“Kamu yakin, Tari?”
Wanita yang dipanggil Tari membentuk lengkungan pada bibirnya. Jemarinya ia gunakan untuk menyentuh lembut punggung tangan sang lawan bicara. Ada nada khawatir yang terdengar, ia bisa merasakan itu.
“Yakin. Aku enggak mau merepotkan keluarga kalian lebih lama lagi. Toh, itu pekerjaan halal.” Ucapannya penuh keyakinan. Matanya menyiratkan sedikit permohonan.
“Tapi janji satu hal sama aku, Tari. Kalau enggak betah, kamu langsung pulang ke sini. Ngurus anak itu susah, lho.”
Kala Mantari, hanya beberapa yang dekat dengannya memanggil dengan nama Tari, terkekeh kecil. “Iya, aku tahu.” Tekadnya bulat.
Sejak lulus, Risa Andita—sahabat Kala, merantahu ke Jakarta. Berbekal ijazah universitas kenamaan di Surabaya, membuat seorang Risa kini bisa dikatakan sukses dalam karir. Jabatannya sebagai Manager HRD di sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja, cukup mumpuni jika menjadi pembicaraan di kampung halaman mereka.
Agak terkejut Risa mendapati tekad Kala yang ingin merantahu di Jakarta namun, sepertinya itu memang pilihan yang bagus. Siapa tahu, apa-apa yang sedang dihadapi sahabatnya itu, bisa teralih dan terlupakan. Besar harap Risa itu terjadi. Kepada Risa lah segala kisah wanita itu ia bagi. Risa tahu dengan cukup jelas segalanya.
Oleh karenanya, tanpa pikir panjang Risa menyetujui kedatangannya di Jakarta. Malah ia menyambutnya dengan sangat hangat. Kala, adalah sosok yang menjadi pengulur tangan di saat Risa butuh sekali bantuan. Mungkin Tuhan ingin agar kali ini, Risa-lah sebagai penopang yang nyata bagi Kala di Jakarta. Setelah beberapa tahun hanya menyokong lewat sambungan udara.
Akan tetapi, bukan jenis pekerjaan seperti ini yang Risa inginkan untuk Kala kerjakan. Bukan. Entah dari mana ide itu terlintas di benak sahabat yang kini memandangnya dengan lekat. Risa balas tatap itu dengan banyak bimbang, karena ini bukan keputusan yang mudah. Di sisi lain, Kala menatap sabahatnya dengan penuh harap. Kala sama sekali tidak ingin menjadi beban Risa lebih lama. Cukup baginya, tiga minggu dirinya ada di sini.
“Iya, yang Risa katakan itu benar, Tari. Bukan apa, kamu enggak ada keluarga di Jakarta.” Irsyad, suami Risa ikut andil dalam obrolan yang dinilai cukup serius itu. Hidup di Jakarta itu tak semudah kata-kata. Dirinya tak keberatan dengan adanya Kala di rumahnya. Irsyad sudah dijelaskan dengan detail bagaimana hubungan istrinya dengan wanita berambut sebahu itu. “Dan menjaga anak itu sulit,” imbuh Irsyad.
“Aku benar-benar hargai bantuan kalian. Seenggaknya, sampai aku dapat kerja yang sesuai dengan bidangku, pekerjaan ini layak kucoba.”
Kala sudah tak ingin mundur lagi. Dirinya masih mengingat segala petuah dari kedua orang tuanya saat Kala dijemput mobil travel ke Jakarta.
“Bapak sebenarnya berat, Nak, melepas kamu. Tapi sepertinya kamu memang butuh ruang. Bapak mengerti. Bapak cuma berpesan, jangan terlalu lama merepotkan Nak Risa. Asal pekerjaan itu halal, Bapak ridho. Cari pekerjaan yang menurut kamu bisa dikerjakan dan dipertanggungjawabkan.” Pria paruh baya itu menggenggam tangan sang putri demikian erat. Beda halnya dengan sang istri.
Tatapannya masih menyorotkan ketidaksukaan. “Lebih baik kamu di toko, Nduk... Nduk.”
Tari hanya tersenyum kecil. “Tari butuh restu Ibu juga.”
“Tiga bulan enggak dapat kerja juga, pulang.”
Lagi-lagi hanya seulas senyum yang bisa Tari beri. Lalu netranya dialihkan pada satu sosok yang lain. “Mbok Tin, tolong jaga Ibu dan Bapak, ya.”
“Nggih, Non. Nggih.” Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. “Non di sana hati-hati, ya.”
“Tari pamit, ya. Bu, Pak, Mbok Tin.”
Kala mendengar Risa menghela napas panjang, membuat gelembung ingatan itu pecah seketika. Berganti dengan wajah Risa yang nampak nelangsa dengan apa yang menjadi keinginan sahabatnya itu. “Aku enggak tega, Bi, masa Tari bekerja jadi mitraku.” Kata-kata itu disambut usapan sayang dari Irsyad. Ia cukup memahami bagaimana dilema seorang Risa.
“Sa, pekerjaan apa pun selama itu halal, layak dicoba. Toh, aku enggak diam saja. Aku akan terus apply pekerjaan, kok.”
“Kalau ada info pekerjaan pasti saya segera kabari, Tari.” Irsyad berkata dengan mantap.
“Nah, Irsyad sudah berbaik hati juga mau bantu.” Kala mencoba menegarkan hati Risa. Tidak. Tidak. Dirinya sendiri pun perlu suntikan energi dan juga keyakinan penuh, kalau ini hanya sebatas batu loncatan. Ia akan berusaha maksimal mencari pekerjaan yang layak. Setidaknya untuk saat ini, ia bekerja. Tidak menjadi beban sahabatnya untuk waktu yang lama. Ia tak ingin hal itu terjadi walau Risa tak pernah mengeluh. Tapi Kala cukup sadar diri.
“Oke kalau kamu sudah yakin.” Risa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam hati ia berharap, semoga Kala segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengannya. Ia merasa sayang dengan ijazah dan gelar sarjana yang dimiliki Kala; Psikologi.
Seandainya saja dulu…
***
Kala mengisi semua berkas yang dibutuhkan Risa dengan penuh pertimbangan. Ada beberapa pertanyaan yang membuatnya berpikir, apa ia harus menulis dengan jujur?
Perusahaan tempat Risa mencari nafkah memang bergerak di bidang penyalur tenaga kerja. Mulai dari asisten rumah tangga, juru masak, satpam perumahan, atau baby sitter. Dirinya memahami ini bukan keputusan yang mudah. Ada ego yang mesti Kala singkirkan saat menyatakan keinginannya pada Risa. Bahkan Risa sangat menyayangkan hal ini. Sepanjang jalan menuju kantornya, Risa masih mencoba memengaruhi tekad Kala.
Akan tetapi Kala sudah bulat inginnya. Setidaknya, ini bukan pekerjaan yang dilarang dan buruk di matanya.
“Ada satu klien. Bolak balik minta baby sitter ke kami, Tari.”
Konsentrasi Kala terhenti sejenak saat Risa berjalan ke arahnya. Membawa satu berkas yang entah apa isinya. Berkas itu kemudian disodorkan pada Kala untuk dibaca. Kening wanita itu berkerut.
“Ini referensi mengenai keluarga yang meminta jasa dari kami,” imbuh Risa. Saat Kala mulai meneliti satu per satu lembar yang tadi disodorkan, Risa pun melanjutkan perkataannya. “Klien ini super ribet. Ada saja kendalanya. Terutama anaknya. Jumat kemarin dia telepon agak marah-marah gitu. Katanya pekerja sebelumnya bikin anaknya nangis enggak bisa dibujuk. Entah apa sebabnya, klien itu enggak mau cerita.”
Kala mendengar penjelasan Risa dengan saksama walau matanya tertuju pada biografi singkat keluarga klien yang dimaksud. Andaru Aria Susetyo. Nama klien yang dimaksud Risa.
“Kamu bikin aku cepat enggak betah, ya?” Kala langsung mengerti maksud sahabatnya itu. Dalam resume yang dibaca, klien ini sudah lima kali minta pengganti untuk baby sitter. Mungkin benar adanya yang Risa bilang, klien yang satu ini sedikit menjengkelkan.
“Bukan gitu. Aku sudah cari klien lain. Tadinya ada tiga yang masuk di hari Jumat, tapi hari sabtu langsung full book. Tersisa ini aja.” Risa merasa tidak enak dengan apa yang dituduhkan Kala padanya, walau itu memang seratus persen benar.
“Layak dicoba.” Kala tersenyum sembari mengembalikan berkas yang tadi ia baca. “Aku perlu siapkan apalagi?”
Sepertinya jebakan itu belum bisa membuat goyah pemikiran Kala Mantari.
“Enggak ada, sih. Semuanya sudah oke. Tapi kamu yakin?”
Pertanyaan yang sudah bosan didengar Kala keluar lagi dari bibir mungil sahabatnya itu. “Yakin, Sa. Ini layak dicoba. Kalau enggak betah, aku tinggal pamitan. Iya, kan?”
Risa mengangguk pelan. “Oke kalau begitu. Nanti aku minta Dede hubungi kliennya dulu. Buat janji bisa bertemu kapan sama kamu.”
Kala mengacungkan jempol tanda setuju. Setidaknya, satu beban yang menggelayuti pikirannya mulai terangkat.
***
“Ma, Aria berangkat.”
Wanita paruh baya itu tersenyum kecil ketika punggung tangannya dicium khidmat oleh sang putra. “Kamu sudah buat janji untuk interview pengasuh Sheryl?”
“Sudah. Sabtu ini. Mama dan Sheryl ikut, biar bisa menilai juga.”
Wanita yang dipanggil Mama itu hanya mencibir. “Kamu yang banyak mau. Mama enggak.”
Merasa disindir, pria itu hanya terkekeh.
“Princess Papa.” Kini, dirinya berhadapan dengan seorang gadis kecil yang sudah rapi dengan seragam sekolah. “Jangan cemberut gitu, nanti manisnya hilang. Sabtu ini, Sheryl bertemu Mbak baru, ya.”
Gadis itu hanya mengangguk kecil.
“Papa berangkat dulu, Sheryl juga segera berangkat, ya.”
Jawabnya hanya direspon dengan anggukan. “Sheryl boleh minta sesuatu enggak, Pa?’
Kening pria itu berkerut. “Apa?”
“Aku mau Mbak yang pintar. Jadi kalau ditanya PR, selalu punya jawaban. Bukan enggak tahu terus. Aku sebel.”
Baik sang pria atau pun wanita paruh baya tadi, tertawa mendengar pinta sang gadis kecil itu.
“Siap, Princess.”
“Kalau Mbak barunya pintar, Sheryl enggak nakal lagi, kan?” tanya wanita paruh baya itu memastikan.
“Enggak dong, Eyang. Sheryl akan jadi anak baik, deh.”
Kala duduk dengan mencoba tenang. Ada gelisah yang menyusup namun coba dihalau dengan senyum kecil yang ia punya. Di depannya duduk pria yang mengenakan Polo shirt hijau pupus, tampak membolak balik berkas yang ia kenali sebagai data dirinya.
“Kamu enggak sayang ijazah kamu?” tanya pria itu dengan sedikit bertopang dagu. Berkas itu sudah diletakkan kembali di meja.
Satu dari banyak hal yang membuat Kala bingung harus merespon seperti apa.
“Pengalaman kerja kamu apa?”
Terutama bagian ini, paling membuat Kala ketar ketir sebenarnya.
“Tidak ada.”
“Tidak punya pengalaman, tapi lulusan sarjana.” Daru bergumam pelan, mengusap ujung dagunya penuh pertimbangan. “Apa yang membuat kamu mau bekerja seperti ini? I mean, baby sitter?Oh, sorry. Maksudnya ... jadi pengasuh.”
“Saya butuh pekerjaan.” Kala menjawab dengan lugas.
Ia dengan jelas mendengar sang lawan bicara menghela napas panjang. “Butuh, ya.”
Walau hanya melihat dari sudut matanya, Kala yakin dengan sangat, kening pria itu berkerut. Mungkin pikirnya, tanpa pengalaman mana bisa dirinya diserahi anak untuk dijaga.
“Suka anak-anak?” tanya pria itu lagi.
Ada jeda beberapa detik sebelum Kala menjawab, “Suka.”
“Dalam skala 100, suka anak-anak nilainya berapa?” tanya Daru cepat.
“85, Pak.” Kala tak kalah cepat dalam menjawab.
“Bisa imbangi anak-anak kalau marah, emosional, egois, banyak mau, tidak bisa diatur?” Daru menatap lekat-lekat calon pengasuh anaknya ini.
Wanita berambut sebahu itu hanya mengangguk. Kala tidak tahu apa ini sebuah jawaban yang salah atau dirinya dalam screening tanpa kata.
“Jujur, Mbak ... Kala atau Ta—”
“Kala,” potong Kala segera.
“Oke, Mbak Kala. Jujur saja, anak saya ini sangat pemilih. Tingkat adaptasinya terhadap orang lain, rendah. Agak pemarah, egois, dan gampang merajuk. Tapi saya butuh bantuan untuk menjaga selama saya bekerja.” Pria itu, yang tadi memperkenalkan diri sebagai seorang Andaru Aria, masih belum menurunkan tatapan menelisik pada wanita yang ada di depannya itu.
Hening menemani mereka.
“Kamu kenalan sama anak saya dulu, deh. Biar saya bisa menilai kamu lebih jauh.”
Kala mengangguk pelan, bangkit dengan segera ketika pria itu berdiri. Melangkah meninggalkan ruangan yang memang disediakan untuk proses interview antara calon klien dengan mitra.
Saat keluar ruangan, sosok yang mungkin dimaksud sang pria itu duduk di sana. Memainkan gadgetnya dalam diam. Sesekali rambutnya diusap lembut oleh wanita paruh baya yang Kala menduga, nenek sang gadis kecil.
“Princess,” panggil Daru. Mereka berdua pun menoleh ke arah sumber suara. “Ini calon Mbak baru kamu. What do you think?’
Untuk pertama kalinya, mata mereka berdua mengudara. Bola mata secantik boneka itu memenuhi netra Kala dengan sempurna. Definisi cantik sedari kecil layak disemat pada gadis berponi itu. Kala yakin, dewasa kelak gadis kecil itu akan menjelma menjadi sosok yang demikian mengagumkan.
“Good,” katanya. Kala mengerjap pelan. Tatapan itu langsung dialihkan kembali dengan sempurna pada benda pipih yang dibawa sang gadis.
“Siapa nama kamu, Nak?” Kali ini wanita paruh baya yang menemani sang gadis yang bicara.
“Kala, Bu.”
“Ehm ... beliau ibu saya.”
Kala mana berani menoleh. Ia hanya menjawab dengan anggukan sopan.
“Silakan kamu coba berkenalan dengan anak saya. Saya beri ruang.”
Sejenak mata Kala memejam. Ia merasa dalam test yang dibuat oleh Daru cukup berat. Pengalaman Kala di belakang meja kantor saja, nol besar. Apalagi berhadapan dengan anak kecil. Namun, ia harap bisa melaluinya. Ia merapal satu kata, bismillah, sebelum melangkah. Merasa sudah diberi jarak oleh ayah sang anak, Kala berjalan mendekat dengan ragu yang besar. Ini pilihannya, tak boleh ada kata menyerah, kan?
“Hai,” sapa Kala ramah.
Gadis kecil itu hanya mendongak sesaat. Lalu mata seelok boneka langsung menatap layar tabletnya lagi. Tanpa respon apa-apa. Bahkan seringai kecil pun tak ada.
“Mbak mau kenalan, boleh?”
“Bukannya Mbak sudah kenal nama aku, ya? Kenapa harus kenalan lagi?”
Helaan kecil terembus sudah. “Nama Mbak, Kala. Nama Non?”
Atensinya mulai teralih, hanya sebuah tarikan kecil di sudut bibirnya yang Kala bisa lihat. “Kala? Nama Mbak aneh.”
“Kalau begitu, nama Non berarti bagus. Benar?”
“Iya. Nama aku Sheryl. Sheryl Amanta Versha.”
***
Dalam kesepakatan yang ada, Kala diharuskan untuk tinggal di rumah calon majikannya. Tak bisa ditolak oleh Kala. Jadi, dua hari sejak kedatangan mereka, Kala berakhir di sini. Di depan gerbang hitam rumah tingkat dua yang tampak asri dari luar.
Tadi pagi, Kala berpamitan pada keluarga Risa. Diiringi mata yang berkaca-kaca dari Risa, juga beberapa petuah dari ibunda Risa, pun peluk hangat dari anak sahabatnya yang berusia lima tahun. Abyan namanya.
Kala masih ingat bagaimana Risa memperingatinya, kalau-kalau di sana ada yang berbuat buruk, maka ia akan menjemput Kala secara paksa. Tak peduli kalau harus ia harus menanggung akibatnya. Kala terkekeh mendengar hal itu. Katanya, Risa terlalu mengada-ada. Walau sebenarnya, hati Kala mendadak ciut juga.
Belum lagi cerita Risa mengenai klien yang memutuskan memberi kesempatan pada Kala, betapa menyebalkan ketika klien itu menginginkan kriteria pengasuh untuk anaknya itu. Nyaris mendekati sempurna, kata Risa malam sebelum keberangkatan Kala. Wanita berambut sebahu itu hanya mengulum senyum, “Aku coba dulu, Sa. Enggak ada salahnya, kan? Toh, aku diberi kesempatan.”
Decak kesal diterima Kala dari Risa. “Aku kayak enggak rela aja gitu.”
“Ini cuma sekadar batu loncatan, kok. Aku bakalan apply pekerjaan yang sesuai juga.”
Semoga pilihannya tak salah. Semoga. Hanya itu yang bisa Kala gelung dalam hatinya, agar langkahnya tak lagi ragu. Biarpun ia harus menghadapi majikan yang sepertinya memang merepotkan. Bagaimana tidak. Sepanjang perjalanan Kala hingga tiba di sini, berulang kali Daru mengirimkannya pesan. Mulai dari; nomor plat taksi online, nama drivernya, alamat kediaman Daru dalam ejaan yang benar jangan sampai keliru, hingga pertanyaan sepele, “Sudah sampai di mana, Mbak? Tanya sama pak supirnya.”
Kala hanya mampu menghela napas panjang dengan rentetan pesan tersebut. Perjalanan hidupnya di Jakarta akan dimulai. Bel di ujung gerbang sudah Kala perhatikan sejak sekian menit lalu. Bismillah. Tak butuh waktu lama baginya, agar gerbang itu terbuka. Menampilkan sosok yang lebih muda darinya, tersenyum kelewat ramah menurut Kala.
“Pasti Mbak Kala, ya?
Wanita berambut sebahu itu hanya mengangguk canggung.
“Saya Nina, Mbak.” Gadis bernama Nina itu mengulurkan tangannya. “Semoga Mbak kerasan, ya, di sini.”
Disambutnya uluran tangan itu dengan hangat. Semoga, pilihannya kali ini tepat.
“Mari, Mbak. Sudah ditunggu Ibu.”
Kala mengimitasi langkah Nina. Beruntung baginya barang bawaannya hanya satu koper berukuran sedang dan tas yang bisa ia tenteng. Mulai memasuki rumah yang menurut Kala cukup mewah. Ketika pintu ukir kayu itu didorong pelan oleh Nina, aroma citrus menyapa Kala dengan lembut. Matanya disuguhkan dengan aneka furniture yang apik juga elegan.
“Bu, Mbak Kala sudah sampai,” kata Nina.
Wanita paruh baya yang dua hari lalu berkenalan dengannya, menyambut Kala dengan senyuman. “Ibu sudah khawatir takut kamu kesasar, Nak.”
Bibir Kala mengurva separuh, “Alhamdulillah enggak, Bu.”
“Ibu tunjukkan kamar kamu dulu, ya. Nanti Ibu ajak keliling rumah. Enggak keberatan, kan?”
Sekali lagi, Kala tersenyum menanggapi. “Enggak, Bu.” Kini langkah Kala mengikuti arah yang ditunjukkan oleh sang tuan rumah. Kala masih ingat namanya, Anna Susetyo. Ibu dari majikannya sekarang.
Mereka menyusuri lorong yang mengarah ke belakang rumah. Sepanjang mengikuti langkah seorang Anna, Kala memperhatikan sekeliling. Rumah ini besar, terkesan mewah tapi dibuat dengan nuansa asri. Banyak jendela besar yang terbuka, membuat siklus udara di setiap ruangan terasa nyaman.
“Nah, ini kamar kamu. Di sebelahnya, kamar Sari. Nanti kamu kenalan, ya. Kebetulan Sari lagi belanja.” Anna membuka satu pintu, mendorongnya pelan, lalu mempersilakan Kala untuk masuk.
Ruang yang akan menjadi kamar Kala cukup besar. Semua fasilitas di dalamnya tersedia; TV, kipas angin, single bad, juga satu meja yang sepertinya diperuntukkan untuk meja rias.
“Nak Kala beresin barangnya dulu. Nanti temui Ibu di ruang makan, ya. Sheryl belum makan. Akhir-akhir ini anak itu sulit sekali makan,” keluh Anna namun kembali tersenyum saat matanya menatap Kala. Besar harapnya agar nanti Kala mampu mengimbangi Sheryl.
“Iya, Bu. Nanti Kala segera ke sana.”
Dalam hati Kala berdoa, semoga segala sambut ramah ini akan terus terjaga. Semoga ia bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab. Dan semoga apa yang menjadi misinya bisa terlaksana.