Risa Irawan POV:
Keheningan di dalam mobil terasa memekakkan telinga, hanya diisi oleh suara Heru yang terisak pelan di kursi belakang. Dia memeluk kotak makan siangnya yang masih penuh, kue ulang tahun mini yang kubuat sendiri pagi itu, jauh dari kemewahan kue edisi terbatas yang Teguh janjikan.
"Kakak," Heru memanggil, suaranya serak. "Ayah... dia sungguh tidak akan datang?"
Kata "Ayah" itu terasa seperti pisau yang mengiris hatiku. Teguh bukan ayah kandung Heru, tapi Heru selalu menganggapnya begitu. Teguh, dengan segala karismanya, pernah begitu menyayangi Heru. Namun, seiring kesuksesan yang diraihnya, perhatiannya pada adikku semakin memudar. Aku tidak bisa menjawab. Setiap kali Teguh berjanji, setiap kali Heru berharap, hanya kekecewaan yang tersisa.
Aku ingat saat perpisahan sekolah Heru. Dia memenangkan lomba melukis, tapi ekspresi wajahnya keruh. Aku tahu dia ingin Teguh ada di sana, melihatnya di panggung. Tapi Teguh tidak datang. Malam itu, Heru bertanya kepadaku, "Apa Ayah tidak menyayangiku lagi, Kak?"
Aku mematikan mesin mobil di depan rumah sewaan kami yang sederhana. Aku berbalik, menatap Heru. Matanya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan yang mendalam.
"Tentu saja Ayah menyayangimu, sayang," kataku, berusaha meyakinkan diriku sendiri. "Hanya saja, dia sangat sibuk." Aku merutuki diriku sendiri karena membiarkan kebohongan ini berlanjut.
"Tapi dia janji akan datang ke ulang tahunku," bisik Heru. "Dengan kue itu. Kue yang sangat aku inginkan."
Ponselku berdering di pangkuanku. Itu pesan dari Teguh.
"Aku tidak bisa datang, Risa. Ada masalah penting di restoran. Maaf."
Aku tahu itu bohong. Aku sudah melihat fotonya dengan Selia. Aku sudah melihat kue sialan itu.
Aku membalasnya dengan satu kata: "Baik."
Heru menatapku, matanya memancarkan harapan yang rapuh. "Ayah membalas pesan, Kak?"
Aku tersenyum, senyum yang terasa hampa. "Iya, sayang. Mungkin dia akan datang nanti malam." Kebohongan manis ini adalah satu-satunya obat yang bisa kuberi pada Heru saat itu.
Senyum Heru melebar, meski masih terlihat lelah. "Benarkah?"
"Benar." Aku mengangguk, memaksa hatiku untuk tidak hancur.
Malam itu, kami menyiapkan makanan kesukaan Teguh. Heru dengan semangat menceritakan bagaimana Teguh pernah mengajarinya membuat crème brûlée. Setiap kenangan manis yang Heru sebutkan terasa seperti sengatan listrik di hatiku.
Pukul delapan malam. Pukul sembilan malam. Pukul sepuluh malam.
Heru duduk di depan pintu, menatap keluar jendela, setiap kali ada mobil lewat, wajahnya berseri. Setiap kali mobil itu berlalu, bahunya merosot. Aku menelepon Teguh, sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban.
Pukul sebelas, Heru menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. "Kak, aku tidak mengantuk lagi. Aku ingin tidur." Suaranya sangat pelan, tapi aku bisa merasakan kekecewaan yang menusuk di setiap katanya.
"Tidak apa-apa, sayang," kataku, memeluknya erat. "Kita bisa menunggu besok."
Heru menggeleng. "Tidak," katanya, air matanya menetes di bahuku. "Aku tidak mau menunggu lagi."
Aku membawa Heru ke tempat tidur, menyanyikan lagu pengantar tidur yang dulu sering Ibu nyanyikan. Aku menyalakan lilin di atas kue mini buatan tanganku. "Tiup lilinnya, sayang. Buat permohonan."
Heru menatapku, lalu pada lilin yang menyala. Dia memejamkan mata, wajahnya keruh. Aku tahu apa yang dia minta. Dia meminta ayahnya kembali. Aku merasakan air mataku sendiri mengalir.
Sejak malam itu, Heru tidak pernah lagi menyebut nama Teguh sebagai "Ayah."
Dua hari setelah ulang tahun Heru yang menyakitkan, aku membuka media sosial. Sebuah postingan dari akun gosip selebriti muncul di berandaku. Teguh Jais, pemilik Restoran Adiwangsa, melamar food vlogger terkenal Selia Rasyid di sebuah acara mewah. Sebuah foto menunjukkan Teguh berlutut, memegang kotak cincin beludru merah. Di sampingnya, kue edisi terbatas yang persis sama dengan kue yang dia janjikan untuk Heru.
Cincin itu. Aku mengenali cincin itu. Itu adalah cincin yang Teguh pernah desain khusus untukku, delapan tahun lalu, sebagai simbol pernikahan rahasia kami. Dia bilang itu adalah cincin paling istimewa yang pernah ada.
Hari ulang tahun Heru dan hari lamaran Teguh pada Selia adalah hari yang sama. Bukan hanya dia tidak datang, dia bahkan menggunakan kue Heru untuk melamar wanita lain.
Pusaran amarah dan keputusasaan menyapu diriku. Rasanya seperti sebuah ledakan di dalam dadaku, menghancurkan sisa-sisa harapanku. Tapi setelah ledakan itu, yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
Aku menutup aplikasi media sosial, menghapus akun Selia dari daftar pertemananku. Tidak ada lagi yang perlu dilihat, tidak ada lagi yang perlu dirasakan. Aku sudah cukup.
Ini berakhir. Semuanya.
Risa Irawan POV:
Pagi itu, aku bangun sebelum matahari terbit, dengan kepala yang terasa ringan dan hati yang kosong. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi harapan. Hanya tekad yang membara. Aku menuangkan secangkir kopi hitam dan mulai mempersiapkan berkas-berkas cerai.
Saat Teguh turun, rambutnya acak-acakan dan matanya merah, dia berhenti di pintu dapur. Dia melihat kue ulang tahun Heru yang kubuat, diletakkan di sudut meja, seolah tidak disentuh. Ekspresinya kosong, seperti sebuah patung lilin.
"Risa," Teguh memulai, suaranya serak. "Aku... aku minta maaf soal semalam. Ada kekacauan besar di restoran, Selia membutuhkan bantuanku untuk siaran langsung. Itu sangat mendadak."
Aku menatapnya. Inilah kebohongan lain yang akan dia ucapkan, setelah semua yang terjadi? Aku hanya bisa tersenyum pahit. "Tentu saja," kataku. "Prioritasmu selalu jelas, Teguh."
Aku meletakkan amplop putih itu di atas meja, di dekat cangkir kopinya. Amplop yang sama seperti yang kuberikan padanya kemarin di kantor.
Teguh mengerutkan kening. "Apa ini?"
"Surat cerai kita," jawabku datar. "Dan surat pengunduran diriku dari Adiwangsa."
Wajah Teguh pucat. Dia hendak berkata sesuatu, tapi ponselnya berdering di sakunya. Dia mengambilnya, dan kudengar suara Selia dari seberang telepon, setengah menangis, setengah marah.
"Teguh! Kamu di mana? Semuanya berantakan! Aku butuh kamu!"
Teguh menghela napas, berusaha menenangkan Selia. "Aku datang sekarang. Tenang, sayang." Kata "sayang" itu diucapkan dengan nada yang tidak pernah kudengar selama bertahun-tahun.
Dia melirikku, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi dia hanya mengambil pena, menandatangani surat-surat itu tanpa membacanya lebih lanjut. Lalu, tanpa sepatah kata lagi, dia bergegas keluar.
Aku hanya menatap pintu yang tertutup di belakangnya. Tawa pahit keluar dari tenggorokanku. Keluarga kami hancur, dan dia bahkan tidak peduli untuk melihat alasannya.
Sore harinya, sebuah paket tiba. Itu dari Teguh. Aku membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, ada sebuah boneka Barbie edisi terbatas yang sangat mahal. Aku tahu Teguh membelinya sebagai hadiah ulang tahun Heru.
Aku ingat bagaimana Heru kecil pernah menangis ketakutan saat melihat boneka Barbie. Itu gara-gara Selia. Saat itu, Selia masih sering berkunjung ke kedai kami. Dia selalu membawakan Heru mainan yang tidak sesuai usianya, atau mainan yang justru membuatnya tidak nyaman. Suatu kali, ia bersikeras memberi Heru boneka Barbie. Heru tidak suka. Dia takut dengan mata boneka yang terlalu besar itu, dan Selia malah menertawakannya. Heru kecil trauma, dan sejak itu, dia membenci boneka Barbie.
Teguh pasti sudah lupa, atau memang tidak pernah peduli. Boneka Barbie ini adalah simbol sempurna dari ketidakpeduliannya.
Saat aku masih menatap boneka itu, pintu terbuka dan Teguh masuk. Dia tidak sendirian. Selia Rasyid berdiri di sampingnya, dengan koper besar di tangan. Senyum kemenangan terpampang di wajahnya.
"Risa," kata Teguh, suaranya kini terdengar lebih percaya diri, seolah dia sudah memegang kendali sepenuhnya. "Selia akan tinggal di sini bersamaku mulai sekarang."
Aku hanya menatapnya, tanpa ekspresi.
"Jadi," lanjut Teguh, nadanya sedikit melunak, seolah mencoba bersikap baik. "Aku sudah menyiapkan sebuah apartemen untukmu dan Heru. Sementara saja, sampai kita menemukan tempat yang lebih baik. Kamu bisa pindah besok."
Aku tidak bisa menahan tawa. Tawa yang kosong, tanpa kehangatan. "Jadi, aku dan Heru sekarang adalah pengungsi di rumahku sendiri?"
Teguh mengerutkan kening. "Jangan dramatis Risa. Ini semua demi kebaikan kita. Pernikahan kita rahasia, dan kini aku harus menunjukkan pada dunia siapa tunanganku. Kita tidak bisa terus tinggal di bawah satu atap, itu akan menimbulkan skandal." Dia menatapku, matanya memancarkan rasa jijik yang terselubung. "Kamu tahu posisimu, Risa."
Aku hanyalah aib yang harus disembunyikan. Hanya beban. Aku merasakan gumpalan di tenggorokanku, tapi aku menelannya. Aku sudah terlalu lelah untuk melawan.
"Baiklah," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku akan berkemas."
Teguh tersenyum lega. "Begitu lebih baik. Nanti aku akan memberimu uang untuk akomodasi dan tunjangan bulanan. Kita akan sering bertemu, kok." Dia terdengar seperti seorang dermawan, bukan suami yang baru saja menceraikan istrinya.
Aku mengangguk, lalu berbalik dan naik ke atas. Di kamar, tanganku bergerak cepat, mengemasi barang-barangku dan Heru. Bukan ke apartemen yang Teguh siapkan. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di sana. Aku akan pergi jauh.
Saat aku turun lagi, menyeret dua koper dan membawa tas Heru, Selia sedang berdiri di ruang tamu, tersenyum manis pada Teguh. Teguh sedang memeluknya, seolah baru saja memenangkan lotre.
"Astaga, Risa," seru Selia, ekspresinya pura-pura terkejut. "Kamu masih di sini? Kupikir kamu sudah pergi."
Teguh menoleh padaku, ekspresinya sedikit kaku. "Risa, kamu sudah siap?"
"Ya," kataku. "Kami sudah siap."
"Kemana kamu akan pergi?" tanya Selia, nadanya terdengar seperti seorang majikan yang mengusir pembantunya.
Teguh menyahut, "Dia akan pindah ke apartemen yang kusewa-"
"Tidak," potong Heru, suaranya kecil tapi tegas. Heru berdiri di sampingku, memegang erat tanganku. Dia menatap Teguh, lalu pada Selia. "Kami tidak akan ke sana lagi."
Teguh menatap Heru, kaget. "Heru, apa yang kamu bicarakan?"
"Ayah," kata Heru, suaranya tenang, namun penuh penekanan. "Heru tidak punya Ayah lagi. Yang Heru punya hanya Kakak Risa." Dia menunjuk Teguh. "Kamu bukan Ayah Heru. Kamu adalah CEO Teguh," lalu menunjuk Selia, "dan kamu adalah Tante Selia."
Wajah Teguh langsung pucat pasi. Selia terkesiap, senyumnya lenyap seketika.