Arsyila POV
Aku masih dalam keadaan syok. Hendra membuka tutup botol air mineral lalu menyodorkannya padaku.
Sebuah lagu rock yang keras tiba-tiba menggelegar dari radio mobil. Suaranya memecah keheningan yang menyesakkan.
"Terima kasih," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Dia hanya mengangguk, lalu memejamkan mata lagi. Punggungnya bersandar di kursi. Aku menebak dia pasti sangat lelah. Semalaman sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitek ternama.
Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya. Garis kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang tegas.
Aku meneguk air perlahan. Air dingin itu seperti obat penenang bagiku. Aku merasa sedikit lebih baik.
Mobil kembali berjalan, melaju di jalan utama. Perjalanan menuju Bali berlanjut.
Aku tahu ini adalah hadiah ulang tahun untuk Lydia. Fredi sendiri yang mengaturnya. Aku merasa seperti orang ketiga di perjalanan ini.
Lydia dan Fredi di depan, tertawa-tawa. Suara musik yang keras menutupi percakapan mereka. Tapi aku bisa tahu dari ekspresi Fredi, dia sangat menikmati obrolan dengan Lydia.
Aku dan Fredi sering bertengkar karena kedekatannya dengan Lydia. Setiap kali, Fredi selalu berjanji akan menjaga jarak. Tapi janji itu selalu buyar saat Lydia muncul.
Air mataku terasa menggenang. Semua usahaku sia-sia. Fredi tidak pernah berubah.
Aku tersenyum miris. Kenapa aku masih berharap?
Aku memalingkan wajahku ke jendela, mencoba mengalihkan perhatian. Pemandangan gunung yang berkelok-kelok terlihat indah. Ada beberapa bebatuan kecil yang meluncur dari tebing.
Mobil sedikit bergoyang. Lututku kembali menyentuh paha Hendra. Kali ini, sentuhannya lebih kuat, lebih lama.
Lutut kami menempel erat. Aku merasakan panas menembus kain celanaku. Aku ingin menarik diri.
Tapi mataku tidak sengaja melihat ke arah Lydia. Ada tanda kemerahan di lehernya. Sebuah cupang.
Hatiku mencelos. Aku tahu itu dari siapa. Fredi.
Darahku mendidih. Amarah yang selama ini kupendam, tiba-tiba melonjak. Aku tidak akan lagi menarik lututku.
Hendra tiba-tiba membuka matanya. Matanya menatapku lekat.
Aku berusaha terlihat tenang, membuang muka. Tapi aku tahu, pipiku pasti sudah memerah. Aku merasa terhina.
Aku menekan lututku ke pahanya. Aku ingin membalas dendam.
Aku merasakan otot pahanya menegang. Panas tubuhnya meresap ke kulitku.
Sensasi hangat itu merambat ke seluruh tubuhku. Aku merasa disengat listrik. Ada semacam rasa sakit yang menyenangkan di ujung-ujung sarafku.
Arsyila POV
Tenggorokanku terasa kering. Aku menelan ludah lagi.
Aku kembali meraih botol air mineralku. Air dingin itu terasa menenangkan. Mengurangi sedikit kecemasanku.
Air itu membuatku tersadar. Aku harus melakukan sesuatu.
Hendra tidak menarik kakinya. Dia membiarkan lutut kami tetap bersentuhan.
Hatiku seperti berhenti berdetak sesaat. Lalu berdetak kencang, nyaris tak terkendali.
Tiba-tiba, mobil berbelok tajam. Lydia menjerit kaget.
"Astaga, sayang! Pelan-pelan dong!" Lydia memukul-mukul dada Fredi manja.
"Maaf, Sayang. Ada anjing menyeberang," kata Fredi, tersenyum bangga. "Tapi kan aku jago nyetir, jadi aman."
Lydia mencium pipi Fredi. "Kamu memang yang terbaik, Sayang!"
Fredi melirikku dari kaca spion. "Untung tidak ada Arsyila di depan. Bisa-bisa dia pingsan," katanya, lalu tertawa. "Arsyila kan penakut."
Lydia menatapku, matanya berbinar. "Arsyila, kamu gak papa? Kamu kaget, kan?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menarik selimutku, menutup tubuhku. Aku merasa ingin menghilang.
"Aku baik-baik saja," kataku datar. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa berbicara. Aku hanya ingin membalas ejekan mereka.
Lydia terlihat kecewa. Fredi mengernyit. "Arsyila, kau kenapa? Jangan terlalu sensitif!"
"Aku hanya lelah, Fredi." Aku merasa sangat lelah. Lelah dengan semua ini.
Aku hanya berharap suatu hari nanti, Fredi juga akan merasakan hal yang sama. Aku berharap dia juga akan lelah.
Di bawah selimut, lututku semakin menempel erat pada paha Hendra. Mobil kembali bergoyang. Sentuhan itu semakin nyata.
Tiba-tiba, tangan Hendra merayap naik ke pahaku. Jantungku berdebar kencang.
Tangannya menyentuh kulitku. Telapak tangannya terasa panas. Panasnya menusuk hingga ke tulang.
Aku merasakan semua indraku menjadi lebih tajam. Terasa begitu nyata. Aku bisa merasakan kapalan tipis di jari-jarinya. Itu pasti karena pekerjaannya sebagai arsitek.
Jemari lembutnya mengelus kulitku. Aku menoleh ke arahnya, tanpa sadar.
Aku sempat melihat sekilas wajahnya. Dia duduk tegak, kerah kemejanya rapi. Rahangnya terkesan kokoh.
Ada gumpalan di tenggorokannya. Aku melihat jakunnya bergerak naik turun. Wajahnya yang tegas membuatku terpaku.
Hendra Alamsyah. Nama itu sudah familiar di telingaku sejak kuliah. Dia adalah arsitek terkenal, kakak sepupu Fredi. Tapi dia sangat pendiam dan misterius.
Kami jarang berinteraksi, hanya sebatas sapaan formal. Dia selalu menyendiri, tidak suka keramaian pesta Fredi.
Fredi sering mengejeknya karena terlalu "suci". "Hendra itu seperti biksu, Arsyila. Tidak pernah dekat dengan wanita," kata Fredi suatu kali. "Padahal usianya sudah tiga puluh lima tahun."
Dulu, aku mengaguminya dari jauh. Dia seperti bintang yang tak terjangkau.
Aku pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Saat itu aku sedang sakit. Aku sangat malu, karena harus diperiksa olehnya.
Tapi dia sangat profesional. Itu membuatku sedikit tenang. Aku pikir, baginya, aku hanya pasien biasa.