Bab 2

Aku berada di kamar ku, aku menyimpan buku novelku yang baru saja ku baca di nakas. Suara jangkrik seakan ingin mengantarkanku untuk tidur. Namun baru saja aku menarik selimut, pintu kamarku tiba-tiba diketuk.

Tok tok tok.

“Mir..!” terdengar suara Bapak memanggil.

“Iya, Pak?” sahutku lalu membuka pintu.

“Mir, itu ada Om Ridwan di depan,” ucap Bapak bersemangat.

“Om Ridwan, datang ke sini Pak?” tanyaku mengeryit.

“Iya. Itu Om Ridwan bawa laki-laki yang mau dikenalin ke kamu. Sekarang orangnya ada di depan, kamu samperin sana,” perintah Bapak.

“Hah? Tapi ini kan udah malem Pak, ini udah jam berapa,” seruku.

“Udah, kamu jangan kebanyakan alesan, pokoknya kamu siap-siap, samperin ke depan. Orangnya udah datang kesini, masa mau dianggurin,” decak Bapak kesal

Aku menghela nafasku dulu, entah apa yang aku rasakan, hatiku merasa tak enak. Aku sama sekali tidak pernah menyukai situasi seperti ini. Aku lalu terpaksa bersiap, memakai kerudung lalu menemui pemuda itu.

“Om,” ucapku lalu menyelami tangan adik dari Bapak itu.

“Mir,”

Aku lalu tersenyum kecil pada pemuda yang dibawa oleh Om Ridwan.

“Mir, kenalin, ini namanya Aris. Aris, ini Mira, keponakan Om. Kalian ngobrol aja yah, Om mau ngobrol sama Bapak soalnya,” tutur Om Ridwan.

Bapak dan Om Ridwan lalu meninggalkanku dengan pemuda itu. Pemuda yang menurutku lumayan sedikit gemuk dengan tinggi badan sekitar 165 cm lalu berat badan sekitar 85 kg. Memakai kaos berwarna putih, terlihat ketat dan sempit dibagian lengan dan perutnya, serta terlihat seperti kaos dalam. Perutnya yang terlihat buncit menonjol, dan memakai celana jeans model pensil yang juga ketat ke bawah serta wajahnya yang tampak berkeringat.

“Silahkan, duduk Mas,” ucapku.

Aku dan pemuda itu duduk di teras depan rumah.

"Mira yah, namanya?" tanyanya.

"Iya,” jawabku.

"Oh iya, manggilnya jangan pake Mas dong. Kalo langsung nama aja gimana? Biar lebih akrab," ujarnya.

Aku menghela nafasku pelan.

"Maaf Mas, saya ga terbiasa manggil orang dengan sebutan nama langsung," balasku.

"Oh gitu, ya udah lah," ucapnya seakan setuju.

"Oh iya, Masnya mau minum apa?" tanyaku.

“Emm, ga usah repot-repot,” jawabnya sungkan.

"Ga apa-apa. Mau kopi, teh?" tanyaku lagi. Meskipun aku tidak menyukai kedatangannya, tapi ia tetaplah tamu di rumahku. Sudah sewajarnya aku menawarkan hidangan meskipun hanya berupa minuman.

“Kopi boleh deh,” sahutnya.

"Sebentar,”

Aku pergi ke dapur untuk membuatkan kopi, setelah itu membawakannya untuk pemuda itu.

"Ini kopinya, silahkan,” aku meletakkan secangkir kopi di atas meja yang menjadi jarak antaraku dan dia.

"Makasih yah," ucapnya lalu langsung menengguknya.

“Masnya kenal di mana sama Om Ridwan?” tanyaku membuka topik.

Aku memang pendiam, tak banyak yang aku lakukan selain bekerja dan bersih-bersih rumah. Tapi aku cukup tau bagaimana menghargai orang yang tengah mengobrol denganku.

"Oh itu. Kebetulan Om aku itu temennya Om Ridwan. Waktu itu aku nganterin Om aku ke rumah Om Ridwan, terus ketemulah sama Om Ridwan, ya kita jadi ngobrol-ngobrol gitu. Terus Om Ridwan bilang katanya ada keponakan dia yang lagi nyari calon suami," jawab Aris.

Aku langsung mengeryit.

"Om Ridwan bilang gitu?" tanyaku sedikit terkejut. Karena aku merasa tidak pernah meminta bantuan Om Ridwan untuk mencarikanku jodoh. Mungkin ini permintaan Bapak, karena Bapak kerap kali bercerita pada adiknya itu.

"Iya, ternyata orang itu kamu? Jadi kamu belum punya pacar? Terus sekarang kamu mau nyari calon suami?" tanyanya. Sontak membuatku langsung menoleh padanya.

Aku hanya bisa diam, berpikir seraya sesekali menghela napas.

"Jadi bener kamu belum punya pacar? Tapi kalo pacaran, kamu pasti udah pernah kan?" lontar Aris.

"Apa?" tanyaku heran. Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaannya.

"Iya, kamu udah pernah pacaran kan?" Aris seakan memperjelas pertanyaannya.

"Memangnya kenapa?" sungutku.

"Ya ga apa apa. Soalnya yang aku liat, kamu keliatan kaku banget, terlalu formal, padahal lagi ngobrol sama cowok," tuturnya.

Aku mengernyitkan dahiku dulu, mencoba mencerna ucapan Aris.

"Udah, kita ngobrolnya santai aja. Di sini udaranya enak yah ternyata, aku jadi lebih seger ga kepanasan lagi," ujarnya seraya menatap ke atas.

"Kepanasan kenapa?"

"Iya, tadi itu pas pulang kerja tiba-tiba motor aku mogok di jalan, jadi terpaksa aku dorong. Untungnya di depan jalan sana ada bengkel, jadi tadi aku ke sini jalan kaki, soalnya kan motornya di bengkel. Ya, sekalian nyari angin, lumayan capek juga ngedorong motor, sampe keringatan," tuturnya sambil menyeka keringat di lehernya.

"Jadi Mas Aris ini, habis pulang kerja langsung ke sini?" tanyaku.

"Iya, tadi itu aku kebagian shift siang jadi pulangnya malem. Ya daripada bolak balik ke kontrakan, takut kemalaman juga kan, mending langsung aja pulang kerja ke sini. Lagian kata Om Ridwan, kamu udah nungguin aku,” jawabnya.

“Apa?” tanyaku terkejut.

Sementara Aris dengan santai menghirup kopinya lagi. Aku membuang wajahku seraya menghela nafas.

"Terus motornya kenapa bisa mogok?" sungutku lagi.

"Ga tau, kayaknya harus ganti aki. Tapi ganti aki itu kan lumayan mahal yah, aku juga belum gajian. Lagian aku sih maunya ganti motor bukan ganti aki, tapi ganti motor juga lebih mahal lagi," jawabnya mengeluh.

Aris lalu mengambil sesuatu di saku celananya, dan ternyata itu adalah sebungkus rokok. Aris menyalakan korek dan membakar ujung rokok itu, dan dengan santainya ia merokok di depan ku. Sungguh pemandangan yang sangat aku benci.

"Kamu katanya kerja di kantoran yah?" tanyanya seraya meniup asap rokok dari dalam mulutnya.

“Iya,”

"Udah lama?"

“3 tahun,"

Aku menjawab dengan ketus dan singkat seraya menahan nafas karena asap rokok Aris yang menyebar.

"Uhuk.. Uhuk… uhuk!” aku batuk karena menghirup asap rokok.

Namun Aris masih saja asyik merokok tanpa memperdulikan aku yang tengah batuk karena asap rokoknya.

"Lumayan udah lama juga yah. Umur kamu sekarang berapa? Kalo aku 27 tahun," tanyanya lagi, seakan tidak terbesit rasa bersalah sedikit pun.

"26 tahun," jawabku singkat seraya memalingkan wajahku.

"Wah lumayan udah dewasa yah, untuk ukuran cewek," ujarnya.

"Maksudnya?" tanyaku mengeryit.

"Ya, udah sepantasnya menikah. Kan katanya idealnya cewek itu paling lambat nikah di umur 25 tahun. Kamu kan sekarang udah 26 tahun, ya berarti udah termasuk telat nikah itungannya" jawabnya.

Aku sedikit tercengang, dan semakin tidak nyaman mengobrol dengan laki-laki ini. Aku pun menghela nafasku lagi dan menelan salivaku.

"Menurut saya, masalah jodoh itu tidak ditentukan sama umur. Di luar sana juga ga sedikit perempuan yang nikah di umur 30 tahun, dan mereka bahagia," ujarku.

"Itu kan keliatannya aja. Aslinya kita mana tau. Lagian kalo menurut aku sih, ga pantes lah cewek nikah di umur yang udah lewat seperempat abad. Apalagi di umur 30 tahun, itu sih jatohnya udah kadaluarsa," sahutnya dan membuatku terkejut.

"Kadaluarsa? Emangnya makanan?" sungutku dengan sedikit emosi.

"Ya kayak makanan aja, kalo kelamaan kan jadi kadaluarsa," sahut Aris dengan enteng.

Aku tercengang dan sedikit menggeleng. Sungguh, aku tidak mengerti lagi dengan pemuda sedang duduk bersamaku ini

"Memangnya kamu mau, nikah di umur 30 tahun? Aku sih ogah yah, nikah sama cewek umur 30 tahun. Kamu tuh seharusnya bersyukur, sekarang umur kamu masih 26 tahun, jadi belum terlambat. Ya jangan sampe lah nanti kamu nikah di umur 30 tahun," sambungnya.

Aku lagi-lagi tercengang dengan ucapan Aris. Entah apa yang ada dipikiran dia, aku sudah muak dan ingin masuk saja ke dalam kamar dan menyudahi pembicaraanku bersama dia.

"Emangnya kenapa kalo perempuan nikah di umur 30 tahun? Ada yang salah? Kan ga dosa juga, lagian menikah itu tujuannya untuk ibadah, kalo jodohnya dateng di umur segitu, ya mau bagaimana lagi," sungutku dengan nada yang masih sedikit meninggi.

Aku benar-benar tidak terima dengan ucapannya.

"Nah itu, karena menikah itu adalah ibadah, kan mending lebih cepat. Makanya kalo jadi cewek itu jangan terlalu pemilih, itu rata-rata yang telat nikah itu sampe umur 30 tahun, biasanya ceweknya pemilih. Pengen yang kayak gini lah, kayak gitu lah. Padahal cewek itu ada masanya, beda kalo sama cowok, kalo cowok nikah umur 30, 40 tahun ya ga ada masalah," cibirnya.

"Memangnya kenapa? Menurut saya sah-sah saja, jika perempuan mau menikah di umur berapapun, itu hak mereka. Lagipula jodoh itu Allah yang menentukan kapan waktunya datang,” geramku.

Aku tidak tau lagi harus bersikap seperti apa pada pemuda ini. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, rasanya selalu mengundang emosiku.

"Tapi kan cewek itu ada masanya, kalo cewek nikah umur 30 tahun itu, kata orang rasanya udah ga enak. Kamu tau, di tempat kerja aku itu cewek-ceweknya pilih-pilih semua, pengen yang kayak gini lah, yang ganteng lah, yang kaya lah. Dia sendiri ga nyadar kalo umurnya udah mau 30 tahun, mukanya juga biasa aja. Lagian cowok juga mikir-mikir kalo nikah sama cewek yang udah umur segitu, karena cowok kan pasti maunya nikah sama cewek yang masih muda, masih seger. Makanya kamu jangan pemilih, nanti susah dapet jodohnya, ujung-ujungnya malah nikah tua. Apalagi kamu ini jarang banget kan ngobrol sama cowok? Gimana kalo pacaran, kamu tuh seharusnya bersyukur kalo ada cowok yang mau deket sama kamu. Terus yang aku denger juga adik kamu malah udah tunangan kan? Jangan sampe kamu dilangkahin, nanti makin jauh jodohnya. Emangnya kamu mau nikah di umur 40 tahun? Atau sampe ga nikah-nikah karena ga ada yang deketin kamu?" cibirnya lagi.

Sungguh aku sudah kehabisan kata-kata, aku bukannya hanya tercengang mendengarnya, rasanya emosiku sudah memuncak diujung kepalaku. Namun rasanya percuma saja, bicara dengan orang yang sukanya merendahkan orang lain.

"Maaf Mas, ini sudah malam. Saya juga sudah mengantuk, besok saya harus bangun pagi,” ujarku langsung berdiri.

Aku memang terbiasa bangun pagi, meskipun itu hari libur.

“Oh sama, aku juga. Kebetulan besok aku juga masuk kerja, terus masuk shift pagi lagi,” balasnya.

Aku hanya bisa menghela napas seraya memejamkan mata. Entah dia tidak mengerti maksudku atau sedang berpura-pura tidak mengerti.

“Ya sudah, kalo gitu saya masuk dulu yah. Saya mau istirahat,” sahutku hampir melangkah.

“Eh tunggu. Aku boleh minta nomor Hp kamu? Ya supaya kita bisa chattingan, biar bisa lebih deket lagi kan?” lontarnya.

Entah harus bagaimana lagi, apa pemuda yang ada di depanku ini sengaja mau memancing emosiku.

“Maaf Mas, Hp saya mati, saya lupa ngecharger. Saya juga baru ganti nomor, dan saya belum hafal nomor saya,” jawabku dengan cepat dan padat. Aku terpaksa berbohong demi tidak ingin bertemu dia lagi.

“Yaudah lah, nanti paling aku minta nomor kamu ke Om Ridwan,” ucapnya.

Aku sedikit mengeryit.

“Ya udah aku pulang yah, salamin aja sama bilangin ke Bapak terus Om Ridwan juga, bilang kalo aku udah pulang. Aku harus ngambil motor aku juga di bengkel,” tutur Aris lalu pergi.

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Pemuda itu bahkan sama sekali tidak ingin bertemu Bapak untuk sekedar berpamitan apalagi pada Om Ridwan yang telah mengantarkannya, dia lebih memilih menitipkan pesan padaku.

Aku masuk ke dalam rumah dan ingin kembali ke kamar ku. Namun tiba-tiba langkahku terhenti ketika akan membuka pintu.

“Mir,” panggil Bapak yang tengah duduk bersama Om Ridwan di ruang tengah.

Bapak dan Om Ridwan lalu menghampiriku.

“Loh, kok kamu masuk? Aris mana?” tanya Bapak seraya melihat ke arah luar.

“Udah pulang, Pak,” jawabku.

“Pulang? Kok ga pamitan dulu Mir?” tanya Om Ridwan yang terlihat sedikit heran.

“Katanya dia harus buru-buru ngambil motornya di bengkel,” jawabku.

Tidak bisa kupungkuri, aku menyimpan kekesalan juga pada Om Ridwan karena sudah membawa pemuda itu. Sungguh, energiku sepertinya sudah habis terkuras mengobrol dengan laki-laki yang katanya ingin dikenalkan denganku.

“Oh iya, motornya kan masih di bengkel,” sahut Om Ridwan.

“Ya udah, Mira mau tidur yah, Pak, Om,” ucapku dan langsung melengos masuk ke kamar. Di dalam kamarku, aku menarik napasku dalam-dalam, rasanya tubuhku lelah sekali.

Bab 3

Tok, tok, tok.

“Mir,”

Baru saja akan merebahkan tubuhku, Bapak sudah memanggilku lagi.

“Iya Pak?”

“Mir, kenapa si Aris pulang? Terus ga pamitan lagi?” Kamu usir dia yah?” tanya Bapak dengan raut wajahnya yang nampak emosi.

“Ya ampun Pak, usir gimana sih? Bapak kan tau, Aris itu mau ke bengkel buat ngambil motornya. Lagian ini kan udah malem juga Pak, Mira juga udah ngantuk,” sahutku.

“Kamu tuh yah kebiasaan. Selalu aja kayak gini tiap kali dikenalin sama orang, lagian malem-malem juga kan ketemunya di rumah Mir, bukan di luar. Udah bagus si Aris itu mau datang ke rumah, dia bela-belain pulang kerja langsung ke sini, kamu malah kayak gini sikapnya,” decak Bapak.

“Tapi kan aku ga pernah nyuruh si Aris itu buat dateng ke sini Pak, apalagi malam-malam kayak gini. Lagian udah tau malam, kenapa ga besok lagi aja, kita kan juga butuh istirahat, Pak,” sahutku lagi.

“Kamu ini yah, selalu aja alesannya kayak gini. Kamu sadar Mir, umur kamu udah berapa sekarang, apa kamu ga mau menikah? Adik kamu aja si Rena itu udah tunangan, kamu masih aja pilih-pilih kayak gini. Kamu mau jadi perawan tua?” seru Bapak. Aku hanya terdiam seraya tetap menahan emosiku agar tidak keluar, ditambah lagi tubuhku rasanya sudah sangat lelah.

Entah berapa banyak lagi kesabaran yang harus aku siapkan.

“Pak, ini kan udah malem, mending Bapak istirahat. Nanti aja besok kita obrolin lagi yah. Mira capek Pak, Mira mau istirahat,” usulku pada Bapak dengan lembut.

Bapak terlihat mengendus kesal padaku. Namun akhirnya Bapak pun mau pergi dari depan kamarku dan masuk ke kamarnya.

Akhirnya aku masuk lagi ke kamar ku, kamar yang menjadi saksi bisu setiap keluh kesah serta kesedihanku. Esok-esok entah apa lagi yang akan menjadi beban dipikiranku.

***

Keesokan harinya.

Seperti biasanya aku bangun pagi untuk membersihkan rumah serta membuat sarapan. Karena tanggal merah aku cukup santai mengerjakannya. Setelah semua pekerjaan rumah selesai aku masuk ke kamar untuk beristirahat.

Tok, tok, tok.

"Mbak," terdengar suara Rena memanggil.

“Iya Ren, kenapa?” sahutku.

"Mbak, aku pinjem kerudung Mbak lagi dong. Itu loh yang warna kuning motif bunga," ujar Rena.

Rena memang sering sekali meminjam barang-barangku. Hampir semua barang yang aku punya dipakainya juga.

"Kamu kok tumben jam segini belum berangkat?"

"Aku kan libur, bos aku mau ngerayain imlek jadi ditutup dulu tokonya,"

"Terus kamu mau ke mana minjem kerudung?"

"Mau jalan sama Rendi, mumpung lagi libur, Rendi juga kan libur. Ya kita keluar aja sambil maen juga,” Rena memang gadis ceria, dia memang sudah mempunyai kekasih bernama Rendi, mereka berpacaran semejak masih duduk di bangku SMA.

Aku sedikit mengangguk.

“Yaudah, kamu ambil sendiri gih kerudungnya,” ucapku

Rena langsung masuk dan mencari kerudung yang ia inginkan.

“Makanya Mbak, Mbak buruan punya pacar biar ada yang ngajakin jalan juga, biar ga di rumah terus,” sindir Rena sambil memilih kerudung.

“Kalo Mbak sih ga mau Ren, punya pacar cuma buat jalan-jalan doang. Ga punya pacar juga bisa kok, jalan-jalan sendiri, sama temen juga bisa. Lagian Mbak nyarinya suami, bukan pacar,” balasku seraya merebahkan tubuh.

“Tapi kan beda Mbak rasanya, jalan sama pacar sama jalan sama temen. Oh iya Mbak, ini baju apa? Kok aku baru liat? Bagus banget, aku pinjem yah Mbak,” ujar Rena melihat bajuku yang ia ambil di lemari.

“Ya ampun, ini kan baju yang Mbak beli minggu lalu. Mbak sampe lupa sama bajunya,” jelasku seraya mengambil baju di tangan Rena.

“Yaudah, aku pinjem yah bajunya Mbak,” sahut Rena.

“Itu baju baru Ren, Mbak baru beli minggu lalu. Mbak aja belum pernah pake loh,” balasku.

“Yaelah Mbak, emang kenapa sih? Aku kan adik Mbak, ya ga apa-apa dong kalo aku pake, aku pinjem yah?” rengek Rena.

Aku sedikit menghela napas.

“Ren, masa Mbak yang beli kamu yang pake. Lagian kamu kan juga banyak bajunya, kamu kan sering belanja,”

“Ya ampun Mbak, Mbak tuh pelit banget sih sama adik sendiri. Orang cuma baju doang juga, nanti juga aku balikin,” proses Rena.

“Bukan gitu Ren, baju kamu kan banyak di lemari. Sayang kalo cuma dipake sekali dua kali aja. Lagian Mbak tuh kadang suka bingung, sama kamu, Mbak Rita, Mbak Ratih, kalo ke kamar Mbak tuh, ada aja yang dipinjem barang Mbak, hampir semua barang-barang Mbak pada dipinjem,” keluhku.

“Mbak tuh kenapa sih? Yaudah, tuh, kalo Mbak ga mau minjemin. Ga jadi,” sungut Rena lalu melemparkan baju itu ke kasur lalu keluar dari kamarku.

“Ren, bukan gitu,” sahutku.

Aku mengambil baju itu, dan aku susul Rena ke kamarnya.

“Ren, kamu jangan marah kayak gini dong. Ya udah nih, bajunya boleh kamu pake,” ucapku sambil meletakan baju itu di kasur Rena.

“Lagian Mbak sih, pake ngomong segala macem, aku jadi males,” gerutu Rena cemberut.

“Jujur ya Ren, Mbak tuh kadang suka pusing karena barang-barang Mbak suka pada dipinjem. Giliran Mbak mau pake ga ada, jadi Mbak tuh kadang kesel,” keluhku.

“Lagian salah Mbak sendiri, main dikasih-kasih aja kalo Mbak Rita sama Mbak Ratih minjem barang. Kalo aku sih males minjemin mereka, apalagi ke Mbak Rita, kalo minjem suka maksa, seenaknya,” decit Rena.

Aku mengendus pelan.

“Yaudah, nih bajunya kamu pake aja yah,” bujukku.

“Oh iya Mbak, ini baju kotor aku, Mbak cuciin yah,” ucap Rena sambil memberikan pakaian kotornya kepadaku.

“Kamu nyuruh Mbak, Ren?” sahutku.

“Ya kan Mbak yang sering nyuci,” balas Rena seenaknya.

“Ren, bukan berarti Mbak yang sering nyuci, terus kamu jadi seenaknya nyuruh-nyuruh Mbak kayak gini. Lagian kan kamu bisa simpan sendiri di tempat cucian kotor, ga perlu nyuruh Mbak kayak gini,” sungutku.

"Mbak apaan sih, lebay banget. Cuma kayak gini doang juga, ga usah baper deh. Orang nyucinya juga di mesin cuci kan,” balas Rena.

"Ren, kamu itu harus belajar mandiri. Kamu harus bisa nyuci baju kamu sendiri, apa-apa sendiri, nanti kalo kamu udah nikah sama Rendi kamu ga kaget lagi," saranku

"Apaan sih Mbak nikah-nikah. Mbak aja belum nikah, asal Mbak tau yah, aku belum nikah juga gara-gara Mbak," cibir Rena.

"Kenapa jadi nyalahin Mbak?”

"Ya karena Bapak maunya Mbak duluan yang nikah, baru aku. Tapi kan Mbak aja belum punya pacar, makanya Mbak jadi cewek tuh jangan pemilih. Emang Mbak mau jadi perawan tua?" seru Rena.

Ya Allah, meskipun aku tau bagaimana sifat Rena tapi tetap saja ucapannya menyakiti hatiku. Apa aku segitu hinanya hanya karena tidak mempunyai pacar?.

"Ren, Mbak ga pernah yah ngelarang kamu sama Rendi buat nikah. Kalo kamu merasa udah siap dan ingin segera menikah sama Rendi, silahkan kamu menikah. Mbak rela kalo memang harus kalian duluan yang menikah," decakku.

"Mbak yakin Mbak rela? Mbak ikhlas gitu kalo aku yang nikah duluan? Mbak ga takut sama omongan orang-orang kalo Mbak dilangkahin sama aku?" seru Rena.

"Mbak ga perlu takut Ren, karena Mbak juga ga perduli sama omongan orang-orang. Lagian menikah itu ibadah, memang ada baiknya buat disegerakan, daripada terus-terusan pacaran," balasku.

"Itu Mbak tau kalo menikah itu ibadah, kenapa Mbak aja yang menikah duluan? Lagian asal Mbak tau lagi yah, Rendi itu ga akan mau ngelangkahin Mbak, soalnya katanya takut rezekinya seret, terus rezekinya malah ketarik sama Mbak, karena dilangkahin,"

Aku mengeryitkan dahiku.

“Maksud kamu apa sih, Ren? Setau Mbak, rezeki setelah menikah itu malah semakin deras, semakin lancar,”

"Masa Mbak ga ngerti juga sih. Keluarganya si Rendi itu percaya kalo kita itu ga boleh sampe ngelangkahin kakak. Kalo sampe ngelangkahin nanti rezekinya jadi seret. Jadi aku ga nikah-nikah juga gara-gara Mbak," decak Rena.

Aku hanya bisa menghela napasku. Aku terpaksa diam dan menerima saja ucapan Rena, sangat lelah rasanya jika harus berdebat dengan adik perempuanku ini.

"Udah ah, Mbak keluar deh. Aku mau ganti baju,"

Aku keluar dari kamar Rena, lalu duduk di ruang tamu. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaan dan hatiku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED