Lina melangkah memasuki sebuah kafe yang ramai, tempat acara reuni kecil sekolah lamanya diadakan. Ia hampir tidak datang, karena perasaannya yang masih kacau dengan masalah di rumah. Namun, undangan dari teman-teman lama yang tak henti-hentinya mengajaknya hadir akhirnya membuatnya berubah pikiran. Ia berharap acara ini bisa mengalihkan pikirannya, walau hanya untuk sementara.
Suasana kafe penuh dengan tawa dan obrolan. Wajah-wajah yang dulu begitu akrab kini terlihat lebih dewasa, meski masih ada sisa-sisa kenangan masa muda di mata mereka. Lina tersenyum sopan saat beberapa teman lama menyapanya, bertukar cerita singkat tentang hidup mereka sekarang. Namun, pikirannya terus terpecah, sulit fokus pada percakapan.
Saat ia sedang berdiri di samping meja, meraih segelas jus jeruk, ia mendengar suara yang begitu familiar dari belakang. Suara yang belum pernah ia dengar lagi sejak bertahun-tahun lalu, namun begitu dikenalnya.
"Lina?"
Lina berbalik, dan detik itu juga waktu seolah berhenti. Di hadapannya berdiri Ivan, temannya sejak kecil, pria yang sudah lama tak ada dalam hidupnya. Senyum Ivan masih sama seperti dulu-hangat dan menenangkan, meski ada garis-garis kedewasaan di wajahnya yang kini tampak lebih matang.
"Ivan?" jawab Lina dengan nada tak percaya. "Ini... ini benar-benar kamu?"
Ivan tertawa kecil, melangkah mendekat. "Iya, ini aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini."
Lina tersenyum lebar, tak bisa menutupi rasa senangnya. "Aku juga nggak nyangka bisa ketemu kamu. Sudah berapa lama, ya? Sejak kita lulus SMA?"
"Lebih dari sepuluh tahun, kayaknya," jawab Ivan sambil tersenyum. "Kamu masih sama, Lina."
"Kamu juga nggak banyak berubah, Ivan," kata Lina, merasa nostalgia mulai mengalir dalam percakapan mereka.
Mereka berdua saling menatap beberapa detik sebelum Ivan mengangkat gelasnya, menawari Lina untuk duduk bersamanya di salah satu meja di sudut kafe. Mereka memilih tempat yang lebih tenang, sedikit jauh dari keramaian. Di sana, mereka mulai mengobrol, memulainya dengan cerita-cerita lama.
"Jadi, kamu sudah menetap di kota ini?" tanya Lina sambil menyesap jusnya.
"Iya, aku balik ke sini beberapa tahun yang lalu setelah selesai kerja di luar negeri. Sekarang aku mulai usaha kecil-kecilan, nggak terlalu besar sih, tapi cukup buat hidup nyaman," jawab Ivan dengan nada santai.
Lina mengangguk, kagum dengan bagaimana Ivan bisa berkembang selama ini. "Wah, keren. Aku nggak tahu kamu bisa jadi pengusaha sekarang."
Ivan tersenyum lagi, tatapan matanya teduh seperti dulu. "Ya, hidup membawa kita ke tempat yang nggak pernah kita duga, kan? Kamu gimana? Gimana kehidupan kamu sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Lina terdiam sejenak. Ia tahu percakapan ini seharusnya ringan dan penuh nostalgia, namun begitu ditanya tentang hidupnya, terutama tentang pernikahannya dengan Ardi, ia merasakan kekosongan yang selama ini ia pendam. Tapi ia tak ingin membiarkan Ivan tahu seberapa besar keretakan yang terjadi dalam hidupnya.
"Ah, biasa aja. Aku bekerja di firma hukum, sudah bertahun-tahun di sana," jawab Lina, menghindari topik tentang pernikahannya.
Ivan menatap Lina dengan sorot mata penasaran, seolah bisa merasakan ada hal yang disembunyikan. Namun, ia tak mendesak. Sebaliknya, ia mengalihkan topik kembali ke masa lalu mereka. "Ingat waktu kita sering main di taman dekat rumahmu? Setiap sore kita balapan sepeda?"
Lina tertawa mendengar itu. "Tentu saja. Kamu selalu menang! Aku heran gimana caranya kamu bisa lebih cepat dari aku setiap kali."
"Rahasia kecil," Ivan terkekeh, matanya bersinar penuh keakraban. "Aku ingat kamu selalu marah tiap kalah."
Mereka tertawa bersama, merasakan kehangatan nostalgia yang kembali menyatukan mereka setelah bertahun-tahun. Percakapan mengalir begitu mudah, seolah-olah mereka tidak pernah terpisah lama. Setiap cerita lama yang mereka bagi membuat mereka semakin akrab, dan tanpa disadari, hubungan mereka mulai terasa lebih erat, lebih nyaman.
Namun, di balik tawa itu, perasaan yang Lina pikir sudah lama hilang perlahan-lahan bangkit kembali. Ia tak bisa mengabaikan bagaimana senyuman Ivan, caranya berbicara, atau tatapannya membuatnya merasa aman, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan bersama Ardi. Tapi perasaan itu bercampur dengan kebingungan dan rasa bersalah. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang istri-seorang istri yang sedang berjuang menyelamatkan pernikahannya.
Setelah beberapa jam berbincang, mereka akhirnya menyadari bahwa waktu telah larut. Lina menatap jam tangannya dan tersadar bahwa sudah terlalu lama ia berada di acara ini.
"Aku harus pulang," kata Lina sambil berdiri dari kursinya. "Aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi, Ivan."
Ivan ikut berdiri, tersenyum tipis. "Aku juga, Lin. Senang banget kita bisa ngobrol seperti ini lagi."
Mereka berdiri di depan pintu kafe, terdiam sejenak sebelum Ivan berbicara lagi. "Lina, kalau kamu ada waktu, aku pengen kita bisa ketemu lagi. Kita punya banyak hal yang belum sempat kita bicarakan."
Lina merasakan debaran di dadanya. Ia tahu perasaan itu, dan ia tahu ini bisa menjadi masalah. Namun, ia tak mampu berkata tidak. "Aku akan pikirkan, Ivan. Terima kasih untuk malam ini."
Ivan mengangguk, dan setelah berpamitan, mereka berpisah. Di sepanjang perjalanan pulang, Lina tak bisa menghilangkan senyum di wajahnya. Tapi di dalam hatinya, ada kekhawatiran yang mulai muncul. Ivan adalah masa lalunya, tetapi sekarang ia kembali hadir dalam hidupnya, membawa serta perasaan yang pernah ia kubur dalam-dalam.
Di rumah, Ardi masih terlelap, tak sadar bahwa hati istrinya mulai terombang-ambing di antara dua hati yang berbeda.
Lina melangkah menuju mobilnya, tetapi pikirannya masih tertinggal di kafe, bersama Ivan. Ia tak bisa menghilangkan perasaan hangat yang muncul saat berbicara dengannya, seolah-olah mereka kembali ke masa lalu, masa di mana segalanya lebih sederhana. Namun, setiap kilas senyuman Ivan menambah beban di dadanya, karena ia tahu ada sesuatu yang salah di balik keakraban mereka.
Di perjalanan pulang, Lina menatap jalan yang sepi. Lampu-lampu jalanan yang redup terasa seperti bayangan di hatinya. Sesuatu di dalam dirinya mulai berontak-perasaan bersalah yang semakin jelas. Ia sudah menikah dengan Ardi selama sepuluh tahun. Meskipun belakangan pernikahan mereka terasa hampa, ia tak pernah menyangka akan merasa begitu terikat kembali pada Ivan hanya dalam satu malam.
Setelah sampai di rumah, Lina mendapati suasana rumah yang sunyi. Ardi masih terlelap di kamar, tak menyadari bahwa Lina pulang lebih larut dari biasanya. Hatinya semakin bergejolak. Ada perasaan janggal yang mulai merayap; di satu sisi, ada Ivan, teman masa kecil yang mampu menghidupkan kembali perasaan yang sudah lama terlupakan, dan di sisi lain, ada Ardi, suaminya, yang meskipun sedang menjauh, tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dengan langkah hati-hati, Lina masuk ke kamar dan menatap Ardi yang masih tertidur pulas. Laki-laki yang pernah menjadi segalanya untuknya kini terasa seperti orang asing. Ia ingat malam-malam penuh cinta yang mereka lewati bersama, percakapan hangat, tawa, bahkan kebodohan-kebodohan kecil yang pernah mereka lakukan. Namun, semua itu kini terasa seperti kenangan yang semakin menjauh.
Lina duduk di tepi ranjang, memandangi Ardi dengan tatapan hampa. "Apa yang salah dengan kita?" bisiknya dalam hati.
Ia mengingat percakapannya dengan Ivan di kafe. Ivan tidak hanya hadir sebagai sosok masa lalu yang membawa kenangan indah, tetapi juga sebagai seseorang yang memberinya ruang untuk bercerita, sesuatu yang sudah lama tak ia dapatkan dari Ardi.
Saat Lina hendak bangkit menuju kamar mandi, tiba-tiba Ardi bergerak dan membuka matanya. "Kamu baru pulang?" tanyanya dengan suara serak, tampak mengantuk.
"Iya, tadi ada acara reuni kecil di kafe," jawab Lina datar.
Ardi mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya. Tanpa bertanya lebih jauh, tanpa mengajak berbicara, seolah-olah keberadaan Lina tak lagi berarti baginya.
Lina hanya menatap suaminya yang sudah kembali tertidur. Hatinya semakin perih. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi percakapan, hanya rutinitas kosong yang membuatnya merasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Setelah mandi, Lina kembali ke ranjang, berbaring di sebelah Ardi. Namun, matanya tak bisa terpejam. Bayangan Ivan terus muncul dalam benaknya, membayangi setiap kenangan yang pernah ia miliki dengan Ardi. Malam itu, Lina berbaring di antara dua perasaan yang saling bertentangan-di antara dua hati yang kini membingungkannya. Satu sisi adalah suaminya, lelaki yang sudah bertahun-tahun bersama, sementara sisi lainnya adalah Ivan, teman masa kecil yang perlahan-lahan menariknya ke masa lalu yang dulu terasa begitu manis.
Lina memejamkan mata, berharap tidur akan membawanya menjauh dari kebingungan yang menyelimuti hatinya. Namun, ia tahu bahwa perasaan itu tidak akan mudah hilang. Ivan telah kembali, dan kehadirannya membawa perubahan besar dalam hidupnya yang selama ini tampak tenang. Bagaimana ia bisa mengabaikan perasaan yang kini tumbuh di hatinya?
Malam itu, Lina menyadari bahwa pilihannya tidak lagi sesederhana memilih untuk bertahan atau melepaskan. Ada lebih banyak hal yang harus ia hadapi, dan setiap keputusan yang akan ia buat pasti membawa konsekuensi besar. Di antara dua hati ini, ia harus mencari jalan keluar, meski ia belum tahu ke mana langkah kakinya akan membawanya.
Hari-hari berikutnya, Lina berusaha menjalani hidupnya seperti biasa. Ia pergi bekerja, berusaha tersenyum kepada rekan-rekannya, dan pulang ke rumah seperti yang selalu ia lakukan. Namun, perasaan kosong itu terus menghantuinya.
Suatu siang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ivan muncul di layar.
Ivan: "Lina, gimana kabarmu? Pengen ngajak kamu ngopi lagi, kalau kamu punya waktu."
Lina menatap pesan itu cukup lama, jari-jarinya gemetar. Sebuah keinginan muncul di hatinya untuk membalas pesan itu, untuk menemui Ivan lagi. Namun, di sisi lain, rasa bersalah mulai menekan.
Hatinya berbisik-apa yang akan terjadi jika ia terus bertemu Ivan?
Bersambung...
Setelah pesan dari Ivan masuk ke ponselnya, Lina merasa terguncang. Di tengah-tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, pikirannya terus melayang kembali pada masa lalu. Siang itu, di ruang kerjanya yang sepi, Lina duduk diam, memandangi layar ponsel sambil menelusuri pesan Ivan yang sederhana namun mengundang begitu banyak kenangan.
Kenapa Ivan sekarang? batinnya bertanya. Kenapa setelah sekian lama, pria yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya muncul kembali, tepat saat pernikahannya mulai merenggang? Rasanya terlalu kebetulan.
Lina menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya tenggelam ke masa lalu-ke masa ketika semuanya terasa jauh lebih sederhana.
Lina dan Ivan tumbuh bersama di lingkungan yang sama. Mereka adalah tetangga sekaligus sahabat karib sejak kecil. Setiap sore, mereka selalu bermain bersama di taman dekat rumahnya. Taman kecil yang penuh dengan pohon rindang dan ayunan itu menjadi saksi bisu banyak kenangan mereka-tawa, canda, dan percakapan tanpa beban.
Salah satu kenangan yang paling jelas di benak Lina adalah ketika mereka berdua bersandar di batang pohon besar di sudut taman, menatap langit yang mulai berwarna jingga di saat senja.
"Kamu tahu, Lin?" kata Ivan suatu sore, dengan senyum hangat khasnya. "Aku mau jadi petualang. Aku mau keliling dunia. Gimana menurutmu?"
Lina tertawa kecil. "Petualang? Kamu mau pergi jauh? Nanti siapa yang akan nemenin aku kalau kamu nggak ada?"
Ivan menatapnya, lalu dengan penuh keyakinan berkata, "Kalau nanti aku pergi, aku pasti bakal balik. Lagipula, kalau aku keliling dunia, aku bisa ngajak kamu suatu saat nanti, kan?"
Mendengar itu, Lina hanya tersenyum, meski ada perasaan aneh di dadanya. Sejak dulu, Ivan adalah seseorang yang ia andalkan. Ia tidak pernah membayangkan hidup tanpa sahabatnya itu.
Saat mereka tumbuh remaja, perasaan di antara mereka mulai berubah, meski tidak pernah ada kata-kata yang secara eksplisit diucapkan. Ketika SMA, Ivan mulai dikenal sebagai sosok yang populer di kalangan teman-teman mereka-tampan, cerdas, dan selalu penuh semangat. Sementara Lina, meski tak terlalu menonjol, selalu menjadi orang yang Ivan ajak bicara setiap kali ada masalah.
Pada suatu malam menjelang kelulusan, saat mereka sedang berjalan-jalan di pinggir kota yang ramai, Lina ingat betul percakapan mereka. Mereka duduk di kursi panjang dekat sungai, menikmati angin malam yang sejuk.
"Kamu pernah mikirin masa depan, Lin?" tanya Ivan tiba-tiba.
"Maksudmu?" Lina menoleh, menatapnya bingung.
"Ya, tentang kita. Tentang apa yang bakal terjadi setelah kita lulus nanti. Kamu bakal ke mana? Aku mungkin akan pergi ke luar negeri untuk kuliah."
Lina merasakan hatinya berdesir mendengar kata-kata itu. Selama ini, mereka selalu bersama, dan pikiran bahwa Ivan akan pergi membuatnya merasa hampa. "Aku... nggak tahu, Ivan. Aku mungkin tetap di sini, masuk kuliah di kota ini."
Ivan terdiam sesaat, lalu menatap Lina dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lin, apa kamu pernah berpikir... kalau mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman di antara kita?"
Pertanyaan itu membuat Lina tertegun. Ia tak pernah menyangka Ivan akan mengatakannya. Meski selama ini perasaannya terhadap Ivan tak pernah diucapkan, ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih di hatinya. Tapi pada saat itu, Lina merasa belum siap. Ia takut kehilangan persahabatan mereka, takut jika semuanya akan berubah menjadi rumit.
"Aku... nggak tahu, Ivan. Mungkin," jawab Lina pelan, menghindari kontak mata.
Ivan hanya tersenyum tipis, mengangguk seolah memahami. Mereka tidak pernah melanjutkan percakapan itu, dan waktu berlalu begitu saja. Setelah lulus, Ivan benar-benar pergi ke luar negeri, dan mereka perlahan kehilangan kontak. Lina pun melanjutkan hidupnya, fokus pada kuliah dan kemudian bertemu dengan Ardi.
Namun, sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, Lina mulai bertanya-tanya. Bagaimana jika saat itu ia menjawab berbeda? Bagaimana jika ia berani mengakui perasaannya kepada Ivan? Apakah hidupnya akan berbeda?
Lina memegang ponselnya erat-erat, berusaha menenangkan hatinya. Kehadiran Ivan kembali dalam hidupnya telah mengguncang keseimbangan yang selama ini ia coba pertahankan. Ardi, yang dulu adalah sosok yang membuatnya jatuh cinta, kini terasa jauh. Mereka sudah lama tak berbicara dari hati ke hati, dan Lina semakin merasa terjebak dalam rutinitas tanpa cinta.
Bagaimana jika ia memilih Ivan dulu? Pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Lina menyandarkan ponselnya di atas meja, matanya masih tertuju pada pesan Ivan. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena memikirkan pria lain di luar suaminya. Namun, di sisi lain, Ivan adalah bagian dari masa lalunya-sebuah bagian yang tak pernah ia selesaikan.
"Apa yang sebenarnya aku inginkan?" tanya Lina dalam hati.
Ia tahu, memilih untuk kembali berhubungan dengan Ivan bisa menjadi langkah yang berbahaya. Namun, perasaan yang muncul setiap kali memikirkan Ivan begitu kuat, seperti panggilan dari masa lalu yang tidak bisa ia abaikan.
Lina meraih ponselnya dan menulis balasan singkat.
Lina: "Aku baik, Ivan. Aku juga senang bisa ngobrol lagi. Mungkin kita bisa ketemu lagi minggu depan?"
Setelah mengirim pesan itu, Lina merasa dadanya berdebar. Ia tahu bahwa pertemuan berikutnya dengan Ivan mungkin akan membuka lebih banyak kenangan, dan ia harus siap menghadapi segala konsekuensinya.
Malam itu, setelah Lina mengirim pesan kepada Ivan, ia merasa resah. Tiba-tiba segalanya terasa lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Pikirannya terus berputar, antara kenangan masa lalu dan realita yang ia hadapi sekarang. Ada sesuatu tentang Ivan yang menariknya kembali ke masa lalu, sebuah masa di mana perasaannya begitu tulus dan murni. Namun, ada juga Ardi-suaminya-yang meski terasa semakin jauh, tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.
Sepanjang malam, Lina berguling-guling di ranjang, tidak bisa tidur. Ia tahu, pesan yang ia kirimkan tadi hanyalah permulaan dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang ia takuti sekaligus ia rindukan. Ada hasrat yang berdesir di hatinya, dan itu membuatnya semakin bingung.
Pagi harinya, saat Lina duduk di meja makan bersama Ardi, ia tak bisa menghindari perasaan bersalah yang membebani dirinya. Ardi duduk di seberangnya, tenggelam dalam ponselnya seperti biasa, tanpa ada percakapan di antara mereka. Mereka telah terbiasa dengan keheningan seperti ini-sesuatu yang dulu terasa nyaman, kini menjadi tanda dinginnya hubungan mereka.
Lina mencoba memulai percakapan. "Hari ini kamu ada rencana apa, Di?"
Ardi menatap ponselnya sesaat sebelum menjawab, "Kerja, seperti biasa. Ada meeting penting sore nanti, jadi mungkin aku pulang agak larut."
"Ah, baik," jawab Lina singkat, menatap kopinya yang sudah mulai mendingin. Ia menunggu Ardi menanyakan rencananya, atau mungkin menanyakan kabarnya, tetapi tak ada pertanyaan yang muncul.
"Dan kamu?" tanya Ardi, akhirnya meletakkan ponselnya dan menatapnya dengan pandangan datar.
Lina terkejut sejenak karena Ardi akhirnya bertanya, meski nadanya tak begitu antusias. "Aku ada beberapa pekerjaan di kantor, dan mungkin mau ketemu teman setelahnya," jawab Lina pelan, sambil menahan kegelisahannya.
Ardi hanya mengangguk, tidak banyak bereaksi. "Oke, jangan pulang terlalu malam."
Setelah itu, suasana kembali hening. Ardi kembali fokus pada ponselnya, dan Lina hanya bisa termenung. **Inikah yang disebut pernikahan?** batinnya bertanya, merasa semakin terasing dari pria yang duduk di hadapannya.
Saat Lina pergi bekerja, pikirannya terus melayang ke Ivan. Sejak pertemuan mereka di reuni, perasaan yang selama ini terkubur kembali muncul ke permukaan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Ivan di masa lalu terasa begitu jelas dalam ingatannya, seperti film yang diputar ulang.
Lina ingat saat pertama kali Ivan mengajaknya bersepeda di sore hari. Waktu itu, mereka baru berusia sepuluh tahun, dan Ivan baru saja mendapatkan sepeda baru dari orang tuanya. "Ayo, aku ajak kamu ke bukit di belakang rumah!" seru Ivan penuh semangat.
Bukit itu adalah tempat favorit mereka berdua. Di puncaknya, mereka bisa melihat seluruh kota kecil tempat mereka tinggal. Lina masih bisa merasakan angin lembut yang meniup rambutnya, tawa Ivan yang selalu membuatnya merasa nyaman, dan sinar matahari sore yang menghangatkan kulit mereka.
"Saat besar nanti, aku bakal ngajak kamu keliling dunia, Lin," kata Ivan dengan nada penuh keyakinan.
Lina hanya tertawa kecil saat itu. "Ya, aku pegang janjimu."
Namun janji itu tidak pernah terwujud. Setelah lulus SMA, hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Ivan pergi melanjutkan studi di luar negeri, sementara Lina memilih kuliah di kota yang sama dengan keluarganya. Mereka kehilangan kontak, dan kenangan itu perlahan memudar, tertutupi oleh realitas kehidupan dewasa.
Kini, Ivan kembali dalam hidupnya, dan Lina mulai bertanya-tanya apakah takdir sedang mempermainkannya. Bagaimana jika ia memilih Ivan dulu? Apakah hidupnya akan lebih bahagia, lebih penuh gairah daripada sekarang?
Ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk. Lina membuka pesan itu, melihat nama Ivan muncul di layar.
Ivan: "Minggu depan cocok buat aku. Aku akan cari waktu yang tepat. Ngobrol sama kamu kemarin bikin aku banyak ingat masa lalu. Ada hal-hal yang dulu kita nggak pernah bicarain, kan?"
Mata Lina tertuju pada kalimat terakhir. Ada hal-hal yang dulu kita nggak pernah bicarain. Seolah-olah Ivan sedang membuka pintu ke perasaan yang selama ini mereka sembunyikan.
Lina menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan ia menyadari bahwa dirinya kini berada di persimpangan besar dalam hidupnya. Apakah ia akan membuka pintu itu dan membiarkan kenangan masa lalu kembali membanjiri hidupnya? Ataukah ia akan menutup pintu itu rapat-rapat, demi menjaga pernikahan yang perlahan hampa?
Namun, sebelum ia sempat menjawab pesan itu, suara panggilan telepon dari suaminya, Ardi, mengalihkan perhatiannya.
"Lin, malam ini aku mungkin nggak bisa pulang cepat. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Lina menahan napas, suara Ardi yang datar dan formal seperti telepon bisnis semakin membuatnya sadar betapa jauhnya hubungan mereka kini.
"Iya, nggak apa-apa," jawabnya, meski dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah Ardi benar-benar peduli pada jawabannya.
Setelah menutup telepon, Lina menatap layar ponselnya lagi, melihat pesan Ivan yang masih menunggu balasan. Tangannya gemetar, namun hatinya sudah hampir memutuskan.
Dengan perasaan campur aduk, Lina mengetik balasan.
Lina: "Kita memang punya banyak hal yang belum selesai, Ivan. Mungkin kita harus bicara soal itu. Aku akan menunggu kabar dari kamu."
Setelah pesan itu terkirim, Lina menyadari bahwa perasaan yang ia simpan selama bertahun-tahun terhadap Ivan tidak lagi bisa ia abaikan. Masa lalu mereka tidak hanya sekadar kenangan indah, tetapi juga sesuatu yang mungkin bisa mengubah masa depannya.
Bersambung...