Dua tahun berpisah dari Annisa, hidup Barra dan keluarga naik satu tingkat. Uang perjanjian itu membawa manfaat untuk Barra dan keluarganya. Ibunya berhasil melakukan transplantasi jantung. Alby adik pertama Barra masuk salah satu universitas dengan jurusan sesuai bidang yang ia sukai. Dan Ervi adik bungsu Barra berhasil lulus sekolah menengah atas tanpa hambatan.
Barra patut bersyukur atas pengalaman tersebut. Kalau dibilang menyesal, tentu ada. Tapi ya sudah, semua telah terjadi. Barra niatkan saling membantu, simbiosis mutualisme, tak ada pihak yang dirugikan. Satu tahun itu Barra lalui penuh kesakitan. Sakit yang tampak oleh mata, Annisa meninggalkan banyak goresan di tubuh Barra. Untungnya ada di dalam, bukan wajah atau tangan yang bisa dilihat banyak orang.
Barra duduk di atas Vespa bututnya, di pinggir sawah. Jangan salah, meski Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Kota metropolitan, namun Jakarta masih memiliki sawah yang menjadi akses jalan tikus yang dilalui Barra setiap hari saat berangkat kerja. Cukup membantu Barra mendapat oksigen segar pagi hari.
Barra menatap langit jingga, kemarin merupakan hari bersejarah bagi Barra. Ia meminang adik dari CEO perusahaan yang memberinya pekerjaan. Masih tak percaya, ia menaklukkan hati seorang anak ningrat. Astra, gadis dengan ukiran sempurna, kulit putih bersih dan hidung mancung bak kuncup bunga telah membuat Barra cinta setengah hidup. Seperti gayung bersambut, Astra pun memiliki perasaan yang sama.
Kalau jodoh memang tidak kemana. Menurut Barra seperti itu. Barra merebahkan tubuhnya di jok vespa, ada kegalauan. Mengusik pikiran dan batin Barra. Tanggal pernikahan sudah ditentukan, tapi Barra tak memiliki tabungan lebih untuk hari bahagia itu. Barra tak pernah bebankan masalah pribadi pada ibu maupun adiknya. Saat pikirannya kacau maka di sinilah ia akan menenangkan diri. Otaknya kembali bekerja keras, mencari solusi darimana ia bisa dapatkan uang untuk menyokong hajat besar Astra dan dirinya.
Semua sudah diobrolkan saat perwakilan keluarga Barra meminang Astra. Pak Abbas yang merupakan Ayah Astra akan bertanggung jawab penuh atas pernikahan Barra bersama putrinya. Pak Abbas meminta keluarga Barra tak perlu pusing memikirkan perihal biaya. Barra cukup menyiapkan mahar yang ia mampu. Bagi Pak Abbas urusan uang hanya masalah simpel. Barra senang punya calon mertua sebaik Pak Abbas. Masalahnya Barra itu pria, harga dirinya ada pada tanggung jawab. Saat pria berhasil menunaikan tanggung jawabnya, maka disitulah ia akan dihargai dan dihormati.
Minimal Barra butuh lima puluh juta, dari mana ia mendapat uang sebanyak itu dalam waktu sepuluh hari. Otaknya berjubel, pusing. Tabungan Barra tinggal sepuluh juta, itupun anggaran khusus pengobatan sang ibu. Ibunya harus rutin kontrol ke rumah sakit. Sang ibu mengidap berbagai penyakit, dokter bilang komplikasi. Barra harus membawanya ke poli penyakit dalam setiap bulan sekali. Mungkin ada uang simpanan dari rumah makan. Barra belum bertanya pada Alby sang adik, yang menjalankan usaha rumah makan Minang.
Barra memejamkan matanya sebentar, jalanan ini cukup sepi. Tak banyak kendaraan yang lewat. Barra meresapi oksigen yang ia hirup dalam-dalam, ia keluarkan pelan.
"Woy k*m****." Umpatnya saat kaget akan bunyi ponsel. Ia sampai terjatuh ke tanah, beruntung motornya selamat.
* *
"Bagaimana tawaran, saya?" Tanya Tuan Hiro. Barra berpikir ulang, bimbang dan butuh menjadi dua kata yang beradu di otak besarnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Barra, apakah ia siap masuk kembali ke lubang yang sama?
"Baik. Saya terima. Tuan." Ungkap Barra setelah beberapa saat menimbang. Dua pria dewasa itu saling berjabat. Tuan Hiro memesankan minum dan makan untuk Barra. Mereka menikmati makan malam bersama di restoran seafood. Barra langsung meluncur setelah Tuan Hiro meneleponnya tadi.
Barra memegangi perutnya yang terasa penuh. Ia habiskan semua menu yang Tuan Hiro pesan, sedang Tuan Hiro hanya meneguk sedikit jus kiwinya. Bagi Barra pantang membuang makanan. Tuan Hiro merogoh selembar kertas dari tasnya. "Jika setuju, kamu tanda tangan di sini." Ucap Tuan Hiro menunjuk sisi bawah kertas.
Tak ingin terkecoh lagi, Barra membaca detil kalimat yang tertuang di kertas itu. Surat perjanjian lagi, tapi isinya masih bisa Barra toleransi. Sangat menguntungkan untuk Barra. Barra setuju. Ia mulai menggoreskan tinta hitam milik Tuan Hiro.
"Sekalian salinannya, ada di bawahnya." Tambah Tuan Hiro.
Barra lanjut menandatangani lembar kedua, dia tak membacanya lagi. Bukankah itu salinan? Buang-buang waktu saja kalau harus baca ulang.
Tuan Hiro tersenyum miring, Barra memang ceroboh. Semua yang dilakukan Tuan Hiro demi putrinya, Annisa. Tuan Hiro sangat menyayangi putrinya itu, namun banyak hal yang mengharuskan ia menyembunyikan identitas Annisa. Hari ini Tuan Hiro menemui Barra untuk Annisa. Setelah urusannya dengan Barra selesai, Tuan Hiro menyerahkan amplop coklat. Amplop itu tampak mengembang.
Semangat Hiro bergelora. Ia akan pakai uang itu untuk membeli mahar. Selain uang tunai, Tuan Hiro juga menawarkan tunjangan bulanansebesar lima puluh juta. Air liur Barra hampir menetes mendengar nominal tersebut. Barra meninggalkan vespanya di restoran, ternyata restoran itu milik Tuan Hiro. Orang kaya tujuh turunan, asetnya ada di mana-mana.
Supir melajukan mobil. Tak ada obrolan di dalam mobil, Tuan Hiro sibuk dengan iPad-nya. Wajar. Kan Tuan Hiro adalah seorang bos, Tuan Hiro terlihat serius mengerjakan sesuatu di sana. Barra melirik ke luar jendela saat laju mobil melambat. Rumah besar, tapi bukan rumah yang pernah Barra tempati.
Barra mengikuti langkah Tuan Hiro, di dalam sudah ada penghulu. Barra dituntun duduk di kursi dekat para saksi. Bahkan Barra belum menyapa siapapun.
"Sah.." Barra masuk kandang buaya untuk kali kedua. Seperti pernikahan pertama dulu. Setelah acara inti selesai, semua keluar. Ada yang membedakan, semua saksi dan satu penghulu mendapat amplop dari asisten Tuan Hiro. Barra tak ikut campur. Tuan Hiro berikan kembali kertas persis dengan tanda tangan Barra.
"Silahkan baca lagi dan, simpan!" Tutur Tuan Hiro memberikan salinannya. Barra berikan anggukan. Ia membaca lagi, masih sama. Kertas kedua, ia baca dengan benar. Mata Barra membulat sekilas, hampir lompat dari kelopaknya. Apa ini, perjanjian macam apa. Bukankah pernikahan siri yang berkuasa penuh adalah suami. Ah bodoh, Barra tertipu lagi. Di dalam lembaran kedua tertulis bahwa Barra wajib datang ketika Annisa membutuhkannya. Kalau sampai terlambat, ancamannya adalah hubungan Barra dengan Astra akan menjadi taruhan.
Dan, parahnya Barra adalah suami ketiga. Oh astaga. Mimpi buruk macam apa ini? Barra meremas kuat kertas itu, hatinya sangat kesal. Marah, emosi menggunung di dada Barra. Barra di tinggalkan sendiri, di ruang tamu rumah megah milik Annisa. Ingin sekali tangannya meraih vas yang berisi bunga sintetis. Ia ingin melemparnya ke lemari kaca di pojok ruangan tersebut. Agar semua tahu akan kemarahannya.
"Den, minum dulu." Bi Sumi membawa nampan berisi es jeruk dan camilan. Bi Sumi memang asisten setia, ia sabar menghadapi Annisa yang kadang tak bisa dikontrol. Bukan sekedar asisten, Bi Sumi menjadi ibu pengganti untuk Annisa. Sejak remaja hidupnya di abdikan untuk keluarga Tuan Hiro. Bi Sumi merawat Annisa sejak Annisa masih duduk di sekolah dasar. Bi Sumi pernah cerita, ia sampai tak ada keinginan menikah hingga sekarang. Demi siapa, ya demi Annisa. Tuan Hiro tak mengizinkan istri dan adik dari Annisa menemuinya. Bu Laksmi yang merupakan Ibu dari Annisa bahkan sering mencuri kesempatan untuk bertemu putrinya. Tentu dengan bantuan Bi Sumi. Tapi setelah ketahuan Tuan Hiro, hal seperti itu tak pernah terjadi lagi.
Bi Sumi menenangkan Barra, seakan Bi Sumi tahu kemarahan yang belum tumpah itu. Mata Barra menyorot aura emosi. Akhirnya Barra kembali duduk tenang di sofa ruang tamu tersebut. Bi Sumi berikan satu gelas es jeruk pada Barra. Barra meneguknya hingga tandas, batu esnya ia kunyah. Dingin dan ngilu tak ia rasakan, emosi seakan mematikan indera pengecapnya.
"Den, kenalin ini. Aden Ken. Suami pertama Nyonya muda." Ucap Bi Sumi pelan-pelan, sangat pelan malah. Takut kalau Barra sampai meledak.
Barra reflek berdiri. Emosinya mendekati puncak. "Jadi, kau itu suami Annisa yang pertama? Apa kau benar-benar waras?!!" Tanya Barra dengan nada paling tinggi.
"Saya, cuma jaga Mbak Annis. Mas. Ma'af kalau saya cuma diam." Ken mengerti arah bicara Barra. Ken pun hanya menjalankan tugas, tapi Ken sebenarnya memiliki perasaan tulus untuk Annisa. Ia setia mendampingi Annisa, meski saat Annisa bercinta dengan lelaki lain. Ken adalah supir pribadi Annisa, yang berakhir sebagai suami. Campur tangan Tuan Hiro tak lepas dari semua ini. Bisa di pahami saat orangtua menyayangi anaknya, namun cara yang Tuan Hiro pakai salah. Di mata hukum dan agama jelas tindakannya tidak di benarkan. Barra dan Ken adalah korban, termasuk Annisa sendiri.
Tuan Hiro yang berperan penting pada kondisi Annisa, justru mendorong Annisa ke lembah kehancuran. Karena kurangnya interaksi antara orangtua dan anak, Tuan Hiro hanya menekan tindakan pendek yang Annisa lakukan. Tapi Tuan Hiro menambah panjang rentetan penyebab gagalnya pengobatan tersebut.
Barra mengepal kuat, ia sudah tak mampu menahan gemuruh di dada. "Dasar, Hiro brengsek!" Umpat Barra keras. Ia melemparkan semua benda di meja tamu, ia membuangnya ke sembarang arah. Sekuat tenaganya, ada yang menghantam lemari hias, ada yang menghantam jendela kaca. Akhirnya ruangan tersebut penuh dengan serpihan kaca. Setelah meluapkan kemarahannya, Barra menghambur keluar dari rumah tersebut.
Brakkkkk!! Barra membanting pintu kayu. Barra mengayunkan kaki menuju rumahnya yang berjarak cukup jauh, ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Barra memikirkan apakah ia akan lanjut atau berhenti sebelum terlambat.
* *
Pagi-pagi sekali Alby sudah membangunkan Barra, hari itu saatnya mereka belanja untuk kebutuhan warung makan.
"Catatannya mana. Al?" Barra bertanya pada Alby. Catatan yang dimaksud adalah daftar bahan makanan yang akan mereka beli di pasar pagi.
"Sudah di dalam tas, Da." Sahut Alby. Selain kuliah, Alby menjalankan rumah makan Minang bersama Ervi si adik bungsu.
"Uda. Aku titip kue talam ya. Semalam, Ibu bilang ingin makan kue itu." Ervi bicara pada Barra. Bu Neini akan bangun saat kedua anaknya sudah kembali dari pasar tradisional. Bukan karena Bu Neini pemalas, namun kondisinya yang sakit membuat Bu Neini sering kesulitan tidur saat malam tiba. Ervi menyiapkan bumbu masakan khas Padang.
"Iya. Dek, nanti Uda belikan. Jangan lupa buatkan Ibu bubur." Barra mengingatkan adiknya. Biasanya Ervi lupa untuk lebih dahulu memasak bubur untuk sang Ibu. Bu Neini tak bisa terlambat sarapan, makan pun harus yang lembut-lembut.
Jam di tangan Barra menunjukkan angka lima. Setelah dua jam mengelilingi pasar pagi komplek Garuda, Barra dan Alby menyewa angkot untuk membawanya beserta barang belanjaan pulang ke rumah. Mereka tak malu melakukan aktivitas tersebut, biarpun terkadang ada saja yang mengatai mereka dengan sebutan pria rasa emak-emak. Namun kedua pria itu menikmati kebiasaan baiknya.
"Hari ini kuliah jam berapa?" Tanya Barra saat mereka sudah berada di dalam angkot.
"Jam tiga sore, hari ini cuma satu mata kuliah. Kayaknya Ervi lebih padat jadwalnya hari ini." Jawab Alby.
"Ya sudah, sepintar-pintarnya kalian saja mengatur jadwal. Kalau memang pas bareng jamnya, jangan dipaksakan. Panggil aja Teh Elis, kalau cuma menunggu kan bisa. Toh ada Ibu juga." Barra memberi saran pada Alby. Barra hanya bisa membantu warung makan ketika libur akhir pekan. Malam hari Barra juga seringkali tak bisa, ia mengejar lembur di kantor. Terlebih setelah Barra kembali menikahi Annisa. Barra juga harus ke rumah Annisa saat diperintah.
Mereka terlibat obrolan santai sampai angkot tersebut berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau daun.
* *
Masih pukul setengah tujuh, Barra sudah berada di halaman parkir gedung pencakar langit bernama Bus Property Corp (BPC). Barra menjadi salah satu karyawan yang memiliki loyalitas tinggi. Sampai satpam perusahaan sangat hafal dengan wajah Barra. Tak salah Pak Abbas menerimanya sebagai calon menantu. Kinerjanya tak perlu diragukan lagi.
Meski begitu, banyak pegawai lain yang iri dengan Barra. Terutama mereka yang punya jabatan tinggi di perusahaan. Tak sedikit yang menggunjing di belakangnya, baik pria maupun wanita.
"Itu, itu dia yang bernama Barra. Menurut ku dia biasa saja. Lebih tampan juga Pak Chan." Bisik seorang gadis pada rekan kerjanya.
"Iya, kenapa juga Bu Astra memilih pria seperti dia. Dia kan cuma karyawan biasa, ada juga yang bilang dia orang susah." Balas karyawan lain. Seolah mereka adalah dewi yang berhak menentukan jodoh seseorang.
Bisikan-bisikan yang menjatuhkan Barra terdengar sampai telinga Barra. Sepertinya mereka sengaja berbisik dengan volume suara sedikit tinggi. Barra tak merespon sikap buruk rekan kerjanya. Barra hanya diam, menunggu pintu lift terbuka.
"Kak Barra." Astra memanggil, dengan berlari kecil. Astra menghampiri Barra, ia baru saja tiba di kantor.
"Nanti pulang lebih awal aja ya. Hari ini, aku full rapat di luar." Astra melanjutkan ucapannya.
"Hhmm. Hati-hati bawa mobilnya, jangan lupa makan siang ya." Jawab Barra, tak lupa mengingatkan Astra yang mempunyai kebiasaan buruk dalam urusan makan.
Semua karyawan yang melihat aksi cukup romantis yang mereka lakukan, lantas ikut mendengar diam-diam. Mereka terkenal ratu gosip di divisinya. Apalagi itu topik terhangat yang sedang menyebar di penjuru kantor.
"Lihat, mereka sangat tidak pantas. Penampilan Bu Astra mencerminkan orang kaya, sedangkan calon suaminya. Astaga... Kumal sekali." Ucap salah satu karyawan perempuan.
Meskipun mereka menggunakan suara pelan, namun masih mampu di dengar oleh telinga normal Astra. Gadis tersebut tak terima kalau ada yang menjelekkan Barra. Bagi Astra, Barra yang terbaik. Sedangkan Barra hanya menunduk, ia lupa semalam tak menyetrika pakaian kerjanya. Ia bisa memaklumi gunjingan teman lain divisinya tersebut.
Astra melayangkan tatapan tajam ke arah empat karyawan perempuan yang masih berdiri diambang pintu masuk.
"Hey, kalian! Apa kalian tidak butuh pekerjaan lagi? Kalian sudah bosan, bekerja di sini?!!" Astramarah, ia memberikan pertanyaan horor.
"Ma-ma'af Bu. kami, permisi dulu." Seketika mereka diam dan pergi dari sana.
"Sudah, jangan marah-marah. Nanti kau akan kehabisan tenaga sebelum memimpin rapat." Barra meraih tangan Astra dan mengusap punggung tangannya untuk menenangkan.
"Jangan diam saja kalau mereka berkata tak sopan.!!" Astra masih dengan kemarahannya. Bibirnya turun, cemberut. Membuat wajah itu malah terlihat menggemaskan bagi Barra.
"Jika kau seperti ini, aku tidak akan fokus bekerja." Jawab Barra sembari mengusap puncak kepala Astra. "Sana berangkat, atau kau akan dipecat oleh Kak Zen." Ucap Barra selanjutnya.
Mereka mengakhiri percakapannya, keduanya berlalu ke arah yang berlawanan. Barra memasuki lift yang akan membawanya ke lantai empat belas, di mana kubikelnya berada. Sedangkan Astra menjalankan tugas sebagai sekertaris CEO, yang selalu mengikuti kemanapun bosnya mengadakan rapat.
Barra tampak fokus mengerjakan tugasnya. Ia harus menyelesaikan semua sebelum meninggalkan kantor. Akan menjadi calon menantu pemilik perusahaan tak menjadikan Barra semena-mena. Ia tetap mengingat tanggung jawabnya. Berjam-jam Barra habiskan waktu di depan komputer, ia sampai melewatkan jam makan siang.
"Bar, kau tak makan siang?" Butet bertanya. Jam sudah berada di angka setengah tiga, namun Barra tak juga beranjak dari kursinya. Kubikel Butet berada tepat di samping Barra. Sedangkan Barra ditempatkan di pojok ruangan divisi pemasaran tersebut.
"Tidak. Setengah jam lagi, aku pulang." Barra menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
"Bah, awal sekali kau pulang."
"Hm. Aku ada janji dengan Astra."
"Okelah calon pengantin." Setelah mengatakan itu, Butet menghilang di balik kubikel miliknya.
Perhatian Barra teralih pada dering telepon. Ia mengangkat panggilan tersebut, dan menutup setelah mengatakan 'iya' pada lawan bicaranya di seberang telepon.
Beberapa menit kemudian, Barra sudah berada di dalam mobil kesayangan Astra. Mereka berencana untuk menghabiskan sore di mall. Tujuan utama Barra dan Astra adalah toko perhiasan. Mengingat waktu semakin dekat dengan hari pernikahan yang telah ditetapkan. Barra harus segera membelikan Astra sebuah mahar.
Barra melajukan kendaraan roda empat tersebut. Kecepatan sedang menjadi pilihannya untuk menikmati momen berdua dengan calon istrinya.
"Kau mau mahar apa dariku?" Barra memulai percakapan. Tangannya lincah bergerak memutar kemudi setir.
"Apa saja, itu tidak terlalu penting menurutku." Jawab Astra seraya menyibakkan rambutnya ke belakang telinga.
Ddrrtt ddrtt.... Getar ponsel milik Barra menyita perhatian. Astra melirikkan sudut matanya. Ia dapat menangkap nama yang tertera di layar. Dengan gerakan lambat, Barra menjawab panggilan tersebut. Barra tak mengeluarkan satu kata pun, hingga ponsel pintar tersebut kembali ia letakkan di atas pangkuannya.
Barra mengurangi kecepatan, ia menghentikan laju mobil di pinggir jalan. Astra menatapnya keheranan, ia tak mengerti maksud Barra.
"Ma'af.. barusan ibu yang menelpon, aku harus cepat pulang. Sepertinya rencana kita harus ditunda sampai lusa? Bagaimana?" Tanya Barra meminta pendapat. Barra memulai kebohongannya, dan ia menjadikan sang Ibu sebagai kambing hitam.
Astra mengangguk, ia sangat mengerti kondisi Bu Neini. Ia juga pernah mengunjungi calon Ibu mertuanya tersebut. Bukan suatu hal yang aneh saat tiba-tiba Barra memutuskan untuk segera pulang. Selama menjalin hubungan dengan gadis bermata lentik tersebut, Barra seringkali melakukannya. Dan tak jarang Astra turut mengikuti Barra merawat sang Ibu.
"Aku antar." Astra menawarkan diri. Barra meninggalkan vespanya di parkiran kantor. Akan membuang-buang waktu ketika ia harus kembali kesana untuk mengambil kendaraan tersebut.
"Tidak, maksudku jangan. Bukan, maksudku tidak perlu, jangan karena Ibu sepertinya hanya ingin bertemu denganku. Bukan aku tak mau diantar." Barra semakin terlihat gugup.
Astra tertawa kecil, ia tak merasa curiga dengan sikap aneh yang Barra tunjukkan. Ia justru merasa Barra sungguh lucu dengan sikap kekanakan. Baru sekali ini Astra melihat tingkah konyol seorang Barra. Astra yakin, jika Barra sudah sangat nyaman dengannya. Ia tak lagi canggung menunjukkan sifat-sifat yang memalukan.
Astra kemudian memesankan taksi online untuk Barra. lengkap dengan alamat tujuan yaitu jalan sukmawati. Jalan yang merupakan alamat rumah hunian Barra.
Sekali lagi Barra mengutarakan permintaan ma'af. Lalu ia menghilang di dalam mobil merah tersebut.
'Ma'afkan aku yang berani membohongimu, Astra.' Barra membatin setelah mobil melesat menjauhi gadis kesayangannya.
* *