Jacob dan Kirana beranjak dari restoran tersebut, setelah sang gadis membayar tagihan. Mereka kembali bergandengan menuju tempat parkiran. Sesampai di sana, tiba-tiba listrik padam. Suana begitu gelap karena Jacob memilih memarkirkan mobil di lantai bawah tanah.
"Gelap, Yang. Aku takut," bisik Kirana.
Jacob memeluk Kirana, lalu menyalakan ponsel untuk penerangan. Tak berapa lama, lampu kembali hidup. Sekelebat bayangan tampak berlari dari arah di mana mobil Kirana berada. Jacob menjadi was-was, siapa orang itu? Dia melakukan apa di samping mobil kekasihnya.
"Ayo, Sayang." Jacob meletakkan tangannya di pinggang Kirana, matanya liar memerhatikan keadaan sekitar.
"Liat apa, Yang?" tanya Kirana, dia menengadah melihat wajah Jacob.
"Enggak ada apa-apa. Masuk," pinta Jacob setelah pintu mobil diperiksa, kemudian dibukanya. Tak lupa meletakkan telapak tangan untuk melindungi kepala sang kekasih. Takut terbentur.
Di perjalanan hujan turun sangat lebat. Laju mobil diperlambat agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sambil mengikuti kendaraan lain, Kirana dan Jacob mengobrol santai. Tak berapa lama, mobil pun berhenti karena lampu merah menyala.
Duaaar!
Suara petir menggelegar di angkasa. Jacob buru-buru mematikan ponselnya. Saat hendak meletakkan benda pipih itu ke holder Hp, tak sengaja matanya menoleh ke kanan. Di dekat rambu-rambu lalu lintas, ada sesosok pria berdiri di sana. Tanpa payung maupun jas hujan. Wajahnya tidak cukup jelas, tetapi tatapannya pas sekali membidik ke arah mobil Kirana.
"Apa orang itu sudah gila?" gumam Jacob pelan.
"Ngomong apa, Yang?" tanya Kirana sembari memegang pundak Jacob. Lelaki berhidung mancung itu menggeleng, lalu kembali fokus menyetir karena lampu merah sudah berpindah ke warna hijau.
Jacob melirik ke kaca spion, orang itu sudah tak berada di sana.
"Yang, perasaan dua mobil di belakang, ngikutin kita terus," ucap Jacob, kembali melirik di kaca spion.
"Oh, itu mobil pengawal Papi. Kan, hari sudah sore. Kali aja Papi cemas," jawab Kirana sambil terkekeh. "Perasaan, dari tadi kamu parnoan aja. Ada apa, sih, Yang?"
Lagi-lagi Jacob menggeleng. Dia kembali fokus menatap jalanan yang semakin ramai. Ada gurat kecemasan terpahat di wajahnya. Perasaannya pun sudah mulai tak enak dari bebera hari yang lalu.
Sesampai di kantor, Jacob mengemas peralatan dan mengambil mobilnya sendiri. Sementara Kirana sudah pulang diiringi para pengawal. Paling tidak, dia tak perlu cemas memikirkan sang kekasih.
***
Pukul tiga dini hari, Jacob mendapat kabar kalau Kirana menghilang. Perasaan tak enak, kini terbayar sudah. Dia mondar-mandir di dekat jendela kamar, lalu melongok ke luar.
"Masih gelap," gumamnya.
Rasa sesak kian menghimpit dada, detak jantung yang tak beraturan, dan sebentar-bentar Jacob menghempas napas kasar. Benda pipih yang tergeletak di kasur kembali berdering. Tuan Kim-tan, ternyata. Sudah sekian lama dia tak pernah berbincang dengan calon mertuanya. Sekarang di saat yang genting, barulah pengusaha kaya raya itu menghubungi Jacob.
"Apa kau terlibat dengan hilangnya putriku?" tanya Kim-tan dengan suara angkuhnya.
"Maksud Tuan?"
"Apakah pertanyaanku tidak jelas? Sehingga kau malah balik bertanya."
"Maaf Tuan, kalau Anda menuduh saya terlibat dengan kasus ini, Anda salah, Tuan. Untuk apa saya melakukan ini?" Jacob menghela napas.
"Aku tidak peduli. Sekarang kau harus ikut mencari Kirana. Gunakan jaringan yang kau punya. Kapan perlu, habisi sampah-sampah itu!" kata Kim-tan dengan kalimat penuh penekanan. "Sebenarnya orang-orangku cukup gampang menggeledah seluruh isi Indonesia ini, tapi kau tetap harus tanggung jawab karena putriku adalah calon istrimu." Kim-tan menambahkan sebelum dia menutup panggilan.
***
Seluruh pengawal terlatih dikerahkan, termasuk polisi-polisi diberbagai kota. CCTV yang terpasang dijalanan sudah dicek, tetapi tak ada terlihat tanda yang janggal. Jacob mulai panik, ketika melihat rekaman saat berhenti di lampu merah. Tiang tempat pria berdiri kemarin sore, kosong. Tak ada satu pun makhluk hidup di sana. Misterius.
"Anda kenapa, Pak?" tanya operator di ruang pantau.
"Coba mundurkan lagi, Pak," pinta Jacob. "Nah, ini, di sini ada seorang pria berdiri, tapi kenapa direkaman ini enggak ada siapa-siapa?"
"Mungkin Anda salah lihat, Pak," ujar operator itu.
Jacob hanya mengusap wajah kasar, menggaruk-garuk kepala, lalu berjalan ke arah sudut ruangan. Tubuhnya merosot, kemudian meletakkan telapak tangan di kepala sambil menunduk. Matanya tampak berair. Lelaki bertubuh kekar itu sangat panik. Dia menangis.
Beberapa menit kemudian, ponsel Jacob berdering. Awalnya dia tidak memedulikan, tetapi orang-orang di ruangan operator itu melirik ke arahnya.
"Pak, ponselnya bunyi, tuh." Salah seorang menegur.
Jacob mengangguk, lalu merogoh saku celana. Di layar ponselnya tertera nama seorang gadis.
"Ki-Kirana? Kamu di mana, Sayang?" Tangan Jacob gemetaran, tetapi nampak senyuman membingkai bibirnya.
"Ini bibi, Tuan. Bi Arsih," sahut orang itu di seberang.
"Iya, ada apa, Bi?"
"Bibi juga mau tanya, tadi tuan besar menelepon nomor Nona Kirana. Tahu bibi yang angkat, eh, tuan besar memutuskan sambungan. Ada apa, ya, Tuan Jacob?"
"Hmmm ... ponsel Kirana ternyata sudah di rumah, berarti dia menghilang di rumah? Ah, enggak mungkin," ucap Jacob pelan.
"Tuan bicara apa? Bibi enggak dengar."
"Enggak, Bi. Saya tutup teleponnya dulu, ya."
"Iya ...." Belum sempat Bi Arsih melanjutkan ucapannya, Jacob sudah menutup panggilan.
***
Di kamar yang cukup luas, bercat warna pastel dan biru, Jacob membaringkan tubuhnya yang mulai terasa remuk. Bukan! Hatinyalah yang remuk. Mencoba memejamkan mata, berusaha untuk tidur agar esok dia tak terlalu lelah mencari sang kekasih.
Namun, beberapa jam kemudian, matanya masih menatap langit-langit kamar. Ada yang tidak beres, pikirnya.
"Apakah ini semacam penculikan yang tidak bisa terdeteksi? Ilmu hitam!" tebak Jacob, seketika dia bangkit, meraih ponsel yang tergeletak di lantai kamar.
"Selamat malam Tuan Kim-tan, maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Jacob setelah panggilan diterima.
"Kau pikir aku bisa tidur, hah!?" Terdengar bentakkan dari seberang sana.
"Sekali lagi saya minta maaf." Jacob kembali mendekatkan ponsel ke telinga yang tadi sempat dijauhkan karena bentakkan pak tua itu membuatnya tak nyaman.
"Apa yang mau kau bicarakan, sudah dapat petunjuk?" tanya Kim-tan sembari memainkan sebuah koin emas.
Jacob menjelaskan keanehan yang terjadi padanya dari beberapa hari yang lalu sampai Kirana menghilang.
"Jadi, maksud kau, Kirana diculik hantu?"
"Bukan, Tuan. Ini semacam ilmu hitam. Jadi kita mencarinya menggunakan jasa orang pintar," sahut Jacob mencoba menerangkan lagi.
"Iya, minta tolong pada orang pintar karena kau bodoh! Mana ada hal semacam itu di era modern ini."
"Baik. Tapi saya akan mencari Kirana dengan cara sendiri. Izin menutup telepon, silakan istirahat ...."
Tut! Tut! Tut!
Kim-tan malah menutup panggilan terlebih dahulu. Jacob tersenyum masam, mengingat kelakuan calon mertuanya yang tak pernah bersikap manis terhadapnya.
***
Di tempat lain.
Sebuah gedung tua yang dinding-dindingnya sudah ditumbuhi rumput liar, kilatan dari cahaya petir menambah suasana di sekitarnya mencekam. Tampak seorang pria kekar menggunakan jas berwarna hitam, di tiap sudut ruangan tersebut ada beberapa pria berpakaian serba hitam juga. Di pojok kiri dekat tiang usang, juga ada seseorang berdiri. Dia memakai topi bundar, di tangannya memegang sebuah kampak.
"Tenang, Nona, sebentar lagi kamu tidak akan menderita lagi," ucap pria itu sambil membelai wajah seorang gadis yang digantung terbalik tanpa memakai busana.
Bersambung ....
Terkadang manusia itu bisa lebih kejam dari hewan. Melenyapkan nyawa musuh dengan tiada ampun. Tak peduli itu target langsung atau yang hanya berhubungan dengan target. Terpenting, dendam terbalaskan.
***
Gadis itu hanya mampu menangis tanpa suara, meringis menahan sakit. Ingin berteriak tidak bisa, bibir seksi yang melengkapi kecantikannya, masih meneteskan darah dari celah-celah bekas jahitan. Daun telinganya terkulai, dipotong tapi tak sampai putus.
"Kim-tan ... Kim-tan. Kekuasaanmu tak akan bisa menyelamatkan putrimu! Gate of darkness." Pria itu terbahak, sorot matanya penuh dengan kebencian. Benar dugaan Jacob, kalau hilangnya Kirana, berhubungan dengan hal mistis. Akan tetapi, calon mertuanya tidak percaya dan tidak mau membahas hal yang tak mungkin menurutnya.
"Kamu tahu, kenapa kamu berada di sini?" tanya pria itu pada Kirana. "Karena bajingan itu telah menghancurkan perusahaanku!" sambungnya dengan nada suara yang ditekan.
"Mmmh ...." Kirana meringis, ketika orang itu menarik rambutnya.
"Ops, sorry," ucap pria itu yang ternyata adalah Erlangga. Tak terlihat rasa iba dari wajah pria itu, yang dia tahu hanyalah 'dendam'.
Erlangga mengibas-ngibaskan telapak tangannya. Beberapa helai rambut Kirana terbawa. Mungkin sepuluh helai, dua puluh? Ah, tidak. Di tangannya terdapat segumpal rambut. Sehingga kulit kepala sang gadis tampak mengeluarkan darah. Kejam! Pria itu layak menyandang gelar sebagai psikopat. Dia kembali menyeringai, tatapan mata sinis mengarah pada sang gadis.
Napas Kirana mulai tersengal-sengal, semakin sesak. Perlahan pandangannya mulai gelap. Mungkin sudah waktunya malaikat maut menjemput.
"Heh! Kamu jangan mati dulu. Turunkan dia!" perintah Erlangga. "Oke, silakan kalian keluar dulu. Kita gantian," ucapnya sambil tertawa melihat para ajudan mulai mengacungkan jari telunjuk, tanda meminta jatah. Bergilir ingin menikmati tubuh sang gadis yang tampak menjijikan karena darah mengalir dari kulit kepala dan dari daun telinganya.
Kirana kembali tersentak saat sesuatu yang aneh terjadi padanya. Dia meronta, walau dengan keadaan tak bertenaga. Akhirnya dia tidak kuat lagi, di saat orang yang ketujuh ingin melepaskan napsu bejat mereka, napas Kirana pun akhirnya berhenti. Bibir mulai membiru, dan tubuhnya berubah kaku.
Kirana Tan, satu-satunya pewaris Corner Corp. Mati dengan cara mengenaskan. Dia tidak salah, yang salah kenapa dilahirkan dari keluarga kaya raya, dari bibit seorang pria angkuh. Dari pria yang juga tak mengenal rasa empati pada orang-orang yang dia anggap mengganggu dan tak berguna lagi.
Taaak!
Kampak pun beradu dengan tulang leher gadis itu. Kemudian bagian kaki, tangan, dan yang terakhir bagian dada. Kejam!
"Kalian kumpulkan potong-potongan ini, lalu beri makan buaya ternakku." Erlangga menyeringai sembari membersihkan bekas percikan darah dari tubuh Kirana.
"Berikan jantungnya padaku!" seru pria tua yang sedari tadi diam mematung.
"Oh, saya hampir lupa dengan persyaratannya, Mbah," ucap Erlangga hormat pada Mbah Karmo.
Pria tua itu mengangguk-angguk. Tangannya masih sibuk menggerakkan jari, kedua bibirnya yang berwarna gelap, terus bergerak membaca mantra.
"Ini, Mbah." Pria berambut cepak menyerahkan bongkahan tersebut.
Mbah Karmo tersenyum, kemudian dia menjilat sudut bibirnya. Dan ....
Krauk!
Mbah Karmo menggigit sedikit demi sedikit jantung milik Kirana. Orang-orang yang berada di ruangan tersebut, langsung berlari keluar karena menahan muntah yang siap muncrat seketika. Mbah Karmo terbahak, lalu berkata, "Kamu mau? Enak, lho."
"Ti-tidak, Mbah," jawab Erlangga, kemudian menyusul anak buahnya keluar.
***
Jacob duduk bersandar di kursi kantor. Matanya tertuju pada sebuah laptop, tetapi pikirannya menerawang entah kemana. Lingkar hitam di bawah mata tampak jelas, menandakan dia tak pernah tidur nyenyak. Sementara, Kim-tan dirawat oleh dokter pribadi. Karena kondisi kesehatannya mulai memburuk. Dua pria malang.
"Sayang ...." Suara mendayu lembut, terdengar oleh Jacob.
Jacob terkesiap, dia mengedarkan pandangan, tetapi hanya para karyawan yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Ya Tuhan," ucapnya lirih.
Wangi bunga menguar di sekitarnya, Jacob mencoba mengendus-endus. Berjalan mengikuti bau tersebut seperti kucing mencium makanan.
"Lagi ngapain, Pak?" tanya Elena, teman sekantornya.
"Hmmm ... kamu mencium sesuatu nggak? Maksud saya bukan parfum yang kamu pakai," ujar Jacob ketika Elena sibuk membaui ketiak dan bagian bajunya yang lain.
"Oh, enggak, Pak. Mungkin pewangi ruangan kali," jawab Elena sembari menggeleng-geleng. Perihatin, semenjak Kirana menghilang, Jacob sering bertingkah aneh. Karyawan di dalam ruangan itu pada paham dengan situasi ini.
"Jika Nona Kirana tak ditemukan, bagaimana jadinya Pak Jacob, ya?" Susi berbisik pada Angga, lalu mereka menoleh ke arah Jacob yang sudah kembali ke mejanya.
***
Notaris dan pengacara sudah berada di ruangan Kim-tan, hanya menunggu Jacob yang sedari tadi belum datang-datang. Sementara beberapa wartawan sedang menunggu di ruang tamu, serta kru TV milik pribadi.
Singa Asia itu sudah sakit parah, anak yang dicari tak kunjung ada kabar.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Tuan. Tuan Jacob sudah tiba," ucap Bi Arsih. Kim-tan mengangguk lemah.
"Maaf, saya telat." Jacob membungkuk.
"Langsung saja. Aku mau berobat ke Singapura, jadi aku minta tolong kau bisa mengurus perusahaan. 86% saham akan aku tulis nama kau. Dengan syarat, jika Kirana ditemukan, kau harus mengembalikan saham-saham itu." Kim-tan menghela napas, matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya akan mengurus perusahaan walau tidak memegang saham 1% pun," ucap Jacob dengan posisi masih menunduk.
"Kau calon suami Kirana. Kau tahu, kan, kalau keluargaku sudah mati. Istriku, adikku, ibu-ayah, dan keponakanku. Terkadang Tuhan tidak adil terhadapku," ucap Kim-tan sambil menyeka air mata.
Notaris dan pengecara ikut terharu melihat Kim-tan. Dulu pria tua ini sangat angkuh dan bengis. Di saat sekarang, dia tak lebih dari anak yatim yang terbuang. Menyedihkan! Harta berlimpah tak bisa membeli kebahagiaan. Dia benar-benar sendiri.
Setelah selesai tanda tangan, Kim-tan menyerahkan sebuah map berwarna hitam pada notaris. Di sana juga tertera cap jempol milik Jacob. Kim-tan mengumumkan pengangkatan Jacob, menjadi pemilik sah Corner Crop, melalui siaran langsung di TV swasta.
Di sudut ruangan ada makhluk tak kasat mata berdiri. Sesekali ia memperbaiki posisi kepalanya yang sebentar-sebentar merosot.
"Jangan menangis, Papi," bisik makhluk itu.
Tiba-tiba angin berembus, semilirnya melewati kulit Kim-tan dan Jacob. Sontak kedua orang beda generasi itu menoleh.
"Kau merasakan sesuatu?" tanya Kim-tan pada Jacob.
"Iya," jawab Jacob. Matanya liar melihat ke segala arah. Jelas, karena ruangan ini tertutup rapat. Siapapun pasti bingung kalau tiba-tiba ada angin.
"Ya sudah, mari kita berangkat." Kim-tan bangkit dari tempat tidur, dibantu oleh beberapa pengawal.
Sesampainya di bandar, sebelum pesawat berangkat, Kim-tan sempat memeluk Jacob. Lelaki tampan itu pun tersenyum, dia mengusap-usap punggung calon mertuanya.
"Jacob, kau harus tetap mencari Kirana. Bagaimanapun, cari sampai ketemu. Habisi orang-orang yang telah membuat onar itu!" bisik Kim-tan menegaskan.
"Iya, Tuan ...."
"Kau boleh memanggilku 'papi'. Jangan sungkan lagi," ujar pria tua itu mengakhiri percakapan.
Bersambung ....