Bab 2

Safina masih terduduk di lantai kamar, tubuhnya gemetar, pandangannya kosong menatap pintu yang baru saja ditutup Reza dengan kasar. Suara tawa Dita masih terdengar sayup di telinganya, seperti duri yang terus menusuk hati. Perasaan hancur dan marah bercampur menjadi satu, tetapi di sela-sela itu ada ketidakpercayaan. Tiga tahun pernikahan yang ia bangun dengan cinta dan pengorbanan kini seolah tak berarti apa-apa.

Butuh waktu beberapa menit sebelum Safina berhasil mengumpulkan kekuatan untuk bangkit. Ia berjalan tertatih keluar kamar, melewati koridor yang terasa lebih sunyi dan dingin dari biasanya. Di tangga, ia berhenti sejenak, memejamkan mata dan mengambil napas panjang. Tidak ada gunanya menangis di depan Reza lagi. Jika ia menginginkan perceraian, maka ia akan memberikannya. Tetapi tidak dengan mudah.

Hari Pertama Tanpa Cinta

Pagi berikutnya, Safina memulai harinya dengan perasaan yang lebih berat daripada sebelumnya. Ia menghabiskan malam di sofa ruang tamu, tidak sanggup tidur di kamar yang kini terasa penuh dengan pengkhianatan. Begitu matahari mulai menyinari ruangan, ia menguatkan diri untuk menghadapi kenyataan.

Telepon pertama yang ia lakukan adalah kepada pengacaranya, Raka, teman lama yang sudah seperti saudara. Safina tahu, jika ada satu orang yang bisa membantunya melalui ini, itu adalah Raka.

"Safina, kamu yakin mau melangkah sejauh ini?" suara Raka terdengar tenang, meskipun ia bisa merasakan kegelisahan di baliknya.

"Dia sudah menghancurkan semuanya, Ka," jawab Safina dengan suara serak. "Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa tanggung jawab."

Raka menghela napas panjang. "Oke, aku akan urus semuanya. Tapi, ini tidak akan mudah, terutama jika dia menolak kerja sama."

"Dia tidak punya pilihan," kata Safina tegas, meskipun air matanya kembali mengalir.

Pertemuan dengan Reza

Tiga hari kemudian, Safina dan Reza duduk berhadapan di ruang tamu rumah mereka. Di antara mereka, Raka duduk dengan map berisi dokumen perceraian. Wajah Reza tampak tenang, bahkan terlalu santai, sementara Safina berusaha keras menahan emosinya.

"Jadi, semua ini sudah kamu persiapkan?" tanya Reza, melirik dokumen di depan Raka.

"Ya," jawab Safina singkat. "Aku hanya ingin semuanya selesai."

Reza menyeringai, seolah merasa menang. "Bagus kalau kamu setuju. Aku juga tidak ingin memperpanjang."

Raka menatap Reza dengan tajam. "Tapi, Reza, kamu tahu kan ada kewajiban yang harus kamu penuhi setelah perceraian ini? Rumah, aset bersama, dan juga kompensasi untuk Safina."

Reza mendengus. "Kompensasi? Untuk apa? Kami tidak punya anak, dan dia bisa hidup sendiri. Dia kan mandiri."

Safina mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku mandiri, tapi itu tidak berarti kamu bisa lepas tangan begitu saja. Aku sudah mendukungmu selama ini, bahkan saat karirmu hancur dulu."

Reza terdiam sejenak, tetapi kemudian tertawa kecil. "Baiklah, aku akan memberikan bagian yang wajar. Tapi jangan harap aku menyerahkan rumah ini. Aku dan Dita akan tinggal di sini."

Ucapan itu seperti menampar Safina. "Rumah ini? Rumah yang kita bangun bersama? Reza, kamu tidak punya hati."

"Sudah cukup," potong Raka, mencoba meredakan ketegangan. "Reza, jika kamu tidak mau kerja sama, kami akan membawa ini ke pengadilan."

Reza menatap Raka dengan tatapan tajam. "Bawa saja. Aku tidak takut."

Proses Hukum Dimulai

Dua minggu berikutnya adalah mimpi buruk bagi Safina. Reza dan pengacaranya mencoba segala cara untuk mempersulit proses perceraian. Mereka mengajukan keberatan atas pembagian aset, menolak memberikan kompensasi yang layak, dan bahkan mencoba mencoreng nama baik Safina di depan hakim.

"Dia wanita yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya," ujar Reza saat sidang pertama. "Dia tidak peduli dengan pernikahan kami, apalagi soal punya anak."

Safina hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia bangkit dari kursinya, menatap Reza dengan mata yang penuh amarah. "Aku tidak peduli? Aku yang selama ini bekerja keras untuk membayar tagihanmu, mendukung impianmu, dan sekarang kamu menyalahkanku?"

Hakim mengetukkan palu, meminta ketenangan. "Ny. Safina, harap duduk kembali. Tuan Reza, lanjutkan tanpa menyerang secara pribadi."

Raka memegang tangan Safina, mencoba menenangkannya. "Tenang, Fin. Kita akan menang."

Kemenangan yang Pahit

Proses perceraian berlangsung selama tiga bulan penuh tekanan. Pada akhirnya, hakim memutuskan bahwa Safina berhak atas setengah dari aset mereka, termasuk rumah yang selama ini mereka tinggali. Namun, Reza tetap tidak mau menyerah.

"Ambil semuanya," kata Reza di luar ruang sidang. "Tapi ingat ini, Safina. Kamu tidak akan pernah bahagia tanpa aku."

Safina menatapnya dengan dingin, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Aku mungkin tidak bahagia sekarang, Reza. Tapi setidaknya aku bebas dari pria sepertimu."

Bab 3

Setelah vonis pengadilan diketuk, Safina akhirnya bisa menarik napas lega meskipun hati dan pikirannya masih terombang-ambing. Kemenangan dalam perceraian ini bukanlah sesuatu yang bisa dirayakan dengan gembira. Rasanya seperti memenangkan perang, tetapi kehilangan sebagian besar dirinya di medan pertempuran.

Rumah yang dulunya menjadi tempat penuh kenangan bersama Reza kini menjadi miliknya. Tapi Safina tahu, ia tidak akan pernah merasa nyaman tinggal di sana lagi. Setiap sudutnya mengingatkannya pada kebohongan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang ia alami.

Hari Pertama Tanpa Beban

Pagi itu, Safina mulai membereskan rumahnya. Semua barang yang mengingatkannya pada Reza ia kumpulkan di dalam beberapa kotak besar. Foto pernikahan, hadiah ulang tahun dari Reza, dan bahkan beberapa pakaian yang masih tertinggal. Ia berniat menyumbangkan atau menjualnya, apa pun asalkan barang-barang itu tidak lagi ada di sekitarnya.

Saat tengah memindahkan sebuah kotak besar ke ruang tamu, teleponnya berbunyi. Nama Raka tertera di layar.

"Safina, apa kabar? Sudah lega sekarang?" tanya Raka dengan nada ceria.

"Ya, lega. Tapi rasanya juga kosong," jawab Safina, mencoba tersenyum meskipun Raka tak bisa melihatnya.

"Kalau begitu, kita harus merayakan ini. Aku akan jemput kamu malam ini. Kita makan malam di luar," ujar Raka tanpa menunggu jawaban.

Safina tertawa kecil. "Kamu memang tidak pernah berubah. Oke, aku akan siap-siap."

Kenangan yang Menghantui

Malam itu, Safina berdiri di depan cermin, mengenakan gaun hitam sederhana yang sudah lama tidak ia pakai. Saat melihat pantulan dirinya, ia merasa asing. Wanita yang berdiri di depannya tampak kuat dan anggun, tetapi Safina tahu, di dalam hatinya ia masih rapuh.

Pikiran tentang Reza dan Dita terus menghantui. Bagaimana Reza bisa begitu cepat melupakan cinta mereka? Bagaimana ia bisa dengan mudah meninggalkan Safina setelah semua yang mereka lewati bersama?

Bel pintu berbunyi, mengusir lamunannya. Ia membuka pintu dan mendapati Raka berdiri di sana, mengenakan jas kasual dengan senyum lebarnya yang menenangkan.

"Kamu cantik sekali malam ini," kata Raka, matanya menatap Safina dengan kagum.

"Terima kasih. Kamu juga terlihat bagus," jawab Safina, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Langkah Baru

Makan malam bersama Raka terasa seperti angin segar bagi Safina. Ia bisa tertawa, berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan, dan untuk sementara waktu melupakan rasa sakit yang ia alami.

"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Raka sambil meletakkan garpunya.

Safina menatapnya dengan bingung. "Apa itu?"

"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku ingin kamu tahu... aku selalu ada untukmu, Safina. Bukan hanya sebagai teman, tapi juga seseorang yang peduli lebih dari itu."

Ucapan Raka membuat Safina terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus merespons. Di satu sisi, ia merasa tersanjung, tetapi di sisi lain, hatinya masih terluka.

"Raka... aku belum siap untuk memikirkan hal seperti itu sekarang," jawab Safina akhirnya.

Raka tersenyum lembut. "Aku mengerti. Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, aku ada di sini untukmu."

Menghadapi Reza Lagi

Beberapa minggu kemudian, Safina menerima kabar mengejutkan. Reza dan Dita pindah dari kota, meninggalkan pekerjaan dan lingkungan mereka sebelumnya. Namun, sebelum pergi, Reza datang ke rumah Safina untuk satu pertemuan terakhir.

"Aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal," katanya tanpa basa-basi.

Safina mengangguk. "Aku sudah mengemas semuanya. Kamu bisa ambil di ruang tamu."

Saat Reza mengambil kotak terakhir, ia berhenti sejenak, menatap Safina. "Aku tahu aku salah. Tapi aku juga tahu, kita tidak pernah cocok sejak awal."

Safina menahan air mata yang hampir jatuh. "Bukan soal cocok atau tidak, Reza. Ini soal bagaimana kamu memperlakukan orang yang mencintaimu."

Reza tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sebelum pergi tanpa menoleh lagi.

Setelah kepergian Reza, Safina mulai membangun hidupnya kembali. Ia menjual rumah lamanya dan pindah ke apartemen kecil yang lebih nyaman. Ia juga kembali fokus pada pekerjaannya, mencoba menemukan kebahagiaan dalam rutinitas sehari-hari.

Raka tetap ada di sisinya, memberikan dukungan tanpa tekanan. Lambat laun, Safina mulai merasa bahwa kebebasan ini adalah berkah. Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan membuka hati untuk kemungkinan baru.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED