Bab 2

Seperti yang sudah hantu wanita itu katakan, kalau dia akan terus mengikuti Erina ke mana pun Erina pergi. Dan dia benar-benar melakukannya seperti sekarang ini, Erina sedang berbelanja bulanan di supermarket dan hantu wanita itu berada begitu dekat dengannya. Sesekali Erina merinding karena hawa dingin yang diciptakan wanita itu.

Setelah mendapatkan semua barang dan bahan makanan yang Erina perlukan, dia berjalan menuju kasir. Membayar belanjaannya.

Erina menoleh kesal ketika dia sudah tiba di rumah. Hantu wanita itu menatapnya tenang. Erina berjalan ke dapurnya dan mengambil kotak garam. "Aku benar-benar akan melempari kamu dengan ini jika kamu masih mengikutiku," ancam Erina.

"Maaf kalau kehadiranku mengganggumu, Erina. Tapi aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku," ucap hantu cantik itu lirih. Erina mendesah pelan. Dia kesal dengan rasa kemanusiaannya yang tinggi.

"Kamu berjanji pergi kalau aku sudah menemui suamimu?" tanya Erina yang di balas anggukan senang dari wanita berwajah pucat itu.

"Di mana aku harus menemuinya?" tanya Erina lagi. Dia akan melakukannya dengan cepat. Setelah itu dia akan kembali dengan dunia ter-nyamannya.

"Di kantornya. Aku lupa alamatnya, tapi aku bisa menuntun mu sampai ke sana." Erina mengangguk kecil.

"Sebelum itu, aku harus tahu dulu nama kamu semasa masih hidup." Erina harus memiliki rencana yang matang untuk bertemu dengan pria itu. Jika dia tiba-tiba datang dan meminta pria itu untuk tidak bersedih, bisa-bisa dia kira gila.

"Sera. Mutia Seraphine," jawab hantu wanita itu setelah dia terdiam cukup lama. Semakin lama, ingatan semasa dia hidup semakin memudar. Jadi sebelum dia melupakan semuanya, dia harus meninggalkan dunia manusia.

"Nama suami kamu?"

"Eldrick Damiano." Kali ini dia menjawab dengan lancar.

"Aku tidak asing dengan nama itu," kata Erina pelan. Dia berusaha mengingat di mana dia pernah mendengar nama itu. Namun seberapa keras pun usahanya, tetap dia tidak mengingatnya. Mungkin dia hanya pernah mendengar nama itu sekilas.

"Besok aku kerja masuk siang. Jadi, pagi kita bisa pergi ke kantor tempat dia bekerja."

***

"Apa masih jauh?" tanya Erina ketika dia berhenti karena lampu lalu lintas berganti merah. Saat ini mereka sudah berada di tengah jalan raya menuju kantor Eldrick.

"Mbak ngomong sama saya?" Seorang pengendara pria yang berhenti tepat di samping Erina bertanya dengan raut bingung.

Erina tersenyum kikuk lalu menunjuk headset bluetooth yang menempel di telinganya. Beruntung dia memakainya tadi. Erina membenarkan helm nya lalu mulai melajukan motornya karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

"Tidak, sudah dekat," Jawab Sera datar.

"Di sana." Sera menunjuk gedung pencakar langit yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

"Kamu yakin?"

"Iya."

Erina kemudian mencari tempat parkir untuk motor. Sedikit kesulitan karena memang tempat parkir motor cukup jauh dari gedung utama. Erina mengipasi wajahnya menggunakan tangan kanannya, cuaca hari ini cukup terik membuat dia berkeringat dan kepanasan.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya resepsionis begitu Erina berdiri di sana.

"Saya ingin bertemu dengan Eldrick Damiano," jawab Erina lugas. Resepsionis itu lalu mengamati penampilan Erina.

"Sudah buat janji?"

"Belum, tapi saya ingin menyampaikan pesan penting dari mendiang istrinya," kata Erina. Dia mencari keberadaan Sera yang sejak di parkiran tadi menghilang. Dasar hantu tidak bertanggung jawab!

"Baik, di tunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau." Erina tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.

Si resepsionis itu berbicara sambil sesekali mengamati Erina dari bawah ke atas. Erina sampai risih di buatnya.

"Maaf, dengan Mbak siapa?" Resepsionis itu bertanya seraya menjauhkan gagang telepon dari telinganya.

"Erina," jawab Erina cepat. Kemudian si resepsionis yang bernama Dini itu kembali berbicara di telepon. Lalu tidak lama dia meletakkan kembali gagang telepon setelah pembicaraannya berakhir

"Boleh minta kartu identitasnya, Mbak?" Erina mengeluarkan kartu identitasnya dari dalam tas lalu memberikannya pada si resepsionis. Resepsionis itu kemudian memberikan Erina kartu tamu sebagai kartu akses untuk masuk ke dalam.

"Sementara kartu identitasnya saya pegang iya, Mbak. Nanti setelah keluar dari ruangan Pak Eldrick bisa ambil lagi kartu identitasnya di saya," ucap si resepsionis itu dengan sopan.

"Oh iya, ruangan Pak Eldrick ada di lantai lima puluh iya, Mbak," tambah si resepsionis bernama Dini itu.

"Makasih, Mbak," ucap Erina sebelum dia meninggalkan lobby.

Erina menempelkan kartu tamu miliknya untuk membuka lift yang akan mengantarkannya ke ruangan Eldrick. Erina kemudian menekan tombol angka limapuluh. Dia dalam kotak besi itu hanya ada dirinya seorang. Mungkin karena jam kantor sudah mulai sejak dua jam yang lalu jadi, tidak ada karyawan yang berlalu lalang. Menunggu selama beberapa saat Erina akhirnya tiba di lantai limapuluh. Dia disambut oleh seorang wanita dengan penampilannya yang sangat rapi.

"Perkenalkan, saya Rinda sekretaris Pak Eldrick. Mari saya akan mengantar Anda ke ruangan beliau," sapa wanita itu datar. Erina mengikuti wanita bernama Rinda itu dengan jantung berdebar gugup. Dia yakin kalau suami Sera bukan pria sembarangan, dia mulai ragu dengan langkah yang dia pilih. Namun, dia sudah terlanjur berada di sini.

"Baiklah, Erina mari lakukan dengan cepat," bisik Erina pada dirinya sendiri.

"Silakan masuk, beliau sudah menunggu," kata sekretaris Eldrick lagi.

"Terima kasih,Mbak," ucap Erina tulus. Wanita itu hanya mengangguk. Erina lalu memasuki ruangan bernuansa hitam putih tersebut. Matanya langsung menangkap keberadaan seorang pria di balik meja kerja. Erina menggigit bagian dalam pipinya untuk mengurangi rasa takut karena tatapan tajam dan menusuk yang dilayangkan pria itu untuknya.

"Dari mana kau mengenal istriku?" pertanyaan dengan sarat nada mengancam itu masuk ke telinga Erina.

"Saya sebenarnya tidak terlalu mengenalnya," jawab Erina jujur.

"Lalu pesan apa yang kau sampaikan?" Eldrick kembali bertanya dan kali dengan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum sinis. Sejak istrinya meninggal empat bulan yang lalu ada banyak murahan yang melemparkan diri padanya. Mereka melakukan berbagai cara bahkan dengan cara paling rendahan dan menjijikkan. Dan wanita di depannya ini ada yang bernyali karena berani menyebut mendiang istrinya. Eldrick mengepalkan tangan erat, rasanya dia ingin sekali meninju wajah sok polos wanita itu.

"Sera meminta agar Anda tidak bersedih lagi, dia mengatakan supaya Anda merelakan kepergiannya," ucap Erina pelan.

"Berapa uang yang kau inginkan?" Lagi-lagi pertanyaan dilontarkan Eldrick. Dan kali ini pertanyaan yang dia ajukan membuat kerutan yang cukup dalam di kening perempuan itu. Erina menoleh bingung, dia merasa tidak menyinggung soal uang sejak tiba di ruangan itu.

"Saya tidak ingin menginginkan uang." Erina menjawab pelan. Dia kemudian menunduk karena tidak berani beradu pandang dengan Eldrick. Tatapan pria itu seolah-olah mengulitinya.

Eldrick mengamati penampilan wanita itu dari atas hingga bawah, tidak ada yang terlewat sedikit pun dari pengamatannya. Penampilannya sangat sederhana dan itu mengingatkannya dengan awal-awal kebersamaannya dengan Sera dulu. Eldrick mendengus sinis, bakan wanita itu meniru Sera untuk menarik perhatiannya.

"Lalu apa yang kau inginkan? Tubuhku?" Erina menggeleng, dia semakin bingung dengan topik pembicaraan pria itu.

"Tidak perlu munafik! Kau bahkan berdandan seperti Sera, kalau bukan untuk menarik perhatianku memangnya untuk apa lagi?"

"Maaf, tapi saya memang tidak bermaksud untuk melakukan hal Anda tuduhkan. Kedatangan saya ke sini murni karena saya ingin membantu Sera."

"Apa kau pikir aku percaya? Aku mengenal Sera, aku juga mengenal siapa saja yang berteman dengannya." Eldrick menggebrak meja di depannya. Dia benar-benar emosi melihat wanita di depannya itu.

"Keluar dari ruangan ku sekarang! Dan jangan pernah tunjukkan wajah munafik kamu di hadapanku lagi. Menjijikkan!" ucap Eldrick sinis.

Erina berdiri dengan tubuh gemetar, dia menangkap keberadaan Sera di ruangan itu dengan wajah pucat-nya. Erina berbalik lalu keluar dari ruangan itu dengan kekesalan yang sempurna. Dia memaki-maki Eldrick dalam hati menyumpahi pria itu kesepian seumur hidup.

"Laki-laki sialan!" kesal Erina begitu dia tiba di parkiran.

"Kamu pikir aku dengan suka rela datang dan bertemu orang sombong sepertimu? Dasar tidak punya hati!" teriak Erina, tidak peduli pada beberapa orang yang lewat menatapnya dengan tatapan penasaran. Erina mengeluarkan kunci motornya lalu meninggalkan tempat itu. Dia berjanji tidak akan mau lagi bertemu dengan Eldrick.

Erina berkendara menuju Nine Market, jam kerja tiga puluh menit lagi. Dia memacu motornya dengan kecepatan sedang, dia tidak terlalu terburu-buru. Moodnya sedang tidak baik, takutnya dia malah membuat celaka dirinya sendiri.

"Erina?"

Erina menoleh lalu tersenyum tipis pada pria yang memanggil namanya itu. Raditya Erlangga, merupakan Pimpinan Lokasi di Nine Market. Pria itu adalah atasan Erina dan tiga orang lagi yang bekerja di Nine Market. Total pekerja yang ada di sana memang hanya mereka berlima dan Raditya biasanya hanya berkujung tiga kali dalam seminggu karena dia juga memegang Nine Market cabang lainnya.

"Siang, Mas," sapa Erina. Saat ini dia sudah berada di parkiran Nine Market.

"Kamu libur?" Raditya sembari berjalan semakin dekat dengan Erina.

"Oh, enggak, Mas."

"Lalu?" Raditya melihat baju yang Erina kenakan.

"Eh, aku bawa ganti, Mas." Erina membuka bagasi motornya lalu mengeluarkan seragamnya yang terbungkus rapi menggunakan plastik berwarna merah. Raditya mengangguk paham.

"Izin ke dalam duluan, Mas."

"Oh iya, silakan," balas Raditya memberikan jalan pada perempuan itu. Raditya terus menatap Erina hingga perempuan itu menghilang di balik pintu karyawan. Gadis itu telah mencuri hatinya sejak pertama kali Erina bekerja di sana tiga tahun lalu. Raditya ingin sekali mengungkapkan perasaannya namun, melihat sikap Erina dia urung mengatakannya. Gadis itu sangat tertutup, tidak satu pun dari tiga karyawan lainnya yang dekat dengannya. Erina selalu menjaga jarak, dia tahu itu.

Tapi kali ini Raditya sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya. Dia sudah terlalu lama memendamnya dan Erina harus jadi miliknya. Karena Raditya begitu mencintai gadis pendiam itu.

Raditya masuk ke dalam Nine Market dan menemukan Erina sedang duduk di ruangan khusus karyawan. Perempuan itu sedang memoles wajahnya dengan riasan tipis kemudian menyatukan rambut panjangnya dan ikat kuat membentuk ekor kuda.

"Erina."

"Iya, Mas," jawab Erina cepat.

"Kamu tetap cantik walaupun tanpa riasan wajah," kata Raditya kemudian berlalu meninggalkan Erina dengan wajah kaku.

Bersambung...

Bab 3

Erina menutup meja kasir setelah selesai menghitung omset, hari ini dia tidak perlu lembur karena memang dari jam sembilan tadi, toko sudah sepi. Hari ini dia bernapas lega karena tidak ada barang yang minus.

"Klop, Rin?" tanya teman satu shift-nya. Putri namanya.

"Iya," jawab Erina pendek, "kamu sudah selesai? Butuh bantuan?" Erina balik bertanya. Putri sedang membersihkan lantai minimarket agar besok pagi tidak perlu bersih-bersih lagi. Hal ini memang sudah menjadi aturan tertulis. Saat tutup, toko harus di tinggalkan bersih.

"Sudah kok, ini tinggal buang air bekas ngepel tadi." Erina mengangguk lalu masuk ke dalam ruang khusus karyawan, lalu dia membuka pintu kantor Raditya. Erina menghampiri brankas yang tersembunyi di balik lemari kabinet, dia menyimpan omset di sana lalu menguncinya lagi.

Saat dia keluar, Putri sudah siap untuk dengan tas yang menggantung di bahunya. Erina mengambil tas miliknya lalu mereka bergegas keluar dari toko. Karena sama-sama membawa motor keduanya berpisah di parkiran.

Erina membuka pintu rumahnya dengan wajah lelah. Dia menyalakan seluruh penerangan lalu pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, Erina pergi ke dapur kemudian membuka bungkusan nasi goreng yang dia beli di jalan tadi.

Erina teringat lagi hal yang dia alami hari ini. Bertemu dengan Eldrick benar-benar membuatnya kesal. Hal itu terbawa sampai ke pekerjaannya. Erina akui kalau hari ini tidak profesional dalam bekerja. Penyebabnya tentu saja Eldrick Sialan Damiano.

***

Eldrick mendadak bersin dengan keras. Pria itu sedang duduk di balkon kamarnya sembari mengisap batang rokok dengan frustrasi. Sejak istrinya meninggal, dia kesulitan untuk tidur. Eldrick rutin mengonsumsi obat tidur agar dia bisa beristirahat.

"Aku merindukan kamu, Sayang," bisik Eldrick lirih. Sampai saat ini dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena istrinya meninggal tepat ketika dia berada di Luar Negeri. Sera, mendiang istrinya saat itu sedang hamil besar. Usia kandungannya memasuki minggu ke tigapuluh enam. Dokter memperkirakan kalau Sera akan melahirkan dua minggu atau tiga minggu lagi namun, dua hari setelah dia berada di Amerika untuk urusan pekerjaan, dia mendapat kabar kalau istrinya meninggal setelah melahirkan putri mereka. Tidak lama setelah istrinya meninggal putrinya pun menyusul sang Ibu.

Jika saja saat itu Eldrick tidak pergi mungkin dia masih bisa melihat istrinya sekarang. Hal ini merupakan penyesalannya seumur hidup.

Eldrick berdiri lalu pindah ke kamarnya. Di sana dia berhenti tepat di tengah ruangan menghadap sebuah foto pernikahan yang menggantung di atas kepala ranjang tidurnya. Ada ribuan kata yang ingin dia ucapkan. Tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang begitu dalam.

Perhatian Eldrick teralihkan ketika pintu kamarnya di ketuk dari luar. Pria itu berjalan menunju pintu kemudian membukanya.

"Maaf, Tuan. Di depan ada Nona Camila," kata pekerja rumah tangga Eldrick. Wanita paruh baya itu terlihat tidak enak hati telah mengganggu waktu istirahat Tuannya.

"Ada perlu apa dia ke mari?"

"Nona Camila bilang ada yang ingin dia bicarakan dengan Anda, Tuan." Eldrick mengangguk. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan sahabat mendiang istrinya sekarang. Dia merasa risih dengan wanita itu.

"Maaf mengganggu kamu malam-malam begini, El," ucap Camila lembut, ekspresinya pun menunjukkan. Eldrick tidak mengatakan apapun dia mempersilahkan wanita itu duduk melalui gerakan tangannya.

Selama beberapa saat Camila tidak kunjung membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. Tatapan mata wanita lurus pada foto pernikahan yang digantung indah di ruang tamu rumah itu. Kemudian senyum tipis terbentuk di wajahnya.

"Sera sangat cantik bukan?" katanya memulai pembicaraan. Eldrick ikut menatap foto mendiang istrinya.

"Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika dia memberikan surat ini kepadaku." Camila mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas tangan miliknya lalu meletakkannya di hadapan Eldrick.

Tidak menunggu waktu Eldrick langsung membaca isi dari surat itu. Camila mengamati ekspresi Eldrick saat membaca surat itu. Dia sedang mencoba menebak isi hati Eldrick.

"Sebenarnya aku berencana untuk tidak memberitahukan ini sama kamu. Tapi akhir-akhir ini Sera selalu datang ke mimpiku. Aku takut dia marah karena aku tidak memberitahukan kamu masalah wasiat itu." Camila menunduk dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Sera tidak mungkin melakukan ini," ucap Eldrick meletakkan surat itu dengan wajah datar. Dia tidak akan mempercayai surat itu dengan mudah terlebih itu bukan tulisan tangan tapi ketikan komputer, iya meskipun tanda tangan Sera jelas tercantum di sana.

"Aku juga tidak mempercayainya. Tapi, Sera sendiri yang memberikan ini pada tepat sebelum dia masuk ruang operasi." Camila mengambil lagi surat itu lalu membacanya. Di sana tertulis keinginan terakhir Sera. Di mana dia menginginkan Camila dan suaminya menikah setelah dia meninggal.

"Maaf, Camila. Aku tidak akan pernah menikahi kamu, sekalipun itu benar-benar keinginan Sera," tegas Eldrick.

"Kita memiliki jawaban yang sama. Aku juga tidak mungkin menikah sama kamu, suami dari sahabat aku sendiri. Makanya sejak awal aku berencana untuk tidak menunjukkan surat itu. Tapi, sepertinya Sera tidak menyukai hal itu, makanya dia terus meneror aku melalui mimpi." Camila kembali mengamati rumah besar milik Eldrick. Dia kemudian tersenyum dalam hati, cepat atau lambat dia akan menjadi nyonya di rumah ini.

"Kalau begitu kita sudah sepakat untuk tidak mengungkit hal ini lagi." Camila menggeleng.

"Aku belum selesai bicara, El."

"Apa lagi?" Eldrick yang hendak berdiri mengurungkan niatnya.

"Awalnya aku memang berpikir untuk menolak, tapi saat mendapat Sera sering datang ke mimpiku. Aku berubah pikiran. Aku ingin mencoba menjalani hubungan dengan kamu," ucap Camila lancar.

"Maaf, Camila. Aku tetap pada pendirian ku. Sera adalah satu-satunya wanita dalam hidupku." Eldrick tidak bisa mengkhianati cintanya pada mendiang istrinya, sekalipun hal itu keinginan istrinya. Di sini Eldrick yang menentukan hidupnya. Tidak satu pun yang dapat mengubah pendiriannya.

"Aku mengerti kalau kamu masih sangat mencintai Sera. Karena itu aku tidak memaksa kamu untuk menjalani hubungan sekarang. Kita bisa melakukannya pelan-pelan. Saya membebaskan kamu untuk mengenang Sera sepuas kamu," ucap Camila begitu percaya diri, dia tidak menyadari perubahan air muka Eldrick yang semakin mendingin.

"Aku tidak akan mengucapkan penolakan yang ketiga. Dua kali penolakan seharusnya sudah cukup membuat kamu mengerti." Eldrick kemudian berdiri lalu melangkah menaiki undakan tangga menuju kamarnya.

"El, tunggu!" seru Camila sembari menyusul langkah pria itu.

"Aku pikir kita sudah selesai berbicara," ucap Eldrick dingin.

"Ini sudah malam, El. Tadi aku ke sini naik taksi. Jadi, aku minta izin ke kamu untuk menginap satu malam di sini atau kamu bisa mengantar aku pulang." Camila memperlihatkan senyum manisnya berusaha menarik perhatian Eldrick.

"Silakan minta Bi Irma mengurus kamar tamu untuk kamu tempati satu malam. Hanya satu malam," tekan Eldrick. Jika tidak mengingat kalau wanita itu yang mengurusi semua keperluan Sera saat di rumah sakit, Eldrick tidak akan mengizinkannya untuk tinggal. Bisa saja dia meminta supir untuk mengantarnya pulang. Tapi dia akan berbaik hati untuk membalas kebaikannya terhadap Sera.

"Terima kasih, El," ucap Camila tulus. Sementara Eldrick dia tidak mengatakan apapun, dia hanya berbalik dan meninggalkan Camila seorang diri di sana.

Camila tidak menunggu lama langsung memanggil asisten rumah tangga Eldrick.

"Iya, Non Camila?" wanita paruh baya itu datang teburu-buru karena Camila memanggilnya terus-menerus.

"Bi, kamu punya telinga nggak, sih! Saya panggil berkali-kali tapi tidak kunjung datang," sewot Camila kesal.

"Maaf, Non. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya akan menginap di sini malam ini. Jadi, kamu siapkan kamar tamu yang paling dekat dengan kamar Eldrick," perintah Camila angkuh.

Bi Irma tidak langsung pergi, dia sedang berpikir kamar mana yang paling dekat dengan kamar Tuannya. Namun, menurutnya tidak satu pun kamar tamu yang dekat dengan kamar Tuannya. Karena lantai tiga, hanya ada kamar utama, tempat gym dan juga ruang kerja milik Eldrick. Sementara kamar tamu ada di lantai dua.

"Kenapa masih di situ?" tanya Camila galak.

"Maaf, Nona Camila. Saya sedang berpikir kamar tamu mana yang paling dekat dengan kamar milik Tuan. Dan setelah saya pikir-pikir, sebaiknya Nona tidur di ruang gym milik Tuan Eldrick. Hanya itu ruangan yang paling dekat kamar milik Tuan," kata Bi Irma berpura-pura polos. Sejak pertama kalinya mendiang istri Tuannya mengenalkan wanita itu sebagai sahabatnya dulu, Bi Irma sudah menaruh rasa tidak suka pada wanita itu. Setiap kali datang ke rumah ini, dia selalu memerintah para pekerja dengan sesuka hati.

"Lancang!" ucap Camila marah.

"Kamar tamu hanya ada di lantai dua, Nona Camila. Saya pikir Anda tidak melupakan hal itu."

"Siapkan kamar tamu utama untuk saya," ucap Camila lagi.

"Maaf lagi, Nona Camila. Kamar tamu utama itu khusus untuk Tuan dan Nyonya Besar. Tuan Eldrick tidak mengizinkan orang lain menempati kamar itu kecuali kedua orang tuanya." Bi Irma selalu mengingat jelas pesan majikannya. Dia lebih baik berdebat dengan wanita di depannya dari pada kena tegur oleh majikannya.

"Kalau begitu, siapkan kamar yang biasa saya tempati dulu," kata Camila pada akhirnya.

"Baik, silakan ditunggu, Nona Camila." Bi Irma lalu meninggalkan Camila di ruang tamu. Dia bergegas memanggil rekannya untuk membersihkan kamar tamu sebelum wanita itu mengamuk lagi.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED