Vivi dilempar secara kasar oleh dua pelayan ke dalam kamar lalu dikunci dari luar. Ia menangis karena terlalu shock.
Saat pertama masuk ke dalam keluarga ini, semua menyambutnya dengan hangat tapi sekarang malah hinaan yang dilontarkan.
Vivi menyeret badan ke dalam kamar mandi. Ia bisa mencium bau bekas muntah dicampur dengan darah dan keringat. Ia menyalakan air di bathtub dan duduk di samping bath tub sambil menangis. kedua tangan bertumpu di samping bathtub.
"Vivi kangen..." isak Vivi
Ia merindukan saat kedua orang tua mencintai, memeluk bahkan memarahi dengan lembut. Tidak ada hinaan maupun cacian.
"Vivi gak sanggup, Vivi ingin bersama kalian..," isaknya.
Sementara suasana pesta di bawah berlangsung dengan sukses meskipun sempat ada kekacauan yang dibuat Vivi.
"Sayang, terima kasih sudah melamarku." Almira mencium pipi kanan Krisna.
Krisna tersenyum manis.
"Krisna, kamu sudah menghubungi ayah kamu?"
Krisna tersenyum kecut. "Ayah tidak mungkin datang, diakan sibuk terus."
Ibu Krisna mendecak kesal. "Padahal ini hari istimewa kalian berdua."
"Oh ya, anak itu bilang soal ulang tahun- memangnya kapan dia ulang tahun-?" tanya Almira ke Krisna.
Krisna mengangkat kedua bahunya.
"Hari ini."
Krisna, ibu Krisna dan Almira menoleh ke Erika.
"Hari ini Vivi ulang tahun."
Krisna dan ibunya berdehem malu sementara Almira mengerutkan kening.
"Kak Almira gak kenapa-kenapakan? Perempuan jahat itu gak melakukan sesuatu ke kakakkan?" khawatir Erika.
Almira tersenyum sambil menggeleng.
Krisna menyentuh perut Almira. "Jaga anak kita baik-baik."
Erika dan ibu Krisna terkejut.
Almira tersenyum malu.
"Selamat, sayang." Tawa ibu Krisna sambil memeluk Almira.
"Selamat, Kak." Erika memeluk Almira.
Para manajer yang hendak pamit pulang, menggeleng miris. Mereka tidak mau menggangu suasana haru itu.
Di pagi hari, Vivi bangun dengan punggung perih dan tangan memerah. Ia memaksakan diri untuk bangun.
Setelah memaksakan diri untuk berendam dalam bathtub dengan pertimbangan tidak mampu mencapai keran shower, ia mulai tertidur di tempat tidur dan menangis dalam diam.
Pintu terbuka dengan kasar, Ibu Krisna masuk ke dalam kamar dengan tatapan jijik. "Mau sampai kapan kamu tidur terus?"
Jiwa dan raga Vivi lelah. Setelah pulang dalam keadaan basah, sembuh dari keracunan lalu dipukuli, tidak ada yang menanyakan kondisi dirinya.
"Vivi, akukan sudah bilang untuk tidak mencoreng nama baik keluarga kami. Tapi nyatanya kamu sudah melakukan hal di luar batas."
"Hal apa-"
"Kamu masih membantah?"
Vivi menundukan kepalanya.
Ibu Krisna melempar bantal kursi ke Vivi, Vivi tidak menghindar.
Krisna masuk ke dalam ruangan dan menatap jijik Vivi.
Vivi terkejut melihat Krisna menatapnya seperti itu.
Krisna duduk disamping tempat tidur Vivi. "Kekacauan yang kamu buat semalam sudah diselesaikan Almira."
Vivi menatap tidak percaya Krisna.
Krisna menyentuh pipi Vivi. "Jangan mengacaukan masa depan kami, Vivi. Aku tetap menikahimu tapi dia yang akan menjadi istri pertamaku."
Vivi terkejut. "Wanita itu-"
"Namanya Almira, hormati dia. Dia sedang mengandung anakku." Senyum Krisna sambil menghapus sudut air mata Vivi. "Aku seorang pria, tidak mungkin menunggu kamu selesai menikah dulu untuk mendapatkan anak."
"Tapi, kamu janji-"
"Ya, tentu saja aku berjanji menikahimu, melindungimu, memiliki keluarga denganmu. Dengan kamu dan Almira bersama, itu akan menjadi sempurna."
"Aku tidak mengerti-"
"Aku dan Almira memiliki masa depan di dunia politik, keluarga Almira kebanyakan pejabat di ibukota sementara kamu tahukan kalau ibuku hanya pejabat di kota ini? dengan adanya Almira, keluarga kita akan berjaya dan tentu saja kamu bisa kecipratan."
Vivi tidak percaya, pria di hadapannya ini adalah orang yang dikenalnya dulu.
"Aku dan Almira membutuhkan dukungan politik dan keuangan. Untuk uang, kamu bisa mengurusnya, kamu bisa menstabilkan pendapatan hotel kita. Kita tidak akan miskin dan keluarga Aditama akan semakin dikenal orang. Kamu tidak menginginkan itu?"
Vivi menatap sedih Krisna.
Krisna menarik napas dengan keras, berusaha menahan emosi. "Aku minta maaf atas kejadian semalam, ibuku sangat menyayangimu. Beliau memperdulikan masa depanmu makanya memukulmu di pesta. Ini juga menjadi peringatan kalau keluarga Aditama tidak akan memandang bulu jika ada yang melakukan kejahatan."
"Kejahatan?"
"Kamu tidak pulang semalam-"
"Kamu tahu, aku keracunan semalam dan pingsan di rumah orang. Aku menghubungi rumah tidak ada yang mengangkatnya bahkan sopirpun hilang."
Krisna menaikan salah satu alisnya. "Aku meminta tolong sopir untuk mengambil gaun Almira, aku minta maaf."
Vivi menatap tidak percaya Krisna. "Jadi, dia akan menjadi istri pertama kamu?"
"Tentu saja, dia mengandung anakku. Dalam hukum agama, tidak masalah menikahi lebih dari satu istri."
Ibu Krisna keluar dari kamar Vivi. Ia terlalu emosi melihat putra cerdasnya disandingkan dengan anak bodoh seperti itu, tapi ia juga tidak bisa membuang jauh Vivi begitu saja.
"Dengar, dia akan menjadi istri pertamaku dan melahirkan anak kita lalu setelah kamu lulus kuliah, kita menikah. Almira sudah mengijinkannya."
Yang harusnya memberi ijin itu aku. Jerit Vivi di dalam hati.
Krisna memeluk Vivi. "Jangan menangis, aku tetap mencintaimu dan menepati janji. Maaf, aku sudah bersikap kasar. Aku harus bersikap seperti kakak yang tegas di depan umum."
Vivi tertawa masam tanpa bersuara. Ia sudah terlalu lelah.
"Aku ingin menikah-"
"Tentu saja kita akan menikah, kita berdua akan memiliki anak."
Itu anakmu, bukan anakku!
"Oke, sekarang kita turun dan sarapan bersama."
"Bolehkah aku istirahat?"
Krisna mengerutkan kening. "Peristiwa semalam cukup menimbulkan gosip, di bawah masih ada keluarga yang menginap. Kamu muncul saja sudah bisa menepis semua gosip buruk."
"Punggung-"
"Vivi, jangan membantah."
Vivi menatap tangan Krisna yang terulur, berpikir sebentar lalu menggapai tangan itu.
"Itulah perempuanku." Krisna mencium kening Vivi.
Vivi menggigit bibir bawahnya.
Krisna menyeret Vivi untuk turun ke bawah, Ibu Krisna terlihat mengobrol dengan para wanita paruh baya lainnya.
"Dimana Almira?" tanya Krisna yang sudah menuruni tangga lalu melepas tangan Vivi.
Vivi menatap bingung tangannya.
"Dia di kamar. Minta istirahat, katanya mual-mual." Jawab Erika sambil mengambil nampan berisikan makanan di tangan pelayan. "Antar ini ke kamarnya, kasihan."
Krisna mengangguk dan menerima nampan itu lalu pergi tanpa menatap Vivi.
Erika menatap jijik Vivi. "Ini sudah terlalu siang untuk mendapatkan sarapan, sebaiknya kamu masak sendiri di dapur."
"Tapi Almira dapat makanan-"
"Apa? kamu iri dengannya? dia lagi hamil beda sama kamu yang sehat gini!" Erika menaikan nada suaranya.
Vivi tersenyum. "Aku hanya bertanya, apa Almira mendapatkan makanan sisa? untuk ibu hamilkan itu berbahaya, soalnya tadi kamu bilang sudah gak ada sisa sarapan. Siapa tahu aku bisa masakin bagian dia juga."
Erika terkesiap malu.
Ibu Krisna yang mendengar ini menjadi marah. "Tidak perlu mengajarkan kami, kamu urus bagianmu saja."
Vivi tersenyum dan mengangguk lalu pergi ke arah dapur.
"Makin lama anak itu makin bengal. Hati-hati dia akan mencelakakan anak pertama keluarga Aditama," ujar adik ibu Krisna.
"Sebentar lagi dia keluar dari rumah ini jadi tidak akan mencelakakan cucuku."
Vivi mendengar itu semua.
"Non Vivi."
Vivi tersenyum begitu melihat bi Tatik menyapanya, senyumnya lenyap begitu melihat apa yang dilihat bi Tatik.
"Ini-"
"Makanan sisa semalam sama pagi tadi, kata ibu sama mbak Erika dikasihkan ke orang-orang yang tidak mampu saja."
"Oh."
"Katanya non Vivi sudah makan, makanya saya tidak menyimpan extra terus ini katanya makanan sisa jadi gak bisa dikasih ke orang rumah."
Vivi mengangguk paham. Ia mengambil mie instan di dalam kardus dan membuatnya.
"Mie lagi non?"
"Adanya ini."
"Haduh non, apa bibi kasih sisa ini-"
"Gak usah bi, makan mie aja gak papa buat sarapan. Nanti aku bisa makan diluar."
"Beli makanan lagi? non, makanan di luar juga jauh lebih gak sehat."
Vivi tersenyum. Dia tidak cerita kalau dirinya kadang belajar memasak dari chef hotel dan dibuatkan bekal makanan diam-diam. Yah bisa dibilang itu juga sisa dari sarapan buffet.
Vivi menghela napas. Karena kejadian semalam, apa jadi diperketat ya?
Tidak jauh dari kediaman Aditama.
Reza mengetuk jari tangan di atas meja begitu membaca laporan dari mata-matanya.
"Tuan, masalah ini-"
"Biarkan saja."
"Tapi-"
"Aku tidak suka ikut campur masalah orang lain, abaikan saja masalah anak ini. Kita cukup amati hotel yang mereka tangani."
"Tuan, saat ini yang mampu membawa beberapa city hotel milik keluarga Aditama adalah nona Vivi."
Reza menghentikan ketukan jarinya. "Berapa usia anak itu?"
"Tahun ini 18 tahun."
Reza menaikan salah satu alisnya. "Kecil juga."
"Kecil?"
"Yah, dalam berbagai arti."
Pernyataan Reza membuat ambigu pendengaran orang-orang yang hadir. Mereka pernah bertemu dengan nona Vivi yang serba mungil seperti anak kekurangan gizi tepatnya.
"Kalau dia secerdas itu berarti Krisna dan ibunya benar-benar bodoh."
Tuan, apa tepat menghina putra dan istri anda sendiri di hadapan pegawai anda?
"Politik itu tempat orang yang cerdas jika, mampu naik ke atas. Bodoh jika tetap di tempat."
Ah, anda bisa didemo para pejabat Indonesia.
"Perempuan itu mantan model dan mewakili ikon kota ini jadi pantas saja dia membenci Vivi yang tidak sesuai standartnya."
Apakah ini komentar calon ayah mertua? atau istri anda sendiri?
"Aku jadi tertarik dengannya."
Hah? siapa? istri anda atau nona Vivi?
"Awasi dia!"
"Siapa?"
"Tentu saja. Vivi."
Vivi yang sudah selesai masak, bergegas naik ke kamar di lantai dua. Sebentar lagi ia harus menemui nenek, tapi sebelumnya dia harus ke rumah sakit untuk mengobati punggung.
"Kamu belum keluar dari rumah ini?"
Vivi balik badan sesampainya di atas tangga.
Almira.
Almira tersenyum. "Apa kamu masih punya hak berada disini?"
Vivi tersenyum. "Kenapa aku tidak memiliki hak? meskipun aku menyerahkan posisi istri pertama, tetap saja aku masih tunangannya."
Almira menyentuh anting berliannya untuk menunjukan cincin lamaran Krisna. "Tunangan tidak bisa dibandingkan dengan istri sah."
Vivi tidak mengubah senyumnya, meski hati dongkol dan sedih. Ia sudah belajar emosi sejak kecil, dalam kondisi apapun harus tersenyum. "Terima kasih sudah mengingatkan dan selamat."
"Krisna memohon padaku untuk menjadikanmu sebagai istri kedua."
Vivi mengangguk. "Dia sudah menceritakannya padaku, kalian berdua memiliki masa depan di dunia politik dan tentu saja posisi saya tidak bisa dibandingkan dengan keluarga anda yang agung."
Almira mengerutkan dahinya. "Kamu tidak kecewa?"
"Buat apa?"
"Ck. Tidak menarik! harusnya kamu marah atau menangis tapi kamu diam saja menerima semua ini. Pantas saja Krisna bosan denganmu."
Vivi menghela napas panjang. "Semalam saya sudah menangis di pesta bukan? bahkan kalian menganggap saya menghancurkan pesta itu."
"Ah, sekarang aku ingat!"
Vivi hendak balik badan.
"Semalam kamu tidak di rumah sakitkan?"
Vivi berusaha menelan emosinya. Tidak di rumah sakit? itu berarti wanita ini memang sengaja meracuninya!
"Atau- kamu bertemu dengan seorang pria?"
Apa dia mengikutiku?
"Benar bukan? bagaimana pria itu? dia lebih tampan dari Krisna?"
"Anda mengancam saya sekarang?"
Almira tersenyum licik. Vivi tidak berminat melihat belakang punggungnya, ia tidak tertarik dan lebih memilih jalan ke kamarnya.
"Apa-apaan anak itu, benar-benar tidak sopan." Ujar Erika sambil memeluk tangan Almira.
"Dia masih muda, masih belum mengontrol emosinya." Jantung Almira berdetak keras. Ia berdoa semoga Erika tidak mendengar percakapan mereka.
"Tapi tetap saja meninggalkan senior tidak sopan. Kenapa sih kakak dan ibu mempertahankan perempuan itu? diakan yatim piatu dan tidak punya latar belakang apapun yang menguntungkan keluarga kita."
"Jangan begitu."
"Ah, kak Almira gak tahu sih- peristiwa dua tahun lalu."
"Ya?"
"Saat itu kakak-"
"Erika!"
Almira dan Erika menoleh ke sumber suara, Krisna sudah berdiri di belakang mereka.
"Kita semua sudah sepakat untuk tidak membicarakannya!" bentak Krisna.
Erina mendecak kesal sambil melepas pelukannya di Almira.
"Sayang-" Almira menyentuh tangan Krisna.
Krisna memberi tatapan peringatan ke Erika lalu menatap sayang Almira. "Itu aib masa lalu, tidak usah dibahas."
"Apa ini berhubungan dengan Vivi? biar bagaimanapun aku akan menjadi istri pertama kamu dan dia menjadi istri kedua kamu jadi-"
"Tidak perlu," potong Krisna.
Almira terdiam.
Sementara itu di kamar, Vivi menikmati makan mienya sambil mengecek website rekanan hotel. sekaligus video call dengan marketing.
"Aku sudah mendengar kejadian semalam, para manajer tidak bisa berbuat apapun. Keluarga Aditama tidak pernah bertindak seperti itu sebelumnya."
Vivi menyeruput mienya dengan santai.
"Bagaimana dengan punggungmu? dipukul dengan rotan pasti sakit sekali."
"Nanti aku ke rumah sakit."
"Tidak perlu, di dekat sini ada klinik. Kamu bisa memeriksakannya, kalau ke rumah sakit pakai uang apa?"
"Ada asuransi kesehatan pemerintah."
"Ah, serius! bagaimana keluarga kaya itu memperlakukanmu tidak manusiawi seperti ini, kamu memang tunangannya tapi-"
Vivi tersenyum sedih. "Tapi aku mencintainya, aku yakin Krisna pasti akan berubah."
"Yah, semoga saja."
"Bagaimana dengan tamu?" Vivi mengalihkan pembicaraan dengan sengaja.
"Oh, saran yang kamu berikan sangat bagus. Semenjak kita bekerja sama dengan aplikasi web travel dan memakai model, tamu mulai berdatangan."
"Ada kabar tentang pengajuan proposal spa?"
"Ah, spa terkenal itu- mungkin sulit-"
"Kenapa?"
"Aku sudah dua bulan masukan proposal tapi sampai sekarang belum ada jawaban."
"Apa aku perlu maju?"
"Tidak, tidak. Mereka mungkin akan mengusir kita lebih dulu! jangan tersinggung, tapi biar bagaimanapun melihat anak yang terlihat masih kecil, orang akan kehilangan minat kerja sama dan menganggap proposal kita mainan meskipun kerjamu memang bagus disini."
Vivi tersenyum kecut.
"Aku akan berusaha keras mendapatkan kerja samanya," janji marketing.
"Kita tidak boleh melepasnya. Proyek kerja sama ini sangat penting, spa itu termasuk terkenal di kalangan menengah dan atas."
"Yah, aku sudah pernah kesana sekali. Tidak ada penyesalan mengeluarkan uang banyak," tawa marketing.
"Hotel kita dikerahkan khusus untuk tamu yang bepergian, mereka pasti lelah dan membutuhkan perawatan tubuh. Kita tidak bisa asal-asalan mendirikan spa, karena kita tidak memiliki pengalaman, mau tidak mau harus kerja sama dengan tempat itu. kalau gagal, kita harus putar otak lagi."
"Aku tahu."
Vivi menghabiskan sisa kuah dengan rakus. "Jangan lupa juga untuk mendapatkan chef bagus."
"Kalau ini sebaiknya kamu bicarakan bagian dapur."
Vivi mengangguk. "Nanti malam aku kesana."
"Apa tidak masalah kamu kesini di malam hari? pesta semalam membahas soal kamu masuk hotel di malam harikan?"
Vivi memijat keningnya.
"Aku bingung dengan keluarga Aditama, mereka sudah lama memiliki hotel inikan? jadi mereka pastinya harus paham soal night auditor. Closing mereka di malam hari bukan?"
Sebelumnya, hotel tempat belajar Vivi menarik tamu lokal atau luar kota saja tapi bagi Vivi tidak cukup mengingat hotel dan cabangnya harus menyetor uang untuk dana kampanye ibu Krisna dan Krisna, bahkan mereka harus mengadakan kegiatan sosial hampir setiap minggu.
Ini membuat beban pengeluaran hotel lebih banyak daripada pendapatan. Vivi menyadarinya setelah bagian accounting mengeluh, bahkan fee dari tamu untuk karyawan wajib diserahkan pihak hotel dengan alasan untuk menghindari makar.
Vivi tertawa saat mendengar alasan konyol itu. Siapa yang membuat kebijakan itu? tidak usah dijawab mereka pun Vivi sudah mengetahuinya. Ibu Krisna.
Kenapa tidak ada yang mengadukannya ke pemerintah? tentu saja para pegawai disini tidak mau kehilangan pekerjaan. Sebagian besar adalah pegawai lama berumur yang bisa dibilang tidak akan mudah mendapatkan pekerjaan baru.
Akhirnya Vivi berusaha belajar manajemen dalam waktu singkat untuk mencari celah keuntungan. Ya, dengan mencari tamu asing.
Tentu saja dengan hal itu, mereka harus bekerja extra keras dan melakukan closing di waktu tidak tentu. Kalau tamu terakhir datang sebelum jam 12 malam, night audit akan menutup transaksi tepat jam 12 malam tapi kalau tamu datang sebelum jam 3 pagi, mereka akan closing di jam 3 pagi.
Hal inilah yang menjadi pemicu kemarahan di pesta semalam. Bagi orang awam, anak perempuan belum menikah yang keluar masuk hotel di malam hari akan menimbulkan pemikiran negatif.
Mereka tidak mau tahu kerja keras Vivi dan orang-orang hotel untuk meningkatkan pendapatan hotel. Untungnya manajer hotel memberi pengetahuan Vivi soal manajemen dasar sehingga mereka menemukan celah kebijakan yang dibuat ibu Krisna.
Para pegawai tidak akan mendapatkan fee dari tamu tapi mereka bisa mendapatkan fee dari keuntungan hotel. Sebelum ibu Krisna dan Krisna menyadari hal ini, mereka mengajukan proposal terlebih dahulu dan tentu saja mereka harus bertindak licik. Proposal harus diberikan sebelum ada kenaikan pendapatan hotel.
Tentu saja tebakan mereka benar, keluarga Aditama menyetujuinya dengan mudah. Semua pegawai hotel bersorak kegirangan, kerja sama memang dibutuhkan disini dan Vivi mencintai kerja sama itu serta orang-orangnya yang baik.
Saat melaporkan pendapatan bulananpun keluarga Aditama tidak banyak berkomentar, mereka tidak bisa melarang ataupun marah karena pendapatan hotel meningkat tajam. Sepertinya mereka memperhatikan reputasi di luar meski entah kenapa tidak mempertimbangkan kebijakan fee tamu untuk karyawan hotel.
Setelah puas dengan laporan marketing dan cek tamu reservasi, Vivi membereskan peralatan makan dan bersiap-siap pergi ke hotel, sebelum menemui nenek.