Bab 2

Rasa penasaran masih bergelayut di hati. Peristiwa apa saja yang kulalui saat itu? Apakah semua tertulis di sini? Atau diaryku ini isinya hanya tentang cinta semua?

Penasaran itulah yang membuatku akhirnya membuka kembali diary itu. Kubuka lembar berikutnya. Isinya menceritakan kejadian di bulan September. Sepertinya aku memang bukan orang yang rajin menulis diary setiap hari. Hanya pada saat-saat tertentu saja menuliskannya.

15 September 2000

Dear Diary

Hiiihhh....

Aku kesal sama Erina.

Dia itu kenapa sih?

Iri dan pengen jadi ketua kelas gitukah?

Aduuuhhh....

Kalau pengen jadi ketua kelas kenapa dia nggak mencalonkan diri waktu itu?

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Aku ingat peristiwa ini. Peristiwa yang nggak akan aku lupa sampai beberapa tahun sesudahnya. Erina ini juga teman sekelasku. Ia lebih pendek dariku sekitar 5-6 cm. Berkulit kuning sama kayak aku. Berambut megar keriting. Berhidung bangir. Aku baru tahu belakangan, kalau dia ternyata juga naksir Irham.

Erina ini pernah menuduhku mencuri bukunya. Padahal dia nggak punya bukti kalau aku mengambil bukunya. Ia hanya mengira-ngira saja kalau aku mengambil bukunya. Gara-garanya sepele kalau menurutku, waktu mengambil buku paket dari ruang guru, sepertinya di tumpukan buku yang ia bawa nggak ada buku paket matematikanya, kebetulan di sekolahku untuk pembelian buku pelajaran dikoordinasi oleh pihak sekolah usai membayar uang daftar ulang. Pas dia mengambil jatah buku-buku itu kebetulan ia ke ruang gurunya bareng aku. Dia nggak mengecek jumlah bukunya.

Setelah masuk kelas, saat dia mengecek, buku paket matematikanya nggak ada, dia langsung nuduh aku mengambil bukunya. Dia langsung narik buku matematika milikku. Saat itu aku lagi asyik memberi nama di buku-buku yang sudah kuambil itu. Kebetulan buku matematika belum aku kasih nama, dia langsung merebutnya.

Jelas aku nggak terima. Aku berdiri dan merebut buku itu lagi. Begitu dapat aku langsung memberi nama di buku itu. Bahkan aku tandatangani juga karena aku takut direbut sama Erina lagi.

Sayangnya masalah nggak berhenti di situ. Saat pelajaran matematika, Erina bikin ulah. Ia lapor ke guru matematika kalau aku mencuri bukunya. Guru matematika memanggilku. Aku disuruh mengembalikan buku paket itu. Aku menolak. Itu bukuku. Erina langsung menuju mejaku dan mengambil buku paketku.

”Ini buku saya pak. Naelsa sengaja ngasih nama dan tandatangan. Biar nggak ketahuan kalau dia yang ngambil buku saya,”

Jelas aku berang. Aku nggak ngambil bukunya dituduh seperti itu. Akhirnya kami ribut di kelas. Semua murid memperhatikan. Akhirnya pak guru menyuruhku menyerahkan buku itu ke Erina. Ini yang bikin aku kesal. Aku merasa guruku nggak adil. Aku itu nggak mencuri tapi diperlakukan kayak pencuri. Padahal aku sudah bilang aku nggak mencuri bukunya Erina. Toh, Erina juga nggak bisa membuktikan kalau aku mengambil buku paket matematikanya. Dia cuma bilang buku paket matematikanya nggak ada, tapi saya ngambil buku-buku itu ke ruang guru bareng Naelsa pak. Cuma itu kata-katanya. Tapi itu kan bukan bukti kalau aku mengambil bukunya. Bisa jadi guru yang kebagian tugas membagi buku belum memasukkan buku paket matematika ke tumpukan bukunya Erina. Tapi karena Erina vokal dan berakting sebagai korban akhirnya guruku memerintahkan aku menyerahkan buku itu.

Sumpah ya, kalau inget kejadian itu aku emosi banget. Bagaimana aku sampai dapat perlakuan seperti itu? Keliatannya ini mungkin sepele buat orang lain. Tapi itu besar buat aku. Seumur hidup orang-orang akan mengenalku sebagai pencuri buku paket milik Erina. Kejadian itu bener-bener mengecewakan.

Dan khusus catatanku di diary yang barusan kubaca ini, kejadiannya di kelas 1 SMP. Waktu itu aku ketua kelas. Sepertinya bibit permusuhan antara aku dan Erina sudah ada sejak kelas 1 itu. Entah apa penyebab awalnya, tapi Erina dan aku sepertinya selalu berhadap-hadapan dengan kondisi seperti ini.

Di kelas satu itu, aku serasa mengalami fase di kudeta. Erina berusaha mendongkelku turun dari jabatan ketua kelas. Aku inget banget kejadian ini.

Waktu itu pelajaran PPKn. Guru kami Pak Riady sedang mengajar. Sewaktu beliau memberikan kesempatan bertanya, Erina tunjuk jari. Dia bertanya tentang butir-butir Pancasila yang dikait-kaitkan dengan caraku menjadi ketua kelas. Pertanyaan ini terasa menyudutkanku. Menurutku melenceng aja. Nggak ada hubungannya sama pelajaran yang habis diterangkan oleh Pak Riady. Karena menyudutkan, akhirnya sewaktu ada giliran bertanya selanjutnya aku segera tunjuk jari. Aku bertanya sambil membela diri yang aku kait-kaitkan juga dengan butir-butir Pancasila.

Akhirnya kami bersitegang. Aku merasa jawaban dari Pak Riady juga setuju dengan caraku saat mengurusi kelas. Jadi kebenaran itu kan bisa dilihat dari dua sisi. Erina inginnya dari sisi dialah yang benar. Karena kami ribut, Pak Riady bertanya ada masalah apa? Erina yang memberikan jawaban. Dan karena penjelasan itulah, Pak Riady memutuskan untuk diadakan pemilihan ketua kelas ulang. Akhirnya, hari itu kami mengadakan pemilihan ketua kelas lagi.

Aku sih nggak masalah. Toh, aku dulu juga nggak niat jadi ketua kelas. Tapi karena suara terbanyak milih aku akhirnya aku jadi ketua kelas. Jadi kalau dicongkel dari jabatan ini pun nggak masalah buatku.

Dan pemilihan ketua kelas yang di pimpin Pak Riady ini menentukan Brian sebagai ketua kelas. Aku sih cuek. Nggak ambil pusing siapa yang terpilih pada akhirnya.

Yang aku ingat, pas pelajaran Bahasa Inggris beberapa hari kemudian, si Erina dan Brian menemuiku sebelum jam masuk sekolah dimulai.

”Nae, kamu tahu kan kalau sekarang bukan ketua kelas lagi?” kata Erina.

Aku menggangguk.

”Kamu sekarang julukannya eks ketua kelas. Atau juga mantan ketua kelas,”

Aku juga meresponnya dengan anggukan.

”Nae, jangan lupa nanti pas pelajaran bahasa Inggris, kasih tahu Pak Suyanto kalau sekarang aku ketua kelasnya,”pinta Brian kepadaku.

Aku juga mengangguk.

Bagiku, dua orang ini punya karakter yang sama. Sedikit congkak. Tukang memerintah. Dan suka memancing keributan.

Singkat cerita, sewaktu pelajaran bahasa Inggris dimulai, aku minta waktu ke guruku untuk menyampaikan sesuatu. Pak Suyanto ini wali kelas kami. Beliau ini berkulit putih kemerahan. Berkacamata mirip kacamatanya Superman. Rambut beliau pendek dan model rambutnya belahan ke arah kanan.

Saat itu aku minta waktu ke beliau untuk menyampaikan perkembangan terakhir soal jabatan ketua kelas itu. Usai mendengar penjelasanku beliau marah. Langsung sekelas ditegur. Sebagai wali kelas beliau merasa dilangkahi. Pemilihan ketua kelas itu kewenangan beliau. Terus semua dinasehati banyak hal. Dan jabatan ketua kelas dikembalikan ke aku lagi. Huffttt... kenangan buruk tentang peristiwa itu kembali menguasai pikiranku. Membuat kemarahanku kembali menumpuk gara-gara mengingatnya.

Aku kembali membuka halaman diaryku yang selanjutnya. Membaca apa lagi yang kutulis saat itu. Dan tak bisa dihindari kenangan-kenangan masa lalu itu melintas di pikiranku kembali.

25 September 2000

Dear Diary

Aku tadi belajar kelompok untuk pelajaran geografi

Tadi giliran belajarnya di rumahku

Ada beberapa teman yang datang ke rumah

Termasuk Nefertiti

Dia duduk di deretan kursi dekat Irham

Tadi Nefertiti ngomongin sesuatu yang bikin aku ketawa

Dia bilang kalau Irham itu suka aku

Hahaha

Itu nggak mungkin

Sepertinya dia sedang mengarang cerita saja

Aku tersenyum tipis. Gara-gara di diary ini ada tulisanku yang mengata-ngatai temanku sebagai tukang mengarang cerita.

Aku ingat, hari itu kami sedang mengerjakan tugas berupa membuat peta geografi Indonesia. Di peta itu kami diminta membuat batas provinsi dengan warna yang berbeda agar batas provinsi jelas. Ukuran peta lumayan besar. Seukuran utuh kertas karton manila. Oleh sebab itu dikerjakan secara kelompok. Lamunanku kembali ke masa itu.

Belajar bersama sudah selesai. Nefertiti yang paling belakang pulang tiba-tiba saja mengatakan sesuatu.

”Nae, kamu tahu nggak kalau Irham itu suka sama kamu?”

Aku menjawabnya dengan gelengan kepala.

”Dia itu suka sama kamu, Nae,”

Aku tertawa lebar. Bagiku itu lucu. Irham kan sudah pacaran sama Amara. Masak iya dia suka sama aku?

”Kamu becanda ya, Nef?”

Nefertiti menggelengkan kepalanya.

”Tahu dari mana kalau Irham suka sama aku? Dia bilang sama kamu?”

Nefertiti menggelengkan kepalanya sekali lagi.

”Lhah... terus? Kamu tahu darimana?”

”Aku liat sendiri, Nae,”

Dahiku mengernyit. Heran. Bingung juga.

”Aku kan duduk di deretan bangku yang sebelahan sama deretan bangkunya Irham...”

Aku mengangguk paham.

”Terus?”

”Dari posisi dudukku itu, aku sering ngeliat Irham itu ngeliatin kamu, Nae,”

Aku ketawa lebar mendengarnya.

”Eh, beneran ini, Nae. Kadang dia juga suka niruin gayamu lho. Misalnya kamu lagi naruh dagu di tangan gitu ya, dia ikutan tuh. Kalau kamu lagi nyandarin kepalamu di tangan, dia ikutan juga,”

Aku terbahak-bahak mendengar itu.

”Kamu kok ketawa terus sih, Nae?”

“Ya karena lucu aja. Kapan itu kejadiannya?”

”Ya pas kita di dalam kelas. Pas kita pelajaran,”

”Kamu sering ngamatin Irham ya?”

”Nggak sering-sering juga sih sebenarnya. Beberapa kali aja,”

”Kenapa kamu ngamatin dia?”

”Iseng aja,”

Aku kembali ketawa lebar. Kurasa Nefertiti hanya mengarang cerita itu. Entah apa motifnya. Mungkin dia nggak tahu kalau Irham sudah pacaran sama Amara. Emang sih, waktu itu Devi bilang, nggak semua orang yang tahu kalau Irham dan Amara pacaran. Kayaknya Amara cerita ke Devi karena Devi teman sebangkunya saja. Yang lain nggak tahu. Dan Devi pas cerita ke aku juga mewanti-wanti supaya nggak cerita ke yang lain. Alasannya ini rahasia. Meski aku nggak tahu kenapa Devi malah cerita ke aku. Jika ini rahasia, mustinya hanya mereka-mereka saja yang tahu. Tapi nyatanya aku tahu. Entah, nggak ngerti alasan Devi memberitahuku.

Bab 3

Lembar diary berikutnya aku buka. Tiba-tiba saja aku merasa bersemangat membaca lembar berikutnya ini. Aku menulis nama Irham di baris pertama. Sepertinya aku sedang mengulas banyak tentang dia.

2 Oktober 2000

Dear Diary

Tadi aku ngeliat Irham wajahnya pucat

Pandangan matanya juga keliatan sayu

Malah ia sempat rebahan di kelas di jam istirahat

Sepertinya dia sakit

Oh ya, tadi aku ngeliat Devi ngedeketin Irham

Nggak tahu mereka membahas apa

Aku cuma ngeliat Irham yang memandang Devi dengan sorot mata nggak suka

Dia langsung rebahan lagi di kursinya yang dijadikan satu sama kursi si Edo teman sebangkunya

Devi langsung pergi

Aku liat Devi ngobrol sama Amara

Terus Amara keliatan sedih

Matanya merah

Aku mengerutkan dahiku. Apa yang sebenarnya terjadi? Segera aku buka ke halaman berikutnya.

3 Oktober 2000

Dear Diary

Irham masih terlihat lemas hari ini

Dia nggak seceria biasanya

Tadi dia masih rebahan di jam istirahat

Sriana nyuruh aku nanyain Irham

Sriana kasian sama Irham

Dia menyuruhku membawanya ke UKS

Ingatanku kembali ke masa lalu. Masa ketika aku masih berseragam putih biru.

Aku dan Sriana habis dari kantin. Kami menemukan Irham masih tiduran di kursi dengan bantalan tas ranselnya.

”Ir, kamu sakit kan? Ke UKS aja ya?!”

Ini hari kedua aku melihat Irham lemas di kelas. Irham bangkit dari tidurannya.

”Nggak usah, Nae,”

”Tapi kamu lemes banget gitu. Mendingan di UKS. Kan bisa tiduran di kasur UKS,”

”Nggak usah. Di sini aja udah cukup,”

”Kamu kalau sakit gitu kenapa masuk sekolah sih? Harusnya izin aja,”

Irham tersenyum tipis.

”Takut ketinggalan pelajaran,”

”Kan ntar bisa tanya temen sebangku atau tanya guru langsung,”

Irham kembali tersenyum.

”Nggak apa-apa. Aku kuat kok. Cuma agak capek aja,”

”Ya udah, kalau nggak kuat bilang ya? Ntar biar dianter temen-temen ke UKS,”

Irham mengangguk. Aku pergi meninggalkannya yang kembali rebahan. Sriana sudah duduk di bangkunya. Aku awalnya juga mau duduk, tapi dari tempatku berdiri saat ini, aku melihat Edo yang ada di luar kelas. Ia berdiri dekat jendela.

Aku keluar kelas bersamaan dengan temannya Edo yang mengobrol dengannya tadi berlalu. Entah dengan siapa tadi Edo mengobrol. Anak kelas lain. Nggak tahu kelas apa. Aku nggak hafal sosoknya. Aku menghampiri Edo.

”Do, itu si Irham sakit apaan sih? Lemes banget keliatannya,”

Aku yakin Edo tahu karena ia teman sebangkunya.

”Sakit liver,”

”Haaaahhh?”

Aku kaget. Kasihan bener Irham.

”Menular nggak?”

Edo terkekeh melihat responku.

”Nggak. Kan sakit livernya cuma sakit karena hatinya patah,”

”Apaan sih? Nggak paham deh. Patah hati gitu maksudnya?'

Terlihat senyum iseng Edo mengembang lebar.

"Becanda, Nae!"

Aku bersungut kesal. Tapi akhirnya aku memburu Edo dengan pertanyaan baru.

”Dia putus sama Amara?”

”Kamu tahu juga ya kalau mereka pacaran?”

”Iya. Dikasih tahu Devi. Tapi nggak boleh bilang ke siapa-siapa. Nggak tahu kenapa dia ngasih tahu ke aku,”

”Karena kamu ketua kelas mungkin,”

”Apa hubungannya?”

”Lhah...ketua kelas kan harus tahu apa aja yang terjadi sama anak buahnya,”

”Tapi nggak sampai urusan cinta juga kali, Do. Itu bukan bagian dari tugasku sebagai ketua kelas,”

Edo tersenyum lebar.

”Jadi mereka benaran udah putus?”

Edo menggangguk.

”Kapan itu?”

”Udah lama. Nggak inget tanggal pastinya,”

”Haahh? Serius? Bukannya mereka baru jadian?”

”Iya. Mereka sebenernya pacaran cuma sebulan kok,”

”Oh ya? Cepet banget,”

Edo menggangguk.

”Emang kenapa kok mereka bisa putus gitu?”

”Amara selingkuh,”

”Serius tuh?”

Edo kembali menggangguk.

”Selingkuh sama siapa?”

”Sama anak SMA. Masih tetangganya gitu,”

Aku berseru lirih mengucapkan kata Oh dengan nada prihatin.

”Kamu tahu cerita ini dari siapa?”

”Ya dari Irham langsunglah. Kan aku teman sebangkunya. Wajar kan kalau dia suka cerita apa aja ke aku,”

Aku menggangguk setuju.

”Berarti nggak meragukan lagi. Karena langsung mendengar dari sumbernya. Bukan gosip. Pasti akurat,”

Edo menggangguk. Ada senyum tipis bangga saat ia menggangguk itu. Mungkin ia suka sewaktu kubilang informasinya pasti akurat.

Tiba-tiba saja aku teringat peristiwa kemarin hari, saat Devi kulihat sedang bercakap-cakap dengan Irham. Yang aku lihat Irham terlihat cuek terus Devi kembali ke kursinya dan mengatakan sesuatu ke Amara. Setelah itu aku lihat mata Amara merah. Sepertinya habis menangis. Waktu itu aku melihat Edo juga ada di dekat Irham. Ia sedang berdiri mengobrol sama Rifki tak jauh dari kursinya. Sepertinya Edo tahu apa yang sedang terjadi saat itu.

”Do... kemarin itu, aku lihat Devi ngobrol sama Irham. Kayaknya mereka sedang bersitegang gitu. Kamu kan ada di situ, Do. Ada apaan emang?”

Edo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan sebelum menjawab.

”Oh, kamu ngeliat juga ya kejadian kemarin itu?”

Aku menggangguk.

”Si Amara ngajak balikan. Dia nyuruh Devi ngomong ke Irham. Kan Devi itu Mak Comblangnya Amara. Dulu yang nembak ngajak pacaran si Irham ini Amara kok. Dia nyuruh si Devi ngomong suka ke Irham dan nawarin Irham mau nggak jadi pacarnya,”

Aku cuma bisa bengong saja mendengar cerita itu.

”Sama Irham ditolak tuh. Makanya kemarin Amara nangis,” lanjut Edo.

Aku terbelalak tak percaya.

”Ini sungguh serius ya?”

”Iya. Kamu pikir bercanda? Atau kamu kira aku ngarang gitu?”

Aku jadi merasa bersalah. Suara Edo terdengar berubah. Terdengar meninggi. Mungkin dia tersinggung dengan kata-kataku. Aku segera minta maaf.

”Kasian mereka,” kataku berusaha mengalihkan topik agar Edo nggak tersinggung.

Edo menggangguk.

----------------

9 Oktober 2000

Dear Diary

Tadi aku pulang sekolah bareng sahabat-sahabatku, Nina, Nurina dan Agni

Pas kami sedang menunggu angkot, ketemu seorang kakak kelas yang juga sama- sama nunggu angkot

Dia cewek, anak kelas 3, mengaku bernama Rani

Di nama dadanya tertulis Maharani

Dia tanya kami, apa kami sekelas dengan Irham

Dia minta ke kami nomor ponselnya Irham

Tulisanku ini membuatku tersenyum. Dan kembali kejadian saat itu pun berputar di kepalaku.

Aku bersama ketiga sahabatku berdiri di pinggir jalan dekat perempatan. Aku dengan Nurina dan Nina satu arah angkotnya. Tapi Agni beda. Angkotnya baru bisa dinaiki dari perempatan itu. Akhirnya kami ikut dia jalan kaki ke arah perempatan jalan supaya Agni ada temannya.

Kami sedang berdiri dekat lampu merah saat seorang kakak kelas berkulit sawo matang dengan rambut bergelombang sepundak menyapa. Ia sudah lebih dulu ada di situ. Sepertinya ia juga menunggu angkot di situ. Entah angkot apa yang akan dinaikinya nanti.

”Kalian anak kelas 1 A ya?”

Kami berempat mengangguk nyaris bersamaan.

”Sekelas dengan Irham dong?”

Kembali kami mengangguk.

”Kalian ada yang punya nomor ponselnya Irham nggak?”

Kami kompak menggeleng. Terlihat wajah Kak Rani sedikit berubah.

”Kalau gitu aku nitip salam ya ke dia,”

Kami mengangguk. Nggak banyak percakapan kami sama Kak Rani. Tak lama setelah itu angkot yang dinaiki Agni lewat. Dia pamit duluan. Setelah itu di belakangnya angkot kami yang lewat. Kami bertiga segera pamit ke Kak Rani.

-------------------------

11 Oktober 2000

Dear Diary

Aku tadi pulang sekolahnya sendirian

Nina, Nurina dan Agni sudah pulang duluan

Aku pergi ke studio cetak foto dulu

Aku mau mencetak foto keluargaku

Eh, pas nunggu angkot aku ketemu lagi sama Kak Rani

Dia kali ini nitipin surat buat Irham

Iiihhh...aku ini ketua kelas apa Pak Pos sih?

Musti nganter-nganter barang ginian juga

Tulisan yang membuatku tersenyum lebar. Aku ingat surat yang dititipkan itu. Sampulnya warna pink dengan gambar mawar. Bau amplopnya wangi. Aku rasa kertas suratnya warna senada dan wangi juga. Surat itu aku sampaikan ke Irham keesokan paginya sebelum jam pelajaran sekolah dimulai.

Uniknya saat aku semangat cerita tentang pemberi suratnya, justru Irhamnya terkesan tak acuh begitu. Ingatanku kembali pada peristiwa pagi itu.

”Ini surat dari Kak Rani. Anak kelas 3. Dia tinggi. Berkulit sawo matang dan berambut sebahu,”

Irham hanya menggangguk ringan. Ekspresi wajahnya datar saja. Justru aku yang terlihat ekspresif menjelaskan. Aku kira dia akan tertarik akan sosok pengirim suratnya itu. Ternyata aku kecele.

”Kamu tahu Kak Rani?”

Irham menggelengkan.

”Kamu kenapa? Kok kayaknya nggak minat gitu sama Kak Rani?”

Irham menghembuskan nafas panjang sebelum bersuara.

”Aku sejujurnya nggak pernah tahu siapa yang mengirim surat, puisi atau kado seperti ini,”

Dahiku mengernyit.

”Kamu mau tahu sesuatu nggak?”

”Apaan tuh?”

”Sini aku kasih lihat,”

Dia memintaku merunduk untuk melihat ke laci mejanya. Aku mengintip ke dalam laci. Di situ ada kado dan surat lain selain yang aku kasih tadi itu.

”Dari siapa?”tanyaku setelah berdiri tegak di depan Irham lagi.

Irham mengedikan bahunya.

”Kamu nggak tahu?”

Irham menggangguk.

”Kejadian kayak gini tuh sering terjadi. Nggak tahu siapa yang naruh di situ. Tiap kali aku mau masukin tas, kadang aku menemukan yang seperti itu,”

”Kenapa kamu nggak lapor ke aku?”

”Lapor?”

”Iya. Aku kan ketua kelas. Paling nggak aku bisa menyelidikinya atau melaporkan ke wali kelas atau pun guru BK gitu. Ini kan mengganggumu,”

”Kalau mengganggu sih nggak. Cuma bikin kaget aja,”

”Perlu diselidiki nggak?”

”Nggak usah,”

Aku menggangguk paham. Dia berhak menentukan mau diselidiki atau tidak. Ini kan masalahnya dia.

”Emang apa isi surat dan kado itu?”

Irham kembali menggendikan bahunya.

”Kamu nggak tahu?”

Irham menggangguk.

”Kamu kemanakan benda-benda itu?”

Irham tersenyum.

”Sepulang sekolah, ibuku salalu merazia isi tasku. Jadi kado atau surat itu nggak pernah aku liat?”

”Di buang?”

”Nggak tahu di buang atau di bakar,”

”Kamu nggak buka di sekolah aja gitu?”

Irham menggeleng.

”Kenapa?”

”Nggak minat,” jawabnya sambil tersenyum.

”Oh ya, Kak Rani minta nomor ponselmu tuh,”

”Aku nggak punya ponsel. Ortuku melarang aku punya ponsel dulu saat ini,”

Aku tersenyum lebar.

”Sama deh. Aku juga nggak diizinin punya ponsel dulu sama ortuku. Takutnya aku nggak fokus belajar,”

Kami sama-sama tersenyum.

”Kamu punya nomor telepon rumah?”tanyaku.

”Dulu sih ada. Tapi sekarang di cabut. Soalnya yang telepon ke rumah suka nyari aku. Orang tuaku nggak suka itu,”

Aku mengangguk paham. Bel masuk pelajaran berdering. Kami segera kembali ke kursi masing-masing.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED