"Apakah hari ini kau lembur untuk berjaga di rumah sakit?" Felicia bertanya seraya menyiapkan keperluan suaminya dan memasukkannya ke dalam tas.
Tak jauh darinya, tepat di depan cermin, Robby tengah mengatur kemejanya.
"Tentu saja. Seorang dokter bekerja di rumah sakit, memang di mana lagi?" jawab Robby.
'Jadi, Mas Robby tidak ingin menceritakannya?' batin Felicia, masih teringat pada struk pemesanan kamar itu.
Felicia tersenyum getir. Setengah bagian dari dirinya berharap suaminya itu memesan untuk orang lain. Namun, tidak ada yang bisa menjamin itu adalah kebenarannya. Felicia harus memeriksanya sendiri.
"Hari ini, aku akan tetap ikut Inara untuk berlibur. Apakah tidak masalah? Aku akan usahakan agar pulang sebelum Mas pulang," ucap Felicia seraya menyerahkan tas itu kepada sang suami yang tampak sudah rapi.
Robby mengambil tasnya dan langsung menatap pada arloji di tangannya. Entah mengapa, pria itu amat jarang menatap langsung kepada Felicia. Meski mereka berdiri berhadapan seperti ini, tatapan Robby selalu tertuju pada hal lain.
Pria itu mengangguk. "Lakukan semaumu," ujarnya, seolah acuh tak acuh.
Sikap Robby memang semakin dingin dari hari ke hari. Setiap kali ditanya alasannya, pria itu akan menyebutkan hal yang sama, yaitu karena Felicia tidak kunjung memberinya keturunan. Dia kecewa.
"Aku berangkat," ucap pria itu seraya berjalan pergi. Tidak ada kecupan ringan dan usapan penuh kasih sayang. Dia langsung melenggang keluar kamar.
Felicia mengembuskan napas panjang, kemudian mulai merapikan handuk dan baju bekas Robby bersiap-siap.
Namun, selang sepuluh menit, gadis itu pun tampak sudah siap untuk pergi. Tujuannya bukan ke bandara ataupun rumah Inara, melainkan ke hotel Avery.
"Maaf, aku jadi mengganggu rencanamu untuk berlibur keluar kota," ucap Felicia kepada Inara. Mereka sedang terhubung melalui sambungan telepon genggam.
"Tidak masalah. Aku dan suamiku bisa melakukannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah dirimu," ujar Inara dengan yakin.
"Terima kasih, Inara. Kamu satu-satunya yang aku miliki," ucap Felicia dengan tulus. Setiap kali dia merasa kosong, Inara selalu menghiburnya dengan segudang kisah konyol dirinya.
"Apa-apaan itu?" protes Inara, "Jangan lupa, kamu masih memiliki Robby. Walau dia mungkin sibuk, tapi dia pasti menyayangimu," katanya.
Felicia hanya tersenyum getir mendengarnya.
Entahlah. Ia tidak tahu reaksi yang tepat untuk kata-kata itu, apakah ia harus memercayainya atau tidak? Satu yang pasti, dia bisa menemukan jawabannya hari ini.
Kalau Felicia tidak salah ingat, nomor kamar itu adalah 504. Wanita itu berjalan dengan hati-hati menelusuri koridor hotel. Hingga kakinya berhenti tepat di depan kamar nomor 504.
Jantungnya berdegup cepat. Tangannya sudah berada di kenop pintu, tetapi ia justru gemetaran. Terlalu takut untuk mengetahui kebenarannya.
Namun, tentu saja Felicia harus tahu. Tanpa berpikir panjang, dia membuka pintu tersebut dan berjalan masuk.
Awalnya, Felicia tidak melihat apa-apa, tetapi dia menemukan sepatu pria dan wanita di depan. Sepatu itu jelas milik Robby.
"Akh, lebih cepat, sayangh--"
Desahan wanita terdengar dari kamar itu. Kekuatan Felicia seakan luruh seluruhnya. Dia berjalan tertatih ke arah sumber suara dan tubuhnya nyaris limbung saat ia benar-benar menemukan suaminya. Tengah menggagahi seorang wanita yang tidak lain adalah Audrey, teman satu angkatan mereka.
"Apa-apaan ini?" Felicia bersuara.
Dia berharap suaranya terdengar tegas. Namun, ia justru bergetar. Akan tetapi, suara gemetar itu mampu mengejutkan keduanya.
Robby langsung cepat-cepat menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut, begitu pula Audrey yang terlihat syok.
"Fe--feli...." Robby bersuara. Terlihat kaget. "Bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya demikian," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, "Seharusnya kamu berada di rumah sakit. Mengapa kamu justru ada di sini bersama.... bersama wanita jalang ini?!" sergah Felicia.
Tubuh dan tangannya gemetar karena menahan emosi. Ia ingin meledakkan semuanya seketika, tetapi yang keluar justru air mata yang membasahi pipinya.
"Sudah tiga minggu kamu tidak pernah libur, Mas. Apakah kamu membohongiku? Apakah ini yang kamu lakukan di belakangku?" tutur Felicia dengan terisak.
Dia berusaha menahan tangisnya dan bersikap tegas. Namun, hal itu justru membuat suara dan napasnya tersendat. Seluruh harapan dan ekspektasinya seakan hancur seketika.
Selama ini, Felicia hanya berusaha mengerti dan mengerti, tetapi apa yang ia dapatkan justru pengkhianatan.
"Jangan bersikap seperti ini, Feli," ujar Robby dengan tidak tahu malu, "Walaupun aku menghabiskan waktu liburan bersamamu pun tidak akan bisa membuatmu hamil, bukan?" tembaknya, mengena tepat pada perasaan Felicia.
Jantungnya berdenyut nyeri dan dia merasa berat tiap bernapas. Namun, Felicia berusaha menguatkan diri.
"Seharusnya aku yang berada di sini," katanya, "Seharusnya, aku yang menghabiskan waktu liburan bersamamu." Dia berjalan maju dan mencoba menarik selimut yang menutupi keduanya.
"Pergi!" katanya, "Pergi sekarang!" ujarnya dengan terisak.
Audrey berusaha keras menahan selimut itu. Robby pun bangkit dan menghampiri istrinya itu.
Plaakkk
Tanpa berpikir panjang, dia mendaratkan sebuah pukulan tepat pada pipi Felicia.
"Hentikan ini, Feli!" sergah Robby, "Aku sudah merasa terbebani karena harus menafkahimu yang bahkan tidak bisa memberiku keturunan. Setidaknya, kamu harus membiarkanku bersenang-senang dan menikmati liburan ini!" tutur pria itu.
Pipi Felicia terasa panas. Tangan Robby hanya menamparnya satu kali, tetapi Felicia merasakan rasa sakit yang hebat di hatinya.
"Terbebani?" Dia memandang ke arah Robby dengan tidak percaya. "Jadi, selama ini kamu merasa terbebani olehku, Mas?"
"Ya!" jawab Robby tanpa ragu, "Setiap hari, aku harus pulang dan melihat wajahmu yang menyebalkan itu. Bahkan jus dan masakan buatanmu tidak ada yang enak! Dan kamu tidak bisa memberiku keturunan. Apakah kamu tidak tahu jika aku sangat tersiksa dengan keadaan ini?" ujar Robby dengan setengah membentak.
Felicia hampir semakin terisak mendengar semua perjuangannya sama sekali tak berharga di mata sang suami, tetapi dia mengatur napasnya dan berusaha memandang ke arah Robby meski dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik," ujar Felicia, "Maaf karena aku sudah menyulitkanmu selama ini, Mas. Mulai sekarang, aku akan berhenti. Aku akan menceraikanmu!" ucapnya dengan setengah membentak.
***
Benar-benar tidak bisa dipercaya. Robby, suami yang selalu Felicia puja dan elu-elukan langsung menyetujui ucapan Felicia. Tidak hanya itu, dia bahkan mengusir Felicia keluar dari kamar itu.
Sebelumnya, Felicia memang sempat memaksa dan mengancam petugas hotel agar memberinya akses ke kamar itu. Ia tidak menyangka jika tindakan itu akan menjadi akhir dari hubungan rumah tangga yang telah ia bangun selama lebih dari lima tahun.
Kini, wanita itu berjalan lunglai di trotoar. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan ke mana dia harus pergi.
Selama ini, dia menggantungkan seluruh hidupnya kepada Robby, suaminya. Felicia menjadi istri yang patuh, tetapi hubungan itu diputus seketika. Membuat Felicia terombang-ambing dalam kebingungan.
Tiba-tiba Felicia menggelengkan kepala. Tidak, ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh menjadi gadis lemah yang menerimanya begitu saja. Dia pasti bisa bertahan sendiri.
Setidaknya, hal pertama yang harus ia siapkan adalah pemasukan. Ya, Felicia harus bekerja.
***
Felicia selalu rapi dalam menyimpan sesuatu. Karena itu, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar sebagai dokter.
Nilai-nilainya saat kuliah dan sepak terjangnya pun cukup bagus. Seharusnya itu semua cukup untuk membuatnya dapat diterima kembali.
"Kamu berhenti menjadi dokter lima tahun lalu, kenapa?" Seorang dokter mewawancarai Felicia saat wanita itu mencoba mendaftar pada salah satu rumah sakit.
"Saat itu, aku memutuskan untuk menikah dan mengabdikan diri sebagai seorang istri," jawab Felicia dengan jujur.
Mendengarnya, dokter itu mendecih tidak percaya.
"Apakah kau pikir menjadi dokter itu adalah pekerjaan main-main? Apakah kau pikir kau bisa berhenti dan bekerja sesuka hati? Menjadi dokter adalah tentang dedikasi! Dari keputusan itu, terlihat jelas kau tidak pernah serius. Maaf, tetapi rumah sakit kami tidak akan menerima dokter sepertimu!" ujarnya, berbalik mencerca Felicia.
"Kamu sudah tidak bekerja selama lima tahun. Apakah kamu yakin masih bisa melakukan dan mengingat semuanya?" Salah satu dokter yang menyeleksi bertanya saat Felicia mencoba mendaftar pada rumah sakit lain. "Bahkan orang yang menggambar pun bisa kehilangan kemampuannya jika tidak menggambar selama satu bulan. Kamu sudah cuti selama lima tahun. Ada banyak hal yang kamu lewatkan. Maaf, kami tidak bisa menerimamu."
Felicia tahu takdirnya akan berakhir seperti ini. Dia tahu dan sudah menyiapkan diri, tetapi rupanya semangatnya pun semakin surut seiring dengan penolakan yang ia dapatkan.
Sertifikat kelulusannya dari fakultas kedokteran seakan tidak bernilai apa-apa.
"Sudah cuti selama lima tahun?!" sergah salah satu dokter saat ia mencoba lagi. "Hah! Jangankan mendaftar menjadi dokter magang, lebih baik kamu mengulang kuliah dari awal!" cercanya.
Felicia benar-benar putus asa. Dia berjalan keluar dari rumah sakit itu dengan langkah lunglai. Di dalam tasnya, terdapat map cokelat berisi data diri dan CV-nya yang telah ditolak berulang kali.
Rupanya, Robby benar. Akan sangat sulit bagi dokter seperti dirinya untuk memulai lagi. Bahkan, sepak terjang Felicia seakan tidak berarti apa-apa setelah lima tahun.
Dia mengembuskan napas panjang dan memasuki salah satu restoran untuk mengisi perutnya.
Sebuah ide gila terbesit di pikirannya.
Mungkin, ia harus melupakan ijazah kedokterannya dan mendaftar menjadi seorang pelayan. Setidaknya, hal itu akan menjamin hidupnya selama beberapa bulan.
Felicia mulai melahap makan siangnya yang terasa hambar itu dengan pikiran melanglang buana.
Bukkk
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu jatuh. Felicia langsung menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat seorang pria tergeletak di karpet dengan tidak sadarkan diri. Orang-orang mulai mengerumuninya dengan panik.
"Dokter! Apakah ada dokter di sini?! Kami membutuhkan seorang dokter!!" Seorang pria berjas hitam memanggil-manggil.
Felicia ikut panik. Dia melihat ke sekeliling seakan mencari seseorang yang mengajukan diri hingga sebuah pikiran terbesit di kepalanya.
Dia adalah seorang dokter.
Tanpa ragu, Felicia berjalan maju mendekati pria itu.
"Aku adalah dokter," ujarnya, dan semua orang seketika menyingkir.
Rasanya sudah sangat lama Felicia tidak memegang seorang pasien. Ia tidak yakin, tetapi mulai memeriksa tanda-tanda vital pasien.
"Sepertinya, napasnya terhambat," ujar Feli dengan tegas. "Cepat buka kancing bajunya dan angkat kakinya. Aku akan melakukan RJP!" titah wanita itu.
Dua oran pria melakukan sesuai perintahnya, sementara Felicia terus melakukan RJP. Tidak hanya itu, dia juga memeriksa hal lain dan langsung mengambil tindakan dengan cepat.
HIngga tidak lama, pria itu mulai bernapas. Jantungnya kembali berdetak dan semua orang menghela napas dengan lega.
"Segera bawa dia ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," titah Felicia. Tangannya masih bergetar. Bahkan, ia sendiri tidak percaya jika ia berhasil. Namun, untuk sesaat, dia melupakan kesedihannya.
Felicia pun mulai berdiri dan berniat kembali ke mejanya, tetapi tangannya dicekal oleh seseorang.
"Tunggu, boleh saya meminta nomor ponselmu?" tanya seorang pria.
Dia adalah pria yang membantu Felicia memberikan pertolongan pertama.
"A--ada apa?" tanya Felicia.
"Kamu adalah orang pertama yang menolong Tuan Gavriel. Kami harus memiliki nomormu untuk berjaga-jaga seandainya sesuatu terjadi pada Tuan Gavriel," ujar pria itu dengan suara dingin dan tatapan menelisik.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah pria yang mulai dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Dari setelan bajunya, terlihat jelas dia bukan orang sembarangan.
Felicia telah berusaha menyelamatkannya, tetapi kini dia justru hampir dituduh.
Pada akhirnya, Felicia tidak punya pilihan selain memberikannya.
"Terima kasih. Jika sesuatu terjadi pada Tuan Gavriel, kami pastikan Anda akan menyesalinya."
"Kamu sudah berhasil menemukan orang yang menyelamatkanku?" tanya Gavriel.
Pria itu tengah terbaring di ranjang rumah sakit, kamar VVIP pesanannya. Di sisi ranjang, terlihat seorang pria berbadan tegap yang menghadap ke arahnya.
"Belum, Tuan," jawab pria itu, "Kami telah menghubunginya, tetapi dia bilang dia tidak bisa menenemui Anda karena ada urusan mendesak," jawab Benny, sekretaris Gavriel.
Gavriel Ivander Naratama. Dia adalah seorang konglomerat yang baru saja diselamatkan dari kematian. Dia masih muda, bahkan umurnya belum menyentuh kepala tiga, tetapi kesuksesannya sudah terkenal di Asia.
Beberapa hari lalu, Gavriel nyaris kehilangan nyawanya karena tersedak sekaligus kehabisan oksigen. Beruntung, ada seorang wanita yang mengaku dokter yang berhasil memberikan pertolongan pertama dengan tepat.
Dia mencoba menemui wanita itu, tetapi para anak buahnya justru tidak bisa mengabulkan keinginannya.
"Prioritas seorang dokter adalah pasiennya!" Gavriel bersikeras. "Urusan apa yang lebih penting dari nyawa manusia? Cepat, temukan dia sesegera mungkin!" titah Gavriel dengan tegas.
Benny langsung mengangguk patuh. "Baik, Tuan," jawabnya, kemudian langsung beranjak pergi.
Gavriel masih terdiam di ranjangnya. Ia ingin sekali bertemu dengan sosok yang telah menyelamatkan dirinya. Dia harus membuat wanita itu membayar semuanya!
***
"Dengan ini, saudara Robby Wijaya dan saudari Felicia Hera resmi tidak memiliki ikatan apa pun di mata hukum."
Tok tok tok
Hakim telah mengumumkan dan mengetuk palunya tiga kali. Tanda bawah sidang hari itu telah berakhir.
Felicia masih terduduk di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika kehidupan rumah tangganya akan berakhir di meja hijau. Terlebih, sidang perceraian yang dilakukan secara tertutup itu hanya dihadiri oleh keluarga dekat Robby.
Tidak ada satu pun keluarga Felicia yang datang karena gadis itu hanya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan Felicia tidak mau membuatnya khawatir. Sebagai gantinya, Inara yang menjadi saksi dari pihak Felicia.
Sahabatnya itu menepuk bahu Felicia dua kali. "Aku akan menunggu di luar," katanya, kemudian beranjak pergi.
Felicia mengangguk satu kali. Dia menoleh ke arah Robby dan pria itu pun tengah memandang ke arahnya.
Namun, Robby yang ada di hadapannya terlihat amat berbeda dengan sosok yang telah dia nikahi. Kini, pria itu terlihat dingin dan tidak terjangkau.
"Akhirnya, kamu menceraikan putraku juga." Suara Maura terdengar menyambut Felicia di pintu keluar.
Felicia mengangkat wajahnya yang telah ia poles agar terlihat lebih cantik hari ini. Di hadapannya, sudah ada Maura yang terlihat jelas menunggu dirinya.
"Aku sudah menunggu-nunggu momen ini. Sejak awal, aku tidak pernah menyukaimu. Dan benar saja. Kau benar-benar gadis pembawa sial. Jika bukan karenamu, Robby pasti sudah mendapatkan karir yang lebih bagus dan sudah memiliki keturunan!" cecar Maura.
Wanita itu tidak peduli pada orang yang berlalu lalang. Tanpa ragu, dia mencerca Felicia yang berdiri seorang diri.
"Aku benar-benar bersyukur karena pada akhirnya dia bercerai dengan gadis tidak beruntung sepertimu. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau berharap bisa menjadi seorang dokter lagi? Jangan bermimpi. Hidupmu akan menjadi semakin buruk. Dan itu semua salahmu yang tidak bisa memberikan kebahagiaan apa pun kepada Robby, dasar gadis pembawa sial!" sergah Maura.
Felicia tidak menjawab. Tangannya mengepal menahan emosi yang nyaris meledak. Ia ingin mengeluarkan semuanya, tetapi apa gunanya? Mereka sudah berakhir dan Felicia pada akhirnya terlepas dari kungkungan mertua seperti Maura.
Sebuah rantai seakan baru saja dilepaskan dari lehernya.
"Hidup Robby akan terus meningkat. Sebaliknya, hidupmu pasti akan terus terpuruk!" Maura bersumpah, kemudian langsung berjalan pergi dengan angkuh. Langkah kakinya terdengar kesal. Padahal, Felicia adalah satu-satunya yang dirugikan di sini.
Wanita itu mengembuskan napas panjang. Ia telah bercerai dengan suaminya dan belum mendapat pekerjaan di mana pun. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
Felicia membalikkan tubuhnya dan berniat menghampiri Inara yang sedang menunggunya. Betapa terkejutnya wanita itu saat menemukan seorang pria yang duduk di kursi roda, tepat di hadapannya. Dia menatap lurus ke arah Felicia.
"S--siapa kau?" tanya wanita itu dengan gugup.
Gavriel menyeringai tipis, tidak menyangka jika Felicia justru melontarkan pertanyaan semacam itu.
Ya, dia sengaja datang kemari untuk menemui penyelamatnya secara langsung. Namun, Gavriel tidak menyangka dia justru harus menyaksikan pertengkaran itu.
Salah satu alis Gavriel terangkat naik. Tatapannya terlihat dingin dan tidak tersentuh.
"Jadi, ini adalah urusan mendesak yang membuatmu tidak bisa menemuiku?" Dia bertanya, mengabaikan pertanyaan Felicia.
Suaranya terdengar berat dan memiliki pengaruh yang kuat. Benak Felicia seakan diterpa angin beku mendengarnya, dan ia yakin suara itu begitu berpengaruh hingga mampu membuat siapa pun yang mendengarnya tunduk seketika.
Alis Felicia mengernyit dalam.
"Menemuimu?" gumamnya. Matanya langsung terbelalak saat menyadari sesuatu. "K--k--kau... kau adalah pria yang pingsan itu?!" sergah Felicia dengan tidak percaya.
Kemarin-kemarin, pada saat pertemuan pertama mereka, Felicia terlalu fokus pada pertolongan pertama yang harus diberikan sehingga tidak sempat mengamati wajah pria itu dengan saksama.
Dia sama sekali tidak menyangka jika pria yang telah dia selamatkan sangat tampan. Tidak hanya tampan, pria itu juga terlihat berwibawa meski wajahnya belum berumur. Dia duduk di kursi roda, tetapi Felicia bisa melihat tubuhnya yang tampak atletis dan tegap. Rahangnya terlihat tegas dan melekuk sempurna, sementara alis tebalnya amat mendukung iris hitamnya yang terlihat tajam.
Perlahan, Gavriel menggerakkan kursi rodanya mendekat.
"Bagaimana mungkin seorang dokter melupakan wajah pasiennya sendiri?" Pria itu bertanya. Suaranya terdengar datar dan sedingin es.
Felicia berkedip cepat, masih tidak menyangka jika dia telah berhasil menyelamatkan hidup seseorang.
"Maafkan aku," ucapnya, "Kemarin, aku terlalu fokus mencari cara untuk menolongmu dan tidak sempat mengamati wajahmu." Dia berkata jujur.
"Apakah kau benar-benar mandul?" Gavriel tiba-tiba bertanya.
Sebuah kilat penasaran terbit di mata hitam legamnya.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Hingga akhirnya wanita itu menggeleng.
"Tidak," katanya, "Tapi, aku tidak kunjung bisa memiliki keturunan dan keluargaku berpikir itu adalah kesalahanku."
Betapa tidak adil, pikir Gavriel.
Ia telah mendengar semua perkataan mertua wanita itu dan tidak mengerti bagaimana Felicia bisa bertahan tanpa memprotesnya.
"Kamu mau mencobanya denganku?" Pria itu bertanya.
Felicia mengerjap cepat. Wajahnya terlihat bingung. "A--apa maksudmu, Tuan?"
"Tidur denganku," Gavriel menjawab, "Kamu mau mencobanya? Aku tidak akan keberatan."
Jantung Felicia seakan jatuh dan tenggelam ke lambungnya.
...pria yang pernah selamatkan dari kematian, kini justru mengajaknya tidur bersama pada pertemuan kedua mereka. Bagaimana mungkin?
"Ti--tidak perlu," jawab Felicia seraya menggelengkan kepala dengan canggung. "Kau tidak perlu melakukan sampai sejauh itu."
"Jadi, kamu tidak ingin membuktikannya kepada mereka?" tembak Gavriel.
Ya, pria itu memang mudah terganggu dengan hal-hal kecil, dan ucapan wanita semena-mena itu benar-benar menganggu benaknya hingga Gavriel sendiri ingin sekali membalaskan dendamnya.
"Tidur denganku, dan kita akan membuktikan apakah kau benar-benar mandul atau mantan suamimu yang tidak bisa memberikan keturunan. Anggap saja, ini adalah bayaran atas jasamu menyelamatkan nyawaku." Gavriel menawarkan.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia tidak mengenal pria di hadapannya, tetapi wajah dan kata-katanya terdengar menyakinkan.
Tidak hanya meyakinkan, tetapi perkataan Gavriel juga menawarkan pembelaan untuk Felicia yang lemah.
Sejak dahulu, Felicia memang sudah curiga jika Robby adalah satu-satunya yang tidak subur, sebab jadwal menstruasi Felicia selalu lancar setiap bulannya. Namun, Robby langsung merasa tersinggung jika Felicia menyarankannya untuk diperiksa, begitu juga Maura yang langsung mengecamnya.
Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Felicia untuk membuktikannya.
Tidak diduga, gadis itu mengangguk satu kali. "Baiklah," katanya, "Ayo kita mencobanya."
***
Seakan telah ditakdirkan, semuanya berjalan dengan amat lancar. Dalam waktu kurang dari setengah jam, keduanya telah berada di sebuah kamar hotel mewah yang disewa oleh pria asing itu.
Kini, Felicia setengah menyesali keputusannya. Bagaimana mungkin dia menerima tawaran dari pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya?
Gavriel sudah cukup kuat untuk bangkit dari kursi rodanya. Pesona dan wibawanya kian terlihat menusuk dan berkuasa saat ia berdiri tegak.
"A--apakah kau yakin sudah cukup sehat untuk melakukannya?" Felicia bertanya dengan gugup.
Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal tersebut. Bahkan, meski saat ia masih bersama Robby, pria itu lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit dan membuat Felicia tidak mendapatkan nafkah batin darinya.
Gavriel menyeringai. "Sepertinya, kau meremehkan kemampuanku," ucap pria itu.
Dia mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, tepat di sisi Felicia dan jantung Felicia berdegup dua kali lebih cepat.
Ia benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa dia justru terjebak dengan seorang pria di kamar hotel ini?
Seolah sudah terbiasa melakukannya, Gavriel memulainya dengan menyingkapkan rambut panjang Felicia yang menutupi sebagian wajahnya.
Bahu Felicia seketika terangkat saat tangan dingin dan besar Gavriel menangkup rahangnya.
"Apakah... kau yakin akan melakukan ini denganku?" tanya Felicia, setengah berbisik, "Julukanku adalah gadis yang tidak beruntung. Kamu mungkin akan ikut terseret pada ketidakberuntungan jika membantuku."
Sudut bibir Gavriel tertarik ke samping membentuk seringai tipis. Pada saat seperti ini, wajah pria itu benar-benar terlihat tampan dan maskulin, melebihi top model yang pernah Felicia lihat di majalah.
"Jangan khawatir," katanya, "Aku akan membuatmu menjadi wanita paling beruntung hari ini." Dia berbisik seduktif, kemudian langsung menarik tengkuk wanita itu dalam ciumannya.