Bab 2

Ranti hampir tak percaya ketika tahu Cahyo menghilang. Di antara semua temannya, dia adalah orang yang paling dekat dengan Cahyo. Mereka sudah kenal sejak sebelum mereka bekerja di situs kisah mistis online bernama Candradimuka itu. Mereka sudah pernah bersama menjadi wartawan di sebuah majalah remaja.

Ranti langsung keluar dari mobil, dia tidak memedulikan larangan teman-temannya. Angin dan air hujan langsung menyambutnya. Sekali lagi Ranti tidak peduli. Dia mendekati Bekti.

"Mas Bekti, kita harus mencari Cahyo! Aku tidak mungkin pulang dan memberitahu keluarga Cahyo bahwa Cahyo menghilang. Nanti kita bisa masuk penjara!" teriak Ranti, di tengah angin yang bertiup sangat kencang.

Bekti terlihat bingung. Ranti benar sekali. Keluarga Cahyo adalah keluarga bangsawan. Dan pastilah mereka akan dengan mudah memperkarakan Bekti dan 'Candradimuka' kalau Cahyo tidak segera ditemukan. Bekti mendesah, masalah ini rasanya begitu berat, tetapi akhirnya dia mengangguk juga.

"Kita tunggu hujan reda dulu, ya? Baru setelah itu kita mencari Cahyo," teriak Bekti.

Ranti mengangguk.

"Masuk dulu, Ran! Kamu duduk depan, ya?" teriak Bekti lagi, Ranti mengangguk. Dia berjalan menuju ke kursi samping bagian dengan mobil, tetapi sebelum membuka pintu mobil, Ranti melihat sesuatu. Seperti sekuntum kecil bunga Melati di samping ban. Ranti memungutnya dan segera memasukkan bunga itu ke dalam saku bajunya dan dia segera masuk ke dalam mobil lagi.

****

"Apa yang terjadi, Mas Bekti?" tanya Naira setelah Bekti masuk lagi ke dalam mobil. Naira begitu panik dan pucat. Dia begitu ketakutan setelah tahu Cahyo hilang, apalagi ketika melihat Bekti dan Ranti basah kuyup, Naira bertambah takut dan gugup.

"Kurasa kita harus lapor polisi, kan?" teriak Naira lagi.

Bekti mengangguk.

"Benar! Setelah semua mereda, kita harus segera menghubungi polisi dan warga sekitar sini," jawab Bekti dengan wajah yang juga ketakutan. Dia mengambil HPnya, dan membeliak ketika melihat HPnya basah kuyup dan tidak bisa dinyalakan. Wajahnya berubah sedih, kecewa dan sedikit marah.

"Ah! HPku mati! HPku rusak!" teriak Bekti frustasi, "tolong siapa saja hubungi polisi sekarang juga, beritahu mereka apa yang terjadi!"

Palupi mengangguk. Dia segera melaksanakan perintah Bekti dan menghubungi kenalannya yang bekerja sebagai polisi.

"Kita ada di mana ini, Mas?" tanya Palupi pada Bekti di tengah pembicaraan telponnya. Seperti orang yang ditelepon Palupi menanyakan posisi mereka sekarang. Bekti menelan ludah. Dia juga tidak tahu dia ada di mana.

"Bilang saja kita ada di tengah jalan di sepanjang hutan Lor Kalong. Aku tidak tahu tepatnya," jawab Bekti, dia memandang ke luar jendela.

Palupi mengulangi jawaban Bekti di HPnya dan kemudian Palupi mengucapkan terima kasih dan menutup telponnya. Mereka berpandangan dalam diam dan ketegangan.

"Kita harus menunggu?" tanya Naira. Palupi mengangguk.

"Ya. Temanku bilang akan menghubungi kepolisian Karang Wuni dan Arang Temu. Oh, tidak! Arang Temu kalau dalam bahasa Jawa berarti kan jarang ketemu, kan? Astaghfirullah! Apakah itu suatu pertanda?" desah Palupi. Mereka berpandangan lagi.

"Pertanda bahwa kemungkinan besar Cahyo tidak akan ketemu?" tanya Ayuni. Semua memandang Ayuni dengan marah. Ayuni pucat pasi.

"Astaghfirullah! Astaghfirullah! Aku ... aku tidak bermaksud apa-apa! Astaghfirullah! Maafkan aku!" seru Ayuni berulang-ulang. Semua hanya diam, dan tenggelam dalam ketegangan masing-masing. Mereka nampaknya menahan diri agar tidak terbawa emosi di saat genting seperti ini.

"Lain kali kalau bicara yang baik-baik saja," gumam Bekti tidak jelas. Tidak ada yang menanggapi. Semua diam. Kebanyakan memandang keluar jendela, melihat air hujan yang masih begitu lebat dan angin yang suaranya masih menderu-deru.

Mereka dikejutkan oleh bunyi HP. Mereka semua berpandangan.

"HP siapa?" tanya Palupi. Semua menggeleng, tetapi suaranya seperti dari depan. Semua orang pun memandang ke arah depan. Ke arah Bekti.

"Mas Bekti, itu kan bunyi ringtonenya Mas Bekti!" seru Ranti.

Bekti pucat pasi. Dia mengambil HP dari dashboard mobilnya dengan ragu dan gemetaran. Bukankah tadi HPnya mati, dan bahkan Ranti pun ikut mencoba menghidupkan HPnya?

Bekti melihat HPnya dengan penuh ketakutan. Dia beristighfar lirih. Dia menunjukkan HPnya pada semua temannya di dalam mobil itu.

"Yang menelpon Cahyo ...."

****

Fajri mengembuskan napas panjang. Aneh sekali! Kemarin dulu dia mendengar kisah tentang seorang lelaki yang sudah meninggal tetapi hidup lagi di Karang Wuni, dan sekarang dia mendapat laporan dari salah satu bawahannya bahwa ada kasus orang hilang di hutan Lor Kalong, tepatnya di jalan raya yang membelah hutan Lor Kalong itu dan kabarnya orang yang hilang itu adalah wartawan yang hendak meliput berita tentang orang yang hidup lagi setelah dikafani itu.

Oh, Fajri beristighfar. Pastilah Allah merencakan sesuatu dengan semua kebetulan ini.

****

"Namanya Syaiful. Dia baru tiga bulan di Arang Temu. Dulu dia guru di sebuah SMP swasta di kota, kemudian dia lolos tes pegawai negeri dan menjadi guru SD Inpres di Arang Temu. Orangnya baik, sehingga disukai murid-muridnya, dan sepertinya selalu sehat, Ustadz. Selama tiga bulan di Arang Temu, dia tidak pernah izin tidak masuk sekolah karena sakit," kata Pambudi, yang sengaja bertandang ke Rumah Tahfidz dan Rumah Ruqyah di Karang Wuni.

Dan Doni yang menerima Pambudi. Ustadz Purwa sedang mengikuti pertemuan para pemimpin rumah tahfidz di Tintrim. Beliau baru akan pulang besok dari Tintrim dan Doni yang bertanggung jawab menjadi pengganti Ustadz Purwa sementara beliau pergi.

"Lalu kenapa Pak Syaiful tiba-tiba meninggal, Pak?" tanya Doni.

Pambudi mengembuskan napas panjang. Wajahnya nampak sedih.

"Hari itu kami kerja bakti membersihkan sungai bersama-sama, Pak. Saya bersama dengan Pak Syaiful terus sepanjang hari itu. Menurut saya dia biasa saja. Tidak terlihat sakit atau tidak mengatakan kalau dia sakit. Bahkan dia masih sholat di musholla dengan saya juga. Sholat Maghrib dan sholat Isya. Dan tiba-tiba saja jam sepuluh ada pengumuman beliau meninggal. Saya nggak percaya, Ust ...." Pambudi terbawa emosi. Dia menangis terisak. Dia diam beberapa waktu untuk menghentikan tangisnya.

Doni membiarkan Pambudi menangis dan menyelesaikan semua emosinya. Pambudi mendongak.

"Malam itu saya langsung berlari ke rumah dinas tempat Pak Syaiful dan dua guru lainnya tinggal. Dan ... dan saya melihat Pak Syaiful memang sudah meninggal, Ust. Saya tidak menyangka!" seru Pambudi, dia terisak lagi. Kali ini suara isakannya begitu keras dan membuat tubuhnya terguncang.

Doni menepuk-menepuk bahu Pambudi.

"Istighfar, njih, Pak. Istighfar," bisik Doni. Pambudi beristighfar keras beberapa kali dan emosinya pun perlahan mereda.

"Astaghfirullah, saya sampai memeluk Pak Syaiful berkali-kali, Ustadz. Saya tidak yakin kalau Pak Syaiful sudah meninggal. Lalu ... lalu kami memandikan beliau dan mengkafaninya. Nah, pada saat itu saya melihat beberapa gerakan jari tangannya. Saya pikir saya berhalusinasi saja karena saya sedih. Tetapi akhirnya, ketika hampir menutup wajah Pak Syaiful dengan kafannya, Pak Syaiful batuk dengan keras, membuat kapas yang ada di hidungnya terlontar jauh. Kami semua ketakutan dan berlarian tak menentu, tetapi kemudian saya kembali lagi ke dalam rumah dinas dan melihat Pak Syaiful sudah duduk lagi," cerita Pambudi panjang lebar.

Doni menelan ludah. Dia menunggu kelanjutan cerita itu dengan sabar.

"Lalu Pak Syaiful memandang keheranan ke arah saya dan berkata : 'kalau memandikan jenazah itu jangan keras-keras, sakit!' Saya tidak bisa menjawab, saya hanya diam memandang Pak Syaiful antara bingung, heran, takut dan juga bahagia. Saya bahagia karena Pak Syaiful hidup kembali," kata Pambudi lagi. Air matanya masih berleleran di pipinya. Doni masih menepuk-menepuk bahu Pambudi, memberinya kekuatan.

"Astaghfirullah, jadi begitu ceritanya, ya, Pak? Luar biasa sekali. Apa dokter sempat memeriksa Pak Syaiful setelah beliau terbangun lagi?" tanya Doni.

Pambudi mengangguk.

"Kami langsung menghubungi pamong desa dan juga Dokter Farah yang bekerja di Puskesmas Arang Temu. Dokter Farah langsung menyarankan kami membawa Pak Syaiful ke rumah sakit besar di Karang Wuni dan malam itu juga kami membawa Pak Syaiful ke rumah sakit, dan hasilnya Pak Syaiful sehat, sangat sehat dan baik-baik saja. Tetapi ... tetapi sekarang timbul masalah baru, Ust. Itulah kenapa saya ke sini, Ust," kata Pambudi.

Doni menjengit, dia berdebar.

"Apa itu masalahnya, Pak?" tanya Doni.

"Pak Syaiful sekarang selalu pergi ke bukit di Lor Kalong dan menghabiskan waktu di sana sepanjang hari. Kalau saya tanya kenapa dia selalu ke bukit kecil di Lor Kalong, dia selalu menjawab : 'sebentar lagi ... sebentar lagi' ...."

****

HP Bekti berdering terus. Bekti memegang HPnya seperti memegang barang yang kotor, dia memegang HP itu dengan dua jarinya yang gemetaran.

"Kamu saja yang jawab, ya?" seru Bekti pada Ranti dan setengah melemparkan HPnya pada Ranti.

Ranti sangat terkejut ketika menerima HP Bekti yang bahkan masih basah. Ranti beristighfar dan akhirnya menerima panggilan itu. Ranti segera menghidupkan loud speaker pada panggilan itu dan insting wartawannya membuatnya langsung merekam panggilan itu.

"Halo?" sapa Ranti ragu.

"Hei, Ran! Kalian ke mana saja? Aku sudah sampai di rumah Syaiful!"

****

Bab 3

"Kalian di mana? Kenapa lama sekali?"

Semua terdiam mendengar suara Cahyo yang memecah kesunyian mobil itu. Semua berpandangan. Bekti nampak agak panik.

"Yo, kamu lewat mana? Bukankah kamu tadi keluar dari mobil bareng dengan aku. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang?"

"Menghilang? Aku, kan sudah bilang aku mau lewat hutan. Dan ternyata memang lebih cepat lewat hutan, Mas Bekti. Nggak ada setengah jam aku sudah sampai di Arang Temu."

Bekti terdiam. Dia memandang berkeliling dengan wajah panik. Bekti menelan ludah.

"Lewat hutan?"

"Iya, Mas. Jalannya mudah, kok, Mas. Nanti ambil jalan setapak di samping kiri mobil, Mas. Pasti cepat sampai."

Napas Bekti terengah. Dia menoleh ke arah teman-temannya.

"Hujan, Mas," bisik Ranti. Bekti mengangguk.

"Cahyo, sekarang masih hujan. Kami menunggu hujan saja, ya. Telponnya jangan dimatikan dulu, ya?"

Hening. HP Bekti terlihat mati dan gelap. Seperti HP yang rusak. Padahal baru saja suara Cahyo terdengar sangat jelas dari HP itu. Beberapa orang beristighfar. Mereka berpandangan.

"Ya Allah, apa tadi itu bukan Cahyo? Bukan manusia?"

"Sepertinya iya."

"Bukankah tadi Mas Bekti bilang HPnya mati?"

Bekti diam saja. Dia memeriksa HPnya. HP itu memang terlihat begitu dingin dan mati. Jantung Bekti juga berdegup kencang. Mereka masih terdiam di dalam mobil di tepi jalan di hutan pinus di bawah derasnya hujan. Oh, ya, hujan masih begitu deras dan angin masih bertiup begitu kencang.

"Kita tunggu sampai hujannya reda dan kita segera mencoba jalan yang dilalui Cahyo," kata Bekti perlahan.

Orang-orang berseru terkejut.

"Aku tidak akan berjalan kaki di hutan dalam kondisi seperti ini!" teriak Ayuni.

Palupi memejamkan matanya. Ayuni memang paling modis di antara mereka semua, tak heran Ayuni tidak akan mau berjalan di tengah hutan dalam kondisi setelah hujan. Jangankan Ayuni, Palupi yang hobi mendaki gunung pun, sepertinya akan berpikir dua kali untuk berjalan di tengah hutan dalam kondisi yang tidak menentu seperti ini.

Bekti menoleh ke arah Ayuni.

"Bagus. Kamu menunggu di mobil sampai polisi itu datang, ya?" kata Bekti dengan agak sinis. Ayuni agak terkejut mendengar perkataan Bekti yang tidak seperti biasanya.

"Kita harus kompak, Mas. Mungkin memang kita harus menunggu polisi semua di sini, baru kita berangkat ke Arang Temu dari hutan Lor Kalong seperti yang diceritakan Cahyo tadi."

Semua menoleh ke arah Rara. Memang sebenarnya apa yang dikatakan Rara memang masuk akan juga, tetapi sepertinya Bekti tidak terima. Bekti mendengus.

"Terserah, lah! Yang pasti kalau hujan sudah reda aku akan berangkat sendiri ke sana. Kalau kalian mau melanjutkan perjalanan atau mau menunggu di sini, terserah saja. Aku tidak peduli!" seru Bekti dengan marah.

"Istighfar, Mas."

"Ck! Buat apa istighfar kalau kalian tidak mau kompak?"

Palupi tersenyum.

"Kurasa kita harus berbagi tugas, Mas. Benar kata Rara tadi. Ada yang menunggu di mobil ada yang melakukan perjalanan terlebih dahulu. Dan kita harus saling mengabari satu sama lain dengan apa yang terjadi, apa yang kita lihat atau apa yang akan kita lakukan, jadi kita bisa saling mengetahui apa yang terjadi," kata Palupi.

Semua terdiam. Bekti memandang ke arah Palupi dengan penuh kemarahan, tetapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Dan Bekti akhirnya mengangguk dengan berat hati.

"Baiklah. Kamu yang memilih siapa saja yang akan ikut denganku dan siapa saja yang harus berjaga di dalam mobil," kata Bekti sambil membuang muka.

"Aku berjaga di sini, ya, Mbak," kata Ayuni. Palupi nyaris tertawa melihat ekspresi Ayuni yang ketakutan sekaligus penuh harap.

Palupi mengangguk.

"Baiklah, Ayuni di sini. Naira juga, ya? Apakah berdua saja tidak apa-apa?" tanya Palupi. Ayuni dan Naira berpandangan. Naira nampak menelan ludah.

"Kita, kan berenam, bagaimana kalau kita bagi dua dengan rata. Tiga orang ikut Mas Bekti, tiga orang tetap di sini," kata Naura.

"Bisa. Tetapi yang berada di mobil berarti orang yang paham dengan apa yang harus dilakukan, kan?" tanya Palupi.

Naira dan Ayuni mengangguk.

"Siap, Mbak. Insya Allah Ayuni, kan ratunya koordinasi," jawab Ayuni dengan senyum manjanya. Palupi tersenyum.

"Berarti kamu juga akan memilih Rara, kan?" tanya Palupi. Ayuni tertawa dan mengangguk, karena memang Rara adalah partner Ayuni ketika mencari berita dan artikel. Rara mengangguk dan wajahnya nampak begitu lega. Palupi akhirnya tertawa juga. Dia tahu sebenarnya semua orang ingin tetap berada di dalam mobil dalam cuaca seburuk ini.

"Baiklah. Berarti yang ikut denganku Palupi, Naura dan Ranti. Yakin kalian mampu?" tanya Bekti sambil melirik ke arah Ranti dengan bengis. Ranti menjengit. Dia takut dengan perubahan sikap Bekti yang begitu mendadak.

"Mas Bekti tidak boleh seperti itu," kata Palupi dengan tersenyum, "Mas Bekti harus menyetujui hasil musyawarah, kan?"

Bekti mengembuskan napas panjang dan mengangguk. Kemudian Bekti membuang muka, dia berpura melihat keluar jendela. Palupi tahu Bekti kecewa karena tidak semua orang mau ikut dengannya.

"Mas Bekti!"

Semua menoleh ke arah Naira yang menunjukkan HPnya yang berbunyi nyaring dengan penuh ketakutan. Mata Naira membulat dan wajahnya pucat.

"Cahyo! Cahyo nelpon aku!" seru Naira sambil setengah melemparkan HP itu ke arah Naura yang duduk di sebelahnya. Naura menjengit. Dia memegang HP Naura dengan hati berdebar.

"Kenapa, sih, Ra?"

Naira menggeleng. Wajahnya nampak ketakutan. Naura nampak agak heran, sedikit penasaran, tetapi juga takut. Akhirnya dengan agak gemetar Naura mengangkat panggilan Cahyo.

"Cahyo?"

"Hei! Bukain pintunya! Bukain jendelanya. Aku ada di luar mobil!"

Semua menjerit kaget. Terutama Palupi yang duduk di samping jendela.

"Aaahhh!" Palupi menjerit dan terlonjak kaget ketika di samping jendela mobil terlihat sosok samar membawa payung yang mengetuk-ngetuk kaca jendela itu dengan keras.

Semua orang membeku dan ketakutan, karena sejak tadi tidak ada yang mendengar orang mengetuk kaca jendela mobil yang mereka tumpangi.

"Woy! Buka, woy! Aku kedinginan!" teriak Cahyo.

Mereka berpandangan ketakutan. Palupi gemetar dan merasa sangat ragu. Bekti mendengus kesal. Dia membuka pintu bagian depan --bagian pengemudi-- dan keluar untuk menghampiri Cahyo. Palupi nyaris melarang Bekti keluar, tetapi dia terlambat, dalam sekejap terlihat dua bayangan di balik jendela mobil di samping Palupi. Dan kedua bayangan itu nampaknya saling berdebat.

"Mbak ... buka, Mbak," bisik Rara pada Palupi. Palupi menelan ludah, dia mengangguk perlahan. Palupi membuka jendela mobil itu perlahan dan seketika angin menyambut Palupi dan air hujan langsung membasahi Palupi lagi.

"Kamu ke mana tadi?"

"Aku kan sudah bilang pada Mas Bekti, aku mau lihat jalan di sebelah sana, Mas. Di sana ada jalan setapak!"

"Bukankah kamu tadi menelponku dan mengatakan bahwa kamu sudah sampai ke Arang Temu. Lalu kenapa hujan-hujan begini kamu kembali ke sini lagi?" tanya Bekti dengan marah.

Palupi melihat wajah Cahyo yang keheranan. Cahyo menghapus wajahnya yang basah terkena air hujan yang masih begitu deras.

"Aku sama sekali tidak menelpon Mas Bekti. Dari tadi aku menelpon Ranti dan Naira, tetapi tidak ada yang mengangkat telponku. Aku dari tadi tersesat di hutan pinus itu, Mas. Aku mau minta tolong, tetapi karena tidak ada yang mendengar panggilanku akhirnya aku mencoba berjalan lagi, hingga akhirnya aku bisa sampai ke sini, Mas," jawab Cahyo.

Bekti berdiri dengan tegar, tidak memedulikan air hujan yang membanjiri tubuhnya. Dia melihat ke arah Palupi.

"Suruh Naira dan Ranti memeriksa HPnya dan pastikan apakah benar tadi Cahyo menelpon mereka berdua atau tidak!" teriak Bekti dengan marah. Tanpa disuruh, Ranti dan Rara segera mematuhi perintah Bekti. Tak lama kemudian Ranti dan Naira berpandangan ketakutan. Palupi mulai khawatir.

"Bagaimana?" tanya Bekti tak sabar. Ranti membuka jendela mobil bagian depan. Bekti menoleh dan melihat Ranti menggeleng.

"Tidak ada data panggilan tak terjawab dari Cahyo, Mas."

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

DIA

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED