Bab 2

Kesedihan mendalam ini, mungkin hanya aku yang tahu rasanya. Bak terjatuh, kemudian tertimpa tangga, dan genting pula. Sudah kehilangan dua orang wanita terhebat, ditambah harus menikah dengan gadis yang tidak kukenal sama sekali sebelumnya membuat keadaan ini semakin tak karuan. 

Dia asing dan hanya kuanggap tamu di rumahku. Meski ijab dan kobul sudah terucap, status sudah berubah, tapi hati masih tetap sama. 

Tengah malam kuterbangun di antara kesunyian, terdengar lirih sebuah suara. Kudekati perlahan sumber suara dari kamarku yang ditempati Azizah, ternyata suara isak tangis.

'Apa dia menangis, tapi tengah malam begini?' tanyaku dalam hati. 

Enggan menganggu, aku pun melangkah pergi. Mungkin saja memang ada yang membuatnya sedih atau bisa saja aku yang tak sengaja membentaknya kemarin sore. Wanita memang sangat mudah mendramatisir sesuatu. Aku hanya bersikap tegas, tapi dengan mudah dia menangis. 

Setelah malam berganti fajar, kudengar kebisingan dapur seperti biasa. Azizah memasak dengan seragam yang dipakainya setiap hari. Gamis panjang, jilbab panjang, dan cadar berwarna hitam. Aku pun harus terbiasa dengan keadaan canggung ini. 

"Mas, aku minta izin buat masuk kelas mulai hari ini," ujarnya ketika menyadari aku datang. 

"Iya, silakan," jawabku. 

"Sebenernya aku minta perpanjangan cuti karena keadaanmu kemarin, tapi sepertinya kamu sudah mulai membaik." 

'Harus menjawab apa? Aku tidak bertanya juga dia cuti berapa hari.'

"Iya." 

"Kamu nggak apa-apa kan, Mas?" 

"Tadi bukannya aku udah bilang, iya? Kamu mau aku jawab apa lagi?" 

Dia diam. Sebenarnya malas bersitegang pagi-pagi begini, tapi bukannya dia yang mulai? 

"Maaf, Mas," ujarnya lirih. Kalimat itu terdengar seperti merasa bersalah di telingaku. 

"Apa tidak ada kata lain selain, maaf?"

"Maaf, Mas," katanya kelabakan. Tatapi, ia terus berkata maaf dan semakin membuatku merasa kesal. 

Kuluapkan kemarahan dengan berjalan kembali ke dalam kamar Ibu. Menjerit sekuat tenaga setelah mengunci pintu. Azizah Azzahra. Kenapa? Kenapa harus wanita seperti itu yang aku nikahi? Wanita yang kata Ibu bisa membuatku bahagia. Nyatanya, masih belum ada satu jam aku berbicara dengannya pagi ini, aku sudah dibuat kesal. 

Harus seperti apa? Apa aku yang harus mengerti dia? Sementara dia, tidak bisa mengerti aku sama sekali? Apa kurang jelas selama ini, kalau hubungan ini tidak seperti rumah tangga pada umumnya. 

"Mas, aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Suaranya terdengar di balik pintu kamar ini. Baguslah, setidaknya dia tidak lagi menangis. 

Aku pun keluar setelah terdengar Azizah menutup pintu utama. Mencoba menghibur diri dengan berselancar di sosial media guna menghapus kabar bahagia yang sempat aku bagikan beberapa waktu lalu. 

Kesedihan kembali menyelimuti diri kala melihat kenangan bersama dia, Kiara Putri. Gadis manis yang berhasil mencuri hatiku dengan kesabarannya. Ternyata Sang Pencipta lebih menyayanginya. 

[Halo, assalamaualikum, Mas.] 

Sebuah pesan chat tanpa nama terlihat di notifikasi. Cukup lama aku biarkan karena tidak mau melayani orang asing meski hanya lewat pesan chat. 

[Ini aku Azkia, Mas apa kabar?] 

Alisku berkerut. Merasa penasaran, aku pun mengintip foto profilnya. Benar saja, foto Azkia dengan senyum indah khas tanpa gincu terpampang jelas dengan jilbab segi empat berwarna pink. Manis sekali. 

[Baik. Kabarmu sendiri gimana?] 

Baru kemarin bertemu sudah bertanya kabar? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Namun, setelah dipikirkan kembali, sejak kapan aku suka berbasa-basi? 

[Baik, juga, Mas. Oh, ya. Aku minta nomor HP kamu dari Mas Lana, gak papa, kan, Mas?]

[Memangnya ada perlu apa kamu minta nomer HP-ku? Apa ada hal penting?] 

Aku ingin tahu dia akan menjawab apa. Apa dia akan jujur atau kembali berbasa-basi?

[Aku mau temenan sama kamu, Mas.] 

[Apa bisa laki-laki dan perempuan temenan biasa tanpa ada rasa?] 

[Kalau Mas nggak mau temenan, nggak masalah.] 

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Kalau begitu, oke. Aku akan berkata jujur dengannya. 

[Aku sudah menikah, Azkia.] 

[Hah, kapan? Dengan siapa? Mas Lana nggak ngomong apa-apa? Bahkan kemarin waktu Mas ke sini, Mas juga nggak bawa istri Mas.] 

Sepertinya dia terkejut kalau dilihat dari retetan pertanyaan itu. Dia memang cantik, tapi aku juga tidak bisa berkata bohong kalau memang aku sudah menikah meski hal ini masih kurahasiakan dari Lana. 

[Apa buktinya kalo Mas udah nikah?] 

Dia kembali mengirimkan pesan sebelum kujawab segerombolan pertanyaan sebelumnya. 

[Tidak ada bukti,] balasku singkat. 

[Terus, apa Mas bohong kalau Mas udah nikah? Aku tertarik denganmu, Mas. Tolong jangan buat aku merasa hancur.] 

Apa? Dia tertarik denganku. Aku? Wajah yang biasa saja dan jauh dari kata tampan. Postur tinggi besar dan jarang tersenyum. Dia bisa tertarik? Apakah dia gadis lain yang hampir sama dengan Almarhumah Kiara? 

[Kamu jangan bercanda. Aku tidak suka candaan, Azkia.] 

[Aku nggak bercanda, Mas.] 

Memang, meski penilaianku mengenai Azkia awalnya sedikit menyebalkan karena suka berbasa-basi, tapi semakin ke sini, semua pesannya seperti ia berkata serius dan tidak bercanda. 

[Sebenarnya pernikahanku masih belum resmi menurut hukum, karena pernikahan itu terjadi secara mendadak di rumah sakit waktu ibuku kritis.] 

[Apa, Mas mau ceraikan istri Mas demi aku?] 

Sungguh, pertanyaan ini sama sekali tak bisa kujawab mengingat wasiat Ibu yang menyuruhku menjaga Azizah seperti aku menjaga dia selama ini. Kenapa? Kenapa nasibku seperti ini? Apa aku akan menempati janji pada Ibu? Meski ada hati yang akan terluka atau aku akan mengingkari wasiat Ibu demi dia, Azkia? 

[Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Azkia.] 

Dia berulang kali mengirim pesan dan mencoba meyakinkan agar aku berpisah dengan Azizah, tapi aku terhalang wasiat Ibu. Wanita yang sudah melahirkanku itu mengajarkanku tentang sifat-sifat nabi. Ya, jujur, dapat dipercaya, dan menyampaikan. Sebagai dosen dari ilmu fiqih, Ibu mencoba menerapan sifat nabi pada diriku. Berkat didikannyalah aku bisa menjadi seperti sekarang. Sebab itu pula, tidak mudah bagiku mengesampingkan wasiat Ibu dan mementingkan egoku.

Seharian aku berpikir mengenai masalah ini. Andai saja hubunganku dengan Azizah terjalin baik, mungkin aku bisa membicarakan hal ini dengannya. Tak kusangka, meski aku mengagumi sosok Azkia yang sangat cantik, ternyata dia juga tertarik padaku. Kejujuran gadis manis itu, ternyata sudah mulai mengobrak-abrik dinding kuat amanah yang telah diajarkan oleh Ibuku. Apa setelah ini aku akan goyah karena Azkia?

[Kita jalani saja seperti air mengalir.] 

Tak kusangka, kalimat pendek yang baru saja kukirim berhasil membuat Azkia bahagia. Dia menganggap aku mau menjalin hubungan dengannya meski sebagai teman. Sedikit yang membuatku heran dari ini semua adalah, apakah dia betul-betul gadis baik? Karena tidak ada gadis baik yang dengan sangaja menganggu rumah tangga orang lain.  

Bersambung.....

Bab 3

Membayangkan akan bertemu Azkia siang nanti begitu membuatku bersemangat. Rasanya, sudah cukup lama aku tak merasakan perasaan seperti ini. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini salah, semua perasaan terhadapnya salah, dan rasa ketertarikan itu juga salah. Namun, dalam hatiku berharap semoga Azizah bisa mengerti, walaupun harapanku terdengar egois.

"Mas mau ke mana?" tanyanya sedikit ragu. Dia jarang bertanya sejak kemarahanku waktu itu. 

"Mas ada janji sama temen di kedai kue." 

"Aku juga ada janji bimbingan skripsi, Mas hari ini. Mungkin sampai malam." 

"Oke," jawabku singkat.

Selepas mengisi perut pagi ini, aku langsung tancap gas roda empat menuju kedai milik Azkia yang cukup jauh dari rumah. 

Kedai bernama Azkia Bakery ini masih terlihat sepi saat aku baru tiba. Toko bernuansa pink ini seketika mengingatkaku akan sosok dirinya saat pertama kali bertemu di rumah Lana. Sontak, kutersenyum ketika bayangan gadis berambut panjang itu melintas di otakku. 

"Assalamualaikum, Mas." Seseorang tiba-tiba mengucap salam. Suaranya persis Azkia. 

"Waalaikumsallam," jawabku. 

"Ini aku, Mas. Ayo, masuk." 

Dia mengenakan masker penutup mulut berwarna putih kemudian melepaskannya ketika berada di dalam kedai. 

"Aku alergi debu, Mas. Jadi, kalau di luar aku selalu pakai masker." 

"Oh, iya. Kok, masih sepi?" tanyaku sembari berjalan menuju ke arah kursi. 

"Iya. Kan, belum buka, Mas." 

Jadi, kami hanya berdua di kedai ini? Yang benar saja. 

"Assalamualaikum." 

Lamunanku pecah kala terdengar suara salam beberapa orang di pintu depan. Aku menoleh saat Azkia dengan antusias menjawab salam itu sembari berjalan dengan sedikit tergesa guna membukakan pintu. 

"Waalaikumsallam. Ayo, Bu masuk," ujarnya. 

Rupanya yang mengucapkan salam tadi adalah segerombolan Ibu-ibu. Mereka lantas masuk mengikuti Azkia sementara aku hanya diam mematung di tempat yang semula. 

"Mas, ayo masuk," titah Azkia. Ia hanya menampakkan kepalanya dari balik ruangan yang mereka masuki. 

Setelah masuk, para ibu-ibu sudah bersiap di tempat mereka masing-masing. Ada empat meja sedang di ruangan yang baru aku masuki. Di atasnya terdapat bahan-bahan untuk membuat kue seperti tepung, telur, dan bahan lainnya yang nampak asing bagiku. Di sebelah bahan juga ada alat untuk membuat kue, timbangan, mangkuk kaca bening dan spatula plastik.

"Mas, maaf, ya. Acara pembukaannya gak jadi hari ini, aku lupa kalau ada janji dengan ibu-ibu buat ngajarin bikin kue." 

"Terus, kenapa kamu panggil aku barusan? Bukannya aku bisa langsung pulang?" 

"Aku butuh asisten, Mas. Kamu bisa kan, tolongin aku? Aku belum dape karyawan," jelasnya. 

"Gimana, Mas kamu mau, ya."

Lagi-lagi, tatapan Azkia penuh harap membuatku begitu sulit menolaknya. Tak tega rasanya kalau sekadar menjadi asisten saja aku tidak mau. 

"Oke." Mungkin, aku akan menyesali keputusan ini. 

Azkia dengan lugas menjelaskan bahan apa saja yang akan dibuat menjadi kue. Kata demi kata keluar dari mulut itu begitu mudah dipahami sehingga ibu-ibu hanya mengangguk saja. 

Setelah selesai, Azkia mulai membuat kue. Aku ikut membantu memecahkan telur dan mencampur bahan. Cukup sulit ternyata kalau tidak terbiasa. Apalagi bahan-bahan lain harus ditimbang terlebih dahulu. 

"Mas, kamu kaku banget. Apa belum pernah bikin kue?" bisik Azkia. 

"Belum," jawabku singkat. 

"Setelah mengembang, kecilkan mixer dan campur tepung secara perlahan sedikit demi sedikit," ujar Azkia. 

Semua orang pun mengikuti langkah demi langkah cara-cara membuat kue yang ditunjukkan oleh Azkia. Beberapa kali aku salah fokus kala melihat wajahnya. Aku suka ketika dia sangat serius menatap ibu-ibu. Aku juga suka saat dia penuh konsentrasi membuat kue seakan aku tidak ada di sini. 

Keberadaanku pun sama sekali tidak mengganggu Azkia. Astaga, aku semakin mengaguminya. 

"Mbak, itu siapa? Pacarnya, ya?" tanya salah satu wanita paruh baya pada Azkia. 

"Ah, bukan, Bu. Mas Malik ini ... ."

"Calon suaminya, ya? Aduh, gagah sekali, Mbak," celetuk Ibu lainnya. 

"Kalau nikah nanti, jangan lupa undangannya, Mbak." 

Kali ini, Azkia hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu-ibu. Senyumnya nampak sedikit aneh. Apa mungkin dia canggung dengan keadaan ini? Pipi mulusnya juga ikut berubah warna menjadi bersemu merah muda. Apa mungkin dia merasa malu? 

"Maaf, Mas. Ibu-ibu suka ngasal," ujarnya padaku. Aku hanya sedikit tersenyum. 

"Mas, mau makan siang bareng?" tawar Azkia kala acara memasak usai. Kami mengobrol di ruang depan. 

"Boleh."

"Aku bungkuskan kue dulu, ya. Lumayan buat istri, Mas di rumah." 

Aku hendak menolak, tapi gadis itu sudah menghilang. Sebenarnya tak ada alasan untuk menerima pemberiannya karena aku tak mau lagi Azizah menganggapku memberi perhatian padanya, tapi kue buatannya lumayan enak. Akan sayang kalau aku menolak. 

"Ini. Jangan sungkan, Mas. Mas Lana udah sering makan, kok. Jadi, kalau kubawa pulang, mungkin nggak kemakan juga. Sayang nanti jadi mubah." 

"Apa aku kelihatan sungkan? Aku suka kok, sama kue ini." 

Dia hanya tersenyum. Aku dan Azkia menaiki mobil kami masing-masing dan pergi ke rumah makan. Jaraknya tidak begitu jauh dan hanya 10 menit mengendarai mobil. Selepas memarkirkan mobil, kami keluar dan masuk ke rumah makan dua lantai. 

Azkia terus berjalan menuju lantai dua sementara aku sibuk mengamati pemandangan sekitar hingga tak sadar dia berhenti di sebuah meja bersekat. 

"Kita makan di sini?" tanyaku sedikit heran. 

"Iya. Tenang, Mas. Aku nggak akan apa-apain kamu, kok." 

"Maksud kamu apa?" 

"Tuh." Dia menunjuk CCTV yang tertempel di sudut-sudut ruangan. 

"Di sini makanannya 100% halal. Pengunjungnya juga hal ... ." Dia tak meneruskan ucapannya. Mungkin teringat akan hubungan ini. 

"Pengunjungnya santun, bukan halal." 

"Iya, itu maksudnya." 

Keadaan menjadi canggung kembali. Aku dan dia hanya diam selepas memesan makanan. 

"Mas. Apa aku boleh ngomong sesuatu?" 

"Ehm, silakan." 

"Kenapa Mas setuju aku ajak ke kedai?" 

"Aku pikir Lana ada di sana. Aku juga lupa tanya dia sebelumnya." 

Aku menjadi salah tingkah. Takut, kalau-kalau dia bertanya perasaanku. Meski aku tertarik dan mengaguminya, aku belum siap berkata jujur mengenai hal itu. 

"Kamu udah berapa tahun lulus kuliah?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan guna mencairkan suasana.

"Udah sekitar lima tahun yang lalu, Mas." 

Kami berdua diam. Keadaan membeku lagi sampai pelayan akhirnya datang membawa makanan. 

"Mbak Azkia, wah bawa calonnya, ya? Kereen. Jangan lupa undangannya," ujar gadis pelayan setelah meletakkan seluruh makanan di atas meja dihadapan kami. 

Azkia nampak berusaha menjelaskan pada pelayan kalau aku bukan calon suaminya dengan bahasa isyarat sederhana, tapi kelihatannya pelayan itu tidak mengerti.

"Ternyata, banyak orang yang salah mengerti hubungan kita," ujarku.

"Sebenarnya aku suka sama kamu, Mas." 

"APA?" 

Bersambung.......

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED