"Apa aku harus menunggumu, Kak?" Zahra dan Erlangga masih berunding untuk hubungan mereka ke depannya.
"Jika memang aku belum mampu menjadi lebih baik, aku ikhlas kamu di jodohkan dengan pria lain, Ra." Erlangga menatap mata sayu itu dengan sendu.
"Aku percaya padamu, Kak. Aku akan berdoa supaya Kakak bisa cepat datang kembali melamarku." Zahra berusaha untuk pasrah. "Aku yakin Kakak bisa," ucapnya lagi dengan lirih.
Mereka akhirnya hanya bisa saling memandang dan mengeratkan pegangan tangannya. Memberi semangat satu sama lain. Pandangan mereka beradu cukup lama menyelami apa yang kini mereka rasakan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah sementara waktu. Berharap keajaiban restu dari ayahnya Zahra. Berharap cinta mereka akan tetap terjaga walau nanti mereka akan berpisah.
Erlangga dengan pikirannya yang harus memutar otaknya untuk mencari cara bagaimana dia akan membuktikan pada ayah Zahra jika dirinya layak untuk Zahra. Zahra dengan pikirannya yang mungkin harus pasrah jika mereka harus berpisah. Berharap Erlangga akan segera kembali dan melamarnya lagi sebelum dirinya di jodohkan dengan pria lain.
'Ya Allah, apa aku akan sanggup untuk berpisah dengan pria yang aku cintai? Aku merasa tak sanggup rasanya,' batin Zahra.
'Apa mungkin aku harus pulang ke rumah Papa? Ya, mungkin itu akan lebih baik. Aku akan buktikan jika aku bisa lebih baik.' Erlangga pun bergumam dalam hatinya.
*******
Malik berpikir keras mencari pria untuk di jodohkan dengan putrinya. Malik tak ingin putrinya berhubungan dengan seorang preman yang urakan itu. Bagaimanapun caranya Malik akan memisahkan mereka jika mereka masih saja berhubungan. Lalu Malik pun teringat dengan teman karibnya yang memiliki anak pria soleh. Malik pun segera mengambil benda pipihnya untuk mencari kontak sahabatnya itu.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan bibir tersenyum senang.
Obrolan Malik terdengar begitu bahagia saat menjawab lawan bicaranya bicara di sebrang sana. Suara tawa renyah dan senyuman pun terus terukir di bibir Malik. Sampai akhirnya Malik mengakhiri obrolannya dan menutup sambungan telpon itu.
"Alhamdulillaah, aku lega kalau gini, he he."
Malik beranjak mencari keberadaan sang putri. Malik mengetuk pintu kamar Zahra yang kini berada di kamar. Setelah kejadian penolakan hubungannya dengan Erlangga, Zahra jadi sering mengurung diri. Seperti kehilangan keceriaan dan semangat hidupnya.
Tok! Tok! Tok!
"Ra, buka pintunya! Ayah ingin bicara." Malik menunggu pintu itu di buka.
Krieet ...
Pintu itu pun terbuka. Nampak seorang gadis yang terlihat lemah tak ceria membuka pintu itu. Zahra berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan kesedihannya. Namun, Malik tetap tahu jika putrinya masih memikirkan Erlangga.
"Ada apa, Ayah?"
"Ck, kamu terlihat sombong sekali pada Ayah, Zahra. Apa karena pria urakan itu?" Malik sedikit menyentak.
Sifat Malik yang memang keras dan tak bisa di tentang. Terkadang Aisyah, ibu dari Zahra pun harus sering mengalah saat berdebat dengan suaminya. Begitupun dengan Zahra kali ini, tak mungkin bisa menentang keinginan dan larangan dari ayahnya.
"Bukan begitu, Ayah. Zahra minta maaf," ucapnya menundukkan wajahnya mengalah.
"Ayah tunggu kamu di ruang kerja. Sekarang kamu perbaiki dulu wajah kamu yang tak enak di lihat itu!"
Zahra menghembuskan napasnya setelah kepergian Malik. Hatinya begitu berat seperti memiliki feeling tak enak atas ucapan ayahnya barusan. Namun, Zahra sadar jika dirinya tak mungkin bisa menentang. Dengan berat hati Zahra melangkahkan kakinya menuju di mana ayahnya menunggu dirinya.
Terlihat Aisyah, sang ibu tengah duduk di samping ayahnya. Wajah lembut penuh perhatian itu kini tengah menatapnya sedikit iba. Tentu saja Aisyah pun tak bisa berbuat apa-apa atas apa yang sudah menjadi keputusan suaminya.
"Assalamualaikum," ucap Zahra pelan sambil masuk keruangan itu lalu duduk di samping ibunya.
"Ra, apa kamu baik-baik saja, Nak?" Sapa sang ibu dengan lembut dan mengusap punggung Zahra yang menunduk.
"Insya Allah, Zahra baik-baik saja, Bu." Zahra mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman tipisnya pada Aisyah.
"Ra, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Untuk masa depanmu." Aisyah terus mengusap punggung Zahra dengan lembut.
Zahra pun kembali terisak. "Zahra tahu, Bu."
Aisyah merasa iba pada nasib cinta sang putri yang harus berpisah dengan pria yang di cintainya karena terhalang restu dari ayahnya. Walau bagaimanapun Aisyah pernah muda dan tahu bagaimana rasanya putus cinta. Akan tetapi, tak ada bisa dilakukannya saat ini kecuali memberikan pengertian dan semangat pada putrinya.
"Ayah sudah menemukan pria yang cocok untukmu, Zahra. Besok mereka akan ke sini untuk bersilaturahmi terlebih dahulu." Malik menatap Zahra penuh penekanan. "Jadi, Ayah harap kamu jangan pernah menangisi pria urakan itu lagi!"
Ucapan Malik bagai petir di siang bolong untuk Zahra. Zahra berpikir jika tidak akan secepat itu ayahnya mencari pengganti Erlangga untuknya. Tentu saja karena dirinya belum siap.
"Tapi Ayah, berikan Kak Erlangga waktu untuk mem-"
"Apa kamu percaya jika preman itu akan berubah menjadi pria yang Ayah inginkan?" Malik menatap Zahra tajam. "Ayah semakin bertekad untuk menjauhkan kamu darinya. Lihat saja kamu sekarang, kamu membangkang terus pada Ayah," ujar Malik lagi dengan amarahnya.
"Istirahatlah, Ra. Besok keluarga Andi akan ke sini. Mereka ingin bersilaturahmi dan ingin mempertemukan putranya denganmu."
Zahra pun beranjak dari duduknya dengan isakan tangis pilu. Pikirannya hanya pada Erlangga yang sudah dua hari tak bertemu dengannya. Bahkan mereka pun tak di perbolehkan bertemu, Zahra hanya bisa mengirim pesan pada Erlangga jika mungkin dirinya akan di jodohkan.
'Ku mohon, Kak. Datanglah kembali melamarku, Kak. Aku tidak mau di jodohkan.' Zahra menyembunyikan wajahnya ke balik bantal.
Zahra terus menangis di atas bantalnya. "Kak, kamu di mana sih? Aku tidak mau di jodohkan dengan pria lain, hikz."
Zahra melihat aplikasi hijau dan langsung melihat balasan dari Erlangga. Zahra semakin menangis karena Erlangga menyuruhnya untuk tak membangkang pada ayahnya. Erlangga memutuskan untuk berpisah dan ikhlas jika Zahra mau di jodohkan karena dirinya belum mampu berubah seperti yang inginkan ayah Zahra.
******
"Assalamualaikum," ucap seorang pria dewasa memakai peci putih dengan wajah berseri, bersama dengan pria muda berpeci hitam yang sama-sama tersenyum merekah.
"Waalaikum salam," jawab Malik dan Aisyah serentak, Malik pun langsung menghampiri ke arah suara itu dengan senyum mengembang.
"Masya Allah, Santosa. Mari masuk." Malik mempersilahkan sahabatnya untuk masuk, lalu menoleh pada pria muda yang menurutnya begitu sempurna."Apa ini putramu, San?"
Santosa menoleh pada putranya. "Iya, semoga saja mereka bisa cocok ya."
"Aku yakin mereka akan cocok, San. Masuk masuk! Kita ngobrol di dalam."
Mereka pun masuk dengan berbagai tawa renyah. Zahra yang mendengar tawa itu dari kamarnya semakin ingin menangis. Karena sudah pasti sebentar lagi ayahnya akan memanggilnya.
"Kak, aku rindu kamu, hik." Zahra tak tahu apa yang terjadi saat ini pada Erlangga karena kini dirinya tak bisa bertanya tentang kabar Erlangga karena handphonenya di sita oleh Malik.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kamarnya di ketuk. Zahra buru-buru menyeka air matanya dan segera merapikan wajahnya dari air mata. Lalu beranjak membuka pintu.
"Iya Ibu, ada apa?"
Aisyah menatap wajah sang putri dengan lembut. Senyum manis serta mata teduh itu selalu tahu apa yang terjadi pada putrinya.
"Bersihkan wajahmu, Ra. Ayah menunggumu di ruang tamu. Ibu mohon untuk tidak mengecewakan Ayah, karena kamu tahu sendiri bukan bagaimana Ayah?"
Zahra mengangguk lalu memeluk ibunya dengan erat. "Zahra cinta sama Kak Erlangga Bu, hik," lirihnya dengan isakan.
Aisyah bingung harus berbuat apa karena suaminya tak akan mau di tentang. "Jika kalian memang jodoh, kalian akan bertemu lagi. Bukankah rezeki, jodoh dan maut itu adalah rahasia Allah? Yakinlah dengan Kehendaknya, jangan lupa untuk memintanya pada Sang Pemilik hati."
Ucapan lembut serta nasehat Aisyah selalu mampu meredakan kesedihan Zahra. Zahra akhirnya mengangguk dan segera membersihkan wajahnya. Berusaha untuk kuat dan tetap tenang. Zahra selama ini lupa dengan apa yang barusan ibunya katakan jika jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia Allah.
"Bismillah ya Allah, aku pasrahkan pada-Mu semuanya." Zahra memejamkan matanya sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke tempat di mana dirinya tengah di tunggu.
"Nah, itu Zahra. Putri Om Nak Andi," ujar Malik saat Zahra baru datang dan duduk di samping ibunya.
"Bagaimana Nak Andi, apa Nak Andi setuju, he he."
Ternyata pria muda itu bernama Andi. Putra dari Santosa, sahabat karib Malik. Andi menatap Zahra yang menunduk dan meremas jarinya. Senyuman dari bibir Andi pun melukiskan jika dirinya tertarik pada Zahra yang memang memiliki wajah cantik.
"Zahra, coba kenalan dulu dong pada calon mertuanya, he he."
Zahra sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Sedikit menarik napasnya dalam untuk melepaskan beban di harinya. Baru setelah itu mengangkat wajahnya.
"Apa kabar, Om? Saya Zahra."
"Loh, ko cuma calon mertuanya saja sih yang di tanyain kabar, calon suaminya juga dong, he he."
"Kau tak perlu seperti itu pada putrimu, Lik. Aku yakin jika putrimu ini memang gadis baik makanya begitu menjaga diri dan pandangannya iyakan, Di?" Santosa menoleh pada Andi yang mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah Om baik, Nak."
"Jadi, bagaimana Nak Andi? Apa Nak Andi menyukai putri Om?"
Andi kembali melirik dan menatap Zahra yang kembali menunduk. "Kalau saya insya Allah, Om. Cuma mungkin Zahranya bagaimana?"
"Nak Andi tak perlu khawatir untuk Zahra. Dia pasti setuju, bukan begitu, Ra?" Malik menatap tajam Zahra yang kini menatapnya takut.
"Iya, Kak."
"Alhamdulillaah, kalau begitu kapan kita resmikan acara lamarannya? Aku sudah tidak sabar ingin punya cucu, he he."
"Kau ini, San, San. Baru juga mereka bertemu udah ngomongin cucu aja, he he."
"Aku sangat menyesal, Lik. Kenapa aku tak ingat pada putrimu dari dulu. Aku itu sudah berusaha mencari jodoh untuk anakku tapi belum dapet juga. Andi juga suruh nyari sendiri iya iya doang, he he."
"Ayah, memang mungkin kemaren itu Andi belum saatnya menikah."
"Lalu sekarang sudah saatnya begitu?"
Malik dan Santosa tertawa riang dengan penuh kebahagiaan saat tahu jika Andi menyukai Zahra. Karena itu artinya Zahra tidak akan berhubungan lagi dengan Erlangga. Hati mereka sangat bahagia terlebih Malik. Berbeda dengan hati Zahra yang masih belum bisa menerima jika harus berpisah dengan Erlangga.
Di sudut halaman rumah Zahra yang terdengar nyaring tawa bahagia, seorang pria urakan tengah menyimak semua obrolan itu. Erlangga yang masih bingung harus bagaimana hanya bisa menahan emosinya karena sebentar lagi Zahra akan dilamar pria lain.
"Aakkkhh, sial*n! Aku harus apa, Ra? Aku tak ingin kamu menikah dengan pria lain. Tapi aku sadar masih belum layak untukmu. Apa aku harus ikhlas, Ra?"
Erlangga terus mengumpat dan memaki dirinya yang belum bisa membuktikan cintanya pada ayah Zahra. Erlangga kembali berpikir keras untuk bisa merubah dirinya agar bisa lebih baik. Erlangga yakin jika dirinya bisa berubah hanya saja belum tahu bagaimana caranya.
"Aku harus segera pulang ke rumah Papa," tekad Erlangga terus masih menatap ke arah suara tawa senang itu dengan kepalan tangan dan rahang yang menonjol keras. "Aku akan kembali lagi nanti, Ra. Ku harap kamu masih mau menerimaku nanti." Erlangga memejamkan matanya pasrah dengannya saat ini.