Bab 2

Via lalu berjalan ke arah pintu, wanita itu melihat ke arah luar, Jason sudah menghilang dari sana, via langsung menutup pintu dan menguncinya.

Wanita itu langsung merebahkan diri diatas ranjang, pandangannya menatap lurus ke langit-langit atap.

"Maafkan aku Jason, aku mencintaimu, namun aku juga nyaman bersamanya," gumam Via pada diri sendiri. "Besok aku ajak dia jalan, untuk menebus rasa bersalahku."

Via langsung mengambil ponselnya yang berada didalam tas, kemudian membukanya dan mulai mencari nama kontak Jason di ponselnya.

Via mengirimkan pesan padanya mengajak Jason pergi untuk jalan-jalan ke mall, setelah mengirimkan pesan tersebut, via kemudian mulai memejamkan matanya.

Saat ini Jason Tengah sampai di tempat kerjanya ponselnya bergetar menandakan ada pesan, lelaki itu lalu membukanya dan melihat nama Via di ponselnya.

Jason tersenyum setelah membaca pesan itu, lelaki itu langsung membalasnya.

"Aku akan menjemputmu besok jam delapan malam." Jason lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tasnya.

Saat ini ponsel Via berbunyi, namun wanita itu hanya diam saja. Via hanya melirik ponselnya lalu mulai memejamkan kembali matanya, Via sudah tahu jika itu adalah balasan dari Jason. Wanita itu pun sudah bisa menebak isinya tak mungkin Jason menolak keinginannya.

Pagi menjelang mentari mulai menyapa, Via masih tertidur di kamar kostnya. Ponselnya berbunyi wanita itu dengan malas mencari-cari dengan meraba dalam keadaan mata tertutup.

Sebenarnya ia masih ngantuk sekali dan enggan untuk bangun, "Hallo," ucapnya saat berhasil menemukan ponselnya.

"Hallo sayang, kau pasti masih tidur ya, apa kita jadi pergi hari ini?" tanya seorang pria di seberang sana memastikan jika mereka akan keluar hari ini.

Bahkan lelaki itu sudah membuat list, akan kemana saja mereka, karena jarang sekali Via mau diajak jalan berdua.

Setah mendapatkan jawaban dari wanita itu, Jason lalu menutup teleponnya dan mulai bersiap. Sedangkan Via dengan malas membuka matanya, melihat jam di ponsel yang masih ia genggam.

Via lalu mendudukkan dirinya di atas kasur, kemudian ia berdiri melangkah menuju kamar mandi.

Setelah satu jam kemudian Via pun selesai, ia segera berpakaian, dan berdandan hanya sedikit polesan di wajahnya, cantik naturalnya sudah terpancar.

Tak lama kemudian Jason datang, via langsung membuka pintu kamarnya, lelaki itu sedang berdiri di depan pintu dengan membawa makanan.

Jason tersenyum ke arah Via, "Pagi sayang, bagaimana tidurmu?" Lelaki itu menghampiri Via mengecup keningnya.

Via hanya menanggapinya dengan senyuman, "kita sarapan dulu di sini ya," ucap Jason.

Mereka pun sarapan terlebih dahulu sebelum pergi jalan-jalan. Setelah selesai makan, barulah mereka pergi menggunakan motor matic milik Jason.

Mereka menyusuri jalanan ibukota dan berhenti di salah satu mall terbesar di Jakarta dia pun segera turun dari motor menyerahkan helm ke tangan biasa dan boleh kemudian masuk ke dalam mal. Via melihat-lihat terkadang ia masuk ke beberapa butik pakaian, dan memilih beberapa baju.

"Jason! bagaimana menurutmu, apa ini cocok denganku?" Sambil letakkan baju itu ke badannya Via bertanya pada Jason.

"Sepertinya bagus, kau coba saja dulu, jika kau mau kita akan membelinya," ucap Jason.

Via dengan gembira memasuki ruang ganti dan mulai mencobanya, benar saja via terlihat cantik saat mengunakan baju itu.

"Jason." Via memanggil lelaki itu dan berdiri tepat di belakangnya.

Jason tertegun melihatnya, via begitu cantik, Jason bahkan melihatnya tanpa berkedip sedikitpun.

"Kau cantik sekali Via, kita ambil yang ini," ucapnya.

Via dengan gembira masuk kembali ke ruang ganti, dan mulai melepas baju itu, ia segera keluar kembali setelah berpakaian. Mereka pun menuju kasir untuk membayarnya, mereka kemudian berkeliling mall.

Saat Via sedang asik melihat-lihat ujung matanya seperti mengenali seseorang yang ada di seberang sana.

Lelaki itu memeluk pinggang wanitanya, mereka berjalan sambil tertawa, Via lantas berjalan mengikutinya dan selalu memperhatikan mereka.

"Andai aku yang bersamamu saat ini Dimas, dan bukan wanita itu," batin Via, ia merasakan nyeri dihatinya via terus saja memperhatikan Dimas dan istrinya itu.

"Via kita kemana lagi?" tanya lelaki itu, karena dari tadi merek hanya berdiri saja disana.

Via melihat Dimas masuk kesebuah restauran, Via pun segera melihat Jason, "Kita makan di sana ya?" ucap Via sambil menunjuk ke arah restauran.

Jason pun mengiyakan keinginan via, mereka kemudian melangkah menuju tempat makan yang di inginkan oleh Via.

Via mencari dimana Dimas dan istrinya duduk, setelah menemukannya via mengajak Jason untuk duduk tak jauh dari mereka.

Via terus saja memperhatikan Dimas dan istrinya, mereka begitu mesra sekali, sesekali Dimas menyuapi istrinya saling memegang tangan.

Jason merasa heran dengan via sikapnya mendadak berubah Ia seperti tak fokus dan tak seceria saat pertama mereka datang. Jason memperhatikan Via, wanita itu menatap lurus ke depan Jason langsung menoleh dan hendak melihat, apa yang diperhatikan oleh pacarnya. Namun Via mencegahnya dengan memegang tangan Jason.

Via mengajak ngobrol Jason, namun matanya terus saja melihat ke arah, Dimas dan memperhatikannya yang sedang bersama dengan istrinya.

"Via, ingat mereka itu suami istri wajar jika mereka seperti itu," ucapnya pada diri sendiri, "Ya Tuhan, kenapa sesakit ini melihatnya bersama dengan istrinya."

Via merasa tak tahan lagi ia segera pergi dari sana begitu saja, hatinya sungguh sakit melihat Dimas tersenyum bahagia bersama istrinya.

Jason terkejut saat Via tiba-tiba pergi meninggalkannya, lelaki itu segera membayar pesanan mereka dan menyusul pacarnya

"Via." Jason berlari mengejar Via, "Kenapa keluar begitu saja dari sana? Kau ini aneh sekali Via," ucap Jason saat sudah berada di dekat wanita itu.

Via merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol dirinya, ia lupa jika ada Jason bersamanya.

"Aku, tak enak badan, kita pulang saja," ucap gadis itu memberi alasan.

Jason langsung mengerutkan keningnya, ia berjalan menghampiri Via, memeriksa kening wanita itu.

"Kau baik-baik saja, apa yang kau rasakan, apa kita pergi ke rumah sakit untuk priksa?" Jason terlihat khawatir pada Via.

"Aku tidak apa Jason, kita pulang saja, aku hanya butuh istirahat," ucap Via dengan nada yang agak tinggi.

Jason terdiam sesaat, namun ia pun segera menuruti keinginan Via, selama di perjalanan via hanya diam saja tak berbicara apapun, bahkan saat ia sampai di kosannya pun Via hanya diam saja.

Jason melihat perubahan sikap Via, walaupun ia sendiri tak mengerti ada apa dengan Via, tak ingin membuat Via semakin kesal, Jason pun langsung berpamitan pada Via.

"Aku pulang dulu, kau istirahatlah, jika kau butuh sesuatu televon aku, jangan lupa makan dan minum obat."

Via hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawabannya, Jason langsung keluar dari kamar via, sebelum menutup pintu Jason sempat menoleh ke arah via, yang kini tersenyum padanya.

Bab 3

Via berjalan menuju ke kasurnya, ia merebahkan dirinya disana, bayangan Dimas bersama dengan sang istri terus saja terbayang di pelupuk matanya.

Membuat hatinya menjadi tak karuan, gadis itu merasa kesal, marah, dan juga sedih mengetahui fakta yang ada di depan matanya.

Selama ini Dimas selalu bilang hubungannya tak harmonis dengan istrinya karena mereka menikah karena perjodohan.

Namun nyatanya tak seperti yang dia lihat saat ini, hubungan mereka baik-baik saja bahkan terlihat bahagia, Dimas pun memperlakukan istrinya dengan mesra.

"Aaaaaah ...," Via berteriak lirih sambil mendesah.

Ia begitu emosi, namun Via pun sadar tak mampu berbuat apa-apa, karena dirinya hanyalah yang kedua bagi Dimas, walaupun lelaki itu selalu berkata bahwa dirinya nyaman bersama Via.

Ponsel Via berbunyi, namun gadis itu enggan untuk mengangkatnya, Via pikir itu Jason, setelah nada dering mati, ponselnya kembali berdering namun via lagi-lagi mengabaikannya, hingga dering yang ke tiga barulah Via mengangkat telepon itu.

"Dimas." Kening Via berkerut saat membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.

Dengan enggan Via mengangkatnya, perasaanya masih teramat kesal pada Dimas, mengubah seketika moodnya.

"Hallo," ucapnya dengan nada yang kasar, "Ada apa lagi menelevonku," ucap Via masih begitu kesal dengan Dimas.

"Kau kenapa sayang, marah-marah seperti itu, aku merindukanmu, bisakah kita bertemu hari ini?" tanya Dimas diseberang sana.

"Enak sekali pria ini, sudah jalan dengan istrinya dan sekarang menelevonnya dan berkata jika dia merindukannya," batin Via, kekesalan dihati Via bertambah, namun ia tak bisa menolak keinginan Dimas yang ingin bertemu dengannya.

"Aku ingin pergi jalan-jalan, tak ingin ke hotel," ucap Via mulai merajuk.

"Baiklah, kita pergi jalan-jalan, bagaimana jika kita ke puncak?" Usul Dimas, yang langsung di setujui oleh Via.

Gadis itupun segera bersiap, karena Dimas akan menjemputnya, via dandan begitu cantik hari ini, ia pun mengenakan baju yang tadi ia beli bersama Jason.

Setelah hampir dua jam menunggu akhirnya Dimas datang juga, via langsung bergegas menghampiri Dimas yang menunggunya di mobil.

Via duduk di sisi kemudi, dan menutup pintu mobil, Dimas tersenyum melihat Via, ia mendekatkan diri dan mengecup keningnya.

Dimas lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan pelataran kosan Via. Dimas memegang tangan via menautkan jemarinya pada jemari Via sambil menyetir.

Lelaki itu tersenyum namun arah pandangan matanya menatap lurus ke depan, via memperhatikan Dimas ada rasa sedih di hatinya.

"Andai Dimas belum memiliki istri, andai dirinya yang terlebih dulu mengenal dan bertemu dengan Dimas."

Suasana hati Via saat ini benar benar kacau, ia merasa teramat kesal dengan takdir yang mempermainkannya.

Mengapa ia harus bertemu dengan Dimas, saat dimana lelaki itu telah memiliki pasangan, bahkan

Dengan bodohnya ia mau saja menjalani hubungan terlarang ini dengannya.

Setelah melakukan tiga jam perjalanan tibalah mereka di puncak, Dimas menyewa sebuah Villa disana, untuk mereka berdua.

Perlahan Dimas mendekati Via memeluk wanita itu dari belakang saat Via sedang melihat pemandangan di sekitar Villa itu.

"Kau kenapa? Suasana hatimu sepertinya sedang buruk saat ini, apa ada yang mengganggumu?" Sambil membalikkan badan via untuk menghadapnya.

Dimas memperhatikan raut wajah via yang tak biasa,Dimas tersenyum dan semakin gemas di buatnya.

Ia langsung mendekatkan wajahnya ke arah via hendak mencium bibir gadis itu, namun tiba-tiba Via menghindarinya.

Dimas merasa heran dengan sikap Via hari ini, tak seperti biasanya gadis itu bersikap cuek padanya, bahkan mengabaikannya.

Biasanya Via akan bergelayut manja padanya, dan senyuman selalu menghiasi wajah gadis itu, mengapa gadis itu berubah sekarang, apa yang menganggu fikirannya saat ini.

Namun Dimas segera membujuknya, mengajaknya jalan-jalan mengitari vila itu, melihat pemandangan di sekita vila, hamparan tanah luas yang di tumbuhi dengan tanaman teh.

Merek berjalan menyusuri tempat itu, lalu berhenti di dekat ayunan yang sengaja di buat untuk pengunjung di sana.

Gadis itu naik ke ayunan dan Dimas mendorongnya dari belakang.

Sejenak Via merasa bahagia, gadis itu bisa menghilangkan kesedihannya dengan tertawa bersama Dimas saat ini.

Tak hanya itu, Via pun mencoba untuk naik kuda bersama dengan Dimas, mereka menyusuri hamparan kebun teh yang sangat luas.

"Ya Tuhan jika aku boleh meminta, aku ingin terus bersamanya, egoiskah aku jika ingin memilikinya dalam hidupku?" Perasaan sedihnya belum sepenuhnya hilang.

Setalah puas menyusuri kebun teh Dimas mengajak Via untuk makan, mereka duduk di sebuah saung ditengah-tengah kebun teh itu.

Sambil menunggu pesanan Dimas mendekat ke arah Via dan merangkulnya yang sedang duduk di sisi Dimas.

"Apa kau merasa senang?"

Via langsung menoleh ke samping melihat kearah Dimas, Via menganggukkan kepalanya ambil tersenyum.

"Dimas, apa kau benar-benar menyayangiku?" Tiba-tiba dengan lancangnya mulut Via bertanya pada Dimas.

Dimas lantas melepas pelukannya, lalu memegang dagu Via mengarahkan pandangannya untuk melihat ke arahnya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja aku menyayangimu, aku nyaman bersamamu," jawab Dimas mata mereka saling memandang satu sama lain.

Via mencoba melihat ke arah mata itu mencari sebuah kebohongan di sana, namun sayangnya ia tak bisa membaca sorot mata Dimas.

Hatinya merasa tak yakin setelah melihat perlakuan Dimas pad istrinya saat di mall, seketika hatinya meragu akan kata-kata yang di usapkan pria di hadapannya saat ini.

"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"

"Katakanlah Via, apapun yang kau inginkan akan aku penuhi," ucap Dimas ia memegang wajah Via dengan kedua tangannya.

"Jika benar kau menyayangiku, dan nyaman bersamaku, bisakah kau meninggalkan istrimu untukku?"

Dimas langsung melepas kedua tangannya dari wajah Via, lelaki itu tak menyangka jika Via akan meminta itu darinya.

"Tak semudah itu Via, aku meninggalkannya, aku,-

"Kenapa, kau bilang sayang padaku, dan kau bilang hubunganmu dengannya tak baik-baik saja, maka tinggalkan dia Dimas, dan kita bisa bersama-sama." Via memotong ucapan Dimas, nafasnya begitu memburu saat berbicara pada Dimas.

"Tidak semudah itu Via, aku harus memiliki alasan untuk meninggalkannya," dengan nada lembut Dimas menjelaskannya pada Via.

"Maka tinggalkan aku Dimas, kita akhiri saja semuanya."

"Via!" Dimas sedikit berteriak kepada wanita di hadapannya, ia menyugar rambutnya dengan kasar.

Menarik nafas dan membuangnya dengan kasar ia mengusap wajahnya, "Kau ini kenapa Via, kenapa tiba-tiba kau menjadi seperti ini, ada apa denganmu sebenarnya."

"Sampai kapan Dimas, kita harus menjalani hubungan ini, hubungan yang bahkan aku sendiri tak tahu kemana arahnya."

Via begitu kesal, ia merasa sesak di dadanya, tanpa terasa air matanya menetes.

Dimas melihat itu, ia lalu mendekat ke arah Via lalu memeluknya, luruh sudah air mata Via, gadis itu menangis dalam pelukan Dimas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED