Bab 2

Dunia Rhea masih terasa berputar. Suara tamu yang bersorak dan memberikan selamat terasa seperti gema yang jauh, tak nyata. Ia duduk kaku di pelaminan, jari-jarinya gemetar di pangkuannya, sementara di sampingnya, Kaelan Castor berdiri dengan rahang mengeras, pandangan matanya tajam namun tak bernyawa.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Ketika prosesi pernikahan berlanjut, semua terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Senyuman para tamu, kilatan kamera, suara musik-semuanya terasa asing. Rhea ingin bertanya, ingin berteriak, ingin tahu mengapa semua ini terjadi.

Namun, saat ia mencoba berbicara, bibirnya terasa kering.

Satu-satunya orang yang bisa ia tatap dengan marah adalah ibunya, yang berdiri di antara para tamu dengan ekspresi bersalah. Namun, tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan.

Satu jam kemudian, setelah semua tamu pulang, dan rumah keluarga Castor mulai lengang, Rhea akhirnya mendapatkan kesempatannya.

Dengan langkah cepat, ia menarik lengan Kaelan saat pria itu hendak pergi.

"Tunggu!" suara Rhea bergetar, antara marah dan putus asa. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku menikah denganmu?"

Kaelan menoleh pelan, sorot matanya seperti mata badai. "Kau baru sadar sekarang?"

Rhea mengepalkan tangannya. "Jawab aku."

Pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya menyelubungi udara di antara mereka. "Seharusnya orang lain yang berdiri di sana tadi," ucapnya dingin.

Jantung Rhea berdebar. Ia sudah menduganya, tetapi mendengarnya langsung dari Kaelan membuatnya ingin menjerit.

"Siapa?" tanyanya, meski dalam hatinya ia sudah bisa menebak.

Kaelan tertawa tipis, tapi bukan tawa bahagia. "Saudara tirimu."

Rhea membeku.

Selene.

Tentu saja. Gadis itu yang seharusnya menikah hari ini. Putri kesayangan dari pernikahan kedua ayahnya, yang selalu mendapatkan segalanya tanpa perlu berusaha.

Jadi... ia hanya pengganti Selene?

"Kau tidak perlu panik," lanjut Kaelan. "Aku tidak menginginkan pernikahan ini lebih dari yang kau inginkan."

"Lalu kenapa kau tetap mengucapkan qabul tadi?" suara Rhea meninggi, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Kaelan menatapnya seakan ia bodoh. "Karena aku tidak punya pilihan."

Rhea hampir tertawa. "Dan kau pikir aku punya?"

Hening menyelimuti mereka.

Kaelan akhirnya mengembuskan napas panjang. "Mulai malam ini, kau adalah istriku. Tapi jangan pernah berpikir ada pernikahan yang nyata di antara kita."

Kata-katanya menusuk lebih tajam dari pisau.

Tanpa menunggu reaksi darinya, Kaelan melangkah pergi, meninggalkan Rhea berdiri di tengah ruangan dengan hati berantakan.

Ia tidak pernah meminta pernikahan ini. Ia tidak pernah ingin menjadi istri seseorang yang bahkan tidak menginginkannya.

Namun, takdir telah memutuskannya untuknya.

Dan sekarang, ia harus mencari cara untuk bertahan di dalam neraka yang baru saja ia masuki.

Bab 3

Malam pertama sebagai istri Kaelan Castor terasa seperti sebuah hukuman yang tak berkesudahan. Rhea duduk di sisi tempat tidur, menatap ke ruang besar yang kini menjadi kamarnya. Hanya ada dirinya, lampu redup, dan perasaan cemas yang semakin menghimpit dadanya.

Kaelan tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka kembali ke kamar mereka. Setelah beberapa saat berbincang dengan beberapa tamu yang tersisa, dia langsung pergi ke ruang kerjanya tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Rhea, yang belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, merasa hampa.

Satu hal yang ia tahu pasti adalah pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah pengganti. Ia bukanlah wanita yang Kaelan pilih. Ia hanya alat, sebuah perjanjian keluarga yang dipaksakan tanpa suara.

"Jadi, inilah rumah tangga yang harus kujalani?" bisiknya, menatap cermin besar di samping tempat tidur. Refleksinya tampak begitu berbeda dengan dirinya yang dulu.

Rhea tidak pernah membayangkan kehidupannya akan berakhir seperti ini-terperangkap dalam ikatan pernikahan dengan pria yang bahkan tidak peduli padanya. Di luar, dunia tampak bergerak seperti biasa, sementara ia merasa terjebak di dalam sebuah kerangka kehidupan yang tidak pernah ia inginkan.

Selama beberapa minggu pertama pernikahan mereka, Kaelan tetap menjaga jarak. Rumah tangga mereka berjalan seperti dua dunia yang terpisah, dengan Rhea menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang istri yang diabaikan, sementara Kaelan sibuk dengan pekerjaannya.

Ia tidak pernah diberi kesempatan untuk berkomunikasi lebih dalam dengan suaminya. Setiap kali mereka bertemu, itu hanya berkisar tentang formalitas-makan malam bersama, rapat dengan keluarga Castor, dan pertemuan bisnis yang Kaelan ikuti tanpa mempedulikannya.

Suatu malam, saat Rhea sedang membersihkan ruang makan setelah makan malam, Kaelan masuk tanpa sepatah kata. Pemandangannya dingin seperti biasa, tapi malam itu ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya-sesuatu yang membuat Rhea merasa tidak nyaman.

"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Rhea dengan suara rendah, berusaha menahan perasaan yang mulai terpendam.

Kaelan menghentikan langkahnya dan menatapnya tajam. "Kau merasa nyaman di sini?"

Rhea terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa aneh-tidak ada kata kenyamanan dalam hubungan mereka, dan dia tahu itu. "Tidak. Tapi ini adalah rumah kita, bukan?" jawabnya, dengan nada yang lebih tajam daripada yang ia maksudkan.

Kaelan berjalan mendekat, dan Rhea bisa merasakan ketegangan yang begitu jelas di udara. Ia tahu bahwa percakapan ini tidak akan mudah, tapi ia tidak bisa lagi hidup dalam ketidakjelasan.

"Jika kau merasa tidak nyaman," Kaelan berkata perlahan, "mungkin itu karena kau bukanlah wanita yang seharusnya berada di sini."

Rhea menelan ludahnya, rasa sakit menyelusup ke dalam dadanya. "Kau tahu apa yang aku rasakan, Kaelan. Ini bukan pilihan kami berdua."

Kaelan menarik napas panjang. "Kita terjebak dalam situasi ini karena keluarga kita. Tidak lebih dari itu."

Itulah kenyataannya. Mereka berdua terjebak dalam pernikahan ini bukan karena keinginan mereka, tetapi karena sebuah keputusan yang dibuat tanpa melibatkan mereka. Dan meskipun Rhea merasa terhina, ia tahu ia tidak bisa keluar begitu saja. Ia terperangkap dalam permainan ini, bersama Kaelan.

Namun, dalam kedalaman hatinya, Rhea merasakan sesuatu yang lain-sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kebencian atau kebingungannya. Sebuah ketegangan yang perlahan tumbuh antara mereka, seiring dengan ketidakpastian yang semakin menggerogoti. Ada perasaan yang saling berbenturan-entah itu permusuhan, atau malah ketertarikan yang sulit diakui.

Malam itu, Kaelan tidak berkata apa-apa lagi. Dia meninggalkan Rhea dengan kata-kata yang menggantung di udara, meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan terus menjalani kehidupan ini, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, ataukah sebuah kecelakaan tak terduga akan memecahkan ikatan ini?

Hanya waktu yang akan memberi jawabannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED