itu Lusi sama Indah telpon, ngajak nengok kawan yang habis lahiran di RSIA Harapan Bunda," terang Rina penuh penyesalan.

"Waktu Rina mau balik ke restoran lagi tiba tiba hape Rina bunyi, tetap sambil nyetir Rina angkat telpon itu, tapi salahnya Rina gak pake headset Mah, jadi suaranya kurang jelas, pas Rina mau besarkan volume hape tiba tiba tanpa Rina sadari mobil sudah masuk di garis batas jalur pengendara lain,"

"Terus?" Oma menepuk punggung tangan Rina lembut memberi kekuatan pada anaknya yang saat ini sedang dalam keadaan kacau.

"Rina salah, Mah. Rina takut, Mah. Tolongin Rina, Mah. Huhuhu ... Rina enggak mau masuk penjara, Mah." Rina mulai menangis lagi.

"Mamah enggak bisa maksa Rina kalau Rina belum siap cerita sekarang. Tapi kalau Rina tunda terlalu lama maka kita bakal lama juga cari solusinya. Bagaimana kalau polisi mulai melacaknya?" ucapan oma membuat Rina makin kalut.

"Rina harus apa, Mah? Rina harus gimana? Huhuhu ... Rina takut, Mah,"

"Lanjutkanlah kalau Rina merasa kuat untuk melanjutkan ceritanya. Mamah siap mendengarkan." Oma Netry masih sabar menunggu Rina melanjutkan ceritanya.

"Saat Rina sadar mobil yang Rina kendarai sudah masuk jalur pengendara lain ternyata di depan mobil Rina sudah ada tronton muat mobil mobil baru dari berbagai type,"

"Menyadari hal itu akhirnya Rina spontan banting stir ke kiri, naasnya disebelah kiri Rina ada sepeda motor yang juga sedang melaju kencang. Tabrakan tidak terelakkan. Huhuhu,"

"Pengendara itu masih tergeletak di jalanan beraspal dengan helm yang masih melekat erat di kepalanya, tak ada apa pun atau siapa pun yang bisa Rina mintai tolong, Mah. Rina kalut, Mah. Huhuhu ..."

"Akhirnya Rina telpon Idrus agar datang ke lokasi sama Luki. Sampai mereka berdua datang jalanan masih sepi. Karena Rina memang mengambil jalan pintas untuk cepat sampai ke resto. Idrus sama Luki yang ngangkat korban ke mobil Rina," lanjut Rina. Kini suaranya sudah mulai sedikit agak tenang.

"Idrus yang nyetir sampai rumah sakit. Rina sudah enggak sanggup lagi. Setelahnya Luki sama Idrus langsung balik lagi ke resto. Mereka bawa mobil Rina. Rina bener bener kalut. Rina takut, Mah!"

"Sepeda motornya gimana?" tanya Oma, tangannya masih mengelus punggung anaknya, memberi ketenangan.

"Habis telpon Idrus, Rina langsung telpon orang bengkel langganan untuk membawa sepeda motor itu agar diperbaiki." Tangan Tina sibuk menghapus jejak air mata di wajahnya, walaulun masih terdengar sesekali sesenggukannya.

"Bagus, kamu sudah melakukan hal yang benar! Bagaimana kondisinya?" Ucap Oma. Dia menunjukkan dua jempolnya pada Rina.

"Motornya? Rina enggak tahu, Mah! Rina belum tanya lagi sama orang bengkel. Rina juga enggak sempat merhatikan kondisi motor itu saat di TKP," jawab Rina agak kesal. Kok bisa dalam kondisi begini mamah sempat sempatnya menanyakan tentang sepeda motor.

"Bukan, Rina! Kondisi orangnya, lah!" ujar Oma Netry. Tangannya masih setia mengusap usap punggung tangan Rina sebagai bentuk menguatkan.

"Gimana kondisi orang yang kamu tabrak itu?" ulang tanya Oma gemas.

"Oh ... Maaf, Mah. Rina stres, Mah. Rina sudah enggak bisa berpikir lagi." Ditarik tarik rambutnya sekedar untuk menghilangkan pusing di kepalanya dengan sebelah tangan.

"Iya, yang sabar, Mamah juga sedang berpikir, kita cari solusinya. Kalau bisa secepatnya kita temui keluarganya, kita selesaikan secara kekeluargaan saja."

"Semoga keluarganya bisa memahami. Ini musibah, siapapun tak menginginkan kejadian seperti ini." Oma Netry memberikan solusi yang membuatku sedikit agak tenang.

"Tapi musibah ini terjadi karena keteledoranku, Mah! Rina yang salah!"

"Iya, benar. Syukur kamu sudah menyadarinya. Jadikan ini pelajaran paling berharga dalam hidupmu. Apa yang kamu anggap sepele bisa jadi berbahaya bagi orang lain."

"Jangan pernah lagi nyetir mobil atau bawa sepeda motor sambil main hape!" nasehat Oma Netry masih dengan mengusap usap punggung Rina lembut.

"Sudah ... Jangan nangis terus. Kecuali bila dengan menangis semua urusan ini bisa selesai, maka menangislah! Diusapnya air mata yang masih setia mengalir membasahi wajah Rina dengan tisu yang dia keluarkan dati tas tenteng yang dibawanya.

"Kamu enggak mau kasih tunjuk Romi, kan?" tanya Oma Netry.

Serta merta Rina memberi respon dengan menggeleng gelengkan kepalanya saat Oma Netry menyinggung nama Romi.

Segera diusap wajahnya menggunakan tisu yang disodorkan oleh Mamah mertua rasa mamah kandungnya itu.

"Makasih, ya Mah. Rina enggak tahu bakal kayak mana kalau gak ada Mamah." Dipeluknya wanita paruh baya itu erat erat.

"Jadi keadaan korban, gimana?" Cecar Oma Netry ingin mengetahui keadaan korban yang sebenarnya.

"Itulah yang membuat Rina takut, Mah. Kalau kata Dokter sih kondisi fisiknya tak terlalu menghawatirkan, Mah. Tidak terlihat luka parah, hanya lecet lecet saja."

"Tapi sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri. Jadi team dokter baru bisa melakukan observasi luar sambil menunggu pasien sadar," papar Rina dengan suara yang sudah mulai normal kembali.

"Tapi pasti identitas dirinya ada, kan? Tak mungkin dia tak membawa identitas diri dalam dompetnya, setidaknya SIM, diamengendarai sepeda motor, kan?" selidik Oma Netry.

"Juga setidaknya ada hapenya. Kita bisa lihat nomer kontak di hapenya, pasti ada nomer kontak keluarganya disana, misal istrinya bila sudah menikah atau minimal orang tua dan saudara saudaranya," lanjut Oma Netry membuat Rina tertegun.

"Kamu sudah memeriksanya, Rin?" Oma Netry mengusap pundak Rina lembut.

"Ii ... Iya ... Ada, Ma. Tapi ..." Jawab Rina gugup.

Ning ... Nong ...

Ning ... Nong ...

Belum sempat Rina melanjutkan ucapannya, terdengar gawai Oma Netry berbunyi pertanda ada panggilan video call masuk.

"Halloo ... Oma! Posisi dimana?"

"Sebentar ini Romi. Iya, halloo ... Romi. Ini Oma sudah sama Mamamu, di ruang ICU. Dari meja resepsionis lurus saja sampai di ruang fisioterapi belok kiri. Ruang ICU ada di sebelah kanan Apotek," papar Oma Netry memberi arahan pada Romi menuju ruang ICU.

"Hai ... Mama! Siap, Oma. Romi otewe. Assalamau'alaikum!" Romi segera menyapa Mamanya yang terlihat sedang duduk di sebelah Oma Netry kemudian segera menutup obrolan via gawainya untuk segera berjalan menuju ruang ICU sesuai arahan dari Oma.

"Jadi apakah sudah kamu hubungi keluarganya, Rin?" Tanya Oma Netry melanjutkan obrolan yang terjeda.

"Em ... Belum, Ma. Rina enggak kepikiran sampai kesana. Rina bingung, Ma!" Ucap Rina makin gugup.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Dilema

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED