"Kinar, apa kamu sudah siap Nak?"
Tanya ibu yang tiba tiba datang, tanpa mengetuk pintu. Tak seperti biasanya, ibu selalu mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar ku. Sepertinya ibu sangat gugup dan terburu buru.
"Iya Bu. Kinar sudah siap." Jawabku lirih.
Ibu tersenyum melihatku. Ibu melihatku dari rambut hingga ujung kaki, ibu kembali menyunggingkan senyumannya. Terpancar jelas dimata nya. Kalau ibu sangatlah bahagia.
"Cantik, kamu terlihat sangat cantik Kinar."
Mendengar pujian ibu, aku jadi tersipu malu. Tapi jujur, aku memang terlihat beda dari biasanya. Biasanya aku hanya berpenampilan sederhana tanpa bedak tanpa pewarna bibir.
"Ayo sekarang kita temui mereka."
Ibu menuntunku keluar dari kamar, dan mengajakku berjalan keruang tamu untuk menemui mereka.
Kulihat ada empat orang tamu disana. Yang satu seumuran bapak. Itu pasti bapaknya Bayu. Yang perempuan pasti ibunya Bayu. Karena hanya ada satu tamu perempuan. Dan kedua pria itu yang satu berperawakan tinggi sedang, lumayan ganteng. Tapi usianya masih sekitar dua puluh lima'an. Tak mungkin dia Bayu, karena umurnya jauh dibawahku.
Kalau begitu Bayu berarti pria yang satunya. wajahnya sih lumayan hanya saja badannya sedikit pendek dan gendut. Tapi tak apalah, setidaknya dia tak seperti yang kubayangkan dan mungkin dia adalah jodoh yang Tuhan kirim untukku.
"Ini putriku Kinara"
Ibu memperkenalkanku pada mereka.
Akupun kemudian menjabat tangan ibu dan bapaknya Bayu, dan kedua pria itu. Kemudian aku duduk disebelah ibu.
"Kamu cantik Kinar."
Ucapan ibunya Bayu, membuatku tersipu malu. Aku hanya tersenyum dan menunduk saat mereka memandangku.
"Kinar. Ini Bayu,"
Aku terkejut setelah ibunya Bayu memperkenalkan pria yang berusia lebih muda dariku. Berarti aku salah, ternyata Bayu pria yang lebih muda usianya dariku.
Aku hanya mengangguk, dan Bayu tersenyum padaku. Sepertinya Bayu juga menerima perjodohan ini.
Ya Allah, jika benar Bayu ini jodohku. Jangan ragukan hatiku untuk menerimanya. Doa ku dalam hati.
Meskipun aku tidak yakin, kalau Bayu akan menerimaku. Mungkin saja dia hanya pura-pura demi menyenangkan hati orangtua nya.
"Dan ini Fajar. kakaknya Bayu."
Rupanya pria bertubuh gembul yang kukira Bayu adalah kakaknya.
"Bagaimana Kinar? apa kamu menerima pinangan kami untuk Bayu?"
Kujawab pertanyaan ibunya Bayu dengan anggukan, jujur aku sangat malu sekali.
"Kalau begitu, sekarang pakaikan cincin ini dijari Kinar Bay." Perintah ibunya mas Bayu.
"Baik Bu."
Mas Bayu mendekat kearahku. Lalu meraih jemariku. Kemudian menyematkan sebuah cincin bermata satu, di jari manisku. Aku merasa gemetaran saat mas Bayu memegang tanganku. Aku tak berani menatapnya karena malu.
"Pak Sukman, karena Kinar sudah menerima Bayu, bagaimana kalau kita segera menikahkan mereka? bukankah lebih cepat, lebih baik!"
Pertanyaan yang dilontarkan bapaknya Bayu, cukup membuatku terkejut. Bagaimana bisa segera menikah, sementara aku belum mengenal Bayu lebih jauh.
"Kita beri waktu untuk Bayu dan Kinar saling mengenal. Setelahnya kita baru merencanakan pernikahan mereka."
Jawaban bapak sangat mewakili perasaanku, aku memang ingin mengenal dulu Bayu. Sebelum dia menjadi suamiku.
"Baiklah pak, satu minggu saya rasa cukup. Untuk mereka berdua saling mengenal." Ujar bapaknya Bayu.
Hah satu minggu? mana cukup waktunya. Jujur aku belum siap, kalau harus menikah dalam waktu satu minggu lagi. Aku belum mempersiapkan apapun. Jeritku dalam hati.
"Bagaimana Pak Sukman?"
Kulihat bapak terdiam, sepertinya sedang berpikir.
"Baiklah Pak, satu minggu lagi kita nikahkan mereka."
Keputusan bapak sudah tidak bisa diganggu gugat, aku harus menerima dengan lapang. Meski harus menikah dengan lelaki yang usianya jauh dibawah ku.
"Kinar. Bayu. Sebaiknya kalian ngobrol berdua dulu, biar kalian cepat akrab!" Ucap ibunya Bayu.
"Iya Bu." Sahutku lirih. Disusul dengan anggukan mas Bayu.
Yang ibunya Bayu katakan memang benar. Sebaiknya aku ngobrol berdua dengan Bayu.
Kupandang sejenak wajah ibu. Aku ingin meminta ijin pada ibu, dan tampaknya ibu mengerti. Karena ibu langsung menganggukan kepala.
"Kinar, ajak Bayu ngobrol diteras saja,"
Aku langsung mengangguk, mendengar perintah ibu.
Aku mengajak Bayu untuk keluar.
"Ayo Mas, ke depan!"
Aku dan mas Bayu akhirnya mengobrol di teras.
"Kinar, apa kamu sudah siap menikah denganku?"
Pertanyaan mas Bayu, membuatku terkejut. Mengapa harus dipertanyakan, kalau tadi aku sudah mengiyakan didepan orang tuanya. Apa jangan jangan mas Bayu tak mau dijodohkan denganku. Kalau iya, tak mengapa. Wajar saja, karena usia kami berbeda jauh.
"Mas, aku siap jika kamu siap. Aku tidak mau, kamu menikahiku karena terpaksa."
Aku tertunduk lesu, aku sudah pasrah jika mas Bayu menolak. Aku tak mungkin memaksanya. Menikah memang seharusnya karena terpaksa.
"Apa benar yang kamu katakan Kinar?"
"Iya Mas." Jawabku lirih.
Mas Bayu tersenyum simpul, aku jadi bingung dibuatnya. Senyum senang karena menerima perjodohan ini, atau menolaknya.
"Terimakasih ya Kinar. Aku pasti sangat bahagia, bisa menikah denganmu, dan menjadi suamimu."
Mendengar ucapan mas Bayu, aku terkejut. Aku kira mas Bayu akan menolak ku dan menentang perjodohan ini. Ternyata aku salah, ternyata mas Bayu mau menerimaku. Sungguh aku merasa sangat bahagia. Sekalipun aku baru saja mengenalnya, tapi sepertinya mas Bayu orangnya baik.
"Mas, itu berarti, kamu menerima perjodohan ini?" Tanyaku serius. Aku masih belum yakin.
"Tentu saja Kinar, siapa sih yang tak mau dijodohkan dengan orang secantik kamu."
Pujian mas Bayu membuatku tersipu malu. Apa ini tandanya, aku mulai punya rasa pada mas Bayu. Tapi aku masih ragu, mengenai umurku yang sepertinya lebih tua darinya, apa mas Bayu tak mempermasalahkannya?
"Mas, ada yang ingin kutanyakan,"
"Ada apa Nay?"
"Mas, umur kita sepertinya jauh berbeda. Kamu lebih muda dariku, apa kamu tetap menerimaku?"
Kucoba beranikan untuk bertanya pada mas Bayu, karena aku tak mau ini akan menjadi masalah dikemudian hari. Aku tak mau mas Bayu mengungkit masalah umur saat kita sudah menikah nanti.
"Kinar, kita cuma selisih lima tahun. Mau aku lebih muda darimu atau apalah, itu tak jadi soal. Masih banyak diluar sana, perbedaan usia antara istri dan suaminya yang jauh lebih muda. Kenyataanya mereka bisa hidup bahagia. Lalu kenapa kita tidak mencobanya?"
Ucapan mas Bayu benar. Memang banyak diluar sana, banyak istri yang lebih tua usia nya dibanding suaminya. Kenyataannya mereka terlihat bahagia. Kata-kata mas Bayu benar-benar telah membuatku yakin, akan lelaki pilihan kedua orang tuaku. Aku semakin mantap dengan pernikahanku nanti dengan mas Bayu.
"Iya Mas." Sahutku sembari menunduk. Aku tak berani menatap mas Bayu. Aku masih merasa malu padanya.
"Kinar, Bayu, Ayo masuk dulu! Kita makan malam dulu!" Perintah ibu tiba-tiba. Entah sejak kapan ibu datang, mungkin saja dia sudah mendengar percakapanku dengan mas Bayu tadi.
"Iya Bu."
"Ayo Mas!" Aku mengajak mas Bayu masuk.
Kami makan malam bersama keluarga mas Bayu. Tersedia banyak menu hidangan malam ini. Ada juga beberapa jenis buah-buahan. Rupanya ibu sudah mempersiapkan semuanya, khusus menyambut keluarga mas Bayu. Kasihan ibu, masak sebanyak ini sendirian. Pasti capek sekali.
Selesai makan malam, mereka pun langsung berpamitan untuk pulang.
"Pak, Bu, ini sudah malam. Kami permisi pulang dulu ya." Ucap bapaknya mas Bayu.
"Kinar, aku pulang dulu ya." Mas Bayu berbisik lirih ditelinga ku.
"Iya Mas, hati-hati dijalan ya?"
Setelah mengantar mereka sampai keteras. Aku langsung bergegas menuju kamar. Ingin segera kuhubungi Dina, untuk membagi kebahagiaan ini. Dina pasti sudah menunggu kabar dariku.
Benar saja, saat kulihat ponselku sudah ada beberapa pesan masuk dari Dina.
[ Nay, apa sudah datang calon suamimu? ]
Pesan ini masuk tiga jam yang lalu. Berarti saat aku sedang menemui keluarga mas Bayu didepan.
[ Nay, sudah datang ya tamunya. Cakep tidak orangnya, apa jangan-jangan orang sudah tua lagi Nay ]
Aku jadi tersenyum melihat chat Dina barusan. Mungkin saja Dina mengira aku dijodohkan dengan om-om. Wajar saja, aku juga sempat berpikir seperti itu.
Chat terakhir dikirim lima belas menit yang lalu, Dina juga masih aktif. Mungkin sedang menunggu kabar dariku.
[ Key, kalau sudah pulang tamu nya, langsung balas chat ku ya. Penasaran nih 😁 ]
Dina nih bawelnya setengah mati. Tapi justru aku senang, itu berarti Dina perhatian padaku.
[ Din, besok saja ya aku ceritain. Ini sudah malam, aku ngantuk sayang ]
Hehehe Dina pasti tak sabar untuk menunggu besok. Aku jadi ketawa sendiri membayangkan wajah Dina yang cemberut setelah membaca chat dariku.
Kurebahkan tubuhku, namun aku belum bisa memejamkan mata. Ingatanku selalu pada mas Bayu. Baru pertama aku melihatnya tapi mengapa aku selalu terbayang sosoknya. Mungkinkah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya?
***
"Key, masih ada waktu. Ayo Key ceritakan! Seperti apa cowok yang semalam datang melamarmu." Pinta Dina setengah memaksa.
Kulirik jam dipergelangan tanganku. Masih ada waktu kurang lebih lima belas menit.
"Hemm, baiklah. Dasar kepo." Ucapku sambil mencubit lengannya.
"Ya kepo banget lah. Lagian ada acara penting masa aku tak di undang. Sahabat macam apa kamu Key." Umpat Dina terlihat kesal.
"Kalau itu, kamu tahu sendiri. Acaranya sangat mendadak. Bapak bilang cuma perkenalan doang, ehh malah ujung-ujungnya dilamar sekalian." Ujarku sambil melirik cincin yang tersemat dijari manisku.
"Iya deh. Terus bagaimana rupa orangnya Key. Apa dia tampan? Atau jangan-jangan dia bujang tua ya Key. Sudah seperti om-om." Tanya Dina antusias.
"Menurutku dia tampan juga Din. Tapi usianya jauh lebih muda dari aku Din."
"Masa sih Key. Memangnya selisih berapa sama kamu Key?"
Dina seperti sangat terkejut mendengar kata-kataku.
"Lima tahun Din. Bagaimana menurutmu, apa aku pantas mendampingi pria yang usia nya lebih muda dariku?" Jujur aku masih merasa minder.
"Key, kalau masalah pantas, ya pantas saja Key. Jangankan untuk usia dua puluh lima, untuk dua puluh tahun pun, kami masih cocok mendampingi. Kamu tuh awet muda Key. Percayalah, menurutku kamu masih pantas berusia dua puluh tahunan."
"Din, aku serius nih. Malah ngeledek." Aku mencebik kesal.
"Aku serius Key. Tapi ngomong-ngomong, apa kamu suka sama cowok itu?"
"Aku sudah menerima perjodohan itu Din. Suka tidak suka, toh aku akan tetap menikah dengannya bukan?"
"Tapi Key, aku tidak setuju kalau kamu menikah karena terpaksa!"
Dina memang sahabat terbaikku. Dina begitu peduli padaku.
"Aku suka sama dia kok Din. Ayo masuk! Sudah saatnya kerja."
Dina masih melongo mendengar jawabanku. Aku tarik tangannya dan mengajaknya masuk.
Setelah tiba waktu yang ditentukan, akhirnya aku dan mas Bayu menikah. Bapak ibuku, mengadakan resepsi pernikahanku secara mewah. Mewah menurutku, karena dilengkapi dengan acara pengajian, dengan mengundang seorang Kyai yang sedang kondang saat ini.
Ibuku sangat antusias, membuat pesta pernikahanku semeriah mungkin. Ibu demikian mungkin karena anak perempuannya ini sudah mendapat jodoh, tak lagi disebut perawan tua.
"Selamat ya Key, akhirnya kamu punya pasangan juga," celetuk Dina saat selesai acara ijab qabul.
"Terimakasih ya Din."
Kupeluk Dina erat. Kini aku sudah menikah, mungkin akan jarang sekali bertemu dengan Dina. Tak seperti dulu, kemana selalu bersama. Dina selalu ada disaat senang ataupun susah.
Semoga kamu juga cepet nyusul."
Doaku untuk sahabat terbaikku.
"Amiin. Jangan lupakan aku ya Key, kalau ada sesuatu kamu hubungi aku ya."
"Iya bawel." Kucubit lengannya karena gemas.
Dina bukan hanya sekedar sahabat, dia sudah kuanggap saudara sendiri, meski usianya lebih muda dariku, tapi cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, justru aku yang kadang suka merajuk seperti anak kecil.
Selesai acara, ibu dan bapak mas Bayu, memintaku agar aku tinggal bersama mereka.
"Kinar, Ibu sudah minta ijin sama Bapak Ibumu, kalau kamu akan tinggal bersama kami."
Aku menatap ibu juga bapak, mereka tersenyum manggut manggut. Ibu bapak sepertinya sangat setuju kalau aku ikut mas Bayu suamiku. Sebenarnya aku belum siap, tapi mau bagaimana lagi. Sudah kewajiban seorang istri menurut pada suami nya.
"Kinar, setelah menikah, kamu bukan lagi tanggung jawab kami. Tapi sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Taat dan menurutlah pada suamimu."
Ucap ibu tegas, tapi bohong kalau tidak menangis, karena kulihat ibu mengusap matanya.
Aku hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Berat rasanya aku meninggalkan mereka. Sedari kecil mereka merawatku. Kini di hari tua nya, aku malah meninggalkannya.
"Kamu bisa kesini kapan pun kamu mau, tentu saja seijin suamimu." Ucap bapak menimpali.
"Iya Pak."
Aku yakin bapak juga pasti sedih. Tapi bapak bisa tegar, dan bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Kamu nggak usah khawatir sama Ibu, sama Bapak. Adit sama Mila nanti akan pulang. Ibu sudah menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja."
Mendengar ucapan ibu, hatiku merasa lega. Tadinya aku berpikir ibu hanya akan tinggal berdua saja sama bapak. Ternyata ibu menyuruh mas Adit dan Mbak Mila untuk pulang. Mas Adit kakakku satu satunya, tapi mas Adit tinggal jauh diluar kota karena pekerjaanya. Disana mas Adit dan mbak Mila hanya ngontrak. Dari dulu ibu dan bapak sudah menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja, dan buka usaha sendiri. Namun mas Adit tak mau. Mungkin kali ini, karena mengetahui aku akan ikut suamiku, akhirnya mas Adit mau pulang juga.
Sebenarnya aku sudah menyuruhnya pulang lebih awal, untuk menyaksikan pernikahanku. Namun karena tak dapat ijin pulang dari tempat mas Adit bekerja, jadinya mas Adit tak bisa pulang.
"Kinar, kamu siap siap dulu ya?"
Ucap ibu mertuaku.
"Iya Bu."
Aku segera bergegas untuk menyiapkan barang apa saja yang akan aku bawa.
"Sudah selesai Nak?" Tanya ibu yang menyusul masuk ke kamar.
Aku memeluk ibu, aku menangis pilu. Aku tak menyangka akan meninggalkan ibu, karena mengikuti suamiku.
"Nay, Ibu sama Bapak baik baik saja, kamu bisa pulang kapanpun kamu mau. Sekarang bersiaplah, mereka sudah menunggumu!"
Ibu mengusap pipiku lembut. Namun air mata ini terus saja menetes.
"Ayo Nak!"
Aku hanya mengangguk dan berjalan keluar diikuti ibu.
"Ayo Nak, kita berangkat sekarang!"
Setelah berpamitan, mas Bayu mengajakku untuk segera naik kemobil. Dengan berat hati akupun menuruti mas Bayu.
***
"Selamat datang dirumah kami Kinar."
"Anggap saja rumah sendiri ya. Walaupun tak sebesar rumah orang tuamu, Ibu harap kamu kerasan tinggal disini." Ucap ibu mertuaku.
"Insyaallah Bu."
Rumah mas Bayu memang tak sebesar rumah bapak, tapi lumayan lega kalau untuk kami tinggal berempat.
"Aku tunjukan kamar kita ya."
Mas Bayu menggandeng tanganku dan mengajaku, kesebuah kamar.
"Ini kamar kita, mungkin tak sebesar kamar kamu. Tapi ini cukup kok untuk kita berdua."
Mas Bayu tersenyum menatapku, akupun balas menatapnya. Walaupun diantara kami tidak saling mengenal sebelumnya, tapi aku sudah sedikit merasa nyaman dengannya.
***
Tak terasa, sudah hampir Dua tahun pernikahan kami, selama ini mas Bayu sudah menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untukku. Walaupun gajinya tak sepenuhnya diberikan padaku, karena gaji mas Bayu diberikan pada ibu sebagian. Namun aku terima dan syukuri pemberian suamiku. Walaupun hanya cukup untuk kebutuhan dapur saja.
Tapi aku bingung dengan sikap ibu mertuaku. Semula ibu mertua bersikap baik padaku. Namun akhir akhir ini sikapnya berubah, semua yang kulakukan serba salah dimatanya. Bahkan ibu selalu membanding bandingkan aku dengan mbak Sarah, istrinya mas Fajar.
Padahal menurutku mbak Sarah biasa-biasa saja. Kalau kesini cuma duduk dan makan saja. Tapi wajar sih, soalnya mbak Sarah punya bayi yang baru berusia lima bulan. Ibu sangat perhatian pada mbak Sarah. Kalau mbak Sarah datang kesini. Ibu selalu menyuruhku ini itu, untuk mengambil keperluan mbak Sarah. Kadang aku merasa sudah seperti pembantu saja.
"Kamu itu gimana sih, kerjanya yang bener! masa ngepel saja nggak becus."
"Ini sudah bersih kok Bu, mungkin tadi pas Ibu masuk, sandal Ibu kena kotor Bu."
Aku tak mengerti dengan ibu, bukankah dia sendiri yang mengotori lantai, karena masuk masih memakai sandal.
"Kamu itu, kalau dibilangin, bisanya jawab aja. Enggak kaya Sarah, sudah pintar penurut lagi."
Aku tak menanggapi ucapan ibu. Sudah berulangkali selalu mencari cari kesalahan, dan pada akhirnya aku selalu dibandingkan dengan mbak Sarah. Ibu selalu memuji mbak Sarah tiap kali aku melakukan kesalahan.
kulanjutkan lagi mengepel lantai yang sudah kembali kotor, tanpa menghiraukan ibu.
Setelah selesai, aku langsung kedapur. Mungkin sebentar lagi mas Bayu pulang. Aku harus menyiapkan air hangat untuk mas Bayu mandi.
Saat kumendengar suara motor mas Bayu, aku berniat segera menyambutnya.
Langkahku terhenti seketika. Karena tak sengaja, kudengar ibu bertanya pada mas Bayu.
"Bayu, kapan kamu punya anak? lihat itu, teman temanmu, sudah punya anak semua."
"Mungkin belum saatnya Bu, nanti juga Kinar hamil, dan ibu akan punya cucu dari Bayu."
Mungkin ini masalahnya, sehingga sikap ibu mertuaku kini berubah. Mungkin juga maksud ibu, aku tak seperti mbak Sarah. Karena aku belum punya anak seperti mbak Sarah.
"Mau sampai kapan Bayu? Apa mungkin istrimu masih bisa hamil?"
Ucapan ibu mertua membuatku terkejut, meski tersinggung, aku harus bersabar. Bukankah pernikahanku dengan mas Bayu, baru dua tahun, mungkin memang belum saatnya aku memiliki seorang anak. Banyak pasangan yang menikah sudah lima tahun, tapi mereka baru punya anak.
"Apa maksud Ibu?" Kudengar mas Bayu bertanya.
"Bu aku menikah baru dua tahun, banyak kan pasangan yang menikah sampai tiga tahun. Bahkan sampai lima tahun, mereka baru punya anak." Ujar mas Bayu.
"Itu beda Bayu, mereka masih muda. Kalau istrimu, umur saja sudah tigapuluh lebih. Kalau kandungannya kering, bisa jadi dia tidak punya anak selamanya."
"Menyesal Ibu menikahkan kamu dengannya."
Degh...
Bagai tersambar petir aku mendengarnya, tega sekali ibu berkata seperti itu. Bisa bisanya dia mengaitkan umur karena aku tak kunjung hamil. Kandunganku kering? Apa iya kandunganku memang kering. Ya Tuhan, apa benar yang ibu katakan. Aku jadi merasa takut sendiri.
Aku berlari masuk kamar. Aku tak dapat menahan rasa sakit hatiku, tapi aku tak bisa berbuat apa apa. Hanya air mata yang mewakili perasaanku.
"Kamu kenpa Nay?" Tanya mas Bayu.
Mas Bayu lebih memilih memanggilku Nay dari pada Kinar. Sama seperti ibu bapakku.
"Aku tak apa apa Mas."
Mas Bayu sepertinya tak tahu, kalau aku sudah mendengar percakapan mereka.
"Ya sudah, aku mandi dulu."
"Sebentar Mas, airnya masih didapur."
Aku begegas kedapur, menyiapkan air hangat untuk mas Bayu.
Begitulah kegiatanku sehari hari, selalu sibuk dirumah. Selain memasak, pekerjaan yang lain juga aku lakukan. Termasuk menyiapkan air hangat untuk suami dan mertuaku.Semua aku jalani dengan ikhlas, walau kadang terasa melelahkan.
"Kinar, nanti aku ada acara sama teman teman. Mungkin sampai malam, kamu tak perlu menungguku."
Mas Bayu, mau ada acara? acara apaan. Tumben saja, biasanya pulang kerja tak pernah kemana mana.
"Iya Mas."
Hanya itu kata kata yang keluar dari bibirku, aku tak pernah berani bertanya apapun, takut mas Bayu marah.
***
"Mas, kamu baru pulang?"
Hari sudah hampir pagi, ketika ku terjaga. Mas Bayu masuk baru saja masuk kekamar. Darimana saja dia, sampai pulang pagi begini. Jangan-jangan mas Bayu punya wanita lain.
"Iya."
Mas Bayu langsung menghempaskan tubuhnya kekasur, seperti orang kelelahan. Aku jadi penasaran, apa yang telah dia lakukan. Apa mungkin dugaanku benar, mas Bayu punya wanita simpanan.
"Mas, kamu darimana saja, sampai pulang pagi begini?" Tanyaku dengan nada tak suka. Aku kecewa, juga rasa cemburu mulai menghantui.
"Mulai bawel kamu ya. Mau kemana, mau apa, itu bukan urusanmu. Asal kamu tahu, aku tuh bosan dirumah terus."
Mas Bayu kenapa? tak biasanya dia bersikap kasar seperti ini, apa mungkin ini ada hubungannya dengan pertanyaan ibu tempo hari. Ahh pikiranku makin kacau.
"Maaf Mas, aku cuma ingin tahu, kenapa kamu sampai pulang pagi, itu saja."
Sungguh hatiku terasa sakit, dibentak seperti ini, mas Bayu sekarang mulai berubah. Mas Bayu tak lagi lembut seperti dulu. Sering membentak, meskipun aku tanya baik-baik.
"Aku minta kamu jangan banyak tanya! Sekarang aku mau tidur, aku capek."
"Iya Mas."
Mas Bayu langsung tertidur pulas. Sepertinya semalam mas Bayu habis begadang.
Hatiku menjerit mendengar ucapan mas Bayu. Mas Bayu seperti sudah tak mengnggapku istrinya lagi. Aku harus cari tahu, apa penyebab mas Bayu berubah. Aku tidak mau kalau mas Bayu memiliki wanita lain.
Ibu Bapak, aku kangen kalian, andai ibu sama Bapak tahu, aku disini merasa tersiksa. Pasti kalian tidak akan tega membiarkanku hidup menderita dirumah mertua.