Bab 2

Tiga tahun berlalu sudah setelah hari yang sangat mengguncang jiwanya dimana belahan hatinya pergi meninggalkannya......

Kini Aslan Syahril sedang berupaya menata hatinya kembali.

Diusia menjelang ke 28 tahun, semua kesuksesan secara material sebagai seorang pria nyaris sudah digapai olehnya. Setahun lebih setelah pindah dari Kendari ke Makasar, kini dia bagaikan sedang meniti jalan menuju puncak karirnya.

Posisinya yang diawal dia kerja 7 tahun lalu sebagai trainee surveyor, kini dia menanjak dan berada di top management level berkat kerja kerasnya. Aslan adalah Managing Director PT Delta Serasi Indonesia, yang kini memiliki 4 cabang di Kendari, Balikpapan, Sorong dan Weda.

Rumah di Kendari pun kini lebih sering kosong, karena dia lebih banyak di Makasar, bahkan setahun lalu setelah dia awalnya dikontrakin apartmen oleh Yahya, Owner sekaligus komisarisnya, kini Aslan sudah pindah dan mulai mencicil rumah barunya di Cluster Blue Shappire – Sumarrecon Makasar.

Secara karir, keuangan, dan masa depan, Aslan sudah bisa dikatakan pria sukses dan mapan sekali. Kesuksesannya juga tentu ikut dirasakan oileh keluarganya. Rumah sederhananya di Bekasi sudah kembali direnovasi, dan kini sudah bertambah satu lagi kendaraan Wuling Almaz dirumahnya, sehingga halaman depan harus dirombak kembali.

Linda kini sudah lulus, dan ikut saran Aslan untuk lanjut ke S2 lagi. Mamanya Ulfa pun tetap berjualan dipasar, bahkan tokohnya kini sudah diperbesar.

Sayangnya, meski sudah 3 tahun berlalu, dan punya karir yang luarbiasa, kenangan Aslan akan mendiang istrinya bagaikan melekat terus dan sulit dilepaskan. Atas saran Ulfa dan juga Anissah, rumah barunya Aslan di Makasar, mereka keberatan jika Aslan masih memajang foto Nafia.

Mereka ingin Aslan menatap kedepan. Bukan mereka tidak sayang dengan Nafia, namun rasanya tidak adil jika Aslan terus menerus hidup dengan bayang-bayang Nafia, padahal usianya masih sangat muda dan panjang perjalanan hidupnya.

Setiap ada wanita yang mendekat, dia seperti terlihat selalu menutup dirinya. Bahkan sering sekali dia seakan akan membandingkan wanita yang sedang dekat atau coba mendekat dengan mendiang istrinya. Ini yang dirasa oleh Ulfa, bahkan oleh Anissah dan Jafar sekalipun sangat berbahaya kondisinya. Karena cinta yang terlalu kuat juga tidak baik efeknya.

Dia tidak akan mungkin menduda seumur hidupnya, meski aku sebagai mertua sangat sayang dengan dirinya dan mendiang anakku. Tapi bukan berarti dia kemudian harus menutup diri selama lamanya, demikian ujar Jafar ketika itu.

Adapun hubungan mereka pun sangat baik. Aslan bagaikan punya dua orangtua saat ini. Jika dia ke Bekasi, maka dia bergantian menginap di rumah Nafia, dan dirumahnya.

Di rumah Jafar sendiri, selain kedua orangtua itu, ada juga Adiba yang sudah pulang sejak 2 tahun yang lalu dari Singapore, semenjak gagalnya bahtera rumah tangga dirinya dan suaminya, Adiba memilih pulang ke Jakarta. Kedua anaknya ikut dibawa, dan pindah bersekolah ke Bekasi.

Kini perusahaan Jafar dikelola oleh Adiba. Dan ditangan wanita ini, usaha Jafar juga mengalami perubahan yang cukup besar. Meski tidak bekerja secara formal saat dia menikah dengan Anand, namun isi kepala Adiba bukanlah tidak terasah. Dia lulusan Singapore Management Univercity. Sehingga saat semua ilmunya kemudian diajak kembali bekerja, terpakai semuanya.

Sama dengan Aslan, Adiba juga lebih banyak berkutat didunia kerja. Di usianya yang menjelang 36 tahun, dia bagaikan sudah malas mencari pria baru akibat dilukai oleh Anand, suami yang sangat dicintainya di awal awal dulu, dipuji puji dan dibanggakan, namun kemudian mengkhianatinya dengan kejamnya.

Ternyata begitu Arvind anaknya nomor dua lahir, Anand pun sudah menjalin hubungan dengan teman wanita di kantornya di Bank International itu. Dinas luar negeri bagaikan arena untuk Anand berduaaan dengan selingkuhannya. Dan saat tahu selingkuhannya hamil, Anand pun memilih mengakhiri pernikahannya dengan Adiba, untuk hidup bersama selingkuhannya itu.

Aslan sendiri sangat akrab dengan kedua keponakannya. Ravi dan Arvind memandangnya bagaikan sosok ayah, paman dan juga sahabat mereka. Liburan sudah menjadi jatah buat dia berdua untuk jalan dengan Aslan. Terutama anak yang bungsu, Arvind.

Arvind malah secara terang-terangan bilang ingin sekolah di Makasar agar dengan dengan Ayahnya Aslan. Mereka berdua ikut dengan cara mendiang bibinya memanggil Aslan. Sehingga bukan paman, om atau uncle, namun mereka memanggilnya dengan sebutan Ayah.

Aslan sendiri tidak keberatan dengan sapaan itu, bahkan bisa dibilang dia sangat memanjakan kedua keponakannya ini. Satu hal yang suka ditentang oleh Adiba. Karena semua larangan Adiba pasti gagal total saat anak-anak itu bersama Aslan.

Tapi herannya Adiba sendiri pun sulit berkata tidak jika anak-anaknya sudah bermanja manja dengan Aslan. Dia tahu anak-anaknya merindukan sosok ayah, sosok papa yang tidak mereka dapat didiri papi mereka sendiri yaitu Anand.

Aslan bahkan sering mengantar kesekolah, mengantar les, bahkan saat Ravi latihan sepakbola atau ikut turnamen si akhir minggu, Aslan kendati berkorban waktu untuk terbang dari Makasar ke Jakarta untuk mendampinginya.

Dia hanya tersenyum jika melihat Aslan sampai marah-marah dipinggir lapangan jika Ravi dikasarin pemain lawan. Demikian juga dengan si bungsu Arvind. Anak itu bahkan dekat sekali dengan neneknya Ulfa. Dia jika diomeli oleh maminya atau neneknya Anissah, maka dengan cepat dia lari ke rumah sebelah.

Badannya yang gendut, tingkah polahnya yang lucu memang sangat menggemaskan, membuat dia sangat dicintai oleh banyak orang. Termasuk oleh neneknya Ulfa, yang meski tidak ada hubungan darah langsung, tapi yang anak itu tahu, Linda itu tantenya, dan Ulfa adalah neneknya sendiri.

Jafar adalah sosok yang sangat bersyukur dengan kondisi ini. Meski kehilangan anak bungsunya, namun kehadiran Aslan baginya bagaikan menggantikan sosok Fia dalam hidupnya. Aslan jadi teman diskusinya, teman nonton bola dengannya, dan juga partner bisnisnya. Banyak orderan yang dia terima berkat relasi dari Aslan yang semakin luas.

Ada beberapa sahabat dan suadara yang sempat menyentilnya, agar menjodohkan Adiba dan Aslan saja. Bagi dirinya itu usulan yang tidak masuk diakal. Adiba usianya beda 8 tahun, punya anak dua, dan juga rasanya sulit dia melihat Aslan bisa mencintai wanita lain selain Nafia.

3 tahun berlalu, belum ada satupun wanita yang dikenalkan atau mereka dengar dekat dengan Aslan secara pribadi. Meski Jafar dan Anissah berkali kali meminta Aslan untuk menikah kembali, baik secara tersirat maupun kadang dengan ucapan terbuka tanpa harus menyinggung perasaan Aslan.

"dengan satu syarat, abang tetap jadi anak kami.... " itu syarat utama yang mereka sampaikan ke Aslan ketika itu.

Dijodohkan dengan Adiba?? Jafar dan Anissah tidak akan berpikir dua kali untuk menyetujuinya, jika memang jalan itu ada dan terbuka, namun tetap saja bagi mereka ini tidak adil rasanya. Sudah cukuplah Aslan mencintai Nafia dengan hebatnya, tapi bukan berarti mereka harus mengikatnya di lingkungan keluarga selamanya dengan menjodohkan Aslan dengan kakak iparnya, atau bahasa gaulnya naik ranjang.

Itu terlalu naif dan sulit bagi mereka untuk mengutarakan ataupun mencoba mengkondisikannya.

Karena cinta dan sayang Aslan ke Fia, bahkan ke keluarga mereka sepeninggal Fia, rasanya sulit untuk mereka tambahkan lagi bebannya dengan kondisi itu, meski di ujung semuanya ini, ada harapan terselip sebenarnya, apalagi melihat kedekatan Aslan dengan anak-anak Adiba.

Bersambung

Bab 3

"harganya sih belum masuk yah, Bu....."

" kemahalan atau belum pas ini, Bu?"

"eh... salah satunya......"

Rani tersenyum kecil. Detail-detail seperti ini memang sangat menentukan bagi mereka yang sering terlibat untuk dealing harga dan penawaran apalagi di saat-saat pengambilan keputusan di level akhir.

"gini Pak Rudi dan Bu Meli..... saya sih sudah biasa seperti ini, namanya jual beli itu biasa cocok dan tidak cocok.... cuma jadi beban moral juga buat saya, seandainya jika bapak dan ibu yang sudah saya anggap sahabat, hanya karena masalah harga kemudian kita gagal dalam bernegosiasi....."

Dua sosok didepannya hanya tersenyum mendengarnya. Bahasa dan cara Rani bernegosiasi diakui mereka memang punya level yang berbeda.

"eh... memang demikian sih..... kami sudah putuskan memang saat ini... kita belum bisa terima penawaran dari Ibu Rani......"

Rani terdiam sesaat, dia menengok ke sebelahnya ke arah Arum, staff marketing yang ikut dengannya, yang juga bingung dengan situasi saat ini.

"saya menghargai itu, Pak Rudy.... "

Sosok yang disapa Rudy itu menganggukan kepalanya manggut manggut

"yah.... Namanya bisnis kan kita banyak pertimbangannya.... Jadi saat ini pertimbangan kita memang belum bisa masuk dengan penawaran Ibu......" sambung Rudy lagi.

Arum merasa sedikit kecewa, karena memang dengan gagalnya penjualan mereka otomatis fee di depan mata juga hilang. Rudy merupakan direktur operasional, sedangkan Melly ini merupakan finance manager.

"saya boleh bicara sebentar Pak? Bu?" tanya Rani lagi

Meski agak bingung, mereka menghormati permintaan Rani

"silahkan Bu....."

Rani tersenyum, sambil membuka file dan mengeluarkan brosur yang dia bawa dan membukanya diatas meja kembali.

" ini saran dan juga sedikit info saja Bu Mel dan Pak Rudy....."

" saya yakin Ibu dan Bapak sudah panjang perjalanan dalam bisnis ini..... " sambungnya lagi yang dijawab dengan senyuman dan anggukan dua sosok ini.

"tapi, dalam hal ini saya rasa perlu bagi saya untuk sedikit ajak bapak dan ibu agar mempertimbangkan faktor yang mungkin belum sempat dipertimbangkan...." Tutur lembut dengan bahasa marketingnya kini muncul

"product kami ini nomor 1 untuk kategori excavator, brand yang kami punya pasti bapak dan ibu sudah tahulah kualitasnya...." Dia sambil membuka lembaran promosi katalog mereka

"tapi bedanya kita dengan supplier lain, kami memberi garansi perbaikan.... Kami bahkan akan kirim tekhnisi kami ke lokasi untuk servis rutin... dan yang utama, kami juga memberi layanan purna jual bagi konsumen kami..... dan saya yakin ini tidak ada di penawaran yang diberikan oleh supplier lain...."

Rudy dan Meli masih tersenyum menganggukan kepalanya

" kualitas saya yakin kita jauh didepan, dibanding merek atau produk Tiongkok...."

" untuk dump truck juga saya rasa harga tidak berbeda jauh, tapi dengan pelayanan dan kualitas yang kami berikan, manfaat yang ibu dan bapak dapat jauh lebih jelas dan besar....."

Merasa masukannya makin menusuk ke dalam isi kepala mereka, Rani makin menggebu gebu memberikan masukan positif terkait product knowledge milik perusahaannya.

"dengan konsesi yang panjang di Marombo.... Sayanglah jika pakai alat berat yang hanya berusia pendek....."

Rudi dan Meli terkaget mednengar Rani tahu dimana site mereka

"wih.... Hebat Bu Rani.... Sampai tahu kemana mana...." Celutuk Meli sambil tertawa

" jika Ibu dan Bapak hitung lagi dengan semua dengan jangka waktu let say 10 tahun, saya yakin bapak dan ibu pasti pilih produk kita......" kilah Rani sambil tersenyum.

Meli dan Rudy saling berpandangan, dan saling menganggukan kepala

"murah di awal, tapi bermasalah di tengah perjalanan, saat tiba di pertengahan konsensi pasti bapak dan ibu akan ingat dengan penawaran kami....." lembut namun sangat intimidatif di telinga konsumennya ini.

"kami kasih semua apa yang konsumen butuhkan..... bukan hanya barang, tapi kami ikut jaga dan pelihara..... dengan nilai seperti yang kami tawarkan, sayang rasanya jika dilewatkan begitu saja....."

Hening sesaat, tatapan mereka saling bertemu dan kembali konsen ke brosur yang ditunjukan oleh Rani.

"untuk pembayaran kami kasih skema yang sangat bagus untuk perusahaan bapak ibu...."

"tinggal pilih mau berapa lama jangka waktunya.... Nanti tinggal sesuai selera mau pakai leasing yang mana......"

Kali ini masuk semuanya ke otak dan pikiran dua petinggi itu.

" kita consider dulu Bu Rani....."

Rani tertawa kecil kecil

"masa pemegang kekuasaan tertinggi masih harus consider lagi......" selorohnya lagi

"yah tetaplah kita harus diskusi internal....."

"iya Pak.... Saya mengerti.... Dikonsider saja sudah sangat senang kita bagi perusahaan sebesar bapak dan ibu ini......" tutup Rani lagi.

"saya tunggu kabar baiknya......"

"baik Bu Rani......."

"jika bapak dan ibu perlu untuk diskusi, jangan segan kontak saya.... Meski ngga beli di kami pun, feel free untuk kontak dan tanya.... Sebagai sahabat, pasti kami bantu, meski hanya sekedar advise dan pendapat...." Tandasnya lagi.

Mereka lalu saling bersalaman, dan pihak Rudy dan Meli akan memberi kabar secepatnya setelah mereka mempertimbangkan kembali semua penawaran dari Rani. Rupanya penyampaian Rani tadi dan short presentasinya cukup membuat mereka untuk berpikir kembali.

"mereka pasti akan ambil produk kita...." Ucapnya ke Arum saat mereka dalam mobil menuju kantor mereka kembali

"iya yah Bu..... steelah Ibu presentasi, mereka langsung berubah....." balas Arum optimistis.

Tekhnik bicara dan kemampuan berdiplomasi serta product knowledge dari Rani ini memang jadi kekuatan baginya untuk bernegosiasi, dan untuk kesekian kalinya Arum melihat kemampuan itu muncul dalam negosiasi siang ini, dan hanya decak kagum saja yang bisa dia tunjukan melihat managernya dalam proses tawar menawar produk mereka.

Lingga Maharani, yang dipanggil Rani. Dengan tinggi 165 cm, dan berat badan yang tidak pernah lebih dari 52 kg ini, merupakan wanita yang berdarah pebisnis, dan sedang merintis karir gemilangnya di perusahaan penjualan alat berat yang juga berkantor di Makasar.

Jebolan Ekonomi dan Bisnis Undip Semarang, usianya 26 tahun, juga hanya butuh waktu yang tidak lama dari staff, supervisor hingga setahun yang lalu sudah menduduki jabatan Manager Marketing di perusahaannya.

Kemampuannya berbicara, isi kepalanya yang memang punya bobot, membuatnya dengan cepat mendaki jenjang karirnya.

Dream, work hard, and achieve. Motto yang suka dipajang di medsosnya.

Penjualannya jauh melebihi para seniornya yang sudah tahunan di marketing. Ditambah dengan backgroundnya sebagai anak salah satu pejabat daerah, membuat dia semakin mudah dan leluasa dalam menjalankan market exposurenya.

Bahkan pernah dalam satu periode, total penjualannya mengalahkan semua marketing yang ada meski mereka digabung.

Karir yang menjulang, sosok yang perfeksionis dalam bekerja, serta tampangnya yang memang cantik, ternyata tidak membuatnya mudah mencari pasangan. Setelah gagal dengan pacarnya jaman dia kuliah, kembali lagi dia harus gagal saat menjalin hubungan dengan Hari Saputra, yang juga berprofesi sebagai pereli yang sering tampil di seri reli nasional.

Di tengah galaunya hubungannya dengan Hari, dia kemudian bertemu dengan sosok baru yang misterius dalam sebuah acara peluncuran produk sebuah alat berat. Sosok pendiam, ganteng, namun punya mata yang tajam dan misterius yang kemudian membuatnya ingin kenal lebih jauh setelah tahu siapa pria itu.

Statusnya sebagai duda tanpa anak, tidak menyurutkan rasa ketertarikannya kepada pria ini. Apalagi saat tahu cerita dibalik status dudanya, rasa iri akan mendiang istrinya yang begitu dicintai dengan luarbiasanya oleh sang suami, membuat rasa kagum Rani semakin bertambah.

Aslan memang punya pesona yang berbeda. Sukses di karir namun tertutup dalam hal pribadi, membuat sisi misteriusnya malah jadi daya tarik tersendiri, termasuk bagi wanita semenarik Rani yang harusnya dengan mudah mendapatkan pria idamannya.

Sayangnya, meski setelah pertemuan pertama itu, dan mereka kemudian lanjut dengan pertemuan-pertemaun lanjutan, entah itu secara formal saat ada acara-acara, atau saat hanya berdua saja dengan makan malam dan makan siang, signal dan 'permintaan' Rani seperti pertemuan yang lebih sering atau perhatian lebih dari Aslan, lebih banyak tidak berbalas sesuai apa yang dia inginkan.

Dan yang lebih buat galau lagi ialah meski sudah sering bertemu dan makan bersama, situasi hati dari Aslan sama sekali belum ada perubahan. Cantiknya dan pesona seorang Rani, seakan tidak membuat hatinya tergugah atau tertarik untuk lebih lanjut lagi.

Dalam beberapa kesempatan Rani sudah memberi signal, untuk acara liburan bersama, atau jalan berdua ke tempat yang lebih romantis, bahkan jika ada undangan pernikahan saat Rani mencoba mengajaknya, Aslan masih tetap saja tidak bergeming, dia selalu dengan berbagai alasannya yang klasik. Meski, kemudian dia menebus rasa bersalahnya dengan ajakan makan malam atau makan siang bersama. Pertemuan mereka berdua lebih banyak terjadi di meja makan restoran.

Aslan pun bahkan tidak ada rasa cemburu atau rasa yang berlebihan saat Rani terlihat akrab atau banyak yang mendekatinya, termasuk jika sedang di acara secara bersamaan. Dia tetap saja cool dan cuek melihat begitu banyak pria yang mencoba mendekati Rani. Sama cueknya ke wanita lain yang mencoba menarik perhatiannya.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED