Bab 2

"Kenapa?"

"Yah, kali aja bosan hidup jadi orang miskin teruskan? Lagian pekerjaan ini sangat menguntungkan dan bikin kamu keenakan juga! Aku jamin kamu ngak akan rugi."

Aku tersenyum lalu menjawab. "Kerja apa emang bang?"

Bang Awan, kini menatapku. "Kita omongin nanti pas mau tidur, sekarang lebih baik adek masak dulu! Perut abang udah keroncongan dari tadi."

"Ya udah bang, aku ke dapur dulu." Pamitku pelan, sebenarnya Aku masih penasaran akan pekerjaan yang bang Awan tawarkan dan jika memang pekerjaan itu bisa menghasilkan uang yang banyak, tentu saja Aku senang. 

Tapi, kenapa dia hanya menyuruhku? Apa bukan dia saja yang bekerja. Oke, Aku tak perlu ragu. Aku yakin bang Awan pasti memberikan pekerjaan yang baik untukku. 

Sesampainya di dapur, aku mulai mengolah bahan yang tadi ku bawa dari warung Bu Siti. Tak sampai satu jam menu telur kecap sudah jadi dan segera ku panggil bang Awan untuk menikmati menu sarapan yang ku buat, tentu saja rasa sakitku tadi sudah agak mendingan. 

"Bang, habis sarapan ini. Aku mau kerumah Bu Siti lagi." Ucapku di tengah-tengah sarapan yang sedang kami santap. 

"Mau apa?" Tanyanya sambil menyendokkan nasi kedalam mulutnya. 

"Ada keperluan sedikit bang."

"Ngak usah lama-lama."

"Oke."

Satu jam kemudian. 

Kami berdua sudah selesai makan dan tentu saja bekas piring yang kotor sudah kucuci, aku langsung pamit kerumah Bu Siti. Ku samperin Bu Siti yang masih duduk antusias di warungnya. 

"Asti, sini. Kamu bilang tadi mau bayar hutang dan ibu punya pekerjaan buat kamu."

"Iya Bu. Kerja apa bu."

"Sini." Lambaiannya padaku. Aku menurut saja, lalu bu Siti perlahan mendekat dan membisikkan sesuatu di telingaku. 

"Tapi bu."

Aku ingin menolak dengan pekerjaan yang Bu Siti tawarkan tapi aku seakan tak kuasa, Aku sudah kadung janji tadi. Akhirnya ku setujui saja permintaan dari Bu Siti. 

"Kalau kamu ngak keberatan, ibu akan antar kamu masuk kedalam." Kata Bu Siti lagi. 

Sejenak Aku terdiam, tapi pada akhirnya aku mengangguk saja.

"Ini kamarnya." Ujar Bu Siti segera. 

Sambil membuka pintu kamar tersebut, ku lihat keadaannya, ini adalah sebuah kamar besar yang mewah. Dan disitu ada sesosok tubuh pria yang tengah terbaring tanpa daya. 

'Ya Tuhan siapa dia? Dia sedang tidur apa jangan-jangan sosok pria itu adalah mayat? Tuhan, tolong hamba, tidak mungkin bu Siti otaknya tidak waras karena menyimpan mayat di dalam kamar.' batinku takut. Aku ingin protes, tapi bibirku serasa mengelu. 

"Nanti ibu tambah upahnya." Bu Siti terus menatapku penuh harap. Mungkin dia pikir jangan sampai aku menolak, apalagi sekarang kan aku lagi butuh uang. 

"Maaf bu sebelum saya benar-benar menyetujui pekerjaan yang ibu tawarkan saya ingin mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, bolehkan bu?" Tanyaku pelan. 

Wanita disampingku hanya mengangguk. 

"Siapa dia bu?" Tanyaku lagi. 

Bu Siti malah tersenyum, dan tentu saja Aku keheranan.

"Dia adalah Gala anak ibu yang sudah dua tahun koma."

"Ma-maksud ibu?"

"Kalau ibu ceritain akan panjang ceritanya jadi lebih baik kamu tinggal bilang mau atau enggak, karena satu hari yang lalu orang yang bekerja memandikan Gala pulang kampung jadi ya ibu agak kerepotan juga. Ngak ada yang jagain warung." Jelas Bu Siti panjang lebar. 

Aku benar-benar ngak tahu kalau bu Siti ternyata punya anak yang sedang koma di kamarnya. Yang kutahu hanya suami Bu Siti yang katanya kerja ngak pulang-pulang, begitulah kata tetangga dikontrakanku. 

"Bukannya saya menolak sih bu tapi saya ini bukan isteri anak ibu lagian kalau bang Awan tahu, dia bakalan marah sama saya bu."

"Ibu mohon Asti, sekali ini saja dan seterusnya ibu ngak akan suruh kamu lagi tapi hari ini ibu benar-benar sibuk." Mohon bu Siti pelan sembari mengambil jari tanganku untuk dia genggam. 

"Kalau cuma sepuluh ribu saya akan bayar saja bu, jadi saya ngak perlu nebusnya dengan bekerja memandikan anak ibu yang koma itu."

"Iya kamu betul Asti, uang sepuluh ribu itu jumlahnya kecil dan ngak ada apa-apanya tapi ibu janji akan bayar kamu satu juta untuk sekali memandikan."

Aku diam sejenak. 'Apa? Satu juta? Apa aku ngak salah dengar? Tentu saja itu upah yang gede, cuma kerja mandiin orang yang lagi sakit.' batinku seakan tak percaya. 

"Maaf bu saya ngak bisa." Tolakku pelan dan aku ingin segera pergi dari kamarnya. 

Bu Siti tak bergeming, dia hanya berdiri terpaku menatap kepergianku. Sepulang dari rumah Bu Siti pikiranku jadi tak karuan, ada rasa sedikit bersalah karena menolak pekerjaan yang beliau tawari. Tapi tidak mungkin juga Aku bisa menerima dengan mudahnya lagian uang sepuluh ribu aku masih sanggup membayarnya. 

"Adek ada keperluan apa ke warung Bu Siti?" Tanya Bang Awan tiba-tiba. 

Aku terkejut karena saat ini pikiranku sedang melayang kemana-mana. 

"Kenapa? Kok diam saja." Celetuk Bang Awan lagi. 

"Eh, Abang tanya apa tadi? Bisa diulang ngak?" Tanyaku setengah linglung. 

"Susah ya punya isteri yang pura-pura tuli!"

"Aku ngak pura-pura tuli bang emang kenyataannya Aku ngak denger!"

Bantah ku yang tak terima karena dikatakan pura-pura tuli. 

"Sudahlah ngak perlu dibahas! Lagian aku merasa ngak begitu penasaran sama semua hal yang kamu lakuin."

Aku tak menjawab tapi dari nada bicaranya bang Awan sepertinya kesal padaku. 

"Beliin rokok!"

Bab 3

Setelah nyeletuk dengan kata perintah, Bang Awan tiba-tiba melemparkan selembar uang 50 ribu dihadapku. Tentu saja rasanya Aku tak terima, tadi dia bilang bahwa Aku disuruh ngutang dulu di warung bu siti. Ini kok tiba-tiba melempar uang untuk beli rokok. Aku ingin marah tapi sekali lagi kutahan amarah itu. Dengan perasaan yang menggebu-gebu akhirnya kupungut juga uang itu. Akupun berbalik pergi hanya sekedar membelikannya rokok. 

Di perjalanan pikiranku kemana-mana, Aku masih bingung akan perlakuan bang Awan terhadapku sehingga tak kusadari ada mobil yang hampir saja menyerempet. Tak hanya itu genangan air yang sengaja kuhindari ternyata memercikkan air keseluruh bajuku. 

Wuih, Aku kesal! Bayangkan saja air kotor dijalanan itu meninggalkan pulau-pulau indah yang menjijikkan. Aku ingin marah tapi pengendara mobil Avanza itu tiba-tiba berhenti. Aku masih terus berjalan. 

"Mbak!"

Teriak seseorang dari dalam mobil, suara itu, ya suaranya sangat familiar di telingaku. Aku menoleh. 

"Bajunya kotor ya?" Tanyanya lagi. 

Aku yang tadinya kesal dan ingin sekali marah, seakan tak tega untuk melontarkan kata-kata makianku. Alhasil Aku cuma tersenyum. 

"Bisa dicuci." Jawabku seadanya. 

Dia masih melirikku, memperhatikan dari ujung kaki hingga kepalaku, lalu pria yang tak kutahu wajahnya karena dia menggunakan masker mengeluarkan uang 200 ribu. 

"Ambil uang ini, anggap saja sebagai ganti rugi! Karena saya tidak punya waktu buat belikan mbak baju."

"Apa!" Aku mengkerutkan kening. Yang benar saja memangnya tampangku sama percis kayak pengemis ya? Pria itu seakan menghinaku. 

"Kenapa? Apa masih kurang? Biar saya tambah lagi," lanjutnya dingin. 

Dia mengeluarkan uang lagi dan menyodorkannya kepadaku. 

"Ambil saja! Saya sedang terburu-buru dan kalau masih kurang uangnya, mbak bisa menghubungi saya di nomor kontak itu." Dia memberikan uang dan menyisipkan sebuah kartu nama. 

Tapi karena rasa kesal ku yang dia anggap seperti pengimis seakan membuatku jijik untuk menerima uang serta kartu itu. Tak kusangka dia nekat juga dan segera melemparkan uang serta kartunya. Lalu tanpa persetujuanku diapun menjalankan kembali mobilnya. 

Aku terheran sambil memperhatikan keadaan di jalan. Sepi belum ada kendaraan yang lewat dan karena Akupun butuh uang untuk berbelanja akhirnya uang itu kupungut juga. Kubaca kertas putih yang dia lemparkan tadi. 

"Dion Pratama."

---

Malam itu hujan turun rintik-rintik, membasahi bumi yang kupijak. Hawa dingin seakan menusuk hingga ketulang, tapi tidak menyiratkan nyaliku untuk mandi. Aku keluar dari kamar mandi dan melihat bang Awan sedang terbaring di ranjang. Dia menoleh ku sejenak lalu perlahan bangkit dari ranjang itu. 

"Kamu ngapain dingin-dingin begini mandi?" Tanyanya pelan. 

"Gerah."

"Sini, duduk disamping abang." Dia menepuk kasur di sampingnya memerintahkan Aku untuk duduk. 

"Aku mau ganti baju dulu."

"Ngak usah."

"Aku udah kedinginan dan pengen cepet ganti baju."

"Biar abang hangatin." Ujarnya. 

Aku terdiam, tak bergeming memandangi wajah pria yang telah menikahiku ini. Hatiku seakan perih menghadapi sikap bang awan yang seringkali berubah-rubah dan membuatku tak mengerti. Tapi akhirnya ku dekati juga dia, aku duduk disampingnya dengan handuk yang masih melilit, membungkus tubuhku. 

Dia perlahan mengangkat tangan kanannya serta membelai pundakku. Serasa merinding akan elusan lembut itu, wajar saja, Aku hanya manusia biasa yang tak bisa menghindar dari nafsu berat suamiku. 

Kalau sudah merayu begini pasti dia ada maunya.

"Ada yang ingin Abang omongin ke kamu." Ucapnya datar. Masih terus mengelus pundakku. 

"Apa?" Tanyaku pelan sambil menyingkirkan tangannya. Rasanya seperti tidak sudi jika disentuh olehnya.

"Kenapa tangan Abang disingkirkan? Kamu ngak sudi ya jika Abang sentuh?"

Aku tersenyum tipis menanggapi pertanyaan nya. Ku akui saja pertanyaannya memang betul tapi lagi-lagi Aku harus berbohong. 

"Ngak kok bang, kamukan suamiku jadi apa alasanku berpikiran seperti itu."

Bang Awan tak menjawab dan hanya mengangkat alis sedikit. Lalu tangan itu melorotkan handuk yang ku kenakan, aku tak menolak. Sekarang dihadapkannya aku benar-benar berpenampilan polos. Diapun langsung mendorongku kebelakang. Adegan suami isteri itu terjadi lagi. 

"Abang pengen ngomong apa tadi?" Tanyaku setelah rutinitas kami selesai. 

Tubuhku tidak lagi sepolos tadi, karena selimut sudah menutupi hampir seluruh tubuhku, begitu juga dengannya. 

"Kamukan tahu zaman sekarang ngak ada kerjaan yang enak, semuanya butuh otak dan tenagakan? Jadi Abang pengen Kamu saja yang kerja."

"Maksud abang?"

"Abang pengen kamu menghasilkan uang dengan menjual tubuh kamu."

"Ya ampun bang! Abang apa-apaan sih, tega banget ya Abang bilang begitu ke Aku. Apa Abang udah bosan sama Aku! " Kejutku yang sangat syok mendengarnya. 

Kenapa bang Awan sangat tega ingin menjual tubuhku? Ya, kuakui Aku memang bukan wanita tipe dia dan dia juga mengatakan bahwa dia tidak bisa mencintaiku. Di mana akal pikirannya? Seharusnya dia melindungi isterinya bukan malah menjadikan isterinya sebagai mata pencaharian baginya. Tuhan ujian apalagi ini? 

"Aku tidak butuh uang bang! Aku lebih sudi menjadi babu ketimbang harus menjual diri!" Marahku lagi. 

"Jika kamu ngak butuh uang, kamu mau beli makanan pakai apa? Lagian kerjaan begituan enak! Udah di puasin dapet uang lagi!"

"Aku ngak mau!" Tolak ku keras. 

"Ya udah kalau kamu ngak mau!" Jawab bang Awan ketus kemudian dia berbaring membelakangiku. 

Mendengar apa yang ditawarkan bang Awan padaku tadi. Rasanya seperti tersambar petir di siang hari, bayangkan saja di saat kondisi ku sedang hamil tiba-tiba dia menyuruhku untuk bekerja dan pekerjaan itu bukannya menyelamatkan sang isteri tapi malah menghancurkan isterinya sendiri. 

'Bang Awan apa yang ada dipikiranmu? Kenapa hati nuranimu sangat busuk, Aku memang isterimu tapi setidaknya kamu menjagaku bukannya menyengsarakan Aku bang!' Batinku sedih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED